Lompat ke isi

Astrofisika: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 26740295; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
[[File:WMAP_2012.png|thumb|right|280px|WMAP 2012]]
'''Astrofisika''' adalah bidang ilmu yang mempelajari sifat-sifat [[fisika]] fenomena dan objek [[astronomi]] di [[Jagad raya|jagat raya]]. Astrofisika membahas objek-objek di luar angkasa dan juga [[Bumi]]. Terkadang, penamaannya dapat berganti dengan [[astronomi]] karena lingkup studinya yang mirip pada masa modern.
'''Astrofisika''' adalah bidang ilmu yang mempelajari sifat-sifat [[fisika]] fenomena dan objek [[astronomi]] di [[Jagad raya|jagat raya]]. Astrofisika membahas objek-objek di luar angkasa dan juga [[Bumi]]. Terkadang, penamaannya dapat berganti dengan [[astronomi]] karena lingkup studinya yang mirip pada masa modern.


== Sejarah ==
== Sejarah ==
Astronomi adalah ilmu kuno, lama terpisah dari studi fisika [[terestrial]]. Dalam pandangan dunia [[Aristoteles]], benda-benda di langit tampak seperti bola yang tidak berubah dan gerakan satu-satunya adalah gerakan seragam dalam lingkaran. Sementara itu, dunia teresterial adalah alam yang mengalami pertumbuhan dan pembusukan, dan gerakannya berada dalam garis lurus yang berakhir ketika benda tersebut mencapai tujuannya. Terdapat anggapan bahwa luar angkasa terbuat dari jenis materi yang berbeda dari materi yang ditemukan di dunia terestrial; diyakini oleh Aristoteles sebagai [[Aether (elemen klasik)|Aether]], atau sebagai [[Api (unsur klasik)|Api]] oleh [[Plato]]. Selama abad ke-17, filsuf alam seperti [[Galileo Galilei|Galileo]], [[René Descartes|Descartes]], dan Newton mulai berpendapat bahwa daerah angkasa dan terestrial terbuat dari jenis bahan yang serupa dan tunduk pada hukum alam yang sama. Tantangan mereka adalah saat itu belum ditemukan alat untuk membuktikan pernyataan ini.
Astronomi adalah ilmu kuno, lama terpisah dari studi fisika [[terestrial]]. Dalam pandangan dunia [[Aristoteles]], benda-benda di langit tampak seperti bola yang tidak berubah dan gerakan satu-satunya adalah gerakan seragam dalam lingkaran. Sementara itu, dunia teresterial adalah alam yang mengalami pertumbuhan dan pembusukan, dan gerakannya berada dalam garis lurus yang berakhir ketika benda tersebut mencapai tujuannya. Terdapat anggapan bahwa luar angkasa terbuat dari jenis materi yang berbeda dari materi yang ditemukan di dunia terestrial; diyakini oleh Aristoteles sebagai [[Aether (elemen klasik)|Aether]],<ref>G. E. R. (Geoffrey Ernest Richard) Lloyd. [http://archive.org/details/aristotlegrowths0000lloy Aristotle : the growth and structure of his thought]. London : Cambridge University Press. 1968. hlm. 134. ISBN 978-0-521-07049-2.</ref> atau sebagai [[Api (unsur klasik)|Api]] oleh [[Plato]].<ref>Plato. [https://books.google.co.id/books?id=KQsmLW8v0WwC&lpg=PP1&pg=PA118#v=onepage&q&f=false Plato's Cosmology: The Timaeus of Plato]. Hackett Publishing. 1997. hlm. 118. ISBN 978-0-87220-386-0.</ref> Selama abad ke-17, filsuf alam seperti [[Galileo Galilei|Galileo]],<ref>Galileo Galilei. [http://people.reed.edu/~wieting/mathematics537/SideriusNuncius.pdf Sidereus Nuncius]. 1610. hlm. 13.</ref> [[René Descartes|Descartes]],<ref>Slowik, Edward (2017). Zalta, Edward N., ed. ''[https://plato.stanford.edu/entries/descartes-physics/ The Stanford Encyclopedia of Philosophy]'' (Fall 2017 Edition). Metaphysics Research Lab, Stanford University. "It is obvious that when God first created the world, He not only moved its parts in various ways, but also simultaneously caused some of the parts to push others and to transfer their motion to these others. So in now maintaining the world by the same action and with the same laws with which He created it, He conserves motion; not always contained in the same parts of matter, but transferred from some parts to others depending on the ways in which they come in contact."</ref> dan Newton<ref>Phillip Bricker. [https://books.google.co.id/books?id=oKaQkyCp1toC&lpg=PP1&pg=PA140#v=onepage&q&f=false Philosophical Perspectives on Newtonian Science]. MIT Press. 1990. hlm. 140. ISBN 978-0-262-02301-6.</ref> mulai berpendapat bahwa daerah angkasa dan terestrial terbuat dari jenis bahan yang serupa dan tunduk pada hukum alam yang sama. Tantangan mereka adalah saat itu belum ditemukan alat untuk membuktikan pernyataan ini.


Selama abad kesembilan belas, penelitian astronomi berfokus pada pengukuran dan perhitungan rutin posisi dan gerakan [[objek astronomi]]. Cabang astronomi baru, yang kemudian disebut astrofisika, baru muncul ketika [[William Hyde Wollaston]] dan [[Joseph von Fraunhofer]] secara terpisah mendapati bahwa banyak [[Garis-garis Fraunhofer|garis gelap]] (daerah yang terdapat sedikit atau tidak ada cahaya) yang diamati dalam [[Spektrum kasatmata|spektrum]] ketika cahaya Matahari diuraikan. Pada tahun 1860, fisikawan [[Gustav Robert Kirchhoff|Gustav Kirchhoff]] dan ahli kimia, [[Robert Bunsen]], mengamati bahwa garis-garis gelap pada spektrum Matahari berhubungan dengan garis-garis terang pada spektrum gas yang diketahui, berhubungan dengan [[unsur kimia]] yang unik. Kirchhoff menyimpulkan bahwa garis-garis gelap pada spektrum Matahari disebabkan oleh penyerapan unsur kimiawi di atmosfer Matahari. Dengan cara ini terbukti bahwa unsur kimia yang ditemukan di Matahari dan bintang juga ditemukan di Bumi.
Selama abad kesembilan belas, penelitian astronomi berfokus pada pengukuran dan perhitungan rutin posisi dan gerakan [[objek astronomi]].<ref>Stephen Case. [https://doi.org/10.1080/00033790.2015.1034588 ‘Land-marks of the universe’: John Herschel against the background of positional astronomy]. ''Annals of Science''. 2015-10-02. Vol. 72 (4). hlm. 417–434. doi:10.1080/00033790.2015.1034588.</ref> Cabang astronomi baru, yang kemudian disebut astrofisika,<ref>Kolesnikova Tasha. [https://studybay.com/blog/difference-between-astronomy-and-astrophysics/ The Difference Between Astronomy and Astrophysics]. ''studybay.com''. 2023-07-17.</ref> baru muncul ketika [[William Hyde Wollaston]] dan [[Joseph von Fraunhofer]] secara terpisah mendapati bahwa banyak [[Garis-garis Fraunhofer|garis gelap]] (daerah yang terdapat sedikit atau tidak ada cahaya) yang diamati dalam [[Spektrum kasatmata|spektrum]] ketika cahaya Matahari diuraikan.<ref>J. B. Hearnshaw. [https://books.google.co.id/books?id=iCs4AAAAIAAJ&lpg=PP1&pg=PA23#v=onepage&q&f=false The Analysis of Starlight: One Hundred and Fifty Years of Astronomical Spectroscopy]. CUP Archive. 1990-04-19. hlm. 23, 27. ISBN 978-0-521-39916-6.</ref> Pada tahun 1860, fisikawan [[Gustav Robert Kirchhoff|Gustav Kirchhoff]] dan ahli kimia, [[Robert Bunsen]], mengamati bahwa garis-garis gelap pada spektrum Matahari berhubungan dengan garis-garis terang pada spektrum gas yang diketahui, berhubungan dengan [[unsur kimia]] yang unik.<ref>[https://www.sciencehistory.org/historical-profile/robert-bunsen-and-gustav-kirchhoff Robert Bunsen and Gustav Kirchhoff]. ''Science History Institute''. 1 Mei 2016.</ref> Kirchhoff menyimpulkan bahwa garis-garis gelap pada spektrum Matahari disebabkan oleh penyerapan unsur kimiawi di atmosfer Matahari. Dengan cara ini terbukti bahwa unsur kimia yang ditemukan di Matahari dan bintang juga ditemukan di Bumi.<ref>[https://history.aip.org/exhibits/cosmology/tools/tools-spectroscopy.htm Spectroscopy and the Birth of Astrophysics (Cosmology: Tools)]. ''history.aip.org''.</ref>


Pada tahun 1868, [[Norman Lockyer]] mempelajari garis-garis terang dan gelap dalam spektrum Matahari. Dia bekerja dengan ahli kimia [[Edward Frankland]] untuk menyelidiki spektrum unsur-unsur pada berbagai suhu dan tekanan tetapi tidak dapat menghubungkan garis kuning dalam spektrum Matahari dengan unsur-unsur yang telah diketahui saat itu. Dia kemudian menyatakan garis tersebut mewakili elemen baru, disebut [[helium]], dari [[bahasa Yunani]] [[Helios]], dewa Matahari.
Pada tahun 1868, [[Norman Lockyer]] mempelajari garis-garis terang dan gelap dalam spektrum Matahari. Dia bekerja dengan ahli kimia [[Edward Frankland]] untuk menyelidiki spektrum unsur-unsur pada berbagai suhu dan tekanan tetapi tidak dapat menghubungkan garis kuning dalam spektrum Matahari dengan unsur-unsur yang telah diketahui saat itu.<ref>A. L. Cortie. [http://adsabs.harvard.edu/abs/1921ApJ....53..233C Sir Norman Lockyer, 1836-1920]. ''The Astrophysical Journal''. 1921-05-01. Vol. 53. hlm. 237. doi:10.1086/142602.</ref> Dia kemudian menyatakan garis tersebut mewakili elemen baru, disebut [[helium]], dari [[bahasa Yunani]] [[Helios]], dewa Matahari.<ref>William B. Jensen. [https://doi.org/10.1021/ed081p944 Why Helium Ends in "-ium"]. ''Journal of Chemical Education''. 2004-07-01. Vol. 81 (7). hlm. 944. doi:10.1021/ed081p944.</ref>


Pada tahun 1885, [[Edward C. Pickering]] menjalankan program klasifikasi spektrum bintang di [[Observatorium Harvard|Harvard College Observatory]], di mana tim [[Komputer Harvard|komputer wanita]], terutama [[Williamina Fleming]], [[Antonia Maury]], dan [[Annie Jump Cannon]], mengklasifikasikan spektrum yang terekam pada pelat fotografi. Pada tahun 1890, tersusun katalog lebih dari 10.000 bintang yang dikelompokkan ke dalam tiga belas jenis spektral. Pada 1924, Cannon memperluas katalog menjadi sembilan volume dengan lebih dari 250 ribu bintang, mengembangkan [[Klasifikasi bintang#Klasifikasi Harvard (kelas spektrum)|Skema Klasifikasi Harvard]] yang digunakan di seluruh dunia pada tahun 1922.
Pada tahun 1885, [[Edward C. Pickering]] menjalankan program klasifikasi spektrum bintang di [[Observatorium Harvard|Harvard College Observatory]],<ref>[https://history.aip.org/exhibits/cosmology/tools/tools-spectroscopy.htm Spectroscopy and the Birth of Astrophysics (Cosmology: Tools)]. ''history.aip.org''.</ref> di mana tim [[Komputer Harvard|komputer wanita]], terutama [[Williamina Fleming]], [[Antonia Maury]], dan [[Annie Jump Cannon]], mengklasifikasikan spektrum yang terekam pada pelat fotografi.<ref>Elizabeth Howell 12 November 2016. [https://www.space.com/34707-annie-jump-cannon-biography.html Annie Jump Cannon: 'Computer' Who Classified the Stars]. ''Space.com''.</ref> Pada tahun 1890, tersusun katalog lebih dari 10.000 bintang yang dikelompokkan ke dalam tiga belas jenis spektral. Pada 1924, Cannon memperluas katalog menjadi sembilan volume dengan lebih dari 250 ribu bintang, mengembangkan [[Klasifikasi bintang#Klasifikasi Harvard (kelas spektrum)|Skema Klasifikasi Harvard]] yang digunakan di seluruh dunia pada tahun 1922.<ref>[https://history.aip.org/exhibits/cosmology/tools/tools-spectroscopy.htm Spectroscopy and the Birth of Astrophysics (Cosmology: Tools)]. ''history.aip.org''.</ref>


Pada tahun 1895, [[George Ellery Hale]] dan [[James Edward Keeler|James E. Keeler]], bersama dengan sepuluh rekan editor dari Eropa dan [[Amerika Serikat]], mendirikan [[The Astrophysical Journal]]. Jurnal tersebut dimaksudkan untuk mengisi kekosongan dalam jurnal dalam astronomi dan fisika, menyediakan tempat untuk publikasi artikel tentang aplikasi [[Spektroskopi|spektroskop]] dalam astronomi; penelitian laboratorium yang terkait erat dengan fisika astronomi; eksperimen pada radiasi dan absorpsi Matahari; teori Matahari, Bulan, planet, komet, meteor, dan [[nebula]]; dan instrumentasi untuk teleskop dan laboratorium.
Pada tahun 1895, [[George Ellery Hale]] dan [[James Edward Keeler|James E. Keeler]], bersama dengan sepuluh rekan editor dari Eropa dan [[Amerika Serikat]], mendirikan [[The Astrophysical Journal]]. Jurnal tersebut dimaksudkan untuk mengisi kekosongan dalam jurnal dalam astronomi dan fisika, menyediakan tempat untuk publikasi artikel tentang aplikasi [[Spektroskopi|spektroskop]] dalam astronomi; penelitian laboratorium yang terkait erat dengan fisika astronomi; eksperimen pada radiasi dan absorpsi Matahari; teori Matahari, Bulan, planet, komet, meteor, dan [[nebula]]; dan instrumentasi untuk teleskop dan laboratorium.<ref>George E. Hale. [http://adsabs.harvard.edu/abs/1895ApJ.....1...80H The Astrophysical Journal]. ''The Astrophysical Journal''. 1895-01-01. Vol. 1 (1). hlm. 81-82. doi:10.1086/140011.</ref>


Sekitar 1920, saat [[diagram Hertzsprung-Russell]] masih digunakan sebagai dasar untuk mengklasifikasikan bintang dan evolusinya, [[Arthur Eddington]] mengantisipasi penemuan dan mekanisme proses [[fusi nuklir]] pada bintang dalam makalahnya ''The Internal Constitution of the Stars''. Pada saat itu, sumber energi bintang masih belum diketahui. Eddington dengan tepat berspekulasi bahwa sumbernya adalah fusi [[hidrogen]] menjadi helium, melepaskan energi yang sangat besar memenuhi persamaan [[Albert Einstein|Einstein]] [[Ekuivalensi massa–energi|'''<math> E = mc^2 \!</math>''']]. Ini adalah sebuah terobosan baru karena pada saat itu [[reaksi nuklir]] belum sepenuhnya diketahui.
Sekitar 1920, saat [[diagram Hertzsprung-Russell]] masih digunakan sebagai dasar untuk mengklasifikasikan bintang dan evolusinya, [[Arthur Eddington]] mengantisipasi penemuan dan mekanisme proses [[fusi nuklir]] pada bintang dalam makalahnya ''The Internal Constitution of the Stars''.<ref>A. S. Eddington. [https://science.sciencemag.org/content/52/1341/233 The Internal Constitution of the Stars]. ''Science''. 1920-09-10. Vol. 52 (1341). hlm. 233–240. doi:10.1126/science.52.1341.233.</ref> Pada saat itu, sumber energi bintang masih belum diketahui. Eddington dengan tepat berspekulasi bahwa sumbernya adalah fusi [[hidrogen]] menjadi helium, melepaskan energi yang sangat besar memenuhi persamaan [[Albert Einstein|Einstein]] [[Ekuivalensi massa–energi|'''<math> E = mc^2 \!</math>''']]. Ini adalah sebuah terobosan baru karena pada saat itu [[reaksi nuklir]] belum sepenuhnya diketahui.<ref>Garry McCracken. [http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/B9780123846563000027 Fusion (Second Edition)]. Academic Press. 2013-01-01. hlm. 13. doi:10.1016/b978-0-12-384656-3.00002-7. ISBN 978-0-12-384656-3.</ref>


Pada tahun 1925, [[Cecilia Payne-Gaposchkin]] menulis disertasi doktoral di [[Radcliffe College]]. Dia menerapkan teori [[ionisasi]] pada atmosfer bintang untuk menghubungkan kelas spektral dengan suhu bintang. Dia mendapati bahwa hidrogen dan helium adalah penyusun utama sebuah bintang. Namun, pada saat tesisnya diterbitkan, [[Henry Norris Russell]] dari [[Universitas Princeton]] meyakinkan Payne bahwa kesimpulannya pasti salah. Russell kemudian mempelajari temuan Payne selama empat tahun, dan dalam [[The Astrophysical Journal|Astrophysical Journal]] edisi Juli 1929 menyatakan bahwa penemuan Payne tidak dapat diragukan.
Pada tahun 1925, [[Cecilia Payne-Gaposchkin]] menulis disertasi doktoral di [[Radcliffe College]]. Dia menerapkan teori [[ionisasi]] pada atmosfer bintang untuk menghubungkan kelas spektral dengan suhu bintang.<ref>Payne, C. H. [http://articles.adsabs.harvard.edu//full/1925PhDT.........1P/0000001,009.html Stellar Atmospheres; a Contribution to the Observational Study of High Temperature in the Reversing Layers of Stars]. 1925. hlm. iv.</ref> Dia mendapati bahwa hidrogen dan helium adalah penyusun utama sebuah bintang. Namun, pada saat tesisnya diterbitkan, [[Henry Norris Russell]] dari [[Universitas Princeton]] meyakinkan Payne bahwa kesimpulannya pasti salah. Russell kemudian mempelajari temuan Payne selama empat tahun, dan dalam [[The Astrophysical Journal|Astrophysical Journal]] edisi Juli 1929 menyatakan bahwa penemuan Payne tidak dapat diragukan.<ref>Jeff Glorfeld. [https://cosmosmagazine.com/physics/this-week-in-science-history-the-woman-who-found-hydrogen-in-the-stars-is-born/ This week in science history: The woman who found hydrogen in the stars is born]. ''Cosmos Magazine''. 9 Mei 2018.</ref>


Pada akhir abad ke-20, studi tentang spektrum astronomi telah meluas hingga mencakup [[panjang gelombang]] yang membentang dari [[Radio|gelombang radio]] hingga panjang gelombang optik, [[Sinar-X|x-ray]], dan [[Sinar gama|gamma]]. Pada abad ke-21, teori ini diperluas dengan memasukkan pengamatan berdasarkan [[gelombang gravitasi]].
Pada akhir abad ke-20, studi tentang spektrum astronomi telah meluas hingga mencakup [[panjang gelombang]] yang membentang dari [[Radio|gelombang radio]] hingga panjang gelombang optik, [[Sinar-X|x-ray]], dan [[Sinar gama|gamma]].<ref>Peter L. Biermann. [https://aip.scitation.org/doi/abs/10.1063/1.55085 Frontiers of Astrophysics—Workshop summary]. ''AIP Conference Proceedings''. 1998-02-05. Vol. 423 (1). hlm. 236–248. doi:10.1063/1.55085.</ref> Pada abad ke-21, teori ini diperluas dengan memasukkan pengamatan berdasarkan [[gelombang gravitasi]].<ref>B. S. Sathyaprakash. [https://doi.org/10.12942/lrr-2009-2 Physics, Astrophysics and Cosmology with Gravitational Waves]. ''Living Reviews in Relativity''. 2009-12-01. Vol. 12 (1). hlm. 110. doi:10.12942/lrr-2009-2.</ref>


== Metode studi ==
== Metode studi ==
=== Astrofisika teoretis ===
=== Astrofisika teoretis ===
Astrofisika teoretis mencakup [[Model matematika|model analitis]] dan [[Analisis numerik|simulasi numerik]] komputasi. Model analitis umumnya lebih baik untuk memberikan wawasan inti tentang objek yang sedang diamati sementara model numerik dapat mengungkapkan keberadaan fenomena dan efek yang tidak terlihat.
Astrofisika teoretis mencakup [[Model matematika|model analitis]] dan [[Analisis numerik|simulasi numerik]] komputasi. Model analitis umumnya lebih baik untuk memberikan wawasan inti tentang objek yang sedang diamati sementara model numerik dapat mengungkapkan keberadaan fenomena dan efek yang tidak terlihat.<ref>[https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1002/0471743984.vse8722 Van Nostrand's Scientific Encyclopedia]. American Cancer Society. 2006. hlm. 5. doi:10.1002/0471743984.vse8722. ISBN 978-0-471-74398-9.</ref>


=== Astrofisika observasional ===
=== Astrofisika observasional ===
Pengamatan jarak jauh mengakibatkan penelitian Astrofisika tidak dapat dilakukan dalam lingkungan terkendali dan bergantung pada fenomena yang terjadi di alam. Informasi didapat dari [[radiasi elektromagnetik]] yang dikumpulkan oleh instrumen astronomi.
Pengamatan jarak jauh mengakibatkan penelitian Astrofisika tidak dapat dilakukan dalam lingkungan terkendali dan bergantung pada fenomena yang terjadi di alam. Informasi didapat dari [[radiasi elektromagnetik]] yang dikumpulkan oleh instrumen astronomi.<ref>Pierre Lena. [https://books.google.co.id/books?id=wS7wCAAAQBAJ&lpg=PA9&dq=Observational%20astrophysics&pg=PA1#v=onepage&q&f=false Observational Astrophysics]. Springer Science & Business Media. 2013-03-09. hlm. 1-2. ISBN 978-3-662-03685-3.</ref>
 
== Rujukan ==
 


== Daftar Pustaka ==
== Daftar Pustaka ==
*
*


== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


== Sumber dan atribusi ==
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Astrofisika&oldid=26740295 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 26740295 (2025-01-05T04:09:54Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Astrofisika&oldid=26740295 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 26740295 (2025-01-05T04:09:54Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 25 Agustus 2026 23.12

WMAP 2012

Astrofisika adalah bidang ilmu yang mempelajari sifat-sifat fisika fenomena dan objek astronomi di jagat raya. Astrofisika membahas objek-objek di luar angkasa dan juga Bumi. Terkadang, penamaannya dapat berganti dengan astronomi karena lingkup studinya yang mirip pada masa modern.

Sejarah

Astronomi adalah ilmu kuno, lama terpisah dari studi fisika terestrial. Dalam pandangan dunia Aristoteles, benda-benda di langit tampak seperti bola yang tidak berubah dan gerakan satu-satunya adalah gerakan seragam dalam lingkaran. Sementara itu, dunia teresterial adalah alam yang mengalami pertumbuhan dan pembusukan, dan gerakannya berada dalam garis lurus yang berakhir ketika benda tersebut mencapai tujuannya. Terdapat anggapan bahwa luar angkasa terbuat dari jenis materi yang berbeda dari materi yang ditemukan di dunia terestrial; diyakini oleh Aristoteles sebagai Aether,[1] atau sebagai Api oleh Plato.[2] Selama abad ke-17, filsuf alam seperti Galileo,[3] Descartes,[4] dan Newton[5] mulai berpendapat bahwa daerah angkasa dan terestrial terbuat dari jenis bahan yang serupa dan tunduk pada hukum alam yang sama. Tantangan mereka adalah saat itu belum ditemukan alat untuk membuktikan pernyataan ini.

Selama abad kesembilan belas, penelitian astronomi berfokus pada pengukuran dan perhitungan rutin posisi dan gerakan objek astronomi.[6] Cabang astronomi baru, yang kemudian disebut astrofisika,[7] baru muncul ketika William Hyde Wollaston dan Joseph von Fraunhofer secara terpisah mendapati bahwa banyak garis gelap (daerah yang terdapat sedikit atau tidak ada cahaya) yang diamati dalam spektrum ketika cahaya Matahari diuraikan.[8] Pada tahun 1860, fisikawan Gustav Kirchhoff dan ahli kimia, Robert Bunsen, mengamati bahwa garis-garis gelap pada spektrum Matahari berhubungan dengan garis-garis terang pada spektrum gas yang diketahui, berhubungan dengan unsur kimia yang unik.[9] Kirchhoff menyimpulkan bahwa garis-garis gelap pada spektrum Matahari disebabkan oleh penyerapan unsur kimiawi di atmosfer Matahari. Dengan cara ini terbukti bahwa unsur kimia yang ditemukan di Matahari dan bintang juga ditemukan di Bumi.[10]

Pada tahun 1868, Norman Lockyer mempelajari garis-garis terang dan gelap dalam spektrum Matahari. Dia bekerja dengan ahli kimia Edward Frankland untuk menyelidiki spektrum unsur-unsur pada berbagai suhu dan tekanan tetapi tidak dapat menghubungkan garis kuning dalam spektrum Matahari dengan unsur-unsur yang telah diketahui saat itu.[11] Dia kemudian menyatakan garis tersebut mewakili elemen baru, disebut helium, dari bahasa Yunani Helios, dewa Matahari.[12]

Pada tahun 1885, Edward C. Pickering menjalankan program klasifikasi spektrum bintang di Harvard College Observatory,[13] di mana tim komputer wanita, terutama Williamina Fleming, Antonia Maury, dan Annie Jump Cannon, mengklasifikasikan spektrum yang terekam pada pelat fotografi.[14] Pada tahun 1890, tersusun katalog lebih dari 10.000 bintang yang dikelompokkan ke dalam tiga belas jenis spektral. Pada 1924, Cannon memperluas katalog menjadi sembilan volume dengan lebih dari 250 ribu bintang, mengembangkan Skema Klasifikasi Harvard yang digunakan di seluruh dunia pada tahun 1922.[15]

Pada tahun 1895, George Ellery Hale dan James E. Keeler, bersama dengan sepuluh rekan editor dari Eropa dan Amerika Serikat, mendirikan The Astrophysical Journal. Jurnal tersebut dimaksudkan untuk mengisi kekosongan dalam jurnal dalam astronomi dan fisika, menyediakan tempat untuk publikasi artikel tentang aplikasi spektroskop dalam astronomi; penelitian laboratorium yang terkait erat dengan fisika astronomi; eksperimen pada radiasi dan absorpsi Matahari; teori Matahari, Bulan, planet, komet, meteor, dan nebula; dan instrumentasi untuk teleskop dan laboratorium.[16]

Sekitar 1920, saat diagram Hertzsprung-Russell masih digunakan sebagai dasar untuk mengklasifikasikan bintang dan evolusinya, Arthur Eddington mengantisipasi penemuan dan mekanisme proses fusi nuklir pada bintang dalam makalahnya The Internal Constitution of the Stars.[17] Pada saat itu, sumber energi bintang masih belum diketahui. Eddington dengan tepat berspekulasi bahwa sumbernya adalah fusi hidrogen menjadi helium, melepaskan energi yang sangat besar memenuhi persamaan Einstein E=mc2. Ini adalah sebuah terobosan baru karena pada saat itu reaksi nuklir belum sepenuhnya diketahui.[18]

Pada tahun 1925, Cecilia Payne-Gaposchkin menulis disertasi doktoral di Radcliffe College. Dia menerapkan teori ionisasi pada atmosfer bintang untuk menghubungkan kelas spektral dengan suhu bintang.[19] Dia mendapati bahwa hidrogen dan helium adalah penyusun utama sebuah bintang. Namun, pada saat tesisnya diterbitkan, Henry Norris Russell dari Universitas Princeton meyakinkan Payne bahwa kesimpulannya pasti salah. Russell kemudian mempelajari temuan Payne selama empat tahun, dan dalam Astrophysical Journal edisi Juli 1929 menyatakan bahwa penemuan Payne tidak dapat diragukan.[20]

Pada akhir abad ke-20, studi tentang spektrum astronomi telah meluas hingga mencakup panjang gelombang yang membentang dari gelombang radio hingga panjang gelombang optik, x-ray, dan gamma.[21] Pada abad ke-21, teori ini diperluas dengan memasukkan pengamatan berdasarkan gelombang gravitasi.[22]

Metode studi

Astrofisika teoretis

Astrofisika teoretis mencakup model analitis dan simulasi numerik komputasi. Model analitis umumnya lebih baik untuk memberikan wawasan inti tentang objek yang sedang diamati sementara model numerik dapat mengungkapkan keberadaan fenomena dan efek yang tidak terlihat.[23]

Astrofisika observasional

Pengamatan jarak jauh mengakibatkan penelitian Astrofisika tidak dapat dilakukan dalam lingkungan terkendali dan bergantung pada fenomena yang terjadi di alam. Informasi didapat dari radiasi elektromagnetik yang dikumpulkan oleh instrumen astronomi.[24]

Daftar Pustaka

Referensi

  1. G. E. R. (Geoffrey Ernest Richard) Lloyd. Aristotle : the growth and structure of his thought. London : Cambridge University Press. 1968. hlm. 134. ISBN 978-0-521-07049-2.
  2. Plato. Plato's Cosmology: The Timaeus of Plato. Hackett Publishing. 1997. hlm. 118. ISBN 978-0-87220-386-0.
  3. Galileo Galilei. Sidereus Nuncius. 1610. hlm. 13.
  4. Slowik, Edward (2017). Zalta, Edward N., ed. The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Fall 2017 Edition). Metaphysics Research Lab, Stanford University. "It is obvious that when God first created the world, He not only moved its parts in various ways, but also simultaneously caused some of the parts to push others and to transfer their motion to these others. So in now maintaining the world by the same action and with the same laws with which He created it, He conserves motion; not always contained in the same parts of matter, but transferred from some parts to others depending on the ways in which they come in contact."
  5. Phillip Bricker. Philosophical Perspectives on Newtonian Science. MIT Press. 1990. hlm. 140. ISBN 978-0-262-02301-6.
  6. Stephen Case. ‘Land-marks of the universe’: John Herschel against the background of positional astronomy. Annals of Science. 2015-10-02. Vol. 72 (4). hlm. 417–434. doi:10.1080/00033790.2015.1034588.
  7. Kolesnikova Tasha. The Difference Between Astronomy and Astrophysics. studybay.com. 2023-07-17.
  8. J. B. Hearnshaw. The Analysis of Starlight: One Hundred and Fifty Years of Astronomical Spectroscopy. CUP Archive. 1990-04-19. hlm. 23, 27. ISBN 978-0-521-39916-6.
  9. Robert Bunsen and Gustav Kirchhoff. Science History Institute. 1 Mei 2016.
  10. Spectroscopy and the Birth of Astrophysics (Cosmology: Tools). history.aip.org.
  11. A. L. Cortie. Sir Norman Lockyer, 1836-1920. The Astrophysical Journal. 1921-05-01. Vol. 53. hlm. 237. doi:10.1086/142602.
  12. William B. Jensen. Why Helium Ends in "-ium". Journal of Chemical Education. 2004-07-01. Vol. 81 (7). hlm. 944. doi:10.1021/ed081p944.
  13. Spectroscopy and the Birth of Astrophysics (Cosmology: Tools). history.aip.org.
  14. Elizabeth Howell 12 November 2016. Annie Jump Cannon: 'Computer' Who Classified the Stars. Space.com.
  15. Spectroscopy and the Birth of Astrophysics (Cosmology: Tools). history.aip.org.
  16. George E. Hale. The Astrophysical Journal. The Astrophysical Journal. 1895-01-01. Vol. 1 (1). hlm. 81-82. doi:10.1086/140011.
  17. A. S. Eddington. The Internal Constitution of the Stars. Science. 1920-09-10. Vol. 52 (1341). hlm. 233–240. doi:10.1126/science.52.1341.233.
  18. Garry McCracken. Fusion (Second Edition). Academic Press. 2013-01-01. hlm. 13. doi:10.1016/b978-0-12-384656-3.00002-7. ISBN 978-0-12-384656-3.
  19. Payne, C. H. Stellar Atmospheres; a Contribution to the Observational Study of High Temperature in the Reversing Layers of Stars. 1925. hlm. iv.
  20. Jeff Glorfeld. This week in science history: The woman who found hydrogen in the stars is born. Cosmos Magazine. 9 Mei 2018.
  21. Peter L. Biermann. Frontiers of Astrophysics—Workshop summary. AIP Conference Proceedings. 1998-02-05. Vol. 423 (1). hlm. 236–248. doi:10.1063/1.55085.
  22. B. S. Sathyaprakash. Physics, Astrophysics and Cosmology with Gravitational Waves. Living Reviews in Relativity. 2009-12-01. Vol. 12 (1). hlm. 110. doi:10.12942/lrr-2009-2.
  23. Van Nostrand's Scientific Encyclopedia. American Cancer Society. 2006. hlm. 5. doi:10.1002/0471743984.vse8722. ISBN 978-0-471-74398-9.
  24. Pierre Lena. Observational Astrophysics. Springer Science & Business Media. 2013-03-09. hlm. 1-2. ISBN 978-3-662-03685-3.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 26740295 (2025-01-05T04:09:54Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.