Energi di Thailand: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28444805; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
[[File:Bangkok_skytrain_sunset.jpg|thumb|right|280px|Bangkok skytrain sunset]] | |||
'''Energi di Thailand''' mengacu pada produksi, penyimpanan, impor dan ekspor, dan penggunaan [[energi]] [[Thailand]]. Sumber daya energi Thailand terhitung mencukupi dan sedang berkurang. Negara ini mengimpor sebagian besar minyaknya dan sejumlah besar gas alam dan batubara. Konsumsi energinya telah tumbuh pada tingkat rata-rata 3,3% dari 2007 hingga 2017. Energi dari energi terbarukan baru-baru ini mulai berkontribusi energi yang signifikan. | '''Energi di Thailand''' mengacu pada produksi, penyimpanan, impor dan ekspor, dan penggunaan [[energi]] [[Thailand]]. Sumber daya energi Thailand terhitung mencukupi dan sedang berkurang. Negara ini mengimpor sebagian besar minyaknya dan sejumlah besar gas alam dan batubara. Konsumsi energinya telah tumbuh pada tingkat rata-rata 3,3% dari 2007 hingga 2017. Energi dari energi terbarukan baru-baru ini mulai berkontribusi energi yang signifikan. | ||
Ada beberapa perbedaan dalam angka yang dipublikasikan: menurut [[Kementerian Energi (Thailand)|Kementerian Energi]], konsumsi [[Energi primer|energi utama]] negara itu adalah 75,2 [[Satu ton setara minyak|Mtoe]] (juta ton setara minyak) pada 2013. Menurut [[Bp|BP]], konsumsi energi primer pada 2013 adalah 118,3 Mtoe, naik menjadi 133 Mtoe pada 2018. | Ada beberapa perbedaan dalam angka yang dipublikasikan: menurut [[Kementerian Energi (Thailand)|Kementerian Energi]], konsumsi [[Energi primer|energi utama]] negara itu adalah 75,2 [[Satu ton setara minyak|Mtoe]] (juta ton setara minyak) pada 2013.<ref>[http://weben.dede.go.th/webmax/sites/default/files/fact2013.pdf Energy in Thailand, Facts & Figures 2013]. Department of Alternative Energy Development & Efficiency.</ref> Menurut [[Bp|BP]], konsumsi energi primer pada 2013 adalah 118,3 Mtoe, naik menjadi 133 Mtoe pada 2018.<ref>[https://www.bp.com/content/dam/bp/business-sites/en/global/corporate/pdfs/energy-economics/statistical-review/bp-stats-review-2019-full-report.pdf BP Statistical Review of World Energy 2019]. BP. 2019.</ref> | ||
== Ikhtisar == | == Ikhtisar == | ||
Thailand memproduksi sekitar sepertiga dari minyak yang dikonsumsi. Thailand adalah importir minyak terbesar kedua di Asia Tenggara. Thailand adalah produsen gas alam, dengan cadangan terbukti, tetapi terbatas, setidaknya 0,2 triliun [[meter kubik]] . Thailand mengikuti jejak Indonesia dan Vietnam dalam produksi batubara, dan batubara yang dihasilkannya berkualitas standar. Maka Thailand harus mengimpor batubara untuk memenuhi permintaan domestik, terutama pembangkit listrik. | Thailand memproduksi sekitar sepertiga dari minyak yang dikonsumsi. Thailand adalah importir minyak terbesar kedua di Asia Tenggara. Thailand adalah produsen gas alam, dengan cadangan terbukti, tetapi terbatas, setidaknya 0,2 triliun [[meter kubik]] .<ref>[https://www.bp.com/content/dam/bp/business-sites/en/global/corporate/pdfs/energy-economics/statistical-review/bp-stats-review-2019-full-report.pdf BP Statistical Review of World Energy 2019]. BP. 2019.</ref> Thailand mengikuti jejak Indonesia dan Vietnam dalam produksi batubara, dan batubara yang dihasilkannya berkualitas standar. Maka Thailand harus mengimpor batubara untuk memenuhi permintaan domestik, terutama pembangkit listrik. | ||
== Minyak bumi == | == Minyak bumi == | ||
* Produksi: Thailand pertama kali mulai memproduksi minyak<ref>Includes crude oil, tight oil, oil sands, NGLs (natural gas liquids). Excludes liquid fuels from biomass and coal/NG derivatives.</ref> pada tahun 1981, ketika mulai memproduksi 2.000 [[barel]] (84.000 galon AS) per hari. Pada 2013, produksi harian telah meningkat menjadi 459.000 barel. Cadangan minyak terbukti diperkirakan 0,3 ribu juta barel, memberikan rasio [[Rasio cadangan terhadap produksi|cadangan terhadap produksi]] (R/P) 1,8, yang berarti minyaknya hampir habis.<ref>[https://www.bp.com/content/dam/bp/business-sites/en/global/corporate/pdfs/energy-economics/statistical-review/bp-stats-review-2019-full-report.pdf BP Statistical Review of World Energy 2019]. BP. 2019.</ref> | |||
* Konsumsi: Konsumsi Thailand pada tahun 2018 adalah 65,8 Mtoe, naik 2,2% dari tahun sebelumnya.<ref>[https://www.bp.com/content/dam/bp/business-sites/en/global/corporate/pdfs/energy-economics/statistical-review/bp-stats-review-2019-full-report.pdf BP Statistical Review of World Energy 2019]. BP. 2019.</ref> | |||
* Produksi: Thailand pertama kali mulai memproduksi minyak pada tahun 1981, ketika mulai memproduksi 2.000 [[barel]] (84.000 galon AS) per hari. Pada 2013, produksi harian telah meningkat menjadi 459.000 barel. Cadangan minyak terbukti diperkirakan 0,3 ribu juta barel, memberikan rasio [[Rasio cadangan terhadap produksi|cadangan terhadap produksi]] (R/P) 1,8, yang berarti minyaknya hampir habis. | |||
* Konsumsi: Konsumsi Thailand pada tahun 2018 adalah 65,8 Mtoe, naik 2,2% dari tahun sebelumnya. | |||
== Gas alam == | == Gas alam == | ||
Cadangan terbukti gas alam Thailand mencapai 0,2 triliun m<sup>3</sup>. Produksinya pada tahun 2018 adalah 37,7 miliar m<sup>3</sup> (32,4 Mtoe) sehingga memberikan rasio R/P hanya lima tahun. Negara ini mengkonsumsi 49,9 miliar m<sup>3</sup>, yang merupakan kekurangan dari impor [[gas alam cair]] (LNG) 6,2 miliar m<sup>3</sup> dan 7,8 miliar m<sup>3</sup> melalui pipa dari [[Myanmar]]. | Cadangan terbukti gas alam Thailand mencapai 0,2 triliun m<sup>3</sup>. Produksinya pada tahun 2018 adalah 37,7 miliar m<sup>3</sup> (32,4 Mtoe) sehingga memberikan rasio R/P hanya lima tahun. Negara ini mengkonsumsi 49,9 miliar m<sup>3</sup>, yang merupakan kekurangan dari impor [[gas alam cair]] (LNG) 6,2 miliar m<sup>3</sup> dan 7,8 miliar m<sup>3</sup> melalui pipa dari [[Myanmar]].<ref>[https://www.bp.com/content/dam/bp/business-sites/en/global/corporate/pdfs/energy-economics/statistical-review/bp-stats-review-2019-full-report.pdf BP Statistical Review of World Energy 2019]. BP. 2019.</ref> | ||
Bahan bakar gas memberi tenaga pada sekitar 60-65% dari pembangkit listrik Thailand. Ladang gas Erawan di [[Teluk Thailand]] memasok sekitar 20% dari produksi gas Thailand. Ladang tersebut diperkirakan memiliki kapasitas 885 juta [[Kaki kubik standar|kaki kubik]] (sekitar 25 juta m<sup>3</sup>) per hari. | Bahan bakar gas memberi tenaga pada sekitar 60-65% dari pembangkit listrik Thailand.<ref>[http://www.bangkokpost.com/business/news/975381/chevron-thailand-to-cut-800-jobs Chevron Thailand to cut 800 jobs]. ''Bangkok Post''. 16 May 2016.</ref> Ladang gas Erawan di [[Teluk Thailand]] memasok sekitar 20% dari produksi gas Thailand. Ladang tersebut diperkirakan memiliki kapasitas 885 juta [[Kaki kubik standar|kaki kubik]] (sekitar 25 juta m<sup>3</sup>) per hari.<ref>[http://www.bangkokpost.com/business/news/975765/chevron-to-cut-800-workers Chevron to cut 800 workers]. ''Bangkok Post''. 17 May 2016.</ref> | ||
== Batubara == | == Batubara == | ||
, Thailand telah membuktikan cadangan 1.063 juta ton [[Batubara sub-bituminous|batubara sub-bitumen]] dan [[lignit]]. Pada 2018, Thailand menghasilkan 3,8 Mtoe, turun 8,5% dari 2017. Thailand mengkonsumsi 18,5 Mtoe pada tahun 2018, yang berarti harus mengimpor sekitar 15 Mtoe. Rasio cadangan terhadap produksi adalah 72 (tahun). | , Thailand telah membuktikan cadangan 1.063 juta ton [[Batubara sub-bituminous|batubara sub-bitumen]] dan [[lignit]]. Pada 2018, Thailand menghasilkan 3,8 Mtoe, turun 8,5% dari 2017. Thailand mengkonsumsi 18,5 Mtoe pada tahun 2018, yang berarti harus mengimpor sekitar 15 Mtoe. Rasio cadangan terhadap produksi adalah 72 (tahun).<ref>[https://www.bp.com/content/dam/bp/business-sites/en/global/corporate/pdfs/energy-economics/statistical-review/bp-stats-review-2019-full-report.pdf BP Statistical Review of World Energy 2019]. BP. 2019.</ref> | ||
== Energi baru terbarukan == | == Energi baru terbarukan == | ||
Konsumsi energi terbarukan Thailand pada tahun 2018 adalah 4 Mtoe, tumbuh pada angka CAGR 0,7% untuk periode 2008-2017. Biomassa adalah kontributor utama energi terbarukan, matahari kedua, dan angin ketiga. Biofuel berkontribusi 2119 Ktoe pada 2018.<ref>[https://www.bp.com/content/dam/bp/business-sites/en/global/corporate/pdfs/energy-economics/statistical-review/bp-stats-review-2019-full-report.pdf BP Statistical Review of World Energy 2019]. BP. 2019.</ref> Pemerintah mempromosikan produksi [[biodiesel]] dari minyak kelapa sawit untuk dicampur dengan diesel konvensional dengan tujuan mengurangi impor minyak bumi. Sasaran produksi adalah 5,97 juta liter per hari pada tahun 2021.<ref>Adisorn Ratchaniphont. [http://nscj.co.uk/ecm3/sessions/174_AdisornRatchaniphont.pdf Trend of carbon dioxide emission from oil palm plantation in Krabi, Thailand]. ''North Sea Conference & Journal''.</ref> | |||
Pada Maret 2016, pemerintah Thailand memberikan persetujuan untuk rumah dan bangunan komersial untuk memasang panel surya. Setiap rumah akan diizinkan menghasilkan 10 kW dan masing-masing pabrik 40 kW. Untuk sektor swasta, meskipun sumber daya matahari Thailand cukup, sebelumnya tidak punya hak untuk memasang peralatan pembangkit listrik.<ref>Chatrudee Theparat. [http://www.bangkokpost.com/business/news/894780/solar-rooftops-electric-vehicles-okayed Solar rooftops, electric vehicles okayed]. ''Bangkok Post''. 2016-03-12.</ref> | |||
Pada Maret 2016, pemerintah Thailand memberikan persetujuan untuk rumah dan bangunan komersial untuk memasang panel surya. Setiap rumah akan diizinkan menghasilkan 10 kW dan masing-masing pabrik 40 kW. Untuk sektor swasta, meskipun sumber daya matahari Thailand cukup, sebelumnya tidak punya hak untuk memasang peralatan pembangkit listrik. | |||
== Tenaga nuklir == | == Tenaga nuklir == | ||
Thailand tidak memiliki pembangkit listrik tenaga nuklir. Rencana sebelumnya untuk menghasilkan lima [[Watt|gigawatt]] listrik pada tahun 2025 menggunakan teknologi nuklir diturunkan menjadi 2 GW setelah bencana Fukushima.<ref>[http://www.energyxxi.org/sites/default/files/pdf/InternationalIndex-Final2013.pdf International Index of Energy Security Risk]. ''Institute for 21st Century Energy''. 2013.</ref> | |||
Ketika ingatan mengenai insiden Fukushima surut, minat terhadap tenaga nuklir telah bangkit kembali. Tujuh negara ASEAN, termasuk Thailand, telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan [[Rosatom]], badan energi nuklir Rusia. EGAT bekerja sama dengan Cina, Jepang, dan Korea Selatan dalam teknologi pembangkit tenaga nuklir dan telah mengirim 100 spesialis untuk melatih proyek pembangkit listrik tenaga nuklir. EGAT merencanakan hingga lima persen dari total pembangkitan listrik Thailand yang akan dihasilkan dari nuklir pada tahun 2036.<ref>Pratch Rujivanarom. [http://www.nationmultimedia.com/national/With-Russian-help-region-looks-to-a-nuclear-powere-30288002.html With Russian help, region looks to a nuclear-powered future]. ''The Nation''. 13 June 2016.</ref> | |||
Ketika ingatan mengenai insiden Fukushima surut, minat terhadap tenaga nuklir telah bangkit kembali. Tujuh negara ASEAN, termasuk Thailand, telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan [[Rosatom]], badan energi nuklir Rusia. EGAT bekerja sama dengan Cina, Jepang, dan Korea Selatan dalam teknologi pembangkit tenaga nuklir dan telah mengirim 100 spesialis untuk melatih proyek pembangkit listrik tenaga nuklir. EGAT merencanakan hingga lima persen dari total pembangkitan listrik Thailand yang akan dihasilkan dari nuklir pada tahun 2036. | |||
== Kelistrikan == | == Kelistrikan == | ||
Sembilan puluh persen kapasitas pembangkit listrik Thailand adalah termal konvensional. Pabrik berbahan bakar minyak telah digantikan oleh gas alam, yang pada 2018 menghasilkan 65% listrik Thailand. Pembangkit listrik tenaga batu bara menghasilkan 20% tambahan, dengan sisanya dari biomassa, hidro, dan biogas.<ref>[http://www.energyxxi.org/sites/default/files/pdf/InternationalIndex-Final2013.pdf International Index of Energy Security Risk]. ''Institute for 21st Century Energy''. 2013.</ref> , [[Electricity Generating Authority of Thailand|Otoritas Pembangkit Listrik Thailand]] (EGAT) menghasilkan 37% listrik Thailand, sisanya oleh produsen listrik independen 35%, produsen listrik kecil 19%, dan impor listrik 9%.<ref>Pratch Rujivanarom. [http://www.nationmultimedia.com/detail/national/30348517 Renewable energy should be focus of new power plan: expert]. ''The Nation''. 25 June 2018.</ref> | |||
{| class="wikitable" border="1" | |||
|+Pembangkitan Listrik berdasarkan Sumber, 2018 ([[Kilowatt jam|Terawatt-jam]])<ref>[https://www.bp.com/content/dam/bp/business-sites/en/global/corporate/pdfs/energy-economics/statistical-review/bp-stats-review-2019-full-report.pdf BP Statistical Review of World Energy 2019]. BP. 2019.</ref> | |||
!Minyak | |||
!Gas alam | |||
!Batu bara | |||
!Nuklir | |||
!Hydro | |||
!Terbarukan | |||
!Total | |||
|- | |||
|0,2 | |||
|116.3 | |||
|35.8 | |||
|0 | |||
|7.6 | |||
|17.8 | |||
|177.6 | |||
|} | |||
Pakar energi yang bekerja untuk [[Dana Dunia Untuk Alam|World Wildlife Fund]] telah menghitung bahwa Thailand dan empat tetangga [[Subwilayah Mekong Raya|Wilayah Mekong]] dapat mencapai 100% pembangkitan listrik energi terbarukan pada tahun 2050. Studi mereka menunjukkan bahwa negara-negara ini dapat menghasilkan dan menggunakan listrik dari tenaga surya, tenaga angin, biogas, dan pembangkit listrik tenaga air sungai kecil. Temuan ini bertentangan dengan rencana pemerintah yang mengabaikan energi terbarukan.<ref>Pratch Rujivanarom. [http://www.nationmultimedia.com/national/Mekong-region-could-rely-on-100-clean-energy-by-20-30286636.html Mekong region could rely on 100% clean energy by 2050: WWF]. ''The Nation''. 2016-05-25.</ref> | |||
Naiknya suhu meningkatkan permintaan listrik. Diperkirakan bahwa kota-kota seukuran Bangkok mungkin memerlukan listrik tambahan sebanyak 2 gigawatt untuk setiap kenaikan suhu 1 derajat Celcius karena meningkatnya permintaan untuk pendingin udara.<ref>Jessica Shankleman. [https://www.bloomberg.com/news/articles/2016-07-19/soaring-temperatures-will-make-it-too-hot-to-work-un-warns Soaring Temperatures Will Make It Too Hot to Work, UN Warns]. ''Bloomberg''. 19 July 2016.</ref> | |||
Naiknya suhu meningkatkan permintaan listrik. Diperkirakan bahwa kota-kota seukuran Bangkok mungkin memerlukan listrik tambahan sebanyak 2 gigawatt untuk setiap kenaikan suhu 1 derajat Celcius karena meningkatnya permintaan untuk pendingin udara. | |||
== Referensi == | == Referensi == | ||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Energi+di+Thailand&oldid=28444805 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28444805 (2025-11-13T05:08:42Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | |||
== | |||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 27 Agustus 2026 08.57

Energi di Thailand mengacu pada produksi, penyimpanan, impor dan ekspor, dan penggunaan energi Thailand. Sumber daya energi Thailand terhitung mencukupi dan sedang berkurang. Negara ini mengimpor sebagian besar minyaknya dan sejumlah besar gas alam dan batubara. Konsumsi energinya telah tumbuh pada tingkat rata-rata 3,3% dari 2007 hingga 2017. Energi dari energi terbarukan baru-baru ini mulai berkontribusi energi yang signifikan.
Ada beberapa perbedaan dalam angka yang dipublikasikan: menurut Kementerian Energi, konsumsi energi utama negara itu adalah 75,2 Mtoe (juta ton setara minyak) pada 2013.[1] Menurut BP, konsumsi energi primer pada 2013 adalah 118,3 Mtoe, naik menjadi 133 Mtoe pada 2018.[2]
Ikhtisar
Thailand memproduksi sekitar sepertiga dari minyak yang dikonsumsi. Thailand adalah importir minyak terbesar kedua di Asia Tenggara. Thailand adalah produsen gas alam, dengan cadangan terbukti, tetapi terbatas, setidaknya 0,2 triliun meter kubik .[3] Thailand mengikuti jejak Indonesia dan Vietnam dalam produksi batubara, dan batubara yang dihasilkannya berkualitas standar. Maka Thailand harus mengimpor batubara untuk memenuhi permintaan domestik, terutama pembangkit listrik.
Minyak bumi
- Produksi: Thailand pertama kali mulai memproduksi minyak[4] pada tahun 1981, ketika mulai memproduksi 2.000 barel (84.000 galon AS) per hari. Pada 2013, produksi harian telah meningkat menjadi 459.000 barel. Cadangan minyak terbukti diperkirakan 0,3 ribu juta barel, memberikan rasio cadangan terhadap produksi (R/P) 1,8, yang berarti minyaknya hampir habis.[5]
- Konsumsi: Konsumsi Thailand pada tahun 2018 adalah 65,8 Mtoe, naik 2,2% dari tahun sebelumnya.[6]
Gas alam
Cadangan terbukti gas alam Thailand mencapai 0,2 triliun m3. Produksinya pada tahun 2018 adalah 37,7 miliar m3 (32,4 Mtoe) sehingga memberikan rasio R/P hanya lima tahun. Negara ini mengkonsumsi 49,9 miliar m3, yang merupakan kekurangan dari impor gas alam cair (LNG) 6,2 miliar m3 dan 7,8 miliar m3 melalui pipa dari Myanmar.[7]
Bahan bakar gas memberi tenaga pada sekitar 60-65% dari pembangkit listrik Thailand.[8] Ladang gas Erawan di Teluk Thailand memasok sekitar 20% dari produksi gas Thailand. Ladang tersebut diperkirakan memiliki kapasitas 885 juta kaki kubik (sekitar 25 juta m3) per hari.[9]
Batubara
, Thailand telah membuktikan cadangan 1.063 juta ton batubara sub-bitumen dan lignit. Pada 2018, Thailand menghasilkan 3,8 Mtoe, turun 8,5% dari 2017. Thailand mengkonsumsi 18,5 Mtoe pada tahun 2018, yang berarti harus mengimpor sekitar 15 Mtoe. Rasio cadangan terhadap produksi adalah 72 (tahun).[10]
Energi baru terbarukan
Konsumsi energi terbarukan Thailand pada tahun 2018 adalah 4 Mtoe, tumbuh pada angka CAGR 0,7% untuk periode 2008-2017. Biomassa adalah kontributor utama energi terbarukan, matahari kedua, dan angin ketiga. Biofuel berkontribusi 2119 Ktoe pada 2018.[11] Pemerintah mempromosikan produksi biodiesel dari minyak kelapa sawit untuk dicampur dengan diesel konvensional dengan tujuan mengurangi impor minyak bumi. Sasaran produksi adalah 5,97 juta liter per hari pada tahun 2021.[12]
Pada Maret 2016, pemerintah Thailand memberikan persetujuan untuk rumah dan bangunan komersial untuk memasang panel surya. Setiap rumah akan diizinkan menghasilkan 10 kW dan masing-masing pabrik 40 kW. Untuk sektor swasta, meskipun sumber daya matahari Thailand cukup, sebelumnya tidak punya hak untuk memasang peralatan pembangkit listrik.[13]
Tenaga nuklir
Thailand tidak memiliki pembangkit listrik tenaga nuklir. Rencana sebelumnya untuk menghasilkan lima gigawatt listrik pada tahun 2025 menggunakan teknologi nuklir diturunkan menjadi 2 GW setelah bencana Fukushima.[14]
Ketika ingatan mengenai insiden Fukushima surut, minat terhadap tenaga nuklir telah bangkit kembali. Tujuh negara ASEAN, termasuk Thailand, telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan Rosatom, badan energi nuklir Rusia. EGAT bekerja sama dengan Cina, Jepang, dan Korea Selatan dalam teknologi pembangkit tenaga nuklir dan telah mengirim 100 spesialis untuk melatih proyek pembangkit listrik tenaga nuklir. EGAT merencanakan hingga lima persen dari total pembangkitan listrik Thailand yang akan dihasilkan dari nuklir pada tahun 2036.[15]
Kelistrikan
Sembilan puluh persen kapasitas pembangkit listrik Thailand adalah termal konvensional. Pabrik berbahan bakar minyak telah digantikan oleh gas alam, yang pada 2018 menghasilkan 65% listrik Thailand. Pembangkit listrik tenaga batu bara menghasilkan 20% tambahan, dengan sisanya dari biomassa, hidro, dan biogas.[16] , Otoritas Pembangkit Listrik Thailand (EGAT) menghasilkan 37% listrik Thailand, sisanya oleh produsen listrik independen 35%, produsen listrik kecil 19%, dan impor listrik 9%.[17]
| Minyak | Gas alam | Batu bara | Nuklir | Hydro | Terbarukan | Total |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 0,2 | 116.3 | 35.8 | 0 | 7.6 | 17.8 | 177.6 |
Pakar energi yang bekerja untuk World Wildlife Fund telah menghitung bahwa Thailand dan empat tetangga Wilayah Mekong dapat mencapai 100% pembangkitan listrik energi terbarukan pada tahun 2050. Studi mereka menunjukkan bahwa negara-negara ini dapat menghasilkan dan menggunakan listrik dari tenaga surya, tenaga angin, biogas, dan pembangkit listrik tenaga air sungai kecil. Temuan ini bertentangan dengan rencana pemerintah yang mengabaikan energi terbarukan.[19]
Naiknya suhu meningkatkan permintaan listrik. Diperkirakan bahwa kota-kota seukuran Bangkok mungkin memerlukan listrik tambahan sebanyak 2 gigawatt untuk setiap kenaikan suhu 1 derajat Celcius karena meningkatnya permintaan untuk pendingin udara.[20]
Referensi
- ↑ Energy in Thailand, Facts & Figures 2013. Department of Alternative Energy Development & Efficiency.
- ↑ BP Statistical Review of World Energy 2019. BP. 2019.
- ↑ BP Statistical Review of World Energy 2019. BP. 2019.
- ↑ Includes crude oil, tight oil, oil sands, NGLs (natural gas liquids). Excludes liquid fuels from biomass and coal/NG derivatives.
- ↑ BP Statistical Review of World Energy 2019. BP. 2019.
- ↑ BP Statistical Review of World Energy 2019. BP. 2019.
- ↑ BP Statistical Review of World Energy 2019. BP. 2019.
- ↑ Chevron Thailand to cut 800 jobs. Bangkok Post. 16 May 2016.
- ↑ Chevron to cut 800 workers. Bangkok Post. 17 May 2016.
- ↑ BP Statistical Review of World Energy 2019. BP. 2019.
- ↑ BP Statistical Review of World Energy 2019. BP. 2019.
- ↑ Adisorn Ratchaniphont. Trend of carbon dioxide emission from oil palm plantation in Krabi, Thailand. North Sea Conference & Journal.
- ↑ Chatrudee Theparat. Solar rooftops, electric vehicles okayed. Bangkok Post. 2016-03-12.
- ↑ International Index of Energy Security Risk. Institute for 21st Century Energy. 2013.
- ↑ Pratch Rujivanarom. With Russian help, region looks to a nuclear-powered future. The Nation. 13 June 2016.
- ↑ International Index of Energy Security Risk. Institute for 21st Century Energy. 2013.
- ↑ Pratch Rujivanarom. Renewable energy should be focus of new power plan: expert. The Nation. 25 June 2018.
- ↑ BP Statistical Review of World Energy 2019. BP. 2019.
- ↑ Pratch Rujivanarom. Mekong region could rely on 100% clean energy by 2050: WWF. The Nation. 2016-05-25.
- ↑ Jessica Shankleman. Soaring Temperatures Will Make It Too Hot to Work, UN Warns. Bloomberg. 19 July 2016.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28444805 (2025-11-13T05:08:42Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.