Lompat ke isi

Energi di Jepang: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28467560; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Energi di Jepang''' mengacu pada produksi, konsumsi, impor dan ekspor [[Sumber daya dan konsumsi energi dunia|energi]] dan [[Pembangkitan listrik|listrik]] di [[Jepang]]. Konsumsi [[energi primer]] negara itu adalah 477,6 [[Satu ton setara minyak|Mtoe]] pada 2011, penurunan 5% dari tahun sebelumnya.
[[File:Japan_energy_and_GDP.svg|thumb|right|280px|Japan energy and GDP]]


Negara ini tidak memiliki cadangan [[bahan bakar fosil]] domestik yang signifikan, kecuali [[Batu bara|batubara]], dan harus mengimpor sejumlah besar [[Minyak bumi|minyak mentah]], [[gas alam]], dan sumber daya energi lainnya, termasuk [[uranium]]. Jepang mengandalkan impor minyak untuk memenuhi sekitar 84 persen dari kebutuhan energinya pada 2010. Jepang juga merupakan importir [[Penambangan batu bara|batubara]] pertama pada 2010, dengan 187 [[Ton|Mt]] (sekitar 20% dari total impor batubara dunia), dan importir [[gas alam]] pertama dengan 99 [[bcm]] (12,1% dari total impor gas dunia).
'''Energi di Jepang''' mengacu pada produksi, konsumsi, impor dan ekspor [[Sumber daya dan konsumsi energi dunia|energi]] dan [[Pembangkitan listrik|listrik]] di [[Jepang]]. Konsumsi [[energi primer]] negara itu adalah 477,6 [[Satu ton setara minyak|Mtoe]] pada 2011, penurunan 5% dari tahun sebelumnya.<ref>[https://www.laohamutuk.org/DVD/docs/BPWER2012report.pdf BP Statistical Review of World Energy 2012]. BP.</ref>


Sementara Jepang sebelumnya mengandalkan tenaga nuklir untuk memenuhi sekitar 30% dari kebutuhan listriknya, setelah [[bencana nuklir Fukushima Daiichi]] 2011, semua [[reaktor nuklir]] secara progresif ditutup karena masalah keamanan. Sejak itu, reaktor [[Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Ōi]] nomor 3 dan 4 dimulai kembali masing-masing pada tanggal 14 Maret 2018, dan 9 Mei 2018. Pada 11 Agustus 2015, dan 1 November 2015, dua reaktor di [[Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Sendai]] dimulai kembali. Setelah bencana Fukushima, masyarakat umum telah menentang penggunaan energi nuklir.
Negara ini tidak memiliki cadangan [[bahan bakar fosil]] domestik yang signifikan, kecuali [[Batu bara|batubara]], dan harus mengimpor sejumlah besar [[Minyak bumi|minyak mentah]], [[gas alam]], dan sumber daya energi lainnya, termasuk [[uranium]]. Jepang mengandalkan impor minyak untuk memenuhi sekitar 84 persen dari kebutuhan energinya pada 2010.<ref>[http://www.world-nuclear.org/information-library/country-profiles/countries-g-n/japan-nuclear-power.aspx Nuclear Power in Japan]. ''World Nuclear Association''. 2016.</ref> Jepang juga merupakan importir [[Penambangan batu bara|batubara]] pertama pada 2010, dengan 187 [[Ton|Mt]] (sekitar 20% dari total impor batubara dunia), dan importir [[gas alam]] pertama dengan 99 [[bcm]] (12,1% dari total impor gas dunia).<ref>IEA Key World Energy Statistics [http://www.iea.org/textbase/nppdf/free/2011/key_world_energy_stats.pdf 2011] , [http://www.iea.org/textbase/nppdf/free/2010/key_stats_2010.pdf 2010] , [http://www.iea.org/textbase/nppdf/free/2009/key2009.pdf 2009] , [http://www.iea.org/textbase/nppdf/free/2006/key2006.pdf 2006] IEA October, crude oil p.11, coal p. 13 gas p. 15</ref>
 
Sementara Jepang sebelumnya mengandalkan tenaga nuklir untuk memenuhi sekitar 30% dari kebutuhan listriknya, setelah [[bencana nuklir Fukushima Daiichi]] 2011, semua [[reaktor nuklir]] secara progresif ditutup karena masalah keamanan.<ref>[http://www.world-nuclear.org/information-library/country-profiles/countries-g-n/japan-nuclear-power.aspx Nuclear Power in Japan]. ''World Nuclear Association''. 2016.</ref> Sejak itu, reaktor [[Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Ōi]] nomor 3 dan 4 dimulai kembali masing-masing pada tanggal 14 Maret 2018, dan 9 Mei 2018.<ref>[https://www.japantimes.co.jp/news/2018/05/10/national/no-4-reactor-oi-nuclear-plant-restarted-nearly-five-years-offline/ No. 4 reactor at Oi nuclear plant restarted after nearly five years offline]. ''The Japan Times Online''. 2018-05-10.</ref> Pada 11 Agustus 2015, dan 1 November 2015, dua reaktor di [[Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Sendai]] dimulai kembali. Setelah bencana Fukushima, masyarakat umum telah menentang penggunaan energi nuklir.<ref>[https://www.theguardian.com/world/2015/oct/15/japan-restarts-second-nuclear-reactor-despite-public-opposition Japan restarts second nuclear reactor despite public opposition]. ''The Guardian''. 15 October 2015.</ref><ref>[http://www.dw.com/en/opposition-to-nuclear-energy-grows-in-japan/a-36110302 Opposition to nuclear energy grows in Japan]. Deutsche Welle. 21 October 2016.</ref>


== Ikhtisar ==
== Ikhtisar ==
 
{| class="wikitable" style="text-align:right"
!Tahun
!Populasi (juta)
!Penggunaan energi (TWh)
!Produksi (TWh)
!Impor (TWh)
!Listrik (TWh)
!CO <sub>2 -</sub> emisi (Mt)
|-
| align="left" |2004
|127.7
|6,201
|1,125
|5,126
|1,031
|1,215
|-
| align="left" |2007
|127.8
|5,972
|1,052
|5,055
|1.083
|1,236
|-
| align="left" |2008
|127.7
|5,767
|1,031
|4,872
|1,031
|1,151
|-
| align="left" |2009
|127.3
|5,489
|1,091
|4,471
|997
|1,093
|-
| align="left" |2010
|127.4
|5,778
|1,126
|4,759
|1,070
|1,143
|-
| align="left" |2012
|127.8
|5,367
|601
|4,897
|1,003
|1,186
|-
| align="left" |2012R
|127.6
|5.260
|329
|5,062
|989
|1.223
|-
| align="left" |2013
|127.3
|5,288
|325
|5,082
|998
|1,235
|-
| align="left" |Ubah 2004-10
| -0,2%
| -6,8%
|0,0%
| -7,2%
|3,7%
| -5,9%
|-
| colspan="7" align="left" |Mtoe = 11,63 TWh, Prim. energi termasuk kehilangan energi yang 2/3 untuk tenaga nuklir<ref>[http://webbshop.cm.se/System/TemplateView.aspx?p=Energimyndigheten&view=default&cat=/Broschyrer&id=e0a2619a83294099a16519a0b5edd26f Energy in Sweden 2010] , Facts and figures, The Swedish Energy Agency, Table 8 Losses in nuclear power stations Table 9 Nuclear power brutto</ref>2012R = Kriteria perhitungan CO2 berubah, angka diperbarui
|}


== Sejarah ==
== Sejarah ==
Pertumbuhan industri Jepang yang cepat sejak akhir [[Perang Dunia II]] menggandakan konsumsi energi negara setiap lima tahun menjadi tahun 1990-an. Selama periode percepatan pertumbuhan 1960-72, konsumsi energi tumbuh jauh lebih cepat daripada GNP, menggandakan konsumsi energi dunia Jepang. Pada 1976, dengan hanya 3% dari populasi dunia, Jepang mengkonsumsi 6% dari pasokan energi global.
Pertumbuhan industri Jepang yang cepat sejak akhir [[Perang Dunia II]] menggandakan konsumsi energi negara setiap lima tahun menjadi tahun 1990-an. Selama periode percepatan pertumbuhan 1960-72, konsumsi energi tumbuh jauh lebih cepat daripada GNP, menggandakan konsumsi energi dunia Jepang. Pada 1976, dengan hanya 3% dari populasi dunia, Jepang mengkonsumsi 6% dari pasokan energi global.


Dibandingkan dengan negara lain, listrik di Jepang relatif mahal, dan, karena hilangnya tenaga nuklir setelah bencana gempa dan tsunami di Fukushima, biaya listrik telah meningkat secara signifikan.
Dibandingkan dengan negara lain, listrik di Jepang relatif mahal,<ref>Nagata, Kazuaki, "[http://search.japantimes.co.jp/cgi-bin/nn20110906i1.html Utilities have monopoly on power]", ''Japan Times'', 6 September 2011, p. 3.</ref> dan, karena hilangnya tenaga nuklir setelah bencana gempa dan tsunami di Fukushima, biaya listrik telah meningkat secara signifikan.<ref>Michiyo Nakamoto. [http://www.ft.com/cms/s/0/bf0affbc-7d5f-11e1-bfa5-00144feab49a.html#axzz1vnj3MoWo Tepco faces revolt over price rise]. FT.com. 2012-04-04.</ref>


== Sumber energi ==
== Sumber energi ==
Pada tahun 1950, batubara memasok setengah dari kebutuhan energi Jepang, [[Pembangkit listrik tenaga air|hidroelektrik]] sepertiga, dan sisanya minyak. Pada tahun 2001, kontribusi minyak telah meningkat menjadi 50,2% dari total, dengan kenaikan juga dalam penggunaan tenaga nuklir dan gas alam. Jepang sekarang sangat bergantung pada bahan bakar fosil yang diimpor untuk memenuhi permintaan energinya.
Pada tahun 1950, batubara memasok setengah dari kebutuhan energi Jepang, [[Pembangkit listrik tenaga air|hidroelektrik]] sepertiga, dan sisanya minyak. Pada tahun 2001, kontribusi minyak telah meningkat menjadi 50,2% dari total, dengan kenaikan juga dalam penggunaan tenaga nuklir dan gas alam. Jepang sekarang sangat bergantung pada bahan bakar fosil yang diimpor untuk memenuhi permintaan energinya.<ref>[http://205.254.135.7/EMEU/cabs/Japan/pdf.pdf Japan]. ''Country Analysis Briefs''. U.S. Energy Information Administration (EIA).</ref>
 
{|
Jepang saat ini memproduksi sekitar 10% listriknya dari sumber terbarukan. Rencana Energi Strategis Keempat menetapkan sasaran saham yang dapat diperbarui menjadi 24% pada tahun 2030. Dalam 15 tahun ke depan, Jepang bermaksud menginvestasikan $ 700 miliar pada energi terbarukan. Salah satu inisiatif yang telah dilaksanakan pemerintah Jepang untuk meningkatkan jumlah energi terbarukan yang diproduksi dan dibeli di Jepang adalah skema tarif feed-in. Skema ini mendorong perusahaan untuk berinvestasi dalam energi terbarukan dengan memberikan harga yang ditetapkan untuk berbagai jenis energi terbarukan. Inisiatif ini tampaknya berhasil, karena kapasitas pembangkit energi terbarukan kini mencapai 26,2 GW, dibandingkan dengan 20,9 GW pada 2012.
| colspan="3" |'''Jepang — penggunaan energi primer''' <ref>[http://www.eia.doe.gov/emeu/cabs/Japan/Background.html Country Analysis Briefs – Japan] , ''US Energy Information Administration'', published January 2004, accessdate 2007-05-10</ref>
|-
|'''Bahan bakar'''
|'''1950'''
|'''1988'''
|'''2001''' <ref>[http://www.eia.doe.gov/emeu/cabs/Japan/Background.html Country Analysis Briefs – Japan] , ''US Energy Information Administration'', published January 2004, accessdate 2007-05-10</ref>
|-
|'''Batu bara'''
|50%
|18,1%
|16,8%
|-
|'''Hydro'''
|33%
|4,6%
|4,0%
|-
|'''Minyak'''
|17%
|57,3%
|50,2%
|-
|'''Gas alam'''
| -
|10,1%
|13,6%
|-
|'''Nuklir'''
| -
|9,0%
|14,4%
|-
|'''Lain'''
| -
|1,3%
|1,0%
|}
Jepang saat ini memproduksi sekitar 10% listriknya dari sumber terbarukan. Rencana Energi Strategis Keempat menetapkan sasaran saham yang dapat diperbarui menjadi 24% pada tahun 2030. Dalam 15 tahun ke depan, Jepang bermaksud menginvestasikan $ 700 miliar pada energi terbarukan.<ref>[http://www.enecho.meti.go.jp/en/category/others/basic_plan/pdf/4th_strategic_energy_plan.pdf 4th Strategic Energy Plan]. ''Ministry of Economy, Trade, and Industry''. April 2014.</ref> Salah satu inisiatif yang telah dilaksanakan pemerintah Jepang untuk meningkatkan jumlah energi terbarukan yang diproduksi dan dibeli di Jepang adalah skema tarif feed-in. Skema ini mendorong perusahaan untuk berinvestasi dalam energi terbarukan dengan memberikan harga yang ditetapkan untuk berbagai jenis energi terbarukan. Inisiatif ini tampaknya berhasil, karena kapasitas pembangkit energi terbarukan kini mencapai 26,2 GW, dibandingkan dengan 20,9 GW pada 2012.<ref>Kae Takase. [http://nautilus.org/napsnet/napsnet-special-reports/energy_burst_japan Renewable Energy Burst in Japan]. ''Nautilus Institute for Security and Sustainability''. 27 May 2014.</ref>


Pada 3 Juli 2018, pemerintah Jepang berjanji untuk meningkatkan [[Energi terbarukan|sumber energi terbarukan]] dari 15% menjadi 22-24%, termasuk angin dan matahari pada tahun 2030. [[Daya nuklir|Energi nuklir]] akan menyediakan 20% dari kebutuhan energi negara sebagai sumber energi bebas emisi. Ini akan membantu Jepang memenuhi komitmen perubahan iklim.
Pada 3 Juli 2018, pemerintah Jepang berjanji untuk meningkatkan [[Energi terbarukan|sumber energi terbarukan]] dari 15% menjadi 22-24%, termasuk angin dan matahari pada tahun 2030. [[Daya nuklir|Energi nuklir]] akan menyediakan 20% dari kebutuhan energi negara sebagai sumber energi bebas emisi. Ini akan membantu Jepang memenuhi komitmen perubahan iklim.<ref>[https://phys.org/news/2018-07-japan-aims-renewable-energy-nuclear.html Japan aims for 24% renewable energy but keeps nuclear central]. Phys.org. 3 July 2018.</ref>


=== Minyak ===
=== Minyak ===
Setelah dua krisis minyak pada tahun 1970-an ([[Krisis minyak 1973|1973]] dan [[Krisis energi 1979|1979]]), Jepang melakukan upaya diversifikasi sumber daya energi untuk meningkatkan [[Keamanan energi|keamanan]]. Konsumsi minyak domestik Jepang turun sedikit, dari sekitar  minyak per hari pada akhir 1980-an menjadi  per hari pada tahun 1990. Sementara penggunaan minyak negara itu menurun, penggunaan tenaga nuklir dan [[Gas alam cair|gas alam]] meningkat secara substansial. Beberapa industri Jepang, misalnya perusahaan listrik dan [[Pembuatan baja|pembuat baja]], beralih dari [[minyak bumi]] ke batu bara, yang sebagian besar diimpor.
Setelah dua krisis minyak pada tahun 1970-an ([[Krisis minyak 1973|1973]] dan [[Krisis energi 1979|1979]]), Jepang melakukan upaya diversifikasi sumber daya energi untuk meningkatkan [[Keamanan energi|keamanan]]. Konsumsi minyak domestik Jepang turun sedikit, dari sekitar  minyak per hari pada akhir 1980-an menjadi  per hari pada tahun 1990. Sementara penggunaan minyak negara itu menurun, penggunaan tenaga nuklir dan [[Gas alam cair|gas alam]] meningkat secara substansial. Beberapa industri Jepang, misalnya perusahaan listrik dan [[Pembuatan baja|pembuat baja]], beralih dari [[minyak bumi]] ke batu bara, yang sebagian besar diimpor.


Cadangan minyak Jepang adalah sekitar 92 hari konsumsi dan cadangan swasta yaitu 77 hari konsumsi dengan total 169 hari atau . SPR Jepang dijalankan oleh Perusahaan Minyak, Gas dan Logam Nasional Jepang.
Cadangan minyak Jepang adalah sekitar 92 hari konsumsi dan cadangan swasta yaitu 77 hari konsumsi dengan total 169 hari atau .<ref>[http://www.iags.org/n0813042.htm Energy Security in East Asia]. Institute for the Analysis of Global Security. 2004-08-13.</ref><ref>[http://www.ieej.or.jp/aperc/2002pdf/OilStocks2002.pdf Energy Security Initiative]. Asia Pacific Energy Research Center. 2002-01-01.</ref> SPR Jepang dijalankan oleh Perusahaan Minyak, Gas dan Logam Nasional Jepang.<ref>[http://www.jogmec.go.jp/english/index.html Japan Oil, Gas and Metals National Corporation]. JOGMEC.</ref>


Permintaan minyak telah berkurang di Jepang, terutama menjelang dan sejak [[Gempa bumi dan tsunami Tōhoku 2011|gempa bumi Tohoku]] pada tahun 2011. Sementara konsumsi minyak lebih dari 5 juta barel per hari (bph) selama beberapa dekade, ini telah menurun menjadi 3,22 juta bph pada 2017. Pada 2016, India, Arab Saudi dan Texas telah menyusul Jepang dalam konsumsi minyak. Penurunan lebih lanjut menjadi 3,03 juta barel per hari atau hanya di bawah 176 juta kiloliter (pendahuluan) diposting pada 2018.
Permintaan minyak telah berkurang di Jepang, terutama menjelang dan sejak [[Gempa bumi dan tsunami Tōhoku 2011|gempa bumi Tohoku]] pada tahun 2011. Sementara konsumsi minyak lebih dari 5 juta barel per hari (bph) selama beberapa dekade, ini telah menurun menjadi 3,22 juta bph pada 2017.<ref>Reuters Editorial. [https://af.reuters.com/article/energyOilNews/idAFL4N1PJ1DT UPDATE 1-Japan 2017 thermal coal imports hit record, LNG up for]. ''AF''.</ref> Pada 2016, India,<ref>[https://economictimes.indiatimes.com/industry/energy/oil-gas/india-beats-japan-in-oil-use-only-next-to-us-china/articleshow/52659580.cms India beats Japan in oil use, only next to US, China]. ''The Economic Times''. 9 June 2016.</ref> Arab Saudi <ref>https://www.ceicdata.com/en/indicator/saudi-arabia/oil-consumption</ref> dan Texas <ref>[https://www.eia.gov/state/seds/data.php?incfile=/state/seds/sep_use/total/use_tot_TXa.html&sid=TX Texas - SEDS - U.S. Energy Information Administration (EIA)]. ''www.eia.gov''.</ref> telah menyusul Jepang dalam konsumsi minyak. Penurunan lebih lanjut menjadi 3,03 juta barel per hari atau hanya di bawah 176 juta kiloliter (pendahuluan) diposting pada 2018.<ref>[https://www.cnbc.com/2019/01/22/reuters-america-update-1-japans-2018-crude-imports-fall-to-39-year-low-as-population-shrinks.html UPDATE 1-Japan's 2018 crude imports fall to 39-year low as population shrinks]. CNBC. 23 January 2019.</ref>


=== Tenaga nuklir ===
=== Tenaga nuklir ===
Mengikuti pidato [[Atom untuk Perdamaian]] Eisenhower, Amerika Serikat membantu Jepang mengembangkan program tenaga nuklir mereka. Ketika Jepang memutuskan untuk memulai bidang tenaga nuklir, Jepang mengimpor teknologi dari [[Amerika Serikat]] dan memperoleh uranium dari [[Kanada]], [[Prancis]], [[Afrika Selatan]], dan [[Australia]]. Reaktor nuklir pertama ditugaskan pada tahun 1966, dari saat itu hingga 2010 54 reaktor nuklir telah dibuka, dengan total kapasitas pembangkit 48.847 MW.<ref>[http://www.fepc.or.jp/english/nuclear/power_generation/plants/ Nuclear Power Plants in Japan]. ''The Federation of Electric Power Companies of Japan''.</ref> Rasio pembangkit listrik tenaga nuklir terhadap total produksi listrik meningkat dari 2% pada tahun 1973 menjadi sekitar 30% pada bulan Maret 2011.<ref>[http://www.world-nuclear.org/information-library/country-profiles/countries-g-n/japan-nuclear-power.aspx Nuclear Power in Japan]. ''World Nuclear Association''. 2016.</ref> Selama 1980-an, program tenaga nuklir Jepang sangat ditentang oleh [[Gerakan lingkungan hidup|kelompok-kelompok lingkungan]], terutama setelah [[Musibah Pulau Three Mile|kecelakaan Three Mile Island]] di Amerika Serikat. Pada tahun 2000-an, Jepang memiliki beberapa [[Reaktor air didih lanjut|Reaktor Air Mendidih Lanjut]] modern, termasuk beberapa [[Reaktor generasi III|reaktor Generasi III]] canggih baru. Di [[Rokkasho, Aomori]] dibangun fasilitas untuk memperkaya bahan bakar nuklir, menangani limbah nuklir, dan mendaur ulang bahan bakar nuklir bekas.


Setelah gempa bumi dan tsunami 2011, beberapa reaktor nuklir rusak, menyebabkan banyak ketidakpastian dan ketakutan tentang pelepasan bahan radioaktif, serta menyoroti kekhawatiran yang sedang berlangsung tentang standar desain seismik (lihat [[Tenaga nuklir di Jepang]]).<ref>Johnston, Eric, "[http://search.japantimes.co.jp/cgi-bin/nn20110922x3.html Current nuclear debate to set nation's course for decades]", ''Japan Times'', 23 September 2011, p. 1.</ref> Pada 5 Mei 2012, Jepang menutup reaktor nuklir terakhir, pertama kalinya tidak ada produksi tenaga nuklir di negara tersebut sejak tahun 1970.<ref>David Batty. [https://www.theguardian.com/world/2012/may/05/japan-shuts-down-last-nuclear-reactor Japan shuts down last working nuclear reactor]. ''The Guardian''. 5 May 2012.</ref> Pada tanggal 16 Juni, Perdana Menteri Yoshihiko Noda memerintahkan untuk memulai kembali [[Planti Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir|reaktor nuklir Ōi]] nomor 3 dan 4, dengan mengatakan bahwa mata pencaharian masyarakat perlu dilindungi.<ref>[http://www.world-nuclear-news.org/RS-Ohi_reactors_cleared_for_restart-1806124.html Ohi reactors cleared for restart]. World-nuclear-news.org. 2012-06-18.</ref> Reaktor nuklir Ōi nomor 3 dimulai kembali pada 2 Juli,<ref>[http://www.msnbc.msn.com/id/48034288/ns/world_news-asia_pacific#.T_DZPuge4XM Japan restarts first reactor since Fukushima – World news – Asia-Pacific | NBC News]. MSNBC. 2012-01-07.</ref> dan No. 4 mulai beroperasi pada 21 Juli.<ref>[http://zeenews.india.com/news/world/oi-nuclear-plant-s-no-4-reactor-begins-generating-power_788863.html Oi nuclear plant's No 4 reactor begins generating power]. Zeenews.india.com. 2012-07-21.</ref> Namun, pada bulan September 2013, [[Planti Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir|pabrik nuklir Ōi]] ditutup untuk melakukan inspeksi keselamatan yang luas.<ref>[https://www.bbc.com/news/world-asia-24099022 Japan halts last nuclear reactor at Ohi]. ''BBC''. 15 September 2013.</ref> Pada akhir 2015, kedua reaktor [[Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Sendai]] telah dibuka kembali dan mulai lagi memproduksi energi nuklir. Pembangkit nuklir lainnya, seperti [[Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Takahama]], telah menerima izin untuk membuka kembali, dan reaktor nuklir lainnya memulai proses memulai kembali.<ref>[http://www.euronews.com/2015/12/24/four-nuclear-reactors-to-reopen-in-japan Four nuclear reactors to reopen in Japan]. ''Euronews''. 24 December 2015.</ref>


Mengikuti pidato [[Atom untuk Perdamaian]] Eisenhower, Amerika Serikat membantu Jepang mengembangkan program tenaga nuklir mereka. Ketika Jepang memutuskan untuk memulai bidang tenaga nuklir, Jepang mengimpor teknologi dari [[Amerika Serikat]] dan memperoleh uranium dari [[Kanada]], [[Prancis]], [[Afrika Selatan]], dan [[Australia]]. Reaktor nuklir pertama ditugaskan pada tahun 1966, dari saat itu hingga 2010 54 reaktor nuklir telah dibuka, dengan total kapasitas pembangkit 48.847 MW. Rasio pembangkit listrik tenaga nuklir terhadap total produksi listrik meningkat dari 2% pada tahun 1973 menjadi sekitar 30% pada bulan Maret 2011. Selama 1980-an, program tenaga nuklir Jepang sangat ditentang oleh [[Gerakan lingkungan hidup|kelompok-kelompok lingkungan]], terutama setelah [[Musibah Pulau Three Mile|kecelakaan Three Mile Island]] di Amerika Serikat. Pada tahun 2000-an, Jepang memiliki beberapa [[Reaktor air didih lanjut|Reaktor Air Mendidih Lanjut]] modern, termasuk beberapa [[Reaktor generasi III|reaktor Generasi III]] canggih baru. Di [[Rokkasho, Aomori]] dibangun fasilitas untuk memperkaya bahan bakar nuklir, menangani limbah nuklir, dan mendaur ulang bahan bakar nuklir bekas.
Pada Juni 2015, pemerintah Jepang mengeluarkan proposal energi yang mencakup kebangkitan kembali tenaga nuklir untuk memenuhi kebutuhan energi Jepang. Proposal menyerukan peningkatan sekitar 20% dalam energi nuklir pada tahun 2030.<ref>[http://www.world-nuclear.org/information-library/country-profiles/countries-g-n/japan-nuclear-power.aspx Nuclear Power in Japan]. ''World Nuclear Association''. 2016.</ref> Ini membalikkan keputusan Partai Demokrat sebelumnya, pemerintah akan membuka kembali pembangkit nuklir, yang bertujuan untuk "struktur energi yang realistis dan seimbang".
 
Setelah gempa bumi dan tsunami 2011, beberapa reaktor nuklir rusak, menyebabkan banyak ketidakpastian dan ketakutan tentang pelepasan bahan radioaktif, serta menyoroti kekhawatiran yang sedang berlangsung tentang standar desain seismik (lihat [[Tenaga nuklir di Jepang]]). Pada 5 Mei 2012, Jepang menutup reaktor nuklir terakhir, pertama kalinya tidak ada produksi tenaga nuklir di negara tersebut sejak tahun 1970. Pada tanggal 16 Juni, Perdana Menteri Yoshihiko Noda memerintahkan untuk memulai kembali [[Planti Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir|reaktor nuklir Ōi]] nomor 3 dan 4, dengan mengatakan bahwa mata pencaharian masyarakat perlu dilindungi. Reaktor nuklir Ōi nomor 3 dimulai kembali pada 2 Juli, dan No. 4 mulai beroperasi pada 21 Juli. Namun, pada bulan September 2013, [[Planti Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir|pabrik nuklir Ōi]] ditutup untuk melakukan inspeksi keselamatan yang luas. Pada akhir 2015, kedua reaktor [[Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Sendai]] telah dibuka kembali dan mulai lagi memproduksi energi nuklir. Pembangkit nuklir lainnya, seperti [[Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Takahama]], telah menerima izin untuk membuka kembali, dan reaktor nuklir lainnya memulai proses memulai kembali.
 
Pada Juni 2015, pemerintah Jepang mengeluarkan proposal energi yang mencakup kebangkitan kembali tenaga nuklir untuk memenuhi kebutuhan energi Jepang. Proposal menyerukan peningkatan sekitar 20% dalam energi nuklir pada tahun 2030. Ini membalikkan keputusan Partai Demokrat sebelumnya, pemerintah akan membuka kembali pembangkit nuklir, yang bertujuan untuk "struktur energi yang realistis dan seimbang".


=== Gas alam ===
=== Gas alam ===
Karena produksi gas alam domestik minimal, permintaan meningkat dipenuhi oleh impor yang lebih besar. Pemasok LNG utama Jepang pada tahun 2016 adalah [[Australia]] (27%), [[Malaysia]] (18%), [[Qatar]] (15%), [[Rusia]] (9%), dan [[Indonesia]] (8%). Pada tahun 1987, pemasok adalah Indonesia (51,3%), Malaysia (20,4%), [[Brunei Darussalam|Brunei]] (17,8%), [[Uni Emirat Arab]] (7,3%), dan [[Amerika Serikat]] (3,2%).
Karena produksi gas alam domestik minimal, permintaan meningkat dipenuhi oleh impor yang lebih besar. Pemasok LNG utama Jepang pada tahun 2016 adalah [[Australia]] (27%), [[Malaysia]] (18%), [[Qatar]] (15%), [[Rusia]] (9%), dan [[Indonesia]] (8%).<ref>[https://www.eia.gov/beta/international/analysis.php?iso=JPN Country Analysis Brief: Japan]. US Energy Information Administration. 2 February 2017.</ref> Pada tahun 1987, pemasok adalah Indonesia (51,3%), Malaysia (20,4%), [[Brunei Darussalam|Brunei]] (17,8%), [[Uni Emirat Arab]] (7,3%), dan [[Amerika Serikat]] (3,2%).


Strategi LNG Jepang baru yang diterbitkan pada Mei 2016 membayangkan penciptaan pasar cair dan pusat LNG internasional di Jepang. Ini menjanjikan untuk secara radikal mengubah sistem penetapan harga berbasis JCC (minyak mentah) tradisional di Jepang, tetapi juga berpotensi di Cekungan Pasifik secara keseluruhan. Namun, jalan menuju penciptaan hub dan penetapan harga hub pada awal 2020-an yang dibayangkan oleh Strategi tidak akan mudah.
Strategi LNG Jepang baru yang diterbitkan pada Mei 2016 membayangkan penciptaan pasar cair dan pusat LNG internasional di Jepang. Ini menjanjikan untuk secara radikal mengubah sistem penetapan harga berbasis JCC (minyak mentah) tradisional di Jepang, tetapi juga berpotensi di Cekungan Pasifik secara keseluruhan. Namun, jalan menuju penciptaan hub dan penetapan harga hub pada awal 2020-an yang dibayangkan oleh Strategi tidak akan mudah.<ref>Jonathan Stern. [https://www.oxfordenergy.org/publications/new-japanese-lng-strategy-major-step-towards-hub-based-gas-pricing-asia/ The new Japanese LNG strategy : a major step towards hub-based gas pricing in Asia]. ''Oxford Energy Comment''. Oxford Institute for Energy Studies. 2016.</ref>


=== Tenaga air ===
=== Tenaga air ===
Sumber energi utama terbarukan negara adalah pembangkit listrik tenaga air, dengan kapasitas terpasang sekitar 27 GW dan produksi listrik 69,2 TWh pada 2009. Hingga September 2011, Jepang memiliki 1.198 pembangkit listrik tenaga air kecil dengan total kapasitas 3.225 MW. Pembangkit yang lebih kecil menyumbang 6,6 persen dari total kapasitas tenaga air Jepang. Kapasitas yang tersisa diisi oleh stasiun tenaga air besar dan sedang, biasanya berlokasi di bendungan besar. Biaya per kilowatt-jam untuk daya dari pembangkit yang lebih kecil tinggi pada ¥ 15-100, menghambat pengembangan lebih lanjut dari sumber energi.
Sumber energi utama terbarukan negara adalah pembangkit listrik tenaga air, dengan kapasitas terpasang sekitar 27 GW dan produksi listrik 69,2 TWh pada 2009.<ref>See Hydroelectricity#World hydroelectric capacity</ref> Hingga September 2011, Jepang memiliki 1.198 pembangkit listrik tenaga air kecil dengan total kapasitas 3.225 MW. Pembangkit yang lebih kecil menyumbang 6,6 persen dari total kapasitas tenaga air Jepang. Kapasitas yang tersisa diisi oleh stasiun tenaga air besar dan sedang, biasanya berlokasi di bendungan besar. Biaya per kilowatt-jam untuk daya dari pembangkit yang lebih kecil tinggi pada ¥ 15-100, menghambat pengembangan lebih lanjut dari sumber energi.<ref>Johnston, Eric, "[http://search.japantimes.co.jp/cgi-bin/nn20110929f1.html Small hydropower plants keep it local]", ''Japan Times'', 29 September 2011, p. 3.</ref>


=== Tenaga surya ===
=== Tenaga surya ===
Jepang adalah produsen [[Fotovoltaik|listrik fotovoltaik]] terbesar kedua di dunia pada awal 2000-an, meskipun matahari merupakan kontribusi yang sangat kecil terhadap total pada waktu itu. Negara itu diambil alih oleh [[Tenaga surya di Jerman|Jerman]] pada tahun 2005, tahun di mana Jepang memiliki 38% dari pasokan dunia dibandingkan dengan Jerman 39%.<ref>[http://www.yomiuri.co.jp/dy/features/science/20070510TDY03003.htm Japan lags behind Europe in solar power]. ''The Daily Yomiuri'', published 2007-05-10, accessed 2007-05-14.</ref><ref>Johnston, Eric, "[http://search.japantimes.co.jp/cgi-bin/nn20110924f1.html Despite headwinds, solar energy making progress, advocates say]", ''Japan Times'', 24 September 2011, p. 3.</ref> Sejak itu, Jepang terhitung lambat dalam meningkatkan kapasitas tenaga surya dibandingkan dengan negara lain hingga 2012.


 
Pada 1 Juli 2012, setelah bencana nuklir di Fukushima, tarif baru untuk energi terbarukan diperkenalkan oleh pemerintah Jepang. Tarif, ditetapkan pada ¥ 42 per kWh selama 20 tahun ke depan untuk produsen tenaga surya, termasuk yang tertinggi di dunia.<ref>Watanabe, Chisaki, (Bloomberg), "[http://www.japantimes.co.jp/text/nb20120704n3.html Japan to become No. 2 solar market] ", ''Japan Times'', 4 July 2012, p. 7</ref><ref>Johnston, Eric, "[http://www.japantimes.co.jp/text/nn20120529i1.html New feed-in tariff system a rush to get renewables in play]", ''Japan Times'', 29 May 2012, p. 3</ref> Dengan adanya insentif, Jepang menambah 1.718 MW tenaga surya pada 2012. Pada akhir tahun, total kapasitas tenaga surya Jepang adalah 7,4 GW.<ref>Chico Harlan. [https://www.theguardian.com/world/2013/jun/18/japan-solar-energy-fukushima-nuclear-renewable-abe After Fukushima, Japan beginning to see the light in solar energy]. ''The Guardian''. 19 June 2013.</ref> Jepang telah melihat pertumbuhan kapasitas PV surya yang berkelanjutan setelah 2012, mencapai kapasitas terpasang kumulatif 34 GW pada akhir 2015, menghasilkan 3,5% dari konsumsi listrik nasional pada tahun itu.
Jepang adalah produsen [[Fotovoltaik|listrik fotovoltaik]] terbesar kedua di dunia pada awal 2000-an, meskipun matahari merupakan kontribusi yang sangat kecil terhadap total pada waktu itu. Negara itu diambil alih oleh [[Tenaga surya di Jerman|Jerman]] pada tahun 2005, tahun di mana Jepang memiliki 38% dari pasokan dunia dibandingkan dengan Jerman 39%. Sejak itu, Jepang terhitung lambat dalam meningkatkan kapasitas tenaga surya dibandingkan dengan negara lain hingga 2012.
 
Pada 1 Juli 2012, setelah bencana nuklir di Fukushima, tarif baru untuk energi terbarukan diperkenalkan oleh pemerintah Jepang. Tarif, ditetapkan pada ¥ 42 per kWh selama 20 tahun ke depan untuk produsen tenaga surya, termasuk yang tertinggi di dunia. Dengan adanya insentif, Jepang menambah 1.718 MW tenaga surya pada 2012. Pada akhir tahun, total kapasitas tenaga surya Jepang adalah 7,4 GW. Jepang telah melihat pertumbuhan kapasitas PV surya yang berkelanjutan setelah 2012, mencapai kapasitas terpasang kumulatif 34 GW pada akhir 2015, menghasilkan 3,5% dari konsumsi listrik nasional pada tahun itu.


=== Tenaga angin ===
=== Tenaga angin ===
 
Jepang memiliki 1.807 [[turbin angin]] dengan total kapasitas 2.440 MW hingga September 2011. Kurangnya lokasi dengan angin yang konstan, pembatasan lingkungan, dan penekanan oleh utilitas listrik pada fosil dan tenaga nuklir menghambat penggunaan lebih banyak tenaga angin di negara ini.<ref>Johnston, Eric, "[http://search.japantimes.co.jp/cgi-bin/nn20110928f1.html Wind power quest faces stability, regulatory hurdles]", ''Japan Times'', 28 September 2011, p. 3.</ref> Namun, telah diperkirakan bahwa Jepang memiliki potensi untuk 144 GW untuk angin darat dan 608 GW untuk kapasitas angin lepas pantai.<ref>Chisaki Watanabe. [https://www.bloomberg.com/news/articles/2014-02-26/ge-says-japan-has-more-potential-to-harness-wind-energy GE Says Japan Has More Potential to Harness Wind Power]. ''Bloomberg''. 2014-02-27.</ref>
Jepang memiliki 1.807 [[turbin angin]] dengan total kapasitas 2.440 MW hingga September 2011. Kurangnya lokasi dengan angin yang konstan, pembatasan lingkungan, dan penekanan oleh utilitas listrik pada fosil dan tenaga nuklir menghambat penggunaan lebih banyak tenaga angin di negara ini. Namun, telah diperkirakan bahwa Jepang memiliki potensi untuk 144 GW untuk angin darat dan 608 GW untuk kapasitas angin lepas pantai.


=== Tenaga panas bumi ===
=== Tenaga panas bumi ===
Dari sumber energi terbarukan lainnya, Jepang telah mengeksploitasi sebagian [[Tenaga panas bumi|energi panas bumi]]. Negara ini memiliki enam pembangkit listrik tenaga panas bumi dengan kapasitas gabungan 133 megawatt pada tahun 1989. Pada 2011, negara ini memiliki 18 pembangkit panas bumi. Jepang memiliki cadangan panas bumi terbesar ketiga di dunia, dan energi panas bumi khususnya sedang sangat difokuskan sebagai sumber tenaga setelah bencana Fukushima dan penutupan selanjutnya dari semua reaktor nuklir. Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri saat ini sedang menjajaki lebih dari 40 lokasi untuk melihat apakah pembangkit energi panas bumi akan kompatibel.
Dari sumber energi terbarukan lainnya, Jepang telah mengeksploitasi sebagian [[Tenaga panas bumi|energi panas bumi]].<ref>Danielle Demetriou. [https://www.telegraph.co.uk/earth/energy/geothermalenergy/4117746/Japan-taps-into-power-of-volcanoes-with-geothermal-energy-plants.html# Japan taps into power of volcanoes with geothermal energy plants]. ''The Daily Telegraph''. 2009-01-05.</ref> Negara ini memiliki enam pembangkit listrik tenaga panas bumi dengan kapasitas gabungan 133 megawatt pada tahun 1989. Pada 2011, negara ini memiliki 18 pembangkit panas bumi.<ref>Johnston, Eric, "[http://search.japantimes.co.jp/cgi-bin/nn20110927f1.html Geothermal trove lies mostly untapped despite energy crisis]", ''Japan Times'', 27 September 2011, p. 3.</ref> Jepang memiliki cadangan panas bumi terbesar ketiga di dunia, dan energi panas bumi khususnya sedang sangat difokuskan sebagai sumber tenaga setelah bencana Fukushima dan penutupan selanjutnya dari semua reaktor nuklir. Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri saat ini sedang menjajaki lebih dari 40 lokasi untuk melihat apakah pembangkit energi panas bumi akan kompatibel.<ref>Meg Cichon. [http://www.renewableenergyworld.com/articles/print/volume-18/issue-3/features/geothermal/is-japan-the-next-boom-market-for-the-geothermal-energy-industry.html Is Japan the Next Boom Market for the Geothermal Energy Industry?]. ''Renewable Energy World''. 29 May 2015.</ref>


=== Tenaga limbah dan biomassa ===
=== Tenaga limbah dan biomassa ===
Hingga September 2011, Jepang memiliki 190 generator yang terpasang pada unit limbah kota dan 70 pabrik independen menggunakan bahan bakar [[biomassa]] untuk menghasilkan energi. Selain itu, 14 generator lainnya digunakan untuk membakar bahan bakar batubara dan biomassa. Pada tahun 2008, Jepang memproduksi 322 juta ton bahan bakar biomassa dan mengubah 76% dari itu menjadi energi.
Hingga September 2011, Jepang memiliki 190 generator yang terpasang pada unit limbah kota dan 70 pabrik independen menggunakan bahan bakar [[biomassa]] untuk menghasilkan energi. Selain itu, 14 generator lainnya digunakan untuk membakar bahan bakar batubara dan biomassa. Pada tahun 2008, Jepang memproduksi 322 juta ton bahan bakar biomassa dan mengubah 76% dari itu menjadi energi.<ref>Johnston, Eric, "[http://www.japantimes.co.jp/news/2011/09/30/national/with-backing-biomass-can-help-meet-energy-needs/#.WW-RI4iGNhE With backing, biomass can help meet energy needs]", ''Japan Times'', 30 September 2011, p. 3.</ref>


=== Tenaga laut ===
=== Tenaga laut ===
Pada 2012, pemerintah mengumumkan rencana untuk membangun [[Energi pasang surut|tenaga pasang surut]] eksperimental dan [[Energi ombak|pembangkit]] listrik [[Energi ombak|tenaga gelombang]] di wilayah pesisir. Konstruksi proyek, lokasi yang belum ditentukan dimulai pada 2013.
Pada 2012, pemerintah mengumumkan rencana untuk membangun [[Energi pasang surut|tenaga pasang surut]] eksperimental dan [[Energi ombak|pembangkit]] listrik [[Energi ombak|tenaga gelombang]] di wilayah pesisir. Konstruksi proyek, lokasi yang belum ditentukan dimulai pada 2013.<ref>Jiji Press, "Wave, wind power project planned", ''Japan Times'', 20 March 2012, p. 7.</ref>


== Lihat pula ==
== Lihat pula ==
* [[Sektor listrik di Jepang]]
* [[Sektor listrik di Jepang]]
* [[Hukum energi|Hukum Energi (Jepang)]]
* [[Hukum energi|Hukum Energi (Jepang)]]
Baris 81: Baris 195:


== Referensi ==
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


*
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Energi+di+Jepang&oldid=28467560 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28467560 (2025-11-14T00:40:01Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
*
*
 
 
 
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Energi+di+Jepang&oldid=28467560 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28467560 (2025-11-14T00:40:01Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 27 Agustus 2026 08.56

Japan energy and GDP

Energi di Jepang mengacu pada produksi, konsumsi, impor dan ekspor energi dan listrik di Jepang. Konsumsi energi primer negara itu adalah 477,6 Mtoe pada 2011, penurunan 5% dari tahun sebelumnya.[1]

Negara ini tidak memiliki cadangan bahan bakar fosil domestik yang signifikan, kecuali batubara, dan harus mengimpor sejumlah besar minyak mentah, gas alam, dan sumber daya energi lainnya, termasuk uranium. Jepang mengandalkan impor minyak untuk memenuhi sekitar 84 persen dari kebutuhan energinya pada 2010.[2] Jepang juga merupakan importir batubara pertama pada 2010, dengan 187 Mt (sekitar 20% dari total impor batubara dunia), dan importir gas alam pertama dengan 99 bcm (12,1% dari total impor gas dunia).[3]

Sementara Jepang sebelumnya mengandalkan tenaga nuklir untuk memenuhi sekitar 30% dari kebutuhan listriknya, setelah bencana nuklir Fukushima Daiichi 2011, semua reaktor nuklir secara progresif ditutup karena masalah keamanan.[4] Sejak itu, reaktor Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Ōi nomor 3 dan 4 dimulai kembali masing-masing pada tanggal 14 Maret 2018, dan 9 Mei 2018.[5] Pada 11 Agustus 2015, dan 1 November 2015, dua reaktor di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Sendai dimulai kembali. Setelah bencana Fukushima, masyarakat umum telah menentang penggunaan energi nuklir.[6][7]

Ikhtisar

Tahun Populasi (juta) Penggunaan energi (TWh) Produksi (TWh) Impor (TWh) Listrik (TWh) CO 2 - emisi (Mt)
2004 127.7 6,201 1,125 5,126 1,031 1,215
2007 127.8 5,972 1,052 5,055 1.083 1,236
2008 127.7 5,767 1,031 4,872 1,031 1,151
2009 127.3 5,489 1,091 4,471 997 1,093
2010 127.4 5,778 1,126 4,759 1,070 1,143
2012 127.8 5,367 601 4,897 1,003 1,186
2012R 127.6 5.260 329 5,062 989 1.223
2013 127.3 5,288 325 5,082 998 1,235
Ubah 2004-10 -0,2% -6,8% 0,0% -7,2% 3,7% -5,9%
Mtoe = 11,63 TWh, Prim. energi termasuk kehilangan energi yang 2/3 untuk tenaga nuklir[8]2012R = Kriteria perhitungan CO2 berubah, angka diperbarui

Sejarah

Pertumbuhan industri Jepang yang cepat sejak akhir Perang Dunia II menggandakan konsumsi energi negara setiap lima tahun menjadi tahun 1990-an. Selama periode percepatan pertumbuhan 1960-72, konsumsi energi tumbuh jauh lebih cepat daripada GNP, menggandakan konsumsi energi dunia Jepang. Pada 1976, dengan hanya 3% dari populasi dunia, Jepang mengkonsumsi 6% dari pasokan energi global.

Dibandingkan dengan negara lain, listrik di Jepang relatif mahal,[9] dan, karena hilangnya tenaga nuklir setelah bencana gempa dan tsunami di Fukushima, biaya listrik telah meningkat secara signifikan.[10]

Sumber energi

Pada tahun 1950, batubara memasok setengah dari kebutuhan energi Jepang, hidroelektrik sepertiga, dan sisanya minyak. Pada tahun 2001, kontribusi minyak telah meningkat menjadi 50,2% dari total, dengan kenaikan juga dalam penggunaan tenaga nuklir dan gas alam. Jepang sekarang sangat bergantung pada bahan bakar fosil yang diimpor untuk memenuhi permintaan energinya.[11]

Jepang — penggunaan energi primer [12]
Bahan bakar 1950 1988 2001 [13]
Batu bara 50% 18,1% 16,8%
Hydro 33% 4,6% 4,0%
Minyak 17% 57,3% 50,2%
Gas alam - 10,1% 13,6%
Nuklir - 9,0% 14,4%
Lain - 1,3% 1,0%

Jepang saat ini memproduksi sekitar 10% listriknya dari sumber terbarukan. Rencana Energi Strategis Keempat menetapkan sasaran saham yang dapat diperbarui menjadi 24% pada tahun 2030. Dalam 15 tahun ke depan, Jepang bermaksud menginvestasikan $ 700 miliar pada energi terbarukan.[14] Salah satu inisiatif yang telah dilaksanakan pemerintah Jepang untuk meningkatkan jumlah energi terbarukan yang diproduksi dan dibeli di Jepang adalah skema tarif feed-in. Skema ini mendorong perusahaan untuk berinvestasi dalam energi terbarukan dengan memberikan harga yang ditetapkan untuk berbagai jenis energi terbarukan. Inisiatif ini tampaknya berhasil, karena kapasitas pembangkit energi terbarukan kini mencapai 26,2 GW, dibandingkan dengan 20,9 GW pada 2012.[15]

Pada 3 Juli 2018, pemerintah Jepang berjanji untuk meningkatkan sumber energi terbarukan dari 15% menjadi 22-24%, termasuk angin dan matahari pada tahun 2030. Energi nuklir akan menyediakan 20% dari kebutuhan energi negara sebagai sumber energi bebas emisi. Ini akan membantu Jepang memenuhi komitmen perubahan iklim.[16]

Minyak

Setelah dua krisis minyak pada tahun 1970-an (1973 dan 1979), Jepang melakukan upaya diversifikasi sumber daya energi untuk meningkatkan keamanan. Konsumsi minyak domestik Jepang turun sedikit, dari sekitar minyak per hari pada akhir 1980-an menjadi per hari pada tahun 1990. Sementara penggunaan minyak negara itu menurun, penggunaan tenaga nuklir dan gas alam meningkat secara substansial. Beberapa industri Jepang, misalnya perusahaan listrik dan pembuat baja, beralih dari minyak bumi ke batu bara, yang sebagian besar diimpor.

Cadangan minyak Jepang adalah sekitar 92 hari konsumsi dan cadangan swasta yaitu 77 hari konsumsi dengan total 169 hari atau .[17][18] SPR Jepang dijalankan oleh Perusahaan Minyak, Gas dan Logam Nasional Jepang.[19]

Permintaan minyak telah berkurang di Jepang, terutama menjelang dan sejak gempa bumi Tohoku pada tahun 2011. Sementara konsumsi minyak lebih dari 5 juta barel per hari (bph) selama beberapa dekade, ini telah menurun menjadi 3,22 juta bph pada 2017.[20] Pada 2016, India,[21] Arab Saudi [22] dan Texas [23] telah menyusul Jepang dalam konsumsi minyak. Penurunan lebih lanjut menjadi 3,03 juta barel per hari atau hanya di bawah 176 juta kiloliter (pendahuluan) diposting pada 2018.[24]

Tenaga nuklir

Mengikuti pidato Atom untuk Perdamaian Eisenhower, Amerika Serikat membantu Jepang mengembangkan program tenaga nuklir mereka. Ketika Jepang memutuskan untuk memulai bidang tenaga nuklir, Jepang mengimpor teknologi dari Amerika Serikat dan memperoleh uranium dari Kanada, Prancis, Afrika Selatan, dan Australia. Reaktor nuklir pertama ditugaskan pada tahun 1966, dari saat itu hingga 2010 54 reaktor nuklir telah dibuka, dengan total kapasitas pembangkit 48.847 MW.[25] Rasio pembangkit listrik tenaga nuklir terhadap total produksi listrik meningkat dari 2% pada tahun 1973 menjadi sekitar 30% pada bulan Maret 2011.[26] Selama 1980-an, program tenaga nuklir Jepang sangat ditentang oleh kelompok-kelompok lingkungan, terutama setelah kecelakaan Three Mile Island di Amerika Serikat. Pada tahun 2000-an, Jepang memiliki beberapa Reaktor Air Mendidih Lanjut modern, termasuk beberapa reaktor Generasi III canggih baru. Di Rokkasho, Aomori dibangun fasilitas untuk memperkaya bahan bakar nuklir, menangani limbah nuklir, dan mendaur ulang bahan bakar nuklir bekas.

Setelah gempa bumi dan tsunami 2011, beberapa reaktor nuklir rusak, menyebabkan banyak ketidakpastian dan ketakutan tentang pelepasan bahan radioaktif, serta menyoroti kekhawatiran yang sedang berlangsung tentang standar desain seismik (lihat Tenaga nuklir di Jepang).[27] Pada 5 Mei 2012, Jepang menutup reaktor nuklir terakhir, pertama kalinya tidak ada produksi tenaga nuklir di negara tersebut sejak tahun 1970.[28] Pada tanggal 16 Juni, Perdana Menteri Yoshihiko Noda memerintahkan untuk memulai kembali reaktor nuklir Ōi nomor 3 dan 4, dengan mengatakan bahwa mata pencaharian masyarakat perlu dilindungi.[29] Reaktor nuklir Ōi nomor 3 dimulai kembali pada 2 Juli,[30] dan No. 4 mulai beroperasi pada 21 Juli.[31] Namun, pada bulan September 2013, pabrik nuklir Ōi ditutup untuk melakukan inspeksi keselamatan yang luas.[32] Pada akhir 2015, kedua reaktor Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Sendai telah dibuka kembali dan mulai lagi memproduksi energi nuklir. Pembangkit nuklir lainnya, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Takahama, telah menerima izin untuk membuka kembali, dan reaktor nuklir lainnya memulai proses memulai kembali.[33]

Pada Juni 2015, pemerintah Jepang mengeluarkan proposal energi yang mencakup kebangkitan kembali tenaga nuklir untuk memenuhi kebutuhan energi Jepang. Proposal menyerukan peningkatan sekitar 20% dalam energi nuklir pada tahun 2030.[34] Ini membalikkan keputusan Partai Demokrat sebelumnya, pemerintah akan membuka kembali pembangkit nuklir, yang bertujuan untuk "struktur energi yang realistis dan seimbang".

Gas alam

Karena produksi gas alam domestik minimal, permintaan meningkat dipenuhi oleh impor yang lebih besar. Pemasok LNG utama Jepang pada tahun 2016 adalah Australia (27%), Malaysia (18%), Qatar (15%), Rusia (9%), dan Indonesia (8%).[35] Pada tahun 1987, pemasok adalah Indonesia (51,3%), Malaysia (20,4%), Brunei (17,8%), Uni Emirat Arab (7,3%), dan Amerika Serikat (3,2%).

Strategi LNG Jepang baru yang diterbitkan pada Mei 2016 membayangkan penciptaan pasar cair dan pusat LNG internasional di Jepang. Ini menjanjikan untuk secara radikal mengubah sistem penetapan harga berbasis JCC (minyak mentah) tradisional di Jepang, tetapi juga berpotensi di Cekungan Pasifik secara keseluruhan. Namun, jalan menuju penciptaan hub dan penetapan harga hub pada awal 2020-an yang dibayangkan oleh Strategi tidak akan mudah.[36]

Tenaga air

Sumber energi utama terbarukan negara adalah pembangkit listrik tenaga air, dengan kapasitas terpasang sekitar 27 GW dan produksi listrik 69,2 TWh pada 2009.[37] Hingga September 2011, Jepang memiliki 1.198 pembangkit listrik tenaga air kecil dengan total kapasitas 3.225 MW. Pembangkit yang lebih kecil menyumbang 6,6 persen dari total kapasitas tenaga air Jepang. Kapasitas yang tersisa diisi oleh stasiun tenaga air besar dan sedang, biasanya berlokasi di bendungan besar. Biaya per kilowatt-jam untuk daya dari pembangkit yang lebih kecil tinggi pada ¥ 15-100, menghambat pengembangan lebih lanjut dari sumber energi.[38]

Tenaga surya

Jepang adalah produsen listrik fotovoltaik terbesar kedua di dunia pada awal 2000-an, meskipun matahari merupakan kontribusi yang sangat kecil terhadap total pada waktu itu. Negara itu diambil alih oleh Jerman pada tahun 2005, tahun di mana Jepang memiliki 38% dari pasokan dunia dibandingkan dengan Jerman 39%.[39][40] Sejak itu, Jepang terhitung lambat dalam meningkatkan kapasitas tenaga surya dibandingkan dengan negara lain hingga 2012.

Pada 1 Juli 2012, setelah bencana nuklir di Fukushima, tarif baru untuk energi terbarukan diperkenalkan oleh pemerintah Jepang. Tarif, ditetapkan pada ¥ 42 per kWh selama 20 tahun ke depan untuk produsen tenaga surya, termasuk yang tertinggi di dunia.[41][42] Dengan adanya insentif, Jepang menambah 1.718 MW tenaga surya pada 2012. Pada akhir tahun, total kapasitas tenaga surya Jepang adalah 7,4 GW.[43] Jepang telah melihat pertumbuhan kapasitas PV surya yang berkelanjutan setelah 2012, mencapai kapasitas terpasang kumulatif 34 GW pada akhir 2015, menghasilkan 3,5% dari konsumsi listrik nasional pada tahun itu.

Tenaga angin

Jepang memiliki 1.807 turbin angin dengan total kapasitas 2.440 MW hingga September 2011. Kurangnya lokasi dengan angin yang konstan, pembatasan lingkungan, dan penekanan oleh utilitas listrik pada fosil dan tenaga nuklir menghambat penggunaan lebih banyak tenaga angin di negara ini.[44] Namun, telah diperkirakan bahwa Jepang memiliki potensi untuk 144 GW untuk angin darat dan 608 GW untuk kapasitas angin lepas pantai.[45]

Tenaga panas bumi

Dari sumber energi terbarukan lainnya, Jepang telah mengeksploitasi sebagian energi panas bumi.[46] Negara ini memiliki enam pembangkit listrik tenaga panas bumi dengan kapasitas gabungan 133 megawatt pada tahun 1989. Pada 2011, negara ini memiliki 18 pembangkit panas bumi.[47] Jepang memiliki cadangan panas bumi terbesar ketiga di dunia, dan energi panas bumi khususnya sedang sangat difokuskan sebagai sumber tenaga setelah bencana Fukushima dan penutupan selanjutnya dari semua reaktor nuklir. Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri saat ini sedang menjajaki lebih dari 40 lokasi untuk melihat apakah pembangkit energi panas bumi akan kompatibel.[48]

Tenaga limbah dan biomassa

Hingga September 2011, Jepang memiliki 190 generator yang terpasang pada unit limbah kota dan 70 pabrik independen menggunakan bahan bakar biomassa untuk menghasilkan energi. Selain itu, 14 generator lainnya digunakan untuk membakar bahan bakar batubara dan biomassa. Pada tahun 2008, Jepang memproduksi 322 juta ton bahan bakar biomassa dan mengubah 76% dari itu menjadi energi.[49]

Tenaga laut

Pada 2012, pemerintah mengumumkan rencana untuk membangun tenaga pasang surut eksperimental dan pembangkit listrik tenaga gelombang di wilayah pesisir. Konstruksi proyek, lokasi yang belum ditentukan dimulai pada 2013.[50]

Lihat pula

Referensi

  1. BP Statistical Review of World Energy 2012. BP.
  2. Nuclear Power in Japan. World Nuclear Association. 2016.
  3. IEA Key World Energy Statistics 2011 , 2010 , 2009 , 2006 IEA October, crude oil p.11, coal p. 13 gas p. 15
  4. Nuclear Power in Japan. World Nuclear Association. 2016.
  5. No. 4 reactor at Oi nuclear plant restarted after nearly five years offline. The Japan Times Online. 2018-05-10.
  6. Japan restarts second nuclear reactor despite public opposition. The Guardian. 15 October 2015.
  7. Opposition to nuclear energy grows in Japan. Deutsche Welle. 21 October 2016.
  8. Energy in Sweden 2010 , Facts and figures, The Swedish Energy Agency, Table 8 Losses in nuclear power stations Table 9 Nuclear power brutto
  9. Nagata, Kazuaki, "Utilities have monopoly on power", Japan Times, 6 September 2011, p. 3.
  10. Michiyo Nakamoto. Tepco faces revolt over price rise. FT.com. 2012-04-04.
  11. Japan. Country Analysis Briefs. U.S. Energy Information Administration (EIA).
  12. Country Analysis Briefs – Japan , US Energy Information Administration, published January 2004, accessdate 2007-05-10
  13. Country Analysis Briefs – Japan , US Energy Information Administration, published January 2004, accessdate 2007-05-10
  14. 4th Strategic Energy Plan. Ministry of Economy, Trade, and Industry. April 2014.
  15. Kae Takase. Renewable Energy Burst in Japan. Nautilus Institute for Security and Sustainability. 27 May 2014.
  16. Japan aims for 24% renewable energy but keeps nuclear central. Phys.org. 3 July 2018.
  17. Energy Security in East Asia. Institute for the Analysis of Global Security. 2004-08-13.
  18. Energy Security Initiative. Asia Pacific Energy Research Center. 2002-01-01.
  19. Japan Oil, Gas and Metals National Corporation. JOGMEC.
  20. Reuters Editorial. UPDATE 1-Japan 2017 thermal coal imports hit record, LNG up for. AF.
  21. India beats Japan in oil use, only next to US, China. The Economic Times. 9 June 2016.
  22. https://www.ceicdata.com/en/indicator/saudi-arabia/oil-consumption
  23. Texas - SEDS - U.S. Energy Information Administration (EIA). www.eia.gov.
  24. UPDATE 1-Japan's 2018 crude imports fall to 39-year low as population shrinks. CNBC. 23 January 2019.
  25. Nuclear Power Plants in Japan. The Federation of Electric Power Companies of Japan.
  26. Nuclear Power in Japan. World Nuclear Association. 2016.
  27. Johnston, Eric, "Current nuclear debate to set nation's course for decades", Japan Times, 23 September 2011, p. 1.
  28. David Batty. Japan shuts down last working nuclear reactor. The Guardian. 5 May 2012.
  29. Ohi reactors cleared for restart. World-nuclear-news.org. 2012-06-18.
  30. Japan restarts first reactor since Fukushima – World news – Asia-Pacific | NBC News. MSNBC. 2012-01-07.
  31. Oi nuclear plant's No 4 reactor begins generating power. Zeenews.india.com. 2012-07-21.
  32. Japan halts last nuclear reactor at Ohi. BBC. 15 September 2013.
  33. Four nuclear reactors to reopen in Japan. Euronews. 24 December 2015.
  34. Nuclear Power in Japan. World Nuclear Association. 2016.
  35. Country Analysis Brief: Japan. US Energy Information Administration. 2 February 2017.
  36. Jonathan Stern. The new Japanese LNG strategy : a major step towards hub-based gas pricing in Asia. Oxford Energy Comment. Oxford Institute for Energy Studies. 2016.
  37. See Hydroelectricity#World hydroelectric capacity
  38. Johnston, Eric, "Small hydropower plants keep it local", Japan Times, 29 September 2011, p. 3.
  39. Japan lags behind Europe in solar power. The Daily Yomiuri, published 2007-05-10, accessed 2007-05-14.
  40. Johnston, Eric, "Despite headwinds, solar energy making progress, advocates say", Japan Times, 24 September 2011, p. 3.
  41. Watanabe, Chisaki, (Bloomberg), "Japan to become No. 2 solar market ", Japan Times, 4 July 2012, p. 7
  42. Johnston, Eric, "New feed-in tariff system a rush to get renewables in play", Japan Times, 29 May 2012, p. 3
  43. Chico Harlan. After Fukushima, Japan beginning to see the light in solar energy. The Guardian. 19 June 2013.
  44. Johnston, Eric, "Wind power quest faces stability, regulatory hurdles", Japan Times, 28 September 2011, p. 3.
  45. Chisaki Watanabe. GE Says Japan Has More Potential to Harness Wind Power. Bloomberg. 2014-02-27.
  46. Danielle Demetriou. Japan taps into power of volcanoes with geothermal energy plants. The Daily Telegraph. 2009-01-05.
  47. Johnston, Eric, "Geothermal trove lies mostly untapped despite energy crisis", Japan Times, 27 September 2011, p. 3.
  48. Meg Cichon. Is Japan the Next Boom Market for the Geothermal Energy Industry?. Renewable Energy World. 29 May 2015.
  49. Johnston, Eric, "With backing, biomass can help meet energy needs", Japan Times, 30 September 2011, p. 3.
  50. Jiji Press, "Wave, wind power project planned", Japan Times, 20 March 2012, p. 7.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28467560 (2025-11-14T00:40:01Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.