Lompat ke isi

Torium dioksida: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29589711; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Torium dioksida''' (ThO<sub>2</sub>), juga disebut '''torium(IV) oksida''', adalah sebuah padatan kristal, seringkali berwarna putih atau kuning. Juga dikenal sebagai '''toria''',  ia diproduksi terutama sebagai produk sampingan dari produksi [[lantanida]] dan [[uranium]]. [[Torianit]] adalah nama bentuk mineralogi dari [[torium]] dioksida. Ia cukup langka dan mengkristal dalam sistem isometrik. [[Titik lebur]] torium oksida adalah 3300&nbsp;°C – tertinggi dari semua oksida yang diketahui. Hanya beberapa unsur (meliputi [[wolfram]] dan [[karbon]]) dan beberapa senyawa (meliputi [[tantalum karbida]]) yang memiliki titik lebur lebih tinggi.  Semua senyawa torium, termasuk torium dioksida, bersifat [[Peluruhan radioaktif|radioaktif]] karena tidak ada [[isotop torium]] yang stabil.
[[File:Fluorite-unit-cell-3D-ionic.png|thumb|right|280px|Fluorite-unit-cell-3D-ionic]]
 
'''Torium dioksida''' (ThO<sub>2</sub>), juga disebut '''torium(IV) oksida''', adalah sebuah padatan kristal, seringkali berwarna putih atau kuning. Juga dikenal sebagai '''toria''',  ia diproduksi terutama sebagai produk sampingan dari produksi [[lantanida]] dan [[uranium]].<ref>Yamashita, Toshiyuki. [https://archive.org/details/sim_journal-of-nuclear-materials_1997-05_245_1/page/72 Thermal expansions of NpO 2 and some other actinide dioxides]. ''J. Nucl. Mater''. 1997. Vol. 245 (1). hlm. 72–78. doi:10.1016/S0022-3115(96)00750-7.</ref> [[Torianit]] adalah nama bentuk mineralogi dari [[torium]] dioksida. Ia cukup langka dan mengkristal dalam sistem isometrik. [[Titik lebur]] torium oksida adalah 3300&nbsp;°C – tertinggi dari semua oksida yang diketahui. Hanya beberapa unsur (meliputi [[wolfram]] dan [[karbon]]) dan beberapa senyawa (meliputi [[tantalum karbida]]) yang memiliki titik lebur lebih tinggi.<ref>John Emsley. [https://archive.org/details/naturesbuildingb0000emsl/page/441 Nature's Building Blocks]. Oxford University Press. 2001. hlm. [https://archive.org/details/naturesbuildingb0000emsl/page/441 441]. ISBN 978-0-19-850340-8.</ref> Semua senyawa torium, termasuk torium dioksida, bersifat [[Peluruhan radioaktif|radioaktif]] karena tidak ada [[isotop torium]] yang stabil.
==Struktur dan reaksi==
==Struktur dan reaksi==
Toria eksis sebagai dua polimorf. Satu memiliki struktur kristal [[fluorit]]. Ini jarang terjadi di antara biner dioksida. (Oksida biner lainnya dengan struktur fluorit termasuk [[serium(IV) oksida|serium dioksida]], [[uranium dioksida]], dan [[Plutonium(IV) oksida|plutonium dioksida]]). [[Celah pita]] toria adalah sekitar 6&nbsp;eV. Bentuk tetragon dari toria juga dikenal. Torium oksida sangat sedikit larut dalam air, pada pH di bawah 4.
Toria eksis sebagai dua polimorf. Satu memiliki struktur kristal [[fluorit]]. Ini jarang terjadi di antara biner dioksida. (Oksida biner lainnya dengan struktur fluorit termasuk [[serium(IV) oksida|serium dioksida]], [[uranium dioksida]], dan [[Plutonium(IV) oksida|plutonium dioksida]]). [[Celah pita]] toria adalah sekitar 6&nbsp;eV. Bentuk tetragon dari toria juga dikenal. Torium oksida sangat sedikit larut dalam air, pada pH di bawah 4.<ref>Heming He. ''Formation of solid thorium monoxide at near-ambient conditions as observed by neutron reflectometry and interpreted by screened hybrid functional calculations''. ''Journal of Nuclear Materials''. 2017. Vol. 487. hlm. 288–296. doi:10.1016/j.jnucmat.2016.12.046.</ref><ref>Michael Hoch. ''The Reaction Occurring on Thoriated Cathodes''. ''J. Am. Chem. Soc''. 1954. Vol. 76 (19). hlm. 4833–4835. doi:10.1021/ja01648a018.</ref>


Torium dioksida lebih stabil daripada [[torium monoksida]] (ThO). Hanya dengan kontrol kondisi reaksi yang hati-hati, oksidasi logam torium dapat menghasilkan monoksida daripada dioksida. Pada suhu yang sangat tinggi, dioksida dapat diubah menjadi monoksida melalui [[dismutasi|reaksi disproporsionasi]] (kesetimbangan dengan logam torium cair) di atas suhu 1.850&nbsp;K (1.580&nbsp;°C; 2.870&nbsp;°F) atau melalui disosiasi sederhana (evolusi oksigen) di atas suhu 2.500&nbsp;K (2.230&nbsp;°C; 4.040&nbsp;°F).
Torium dioksida lebih stabil daripada [[torium monoksida]] (ThO). Hanya dengan kontrol kondisi reaksi yang hati-hati, oksidasi logam torium dapat menghasilkan monoksida daripada dioksida. Pada suhu yang sangat tinggi, dioksida dapat diubah menjadi monoksida melalui [[dismutasi|reaksi disproporsionasi]] (kesetimbangan dengan logam torium cair) di atas suhu 1.850&nbsp;K (1.580&nbsp;°C; 2.870&nbsp;°F) atau melalui disosiasi sederhana (evolusi oksigen) di atas suhu 2.500&nbsp;K (2.230&nbsp;°C; 4.040&nbsp;°F).
==Aplikasi==
==Aplikasi==
===Bahan bakar nuklir===
===Bahan bakar nuklir===
Torium dioksida (toria) dapat digunakan dalam [[reaktor nuklir]] sebagai pelet bahan bakar keramik, biasanya terkandung dalam batang bahan bakar nuklir yang dibalut dengan paduan [[zirkonium]]. Torium tidak bersifat [[bahan fisil|fisil]] (tetapi "[[bahan subur|subur]]", membiakkan uranium-233 yang bersifat fisil di bawah pemborbardiran [[neutron]]); karenanya, ia harus digunakan sebagai bahan bakar reaktor nuklir bersama dengan [[isotop]] fisil dari [[uranium]] atau [[plutonium]]. Hal ini dapat dicapai dengan mencampur torium dengan uranium atau plutonium, atau menggunakannya dalam bentuk murni bersamaan dengan [[bahan bakar nuklir|batang bahan bakar]] terpisah yang mengandung uranium atau plutonium. Torium dioksida menawarkan keunggulan dibandingkan pelet bahan bakar uranium dioksida konvensional, karena konduktivitas termalnya yang lebih tinggi (suhu pengoperasiannya lebih rendah), titik leburnya yang jauh lebih tinggi, dan stabilitas kimiawinya (tidak teroksidasi dengan adanya air/oksigen, tidak seperti [[uranium dioksida]]).
Torium dioksida (toria) dapat digunakan dalam [[reaktor nuklir]] sebagai pelet bahan bakar keramik, biasanya terkandung dalam batang bahan bakar nuklir yang dibalut dengan paduan [[zirkonium]]. Torium tidak bersifat [[bahan fisil|fisil]] (tetapi "[[bahan subur|subur]]", membiakkan uranium-233 yang bersifat fisil di bawah pemborbardiran [[neutron]]); karenanya, ia harus digunakan sebagai bahan bakar reaktor nuklir bersama dengan [[isotop]] fisil dari [[uranium]] atau [[plutonium]]. Hal ini dapat dicapai dengan mencampur torium dengan uranium atau plutonium, atau menggunakannya dalam bentuk murni bersamaan dengan [[bahan bakar nuklir|batang bahan bakar]] terpisah yang mengandung uranium atau plutonium. Torium dioksida menawarkan keunggulan dibandingkan pelet bahan bakar uranium dioksida konvensional, karena konduktivitas termalnya yang lebih tinggi (suhu pengoperasiannya lebih rendah), titik leburnya yang jauh lebih tinggi, dan stabilitas kimiawinya (tidak teroksidasi dengan adanya air/oksigen, tidak seperti [[uranium dioksida]]).<ref>Mitchell, Brian S. [https://books.google.com/books?id=iQQcERxsNywC&pg=PA473 An Introduction to Materials Engineering. and Science for Chemical and Materials]. 2004. hlm. 473. ISBN 978-0-471-43623-2.</ref><ref>Wayne M. Robertson. ''Measurement and evaluation of hydrogen trapping in thoria dispersed nickel''. ''Metallurgical and Materials Transactions A''. 1979. Vol. 10 (4). hlm. 489–501. doi:10.1007/BF02697077.</ref><ref>Arun Kumar. [https://archive.org/details/sim_oxidation-of-metals_1974-08_8_4/page/227 The effect of yttrium and thorium on the oxidation behavior of Ni-Cr-Al alloys]. ''Oxidation of Metals''. 1974. Vol. 8 (4). hlm. 227–263. doi:10.1007/BF00604042.</ref><ref>J. Stringer. ''The high-temperature oxidation of nickel-20 wt.% chromium alloys containing dispersed oxide phases''. ''Oxidation of Metals''. 1972. Vol. 5 (1). hlm. 11–47. doi:10.1007/BF00614617.</ref><ref>L. E. Murr. [https://archive.org/details/journal-of-materials-science_1974-08_9_8/page/1309 Interfacial energetics in the TD-nickel and TD-nichrome systems]. ''Journal of Materials Science''. 1974. Vol. 9 (8). hlm. 1309–1319. doi:10.1007/BF00551849.</ref>


Torium dioksida dapat diubah menjadi bahan bakar [[nuklir]] dengan membiakkannya menjadi [[uranium-233]]. [[Stabilitas termal]] yang tinggi dari torium dioksida memungkinkan aplikasi dalam penyemprotan api dan keramik suhu tinggi.
Torium dioksida dapat diubah menjadi bahan bakar [[nuklir]] dengan membiakkannya menjadi [[uranium-233]]. [[Stabilitas termal]] yang tinggi dari torium dioksida memungkinkan aplikasi dalam penyemprotan api dan keramik suhu tinggi.
Baris 14: Baris 16:
Nikel terdispersi toria menemukan aplikasinya dalam berbagai operasi suhu tinggi seperti mesin pembakaran karena merupakan bahan tahan mulur yang baik. Ia juga dapat digunakan untuk menjebak hidrogen.
Nikel terdispersi toria menemukan aplikasinya dalam berbagai operasi suhu tinggi seperti mesin pembakaran karena merupakan bahan tahan mulur yang baik. Ia juga dapat digunakan untuk menjebak hidrogen.
===Katalisis===
===Katalisis===
Torium dioksida hampir tidak memiliki nilai sebagai katalis komersial, tetapi aplikasi tersebut telah diteliti dengan baik. Ia adalah katalis dalam [[Reaksi Ružička|sintesis cincin besar Ruzicka]]. Aplikasi lain yang telah dieksplorasi meliputi [[perengkahan|perengkahan minyak bumi]], konversi [[amonia]] menjadi [[asam nitrat]] dan pembuatan [[asam sulfat]].
Torium dioksida hampir tidak memiliki nilai sebagai katalis komersial, tetapi aplikasi tersebut telah diteliti dengan baik. Ia adalah katalis dalam [[Reaksi Ružička|sintesis cincin besar Ruzicka]]. Aplikasi lain yang telah dieksplorasi meliputi [[perengkahan|perengkahan minyak bumi]], konversi [[amonia]] menjadi [[asam nitrat]] dan pembuatan [[asam sulfat]].<ref>Stoll, Wolfgang (2012) "Thorium and Thorium Compounds" in ''Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry''. Wiley-VCH, Weinheim.</ref>
===Agen radiokontras===
===Agen radiokontras===
Torium dioksida adalah bahan utama dalam [[Thorotrast]], sebuah [[agen radiokontras]] yang dulu umum digunakan untuk [[Kateterisasi otak|angiografi serebral]], namun menyebabkan bentuk kanker yang langka ([[angiosarkoma]] hepatik) bertahun-tahun setelah pemberian. Penggunaan ini diganti dengan [[Kontras teriodinasi|iodin yang dapat disuntikkan]] atau [[suspensi barium sulfat]] yang dapat ditelan sebagai agen kontras [[sinar-X]] standar.
Torium dioksida adalah bahan utama dalam [[Thorotrast]], sebuah [[agen radiokontras]] yang dulu umum digunakan untuk [[Kateterisasi otak|angiografi serebral]], namun menyebabkan bentuk kanker yang langka ([[angiosarkoma]] hepatik) bertahun-tahun setelah pemberian. Penggunaan ini diganti dengan [[Kontras teriodinasi|iodin yang dapat disuntikkan]] atau [[suspensi barium sulfat]] yang dapat ditelan sebagai agen kontras [[sinar-X]] standar.<ref>[https://radiopaedia.org/articles/thorotrast Thorotrast]. radiopaedia.org</ref>
===Mantel lampu===
===Mantel lampu===
 
Penggunaan utama lainnya di masa lalu adalah [[Kaus lampu|mantel gas]] lentera yang dikembangkan oleh [[Carl Auer von Welsbach]] pada tahun 1890, yang terdiri dari 99% ThO<sub>2</sub> dan 1% [[serium(IV) oksida]]. Bahkan hingga tahun 1980-an diperkirakan sekitar setengah dari semua ThO<sub>2</sub> yang diproduksi (beberapa ratus ton per tahun) digunakan untuk tujuan ini. Beberapa mantel masih menggunakan torium, tetapi [[itrium oksida]] (atau terkadang [[zirkonium dioksida|zirkonium oksida]]) semakin banyak digunakan sebagai pengganti.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Torium+dioksida&oldid=29589711 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref>
Penggunaan utama lainnya di masa lalu adalah [[Kaus lampu|mantel gas]] lentera yang dikembangkan oleh [[Carl Auer von Welsbach]] pada tahun 1890, yang terdiri dari 99% ThO<sub>2</sub> dan 1% [[serium(IV) oksida]]. Bahkan hingga tahun 1980-an diperkirakan sekitar setengah dari semua ThO<sub>2</sub> yang diproduksi (beberapa ratus ton per tahun) digunakan untuk tujuan ini. Beberapa mantel masih menggunakan torium, tetapi [[itrium oksida]] (atau terkadang [[zirkonium dioksida|zirkonium oksida]]) semakin banyak digunakan sebagai pengganti.
===Pembuatan kaca===
===Pembuatan kaca===
 
Ketika ditambahkan ke [[kaca]], torium dioksida membantu meningkatkan [[indeks bias]]nya dan menurunkan [[dispersi]]nya. Kaca semacam itu digunakan dalam [[lensa]] berkualitas tinggi untuk kamera dan instrumen ilmiah. Radiasi dari lensa-lensa ini dapat menggelapkan dan menguningkannya selama bertahun-tahun dan menurunkan film, tetapi risiko kesehatannya minimal. Lensa yang menguning dapat dikembalikan ke keadaan aslinya yang tidak berwarna dengan paparan yang lama terhadap radiasi ultraungu yang intens. Torium dioksida sejak saat itu telah digantikan oleh oksida tanah jarang seperti [[lantanum oksida]] di hampir semua kaca indeks tinggi modern, karena memberikan efek yang serupa dan tidak bersifat radioaktif.<ref>C. R. Hammond. [https://archive.org/details/crchandbookofche81lide The Elements, in Handbook of Chemistry and Physics]. CRC Press. 2004. ISBN 978-0-8493-0485-9.</ref><ref>Oak Ridge Associated Universities. [https://orau.org/health-physics-museum/collection/consumer/products-containing-thorium/camera-lens.html Thoriated Camera Lens (ca. 1970s)]. 1999.</ref><ref>W. Stoll. ''Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry''. Wiley-VCH. 2005. hlm. 32. doi:10.1002/14356007.a27_001. ISBN 978-3-527-31097-5.</ref>
Ketika ditambahkan ke [[kaca]], torium dioksida membantu meningkatkan [[indeks bias]]nya dan menurunkan [[dispersi]]nya. Kaca semacam itu digunakan dalam [[lensa]] berkualitas tinggi untuk kamera dan instrumen ilmiah. Radiasi dari lensa-lensa ini dapat menggelapkan dan menguningkannya selama bertahun-tahun dan menurunkan film, tetapi risiko kesehatannya minimal. Lensa yang menguning dapat dikembalikan ke keadaan aslinya yang tidak berwarna dengan paparan yang lama terhadap radiasi ultraungu yang intens. Torium dioksida sejak saat itu telah digantikan oleh oksida tanah jarang seperti [[lantanum oksida]] di hampir semua kaca indeks tinggi modern, karena memberikan efek yang serupa dan tidak bersifat radioaktif.
==Referensi==
 
==Sumber terkutip==
==Sumber terkutip==
*
*


== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


== Sumber dan atribusi ==
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Torium+dioksida&oldid=29589711 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29589711 (2026-08-16T17:15:00Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Torium+dioksida&oldid=29589711 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29589711 (2026-08-16T17:15:00Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 27 Agustus 2026 08.57

Berkas:Fluorite-unit-cell-3D-ionic.png
Fluorite-unit-cell-3D-ionic

Torium dioksida (ThO2), juga disebut torium(IV) oksida, adalah sebuah padatan kristal, seringkali berwarna putih atau kuning. Juga dikenal sebagai toria, ia diproduksi terutama sebagai produk sampingan dari produksi lantanida dan uranium.[1] Torianit adalah nama bentuk mineralogi dari torium dioksida. Ia cukup langka dan mengkristal dalam sistem isometrik. Titik lebur torium oksida adalah 3300 °C – tertinggi dari semua oksida yang diketahui. Hanya beberapa unsur (meliputi wolfram dan karbon) dan beberapa senyawa (meliputi tantalum karbida) yang memiliki titik lebur lebih tinggi.[2] Semua senyawa torium, termasuk torium dioksida, bersifat radioaktif karena tidak ada isotop torium yang stabil.

Struktur dan reaksi

Toria eksis sebagai dua polimorf. Satu memiliki struktur kristal fluorit. Ini jarang terjadi di antara biner dioksida. (Oksida biner lainnya dengan struktur fluorit termasuk serium dioksida, uranium dioksida, dan plutonium dioksida). Celah pita toria adalah sekitar 6 eV. Bentuk tetragon dari toria juga dikenal. Torium oksida sangat sedikit larut dalam air, pada pH di bawah 4.[3][4]

Torium dioksida lebih stabil daripada torium monoksida (ThO). Hanya dengan kontrol kondisi reaksi yang hati-hati, oksidasi logam torium dapat menghasilkan monoksida daripada dioksida. Pada suhu yang sangat tinggi, dioksida dapat diubah menjadi monoksida melalui reaksi disproporsionasi (kesetimbangan dengan logam torium cair) di atas suhu 1.850 K (1.580 °C; 2.870 °F) atau melalui disosiasi sederhana (evolusi oksigen) di atas suhu 2.500 K (2.230 °C; 4.040 °F).

Aplikasi

Bahan bakar nuklir

Torium dioksida (toria) dapat digunakan dalam reaktor nuklir sebagai pelet bahan bakar keramik, biasanya terkandung dalam batang bahan bakar nuklir yang dibalut dengan paduan zirkonium. Torium tidak bersifat fisil (tetapi "subur", membiakkan uranium-233 yang bersifat fisil di bawah pemborbardiran neutron); karenanya, ia harus digunakan sebagai bahan bakar reaktor nuklir bersama dengan isotop fisil dari uranium atau plutonium. Hal ini dapat dicapai dengan mencampur torium dengan uranium atau plutonium, atau menggunakannya dalam bentuk murni bersamaan dengan batang bahan bakar terpisah yang mengandung uranium atau plutonium. Torium dioksida menawarkan keunggulan dibandingkan pelet bahan bakar uranium dioksida konvensional, karena konduktivitas termalnya yang lebih tinggi (suhu pengoperasiannya lebih rendah), titik leburnya yang jauh lebih tinggi, dan stabilitas kimiawinya (tidak teroksidasi dengan adanya air/oksigen, tidak seperti uranium dioksida).[5][6][7][8][9]

Torium dioksida dapat diubah menjadi bahan bakar nuklir dengan membiakkannya menjadi uranium-233. Stabilitas termal yang tinggi dari torium dioksida memungkinkan aplikasi dalam penyemprotan api dan keramik suhu tinggi.

Paduan

Torium dioksida digunakan sebagai penstabil pada elektroda wolfram pada pengelasan TIG, tabung elektron, dan mesin turbin gas pesawat terbang. Sebagai paduan, logam wolfram yang ditoriasi tidak mudah berubah bentuk karena bahan fusi tinggi toria menambah sifat mekanik suhu tinggi, dan torium membantu merangsang emisi elektron (termion). Ia adalah aditif oksida yang paling populer karena biayanya yang rendah, tetapi telah dihapus demi unsur nonradioaktif seperti serium, lantanum, dan zirkonium.

Nikel terdispersi toria menemukan aplikasinya dalam berbagai operasi suhu tinggi seperti mesin pembakaran karena merupakan bahan tahan mulur yang baik. Ia juga dapat digunakan untuk menjebak hidrogen.

Katalisis

Torium dioksida hampir tidak memiliki nilai sebagai katalis komersial, tetapi aplikasi tersebut telah diteliti dengan baik. Ia adalah katalis dalam sintesis cincin besar Ruzicka. Aplikasi lain yang telah dieksplorasi meliputi perengkahan minyak bumi, konversi amonia menjadi asam nitrat dan pembuatan asam sulfat.[10]

Agen radiokontras

Torium dioksida adalah bahan utama dalam Thorotrast, sebuah agen radiokontras yang dulu umum digunakan untuk angiografi serebral, namun menyebabkan bentuk kanker yang langka (angiosarkoma hepatik) bertahun-tahun setelah pemberian. Penggunaan ini diganti dengan iodin yang dapat disuntikkan atau suspensi barium sulfat yang dapat ditelan sebagai agen kontras sinar-X standar.[11]

Mantel lampu

Penggunaan utama lainnya di masa lalu adalah mantel gas lentera yang dikembangkan oleh Carl Auer von Welsbach pada tahun 1890, yang terdiri dari 99% ThO2 dan 1% serium(IV) oksida. Bahkan hingga tahun 1980-an diperkirakan sekitar setengah dari semua ThO2 yang diproduksi (beberapa ratus ton per tahun) digunakan untuk tujuan ini. Beberapa mantel masih menggunakan torium, tetapi itrium oksida (atau terkadang zirkonium oksida) semakin banyak digunakan sebagai pengganti.[12]

Pembuatan kaca

Ketika ditambahkan ke kaca, torium dioksida membantu meningkatkan indeks biasnya dan menurunkan dispersinya. Kaca semacam itu digunakan dalam lensa berkualitas tinggi untuk kamera dan instrumen ilmiah. Radiasi dari lensa-lensa ini dapat menggelapkan dan menguningkannya selama bertahun-tahun dan menurunkan film, tetapi risiko kesehatannya minimal. Lensa yang menguning dapat dikembalikan ke keadaan aslinya yang tidak berwarna dengan paparan yang lama terhadap radiasi ultraungu yang intens. Torium dioksida sejak saat itu telah digantikan oleh oksida tanah jarang seperti lantanum oksida di hampir semua kaca indeks tinggi modern, karena memberikan efek yang serupa dan tidak bersifat radioaktif.[13][14][15]

Sumber terkutip

Referensi

  1. Yamashita, Toshiyuki. Thermal expansions of NpO 2 and some other actinide dioxides. J. Nucl. Mater. 1997. Vol. 245 (1). hlm. 72–78. doi:10.1016/S0022-3115(96)00750-7.
  2. John Emsley. Nature's Building Blocks. Oxford University Press. 2001. hlm. 441. ISBN 978-0-19-850340-8.
  3. Heming He. Formation of solid thorium monoxide at near-ambient conditions as observed by neutron reflectometry and interpreted by screened hybrid functional calculations. Journal of Nuclear Materials. 2017. Vol. 487. hlm. 288–296. doi:10.1016/j.jnucmat.2016.12.046.
  4. Michael Hoch. The Reaction Occurring on Thoriated Cathodes. J. Am. Chem. Soc. 1954. Vol. 76 (19). hlm. 4833–4835. doi:10.1021/ja01648a018.
  5. Mitchell, Brian S. An Introduction to Materials Engineering. and Science for Chemical and Materials. 2004. hlm. 473. ISBN 978-0-471-43623-2.
  6. Wayne M. Robertson. Measurement and evaluation of hydrogen trapping in thoria dispersed nickel. Metallurgical and Materials Transactions A. 1979. Vol. 10 (4). hlm. 489–501. doi:10.1007/BF02697077.
  7. Arun Kumar. The effect of yttrium and thorium on the oxidation behavior of Ni-Cr-Al alloys. Oxidation of Metals. 1974. Vol. 8 (4). hlm. 227–263. doi:10.1007/BF00604042.
  8. J. Stringer. The high-temperature oxidation of nickel-20 wt.% chromium alloys containing dispersed oxide phases. Oxidation of Metals. 1972. Vol. 5 (1). hlm. 11–47. doi:10.1007/BF00614617.
  9. L. E. Murr. Interfacial energetics in the TD-nickel and TD-nichrome systems. Journal of Materials Science. 1974. Vol. 9 (8). hlm. 1309–1319. doi:10.1007/BF00551849.
  10. Stoll, Wolfgang (2012) "Thorium and Thorium Compounds" in Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry. Wiley-VCH, Weinheim.
  11. Thorotrast. radiopaedia.org
  12. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  13. C. R. Hammond. The Elements, in Handbook of Chemistry and Physics. CRC Press. 2004. ISBN 978-0-8493-0485-9.
  14. Oak Ridge Associated Universities. Thoriated Camera Lens (ca. 1970s). 1999.
  15. W. Stoll. Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry. Wiley-VCH. 2005. hlm. 32. doi:10.1002/14356007.a27_001. ISBN 978-3-527-31097-5.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29589711 (2026-08-16T17:15:00Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.