Sejarah keacakan: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 24363542; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
Dalam '''sejarah''' kuno, konsep peluang dan '''[[keacakan]]''' saling terkait dengan [[takdir]]. Banyak orang kuno melempar [[dadu]] untuk menentukan nasib, dan ini kemudian berkembang menjadi [[permainan adu nasib]]. Pada saat yang sama, sebagian besar budaya kuno menggunakan berbagai metode [[ramalan]] untuk mencoba menghindari [[keacakan]] dan [[nasib]]. | [[File:Pompeii_-_Osteria_della_Via_di_Mercurio_-_Dice_Players.jpg|thumb|right|280px|Pompeii - Osteria della Via di Mercurio - Dice Players]] | ||
Dalam '''sejarah''' kuno, konsep peluang dan '''[[keacakan]]''' saling terkait dengan [[takdir]]. Banyak orang kuno melempar [[dadu]] untuk menentukan nasib, dan ini kemudian berkembang menjadi [[permainan adu nasib]]. Pada saat yang sama, sebagian besar budaya kuno menggunakan berbagai metode [[ramalan]] untuk mencoba menghindari [[keacakan]] dan [[nasib]].<ref>''Handbook to Life in Ancient Rome'', Lesley Adkins, 1998 p. 279</ref><ref>''Religions of the Ancient World'', Sarah Iles Johnston, 2004 p. 370</ref> | |||
Orang [[Tiongkok]] mungkin adalah masyarakat paling awal yang membahas kemungkinan dan peluang 3.000 tahun yang lalu. Para [[filsuf]] Yunani membahas keacakan panjang lebar, tetapi hanya dalam bentuk non-kuantitatif. Baru pada abad keenam belas matematikawan Italia mulai memformalkan peluang yang terkait dengan berbagai permainan peluang. Penemuan kalkulus modern memiliki dampak positif pada penelitian formal mengenai keacakan. Pada abad ke-19 konsep [[entropi]] diperkenalkan dalam [[fisika]]. | Orang [[Tiongkok]] mungkin adalah masyarakat paling awal yang membahas kemungkinan dan peluang 3.000 tahun yang lalu. Para [[filsuf]] Yunani membahas keacakan panjang lebar, tetapi hanya dalam bentuk non-kuantitatif. Baru pada abad keenam belas matematikawan Italia mulai memformalkan peluang yang terkait dengan berbagai permainan peluang. Penemuan kalkulus modern memiliki dampak positif pada penelitian formal mengenai keacakan. Pada abad ke-19 konsep [[entropi]] diperkenalkan dalam [[fisika]]. | ||
| Baris 7: | Baris 9: | ||
Meskipun keacakan sering dipandang sebagai hambatan dan gangguan selama berabad-abad, pada abad kedua puluh ilmuwan komputer mulai menyadari bahwa pengenalan keacakan yang disengaja ke dalam perhitungan dapat menjadi alat yang efektif untuk merancang [[algoritme]] yang lebih baik. Dalam beberapa kasus, algoritma acak tersebut mampu mengungguli metode deterministik terbaik sekalipun. | Meskipun keacakan sering dipandang sebagai hambatan dan gangguan selama berabad-abad, pada abad kedua puluh ilmuwan komputer mulai menyadari bahwa pengenalan keacakan yang disengaja ke dalam perhitungan dapat menjadi alat yang efektif untuk merancang [[algoritme]] yang lebih baik. Dalam beberapa kasus, algoritma acak tersebut mampu mengungguli metode deterministik terbaik sekalipun. | ||
== | == Referensi == | ||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
== | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sejarah+keacakan&oldid=24363542 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 24363542 (2023-09-29T15:36:04Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 25 Agustus 2026 18.02

Dalam sejarah kuno, konsep peluang dan keacakan saling terkait dengan takdir. Banyak orang kuno melempar dadu untuk menentukan nasib, dan ini kemudian berkembang menjadi permainan adu nasib. Pada saat yang sama, sebagian besar budaya kuno menggunakan berbagai metode ramalan untuk mencoba menghindari keacakan dan nasib.[1][2]
Orang Tiongkok mungkin adalah masyarakat paling awal yang membahas kemungkinan dan peluang 3.000 tahun yang lalu. Para filsuf Yunani membahas keacakan panjang lebar, tetapi hanya dalam bentuk non-kuantitatif. Baru pada abad keenam belas matematikawan Italia mulai memformalkan peluang yang terkait dengan berbagai permainan peluang. Penemuan kalkulus modern memiliki dampak positif pada penelitian formal mengenai keacakan. Pada abad ke-19 konsep entropi diperkenalkan dalam fisika.
Pada awal abad kedua puluh terjadi pertumbuhan yang cepat dalam analisis formal keacakan, dan dasar matematika untuk probabilitas diperkenalkan, yang mengarah ke aksiomatisasi pada tahun 1933. Pada saat yang sama, munculnya mekanika kuantum mengubah perspektif ilmiah tentang determinasi. Pada pertengahan hingga akhir abad ke-20, gagasan teori informasi algoritmik memperkenalkan dimensi baru ke bidang ini melalui konsep keacakan algoritmik.
Meskipun keacakan sering dipandang sebagai hambatan dan gangguan selama berabad-abad, pada abad kedua puluh ilmuwan komputer mulai menyadari bahwa pengenalan keacakan yang disengaja ke dalam perhitungan dapat menjadi alat yang efektif untuk merancang algoritme yang lebih baik. Dalam beberapa kasus, algoritma acak tersebut mampu mengungguli metode deterministik terbaik sekalipun.
Referensi
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 24363542 (2023-09-29T15:36:04Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.