Sistem endokrin: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29472918; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
[[File:Illu_endocrine_system.png|thumb|right|280px|Illu endocrine system]] | |||
Sistem endokrin | '''Sistem endokrin''' adalah sistem kontrol [[kelenjar]] tanpa saluran (''ductless'') yang menghasilkan [[hormon]] yang tersirkulasi di tubuh melalui aliran [[darah]] untuk memengaruhi [[organ (anatomi)|organ-organ]] lain. Hormon bertindak sebagai "pembawa pesan" dan dibawa oleh aliran darah ke berbagai sel dalam tubuh, yang selanjutnya akan menerjemahkan "pesan" tersebut menjadi suatu tindakan.<ref>Nixson Manurung. [https://books.google.co.id/books?id=pYI9DwAAQBAJ&printsec=frontcover&dq=sistem+endokrin+adalah&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjDq92X9aztAhVPbn0KHdXDAvUQ6AEwAHoECAQQAg#v=onepage&q=sistem%20endokrin%20adalah&f=true Asuhan Keperawatan Sistem Endokrin Dilengkapi Mind Mapping dan Asuhan Keperawatan Nanda Nic Noc]. Deepublish. 2017. hlm. 1, 3, 6, 7. ISBN 978-602-453-342-7.</ref> | ||
Sistem endokrin merupakan bagian dari sistem koordinasi yang berfungsi untuk mengatur kegiatan-kegiatan dalam tubuh.<ref>Deswaty Furqonita. [https://books.google.co.id/books?id=jZqQh9UHAnMC&pg=PA64&dq=kelenjar+endokrin&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwj7mtK-75rtAhUWA3IKHcVJDXo4ChDoATAAegQIABAC#v=onepage&q=kelenjar%20endokrin&f=true Seri IPA Biologi 3 SMP Kelas IX]. Yudhistira. 2007. hlm. 63, 64, 66, 68, 69. ISBN 978-979-746-790-6.</ref> Sistem endokrin tidak memasukkan [[kelenjar eksokrin]] seperti [[kelenjar ludah]], [[kelenjar keringat]], dan kelenjar-kelenjar lain dalam saluran gastroinstestin'''.<ref>Nixson Manurung. [https://books.google.co.id/books?id=pYI9DwAAQBAJ&printsec=frontcover&dq=sistem+endokrin+adalah&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjDq92X9aztAhVPbn0KHdXDAvUQ6AEwAHoECAQQAg#v=onepage&q=sistem%20endokrin%20adalah&f=true Asuhan Keperawatan Sistem Endokrin Dilengkapi Mind Mapping dan Asuhan Keperawatan Nanda Nic Noc]. Deepublish. 2017. hlm. 1, 3, 6, 7. ISBN 978-602-453-342-7.</ref>''' | |||
Menurut Kamus Besar [[Bahasa Indonesia]], istilah kata endokrin memiliki arti yaitu, kelenjar yang tidak memiliki saluran untuk mengalirkan hasil sekresinya. Ilmu tentang kelenjar endokrin pada manusia dan [[vertebrata]] lainnya, khususnya mengenai hormon yang dihasilkan dan pengaruhnya terhadap proses dalam tubuh dikenal dengan istilah [[endokrinologi]]. | Secara keseluruhan, semua sel penghasil hormon pada seekor hewan menyusun sistem endokrin. Organ pensekresi hormon disebut sebagai kelenjar endokrin, dan juga disebut kelenjar buntu atau tanpa duktus karena mensekresikan pembawa pesan kimiawinya secara langsung ke dalam [[cairan tubuh]].<ref>Neil A. Campbell. [https://books.google.co.id/books?id=x9OOphMNmxwC&printsec=copyright&source=gbs_pub_info_r#v=onepage&q&f=true Biologi. Jilid 3 Edisi 5]. Erlangga. 2004. hlm. 129, 139. ISBN 9796884704.</ref> Zat yang dikeluarkan oleh kelenjar endokrin disebut sekret. Proses pengeluarannya disebut sekresi. [[Sekresi]] hasil kelenjar endokrin disebut hormon.<ref>Djoko Arisworo. [https://books.google.co.id/books?id=-uQaDf0X93IC&pg=PA58&dq=kelenjar+endokrin&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwj08Mi43pXtAhW0guYKHShZBYcQ6AEwA3oECAQQAg#v=onepage&q=kelenjar%20endokrin&f=true IPA Terpadu (Biologi, Kimia, Fisika) : Kelas IX. Jilid 3]. PT Grafindo Media Pratama. 2004. hlm. 58, 60, 61, 62. ISBN 978-979-758-331-6.</ref> | ||
Menurut Kamus Besar [[Bahasa Indonesia]], istilah kata endokrin memiliki arti yaitu, kelenjar yang tidak memiliki saluran untuk mengalirkan hasil sekresinya.<ref>[https://www.kbbi.web.id/endokrin Arti kata endokrin - Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online]. ''www.kbbi.web.id''.</ref> Ilmu tentang kelenjar endokrin pada manusia dan [[vertebrata]] lainnya, khususnya mengenai hormon yang dihasilkan dan pengaruhnya terhadap proses dalam tubuh dikenal dengan istilah [[endokrinologi]].<ref>[https://www.kbbi.web.id/endokrin Arti kata endokrin - Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online]. ''www.kbbi.web.id''.</ref><ref>Pudji Astuti. [https://books.google.co.id/books?id=Lm9nDwAAQBAJ&printsec=frontcover&dq=9789794209189&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjK7PORu6TtAhVNILcAHQH4BM8Q6AEwAHoECAAQAg#v=onepage&q=9789794209189&f=false Endokrinologi Veteriner]. UGM Press. 2017. hlm. 39, 50, 51. ISBN 9789794209189.</ref> | |||
== Fungsi == | == Fungsi == | ||
Pada umumnya, sistem endokrin bekerja untuk mengendalikan berbagai fungsi fisiologis tubuh, seperti aktivitas [[metabolisme]], pertumbuhan, reproduksi, regulasi osmotik, dan regulasi ionik. | Pada umumnya, sistem endokrin bekerja untuk mengendalikan berbagai fungsi fisiologis tubuh, seperti aktivitas [[metabolisme]], pertumbuhan, reproduksi, regulasi osmotik, dan regulasi ionik.<ref>Wiwi Isnaeni. [https://books.google.co.id/books?id=Rnz7DwAAQBAJ&pg=PA372&dq=sel+penyusun+neurohipofisis&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiDsqTX5u3sAhUz73MBHTz_D-wQ6AEwAHoECAYQAg#v=onepage&q=sel%20penyusun%20neurohipofisis&f=true Fisiologi Hewan. Edisi Revisi]. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.</ref> | ||
Sistem endokrin pada manusia memilki fungsi yang paling umum, yaitu: | Sistem endokrin pada manusia memilki fungsi yang paling umum, yaitu:<ref>Nixson Manurung. [https://books.google.co.id/books?id=pYI9DwAAQBAJ&printsec=frontcover&dq=sistem+endokrin+adalah&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjDq92X9aztAhVPbn0KHdXDAvUQ6AEwAHoECAQQAg#v=onepage&q=sistem%20endokrin%20adalah&f=true Asuhan Keperawatan Sistem Endokrin Dilengkapi Mind Mapping dan Asuhan Keperawatan Nanda Nic Noc]. Deepublish. 2017. hlm. 1, 3, 6, 7. ISBN 978-602-453-342-7.</ref><ref>Azhar. [https://books.google.co.id/books?id=_mLPDwAAQBAJ&pg=PA36&dq=fisiologi+reptil&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjS3avw_qHtAhXC8XMBHZhqCdEQ6AEwAHoECAUQAg#v=onepage&q=fisiologi%20reptil&f=true Pengantar Fisiologi Veteriner : Buku untuk mahasiswa]. Syiah Kuala University Press. 2017. hlm. 93. ISBN 978-602-5679-18-6.</ref> | ||
# Membedakan sistem saraf dan sistem reproduktif pada janin yang sedang berkembang; | # Membedakan sistem saraf dan sistem reproduktif pada janin yang sedang berkembang; | ||
| Baris 22: | Baris 24: | ||
== Struktur dan Komponen == | == Struktur dan Komponen == | ||
=== Hormon === | === Hormon === | ||
[[Hormon]] adalah sinyal kimiawi yang disekresikan oleh kelenjar endokrin ke dalam cairan tubuh dan mengomunikasikan pesan-pesan yang bersifat mengatur di dalam tubuh. Hormon dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang sangat terbatas. Kelebihan atau kekurangan hormon dapat mengakibatkan gangguan fungsi tubuh. Kekurangan satu jenis hormon tidak dapat digantikan oleh hormon yang lain, karena hormon memiliki fungsi yang spesifik dan organ tubuh yang dipengaruhi juga spesifik. Hormon bisa mencapai semua bagian tubuh, tetapi jenis sel-sel tertentu saja, yang memiliki kemampuan untuk memberikan respon terhadap sinyal tersebut. Hormon bisa memengaruhi sel atau jaringan tertentu apabila sel atau jaringan tersebut mempunyai reseptor untuk hormon tertentu. Sel, jaringan, atau organ yang mengadakan respons terhadap hormon tertentu disebut sel target atau organ target. | [[Hormon]] adalah sinyal kimiawi yang disekresikan oleh kelenjar endokrin ke dalam cairan tubuh dan mengomunikasikan pesan-pesan yang bersifat mengatur di dalam tubuh.<ref>Neil A. Campbell. [https://books.google.co.id/books?id=x9OOphMNmxwC&printsec=copyright&source=gbs_pub_info_r#v=onepage&q&f=true Biologi. Jilid 3 Edisi 5]. Erlangga. 2004. hlm. 129, 139. ISBN 9796884704.</ref> Hormon dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang sangat terbatas. Kelebihan atau kekurangan hormon dapat mengakibatkan gangguan fungsi tubuh. Kekurangan satu jenis hormon tidak dapat digantikan oleh hormon yang lain, karena hormon memiliki fungsi yang spesifik dan organ tubuh yang dipengaruhi juga spesifik.<ref>Deswaty Furqonita. [https://books.google.co.id/books?id=jZqQh9UHAnMC&pg=PA64&dq=kelenjar+endokrin&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwj7mtK-75rtAhUWA3IKHcVJDXo4ChDoATAAegQIABAC#v=onepage&q=kelenjar%20endokrin&f=true Seri IPA Biologi 3 SMP Kelas IX]. Yudhistira. 2007. hlm. 63, 64, 66, 68, 69. ISBN 978-979-746-790-6.</ref> Hormon bisa mencapai semua bagian tubuh, tetapi jenis sel-sel tertentu saja, yang memiliki kemampuan untuk memberikan respon terhadap sinyal tersebut.<ref>Neil A. Campbell. [https://books.google.co.id/books?id=x9OOphMNmxwC&printsec=copyright&source=gbs_pub_info_r#v=onepage&q&f=true Biologi. Jilid 3 Edisi 5]. Erlangga. 2004. hlm. 129, 139. ISBN 9796884704.</ref> Hormon bisa memengaruhi sel atau jaringan tertentu apabila sel atau jaringan tersebut mempunyai reseptor untuk hormon tertentu. Sel, jaringan, atau organ yang mengadakan respons terhadap hormon tertentu disebut sel target atau organ target.<ref>Mary Baradero. [https://books.google.co.id/books?id=vfRE-V2JlRMC&pg=PA51&dq=goiter+adalah&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjH4YDIrZXtAhUST30KHWiiAOwQ6AEwAHoECAIQAg#v=onepage&q=goiter%20adalah&f=true Klien Gangguan Endokrin Seri Asuhan keperawatan]. EGC. 2005. hlm. 2, 50, 51. ISBN 978-979-448-950-5.</ref> | ||
Mekanisme kerja hormon pada sel target organ adalah dengan cara menduduki atau berikatan dengan [[Reseptor (biokimia)|reseptor]]. Satu reseptor spesifik hanya dapat berikatan dengan satu jenis hormon saja. Reseptor hormon berada di [[sitoplasma]] sel untuk [[hormon steroid]], sedangkan reseptor hormon non-steroid terletak di [[membran sel]]. | Mekanisme kerja hormon pada sel target organ adalah dengan cara menduduki atau berikatan dengan [[Reseptor (biokimia)|reseptor]]. Satu reseptor spesifik hanya dapat berikatan dengan satu jenis hormon saja. Reseptor hormon berada di [[sitoplasma]] sel untuk [[hormon steroid]], sedangkan reseptor hormon non-steroid terletak di [[membran sel]].<ref>Deswaty Furqonita. [https://books.google.co.id/books?id=jZqQh9UHAnMC&pg=PA64&dq=kelenjar+endokrin&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwj7mtK-75rtAhUWA3IKHcVJDXo4ChDoATAAegQIABAC#v=onepage&q=kelenjar%20endokrin&f=true Seri IPA Biologi 3 SMP Kelas IX]. Yudhistira. 2007. hlm. 63, 64, 66, 68, 69. ISBN 978-979-746-790-6.</ref> | ||
Berdasarkan sifat kimianya, hormon dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok utama, yaitu: | Berdasarkan sifat kimianya, hormon dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok utama, yaitu:<ref>Wiwi Isnaeni. [https://books.google.co.id/books?id=Rnz7DwAAQBAJ&pg=PA372&dq=sel+penyusun+neurohipofisis&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiDsqTX5u3sAhUz73MBHTz_D-wQ6AEwAHoECAYQAg#v=onepage&q=sel%20penyusun%20neurohipofisis&f=true Fisiologi Hewan. Edisi Revisi]. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.</ref> | ||
# Hormon peptida di antaranya hormon-hormon hipotalamus, Angiostensin, Somatostatin, Gastrin, [[Sekretin]], Kalsitonin, Glukagon, Insulin dan Parathormon. Sedangkan hormon protein besar di antaranya Hormon pertumbuhan, Prolaktin, LH, FSH, dan TSH; | # Hormon peptida di antaranya hormon-hormon hipotalamus, Angiostensin, Somatostatin, Gastrin, [[Sekretin]], Kalsitonin, Glukagon, Insulin dan Parathormon. Sedangkan hormon protein besar di antaranya Hormon pertumbuhan, Prolaktin, LH, FSH, dan TSH; | ||
# Hormon yang termasuk dalam kategori steroid ialah Testosteron, Estrogen, Progesteron, dan [[Kortikosteroid]]; | # Hormon yang termasuk dalam kategori steroid ialah Testosteron, Estrogen, Progesteron, dan [[Kortikosteroid]]; | ||
# Hormon yang merupakan turunan tirosin adalah Noradrenalin, Adrenalin, Tiroksin dan ''Triiodotironin''. | # Hormon yang merupakan turunan tirosin adalah Noradrenalin, Adrenalin, Tiroksin dan ''Triiodotironin''. | ||
Pada sistem endokrin terdapat sejumlah zat kimia yang menyerupai hormon, antara lain bradikinin, eritropuitin, [[histamin]], kinin, [[renin]], [[prostaglandin]] dan hormon ''thymic''. | Pada sistem endokrin terdapat sejumlah zat kimia yang menyerupai hormon, antara lain bradikinin, eritropuitin, [[histamin]], kinin, [[renin]], [[prostaglandin]] dan hormon ''thymic''.<ref>Wiwi Isnaeni. [https://books.google.co.id/books?id=Rnz7DwAAQBAJ&pg=PA372&dq=sel+penyusun+neurohipofisis&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiDsqTX5u3sAhUz73MBHTz_D-wQ6AEwAHoECAYQAg#v=onepage&q=sel%20penyusun%20neurohipofisis&f=true Fisiologi Hewan. Edisi Revisi]. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.</ref> | ||
==== Persinyalan Seluler ==== | ==== Persinyalan Seluler ==== | ||
Sel-sel berkomunikasi satu sama lain melalui sinyal-sinyal kimiawi [[hormon]], yang berupa molekul-molekul sederhana seperti [[asam amino]] atau [[asam lemak]] yang mengalami modifikasi, atau molekul-molekul peptida yang lebih kompleks, protein atau steroid. Komunikasi dapat terjadi secara lokal antar sel di dalam jaringan atau organ, atau pada jarak tertentu di jaringan antar organ yang berlainan. Komunikasi sel-sel yang berdekatan dilakukan melalui ''sekresi parakrin'', yaitu komunikasi antar sel yang berdekatan dengan melepaskan sinyal-sinyal kimiawi ke dalam [[cairan ekstraseluler]] dan mencapai tujuan melalui proses [[difusi]] sederhana. Sedangkan komunikasi yang terjadi sebagai respons sel terhadap sekresi dirinya sendiri disebut ''sekresi autokrin.''<ref>Alwi Shahab. [https://books.google.co.id/books?id=E6_ZDwAAQBAJ&printsec=frontcover&dq=Dasar-dasar+Endokrinologi&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwitlvCyu6TtAhXq7HMBHZt2BEIQ6AEwAHoECAQQAg#v=onepage&q=Dasar-dasar%20Endokrinologi&f=false Dasar-dasar Endokrinologi]. Rayyana Komunikasindo. 2017. hlm. 2, 9, 10, 12. ISBN 9786026111227.</ref> Contoh sekresi parakrin adalah hormon histamin yang disekresi oleh ''mast cell'' dan sel parietal pada lambung sapi, akan merangsang pengeluaran asam lambung. Contoh sekresi autokrin adalah prostaglandin dan faktor pertumbuhan yang mirip insulin.<ref>Wiwi Isnaeni. [https://books.google.co.id/books?id=Rnz7DwAAQBAJ&pg=PA372&dq=sel+penyusun+neurohipofisis&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiDsqTX5u3sAhUz73MBHTz_D-wQ6AEwAHoECAYQAg#v=onepage&q=sel%20penyusun%20neurohipofisis&f=true Fisiologi Hewan. Edisi Revisi]. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.</ref> | |||
==== Mekanisme Kerja ==== | |||
Sistem endokrin berfungsi berdasarkan konsep mekanisme umpan balik. Untuk mempertahankan fungsi regulasi yang benar, kelenjar endokrin menerima informasi umpan balik yang konstan tentang kondisi sistem yang diatur, sehingga sekresi hormon dapat disesuaikan. Kadar hormon harus dipertahankan pada batas yang tepat karena jumlah hormon yang tepat sangat perlu untuk mempertahankan kesehatan sel atau organ. Faktor yang terkait dalam pengendalian hormon adalah kontrol umpan balik (''feedback control''). Kelenjar A di stimulasi untuk memproduksi hormon X. Hormon X menstimulasi organ B untuk mengubah (meningkatkan atau mengurangi) zat Y. Perubahan pada zat Y mencegah produksi hormon X.<ref>Mary Baradero. [https://books.google.co.id/books?id=vfRE-V2JlRMC&pg=PA51&dq=goiter+adalah&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjH4YDIrZXtAhUST30KHWiiAOwQ6AEwAHoECAIQAg#v=onepage&q=goiter%20adalah&f=true Klien Gangguan Endokrin Seri Asuhan keperawatan]. EGC. 2005. hlm. 2, 50, 51. ISBN 978-979-448-950-5.</ref><ref>Alwi Shahab. [https://books.google.co.id/books?id=E6_ZDwAAQBAJ&printsec=frontcover&dq=Dasar-dasar+Endokrinologi&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwitlvCyu6TtAhXq7HMBHZt2BEIQ6AEwAHoECAQQAg#v=onepage&q=Dasar-dasar%20Endokrinologi&f=false Dasar-dasar Endokrinologi]. Rayyana Komunikasindo. 2017. hlm. 2, 9, 10, 12. ISBN 9786026111227.</ref> | |||
Mekanisme umpan balik pada kelenjar endokrin dapat terjadi melalui berbagai cara, yaitu: | |||
* '''Umpan balik negatif langsung,''' terjadi ketika peningkatan kadar suatu hormon di dalam sirkulasi, akan menyebabkan penurunan aktivitas sekresi dari sel-sel kelenjar endokrin yang memproduksi hormon tersebut.<ref>Alwi Shahab. [https://books.google.co.id/books?id=E6_ZDwAAQBAJ&printsec=frontcover&dq=Dasar-dasar+Endokrinologi&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwitlvCyu6TtAhXq7HMBHZt2BEIQ6AEwAHoECAQQAg#v=onepage&q=Dasar-dasar%20Endokrinologi&f=false Dasar-dasar Endokrinologi]. Rayyana Komunikasindo. 2017. hlm. 2, 9, 10, 12. ISBN 9786026111227.</ref> | |||
* '''Umpan balik tidak langsung,''' terjadi ketika hormon yang di sekresi kelenjar target menghambat sekresi ''releasing hormone'' dari hipotalamus.<ref>Alwi Shahab. [https://books.google.co.id/books?id=E6_ZDwAAQBAJ&printsec=frontcover&dq=Dasar-dasar+Endokrinologi&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwitlvCyu6TtAhXq7HMBHZt2BEIQ6AEwAHoECAQQAg#v=onepage&q=Dasar-dasar%20Endokrinologi&f=false Dasar-dasar Endokrinologi]. Rayyana Komunikasindo. 2017. hlm. 2, 9, 10, 12. ISBN 9786026111227.</ref> | |||
* Pada '''umpan balik loop pendek''', pengaruh terhadap sekresi hormon beraksi secara langsung dengan menurunkan sekresi hormon.<ref>Pudji Astuti. [https://books.google.co.id/books?id=Lm9nDwAAQBAJ&printsec=frontcover&dq=9789794209189&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjK7PORu6TtAhVNILcAHQH4BM8Q6AEwAHoECAAQAg#v=onepage&q=9789794209189&f=false Endokrinologi Veteriner]. UGM Press. 2017. hlm. 39, 50, 51. ISBN 9789794209189.</ref> | |||
=== Kelenjar Endokrin === | |||
Kelenjar endokrin adalah organ tubuh yang mempunyai fungsi untuk menghasilkan substansi ([[hormon]]) yang secara biologis sangat berguna. Sekresi atau hormon dari kelenjar ini mengalir langsung ke dalam aliran darah dan dapat memberikan efek menyebar luas.<ref>Bryan Broom. [https://books.google.co.id/books?id=IqbomPcxnjAC&pg=PP1&dq=Anatomi+Fisiologi+Kelenjar+Endokrin+dan+Sistem+Persarafan.+Edisi+2&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwivvK7Xu6TtAhVRg-YKHetmAzQQ6AEwAHoECAUQAg#v=onepage&q=Anatomi%20Fisiologi%20Kelenjar%20Endokrin%20dan%20Sistem%20Persarafan.%20Edisi%202&f=false Anatomi Fisiologi Kelenjar Endokrin dan Sistem Persarafan. Edisi 2]. EGC. 1998. hlm. 2, 8, 13, 14, 30. ISBN 9794484148.</ref> Kelenjar endokrin dapat berupa sel tunggal atau berupa organ multisel.<ref>Wiwi Isnaeni. [https://books.google.co.id/books?id=Rnz7DwAAQBAJ&pg=PA372&dq=sel+penyusun+neurohipofisis&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiDsqTX5u3sAhUz73MBHTz_D-wQ6AEwAHoECAYQAg#v=onepage&q=sel%20penyusun%20neurohipofisis&f=true Fisiologi Hewan. Edisi Revisi]. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.</ref> Sistem endokrin terdiri dari beberapa kelenjar di antaranya adalah [[hipotalamus]], [[hipofisis]], [[pankreas]], [[Kelenjar adrenal|adrenal]], [[Kelenjar tiroid|tiroid]], [[Kelenjar paratiroid|paratiroid]], [[ovarium]], [[testis]], serta [[timus]]. Kelenjar hipotalamus dan hipofisis merupakan kelenjar neuroendokrin.<ref>Nixson Manurung. [https://books.google.co.id/books?id=pYI9DwAAQBAJ&printsec=frontcover&dq=sistem+endokrin+adalah&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjDq92X9aztAhVPbn0KHdXDAvUQ6AEwAHoECAQQAg#v=onepage&q=sistem%20endokrin%20adalah&f=true Asuhan Keperawatan Sistem Endokrin Dilengkapi Mind Mapping dan Asuhan Keperawatan Nanda Nic Noc]. Deepublish. 2017. hlm. 1, 3, 6, 7. ISBN 978-602-453-342-7.</ref><ref>Deswaty Furqonita. [https://books.google.co.id/books?id=jZqQh9UHAnMC&pg=PA64&dq=kelenjar+endokrin&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwj7mtK-75rtAhUWA3IKHcVJDXo4ChDoATAAegQIABAC#v=onepage&q=kelenjar%20endokrin&f=true Seri IPA Biologi 3 SMP Kelas IX]. Yudhistira. 2007. hlm. 63, 64, 66, 68, 69. ISBN 978-979-746-790-6.</ref> Kelenjar timus berperan signifikan selama masa pertumbuhan dalam perkembangan imunitas, dan ketika dewasa fungsinya menjadi tidak signifikan.<ref>Bryan Broom. [https://books.google.co.id/books?id=IqbomPcxnjAC&pg=PP1&dq=Anatomi+Fisiologi+Kelenjar+Endokrin+dan+Sistem+Persarafan.+Edisi+2&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwivvK7Xu6TtAhVRg-YKHetmAzQQ6AEwAHoECAUQAg#v=onepage&q=Anatomi%20Fisiologi%20Kelenjar%20Endokrin%20dan%20Sistem%20Persarafan.%20Edisi%202&f=false Anatomi Fisiologi Kelenjar Endokrin dan Sistem Persarafan. Edisi 2]. EGC. 1998. hlm. 2, 8, 13, 14, 30. ISBN 9794484148.</ref> Hormon ''thymic'' yang dihasilkan kelenjar timus berperan untuk memengaruhi perkembangan sel limfosit B menjadi sel plasma, yaitu sel penghasil antibodi.<ref>Wiwi Isnaeni. [https://books.google.co.id/books?id=Rnz7DwAAQBAJ&pg=PA372&dq=sel+penyusun+neurohipofisis&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiDsqTX5u3sAhUz73MBHTz_D-wQ6AEwAHoECAYQAg#v=onepage&q=sel%20penyusun%20neurohipofisis&f=true Fisiologi Hewan. Edisi Revisi]. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.</ref> [[Kelenjar pineal]] mensekresikan hormon melatonin, dan sebagian besar fungsinya berkaitan dengan ritme biologis.<ref>Neil A. Campbell. [https://books.google.co.id/books?id=x9OOphMNmxwC&printsec=copyright&source=gbs_pub_info_r#v=onepage&q&f=true Biologi. Jilid 3 Edisi 5]. Erlangga. 2004. hlm. 129, 139. ISBN 9796884704.</ref> | |||
{| class="wikitable" | |||
|+Kelenjar Endokrin dan Hormon yang dihasilkan. | |||
! colspan="2" |Kelenjar | |||
!Hormon yang dihasilkan | |||
! | |||
|- | |||
| colspan="2" |[[Hipotalamus]] | |||
|''Corticotropin Releasing Hormone'' (CRH), | |||
''Gonadotropin Releasing Hormone'' (GnRH), | |||
''Tryrotropin Releasing Hormone'' (TRH), | |||
''Growth Hormone Releasing Hormone'' (GHRH), | |||
''Prolactin Inhibitory Factor'' / [[Dopamin]] | |||
''Somatostatin'' (SS) | |||
| rowspan="5" |<ref>Katrin Roosita. [https://books.google.co.id/books?id=Wqn7DwAAQBAJ&pg=PA59&dq=definisi+endokrin&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwi46brOpO3sAhWLf30KHQyXB9kQ6AEwBHoECAMQAg#v=onepage&q=definisi%20endokrin&f=true Fisiologi Manusia]. IPB Press. 2016. hlm. 65, 68. ISBN 9789794939826.</ref> | |||
|- | |||
| rowspan="9" |[[Hipofisis]] | |||
(Pituitari) | |||
| rowspan="6" |Adenohipofisis | |||
(Pituitari anterior) | |||
|''Thyroid Stimulating Hormone'' (TSH) / [[Tirotropin|Tirotopin]] | |||
|- | |||
|''[[Adrenocorticotropin|Adrenocorticotropin Hormone]]'' (ACTH) / Corticotropin | |||
|- | |||
|''[[Hormon pelutein|Luteinizing Hormone]]'' (LH) / ''Interstitial Cell Stimulating Hormone'' (ICSH) | |||
|- | |||
|''[[Hormon perangsang folikel|Follicle Stimulating Hormone]]'' (FSH) | |||
|- | |||
|''[[Somatotropin|Somatotropin Hormone]] / Growth Hormone'' (GH) | |||
| rowspan="8" |<ref>Deswaty Furqonita. [https://books.google.co.id/books?id=jZqQh9UHAnMC&pg=PA64&dq=kelenjar+endokrin&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwj7mtK-75rtAhUWA3IKHcVJDXo4ChDoATAAegQIABAC#v=onepage&q=kelenjar%20endokrin&f=true Seri IPA Biologi 3 SMP Kelas IX]. Yudhistira. 2007. hlm. 63, 64, 66, 68, 69. ISBN 978-979-746-790-6.</ref> | |||
|- | |||
|[[Prolaktin]] (PRL) | |||
|- | |||
|Hipofisis bagian Tengah | |||
(Lobus intermediate) | |||
|''Melanotropin Stimulating Hormone'' (MSH) | |||
|- | |||
| rowspan="2" |Neurohipofisis | |||
(Pituitari posterior) | |||
|''[[Vasopresin|Antidiuretic Hormone / Vasopresin]]'' | |||
|- | |||
|[[Oksitosin]] | |||
|- | |||
| colspan="2" |[[Kelenjar tiroid|Tiroid]] | |||
|[[Tiroksin]] (T4), [[Tri-iodotironina|Triiodotrionin]] (T3) dan [[Kalsitonin]] | |||
|- | |||
| colspan="2" |Paratiroid | |||
|Parathormon (PTH) | |||
|- | |||
|Pankreas | |||
|[[Pulau pankreas|Pulau-pulau Langerhans]] | |||
|[[Insulin]] dan [[Glukagon]] | |||
|- | |||
| rowspan="2" |[[Kelenjar adrenal|Adrenal]] | |||
|Korteks adrenal | |||
|[[Kortisol]] dan [[Aldosteron]] | |||
|<ref>Bryan Broom. [https://books.google.co.id/books?id=IqbomPcxnjAC&pg=PP1&dq=Anatomi+Fisiologi+Kelenjar+Endokrin+dan+Sistem+Persarafan.+Edisi+2&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwivvK7Xu6TtAhVRg-YKHetmAzQQ6AEwAHoECAUQAg#v=onepage&q=Anatomi%20Fisiologi%20Kelenjar%20Endokrin%20dan%20Sistem%20Persarafan.%20Edisi%202&f=false Anatomi Fisiologi Kelenjar Endokrin dan Sistem Persarafan. Edisi 2]. EGC. 1998. hlm. 2, 8, 13, 14, 30. ISBN 9794484148.</ref> | |||
|- | |||
|Medula adrenal | |||
|[[Adrenalin]] | |||
| rowspan="3" |<ref>Deswaty Furqonita. [https://books.google.co.id/books?id=jZqQh9UHAnMC&pg=PA64&dq=kelenjar+endokrin&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwj7mtK-75rtAhUWA3IKHcVJDXo4ChDoATAAegQIABAC#v=onepage&q=kelenjar%20endokrin&f=true Seri IPA Biologi 3 SMP Kelas IX]. Yudhistira. 2007. hlm. 63, 64, 66, 68, 69. ISBN 978-979-746-790-6.</ref> | |||
|- | |||
| colspan="2" |[[Ovarium]] | |||
|[[Estrogen]], [[Progesteron]], dan Relaksin | |||
|- | |||
| colspan="2" |[[Testis]] | |||
|[[Testosteron]] | |||
|- | |||
| colspan="2" |[[Timus]] | |||
|''Hormon thymic'' (''thymopoetin, timosin'') | |||
|<ref>Bryan Broom. [https://books.google.co.id/books?id=IqbomPcxnjAC&pg=PP1&dq=Anatomi+Fisiologi+Kelenjar+Endokrin+dan+Sistem+Persarafan.+Edisi+2&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwivvK7Xu6TtAhVRg-YKHetmAzQQ6AEwAHoECAUQAg#v=onepage&q=Anatomi%20Fisiologi%20Kelenjar%20Endokrin%20dan%20Sistem%20Persarafan.%20Edisi%202&f=false Anatomi Fisiologi Kelenjar Endokrin dan Sistem Persarafan. Edisi 2]. EGC. 1998. hlm. 2, 8, 13, 14, 30. ISBN 9794484148.</ref><ref>Pat Willmer. [https://books.google.co.id/books?id=r9gvbjRFyRgC&printsec=frontcover&dq=kelenjar+hormon+reptil&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwijydqPgqLtAhUUOSsKHfR-D0I4ChDoATAGegQIBhAC#v=onepage&q&f=true Environmental Physiology of Animals 2nd Edition]. Blackwell Publishing. 2005. hlm. 347-349, 352-360. ISBN 978-1-4443-0922-5.</ref> | |||
|- | |||
| colspan="2" |Pineal | |||
|[[Melatonin]] | |||
|<ref>Neil A. Campbell. [https://books.google.co.id/books?id=x9OOphMNmxwC&printsec=copyright&source=gbs_pub_info_r#v=onepage&q&f=true Biologi. Jilid 3 Edisi 5]. Erlangga. 2004. hlm. 129, 139. ISBN 9796884704.</ref> | |||
|} | |||
Kelenjar endokrin lain yang mensekresikan hormon atau senyawa menyerupai hormon, antara lain: | Kelenjar endokrin lain yang mensekresikan hormon atau senyawa menyerupai hormon, antara lain: | ||
* Saluran pencernaan (Usus) : [[Gastrin]], Sekretin, CCK (''cholecystokinin''), ''gastric-inhibitory peptide'' (GIP), ''pancreatic polypeptide'', ''motilin, neurotensin, enteroglucagon.'' | * Saluran pencernaan (Usus) : [[Gastrin]], Sekretin, CCK (''cholecystokinin''), ''gastric-inhibitory peptide'' (GIP), ''pancreatic polypeptide'', ''motilin, neurotensin, enteroglucagon.'' | ||
* Ginjal : [[Renin]], Eritropoietin, [[Prostaglandin]], ''nitric oxide'', dan ''endothelin''. | * Ginjal : [[Renin]], Eritropoietin, [[Prostaglandin]], ''nitric oxide'', dan ''endothelin''.<ref>Pat Willmer. [https://books.google.co.id/books?id=r9gvbjRFyRgC&printsec=frontcover&dq=kelenjar+hormon+reptil&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwijydqPgqLtAhUUOSsKHfR-D0I4ChDoATAGegQIBhAC#v=onepage&q&f=true Environmental Physiology of Animals 2nd Edition]. Blackwell Publishing. 2005. hlm. 347-349, 352-360. ISBN 978-1-4443-0922-5.</ref> | ||
=== Sel-Sel === | === Sel-Sel === | ||
Pada sistem endokrin terdapat berbagai macam tipe sel yang berperan dalam menghasilkan hormon-hormon dan merupakan bagian penyusun dari suatu jaringan dan organ di dalam sistem endokrin. Sel-sel penyusun organ endokrin dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sel neurosekretori dan sel endokrin sejati. Sel neurosekretori adalah sel yang berbentuk seperti saraf, tetapi berfungsi sebagai penghasil hormon. Contohnya ialah sel saraf pada hipotalamus, yang menunjukkan fungsi endokrin sehingga dapat disebut sebagai sel neuroendokrin. Sesungguhnya, semua sel yang dapat menghasilkan sekret disebut sebagai sel sekretori. Oleh karena itu, sel saraf yang terdapat pada hipotalamus disebut sel neurosekretori. Sedangkan sel endokrin yang benar-benar berfungsi sebagai penghasil hormon dan tidak memiliki bentuk seperti sel saraf disebut sel endokrin sejati. | Pada sistem endokrin terdapat berbagai macam tipe sel yang berperan dalam menghasilkan hormon-hormon dan merupakan bagian penyusun dari suatu jaringan dan organ di dalam sistem endokrin. Sel-sel penyusun organ endokrin dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sel neurosekretori dan sel endokrin sejati. Sel neurosekretori adalah sel yang berbentuk seperti saraf, tetapi berfungsi sebagai penghasil hormon. Contohnya ialah sel saraf pada hipotalamus, yang menunjukkan fungsi endokrin sehingga dapat disebut sebagai sel neuroendokrin. Sesungguhnya, semua sel yang dapat menghasilkan sekret disebut sebagai sel sekretori. Oleh karena itu, sel saraf yang terdapat pada hipotalamus disebut sel neurosekretori. Sedangkan sel endokrin yang benar-benar berfungsi sebagai penghasil hormon dan tidak memiliki bentuk seperti sel saraf disebut sel endokrin sejati.<ref>Wiwi Isnaeni. [https://books.google.co.id/books?id=Rnz7DwAAQBAJ&pg=PA372&dq=sel+penyusun+neurohipofisis&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiDsqTX5u3sAhUz73MBHTz_D-wQ6AEwAHoECAYQAg#v=onepage&q=sel%20penyusun%20neurohipofisis&f=true Fisiologi Hewan. Edisi Revisi]. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.</ref> | ||
# [[Hipotalamus]] | # [[Hipotalamus]] | ||
| Baris 65: | Baris 141: | ||
#** '''Kromofob''' yang menyerap warna sangat sedikit dan bergranula halus, merupakan sel-sel cadangan atau dalam keadaan istirahat; | #** '''Kromofob''' yang menyerap warna sangat sedikit dan bergranula halus, merupakan sel-sel cadangan atau dalam keadaan istirahat; | ||
#** '''Basofil''' yang berwarna biru atau ungu, merupakan kelompok sel yang mensekresikan hormon adrenokortikotrofik, gonadotropin, dan ''tiroid stimulating hormone'' (TSH); | #** '''Basofil''' yang berwarna biru atau ungu, merupakan kelompok sel yang mensekresikan hormon adrenokortikotrofik, gonadotropin, dan ''tiroid stimulating hormone'' (TSH); | ||
#** '''Asidofil''' yang berwarna merah atau oranye, adalah kelompok sel terbanyak yang menghasilkan ''growth hormone /'' somatotropin dan prolaktin. | #** '''Asidofil''' yang berwarna merah atau oranye, adalah kelompok sel terbanyak yang menghasilkan ''growth hormone /'' somatotropin dan prolaktin.<ref>Pudji Astuti. [https://books.google.co.id/books?id=Lm9nDwAAQBAJ&printsec=frontcover&dq=9789794209189&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjK7PORu6TtAhVNILcAHQH4BM8Q6AEwAHoECAAQAg#v=onepage&q=9789794209189&f=false Endokrinologi Veteriner]. UGM Press. 2017. hlm. 39, 50, 51. ISBN 9789794209189.</ref> | ||
#* Secara histologis, sel-sel [[Hipofisis|kelenjar hipofisis]] dikelompokkan berdasarkan jenis hormon yang disekresi yaitu: | #* Secara histologis, sel-sel [[Hipofisis|kelenjar hipofisis]] dikelompokkan berdasarkan jenis hormon yang disekresi yaitu: | ||
#** '''Sel-sel somatotrof''' berbentuk besar dan mengandung granula sekretori, yang menghasilkan somatotropin; | #** '''Sel-sel somatotrof''' berbentuk besar dan mengandung granula sekretori, yang menghasilkan somatotropin; | ||
| Baris 71: | Baris 147: | ||
#** '''Sel-sel tirotrof''' berbentuk polihedral dan bergranula sekretoris, menghasilkan TSH; | #** '''Sel-sel tirotrof''' berbentuk polihedral dan bergranula sekretoris, menghasilkan TSH; | ||
#** '''Sel-sel gonadotrof''' bergranula sekretoris, menghasilkan FSH dan LH; | #** '''Sel-sel gonadotrof''' bergranula sekretoris, menghasilkan FSH dan LH; | ||
#** '''Sel-sel kortikotrof''' merupakan granula terbesar yang menghasilkan ACTH. | #** '''Sel-sel kortikotrof''' merupakan granula terbesar yang menghasilkan ACTH.<ref>Nixson Manurung. [https://books.google.co.id/books?id=pYI9DwAAQBAJ&printsec=frontcover&dq=sistem+endokrin+adalah&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjDq92X9aztAhVPbn0KHdXDAvUQ6AEwAHoECAQQAg#v=onepage&q=sistem%20endokrin%20adalah&f=true Asuhan Keperawatan Sistem Endokrin Dilengkapi Mind Mapping dan Asuhan Keperawatan Nanda Nic Noc]. Deepublish. 2017. hlm. 1, 3, 6, 7. ISBN 978-602-453-342-7.</ref> | ||
# [[Kelenjar tiroid|Tiroid]] | # [[Kelenjar tiroid|Tiroid]] | ||
#* '''Sel-sel folikular''' berfungsi mensintesis hormon [[tiroksin]] (T<sub>4</sub> ) dan ''[[Tri-iodotironina|triiodontironin]]'' (T<sub>3</sub> ); | #* '''Sel-sel folikular''' berfungsi mensintesis hormon [[tiroksin]] (T<sub>4</sub> ) dan ''[[Tri-iodotironina|triiodontironin]]'' (T<sub>3</sub> ); | ||
#* '''Sel-sel C''' berperan untuk mensintesis [[kalsitonin]] . | #* '''Sel-sel C''' berperan untuk mensintesis [[kalsitonin]] .<ref>George H. Fried. [https://books.google.co.id/books?id=1dlZZkx_pYoC&pg=PA245&dq=sel+sel+tiroid&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjDgqKQ1O3sAhXRWisKHQYfAlsQ6AEwAXoECAIQAg#v=onepage&q=sel%20sel%20tiroid&f=true Schaum's Outline Biologi Ed.2]. Erlangga. 2006. hlm. 244, 245. ISBN 9789797817138.</ref> | ||
# [[Paratiroid]] | # [[Paratiroid]] | ||
#* '''Sel-sel utama''' (''chief cells'' ) mensekresikan parathormon. | #* '''Sel-sel utama''' (''chief cells'' ) mensekresikan parathormon.<ref>George H. Fried. [https://books.google.co.id/books?id=1dlZZkx_pYoC&pg=PA245&dq=sel+sel+tiroid&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjDgqKQ1O3sAhXRWisKHQYfAlsQ6AEwAXoECAIQAg#v=onepage&q=sel%20sel%20tiroid&f=true Schaum's Outline Biologi Ed.2]. Erlangga. 2006. hlm. 244, 245. ISBN 9789797817138.</ref> | ||
# [[Pulau pankreas|Pulau-pulau Langerhans]] (Pankreas) | # [[Pulau pankreas|Pulau-pulau Langerhans]] (Pankreas) | ||
#* '''Sel ''alpha''''' menghasilkan hormon glukagon; | #* '''Sel ''alpha''''' menghasilkan hormon glukagon; | ||
#* '''Sel ''beta''''' menghasilkan hormon insulin; | #* '''Sel ''beta''''' menghasilkan hormon insulin;<ref>Daniel S. Wibowo. [https://books.google.co.id/books?id=CRkSw4KFhoIC&pg=PA94&dq=pulau+langerhans&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjfzsj00e3sAhXBgeYKHf_ACSwQ6AEwBHoECAAQAg#v=onepage&q=pulau%20langerhans&f=false Anatomi Tubuh Manusia]. Grasindo. 2008. hlm. 94. ISBN 9789797328887.</ref> | ||
#* '''Sel ''delta''''' menghasilkan somatostatin dalam jumlah kecil. | #* '''Sel ''delta''''' menghasilkan somatostatin dalam jumlah kecil.<ref>George H. Fried. [https://books.google.co.id/books?id=1dlZZkx_pYoC&pg=PA245&dq=sel+sel+tiroid&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjDgqKQ1O3sAhXRWisKHQYfAlsQ6AEwAXoECAIQAg#v=onepage&q=sel%20sel%20tiroid&f=true Schaum's Outline Biologi Ed.2]. Erlangga. 2006. hlm. 244, 245. ISBN 9789797817138.</ref> | ||
# [[Kelenjar adrenal|Adrenal]] terdiri dari bagian '''medula adrenal''' yang berasal dari jaringan saraf primitif, dan '''korteks adrenal''' berasal dari jaringan mesodermis, dan dapat diidentifikasi tiga zona jaringan terpisah, yaitu: | # [[Kelenjar adrenal|Adrenal]] terdiri dari bagian '''medula adrenal''' yang berasal dari jaringan saraf primitif, dan '''korteks adrenal''' berasal dari jaringan mesodermis, dan dapat diidentifikasi tiga zona jaringan terpisah, yaitu: | ||
#* '''zona glomerulosa''' terbentuk dari sekelompok sel-sel kecil yang mensekresi [[mineralokortikoid]] ; | #* '''zona glomerulosa''' terbentuk dari sekelompok sel-sel kecil yang mensekresi [[mineralokortikoid]] ; | ||
#* '''zona fasikulata''' tersusun atas ''sel-sel kolumna'' yang mensekresi [[glukokortikoid]] (dan sebagian hormon seks); | #* '''zona fasikulata''' tersusun atas ''sel-sel kolumna'' yang mensekresi [[glukokortikoid]] (dan sebagian hormon seks); | ||
#* '''zona retikularis''' terdiri atas massa kecil ''sel-sel kromafin'' dengan sinus-sinus vena di antaranya. | #* '''zona retikularis''' terdiri atas massa kecil ''sel-sel kromafin'' dengan sinus-sinus vena di antaranya.<ref>Bryan Broom. [https://books.google.co.id/books?id=IqbomPcxnjAC&pg=PP1&dq=Anatomi+Fisiologi+Kelenjar+Endokrin+dan+Sistem+Persarafan.+Edisi+2&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwivvK7Xu6TtAhVRg-YKHetmAzQQ6AEwAHoECAUQAg#v=onepage&q=Anatomi%20Fisiologi%20Kelenjar%20Endokrin%20dan%20Sistem%20Persarafan.%20Edisi%202&f=false Anatomi Fisiologi Kelenjar Endokrin dan Sistem Persarafan. Edisi 2]. EGC. 1998. hlm. 2, 8, 13, 14, 30. ISBN 9794484148.</ref> | ||
# [[Ovarium]] | # [[Ovarium]] | ||
#* '''Sel teka''' di sekeliling folikel ovarium yang pecah diubah menjadi '''''[[korpus luteum]]''''' yang mensintesis [[progesteron]] ; | #* '''Sel teka''' di sekeliling folikel ovarium yang pecah diubah menjadi '''''[[korpus luteum]]''''' yang mensintesis [[progesteron]] ; | ||
#* '''Sel granulosa''' mensintesis hormon [[estrogen]] . | #* '''Sel granulosa''' mensintesis hormon [[estrogen]] .<ref>Linda J. Heffner. [https://books.google.co.id/books?id=t46O5s5O-bYC&pg=PA12&dq=sel+penghasil+testosteron&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiL1PTl3O3sAhXGILcAHZmNAXwQ6AEwBHoECAEQAg#v=onepage&q=sel%20penghasil%20testosteron&f=true At a Glance Sistem Reproduksi Ed.2]. Erlangga. 2010. hlm. 13, 14.</ref> | ||
# [[Testis]] | # [[Testis]] | ||
#* '''[[Sel Leydig]]''' berfungsi untuk memproduksi [[testosteron]] . | #* '''[[Sel Leydig]]''' berfungsi untuk memproduksi [[testosteron]] .<ref>Linda J. Heffner. [https://books.google.co.id/books?id=t46O5s5O-bYC&pg=PA12&dq=sel+penghasil+testosteron&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiL1PTl3O3sAhXGILcAHZmNAXwQ6AEwBHoECAEQAg#v=onepage&q=sel%20penghasil%20testosteron&f=true At a Glance Sistem Reproduksi Ed.2]. Erlangga. 2010. hlm. 13, 14.</ref> | ||
== Penyakit dan Kelainan == | == Penyakit dan Kelainan == | ||
=== Kelenjar Hipofisis === | === Kelenjar Hipofisis === | ||
* [[Hipopituitarisme]] paling sering disebabkan oleh [[adenoma]] nonfungsional (kromofob). Menyebabkan defisiensi sekresi GH, FSH, LD pada saat awal, disusul defisiensi sekresi TSH dan ACTH. Pada penderita anak-anak menyebabkan infatilisme hipofisis (kurcaci Peter Pan - kecil tetapi terbentuk dengan baik dengan proporsi tepat).<ref>David Rubenstein. [https://books.google.co.id/books?id=lhDl8_eIsiEC&pg=PA161&dq=endokrinologi+kedokteran&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwieseq59JDtAhULfX0KHfOGAJoQ6AEwBnoECAgQAg#v=onepage&q=endokrinologi%20kedokteran&f=true Kedokteran Klinis Ed. 6]. Erlangga. 2007. hlm. 161, 165, 170-176. ISBN 978-979-781-823-4.</ref> | |||
* [[Hipopituitarisme]] paling sering disebabkan oleh [[adenoma]] nonfungsional (kromofob). Menyebabkan defisiensi sekresi GH, FSH, LD pada saat awal, disusul defisiensi sekresi TSH dan ACTH. Pada penderita anak-anak menyebabkan infatilisme hipofisis (kurcaci Peter Pan - kecil tetapi terbentuk dengan baik dengan proporsi tepat). | * [[Hiperpituitarisme]] disebabkan oleh adenoma hipofisis. Adenoma ini hampir selalu mengeluarkan hormon sehingga sering disebut ''functioning tumor'', seperti ''Prolactin-secreting tumor'' atau prolaktinoma'', Somatotroph tumors'' (hipersekresi GH)'','' dan ''Corticotroph tumors'' (sekresi ACTH).<ref>Mary Baradero. [https://books.google.co.id/books?id=vfRE-V2JlRMC&pg=PA51&dq=goiter+adalah&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjH4YDIrZXtAhUST30KHWiiAOwQ6AEwAHoECAIQAg#v=onepage&q=goiter%20adalah&f=true Klien Gangguan Endokrin Seri Asuhan keperawatan]. EGC. 2005. hlm. 2, 50, 51. ISBN 978-979-448-950-5.</ref> | ||
* [[Hiperpituitarisme]] disebabkan oleh adenoma hipofisis. Adenoma ini hampir selalu mengeluarkan hormon sehingga sering disebut ''functioning tumor'', seperti ''Prolactin-secreting tumor'' atau prolaktinoma'', Somatotroph tumors'' (hipersekresi GH)'','' dan ''Corticotroph tumors'' (sekresi ACTH). | * [[Akromegali]] disebabkan oleh hormon pertumbuhan (GH) yang berlebihan pada orang dewasa di usia 20-40 tahun (setelah penyatuan epifisis), sedangkan pada anak-anak menyebabkan [[gigantisme]]. Hormon GH yang berlebihan menyebabkan pertumbuhan yang berlebih pada jaringan lunak, termasuk kulit, lidah dan visera serta tulang.<ref>David Rubenstein. [https://books.google.co.id/books?id=lhDl8_eIsiEC&pg=PA161&dq=endokrinologi+kedokteran&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwieseq59JDtAhULfX0KHfOGAJoQ6AEwBnoECAgQAg#v=onepage&q=endokrinologi%20kedokteran&f=true Kedokteran Klinis Ed. 6]. Erlangga. 2007. hlm. 161, 165, 170-176. ISBN 978-979-781-823-4.</ref> | ||
* [[Akromegali]] disebabkan oleh hormon pertumbuhan (GH) yang berlebihan pada orang dewasa di usia 20-40 tahun (setelah penyatuan epifisis), sedangkan pada anak-anak menyebabkan [[gigantisme]]. Hormon GH yang berlebihan menyebabkan pertumbuhan yang berlebih pada jaringan lunak, termasuk kulit, lidah dan visera serta tulang. | * Penyakit [[Diabetes insipidus]] disebakan oleh defisiensi vasopresin (ADH) yang disekresikan oleh hipofisis posterior.<ref>David Rubenstein. [https://books.google.co.id/books?id=lhDl8_eIsiEC&pg=PA161&dq=endokrinologi+kedokteran&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwieseq59JDtAhULfX0KHfOGAJoQ6AEwBnoECAgQAg#v=onepage&q=endokrinologi%20kedokteran&f=true Kedokteran Klinis Ed. 6]. Erlangga. 2007. hlm. 161, 165, 170-176. ISBN 978-979-781-823-4.</ref> | ||
* Penyakit [[Diabetes insipidus]] disebakan oleh defisiensi vasopresin (ADH) yang disekresikan oleh hipofisis posterior. | |||
=== Kelenjar Tiroid === | === Kelenjar Tiroid === | ||
* Penyakit yang umum diketahui pada kelenjar tiroid adalah gondok/goiter. [[Gondok]] adalah pembesaran kelenjar tiroid yang disebabkan oleh meningkatnya sekresi ''thyroid-stimulating hormone'' (TSH) sekunder akibat berkurangnya output hormon tiroid. Hal ini dapat terjadi karena defisiensi iodium.<ref>David Rubenstein. [https://books.google.co.id/books?id=lhDl8_eIsiEC&pg=PA161&dq=endokrinologi+kedokteran&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwieseq59JDtAhULfX0KHfOGAJoQ6AEwBnoECAgQAg#v=onepage&q=endokrinologi%20kedokteran&f=true Kedokteran Klinis Ed. 6]. Erlangga. 2007. hlm. 161, 165, 170-176. ISBN 978-979-781-823-4.</ref><ref>R. Gunawan Susilowarno. [https://books.google.co.id/books?id=VlzZ8I7saeEC&pg=PA281&dq=kelenjar+pineal&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiY9dehtJPtAhVv63MBHRAdA88Q6AEwBXoECAgQAg#v=onepage&q=kelenjar%20pineal&f=false Biologi SMA/MA Kls XI (Diknas)]. Grasindo. 2007. hlm. 285. ISBN 978-979-025-020-8.</ref> Defisiensi iodin akan berdampak pada menurunnya produksi hormon tiroid yang membuat kelenjar hipofisis meningkatkan sekresi TSH sebagai respons terhadap kurangnya hormon tiroid dalam darah (tidak ada umpan balik negatif), sehingga kelenjar tiroid akan membesar sebagai kompensasinya.<ref>Mary Baradero. [https://books.google.co.id/books?id=vfRE-V2JlRMC&pg=PA51&dq=goiter+adalah&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjH4YDIrZXtAhUST30KHWiiAOwQ6AEwAHoECAIQAg#v=onepage&q=goiter%20adalah&f=true Klien Gangguan Endokrin Seri Asuhan keperawatan]. EGC. 2005. hlm. 2, 50, 51. ISBN 978-979-448-950-5.</ref> | |||
* Penyakit yang umum diketahui pada kelenjar tiroid adalah gondok/goiter. [[Gondok]] adalah pembesaran kelenjar tiroid yang disebabkan oleh meningkatnya sekresi ''thyroid-stimulating hormone'' (TSH) sekunder akibat berkurangnya output hormon tiroid. Hal ini dapat terjadi karena defisiensi iodium. Defisiensi iodin akan berdampak pada menurunnya produksi hormon tiroid yang membuat kelenjar hipofisis meningkatkan sekresi TSH sebagai respons terhadap kurangnya hormon tiroid dalam darah (tidak ada umpan balik negatif), sehingga kelenjar tiroid akan membesar sebagai kompensasinya. | * [[Hipotiroidisme]] adalah status metabolik yang diakibatkan oleh kekurangan hormon tiroid, baik dalam bentuk T<sub>4</sub> atau T<sub>3.</sub> Faktor yang menyebabkan adalah atrofi jaringan tiroid, hilangnya stimulasi trofik, dan lingkungan. Penderita hipotiroidisme bisa atau bisa juga tidak mengalami goiter. Gejala yang timbul adalah cepat lelah, letargi, dan merasa lemah untuk melakukan aktivitas sehari-hari.<ref>Mary Baradero. [https://books.google.co.id/books?id=vfRE-V2JlRMC&pg=PA51&dq=goiter+adalah&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjH4YDIrZXtAhUST30KHWiiAOwQ6AEwAHoECAIQAg#v=onepage&q=goiter%20adalah&f=true Klien Gangguan Endokrin Seri Asuhan keperawatan]. EGC. 2005. hlm. 2, 50, 51. ISBN 978-979-448-950-5.</ref> Jika penderita adalah anak-anak dapat mengakibatkan kekerdilan (kretinisme).<ref>Djoko Arisworo. [https://books.google.co.id/books?id=-uQaDf0X93IC&pg=PA58&dq=kelenjar+endokrin&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwj08Mi43pXtAhW0guYKHShZBYcQ6AEwA3oECAQQAg#v=onepage&q=kelenjar%20endokrin&f=true IPA Terpadu (Biologi, Kimia, Fisika) : Kelas IX. Jilid 3]. PT Grafindo Media Pratama. 2004. hlm. 58, 60, 61, 62. ISBN 978-979-758-331-6.</ref> | ||
* [[Hipotiroidisme]] adalah status metabolik yang diakibatkan oleh kekurangan hormon tiroid, baik dalam bentuk T<sub>4</sub> atau T<sub>3.</sub> Faktor yang menyebabkan adalah atrofi jaringan tiroid, hilangnya stimulasi trofik, dan lingkungan. Penderita hipotiroidisme bisa atau bisa juga tidak mengalami goiter. Gejala yang timbul adalah cepat lelah, letargi, dan merasa lemah untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Jika penderita adalah anak-anak dapat mengakibatkan kekerdilan (kretinisme). | * [[Hipertiroidisme|Hipertioridisme]] terjadi akibat kelebihan hormon tiroid (T<sub>4</sub> dan/atau T<sub>3</sub>). [[Penyakit Graves]] adalah bentuk hipertiroidisme yang paling umum.<ref>David Rubenstein. [https://books.google.co.id/books?id=lhDl8_eIsiEC&pg=PA161&dq=endokrinologi+kedokteran&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwieseq59JDtAhULfX0KHfOGAJoQ6AEwBnoECAgQAg#v=onepage&q=endokrinologi%20kedokteran&f=true Kedokteran Klinis Ed. 6]. Erlangga. 2007. hlm. 161, 165, 170-176. ISBN 978-979-781-823-4.</ref> Gejala yang timbul adalah peningkatan metabolisme, denyut jantung cepat, mudah gugup dan emosional.<ref>Djoko Arisworo. [https://books.google.co.id/books?id=-uQaDf0X93IC&pg=PA58&dq=kelenjar+endokrin&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwj08Mi43pXtAhW0guYKHShZBYcQ6AEwA3oECAQQAg#v=onepage&q=kelenjar%20endokrin&f=true IPA Terpadu (Biologi, Kimia, Fisika) : Kelas IX. Jilid 3]. PT Grafindo Media Pratama. 2004. hlm. 58, 60, 61, 62. ISBN 978-979-758-331-6.</ref> | ||
* [[Hipertiroidisme|Hipertioridisme]] terjadi akibat kelebihan hormon tiroid (T<sub>4</sub> dan/atau T<sub>3</sub>). [[Penyakit Graves]] adalah bentuk hipertiroidisme yang paling umum. Gejala yang timbul adalah peningkatan metabolisme, denyut jantung cepat, mudah gugup dan emosional. | * [[Tiroiditis]] adalah peradangan pada kelenjar tiroid. Tiroiditis bisa terjadi akut, subakut, dan kronis.<ref>Mary Baradero. [https://books.google.co.id/books?id=vfRE-V2JlRMC&pg=PA51&dq=goiter+adalah&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjH4YDIrZXtAhUST30KHWiiAOwQ6AEwAHoECAIQAg#v=onepage&q=goiter%20adalah&f=true Klien Gangguan Endokrin Seri Asuhan keperawatan]. EGC. 2005. hlm. 2, 50, 51. ISBN 978-979-448-950-5.</ref> Tiroiditis akut bisa sering timbul setelah infeksi saluran napas bagian atas atau infeksi mikroba lain.<ref>David Rubenstein. [https://books.google.co.id/books?id=lhDl8_eIsiEC&pg=PA161&dq=endokrinologi+kedokteran&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwieseq59JDtAhULfX0KHfOGAJoQ6AEwBnoECAgQAg#v=onepage&q=endokrinologi%20kedokteran&f=true Kedokteran Klinis Ed. 6]. Erlangga. 2007. hlm. 161, 165, 170-176. ISBN 978-979-781-823-4.</ref> Pada kondisi kronis yang paling sering ditemukan disebut sebagai tiroiditis autoimun, istilah yang ditujukan untuk gangguan kelenjar tiroid di mana terdapat antibodi tiroid bersikulasi dalam plasma, selain itu ditemukan sel-sel limfoid dan sel plasma yang berlebihan dalam kelenjar tiroid. [[Tiroiditis Hashimoto|Penyakit Hashimoto]] adalah keadaan di mana tiroiditis autoimun menyebabkan terbentuknya goiter nodular keras. Palpasi menunjukkan masa yang keras, licin, tidak nyeri, dan dapat digerakkan.<ref>Mary Baradero. [https://books.google.co.id/books?id=vfRE-V2JlRMC&pg=PA51&dq=goiter+adalah&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjH4YDIrZXtAhUST30KHWiiAOwQ6AEwAHoECAIQAg#v=onepage&q=goiter%20adalah&f=true Klien Gangguan Endokrin Seri Asuhan keperawatan]. EGC. 2005. hlm. 2, 50, 51. ISBN 978-979-448-950-5.</ref><ref>David Rubenstein. [https://books.google.co.id/books?id=lhDl8_eIsiEC&pg=PA161&dq=endokrinologi+kedokteran&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwieseq59JDtAhULfX0KHfOGAJoQ6AEwBnoECAgQAg#v=onepage&q=endokrinologi%20kedokteran&f=true Kedokteran Klinis Ed. 6]. Erlangga. 2007. hlm. 161, 165, 170-176. ISBN 978-979-781-823-4.</ref> | ||
* [[Tiroiditis]] adalah peradangan pada kelenjar tiroid. Tiroiditis bisa terjadi akut, subakut, dan kronis. Tiroiditis akut bisa sering timbul setelah infeksi saluran napas bagian atas atau infeksi mikroba lain. Pada kondisi kronis yang paling sering ditemukan disebut sebagai tiroiditis autoimun, istilah yang ditujukan untuk gangguan kelenjar tiroid di mana terdapat antibodi tiroid bersikulasi dalam plasma, selain itu ditemukan sel-sel limfoid dan sel plasma yang berlebihan dalam kelenjar tiroid. [[Tiroiditis Hashimoto|Penyakit Hashimoto]] adalah keadaan di mana tiroiditis autoimun menyebabkan terbentuknya goiter nodular keras. Palpasi menunjukkan masa yang keras, licin, tidak nyeri, dan dapat digerakkan. | |||
=== Kelenjar Adrenal === | === Kelenjar Adrenal === | ||
* Kadar glukokortikoid yang terlalu banyak akan mengakibatkan sekumpulan tanda dan gejala yang disebut [[sindrom Cushing]]. Sindrom Cushing primer terjadi ketika terlalu banyak produksi kortisol yang diakibatkan oleh adenoma atau karsinoma adrenal. Pada sindrom Cushing sekunder, produksi kortisol terlalu banyak yang diakibatkan oleh hyperplasia adrenal karena banyak seklai ACTH. Pada sindrom Cushing iatrogenic, kadar kortisol yang sangat tinggi sebagai akibat terapi glukokortikoid eksogen dalam dosis tinggi yang berlangsung lama.<ref>Mary Baradero. [https://books.google.co.id/books?id=vfRE-V2JlRMC&pg=PA51&dq=goiter+adalah&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjH4YDIrZXtAhUST30KHWiiAOwQ6AEwAHoECAIQAg#v=onepage&q=goiter%20adalah&f=true Klien Gangguan Endokrin Seri Asuhan keperawatan]. EGC. 2005. hlm. 2, 50, 51. ISBN 978-979-448-950-5.</ref> | |||
* Kadar glukokortikoid yang terlalu banyak akan mengakibatkan sekumpulan tanda dan gejala yang disebut [[sindrom Cushing]]. Sindrom Cushing primer terjadi ketika terlalu banyak produksi kortisol yang diakibatkan oleh adenoma atau karsinoma adrenal. Pada sindrom Cushing sekunder, produksi kortisol terlalu banyak yang diakibatkan oleh hyperplasia adrenal karena banyak seklai ACTH. Pada sindrom Cushing iatrogenic, kadar kortisol yang sangat tinggi sebagai akibat terapi glukokortikoid eksogen dalam dosis tinggi yang berlangsung lama. | * Aldosteronisme primer (Sindrom Conn) diakibatkan oleh hiperplasia adrenal bilateral (kedua adrenal) atau salah satu adrenal (unilateral) dengan adenoma yang menghasilkan aldosteron. Kelebihan sekresi aldosteron yang menstimulasi reabsorpsi natrium oleh tubula ginjal sebagai pengganti kalium dan hidrogen. Meningkatnya retensi natrium menyebabkan peningkatan retensi air sehingga volume cairan tubuh meningkat, yang bisa menimbulkan pembesaran pada ventrikel kiri dan retinopati.<ref>Mary Baradero. [https://books.google.co.id/books?id=vfRE-V2JlRMC&pg=PA51&dq=goiter+adalah&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjH4YDIrZXtAhUST30KHWiiAOwQ6AEwAHoECAIQAg#v=onepage&q=goiter%20adalah&f=true Klien Gangguan Endokrin Seri Asuhan keperawatan]. EGC. 2005. hlm. 2, 50, 51. ISBN 978-979-448-950-5.</ref> Aldosteronisme sekunder diakibatkan oleh adanya penyebab eksogen yang merangsang sistem renin-angiostensin-aldosteron. Sekresi renin yang meningkat disebabkan oleh berkurangnya perfusi ginjal.<ref>Mary Baradero. [https://books.google.co.id/books?id=vfRE-V2JlRMC&pg=PA51&dq=goiter+adalah&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjH4YDIrZXtAhUST30KHWiiAOwQ6AEwAHoECAIQAg#v=onepage&q=goiter%20adalah&f=true Klien Gangguan Endokrin Seri Asuhan keperawatan]. EGC. 2005. hlm. 2, 50, 51. ISBN 978-979-448-950-5.</ref> | ||
* Aldosteronisme primer (Sindrom Conn) diakibatkan oleh hiperplasia adrenal bilateral (kedua adrenal) atau salah satu adrenal (unilateral) dengan adenoma yang menghasilkan aldosteron. Kelebihan sekresi aldosteron yang menstimulasi reabsorpsi natrium oleh tubula ginjal sebagai pengganti kalium dan hidrogen. Meningkatnya retensi natrium menyebabkan peningkatan retensi air sehingga volume cairan tubuh meningkat, yang bisa menimbulkan pembesaran pada ventrikel kiri dan retinopati. Aldosteronisme sekunder diakibatkan oleh adanya penyebab eksogen yang merangsang sistem renin-angiostensin-aldosteron. Sekresi renin yang meningkat disebabkan oleh berkurangnya perfusi ginjal. | * [[Penyakit Addison]] disebabkan oleh kerusakan pada bagian korteks kelenjar adrenal dan berakibat pada menurunnya sekresi hormon adrenalin. Penyakit ini ditandai dengan kelelahan, nafsu makan berkurang, mual dan muntah-muntah, serta bercak-bercak merah pada kulit.<ref>Djoko Arisworo. [https://books.google.co.id/books?id=-uQaDf0X93IC&pg=PA58&dq=kelenjar+endokrin&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwj08Mi43pXtAhW0guYKHShZBYcQ6AEwA3oECAQQAg#v=onepage&q=kelenjar%20endokrin&f=true IPA Terpadu (Biologi, Kimia, Fisika) : Kelas IX. Jilid 3]. PT Grafindo Media Pratama. 2004. hlm. 58, 60, 61, 62. ISBN 978-979-758-331-6.</ref><ref>Diah Aryulina. [https://books.google.co.id/books?id=S29qVUvoU1oC&pg=PA267&dq=kelenjar+pineal&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiY9dehtJPtAhVv63MBHRAdA88Q6AEwCXoECAQQAg#v=onepage&q=kelenjar%20pineal&f=true BIOLOGI SMA dan MA untuk Kelas XI : Jilid 2]. ESIS. 2004. hlm. 270-272. ISBN 978-979-734-550-1.</ref> | ||
* [[Penyakit Addison]] disebabkan oleh kerusakan pada bagian korteks kelenjar adrenal dan berakibat pada menurunnya sekresi hormon adrenalin. Penyakit ini ditandai dengan kelelahan, nafsu makan berkurang, mual dan muntah-muntah, serta bercak-bercak merah pada kulit. | |||
=== Kelenjar Pankreas === | === Kelenjar Pankreas === | ||
* [[Diabetes melitus]] disebabkan oleh defisiensi hormon insulin, yang ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa dalam darah. Gejala yang timbul adalah sering mengeluarkan urin dalam jumlah banyak, sering merasa haus dan lapar, serta badan terasa lemas.<ref>Diah Aryulina. [https://books.google.co.id/books?id=S29qVUvoU1oC&pg=PA267&dq=kelenjar+pineal&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiY9dehtJPtAhVv63MBHRAdA88Q6AEwCXoECAQQAg#v=onepage&q=kelenjar%20pineal&f=true BIOLOGI SMA dan MA untuk Kelas XI : Jilid 2]. ESIS. 2004. hlm. 270-272. ISBN 978-979-734-550-1.</ref> | |||
* [[Diabetes melitus]] disebabkan oleh defisiensi hormon insulin, yang ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa dalam darah. Gejala yang timbul adalah sering mengeluarkan urin dalam jumlah banyak, sering merasa haus dan lapar, serta badan terasa lemas. | |||
=== Neoplasia Endokrin Multipel / ''Multiple Endocrine Neoplasia'' (sindrom MEN) === | === Neoplasia Endokrin Multipel / ''Multiple Endocrine Neoplasia'' (sindrom MEN) === | ||
Terdapat dua sindrom dominan autosomal (kromosom 10) yang utama. Tumor berasal dari dua atau lebih jaringan endokrin (atau neural) dan menghasilkan hormon peptida. | Terdapat dua sindrom dominan autosomal (kromosom 10) yang utama. Tumor berasal dari dua atau lebih jaringan endokrin (atau neural) dan menghasilkan hormon peptida. | ||
* '''MEN tipe I''' : Kondisi ini mengacu pada adenoma jinak dari paratiroid, pulau-pulau Langerhans pancreas, dan hipofisis anterior. Tumor pada sel pulau menimbulkan efek sesuai sel asalnya: insulinoma ([[hipoglikemia]]), gastrinoma ([https://www.honestdocs.id/sindrom-zollinger-ellison sindrom Zollinger-Ellison]), glukagonoma ([[hiperglikemia]]), dan tumor yang mensekresi polipeptida usus vasoaktif. | * '''MEN tipe I''' : Kondisi ini mengacu pada adenoma jinak dari paratiroid, pulau-pulau Langerhans pancreas, dan hipofisis anterior. Tumor pada sel pulau menimbulkan efek sesuai sel asalnya: insulinoma ([[hipoglikemia]]), gastrinoma ([https://www.honestdocs.id/sindrom-zollinger-ellison sindrom Zollinger-Ellison]), glukagonoma ([[hiperglikemia]]), dan tumor yang mensekresi polipeptida usus vasoaktif.<ref>David Rubenstein. [https://books.google.co.id/books?id=lhDl8_eIsiEC&pg=PA161&dq=endokrinologi+kedokteran&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwieseq59JDtAhULfX0KHfOGAJoQ6AEwBnoECAgQAg#v=onepage&q=endokrinologi%20kedokteran&f=true Kedokteran Klinis Ed. 6]. Erlangga. 2007. hlm. 161, 165, 170-176. ISBN 978-979-781-823-4.</ref> | ||
* '''MEN tipe 2a''' : Kondisi ini mengacu pada hubungan antara kanker tiroid meduler (MTC) yang menghasilkan kalsitonin, feokromositoma, dan yang lebih jarang, adenoma atau hiperplasia paratiroid. | * '''MEN tipe 2a''' : Kondisi ini mengacu pada hubungan antara kanker tiroid meduler (MTC) yang menghasilkan kalsitonin, feokromositoma, dan yang lebih jarang, adenoma atau hiperplasia paratiroid.<ref>David Rubenstein. [https://books.google.co.id/books?id=lhDl8_eIsiEC&pg=PA161&dq=endokrinologi+kedokteran&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwieseq59JDtAhULfX0KHfOGAJoQ6AEwBnoECAgQAg#v=onepage&q=endokrinologi%20kedokteran&f=true Kedokteran Klinis Ed. 6]. Erlangga. 2007. hlm. 161, 165, 170-176. ISBN 978-979-781-823-4.</ref> | ||
* '''MEN tipe 2b''' : Kondisi ini mengacu pada hubungan yang sangat jarang terjadi antara gambaran tipe 2a dengan habitus Marfanoid, neuroma mukosa, dan divertikula kolon multiple disertai megakolon. | * '''MEN tipe 2b''' : Kondisi ini mengacu pada hubungan yang sangat jarang terjadi antara gambaran tipe 2a dengan habitus Marfanoid, neuroma mukosa, dan divertikula kolon multiple disertai megakolon.<ref>David Rubenstein. [https://books.google.co.id/books?id=lhDl8_eIsiEC&pg=PA161&dq=endokrinologi+kedokteran&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwieseq59JDtAhULfX0KHfOGAJoQ6AEwBnoECAgQAg#v=onepage&q=endokrinologi%20kedokteran&f=true Kedokteran Klinis Ed. 6]. Erlangga. 2007. hlm. 161, 165, 170-176. ISBN 978-979-781-823-4.</ref> | ||
== Sistem Endokrin pada Hewan lainnya == | == Sistem Endokrin pada Hewan lainnya == | ||
=== Sistem Endokrin pada Invertebrata === | === Sistem Endokrin pada Invertebrata === | ||
Kelenjar endokrin dapat ditemukan pada hewan yang mempunyai sistem sirkulasi, baik vertebrata maupun invertebrata. Hewan invertebrata yang sering menjadi objek studi endokrin adalah insekta, krustasea, sefalopoda, dan moluska. Sejumlah invertebrata tidak mempunyai organ khusus untuk sekresi hormon sehingga sekresinya dilaksanakan oleh sel neurosekretori. Sel neurosekretori dapat ditemukan di antaranya pada kelompok ''[[Coelenterata]], [[Platyhelminthes]],'' [[Annelida]], [[Nematoda]], dan [[Moluska]]. | Kelenjar endokrin dapat ditemukan pada hewan yang mempunyai sistem sirkulasi, baik vertebrata maupun invertebrata. Hewan invertebrata yang sering menjadi objek studi endokrin adalah insekta, krustasea, sefalopoda, dan moluska.<ref>Wiwi Isnaeni. [https://books.google.co.id/books?id=Rnz7DwAAQBAJ&pg=PA372&dq=sel+penyusun+neurohipofisis&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiDsqTX5u3sAhUz73MBHTz_D-wQ6AEwAHoECAYQAg#v=onepage&q=sel%20penyusun%20neurohipofisis&f=true Fisiologi Hewan. Edisi Revisi]. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.</ref> Sejumlah invertebrata tidak mempunyai organ khusus untuk sekresi hormon sehingga sekresinya dilaksanakan oleh sel neurosekretori. Sel neurosekretori dapat ditemukan di antaranya pada kelompok ''[[Coelenterata]], [[Platyhelminthes]],'' [[Annelida]], [[Nematoda]], dan [[Moluska]].<ref>Wiwi Isnaeni. [https://books.google.co.id/books?id=Rnz7DwAAQBAJ&pg=PA372&dq=sel+penyusun+neurohipofisis&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiDsqTX5u3sAhUz73MBHTz_D-wQ6AEwAHoECAYQAg#v=onepage&q=sel%20penyusun%20neurohipofisis&f=true Fisiologi Hewan. Edisi Revisi]. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.</ref> | ||
Kelenjar endokrin pada invertebrata cenderung berupa struktur yang sederhana, dengan jaringan amorfus melepaskan hormon langsung ke sirkulasi terbuka. Sistem kendali berupa akson neurosekretori melepaskan neuropeptida langsung menuju jaringan target. Hormon pada invertebrata lebih menitikberatkan pada regenerasi dan pertumbuhan, reproduksi (determinasi seksual dan aktivitas gonad), serta peran yang terbatas dalam sistem homeostatis. | Kelenjar endokrin pada invertebrata cenderung berupa struktur yang sederhana, dengan jaringan amorfus melepaskan hormon langsung ke sirkulasi terbuka. Sistem kendali berupa akson neurosekretori melepaskan neuropeptida langsung menuju jaringan target. Hormon pada invertebrata lebih menitikberatkan pada regenerasi dan pertumbuhan, reproduksi (determinasi seksual dan aktivitas gonad), serta peran yang terbatas dalam sistem homeostatis.<ref>Pat Willmer. [https://books.google.co.id/books?id=r9gvbjRFyRgC&printsec=frontcover&dq=kelenjar+hormon+reptil&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwijydqPgqLtAhUUOSsKHfR-D0I4ChDoATAGegQIBhAC#v=onepage&q&f=true Environmental Physiology of Animals 2nd Edition]. Blackwell Publishing. 2005. hlm. 347-349, 352-360. ISBN 978-1-4443-0922-5.</ref> | ||
Pada kelompok hewan terdapat juga Feromon. '''[[Feromon]]''' adalah suatu senyawa kimia spesifik yang dilepaskan oleh hewan ke lingkungannya, yang dapat menimbulkan respons perilaku, respons perkembangan, atau respons reproduktif pada individu lain. Senyawa kimia tersebut sangat bermanfaat bagi hewan untuk memberikan daya tarik seksual, menandai daerah kekuasaan, mengenali individu lain dalam spesies yang sama dan berperan penting dalam sinkronisasi siklus seksual. | Pada kelompok hewan terdapat juga Feromon. '''[[Feromon]]''' adalah suatu senyawa kimia spesifik yang dilepaskan oleh hewan ke lingkungannya, yang dapat menimbulkan respons perilaku, respons perkembangan, atau respons reproduktif pada individu lain. Senyawa kimia tersebut sangat bermanfaat bagi hewan untuk memberikan daya tarik seksual, menandai daerah kekuasaan, mengenali individu lain dalam spesies yang sama dan berperan penting dalam sinkronisasi siklus seksual.<ref>Wiwi Isnaeni. [https://books.google.co.id/books?id=Rnz7DwAAQBAJ&pg=PA372&dq=sel+penyusun+neurohipofisis&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiDsqTX5u3sAhUz73MBHTz_D-wQ6AEwAHoECAYQAg#v=onepage&q=sel%20penyusun%20neurohipofisis&f=true Fisiologi Hewan. Edisi Revisi]. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.</ref> | ||
==== Coelenterata ==== | ==== Coelenterata ==== | ||
''[[Hidra]],'' yang termasuk dalam golongan ini, mempunyai sejumlah sel yang mampu menghasilkan zat kimia yang berperan dalam proses reproduksi, pertumbuhan, dan regenerasi. Suatu molekul peptida yang disebut ''aktivator kepala'' akan dikeluarkan oleh tubuh Hidra ketika kepalanya terpotong. Zat tersebut menyebabkan sisa tubuhnya dapat membentuk mulut dan tentakel, dan selanjutnya membentuk daerah kepala.<ref>Wiwi Isnaeni. [https://books.google.co.id/books?id=Rnz7DwAAQBAJ&pg=PA372&dq=sel+penyusun+neurohipofisis&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiDsqTX5u3sAhUz73MBHTz_D-wQ6AEwAHoECAYQAg#v=onepage&q=sel%20penyusun%20neurohipofisis&f=true Fisiologi Hewan. Edisi Revisi]. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.</ref> | |||
''[[Hidra]],'' yang termasuk dalam golongan ini, mempunyai sejumlah sel yang mampu menghasilkan zat kimia yang berperan dalam proses reproduksi, pertumbuhan, dan regenerasi. Suatu molekul peptida yang disebut ''aktivator kepala'' akan dikeluarkan oleh tubuh Hidra ketika kepalanya terpotong. Zat tersebut menyebabkan sisa tubuhnya dapat membentuk mulut dan tentakel, dan selanjutnya membentuk daerah kepala. | |||
==== Platyhelminthes ==== | ==== Platyhelminthes ==== | ||
Hewan ini dapat menghasilkan hormon yang berperan penting dalam proses regenerasi, dan hormon tersebut juga terlibat dalam regulasi osmotik dan ionik, serta proses reproduksi. | Hewan ini dapat menghasilkan hormon yang berperan penting dalam proses regenerasi, dan hormon tersebut juga terlibat dalam regulasi osmotik dan ionik, serta proses reproduksi.<ref>Wiwi Isnaeni. [https://books.google.co.id/books?id=Rnz7DwAAQBAJ&pg=PA372&dq=sel+penyusun+neurohipofisis&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiDsqTX5u3sAhUz73MBHTz_D-wQ6AEwAHoECAYQAg#v=onepage&q=sel%20penyusun%20neurohipofisis&f=true Fisiologi Hewan. Edisi Revisi]. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.</ref> | ||
==== Nematoda ==== | ==== Nematoda ==== | ||
Sistem endokrin pada kelompok hewan ini merupakan struktur khusus yang berfungsi untuk sekresi neurohormon, yang berkaitan dengan sistem saraf. Struktur khusus tersebut terdapat pada anterior ganglion di daerah kepala dan beberapa di antaranya terdapat pada korda saraf, tetapi tidak ada organ neurohemal khusus. Fungsi utama neurohormon adalah kontrol ''molting''. | Sistem endokrin pada kelompok hewan ini merupakan struktur khusus yang berfungsi untuk sekresi neurohormon, yang berkaitan dengan sistem saraf. Struktur khusus tersebut terdapat pada anterior ganglion di daerah kepala dan beberapa di antaranya terdapat pada korda saraf, tetapi tidak ada organ neurohemal khusus. Fungsi utama neurohormon adalah kontrol ''molting''.<ref>Wiwi Isnaeni. [https://books.google.co.id/books?id=Rnz7DwAAQBAJ&pg=PA372&dq=sel+penyusun+neurohipofisis&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiDsqTX5u3sAhUz73MBHTz_D-wQ6AEwAHoECAYQAg#v=onepage&q=sel%20penyusun%20neurohipofisis&f=true Fisiologi Hewan. Edisi Revisi]. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.</ref><ref>Pat Willmer. [https://books.google.co.id/books?id=r9gvbjRFyRgC&printsec=frontcover&dq=kelenjar+hormon+reptil&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwijydqPgqLtAhUUOSsKHfR-D0I4ChDoATAGegQIBhAC#v=onepage&q&f=true Environmental Physiology of Animals 2nd Edition]. Blackwell Publishing. 2005. hlm. 347-349, 352-360. ISBN 978-1-4443-0922-5.</ref> | ||
==== Annelida ==== | ==== Annelida ==== | ||
Pada kelompok seperti [[Polychaeta|Polichaeta]], [[Oligochaeta]], dan [[Hirudinae]] sudah memiliki derajat sefalisasi yang memadai. Otak hewan tersebut memiliki sejumlah besar sel saraf yang berfungsi sebagai sel sekretori. Sistem sirkulasi pada kelompok ini juga telah berkembang sangat baik sehingga mampu mendukung penyelenggaraan sistem endokrin. Sistem endokrin Annelida berkaitan erat dengan aktivitas pertumbuhan, perkembangan, regenerasi, dan reproduksi. Salah satu proses yang dikendalikan oleh sistem neuroendokrin pada [[Polychaeta|Polichaeta]] adalah ''Epitoki.'' Dalam proses tersebut, beberapa ruas tubuh mengalami perubahan bentuk akan terlepas dari tubuh utamanya, dan berkembang menjadi organisme yang hidup bebas. Epitoki hanya akan berlangsung pada saat kadar hormon yang disekresi rendah, dan sekresinya dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Polichaeta mempunyai sel-sel neurosekretori di ganglia kepala, ganglia supraesofagial, dan berbagai ganglia di korda saraf, serta terdapat strujtur neurohemal di dasar otak yang menerima akson dari ganglia kepala. Neurohormon termasuk ''annetocin'' (berhubungan dengan hormon vasopressin di vertebrata) berperan penting dalam pertumbuhan, regenerasi, dan reproduksi pada annelida. Serta berimplikasi pada osmoregulasi dan keseimbangan glukosa. Organ neurohemal bernama kelenjar infraserebral diduga sebagai kelenjar endokrin sejati. Polichaeta juga memiliki hormon endokrin sejati yang berasal dari oosit immature, dan disebut "''feedback substance''" karena mencegah produksi sel telur berlebihan. | Pada kelompok seperti [[Polychaeta|Polichaeta]], [[Oligochaeta]], dan [[Hirudinae]] sudah memiliki derajat sefalisasi yang memadai. Otak hewan tersebut memiliki sejumlah besar sel saraf yang berfungsi sebagai sel sekretori. Sistem sirkulasi pada kelompok ini juga telah berkembang sangat baik sehingga mampu mendukung penyelenggaraan sistem endokrin. Sistem endokrin Annelida berkaitan erat dengan aktivitas pertumbuhan, perkembangan, regenerasi, dan reproduksi. Salah satu proses yang dikendalikan oleh sistem neuroendokrin pada [[Polychaeta|Polichaeta]] adalah ''Epitoki.'' Dalam proses tersebut, beberapa ruas tubuh mengalami perubahan bentuk akan terlepas dari tubuh utamanya, dan berkembang menjadi organisme yang hidup bebas. Epitoki hanya akan berlangsung pada saat kadar hormon yang disekresi rendah, dan sekresinya dipengaruhi oleh faktor lingkungan.<ref>Wiwi Isnaeni. [https://books.google.co.id/books?id=Rnz7DwAAQBAJ&pg=PA372&dq=sel+penyusun+neurohipofisis&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiDsqTX5u3sAhUz73MBHTz_D-wQ6AEwAHoECAYQAg#v=onepage&q=sel%20penyusun%20neurohipofisis&f=true Fisiologi Hewan. Edisi Revisi]. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.</ref> Polichaeta mempunyai sel-sel neurosekretori di ganglia kepala, ganglia supraesofagial, dan berbagai ganglia di korda saraf, serta terdapat strujtur neurohemal di dasar otak yang menerima akson dari ganglia kepala. Neurohormon termasuk ''annetocin'' (berhubungan dengan hormon vasopressin di vertebrata) berperan penting dalam pertumbuhan, regenerasi, dan reproduksi pada annelida. Serta berimplikasi pada osmoregulasi dan keseimbangan glukosa. Organ neurohemal bernama kelenjar infraserebral diduga sebagai kelenjar endokrin sejati. Polichaeta juga memiliki hormon endokrin sejati yang berasal dari oosit immature, dan disebut "''feedback substance''" karena mencegah produksi sel telur berlebihan.<ref>Pat Willmer. [https://books.google.co.id/books?id=r9gvbjRFyRgC&printsec=frontcover&dq=kelenjar+hormon+reptil&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwijydqPgqLtAhUUOSsKHfR-D0I4ChDoATAGegQIBhAC#v=onepage&q&f=true Environmental Physiology of Animals 2nd Edition]. Blackwell Publishing. 2005. hlm. 347-349, 352-360. ISBN 978-1-4443-0922-5.</ref> | ||
==== Moluska ==== | ==== Moluska ==== | ||
Moluska memiliki sejumlah besar sel neuroendokrin yang terletak pada ganglia penyusun sistem saraf pusat. Hewan ini juga memiliki organ endokrin klasik. Senyawa yang dilepaskan menyerupai protein dan berperan penting dalam mengendalikan osmoregulasi, pertumbuhan, serta reproduksi. Pada beberapa spesies hewan yang bersifat [[protandri]], ditemukan adanya hormon yang menstimulus pelepasan telur dari gonad dan pengeluaran telur dari tubuh. Pada [[Cephalopoda]], proses reproduksi dikendalikan oleh organ endokrin klasik, terutama kelenjar optik yang diduga menyekresi beberapa hormon yang diperlukan untuk perkembangan sperma dan telur. | Moluska memiliki sejumlah besar sel neuroendokrin yang terletak pada ganglia penyusun sistem saraf pusat. Hewan ini juga memiliki organ endokrin klasik. Senyawa yang dilepaskan menyerupai protein dan berperan penting dalam mengendalikan osmoregulasi, pertumbuhan, serta reproduksi. Pada beberapa spesies hewan yang bersifat [[protandri]], ditemukan adanya hormon yang menstimulus pelepasan telur dari gonad dan pengeluaran telur dari tubuh. Pada [[Cephalopoda]], proses reproduksi dikendalikan oleh organ endokrin klasik, terutama kelenjar optik yang diduga menyekresi beberapa hormon yang diperlukan untuk perkembangan sperma dan telur.<ref>Wiwi Isnaeni. [https://books.google.co.id/books?id=Rnz7DwAAQBAJ&pg=PA372&dq=sel+penyusun+neurohipofisis&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiDsqTX5u3sAhUz73MBHTz_D-wQ6AEwAHoECAYQAg#v=onepage&q=sel%20penyusun%20neurohipofisis&f=true Fisiologi Hewan. Edisi Revisi]. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.</ref> | ||
==== Krustasea ==== | ==== Krustasea ==== | ||
Sistem endokrin pada krustasea umumnya berupa sistem neuroendokrin, meskipun mempunyai organ endokrin klasik. Sistem endokrin berfungsi mengendalikan osmoregulasi, laju denyut jantung, komposisi darah, pertumbuhan, dan pergantian kulit. Sistem kendali endokrin pada kelas [[Malacostraca|Malakostra]] berkembang paling baik. | Sistem endokrin pada krustasea umumnya berupa sistem neuroendokrin, meskipun mempunyai organ endokrin klasik. Sistem endokrin berfungsi mengendalikan osmoregulasi, laju denyut jantung, komposisi darah, pertumbuhan, dan pergantian kulit. Sistem kendali endokrin pada kelas [[Malacostraca|Malakostra]] berkembang paling baik.<ref>Wiwi Isnaeni. [https://books.google.co.id/books?id=Rnz7DwAAQBAJ&pg=PA372&dq=sel+penyusun+neurohipofisis&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiDsqTX5u3sAhUz73MBHTz_D-wQ6AEwAHoECAYQAg#v=onepage&q=sel%20penyusun%20neurohipofisis&f=true Fisiologi Hewan. Edisi Revisi]. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.</ref> | ||
* Organ neuroendokrin krustasea terdapat pada tiga daerah utama berikut: | * Organ neuroendokrin krustasea terdapat pada tiga daerah utama berikut: | ||
| Baris 156: | Baris 225: | ||
# '''Kompleks kelenjar sinus''' atau disebut juga kompleks kelenjar sinus-organ X, yang menerima akson sel neuroendokrin dari ganglion kepala dan lobus optik di tangkai mata. Sekresi berupa ''molting-inhibiting hormone'' (MIH); | # '''Kompleks kelenjar sinus''' atau disebut juga kompleks kelenjar sinus-organ X, yang menerima akson sel neuroendokrin dari ganglion kepala dan lobus optik di tangkai mata. Sekresi berupa ''molting-inhibiting hormone'' (MIH); | ||
# '''Organ ''post-komisural'''''<nowiki/>'','' menerima akson dari otak dan berakhir pada awal esofogus; | # '''Organ ''post-komisural'''''<nowiki/>'','' menerima akson dari otak dan berakhir pada awal esofogus; | ||
# '''Organ ''pericardial,''''' terletak sangat dekat dengan jantung dan menerima akson dari ganglion toraks. | # '''Organ ''pericardial,''''' terletak sangat dekat dengan jantung dan menerima akson dari ganglion toraks.<ref>Wiwi Isnaeni. [https://books.google.co.id/books?id=Rnz7DwAAQBAJ&pg=PA372&dq=sel+penyusun+neurohipofisis&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiDsqTX5u3sAhUz73MBHTz_D-wQ6AEwAHoECAYQAg#v=onepage&q=sel%20penyusun%20neurohipofisis&f=true Fisiologi Hewan. Edisi Revisi]. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.</ref> | ||
* Sel endokrin klasik yang dimiliki Krustasea, yaitu: | * Sel endokrin klasik yang dimiliki Krustasea, yaitu: | ||
# '''Organ Y''' merupakan sepasang kelenjar yang terletak di toraks, tepatnya pada ruas maksila dan ruas antenna. Hormon ''crustecdysone'' yang dihasilkan kelenjar ini memengaruhi proses ''molting;'' | # '''Organ Y''' merupakan sepasang kelenjar yang terletak di toraks, tepatnya pada ruas maksila dan ruas antenna. Hormon ''crustecdysone'' yang dihasilkan kelenjar ini memengaruhi proses ''molting;''<ref>Pat Willmer. [https://books.google.co.id/books?id=r9gvbjRFyRgC&printsec=frontcover&dq=kelenjar+hormon+reptil&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwijydqPgqLtAhUUOSsKHfR-D0I4ChDoATAGegQIBhAC#v=onepage&q&f=true Environmental Physiology of Animals 2nd Edition]. Blackwell Publishing. 2005. hlm. 347-349, 352-360. ISBN 978-1-4443-0922-5.</ref> | ||
# '''Kelenjar mandibula''' terletak di dekat organ Y dan diduga memiliki fungsi endokrin juga. | # '''Kelenjar mandibula''' terletak di dekat organ Y dan diduga memiliki fungsi endokrin juga.<ref>Wiwi Isnaeni. [https://books.google.co.id/books?id=Rnz7DwAAQBAJ&pg=PA372&dq=sel+penyusun+neurohipofisis&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiDsqTX5u3sAhUz73MBHTz_D-wQ6AEwAHoECAYQAg#v=onepage&q=sel%20penyusun%20neurohipofisis&f=true Fisiologi Hewan. Edisi Revisi]. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.</ref> | ||
Krustasea juga mempunyai kelenjar androgenik yang diyakini berperan dalam perkembangan testis dan produksi sperma. Krustasea mampu mengubah warna kulitnya untuk menyesuaikan diri dengan warna latar belakang mereka sehingga dapat terhindar dari perhatian musuhnya. Perubahan warna kulit krustasea dipengaruhi oleh penyebaran pigmen yang terdapat dalam [[Kromatofora|kromatofor]] dan dikendalikan oleh sistem endokrin. Hormon peptida yang disekresikan oleh kompleks kelenjar sinus menyebabkan pigmen pada kromatofor mengumpul atau menyebar. Hormon yang dilepaskan organ perikardial juga dianggap dapat memengaruhi fungsi kromatofor. Metamorfosis pada krustasea dilakukan oleh ''methyl farnesoate'' (MF), prekursor hormon juvenile seperti pada insekta. Hormon hiperglikemik terdapat pada beberapa spesies. | Krustasea juga mempunyai kelenjar androgenik yang diyakini berperan dalam perkembangan testis dan produksi sperma.<ref>Wiwi Isnaeni. [https://books.google.co.id/books?id=Rnz7DwAAQBAJ&pg=PA372&dq=sel+penyusun+neurohipofisis&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiDsqTX5u3sAhUz73MBHTz_D-wQ6AEwAHoECAYQAg#v=onepage&q=sel%20penyusun%20neurohipofisis&f=true Fisiologi Hewan. Edisi Revisi]. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.</ref> Krustasea mampu mengubah warna kulitnya untuk menyesuaikan diri dengan warna latar belakang mereka sehingga dapat terhindar dari perhatian musuhnya. Perubahan warna kulit krustasea dipengaruhi oleh penyebaran pigmen yang terdapat dalam [[Kromatofora|kromatofor]] dan dikendalikan oleh sistem endokrin. Hormon peptida yang disekresikan oleh kompleks kelenjar sinus menyebabkan pigmen pada kromatofor mengumpul atau menyebar. Hormon yang dilepaskan organ perikardial juga dianggap dapat memengaruhi fungsi kromatofor.<ref>Wiwi Isnaeni. [https://books.google.co.id/books?id=Rnz7DwAAQBAJ&pg=PA372&dq=sel+penyusun+neurohipofisis&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiDsqTX5u3sAhUz73MBHTz_D-wQ6AEwAHoECAYQAg#v=onepage&q=sel%20penyusun%20neurohipofisis&f=true Fisiologi Hewan. Edisi Revisi]. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.</ref> Metamorfosis pada krustasea dilakukan oleh ''methyl farnesoate'' (MF), prekursor hormon juvenile seperti pada insekta. Hormon hiperglikemik terdapat pada beberapa spesies.<ref>Pat Willmer. [https://books.google.co.id/books?id=r9gvbjRFyRgC&printsec=frontcover&dq=kelenjar+hormon+reptil&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwijydqPgqLtAhUUOSsKHfR-D0I4ChDoATAGegQIBhAC#v=onepage&q&f=true Environmental Physiology of Animals 2nd Edition]. Blackwell Publishing. 2005. hlm. 347-349, 352-360. ISBN 978-1-4443-0922-5.</ref> | ||
==== Insekta ==== | ==== Insekta ==== | ||
| Baris 170: | Baris 239: | ||
# '''Sel neurosekretori ''medialis,''''' merupakan kelompok sel dengan akson yang membentang hingga ke korpora kardiaka. Korpora kardiaka adalah sepasang organ yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan dan pelepasan neurohormon; | # '''Sel neurosekretori ''medialis,''''' merupakan kelompok sel dengan akson yang membentang hingga ke korpora kardiaka. Korpora kardiaka adalah sepasang organ yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan dan pelepasan neurohormon; | ||
# '''Sel neurosekretori ''lateralis,''''' kelompok sel dengan akson yang membentang hingga ke korpora kardiaka; | # '''Sel neurosekretori ''lateralis,''''' kelompok sel dengan akson yang membentang hingga ke korpora kardiaka; | ||
# '''Sel neurosekretori ''subesofageal''''', terdapat pada bagian di bawah kerongkongan dan memiliki akson yang membentang ke korpora alata, yang merupakan organ endokrin klasik. | # '''Sel neurosekretori ''subesofageal''''', terdapat pada bagian di bawah kerongkongan dan memiliki akson yang membentang ke korpora alata, yang merupakan organ endokrin klasik.<ref>Wiwi Isnaeni. [https://books.google.co.id/books?id=Rnz7DwAAQBAJ&pg=PA372&dq=sel+penyusun+neurohipofisis&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiDsqTX5u3sAhUz73MBHTz_D-wQ6AEwAHoECAYQAg#v=onepage&q=sel%20penyusun%20neurohipofisis&f=true Fisiologi Hewan. Edisi Revisi]. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.</ref> | ||
* Organ endokrin klasik lainnya yaitu '''kelenjar protoraks'''. Pada insekta yang sudah lebih maju, kelenjar ini terletak di daerah toraks, tetapi pada insekta yang kurang berkembang dapat ditemukan pada daerah kepala. | * Organ endokrin klasik lainnya yaitu '''kelenjar protoraks'''. Pada insekta yang sudah lebih maju, kelenjar ini terletak di daerah toraks, tetapi pada insekta yang kurang berkembang dapat ditemukan pada daerah kepala.<ref>Wiwi Isnaeni. [https://books.google.co.id/books?id=Rnz7DwAAQBAJ&pg=PA372&dq=sel+penyusun+neurohipofisis&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiDsqTX5u3sAhUz73MBHTz_D-wQ6AEwAHoECAYQAg#v=onepage&q=sel%20penyusun%20neurohipofisis&f=true Fisiologi Hewan. Edisi Revisi]. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.</ref> | ||
Sistem endokrin pada insekta berfungsi untuk mengendalikan berbagai aktivitas, antara lain aktivitas pertumbuhan. Pertumbuhan insekta terjadi dalam beberapa tahap dan memerlukan serangkaian proses pengelupasan rangka luar (kulit luar). Proses perubahan bentuk tubuh dan pengelupasan kulit tersebut dikenal dengan istilah [[metamorfosis]]. Proses metamorfosis berlangsung di bawah kendali hormon. Kelompok '''sel neurosekretori medialis''' menghasilkan hormon protorasikotropik (PTTH), yang dilepaskan melalui ujung akson pada korpora kardiaka. PTTH akan merangsang kelenjar protoraks untuk sekresi hormon ekdison. Hormon ekdison menyebabkan pengelupasan kulit (ekdisis) pada insekta. [[Hormon juvenil]] dilepaskan oleh korpora alata dan bertanggung jawab mengendalikan (menghambat) proses metamorfosis insekta . | Sistem endokrin pada insekta berfungsi untuk mengendalikan berbagai aktivitas, antara lain aktivitas pertumbuhan. Pertumbuhan insekta terjadi dalam beberapa tahap dan memerlukan serangkaian proses pengelupasan rangka luar (kulit luar). Proses perubahan bentuk tubuh dan pengelupasan kulit tersebut dikenal dengan istilah [[metamorfosis]]. Proses metamorfosis berlangsung di bawah kendali hormon. Kelompok '''sel neurosekretori medialis''' menghasilkan hormon protorasikotropik (PTTH), yang dilepaskan melalui ujung akson pada korpora kardiaka. PTTH akan merangsang kelenjar protoraks untuk sekresi hormon ekdison. Hormon ekdison menyebabkan pengelupasan kulit (ekdisis) pada insekta. [[Hormon juvenil]] dilepaskan oleh korpora alata dan bertanggung jawab mengendalikan (menghambat) proses metamorfosis insekta .<ref>Wiwi Isnaeni. [https://books.google.co.id/books?id=Rnz7DwAAQBAJ&pg=PA372&dq=sel+penyusun+neurohipofisis&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiDsqTX5u3sAhUz73MBHTz_D-wQ6AEwAHoECAYQAg#v=onepage&q=sel%20penyusun%20neurohipofisis&f=true Fisiologi Hewan. Edisi Revisi]. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.</ref><ref>Diah Aryulina. [https://books.google.co.id/books?id=S29qVUvoU1oC&pg=PA267&dq=kelenjar+pineal&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiY9dehtJPtAhVv63MBHRAdA88Q6AEwCXoECAQQAg#v=onepage&q=kelenjar%20pineal&f=true BIOLOGI SMA dan MA untuk Kelas XI : Jilid 2]. ESIS. 2004. hlm. 270-272. ISBN 978-979-734-550-1.</ref> | ||
=== Sistem Endokrin pada Vertebrata === | === Sistem Endokrin pada Vertebrata === | ||
Sistem endokrin pada vertebrata terutama sekali tersusun atas berbagai organ endokrin klasik. Sistem endokrin vertebrata dapat dibedakan menjadi tiga kelompok kelenjar utama, yaitu hipotalamus, hipofisis atau pituitari, dan kelenjar endokrin tepi. Berbagai organ endokrin tepi bekerja di bawah kendali kelenjar pituitari bagian depan (anterior), yang merupakan salah satu organ endokrin pusat. Pituitari anterior bekerja di bawah pengaruh hipotalamus yang bekerjanya dipengaruhi oleh saraf. Adenohipofisis merupakan inti pada sistem endokrin vertebrata dan mensekresikan tujuh hormon kunci "tropik", yaitu: hormon pertumbuhan (GH), prolaktin, ACTH (atau corticotropin), MSH, TSH, dan dua gonadotropin (GnH) LH dan FSH. Kelenjar pineal memproduksi melatonin, yang disintesis dari [[triptofan]]. Pada mayoritas vertebrata, terkecuali mamalia dan ular, kelenjar pineal memiliki unit fotoreseptor dengan sambungan saraf ke otak dan sensitif terhadap cahaya. Namun, kelenjar pineal pada mamalia hanya menerima informasi tentang siklus cahaya dari mata, melalui neuron dari nukleus suprachiasmatik hipotalamus. | Sistem endokrin pada vertebrata terutama sekali tersusun atas berbagai organ endokrin klasik. Sistem endokrin vertebrata dapat dibedakan menjadi tiga kelompok kelenjar utama, yaitu hipotalamus, hipofisis atau pituitari, dan kelenjar endokrin tepi. Berbagai organ endokrin tepi bekerja di bawah kendali kelenjar pituitari bagian depan (anterior), yang merupakan salah satu organ endokrin pusat. Pituitari anterior bekerja di bawah pengaruh hipotalamus yang bekerjanya dipengaruhi oleh saraf.<ref>Wiwi Isnaeni. [https://books.google.co.id/books?id=Rnz7DwAAQBAJ&pg=PA372&dq=sel+penyusun+neurohipofisis&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiDsqTX5u3sAhUz73MBHTz_D-wQ6AEwAHoECAYQAg#v=onepage&q=sel%20penyusun%20neurohipofisis&f=true Fisiologi Hewan. Edisi Revisi]. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.</ref> Adenohipofisis merupakan inti pada sistem endokrin vertebrata dan mensekresikan tujuh hormon kunci "tropik", yaitu: hormon pertumbuhan (GH), prolaktin, ACTH (atau corticotropin), MSH, TSH, dan dua gonadotropin (GnH) LH dan FSH.<ref>Pat Willmer. [https://books.google.co.id/books?id=r9gvbjRFyRgC&printsec=frontcover&dq=kelenjar+hormon+reptil&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwijydqPgqLtAhUUOSsKHfR-D0I4ChDoATAGegQIBhAC#v=onepage&q&f=true Environmental Physiology of Animals 2nd Edition]. Blackwell Publishing. 2005. hlm. 347-349, 352-360. ISBN 978-1-4443-0922-5.</ref> Kelenjar pineal memproduksi melatonin, yang disintesis dari [[triptofan]]. Pada mayoritas vertebrata, terkecuali mamalia dan ular, kelenjar pineal memiliki unit fotoreseptor dengan sambungan saraf ke otak dan sensitif terhadap cahaya. Namun, kelenjar pineal pada mamalia hanya menerima informasi tentang siklus cahaya dari mata, melalui neuron dari nukleus suprachiasmatik hipotalamus.<ref>Pat Willmer. [https://books.google.co.id/books?id=r9gvbjRFyRgC&printsec=frontcover&dq=kelenjar+hormon+reptil&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwijydqPgqLtAhUUOSsKHfR-D0I4ChDoATAGegQIBhAC#v=onepage&q&f=true Environmental Physiology of Animals 2nd Edition]. Blackwell Publishing. 2005. hlm. 347-349, 352-360. ISBN 978-1-4443-0922-5.</ref> | ||
==== Ikan ==== | ==== Ikan ==== | ||
Hormon gonadotropin yang dihasilkan oleh kelenjar pituitari dan neuroendokrin berperan dalam mengontrol proses diferensiasi gonad pada beberapa jenis ikan. Ikan di kelompok [[Elasmobranchii]] terdapat sel neurosekretori besar di saraf tulan belakang yang disebut sel Dahlgreen yang berperan penting mengatur keseimbangan cairan. Sedangkan pada kelompok [[Teleostei]] terdapat organ neurohemal bernama '''urofisis''', mensekresikan sejumlah peptida yang disebut urotensin, berperan dalam regulasi tekanan darah (UTI), kontraksi jaringan otot (UTII), dan asupan natrium (UTIII) pada insang sebagai bagian respon osmoregulasi pada spesies air tawar, dan efek antidiuretik (UTIV). | Hormon gonadotropin yang dihasilkan oleh kelenjar pituitari dan neuroendokrin berperan dalam mengontrol proses diferensiasi gonad pada beberapa jenis ikan.<ref>Alfiah Hayati. [https://books.google.co.id/books?id=YhrIDwAAQBAJ&pg=PA27&dq=hormon+pada+reptil&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjHwJLIjp_tAhVEeysKHb5vCCgQ6AEwAHoECAMQAg#v=onepage&q=hormon%20pada%20reptil&f=true Biologi Reproduksi Ikan]. Airlangga University Press. 2019. hlm. 26. ISBN 978-602-473-177-9.</ref> Ikan di kelompok [[Elasmobranchii]] terdapat sel neurosekretori besar di saraf tulan belakang yang disebut sel Dahlgreen yang berperan penting mengatur keseimbangan cairan. Sedangkan pada kelompok [[Teleostei]] terdapat organ neurohemal bernama '''urofisis''', mensekresikan sejumlah peptida yang disebut urotensin, berperan dalam regulasi tekanan darah (UTI), kontraksi jaringan otot (UTII), dan asupan natrium (UTIII) pada insang sebagai bagian respon osmoregulasi pada spesies air tawar, dan efek antidiuretik (UTIV).<ref>Pat Willmer. [https://books.google.co.id/books?id=r9gvbjRFyRgC&printsec=frontcover&dq=kelenjar+hormon+reptil&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwijydqPgqLtAhUUOSsKHfR-D0I4ChDoATAGegQIBhAC#v=onepage&q&f=true Environmental Physiology of Animals 2nd Edition]. Blackwell Publishing. 2005. hlm. 347-349, 352-360. ISBN 978-1-4443-0922-5.</ref> | ||
Ikan pada kelompok [[Teleostei]] memiliki organ '''Korpuskula Stannius (CS)''', yang merupakan kelenjar endokrin kecil yang berada di permukaan ginjal. CS mengandung hormon yang meregulasi kadar kalsium. Kontrol sistem osmoregulasi pada Teleostei diatur oleh sejumlah hormon-hormon dari hipofisis seperti prolaktin, dan GH, serta hormon kortisol dari kelenjar interrenal, yang berperan penting dalam aklimasi osmotik. Kortisol bersama dengan GH menstimulasi pengeluaran ion pada keadaan hiperosmotik, dan kerjasama antara kortisol dan prolaktin berperan untuk meningkatkan asupan ion di keadaan lingkungan hipoosmotik. | Ikan pada kelompok [[Teleostei]] memiliki organ '''Korpuskula Stannius (CS)''', yang merupakan kelenjar endokrin kecil yang berada di permukaan ginjal. CS mengandung hormon yang meregulasi kadar kalsium. Kontrol sistem osmoregulasi pada Teleostei diatur oleh sejumlah hormon-hormon dari hipofisis seperti prolaktin, dan GH, serta hormon kortisol dari kelenjar interrenal, yang berperan penting dalam aklimasi osmotik. Kortisol bersama dengan GH menstimulasi pengeluaran ion pada keadaan hiperosmotik, dan kerjasama antara kortisol dan prolaktin berperan untuk meningkatkan asupan ion di keadaan lingkungan hipoosmotik.<ref>Bernardo Baldisserotto. [https://books.google.co.id/books?id=k5qfDwAAQBAJ&pg=PA478&dq=corpuscula+stannius+fish&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwij19Glkp_tAhWS_XMBHbC4AmoQ6AEwAHoECAMQAg#v=onepage&q=corpuscula%20stannius%20fish&f=true Fish Osmoregulation]. CRC Press. 2018. hlm. 88. ISBN 978-1-4398-4311-6.</ref> | ||
==== Amfibia ==== | ==== Amfibia ==== | ||
Hormon tiroid tidak hanya mengatur pertumbuhan dan pematangan seksual, tetapi juga mengontrol metamorfosis. Semua kelompok Amfibi, termasuk [[Anura]] dan Caudata, mempunyai dua jenis hormon gonadotropik yang secara struktur dan fungsi mirip dengan LH dan FSH pada mamalia. Stimulasi pelepasan hormon gonadotropik dihasilkan dari pengaruh ''Gonadotropin-releasing hormone'' (GnRH). GnRH merupakan neurohormon utama yang mengaktifkan reproduksi amfibi, dihasilkan oleh hipotalamus. | Hormon tiroid tidak hanya mengatur pertumbuhan dan pematangan seksual, tetapi juga mengontrol metamorfosis.<ref>George H. Fried. [https://books.google.co.id/books?id=1dlZZkx_pYoC&pg=PA245&dq=sel+sel+tiroid&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjDgqKQ1O3sAhXRWisKHQYfAlsQ6AEwAXoECAIQAg#v=onepage&q=sel%20sel%20tiroid&f=true Schaum's Outline Biologi Ed.2]. Erlangga. 2006. hlm. 244, 245. ISBN 9789797817138.</ref> Semua kelompok Amfibi, termasuk [[Anura]] dan Caudata, mempunyai dua jenis hormon gonadotropik yang secara struktur dan fungsi mirip dengan LH dan FSH pada mamalia. Stimulasi pelepasan hormon gonadotropik dihasilkan dari pengaruh ''Gonadotropin-releasing hormone'' (GnRH). GnRH merupakan neurohormon utama yang mengaktifkan reproduksi amfibi, dihasilkan oleh hipotalamus.<ref>David O. Norris. [https://books.google.co.id/books?id=8Iz8hVHOHgQC&printsec=frontcover&dq=endocrine+system+of+amphibia&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjD98iynp_tAhUJ7HMBHeYMD7EQ6AEwA3oECAEQAg#v=onepage&q=endocrine%20system%20of%20amphibia&f=true Hormones and Reproduction of Vertebrates, Volume 2: Amphibians]. Academic Press. 2011. hlm. 89, 132. ISBN 978-0-08-095808-8.</ref> | ||
Aksis Hipotalamus-Pituitari-Gonad meregulasi reproduksi pada amfibi. Hormon GnRH yang diproduksi hipotalamus mengontrol sekresi FSH dan LH oleh kelenjar pituitari. Kedua hormon tersebut meregulasi perkembangan gamet dan sekresi hormon-hormon estrogen dan hormon androgen oleh ovarium dan testis. Metamorfosis pada amfibi dikendalikan oleh aksis hipotalamus-pituitari-tiroid (HPT) dan aksis hipotalamus-pituitari-adrenal (HPA). Aksis HPT berperan dalam produksi ''corticotropin-releasing factor'' (CRF) di hipotalamus, yang menstimulus TSH dari pituitari. TSH menstimulus sintesis T<sub>3</sub> dan T<sub>4</sub>, yang bertanggung jawab mengendalikan metamorfosis. CRF mengaktivasi aksis HPA, dengan menstimulasi sekresi ACTH dari pituitari yang kemudian menstimulasi sekresi ''corticosterone'' (CORT) dari jaringan interrenal. | Aksis Hipotalamus-Pituitari-Gonad meregulasi reproduksi pada amfibi. Hormon GnRH yang diproduksi hipotalamus mengontrol sekresi FSH dan LH oleh kelenjar pituitari. Kedua hormon tersebut meregulasi perkembangan gamet dan sekresi hormon-hormon estrogen dan hormon androgen oleh ovarium dan testis. Metamorfosis pada amfibi dikendalikan oleh aksis hipotalamus-pituitari-tiroid (HPT) dan aksis hipotalamus-pituitari-adrenal (HPA). Aksis HPT berperan dalam produksi ''corticotropin-releasing factor'' (CRF) di hipotalamus, yang menstimulus TSH dari pituitari. TSH menstimulus sintesis T<sub>3</sub> dan T<sub>4</sub>, yang bertanggung jawab mengendalikan metamorfosis. CRF mengaktivasi aksis HPA, dengan menstimulasi sekresi ACTH dari pituitari yang kemudian menstimulasi sekresi ''corticosterone'' (CORT) dari jaringan interrenal.<ref>David O. Norris. [https://books.google.co.id/books?id=8Iz8hVHOHgQC&printsec=frontcover&dq=endocrine+system+of+amphibia&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjD98iynp_tAhUJ7HMBHeYMD7EQ6AEwA3oECAEQAg#v=onepage&q=endocrine%20system%20of%20amphibia&f=true Hormones and Reproduction of Vertebrates, Volume 2: Amphibians]. Academic Press. 2011. hlm. 89, 132. ISBN 978-0-08-095808-8.</ref> | ||
==== Reptilia ==== | ==== Reptilia ==== | ||
Kelenjar endokrin pada reptil adalah hipofisis, adrenal, tiroid, pankreas, testis, ovarium, dan pineal. Terdapat beberapa perbedaan hormon pada reptil dibandingkan dengan mamalia. Pituitari (hipofisis) posterior reptil mensekresikan hormon AVT (''arginine vasotocin'') dan ''mesotocin''. Sekresi dari korteks adrenal adalah ''corticosterone.'' | Kelenjar endokrin pada reptil adalah hipofisis, adrenal, tiroid, pankreas, testis, ovarium, dan pineal. Terdapat beberapa perbedaan hormon pada reptil dibandingkan dengan mamalia. Pituitari (hipofisis) posterior reptil mensekresikan hormon AVT (''arginine vasotocin'') dan ''mesotocin''. Sekresi dari korteks adrenal adalah ''corticosterone.''<ref>Pat Willmer. [https://books.google.co.id/books?id=r9gvbjRFyRgC&printsec=frontcover&dq=kelenjar+hormon+reptil&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwijydqPgqLtAhUUOSsKHfR-D0I4ChDoATAGegQIBhAC#v=onepage&q&f=true Environmental Physiology of Animals 2nd Edition]. Blackwell Publishing. 2005. hlm. 347-349, 352-360. ISBN 978-1-4443-0922-5.</ref> | ||
==== Aves ==== | ==== Aves ==== | ||
Kelenjar pituitari posterior menghasilkan AVT dan ''mesotocin''. Kelenjar tiroid kelompok unggas memiliki keunikan karena tidak terdapat sel-sel kalsitonin, yang letaknya terpisah di '''kelenjar ultimobranchial'''. Sintesis hormon tiroid mirip dengan sintesis pada mamalia, yaitu terdapat hormon T<sub>3</sub> dan T<sub>4</sub>. | Kelenjar pituitari posterior menghasilkan AVT dan ''mesotocin''.<ref>Pat Willmer. [https://books.google.co.id/books?id=r9gvbjRFyRgC&printsec=frontcover&dq=kelenjar+hormon+reptil&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwijydqPgqLtAhUUOSsKHfR-D0I4ChDoATAGegQIBhAC#v=onepage&q&f=true Environmental Physiology of Animals 2nd Edition]. Blackwell Publishing. 2005. hlm. 347-349, 352-360. ISBN 978-1-4443-0922-5.</ref> Kelenjar tiroid kelompok unggas memiliki keunikan karena tidak terdapat sel-sel kalsitonin, yang letaknya terpisah di '''kelenjar ultimobranchial'''. Sintesis hormon tiroid mirip dengan sintesis pada mamalia, yaitu terdapat hormon T<sub>3</sub> dan T<sub>4</sub>.<ref>Paul D. Sturkie. [https://books.google.co.id/books?id=TwrVBwAAQBAJ&pg=PA476&dq=endocrine+system+of+avian&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiv5fHvn5_tAhXH6XMBHVelB7MQ6AEwAnoECAYQAg#v=onepage&q=endocrine%20system%20of%20avian&f=true Avian Physiology 4th edition]. Springer Science & Business Media. 2012. hlm. 453, 454. ISBN 978-1-4612-4862-0.</ref> | ||
==== Mamalia ==== | ==== Mamalia ==== | ||
Kelenjar endokrin vertebrata, terutama mamalia, sudah dipelajari dengan baik. Peranan kelenjar endokrin dalam memelihara kondisi homeostasis telah diuraikan dengan cukup detail. Kelenjar endokrin utama pada mamalia adalah hipotalamus, hipofisis, tiroid, paratiroid, timus, pankreas, adrenal, dan gonad. Hormon-hormon yang disekresi oleh kelenjar tersebut memengaruhi berbagai sel dan satu sama lainnya selama perkembangan mamalia. [[Plasenta]] merupakan salah satu sumber hormon penting berhubungan dengan fungsi reproduksi, hanya terdapat pada mamalia betina. Selama kehamilan plasenta mensekresikan estrogen dan progesteron, serta ''chorionic gonadotropin'' pada kelompok [[Primata]]. | Kelenjar endokrin vertebrata, terutama mamalia, sudah dipelajari dengan baik. Peranan kelenjar endokrin dalam memelihara kondisi homeostasis telah diuraikan dengan cukup detail.<ref>George H. Fried. [https://books.google.co.id/books?id=1dlZZkx_pYoC&pg=PA245&dq=sel+sel+tiroid&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjDgqKQ1O3sAhXRWisKHQYfAlsQ6AEwAXoECAIQAg#v=onepage&q=sel%20sel%20tiroid&f=true Schaum's Outline Biologi Ed.2]. Erlangga. 2006. hlm. 244, 245. ISBN 9789797817138.</ref> Kelenjar endokrin utama pada mamalia adalah hipotalamus, hipofisis, tiroid, paratiroid, timus, pankreas, adrenal, dan gonad. Hormon-hormon yang disekresi oleh kelenjar tersebut memengaruhi berbagai sel dan satu sama lainnya selama perkembangan mamalia. [[Plasenta]] merupakan salah satu sumber hormon penting berhubungan dengan fungsi reproduksi, hanya terdapat pada mamalia betina. Selama kehamilan plasenta mensekresikan estrogen dan progesteron, serta ''chorionic gonadotropin'' pada kelompok [[Primata]].<ref>Pat Willmer. [https://books.google.co.id/books?id=r9gvbjRFyRgC&printsec=frontcover&dq=kelenjar+hormon+reptil&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwijydqPgqLtAhUUOSsKHfR-D0I4ChDoATAGegQIBhAC#v=onepage&q&f=true Environmental Physiology of Animals 2nd Edition]. Blackwell Publishing. 2005. hlm. 347-349, 352-360. ISBN 978-1-4443-0922-5.</ref> | ||
== | |||
== Daftar pustaka == | == Daftar pustaka == | ||
'''Buku''' | '''Buku''' | ||
| Baris 210: | Baris 275: | ||
* http://www.rscarolus.or.id/article/penyakit-tiroid-autoimun | * http://www.rscarolus.or.id/article/penyakit-tiroid-autoimun | ||
* https://www.honestdocs.id/sindrom-zollinger-ellison | * https://www.honestdocs.id/sindrom-zollinger-ellison | ||
[[mt:Sistema endokrinali]] | [[mt:Sistema endokrinali]] | ||
== Referensi == | |||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
== | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sistem+endokrin&oldid=29472918 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29472918 (2026-07-18T16:26:37Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 27 Agustus 2026 13.56

Sistem endokrin adalah sistem kontrol kelenjar tanpa saluran (ductless) yang menghasilkan hormon yang tersirkulasi di tubuh melalui aliran darah untuk memengaruhi organ-organ lain. Hormon bertindak sebagai "pembawa pesan" dan dibawa oleh aliran darah ke berbagai sel dalam tubuh, yang selanjutnya akan menerjemahkan "pesan" tersebut menjadi suatu tindakan.[1]
Sistem endokrin merupakan bagian dari sistem koordinasi yang berfungsi untuk mengatur kegiatan-kegiatan dalam tubuh.[2] Sistem endokrin tidak memasukkan kelenjar eksokrin seperti kelenjar ludah, kelenjar keringat, dan kelenjar-kelenjar lain dalam saluran gastroinstestin.[3]
Secara keseluruhan, semua sel penghasil hormon pada seekor hewan menyusun sistem endokrin. Organ pensekresi hormon disebut sebagai kelenjar endokrin, dan juga disebut kelenjar buntu atau tanpa duktus karena mensekresikan pembawa pesan kimiawinya secara langsung ke dalam cairan tubuh.[4] Zat yang dikeluarkan oleh kelenjar endokrin disebut sekret. Proses pengeluarannya disebut sekresi. Sekresi hasil kelenjar endokrin disebut hormon.[5]
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah kata endokrin memiliki arti yaitu, kelenjar yang tidak memiliki saluran untuk mengalirkan hasil sekresinya.[6] Ilmu tentang kelenjar endokrin pada manusia dan vertebrata lainnya, khususnya mengenai hormon yang dihasilkan dan pengaruhnya terhadap proses dalam tubuh dikenal dengan istilah endokrinologi.[7][8]
Fungsi
Pada umumnya, sistem endokrin bekerja untuk mengendalikan berbagai fungsi fisiologis tubuh, seperti aktivitas metabolisme, pertumbuhan, reproduksi, regulasi osmotik, dan regulasi ionik.[9]
Sistem endokrin pada manusia memilki fungsi yang paling umum, yaitu:[10][11]
- Membedakan sistem saraf dan sistem reproduktif pada janin yang sedang berkembang;
- Menstimulus urutan perkembangan;
- Mengoordinasi sistem reproduktif;
- Memelihara lingkungan internal yang optimal;
- Melakukan respons korektif dan adaptif ketika terjadi situasi darurat;
- Mengontrol dan merangsang aktivitas kelenjar tubuh;
- Merangsang pertumbuhan jaringan;
- Mengatur metabolisme.
Struktur dan Komponen
Hormon
Hormon adalah sinyal kimiawi yang disekresikan oleh kelenjar endokrin ke dalam cairan tubuh dan mengomunikasikan pesan-pesan yang bersifat mengatur di dalam tubuh.[12] Hormon dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang sangat terbatas. Kelebihan atau kekurangan hormon dapat mengakibatkan gangguan fungsi tubuh. Kekurangan satu jenis hormon tidak dapat digantikan oleh hormon yang lain, karena hormon memiliki fungsi yang spesifik dan organ tubuh yang dipengaruhi juga spesifik.[13] Hormon bisa mencapai semua bagian tubuh, tetapi jenis sel-sel tertentu saja, yang memiliki kemampuan untuk memberikan respon terhadap sinyal tersebut.[14] Hormon bisa memengaruhi sel atau jaringan tertentu apabila sel atau jaringan tersebut mempunyai reseptor untuk hormon tertentu. Sel, jaringan, atau organ yang mengadakan respons terhadap hormon tertentu disebut sel target atau organ target.[15]
Mekanisme kerja hormon pada sel target organ adalah dengan cara menduduki atau berikatan dengan reseptor. Satu reseptor spesifik hanya dapat berikatan dengan satu jenis hormon saja. Reseptor hormon berada di sitoplasma sel untuk hormon steroid, sedangkan reseptor hormon non-steroid terletak di membran sel.[16]
Berdasarkan sifat kimianya, hormon dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok utama, yaitu:[17]
- Hormon peptida di antaranya hormon-hormon hipotalamus, Angiostensin, Somatostatin, Gastrin, Sekretin, Kalsitonin, Glukagon, Insulin dan Parathormon. Sedangkan hormon protein besar di antaranya Hormon pertumbuhan, Prolaktin, LH, FSH, dan TSH;
- Hormon yang termasuk dalam kategori steroid ialah Testosteron, Estrogen, Progesteron, dan Kortikosteroid;
- Hormon yang merupakan turunan tirosin adalah Noradrenalin, Adrenalin, Tiroksin dan Triiodotironin.
Pada sistem endokrin terdapat sejumlah zat kimia yang menyerupai hormon, antara lain bradikinin, eritropuitin, histamin, kinin, renin, prostaglandin dan hormon thymic.[18]
Persinyalan Seluler
Sel-sel berkomunikasi satu sama lain melalui sinyal-sinyal kimiawi hormon, yang berupa molekul-molekul sederhana seperti asam amino atau asam lemak yang mengalami modifikasi, atau molekul-molekul peptida yang lebih kompleks, protein atau steroid. Komunikasi dapat terjadi secara lokal antar sel di dalam jaringan atau organ, atau pada jarak tertentu di jaringan antar organ yang berlainan. Komunikasi sel-sel yang berdekatan dilakukan melalui sekresi parakrin, yaitu komunikasi antar sel yang berdekatan dengan melepaskan sinyal-sinyal kimiawi ke dalam cairan ekstraseluler dan mencapai tujuan melalui proses difusi sederhana. Sedangkan komunikasi yang terjadi sebagai respons sel terhadap sekresi dirinya sendiri disebut sekresi autokrin.[19] Contoh sekresi parakrin adalah hormon histamin yang disekresi oleh mast cell dan sel parietal pada lambung sapi, akan merangsang pengeluaran asam lambung. Contoh sekresi autokrin adalah prostaglandin dan faktor pertumbuhan yang mirip insulin.[20]
Mekanisme Kerja
Sistem endokrin berfungsi berdasarkan konsep mekanisme umpan balik. Untuk mempertahankan fungsi regulasi yang benar, kelenjar endokrin menerima informasi umpan balik yang konstan tentang kondisi sistem yang diatur, sehingga sekresi hormon dapat disesuaikan. Kadar hormon harus dipertahankan pada batas yang tepat karena jumlah hormon yang tepat sangat perlu untuk mempertahankan kesehatan sel atau organ. Faktor yang terkait dalam pengendalian hormon adalah kontrol umpan balik (feedback control). Kelenjar A di stimulasi untuk memproduksi hormon X. Hormon X menstimulasi organ B untuk mengubah (meningkatkan atau mengurangi) zat Y. Perubahan pada zat Y mencegah produksi hormon X.[21][22]
Mekanisme umpan balik pada kelenjar endokrin dapat terjadi melalui berbagai cara, yaitu:
- Umpan balik negatif langsung, terjadi ketika peningkatan kadar suatu hormon di dalam sirkulasi, akan menyebabkan penurunan aktivitas sekresi dari sel-sel kelenjar endokrin yang memproduksi hormon tersebut.[23]
- Umpan balik tidak langsung, terjadi ketika hormon yang di sekresi kelenjar target menghambat sekresi releasing hormone dari hipotalamus.[24]
- Pada umpan balik loop pendek, pengaruh terhadap sekresi hormon beraksi secara langsung dengan menurunkan sekresi hormon.[25]
Kelenjar Endokrin
Kelenjar endokrin adalah organ tubuh yang mempunyai fungsi untuk menghasilkan substansi (hormon) yang secara biologis sangat berguna. Sekresi atau hormon dari kelenjar ini mengalir langsung ke dalam aliran darah dan dapat memberikan efek menyebar luas.[26] Kelenjar endokrin dapat berupa sel tunggal atau berupa organ multisel.[27] Sistem endokrin terdiri dari beberapa kelenjar di antaranya adalah hipotalamus, hipofisis, pankreas, adrenal, tiroid, paratiroid, ovarium, testis, serta timus. Kelenjar hipotalamus dan hipofisis merupakan kelenjar neuroendokrin.[28][29] Kelenjar timus berperan signifikan selama masa pertumbuhan dalam perkembangan imunitas, dan ketika dewasa fungsinya menjadi tidak signifikan.[30] Hormon thymic yang dihasilkan kelenjar timus berperan untuk memengaruhi perkembangan sel limfosit B menjadi sel plasma, yaitu sel penghasil antibodi.[31] Kelenjar pineal mensekresikan hormon melatonin, dan sebagian besar fungsinya berkaitan dengan ritme biologis.[32]
| Kelenjar | Hormon yang dihasilkan | ||
|---|---|---|---|
| Hipotalamus | Corticotropin Releasing Hormone (CRH),
Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH), Tryrotropin Releasing Hormone (TRH), Growth Hormone Releasing Hormone (GHRH), Prolactin Inhibitory Factor / Dopamin Somatostatin (SS) |
[33] | |
| Hipofisis
(Pituitari) |
Adenohipofisis
(Pituitari anterior) |
Thyroid Stimulating Hormone (TSH) / Tirotopin | |
| Adrenocorticotropin Hormone (ACTH) / Corticotropin | |||
| Luteinizing Hormone (LH) / Interstitial Cell Stimulating Hormone (ICSH) | |||
| Follicle Stimulating Hormone (FSH) | |||
| Somatotropin Hormone / Growth Hormone (GH) | [34] | ||
| Prolaktin (PRL) | |||
| Hipofisis bagian Tengah
(Lobus intermediate) |
Melanotropin Stimulating Hormone (MSH) | ||
| Neurohipofisis
(Pituitari posterior) |
Antidiuretic Hormone / Vasopresin | ||
| Oksitosin | |||
| Tiroid | Tiroksin (T4), Triiodotrionin (T3) dan Kalsitonin | ||
| Paratiroid | Parathormon (PTH) | ||
| Pankreas | Pulau-pulau Langerhans | Insulin dan Glukagon | |
| Adrenal | Korteks adrenal | Kortisol dan Aldosteron | [35] |
| Medula adrenal | Adrenalin | [36] | |
| Ovarium | Estrogen, Progesteron, dan Relaksin | ||
| Testis | Testosteron | ||
| Timus | Hormon thymic (thymopoetin, timosin) | [37][38] | |
| Pineal | Melatonin | [39] | |
Kelenjar endokrin lain yang mensekresikan hormon atau senyawa menyerupai hormon, antara lain:
- Saluran pencernaan (Usus) : Gastrin, Sekretin, CCK (cholecystokinin), gastric-inhibitory peptide (GIP), pancreatic polypeptide, motilin, neurotensin, enteroglucagon.
- Ginjal : Renin, Eritropoietin, Prostaglandin, nitric oxide, dan endothelin.[40]
Sel-Sel
Pada sistem endokrin terdapat berbagai macam tipe sel yang berperan dalam menghasilkan hormon-hormon dan merupakan bagian penyusun dari suatu jaringan dan organ di dalam sistem endokrin. Sel-sel penyusun organ endokrin dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sel neurosekretori dan sel endokrin sejati. Sel neurosekretori adalah sel yang berbentuk seperti saraf, tetapi berfungsi sebagai penghasil hormon. Contohnya ialah sel saraf pada hipotalamus, yang menunjukkan fungsi endokrin sehingga dapat disebut sebagai sel neuroendokrin. Sesungguhnya, semua sel yang dapat menghasilkan sekret disebut sebagai sel sekretori. Oleh karena itu, sel saraf yang terdapat pada hipotalamus disebut sel neurosekretori. Sedangkan sel endokrin yang benar-benar berfungsi sebagai penghasil hormon dan tidak memiliki bentuk seperti sel saraf disebut sel endokrin sejati.[41]
- Hipotalamus
- Hipofisis
- Adenohipofisis tersusun atas sejumlah jenis sel-sel yang dikelompokkan berdasarkan karakteristik warna dalam pengecatan mikroskop, yaitu:
- Kromofob yang menyerap warna sangat sedikit dan bergranula halus, merupakan sel-sel cadangan atau dalam keadaan istirahat;
- Basofil yang berwarna biru atau ungu, merupakan kelompok sel yang mensekresikan hormon adrenokortikotrofik, gonadotropin, dan tiroid stimulating hormone (TSH);
- Asidofil yang berwarna merah atau oranye, adalah kelompok sel terbanyak yang menghasilkan growth hormone / somatotropin dan prolaktin.[42]
- Secara histologis, sel-sel kelenjar hipofisis dikelompokkan berdasarkan jenis hormon yang disekresi yaitu:
- Sel-sel somatotrof berbentuk besar dan mengandung granula sekretori, yang menghasilkan somatotropin;
- Sel-sel laktotrof mengandung granula sekretoris, yang menghasilkan prolaktin atau laktogen;
- Sel-sel tirotrof berbentuk polihedral dan bergranula sekretoris, menghasilkan TSH;
- Sel-sel gonadotrof bergranula sekretoris, menghasilkan FSH dan LH;
- Sel-sel kortikotrof merupakan granula terbesar yang menghasilkan ACTH.[43]
- Adenohipofisis tersusun atas sejumlah jenis sel-sel yang dikelompokkan berdasarkan karakteristik warna dalam pengecatan mikroskop, yaitu:
- Tiroid
- Sel-sel folikular berfungsi mensintesis hormon tiroksin (T4 ) dan triiodontironin (T3 );
- Sel-sel C berperan untuk mensintesis kalsitonin .[44]
- Paratiroid
- Sel-sel utama (chief cells ) mensekresikan parathormon.[45]
- Pulau-pulau Langerhans (Pankreas)
- Adrenal terdiri dari bagian medula adrenal yang berasal dari jaringan saraf primitif, dan korteks adrenal berasal dari jaringan mesodermis, dan dapat diidentifikasi tiga zona jaringan terpisah, yaitu:
- zona glomerulosa terbentuk dari sekelompok sel-sel kecil yang mensekresi mineralokortikoid ;
- zona fasikulata tersusun atas sel-sel kolumna yang mensekresi glukokortikoid (dan sebagian hormon seks);
- zona retikularis terdiri atas massa kecil sel-sel kromafin dengan sinus-sinus vena di antaranya.[48]
- Ovarium
- Sel teka di sekeliling folikel ovarium yang pecah diubah menjadi korpus luteum yang mensintesis progesteron ;
- Sel granulosa mensintesis hormon estrogen .[49]
- Testis
- Sel Leydig berfungsi untuk memproduksi testosteron .[50]
Penyakit dan Kelainan
Kelenjar Hipofisis
- Hipopituitarisme paling sering disebabkan oleh adenoma nonfungsional (kromofob). Menyebabkan defisiensi sekresi GH, FSH, LD pada saat awal, disusul defisiensi sekresi TSH dan ACTH. Pada penderita anak-anak menyebabkan infatilisme hipofisis (kurcaci Peter Pan - kecil tetapi terbentuk dengan baik dengan proporsi tepat).[51]
- Hiperpituitarisme disebabkan oleh adenoma hipofisis. Adenoma ini hampir selalu mengeluarkan hormon sehingga sering disebut functioning tumor, seperti Prolactin-secreting tumor atau prolaktinoma, Somatotroph tumors (hipersekresi GH), dan Corticotroph tumors (sekresi ACTH).[52]
- Akromegali disebabkan oleh hormon pertumbuhan (GH) yang berlebihan pada orang dewasa di usia 20-40 tahun (setelah penyatuan epifisis), sedangkan pada anak-anak menyebabkan gigantisme. Hormon GH yang berlebihan menyebabkan pertumbuhan yang berlebih pada jaringan lunak, termasuk kulit, lidah dan visera serta tulang.[53]
- Penyakit Diabetes insipidus disebakan oleh defisiensi vasopresin (ADH) yang disekresikan oleh hipofisis posterior.[54]
Kelenjar Tiroid
- Penyakit yang umum diketahui pada kelenjar tiroid adalah gondok/goiter. Gondok adalah pembesaran kelenjar tiroid yang disebabkan oleh meningkatnya sekresi thyroid-stimulating hormone (TSH) sekunder akibat berkurangnya output hormon tiroid. Hal ini dapat terjadi karena defisiensi iodium.[55][56] Defisiensi iodin akan berdampak pada menurunnya produksi hormon tiroid yang membuat kelenjar hipofisis meningkatkan sekresi TSH sebagai respons terhadap kurangnya hormon tiroid dalam darah (tidak ada umpan balik negatif), sehingga kelenjar tiroid akan membesar sebagai kompensasinya.[57]
- Hipotiroidisme adalah status metabolik yang diakibatkan oleh kekurangan hormon tiroid, baik dalam bentuk T4 atau T3. Faktor yang menyebabkan adalah atrofi jaringan tiroid, hilangnya stimulasi trofik, dan lingkungan. Penderita hipotiroidisme bisa atau bisa juga tidak mengalami goiter. Gejala yang timbul adalah cepat lelah, letargi, dan merasa lemah untuk melakukan aktivitas sehari-hari.[58] Jika penderita adalah anak-anak dapat mengakibatkan kekerdilan (kretinisme).[59]
- Hipertioridisme terjadi akibat kelebihan hormon tiroid (T4 dan/atau T3). Penyakit Graves adalah bentuk hipertiroidisme yang paling umum.[60] Gejala yang timbul adalah peningkatan metabolisme, denyut jantung cepat, mudah gugup dan emosional.[61]
- Tiroiditis adalah peradangan pada kelenjar tiroid. Tiroiditis bisa terjadi akut, subakut, dan kronis.[62] Tiroiditis akut bisa sering timbul setelah infeksi saluran napas bagian atas atau infeksi mikroba lain.[63] Pada kondisi kronis yang paling sering ditemukan disebut sebagai tiroiditis autoimun, istilah yang ditujukan untuk gangguan kelenjar tiroid di mana terdapat antibodi tiroid bersikulasi dalam plasma, selain itu ditemukan sel-sel limfoid dan sel plasma yang berlebihan dalam kelenjar tiroid. Penyakit Hashimoto adalah keadaan di mana tiroiditis autoimun menyebabkan terbentuknya goiter nodular keras. Palpasi menunjukkan masa yang keras, licin, tidak nyeri, dan dapat digerakkan.[64][65]
Kelenjar Adrenal
- Kadar glukokortikoid yang terlalu banyak akan mengakibatkan sekumpulan tanda dan gejala yang disebut sindrom Cushing. Sindrom Cushing primer terjadi ketika terlalu banyak produksi kortisol yang diakibatkan oleh adenoma atau karsinoma adrenal. Pada sindrom Cushing sekunder, produksi kortisol terlalu banyak yang diakibatkan oleh hyperplasia adrenal karena banyak seklai ACTH. Pada sindrom Cushing iatrogenic, kadar kortisol yang sangat tinggi sebagai akibat terapi glukokortikoid eksogen dalam dosis tinggi yang berlangsung lama.[66]
- Aldosteronisme primer (Sindrom Conn) diakibatkan oleh hiperplasia adrenal bilateral (kedua adrenal) atau salah satu adrenal (unilateral) dengan adenoma yang menghasilkan aldosteron. Kelebihan sekresi aldosteron yang menstimulasi reabsorpsi natrium oleh tubula ginjal sebagai pengganti kalium dan hidrogen. Meningkatnya retensi natrium menyebabkan peningkatan retensi air sehingga volume cairan tubuh meningkat, yang bisa menimbulkan pembesaran pada ventrikel kiri dan retinopati.[67] Aldosteronisme sekunder diakibatkan oleh adanya penyebab eksogen yang merangsang sistem renin-angiostensin-aldosteron. Sekresi renin yang meningkat disebabkan oleh berkurangnya perfusi ginjal.[68]
- Penyakit Addison disebabkan oleh kerusakan pada bagian korteks kelenjar adrenal dan berakibat pada menurunnya sekresi hormon adrenalin. Penyakit ini ditandai dengan kelelahan, nafsu makan berkurang, mual dan muntah-muntah, serta bercak-bercak merah pada kulit.[69][70]
Kelenjar Pankreas
- Diabetes melitus disebabkan oleh defisiensi hormon insulin, yang ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa dalam darah. Gejala yang timbul adalah sering mengeluarkan urin dalam jumlah banyak, sering merasa haus dan lapar, serta badan terasa lemas.[71]
Neoplasia Endokrin Multipel / Multiple Endocrine Neoplasia (sindrom MEN)
Terdapat dua sindrom dominan autosomal (kromosom 10) yang utama. Tumor berasal dari dua atau lebih jaringan endokrin (atau neural) dan menghasilkan hormon peptida.
- MEN tipe I : Kondisi ini mengacu pada adenoma jinak dari paratiroid, pulau-pulau Langerhans pancreas, dan hipofisis anterior. Tumor pada sel pulau menimbulkan efek sesuai sel asalnya: insulinoma (hipoglikemia), gastrinoma (sindrom Zollinger-Ellison), glukagonoma (hiperglikemia), dan tumor yang mensekresi polipeptida usus vasoaktif.[72]
- MEN tipe 2a : Kondisi ini mengacu pada hubungan antara kanker tiroid meduler (MTC) yang menghasilkan kalsitonin, feokromositoma, dan yang lebih jarang, adenoma atau hiperplasia paratiroid.[73]
- MEN tipe 2b : Kondisi ini mengacu pada hubungan yang sangat jarang terjadi antara gambaran tipe 2a dengan habitus Marfanoid, neuroma mukosa, dan divertikula kolon multiple disertai megakolon.[74]
Sistem Endokrin pada Hewan lainnya
Sistem Endokrin pada Invertebrata
Kelenjar endokrin dapat ditemukan pada hewan yang mempunyai sistem sirkulasi, baik vertebrata maupun invertebrata. Hewan invertebrata yang sering menjadi objek studi endokrin adalah insekta, krustasea, sefalopoda, dan moluska.[75] Sejumlah invertebrata tidak mempunyai organ khusus untuk sekresi hormon sehingga sekresinya dilaksanakan oleh sel neurosekretori. Sel neurosekretori dapat ditemukan di antaranya pada kelompok Coelenterata, Platyhelminthes, Annelida, Nematoda, dan Moluska.[76]
Kelenjar endokrin pada invertebrata cenderung berupa struktur yang sederhana, dengan jaringan amorfus melepaskan hormon langsung ke sirkulasi terbuka. Sistem kendali berupa akson neurosekretori melepaskan neuropeptida langsung menuju jaringan target. Hormon pada invertebrata lebih menitikberatkan pada regenerasi dan pertumbuhan, reproduksi (determinasi seksual dan aktivitas gonad), serta peran yang terbatas dalam sistem homeostatis.[77]
Pada kelompok hewan terdapat juga Feromon. Feromon adalah suatu senyawa kimia spesifik yang dilepaskan oleh hewan ke lingkungannya, yang dapat menimbulkan respons perilaku, respons perkembangan, atau respons reproduktif pada individu lain. Senyawa kimia tersebut sangat bermanfaat bagi hewan untuk memberikan daya tarik seksual, menandai daerah kekuasaan, mengenali individu lain dalam spesies yang sama dan berperan penting dalam sinkronisasi siklus seksual.[78]
Coelenterata
Hidra, yang termasuk dalam golongan ini, mempunyai sejumlah sel yang mampu menghasilkan zat kimia yang berperan dalam proses reproduksi, pertumbuhan, dan regenerasi. Suatu molekul peptida yang disebut aktivator kepala akan dikeluarkan oleh tubuh Hidra ketika kepalanya terpotong. Zat tersebut menyebabkan sisa tubuhnya dapat membentuk mulut dan tentakel, dan selanjutnya membentuk daerah kepala.[79]
Platyhelminthes
Hewan ini dapat menghasilkan hormon yang berperan penting dalam proses regenerasi, dan hormon tersebut juga terlibat dalam regulasi osmotik dan ionik, serta proses reproduksi.[80]
Nematoda
Sistem endokrin pada kelompok hewan ini merupakan struktur khusus yang berfungsi untuk sekresi neurohormon, yang berkaitan dengan sistem saraf. Struktur khusus tersebut terdapat pada anterior ganglion di daerah kepala dan beberapa di antaranya terdapat pada korda saraf, tetapi tidak ada organ neurohemal khusus. Fungsi utama neurohormon adalah kontrol molting.[81][82]
Annelida
Pada kelompok seperti Polichaeta, Oligochaeta, dan Hirudinae sudah memiliki derajat sefalisasi yang memadai. Otak hewan tersebut memiliki sejumlah besar sel saraf yang berfungsi sebagai sel sekretori. Sistem sirkulasi pada kelompok ini juga telah berkembang sangat baik sehingga mampu mendukung penyelenggaraan sistem endokrin. Sistem endokrin Annelida berkaitan erat dengan aktivitas pertumbuhan, perkembangan, regenerasi, dan reproduksi. Salah satu proses yang dikendalikan oleh sistem neuroendokrin pada Polichaeta adalah Epitoki. Dalam proses tersebut, beberapa ruas tubuh mengalami perubahan bentuk akan terlepas dari tubuh utamanya, dan berkembang menjadi organisme yang hidup bebas. Epitoki hanya akan berlangsung pada saat kadar hormon yang disekresi rendah, dan sekresinya dipengaruhi oleh faktor lingkungan.[83] Polichaeta mempunyai sel-sel neurosekretori di ganglia kepala, ganglia supraesofagial, dan berbagai ganglia di korda saraf, serta terdapat strujtur neurohemal di dasar otak yang menerima akson dari ganglia kepala. Neurohormon termasuk annetocin (berhubungan dengan hormon vasopressin di vertebrata) berperan penting dalam pertumbuhan, regenerasi, dan reproduksi pada annelida. Serta berimplikasi pada osmoregulasi dan keseimbangan glukosa. Organ neurohemal bernama kelenjar infraserebral diduga sebagai kelenjar endokrin sejati. Polichaeta juga memiliki hormon endokrin sejati yang berasal dari oosit immature, dan disebut "feedback substance" karena mencegah produksi sel telur berlebihan.[84]
Moluska
Moluska memiliki sejumlah besar sel neuroendokrin yang terletak pada ganglia penyusun sistem saraf pusat. Hewan ini juga memiliki organ endokrin klasik. Senyawa yang dilepaskan menyerupai protein dan berperan penting dalam mengendalikan osmoregulasi, pertumbuhan, serta reproduksi. Pada beberapa spesies hewan yang bersifat protandri, ditemukan adanya hormon yang menstimulus pelepasan telur dari gonad dan pengeluaran telur dari tubuh. Pada Cephalopoda, proses reproduksi dikendalikan oleh organ endokrin klasik, terutama kelenjar optik yang diduga menyekresi beberapa hormon yang diperlukan untuk perkembangan sperma dan telur.[85]
Krustasea
Sistem endokrin pada krustasea umumnya berupa sistem neuroendokrin, meskipun mempunyai organ endokrin klasik. Sistem endokrin berfungsi mengendalikan osmoregulasi, laju denyut jantung, komposisi darah, pertumbuhan, dan pergantian kulit. Sistem kendali endokrin pada kelas Malakostra berkembang paling baik.[86]
- Organ neuroendokrin krustasea terdapat pada tiga daerah utama berikut:
- Kompleks kelenjar sinus atau disebut juga kompleks kelenjar sinus-organ X, yang menerima akson sel neuroendokrin dari ganglion kepala dan lobus optik di tangkai mata. Sekresi berupa molting-inhibiting hormone (MIH);
- Organ post-komisural, menerima akson dari otak dan berakhir pada awal esofogus;
- Organ pericardial, terletak sangat dekat dengan jantung dan menerima akson dari ganglion toraks.[87]
- Sel endokrin klasik yang dimiliki Krustasea, yaitu:
- Organ Y merupakan sepasang kelenjar yang terletak di toraks, tepatnya pada ruas maksila dan ruas antenna. Hormon crustecdysone yang dihasilkan kelenjar ini memengaruhi proses molting;[88]
- Kelenjar mandibula terletak di dekat organ Y dan diduga memiliki fungsi endokrin juga.[89]
Krustasea juga mempunyai kelenjar androgenik yang diyakini berperan dalam perkembangan testis dan produksi sperma.[90] Krustasea mampu mengubah warna kulitnya untuk menyesuaikan diri dengan warna latar belakang mereka sehingga dapat terhindar dari perhatian musuhnya. Perubahan warna kulit krustasea dipengaruhi oleh penyebaran pigmen yang terdapat dalam kromatofor dan dikendalikan oleh sistem endokrin. Hormon peptida yang disekresikan oleh kompleks kelenjar sinus menyebabkan pigmen pada kromatofor mengumpul atau menyebar. Hormon yang dilepaskan organ perikardial juga dianggap dapat memengaruhi fungsi kromatofor.[91] Metamorfosis pada krustasea dilakukan oleh methyl farnesoate (MF), prekursor hormon juvenile seperti pada insekta. Hormon hiperglikemik terdapat pada beberapa spesies.[92]
Insekta
Insekta memliki tiga kelompok sel neuroendokrin utama yang terletak pada sistem saraf, yaitu:
- Sel neurosekretori medialis, merupakan kelompok sel dengan akson yang membentang hingga ke korpora kardiaka. Korpora kardiaka adalah sepasang organ yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan dan pelepasan neurohormon;
- Sel neurosekretori lateralis, kelompok sel dengan akson yang membentang hingga ke korpora kardiaka;
- Sel neurosekretori subesofageal, terdapat pada bagian di bawah kerongkongan dan memiliki akson yang membentang ke korpora alata, yang merupakan organ endokrin klasik.[93]
- Organ endokrin klasik lainnya yaitu kelenjar protoraks. Pada insekta yang sudah lebih maju, kelenjar ini terletak di daerah toraks, tetapi pada insekta yang kurang berkembang dapat ditemukan pada daerah kepala.[94]
Sistem endokrin pada insekta berfungsi untuk mengendalikan berbagai aktivitas, antara lain aktivitas pertumbuhan. Pertumbuhan insekta terjadi dalam beberapa tahap dan memerlukan serangkaian proses pengelupasan rangka luar (kulit luar). Proses perubahan bentuk tubuh dan pengelupasan kulit tersebut dikenal dengan istilah metamorfosis. Proses metamorfosis berlangsung di bawah kendali hormon. Kelompok sel neurosekretori medialis menghasilkan hormon protorasikotropik (PTTH), yang dilepaskan melalui ujung akson pada korpora kardiaka. PTTH akan merangsang kelenjar protoraks untuk sekresi hormon ekdison. Hormon ekdison menyebabkan pengelupasan kulit (ekdisis) pada insekta. Hormon juvenil dilepaskan oleh korpora alata dan bertanggung jawab mengendalikan (menghambat) proses metamorfosis insekta .[95][96]
Sistem Endokrin pada Vertebrata
Sistem endokrin pada vertebrata terutama sekali tersusun atas berbagai organ endokrin klasik. Sistem endokrin vertebrata dapat dibedakan menjadi tiga kelompok kelenjar utama, yaitu hipotalamus, hipofisis atau pituitari, dan kelenjar endokrin tepi. Berbagai organ endokrin tepi bekerja di bawah kendali kelenjar pituitari bagian depan (anterior), yang merupakan salah satu organ endokrin pusat. Pituitari anterior bekerja di bawah pengaruh hipotalamus yang bekerjanya dipengaruhi oleh saraf.[97] Adenohipofisis merupakan inti pada sistem endokrin vertebrata dan mensekresikan tujuh hormon kunci "tropik", yaitu: hormon pertumbuhan (GH), prolaktin, ACTH (atau corticotropin), MSH, TSH, dan dua gonadotropin (GnH) LH dan FSH.[98] Kelenjar pineal memproduksi melatonin, yang disintesis dari triptofan. Pada mayoritas vertebrata, terkecuali mamalia dan ular, kelenjar pineal memiliki unit fotoreseptor dengan sambungan saraf ke otak dan sensitif terhadap cahaya. Namun, kelenjar pineal pada mamalia hanya menerima informasi tentang siklus cahaya dari mata, melalui neuron dari nukleus suprachiasmatik hipotalamus.[99]
Ikan
Hormon gonadotropin yang dihasilkan oleh kelenjar pituitari dan neuroendokrin berperan dalam mengontrol proses diferensiasi gonad pada beberapa jenis ikan.[100] Ikan di kelompok Elasmobranchii terdapat sel neurosekretori besar di saraf tulan belakang yang disebut sel Dahlgreen yang berperan penting mengatur keseimbangan cairan. Sedangkan pada kelompok Teleostei terdapat organ neurohemal bernama urofisis, mensekresikan sejumlah peptida yang disebut urotensin, berperan dalam regulasi tekanan darah (UTI), kontraksi jaringan otot (UTII), dan asupan natrium (UTIII) pada insang sebagai bagian respon osmoregulasi pada spesies air tawar, dan efek antidiuretik (UTIV).[101]
Ikan pada kelompok Teleostei memiliki organ Korpuskula Stannius (CS), yang merupakan kelenjar endokrin kecil yang berada di permukaan ginjal. CS mengandung hormon yang meregulasi kadar kalsium. Kontrol sistem osmoregulasi pada Teleostei diatur oleh sejumlah hormon-hormon dari hipofisis seperti prolaktin, dan GH, serta hormon kortisol dari kelenjar interrenal, yang berperan penting dalam aklimasi osmotik. Kortisol bersama dengan GH menstimulasi pengeluaran ion pada keadaan hiperosmotik, dan kerjasama antara kortisol dan prolaktin berperan untuk meningkatkan asupan ion di keadaan lingkungan hipoosmotik.[102]
Amfibia
Hormon tiroid tidak hanya mengatur pertumbuhan dan pematangan seksual, tetapi juga mengontrol metamorfosis.[103] Semua kelompok Amfibi, termasuk Anura dan Caudata, mempunyai dua jenis hormon gonadotropik yang secara struktur dan fungsi mirip dengan LH dan FSH pada mamalia. Stimulasi pelepasan hormon gonadotropik dihasilkan dari pengaruh Gonadotropin-releasing hormone (GnRH). GnRH merupakan neurohormon utama yang mengaktifkan reproduksi amfibi, dihasilkan oleh hipotalamus.[104]
Aksis Hipotalamus-Pituitari-Gonad meregulasi reproduksi pada amfibi. Hormon GnRH yang diproduksi hipotalamus mengontrol sekresi FSH dan LH oleh kelenjar pituitari. Kedua hormon tersebut meregulasi perkembangan gamet dan sekresi hormon-hormon estrogen dan hormon androgen oleh ovarium dan testis. Metamorfosis pada amfibi dikendalikan oleh aksis hipotalamus-pituitari-tiroid (HPT) dan aksis hipotalamus-pituitari-adrenal (HPA). Aksis HPT berperan dalam produksi corticotropin-releasing factor (CRF) di hipotalamus, yang menstimulus TSH dari pituitari. TSH menstimulus sintesis T3 dan T4, yang bertanggung jawab mengendalikan metamorfosis. CRF mengaktivasi aksis HPA, dengan menstimulasi sekresi ACTH dari pituitari yang kemudian menstimulasi sekresi corticosterone (CORT) dari jaringan interrenal.[105]
Reptilia
Kelenjar endokrin pada reptil adalah hipofisis, adrenal, tiroid, pankreas, testis, ovarium, dan pineal. Terdapat beberapa perbedaan hormon pada reptil dibandingkan dengan mamalia. Pituitari (hipofisis) posterior reptil mensekresikan hormon AVT (arginine vasotocin) dan mesotocin. Sekresi dari korteks adrenal adalah corticosterone.[106]
Aves
Kelenjar pituitari posterior menghasilkan AVT dan mesotocin.[107] Kelenjar tiroid kelompok unggas memiliki keunikan karena tidak terdapat sel-sel kalsitonin, yang letaknya terpisah di kelenjar ultimobranchial. Sintesis hormon tiroid mirip dengan sintesis pada mamalia, yaitu terdapat hormon T3 dan T4.[108]
Mamalia
Kelenjar endokrin vertebrata, terutama mamalia, sudah dipelajari dengan baik. Peranan kelenjar endokrin dalam memelihara kondisi homeostasis telah diuraikan dengan cukup detail.[109] Kelenjar endokrin utama pada mamalia adalah hipotalamus, hipofisis, tiroid, paratiroid, timus, pankreas, adrenal, dan gonad. Hormon-hormon yang disekresi oleh kelenjar tersebut memengaruhi berbagai sel dan satu sama lainnya selama perkembangan mamalia. Plasenta merupakan salah satu sumber hormon penting berhubungan dengan fungsi reproduksi, hanya terdapat pada mamalia betina. Selama kehamilan plasenta mensekresikan estrogen dan progesteron, serta chorionic gonadotropin pada kelompok Primata.[110]
Daftar pustaka
Buku
Pranala luar
- http://www.rscarolus.or.id/article/penyakit-tiroid-autoimun
- https://www.honestdocs.id/sindrom-zollinger-ellison
Referensi
- ↑ Nixson Manurung. Asuhan Keperawatan Sistem Endokrin Dilengkapi Mind Mapping dan Asuhan Keperawatan Nanda Nic Noc. Deepublish. 2017. hlm. 1, 3, 6, 7. ISBN 978-602-453-342-7.
- ↑ Deswaty Furqonita. Seri IPA Biologi 3 SMP Kelas IX. Yudhistira. 2007. hlm. 63, 64, 66, 68, 69. ISBN 978-979-746-790-6.
- ↑ Nixson Manurung. Asuhan Keperawatan Sistem Endokrin Dilengkapi Mind Mapping dan Asuhan Keperawatan Nanda Nic Noc. Deepublish. 2017. hlm. 1, 3, 6, 7. ISBN 978-602-453-342-7.
- ↑ Neil A. Campbell. Biologi. Jilid 3 Edisi 5. Erlangga. 2004. hlm. 129, 139. ISBN 9796884704.
- ↑ Djoko Arisworo. IPA Terpadu (Biologi, Kimia, Fisika) : Kelas IX. Jilid 3. PT Grafindo Media Pratama. 2004. hlm. 58, 60, 61, 62. ISBN 978-979-758-331-6.
- ↑ Arti kata endokrin - Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online. www.kbbi.web.id.
- ↑ Arti kata endokrin - Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online. www.kbbi.web.id.
- ↑ Pudji Astuti. Endokrinologi Veteriner. UGM Press. 2017. hlm. 39, 50, 51. ISBN 9789794209189.
- ↑ Wiwi Isnaeni. Fisiologi Hewan. Edisi Revisi. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.
- ↑ Nixson Manurung. Asuhan Keperawatan Sistem Endokrin Dilengkapi Mind Mapping dan Asuhan Keperawatan Nanda Nic Noc. Deepublish. 2017. hlm. 1, 3, 6, 7. ISBN 978-602-453-342-7.
- ↑ Azhar. Pengantar Fisiologi Veteriner : Buku untuk mahasiswa. Syiah Kuala University Press. 2017. hlm. 93. ISBN 978-602-5679-18-6.
- ↑ Neil A. Campbell. Biologi. Jilid 3 Edisi 5. Erlangga. 2004. hlm. 129, 139. ISBN 9796884704.
- ↑ Deswaty Furqonita. Seri IPA Biologi 3 SMP Kelas IX. Yudhistira. 2007. hlm. 63, 64, 66, 68, 69. ISBN 978-979-746-790-6.
- ↑ Neil A. Campbell. Biologi. Jilid 3 Edisi 5. Erlangga. 2004. hlm. 129, 139. ISBN 9796884704.
- ↑ Mary Baradero. Klien Gangguan Endokrin Seri Asuhan keperawatan. EGC. 2005. hlm. 2, 50, 51. ISBN 978-979-448-950-5.
- ↑ Deswaty Furqonita. Seri IPA Biologi 3 SMP Kelas IX. Yudhistira. 2007. hlm. 63, 64, 66, 68, 69. ISBN 978-979-746-790-6.
- ↑ Wiwi Isnaeni. Fisiologi Hewan. Edisi Revisi. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.
- ↑ Wiwi Isnaeni. Fisiologi Hewan. Edisi Revisi. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.
- ↑ Alwi Shahab. Dasar-dasar Endokrinologi. Rayyana Komunikasindo. 2017. hlm. 2, 9, 10, 12. ISBN 9786026111227.
- ↑ Wiwi Isnaeni. Fisiologi Hewan. Edisi Revisi. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.
- ↑ Mary Baradero. Klien Gangguan Endokrin Seri Asuhan keperawatan. EGC. 2005. hlm. 2, 50, 51. ISBN 978-979-448-950-5.
- ↑ Alwi Shahab. Dasar-dasar Endokrinologi. Rayyana Komunikasindo. 2017. hlm. 2, 9, 10, 12. ISBN 9786026111227.
- ↑ Alwi Shahab. Dasar-dasar Endokrinologi. Rayyana Komunikasindo. 2017. hlm. 2, 9, 10, 12. ISBN 9786026111227.
- ↑ Alwi Shahab. Dasar-dasar Endokrinologi. Rayyana Komunikasindo. 2017. hlm. 2, 9, 10, 12. ISBN 9786026111227.
- ↑ Pudji Astuti. Endokrinologi Veteriner. UGM Press. 2017. hlm. 39, 50, 51. ISBN 9789794209189.
- ↑ Bryan Broom. Anatomi Fisiologi Kelenjar Endokrin dan Sistem Persarafan. Edisi 2. EGC. 1998. hlm. 2, 8, 13, 14, 30. ISBN 9794484148.
- ↑ Wiwi Isnaeni. Fisiologi Hewan. Edisi Revisi. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.
- ↑ Nixson Manurung. Asuhan Keperawatan Sistem Endokrin Dilengkapi Mind Mapping dan Asuhan Keperawatan Nanda Nic Noc. Deepublish. 2017. hlm. 1, 3, 6, 7. ISBN 978-602-453-342-7.
- ↑ Deswaty Furqonita. Seri IPA Biologi 3 SMP Kelas IX. Yudhistira. 2007. hlm. 63, 64, 66, 68, 69. ISBN 978-979-746-790-6.
- ↑ Bryan Broom. Anatomi Fisiologi Kelenjar Endokrin dan Sistem Persarafan. Edisi 2. EGC. 1998. hlm. 2, 8, 13, 14, 30. ISBN 9794484148.
- ↑ Wiwi Isnaeni. Fisiologi Hewan. Edisi Revisi. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.
- ↑ Neil A. Campbell. Biologi. Jilid 3 Edisi 5. Erlangga. 2004. hlm. 129, 139. ISBN 9796884704.
- ↑ Katrin Roosita. Fisiologi Manusia. IPB Press. 2016. hlm. 65, 68. ISBN 9789794939826.
- ↑ Deswaty Furqonita. Seri IPA Biologi 3 SMP Kelas IX. Yudhistira. 2007. hlm. 63, 64, 66, 68, 69. ISBN 978-979-746-790-6.
- ↑ Bryan Broom. Anatomi Fisiologi Kelenjar Endokrin dan Sistem Persarafan. Edisi 2. EGC. 1998. hlm. 2, 8, 13, 14, 30. ISBN 9794484148.
- ↑ Deswaty Furqonita. Seri IPA Biologi 3 SMP Kelas IX. Yudhistira. 2007. hlm. 63, 64, 66, 68, 69. ISBN 978-979-746-790-6.
- ↑ Bryan Broom. Anatomi Fisiologi Kelenjar Endokrin dan Sistem Persarafan. Edisi 2. EGC. 1998. hlm. 2, 8, 13, 14, 30. ISBN 9794484148.
- ↑ Pat Willmer. Environmental Physiology of Animals 2nd Edition. Blackwell Publishing. 2005. hlm. 347-349, 352-360. ISBN 978-1-4443-0922-5.
- ↑ Neil A. Campbell. Biologi. Jilid 3 Edisi 5. Erlangga. 2004. hlm. 129, 139. ISBN 9796884704.
- ↑ Pat Willmer. Environmental Physiology of Animals 2nd Edition. Blackwell Publishing. 2005. hlm. 347-349, 352-360. ISBN 978-1-4443-0922-5.
- ↑ Wiwi Isnaeni. Fisiologi Hewan. Edisi Revisi. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.
- ↑ Pudji Astuti. Endokrinologi Veteriner. UGM Press. 2017. hlm. 39, 50, 51. ISBN 9789794209189.
- ↑ Nixson Manurung. Asuhan Keperawatan Sistem Endokrin Dilengkapi Mind Mapping dan Asuhan Keperawatan Nanda Nic Noc. Deepublish. 2017. hlm. 1, 3, 6, 7. ISBN 978-602-453-342-7.
- ↑ George H. Fried. Schaum's Outline Biologi Ed.2. Erlangga. 2006. hlm. 244, 245. ISBN 9789797817138.
- ↑ George H. Fried. Schaum's Outline Biologi Ed.2. Erlangga. 2006. hlm. 244, 245. ISBN 9789797817138.
- ↑ Daniel S. Wibowo. Anatomi Tubuh Manusia. Grasindo. 2008. hlm. 94. ISBN 9789797328887.
- ↑ George H. Fried. Schaum's Outline Biologi Ed.2. Erlangga. 2006. hlm. 244, 245. ISBN 9789797817138.
- ↑ Bryan Broom. Anatomi Fisiologi Kelenjar Endokrin dan Sistem Persarafan. Edisi 2. EGC. 1998. hlm. 2, 8, 13, 14, 30. ISBN 9794484148.
- ↑ Linda J. Heffner. At a Glance Sistem Reproduksi Ed.2. Erlangga. 2010. hlm. 13, 14.
- ↑ Linda J. Heffner. At a Glance Sistem Reproduksi Ed.2. Erlangga. 2010. hlm. 13, 14.
- ↑ David Rubenstein. Kedokteran Klinis Ed. 6. Erlangga. 2007. hlm. 161, 165, 170-176. ISBN 978-979-781-823-4.
- ↑ Mary Baradero. Klien Gangguan Endokrin Seri Asuhan keperawatan. EGC. 2005. hlm. 2, 50, 51. ISBN 978-979-448-950-5.
- ↑ David Rubenstein. Kedokteran Klinis Ed. 6. Erlangga. 2007. hlm. 161, 165, 170-176. ISBN 978-979-781-823-4.
- ↑ David Rubenstein. Kedokteran Klinis Ed. 6. Erlangga. 2007. hlm. 161, 165, 170-176. ISBN 978-979-781-823-4.
- ↑ David Rubenstein. Kedokteran Klinis Ed. 6. Erlangga. 2007. hlm. 161, 165, 170-176. ISBN 978-979-781-823-4.
- ↑ R. Gunawan Susilowarno. Biologi SMA/MA Kls XI (Diknas). Grasindo. 2007. hlm. 285. ISBN 978-979-025-020-8.
- ↑ Mary Baradero. Klien Gangguan Endokrin Seri Asuhan keperawatan. EGC. 2005. hlm. 2, 50, 51. ISBN 978-979-448-950-5.
- ↑ Mary Baradero. Klien Gangguan Endokrin Seri Asuhan keperawatan. EGC. 2005. hlm. 2, 50, 51. ISBN 978-979-448-950-5.
- ↑ Djoko Arisworo. IPA Terpadu (Biologi, Kimia, Fisika) : Kelas IX. Jilid 3. PT Grafindo Media Pratama. 2004. hlm. 58, 60, 61, 62. ISBN 978-979-758-331-6.
- ↑ David Rubenstein. Kedokteran Klinis Ed. 6. Erlangga. 2007. hlm. 161, 165, 170-176. ISBN 978-979-781-823-4.
- ↑ Djoko Arisworo. IPA Terpadu (Biologi, Kimia, Fisika) : Kelas IX. Jilid 3. PT Grafindo Media Pratama. 2004. hlm. 58, 60, 61, 62. ISBN 978-979-758-331-6.
- ↑ Mary Baradero. Klien Gangguan Endokrin Seri Asuhan keperawatan. EGC. 2005. hlm. 2, 50, 51. ISBN 978-979-448-950-5.
- ↑ David Rubenstein. Kedokteran Klinis Ed. 6. Erlangga. 2007. hlm. 161, 165, 170-176. ISBN 978-979-781-823-4.
- ↑ Mary Baradero. Klien Gangguan Endokrin Seri Asuhan keperawatan. EGC. 2005. hlm. 2, 50, 51. ISBN 978-979-448-950-5.
- ↑ David Rubenstein. Kedokteran Klinis Ed. 6. Erlangga. 2007. hlm. 161, 165, 170-176. ISBN 978-979-781-823-4.
- ↑ Mary Baradero. Klien Gangguan Endokrin Seri Asuhan keperawatan. EGC. 2005. hlm. 2, 50, 51. ISBN 978-979-448-950-5.
- ↑ Mary Baradero. Klien Gangguan Endokrin Seri Asuhan keperawatan. EGC. 2005. hlm. 2, 50, 51. ISBN 978-979-448-950-5.
- ↑ Mary Baradero. Klien Gangguan Endokrin Seri Asuhan keperawatan. EGC. 2005. hlm. 2, 50, 51. ISBN 978-979-448-950-5.
- ↑ Djoko Arisworo. IPA Terpadu (Biologi, Kimia, Fisika) : Kelas IX. Jilid 3. PT Grafindo Media Pratama. 2004. hlm. 58, 60, 61, 62. ISBN 978-979-758-331-6.
- ↑ Diah Aryulina. BIOLOGI SMA dan MA untuk Kelas XI : Jilid 2. ESIS. 2004. hlm. 270-272. ISBN 978-979-734-550-1.
- ↑ Diah Aryulina. BIOLOGI SMA dan MA untuk Kelas XI : Jilid 2. ESIS. 2004. hlm. 270-272. ISBN 978-979-734-550-1.
- ↑ David Rubenstein. Kedokteran Klinis Ed. 6. Erlangga. 2007. hlm. 161, 165, 170-176. ISBN 978-979-781-823-4.
- ↑ David Rubenstein. Kedokteran Klinis Ed. 6. Erlangga. 2007. hlm. 161, 165, 170-176. ISBN 978-979-781-823-4.
- ↑ David Rubenstein. Kedokteran Klinis Ed. 6. Erlangga. 2007. hlm. 161, 165, 170-176. ISBN 978-979-781-823-4.
- ↑ Wiwi Isnaeni. Fisiologi Hewan. Edisi Revisi. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.
- ↑ Wiwi Isnaeni. Fisiologi Hewan. Edisi Revisi. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.
- ↑ Pat Willmer. Environmental Physiology of Animals 2nd Edition. Blackwell Publishing. 2005. hlm. 347-349, 352-360. ISBN 978-1-4443-0922-5.
- ↑ Wiwi Isnaeni. Fisiologi Hewan. Edisi Revisi. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.
- ↑ Wiwi Isnaeni. Fisiologi Hewan. Edisi Revisi. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.
- ↑ Wiwi Isnaeni. Fisiologi Hewan. Edisi Revisi. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.
- ↑ Wiwi Isnaeni. Fisiologi Hewan. Edisi Revisi. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.
- ↑ Pat Willmer. Environmental Physiology of Animals 2nd Edition. Blackwell Publishing. 2005. hlm. 347-349, 352-360. ISBN 978-1-4443-0922-5.
- ↑ Wiwi Isnaeni. Fisiologi Hewan. Edisi Revisi. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.
- ↑ Pat Willmer. Environmental Physiology of Animals 2nd Edition. Blackwell Publishing. 2005. hlm. 347-349, 352-360. ISBN 978-1-4443-0922-5.
- ↑ Wiwi Isnaeni. Fisiologi Hewan. Edisi Revisi. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.
- ↑ Wiwi Isnaeni. Fisiologi Hewan. Edisi Revisi. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.
- ↑ Wiwi Isnaeni. Fisiologi Hewan. Edisi Revisi. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.
- ↑ Pat Willmer. Environmental Physiology of Animals 2nd Edition. Blackwell Publishing. 2005. hlm. 347-349, 352-360. ISBN 978-1-4443-0922-5.
- ↑ Wiwi Isnaeni. Fisiologi Hewan. Edisi Revisi. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.
- ↑ Wiwi Isnaeni. Fisiologi Hewan. Edisi Revisi. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.
- ↑ Wiwi Isnaeni. Fisiologi Hewan. Edisi Revisi. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.
- ↑ Pat Willmer. Environmental Physiology of Animals 2nd Edition. Blackwell Publishing. 2005. hlm. 347-349, 352-360. ISBN 978-1-4443-0922-5.
- ↑ Wiwi Isnaeni. Fisiologi Hewan. Edisi Revisi. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.
- ↑ Wiwi Isnaeni. Fisiologi Hewan. Edisi Revisi. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.
- ↑ Wiwi Isnaeni. Fisiologi Hewan. Edisi Revisi. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.
- ↑ Diah Aryulina. BIOLOGI SMA dan MA untuk Kelas XI : Jilid 2. ESIS. 2004. hlm. 270-272. ISBN 978-979-734-550-1.
- ↑ Wiwi Isnaeni. Fisiologi Hewan. Edisi Revisi. Kanisius. 2019. hlm. 145, 148-152, 158-165, 167. ISBN 9789792162714.
- ↑ Pat Willmer. Environmental Physiology of Animals 2nd Edition. Blackwell Publishing. 2005. hlm. 347-349, 352-360. ISBN 978-1-4443-0922-5.
- ↑ Pat Willmer. Environmental Physiology of Animals 2nd Edition. Blackwell Publishing. 2005. hlm. 347-349, 352-360. ISBN 978-1-4443-0922-5.
- ↑ Alfiah Hayati. Biologi Reproduksi Ikan. Airlangga University Press. 2019. hlm. 26. ISBN 978-602-473-177-9.
- ↑ Pat Willmer. Environmental Physiology of Animals 2nd Edition. Blackwell Publishing. 2005. hlm. 347-349, 352-360. ISBN 978-1-4443-0922-5.
- ↑ Bernardo Baldisserotto. Fish Osmoregulation. CRC Press. 2018. hlm. 88. ISBN 978-1-4398-4311-6.
- ↑ George H. Fried. Schaum's Outline Biologi Ed.2. Erlangga. 2006. hlm. 244, 245. ISBN 9789797817138.
- ↑ David O. Norris. Hormones and Reproduction of Vertebrates, Volume 2: Amphibians. Academic Press. 2011. hlm. 89, 132. ISBN 978-0-08-095808-8.
- ↑ David O. Norris. Hormones and Reproduction of Vertebrates, Volume 2: Amphibians. Academic Press. 2011. hlm. 89, 132. ISBN 978-0-08-095808-8.
- ↑ Pat Willmer. Environmental Physiology of Animals 2nd Edition. Blackwell Publishing. 2005. hlm. 347-349, 352-360. ISBN 978-1-4443-0922-5.
- ↑ Pat Willmer. Environmental Physiology of Animals 2nd Edition. Blackwell Publishing. 2005. hlm. 347-349, 352-360. ISBN 978-1-4443-0922-5.
- ↑ Paul D. Sturkie. Avian Physiology 4th edition. Springer Science & Business Media. 2012. hlm. 453, 454. ISBN 978-1-4612-4862-0.
- ↑ George H. Fried. Schaum's Outline Biologi Ed.2. Erlangga. 2006. hlm. 244, 245. ISBN 9789797817138.
- ↑ Pat Willmer. Environmental Physiology of Animals 2nd Edition. Blackwell Publishing. 2005. hlm. 347-349, 352-360. ISBN 978-1-4443-0922-5.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29472918 (2026-07-18T16:26:37Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.