Stoikiometri: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 25112081; atribusi sumber disertakan. |
Pembersihan konten sesuai kebijakan Wiki Unissula |
||
| (1 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan) | |||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
[[File:Combustion_reaction_of_methane.jpg|thumb|right|280px|Combustion reaction of methane]] | |||
Stoikiometri didasarkan pada hukum-hukum dasar kimia, yaitu [[hukum kekekalan massa]], [[hukum perbandingan tetap]], dan [[hukum perbandingan berganda]]. Stoikiometri diilustrasikan melalui gambar berikut, dengan persamaan reaksi setara: | Stoikiometri didasarkan pada hukum-hukum dasar kimia, yaitu [[hukum kekekalan massa]], [[hukum perbandingan tetap]], dan [[hukum perbandingan berganda]]. Stoikiometri diilustrasikan melalui gambar berikut, dengan persamaan reaksi setara: | ||
| Baris 11: | Baris 12: | ||
== Definisi == | == Definisi == | ||
Suatu '''jumlah stoikiometris''' | Suatu '''jumlah stoikiometris''' <ref>''What’s in a Name? Amount of Substance, Chemical Amount, and Stoichiometric Amount'' Carmen J. Giunta Journal of Chemical Education 2016 93 (4), 583-586</ref> atau '''rasio stoikiometris''' dari suatu [[pereaksi]] adalah jumlah atau rasio optimal di mana, dengan asumsi bahwa reaksi berlangsung sampai selesai: | ||
# Semua pereaksi dikonsumsi (habis bereaksi) | # Semua pereaksi dikonsumsi (habis bereaksi) | ||
# Tidak ada kekurangan pereaksi | # Tidak ada kekurangan pereaksi | ||
| Baris 25: | Baris 26: | ||
Di akhir abad 18, kimiawan Jerman [[Jeremias Benjamin Richter]] (1762-1807) menemukan konsep ekuivalen (dalam istilah kimia modern ekuivalen kimia) dengan pengamatan teliti [[reaksi asam basa]], yakni hubungan kuantitatif antara asam dan basa dalam [[reaksi penetralan]]. Ekuivalen Richter, atau yang sekarang disebut ekuivalen kimia, mengindikasikan sejumlah tertentu materi dalam reaksi. Satu ekuivalen dalam netralisasi berkaitan dengan hubungan antara sejumlah asam dan sejumlah basa untuk mentralkannya. Pengetahuan yang tepat tentang ekuivalen sangat penting untuk menghasilkan sabun dan serbuk [[mesiu]] yang baik. Jadi, pengetahuan seperti ini sangat penting secara praktis. | Di akhir abad 18, kimiawan Jerman [[Jeremias Benjamin Richter]] (1762-1807) menemukan konsep ekuivalen (dalam istilah kimia modern ekuivalen kimia) dengan pengamatan teliti [[reaksi asam basa]], yakni hubungan kuantitatif antara asam dan basa dalam [[reaksi penetralan]]. Ekuivalen Richter, atau yang sekarang disebut ekuivalen kimia, mengindikasikan sejumlah tertentu materi dalam reaksi. Satu ekuivalen dalam netralisasi berkaitan dengan hubungan antara sejumlah asam dan sejumlah basa untuk mentralkannya. Pengetahuan yang tepat tentang ekuivalen sangat penting untuk menghasilkan sabun dan serbuk [[mesiu]] yang baik. Jadi, pengetahuan seperti ini sangat penting secara praktis. | ||
Istilah ''stoikiometri'' pertama kali digunakan oleh Richter pada tahun 1792 ketika volume pertama ''Stoichiometry or the Art of Measuring the Chemical Elements'' karangan Richter diterbitkan. | Istilah ''stoikiometri'' pertama kali digunakan oleh Richter pada tahun 1792 ketika volume pertama ''Stoichiometry or the Art of Measuring the Chemical Elements'' karangan Richter diterbitkan.<ref>J.B. Richter. [https://books.google.com/books?id=NhFQAAAAcAAJ&pg=RA1-PA121#v=onepage&q&f=false#v=onepage&q&f=false Anfangsgründe der Stöchyometrie … (in 3 vol.s)]. Johann Friedrich Korn der Aeltere. 1792. Vol. vol. 1. hlm. 121. From p. 121: ''"Die Stöchyometrie (''Stöchyometria'') ist die Wissenschaft die quantitativen oder Massenverhältnisse … zu messen, in welchen die chemischen Elemente … gegen einander stehen."'' (Stoichiometry (''stoichiometria'') is the science of measuring the quantitative or mass relations in which the chemical "elements" exist in relation to each other.) [Catatan: pada hlm. 3–7, Richter menjelaskan bahwa "elemen" adalah zat murni, dan bahwa "elemen kimia" (''chymisches Element (Elementum chymicum)'') adalah zat yang tidak dapat diurai menjadi zat lain dengan cara fisik atau kimia yang dikenal. Jadi, misalnya, aluminium oksida adalah "unsur kimia" karena pada zaman Richter, senyawa tersebut tidak dapat diselesaikan lebih lanjut menjadi unsur-unsur penyusunnya.]</ref> | ||
Pada saat yang sama [[Lavoisier]] menetapkan [[hukum kekekalan massa]], dan memberikan dasar konsep ekuivalen dengan percobaannya yang akurat dan kreatif. Jadi, stoikiometri yang menangani aspek kuantitatif reaksi kimia menjadi metodologi dasar kimia. Semua hukum fundamental kimia, dari hukum kekekalan massa, [[hukum perbandingan tetap]] sampai hukum reaksi gas semua didasarkan stoikiometri. Hukum-hukum fundamental ini merupakan dasar teori atom, dan secara konsisten dijelaskan dengan [[teori atom]]. Namun, menarik untuk dicatat bahwa, konsep ekuivalen digunakan sebelum teori atom dikenalkan. | Pada saat yang sama [[Lavoisier]] menetapkan [[hukum kekekalan massa]], dan memberikan dasar konsep ekuivalen dengan percobaannya yang akurat dan kreatif. Jadi, stoikiometri yang menangani aspek kuantitatif reaksi kimia menjadi metodologi dasar kimia. Semua hukum fundamental kimia, dari hukum kekekalan massa, [[hukum perbandingan tetap]] sampai hukum reaksi gas semua didasarkan stoikiometri. Hukum-hukum fundamental ini merupakan dasar teori atom, dan secara konsisten dijelaskan dengan [[teori atom]]. Namun, menarik untuk dicatat bahwa, konsep ekuivalen digunakan sebelum teori atom dikenalkan. | ||
| Baris 32: | Baris 33: | ||
Stoikiometri tidak hanya digunakan untuk menyeimbangkan persamaan kimia tetapi juga digunakan dalam konversi, misalnya, mengubah dari gram ke mol menggunakan [[massa molar]] sebagai faktor konversi, atau dari gram ke mililiter menggunakan [[kerapatan]] (densitas). Misalnya, untuk menentukan [[mol|jumlah]] NaCl ([[natrium klorida]]) dalam 2 gram senyawa ini, maka dapat dikonversi dengan jalan: | Stoikiometri tidak hanya digunakan untuk menyeimbangkan persamaan kimia tetapi juga digunakan dalam konversi, misalnya, mengubah dari gram ke mol menggunakan [[massa molar]] sebagai faktor konversi, atau dari gram ke mililiter menggunakan [[kerapatan]] (densitas). Misalnya, untuk menentukan [[mol|jumlah]] NaCl ([[natrium klorida]]) dalam 2 gram senyawa ini, maka dapat dikonversi dengan jalan: | ||
:<math>\frac{2.00 \mbox{ g NaCl}}{58.44 \mbox{ g NaCl mol}^{-1}} = 0.034 \ \ | :<math>\\frac{2.00 \\mbox{ g NaCl}}{58.44 \\mbox{ g NaCl mol}^{-1}} = 0.034 \\ \ ext{mol}</math> | ||
Dalam contoh di atas, ketika dituliskan dalam bentuk pecahan, satuan gram membentuk identitas multiplikatif, yang setara dengan satu (g/g = 1), dengan jumlah yang dihasilkan dalam mol (unit yang dibutuhkan), seperti yang ditunjukkan pada persamaan berikut, | Dalam contoh di atas, ketika dituliskan dalam bentuk pecahan, satuan gram membentuk identitas multiplikatif, yang setara dengan satu (g/g = 1), dengan jumlah yang dihasilkan dalam mol (unit yang dibutuhkan), seperti yang ditunjukkan pada persamaan berikut, | ||
:<math>\left(\frac{2.00 \mbox{ g NaCl}}{1}\ | :<math>\\left(\\frac{2.00 \\mbox{ g NaCl}}{1}\ | ||
ight)\\left(\\frac{1 \\mbox{ mol NaCl}}{58.44 \\mbox{ g NaCl}}\ | |||
ight) = 0.034\\ \ ext{mol}</math> | |||
== Proporsi molar == | == Proporsi molar == | ||
| Baris 49: | Baris 52: | ||
jumlah air yang akan dihasilkan oleh pembakaran 0.27 mol diperoleh dengan menggunakan rasio molar antara dan dari 2 menjadi 4. | jumlah air yang akan dihasilkan oleh pembakaran 0.27 mol diperoleh dengan menggunakan rasio molar antara dan dari 2 menjadi 4. | ||
:<math>\left(\frac{0.27 \mbox{ mol }\mathrm{CH_3OH}}{1}\ | :<math>\\left(\\frac{0.27 \\mbox{ mol }\\mathrm{CH_3OH}}{1}\ | ||
ight)\\left(\\frac{4 \\mbox{ mol }\\mathrm{H_2O}}{2 \\mbox{ mol } \\mathrm{CH_3OH}}\ | |||
ight) = 0.54\\ \ ext{mol }\\mathrm{H_2O}</math> | |||
Istilah stoikiometri juga sering digunakan untuk proporsi [[mol]]ar unsur-unsur dalam senyawa stoikiometris (stoikiometri komposisi). Misalnya, stoikiometri hidrogen dan oksigen dalam H<sub>2</sub>O adalah 2:1. Dalam senyawa stoikiometris, the molar proportions are whole numbers. | Istilah stoikiometri juga sering digunakan untuk proporsi [[mol]]ar unsur-unsur dalam senyawa stoikiometris (stoikiometri komposisi). Misalnya, stoikiometri hidrogen dan oksigen dalam H<sub>2</sub>O adalah 2:1. Dalam senyawa stoikiometris, the molar proportions are whole numbers. | ||
| Baris 59: | Baris 64: | ||
Persamaan ini menunjukkan bahwa 1 mol dan 2 mol [[aluminum]] akan menghasilkan 1 mol [[aluminium oksida]] dan 2 mol [[besi]]. Maka untuk tepat mereaksikan 85.0 g (0.532 mol), 28.7 g (1.06 mol) aluminium dibutuhkan. | Persamaan ini menunjukkan bahwa 1 mol dan 2 mol [[aluminum]] akan menghasilkan 1 mol [[aluminium oksida]] dan 2 mol [[besi]]. Maka untuk tepat mereaksikan 85.0 g (0.532 mol), 28.7 g (1.06 mol) aluminium dibutuhkan. | ||
:<math>m_\mathrm{Al} = \left(\frac{85.0 \mbox{ g }\mathrm{Fe_2O_3}}{1}\ | :<math>m_\\mathrm{Al} = \\left(\\frac{85.0 \\mbox{ g }\\mathrm{Fe_2O_3}}{1}\ | ||
ight)\\left(\\frac{1 \\mbox{ mol }\\mathrm{Fe_2 O_3}}{159.7 \\mbox{ g }\\mathrm{Fe_2 O_3}}\ | |||
ight)\\left(\\frac{2 \\mbox{ mol Al}}{1 \\mbox{ mol }\\mathrm{Fe_2 O_3}}\ | |||
ight)\\left(\\frac{26.98 \\mbox{ g Al}}{1 \\mbox{ mol Al}}\ | |||
ight) = 28.7 \\mbox{ g}</math> | |||
== Pranala luar == | == Pranala luar == | ||
* [https://web.archive.org/web/20070206060439/http://www.tech.plym.ac.uk/sme/ther305-web/Combust1.PDF Engine Combustion primer] dari Universitas Plymouth | * [https://web.archive.org/web/20070206060439/http://www.tech.plym.ac.uk/sme/ther305-web/Combust1.PDF Engine Combustion primer] dari Universitas Plymouth | ||
* [http://www.chemcollective.org/tutorials.php Free Stoichiometry Tutorials] dari Carnegie Mellon's ChemCollective | * [http://www.chemcollective.org/tutorials.php Free Stoichiometry Tutorials] dari Carnegie Mellon's ChemCollective | ||
| Baris 75: | Baris 78: | ||
* [http://www.ilmukimia.org/2012/12/konsep-dasar-perhitungan-stoikiometri.html Konsep Perhitungan Stoikiometri] | * [http://www.ilmukimia.org/2012/12/konsep-dasar-perhitungan-stoikiometri.html Konsep Perhitungan Stoikiometri] | ||
== Referensi == | |||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
== | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Stoikiometri&oldid=25112081 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 25112081 (2024-01-02T05:31:48Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 9 September 2026 06.30

Stoikiometri didasarkan pada hukum-hukum dasar kimia, yaitu hukum kekekalan massa, hukum perbandingan tetap, dan hukum perbandingan berganda. Stoikiometri diilustrasikan melalui gambar berikut, dengan persamaan reaksi setara:
- + 2 → + 2 .
Di sini, satu molekul metana bereaksi dengan dua molekul gas oksigen untuk menghasilkan satu molekul karbon dioksida dan dua molekul air. Persamaan kimia khusus ini adalah contoh pembakaran sempurna. Stoikiometri mengukur hubungan kuantitatif ini, dan digunakan untuk menentukan jumlah produk dan reaktan yang diproduksi atau dibutuhkan dalam reaksi yang diberikan. Menggambarkan hubungan kuantitatif antara zat-zat ketika mereka berpartisipasi dalam reaksi kimia dikenal sebagai stoikiometri reaksi. Dalam contoh di atas, stoikiometri reaksi mengukur hubungan antara metana dan oksigen ketika mereka bereaksi membentuk karbon dioksida dan air.
Karena hubungan mol yang diketahui dengan massa atom, rasio yang diperoleh dengan stoikiometri dapat digunakan untuk menentukan jumlah massa dalam suatu reaksi yang dijelaskan oleh persamaan yang setimbang. Hal ini disebut sebagai stoikiometri komposisi.
Stoikiometri gas berkaitan dengan reaksi yang melibatkan gas, di mana gas berada pada suhu, tekanan, dan volume yang diketahui dan dapat dianggap gas ideal. Untuk gas, rasio volume idealnya sama dengan hukum gas ideal, tetapi rasio massa dari reaksi tunggal harus dihitung dari massa molekul dari reaktan dan produk. Dalam praktiknya, karena keberadaan isotop, massa molar digunakan sebagai gantinya ketika menghitung rasio massa.
Definisi
Suatu jumlah stoikiometris [1] atau rasio stoikiometris dari suatu pereaksi adalah jumlah atau rasio optimal di mana, dengan asumsi bahwa reaksi berlangsung sampai selesai:
- Semua pereaksi dikonsumsi (habis bereaksi)
- Tidak ada kekurangan pereaksi
- Tidak ada kelebihan pereaksi (sisa)
Tahap awal stoikiometri
Di awal kimia, aspek kuantitatif perubahan kimia, yakni stoikiometri reaksi kimia, tidak mendapat banyak perhatian. Bahkan saat perhatian telah diberikan, teknik dan alat percobaan tidak menghasilkan hasil yang benar.
Salah satu contoh melibatkan teori flogiston. Flogistonis mencoba menjelaskan fenomena pembakaran dengan istilah “zat dapat terbakar”. Menurut para flogitonis, pembakaran adalah pelepasan zat dapat terbakar (dari zat yang terbakar). Zat ini yang kemudian disebut ”flogiston”. Berdasarkan teori ini, mereka mendefinisikan pembakaran sebagai pelepasan flogiston dari zat terbakar. Perubahan massa kayu bila terbakar cocok dengan baik dengan teori ini. Namun, perubahan massa logam ketika dikalsinasi tidak cocok dengan teori ini. Walaupun demikian flogistonis menerima bahwa kedua proses tersebut pada dasarnya identik. Peningkatan massa logam terkalsinasi adalah merupakan fakta. Flogistonis berusaha menjelaskan anomali ini dengan menyatakan bahwa flogiston bermassa negatif.
Filsuf dari Flanders Jan Baptista van Helmont (1579-1644) melakukan percobaan “willow” yang terkenal. Ia menumbuhkan bibit willow setelah mengukur massa pot bunga dan tanahnya. Karena tidak ada perubahan massa pot bunga dan tanah saat benihnya tumbuh, ia menganggap bahwa massa yang didapatkan hanya karena air yang masuk ke bijih. Ia menyimpulkan bahwa “akar semua materi adalah air”. Berdasarkan pandangan saat ini, hipotesis dan percobaannya jauh dari sempurna, tetapi teorinya adalah contoh yang baik dari sikap aspek kimia kuantitatif yang sedang tumbuh. Helmont mengenali pentingnya stoikiometri, dan jelas mendahului zamannya.
Di akhir abad 18, kimiawan Jerman Jeremias Benjamin Richter (1762-1807) menemukan konsep ekuivalen (dalam istilah kimia modern ekuivalen kimia) dengan pengamatan teliti reaksi asam basa, yakni hubungan kuantitatif antara asam dan basa dalam reaksi penetralan. Ekuivalen Richter, atau yang sekarang disebut ekuivalen kimia, mengindikasikan sejumlah tertentu materi dalam reaksi. Satu ekuivalen dalam netralisasi berkaitan dengan hubungan antara sejumlah asam dan sejumlah basa untuk mentralkannya. Pengetahuan yang tepat tentang ekuivalen sangat penting untuk menghasilkan sabun dan serbuk mesiu yang baik. Jadi, pengetahuan seperti ini sangat penting secara praktis.
Istilah stoikiometri pertama kali digunakan oleh Richter pada tahun 1792 ketika volume pertama Stoichiometry or the Art of Measuring the Chemical Elements karangan Richter diterbitkan.[2]
Pada saat yang sama Lavoisier menetapkan hukum kekekalan massa, dan memberikan dasar konsep ekuivalen dengan percobaannya yang akurat dan kreatif. Jadi, stoikiometri yang menangani aspek kuantitatif reaksi kimia menjadi metodologi dasar kimia. Semua hukum fundamental kimia, dari hukum kekekalan massa, hukum perbandingan tetap sampai hukum reaksi gas semua didasarkan stoikiometri. Hukum-hukum fundamental ini merupakan dasar teori atom, dan secara konsisten dijelaskan dengan teori atom. Namun, menarik untuk dicatat bahwa, konsep ekuivalen digunakan sebelum teori atom dikenalkan.
Mengubah gram ke mol
Stoikiometri tidak hanya digunakan untuk menyeimbangkan persamaan kimia tetapi juga digunakan dalam konversi, misalnya, mengubah dari gram ke mol menggunakan massa molar sebagai faktor konversi, atau dari gram ke mililiter menggunakan kerapatan (densitas). Misalnya, untuk menentukan jumlah NaCl (natrium klorida) dalam 2 gram senyawa ini, maka dapat dikonversi dengan jalan:
- Gagal mengurai (kesalahan sintaks): {\displaystyle \\frac{2.00 \\mbox{ g NaCl}}{58.44 \\mbox{ g NaCl mol}^{-1}} = 0.034 \\ \ ext{mol}}
Dalam contoh di atas, ketika dituliskan dalam bentuk pecahan, satuan gram membentuk identitas multiplikatif, yang setara dengan satu (g/g = 1), dengan jumlah yang dihasilkan dalam mol (unit yang dibutuhkan), seperti yang ditunjukkan pada persamaan berikut,
- Gagal mengurai (kesalahan sintaks): {\displaystyle \\left(\\frac{2.00 \\mbox{ g NaCl}}{1}\ ight)\\left(\\frac{1 \\mbox{ mol NaCl}}{58.44 \\mbox{ g NaCl}}\ ight) = 0.034\\ \ ext{mol}}
Proporsi molar
Stoikiometri sering digunakan untuk menyeimbangkan persamaan kimia (stoikiometri reaksi). Sebagai contoh, dua gas diatomik, hidrogen dan oksigen, dapat bergabung untuk membentuk cairan, air, dalam reaksi eksotermik, seperti dijelaskan oleh persamaan berikut ini:
- 2 + → 2
Stoikiometri reaksi menggambarkan perbandingan molekul hidrogen, oksigen, dan air 2: 1: 2 dalam persamaan di atas.
Rasio molar memungkinkan konversi antara satu mol zat dan mol lainnya. Misalnya dalam reaksi
- 2 + 3 → 2 + 4
jumlah air yang akan dihasilkan oleh pembakaran 0.27 mol diperoleh dengan menggunakan rasio molar antara dan dari 2 menjadi 4.
- Gagal mengurai (kesalahan sintaks): {\displaystyle \\left(\\frac{0.27 \\mbox{ mol }\\mathrm{CH_3OH}}{1}\ ight)\\left(\\frac{4 \\mbox{ mol }\\mathrm{H_2O}}{2 \\mbox{ mol } \\mathrm{CH_3OH}}\ ight) = 0.54\\ \ ext{mol }\\mathrm{H_2O}}
Istilah stoikiometri juga sering digunakan untuk proporsi molar unsur-unsur dalam senyawa stoikiometris (stoikiometri komposisi). Misalnya, stoikiometri hidrogen dan oksigen dalam H2O adalah 2:1. Dalam senyawa stoikiometris, the molar proportions are whole numbers.
Rasio stoikiometris
Stoikiometri juga digunakan untuk menemukan jumlah yang tepat dari satu reaktan untuk "sepenuhnya" bereaksi dengan reaktan lain dalam reaksi kimia–yaitu, jumlah stoikiometris yang akan menghasilkan tidak ada reaktan sisa ketika reaksi berlangsung. Contoh ditunjukkan di bawah ini menggunakan reaksi termit,
- + 2 → + 2
Persamaan ini menunjukkan bahwa 1 mol dan 2 mol aluminum akan menghasilkan 1 mol aluminium oksida dan 2 mol besi. Maka untuk tepat mereaksikan 85.0 g (0.532 mol), 28.7 g (1.06 mol) aluminium dibutuhkan.
- Gagal mengurai (kesalahan sintaks): {\displaystyle m_\\mathrm{Al} = \\left(\\frac{85.0 \\mbox{ g }\\mathrm{Fe_2O_3}}{1}\ ight)\\left(\\frac{1 \\mbox{ mol }\\mathrm{Fe_2 O_3}}{159.7 \\mbox{ g }\\mathrm{Fe_2 O_3}}\ ight)\\left(\\frac{2 \\mbox{ mol Al}}{1 \\mbox{ mol }\\mathrm{Fe_2 O_3}}\ ight)\\left(\\frac{26.98 \\mbox{ g Al}}{1 \\mbox{ mol Al}}\ ight) = 28.7 \\mbox{ g}}
Pranala luar
- Engine Combustion primer dari Universitas Plymouth
- Free Stoichiometry Tutorials dari Carnegie Mellon's ChemCollective
- Stoichiometry Add-In for Microsoft Excel untuk perhitungan berat molekul, koefisien reaksi dan stoikiometri.
- Reaction Stoichiometry Calculator kalkulator stoikiometri reaksi daring gratis yang komprehensif.
- Stoichiometry Plus kalkulator stoikiometri dan lainnya untuk Android.
- Konsep Perhitungan Stoikiometri
Referensi
- ↑ What’s in a Name? Amount of Substance, Chemical Amount, and Stoichiometric Amount Carmen J. Giunta Journal of Chemical Education 2016 93 (4), 583-586
- ↑ J.B. Richter. Anfangsgründe der Stöchyometrie … (in 3 vol.s). Johann Friedrich Korn der Aeltere. 1792. Vol. vol. 1. hlm. 121. From p. 121: "Die Stöchyometrie (Stöchyometria) ist die Wissenschaft die quantitativen oder Massenverhältnisse … zu messen, in welchen die chemischen Elemente … gegen einander stehen." (Stoichiometry (stoichiometria) is the science of measuring the quantitative or mass relations in which the chemical "elements" exist in relation to each other.) [Catatan: pada hlm. 3–7, Richter menjelaskan bahwa "elemen" adalah zat murni, dan bahwa "elemen kimia" (chymisches Element (Elementum chymicum)) adalah zat yang tidak dapat diurai menjadi zat lain dengan cara fisik atau kimia yang dikenal. Jadi, misalnya, aluminium oksida adalah "unsur kimia" karena pada zaman Richter, senyawa tersebut tidak dapat diselesaikan lebih lanjut menjadi unsur-unsur penyusunnya.]
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 25112081 (2024-01-02T05:31:48Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.