Hiperakusis: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28016473; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Hiperakusis''' adalah sebuah gangguan pendengaran yang membuat seseorang menjadi terlampau peka terhadap suara-suara tertentu. Mereka menjadi tidak tahan dengan suara yang dianggap normal dalam kehidupan sehari-hari, dan bagi mereka suara-suara itu terdengar sangat keras atau bahkan menyakitkan telinga. Hiperakusis dapat menyerang salah satu atau kedua telinga. Hiperakusis dapat terjadi secara bersamaan dengan [[tinitus]]. Selain itu, hiperakusis bisa mengakibatkan rasa cemas, stres, dan [[fonofobia]]. | '''Hiperakusis''' adalah sebuah gangguan pendengaran yang membuat seseorang menjadi terlampau peka terhadap suara-suara tertentu. Mereka menjadi tidak tahan dengan suara yang dianggap normal dalam kehidupan sehari-hari, dan bagi mereka suara-suara itu terdengar sangat keras atau bahkan menyakitkan telinga.<ref>[http://www.hyperacusis.net/media/1375/hyperacusis-part-1.pdf A review of hyperacusis and future directions: part I. Definitions and manifestations]. ''American Journal of Audiology''. December 2014. Vol. 23 (4). hlm. 402–19. doi:10.1044/2014_AJA-14-0010.</ref><ref>[https://pdfs.semanticscholar.org/a5ed/91aa23c1d830720013b3d2b8e41958345f01.pdf A review of hyperacusis and future directions: part II. Measurement, mechanisms, and treatment]. ''American Journal of Audiology''. December 2014. Vol. 23 (4). hlm. 420–36. doi:10.1044/2014_AJA-13-0037.</ref> Hiperakusis dapat menyerang salah satu atau kedua telinga.<ref>[http://www.entnet.org/content/hyperacusis-increased-sensitivity-everyday-sounds Hyperacusis: An Increased Sensitivity to Everyday Sounds]. ''American Academy of Otolaryngology–Head and Neck Surgery''. 21 April 2014.</ref> Hiperakusis dapat terjadi secara bersamaan dengan [[tinitus]]. Selain itu, hiperakusis bisa mengakibatkan rasa cemas, stres, dan [[fonofobia]]. | ||
Penyebab hiperakusis yang paling umum adalah terlalu sering mendengar suara dengan desibel yang terlampau tinggi.<ref>[http://www.hyperacusis.net/media/1375/hyperacusis-part-1.pdf A review of hyperacusis and future directions: part I. Definitions and manifestations]. ''American Journal of Audiology''. December 2014. Vol. 23 (4). hlm. 402–19. doi:10.1044/2014_AJA-14-0010.</ref> | |||
== Bacaan lanjut == | == Bacaan lanjut == | ||
* | * | ||
* "[https://books.google.com/books?id=BqEq9Re3L5UC&pg=PA8&dq=phonophobia#v=onepage&q=phonophobia&f=false Decreased Sound Tolerance]", by Pawel J. Jastreboff and Margaret J Jastreboff, in: "Tinnitus: theory and management", ed. James Byron Snow, 2004, | * "[https://books.google.com/books?id=BqEq9Re3L5UC&pg=PA8&dq=phonophobia#v=onepage&q=phonophobia&f=false Decreased Sound Tolerance]", by Pawel J. Jastreboff and Margaret J Jastreboff, in: "Tinnitus: theory and management", ed. James Byron Snow, 2004, | ||
== Referensi == | |||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | == Sumber dan atribusi == | ||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hiperakusis&oldid=28016473 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28016473 (2025-10-16T11:52:55Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hiperakusis&oldid=28016473 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28016473 (2025-10-16T11:52:55Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 27 Agustus 2026 14.03
Hiperakusis adalah sebuah gangguan pendengaran yang membuat seseorang menjadi terlampau peka terhadap suara-suara tertentu. Mereka menjadi tidak tahan dengan suara yang dianggap normal dalam kehidupan sehari-hari, dan bagi mereka suara-suara itu terdengar sangat keras atau bahkan menyakitkan telinga.[1][2] Hiperakusis dapat menyerang salah satu atau kedua telinga.[3] Hiperakusis dapat terjadi secara bersamaan dengan tinitus. Selain itu, hiperakusis bisa mengakibatkan rasa cemas, stres, dan fonofobia.
Penyebab hiperakusis yang paling umum adalah terlalu sering mendengar suara dengan desibel yang terlampau tinggi.[4]
Bacaan lanjut
- "Decreased Sound Tolerance", by Pawel J. Jastreboff and Margaret J Jastreboff, in: "Tinnitus: theory and management", ed. James Byron Snow, 2004,
Referensi
- ↑ A review of hyperacusis and future directions: part I. Definitions and manifestations. American Journal of Audiology. December 2014. Vol. 23 (4). hlm. 402–19. doi:10.1044/2014_AJA-14-0010.
- ↑ A review of hyperacusis and future directions: part II. Measurement, mechanisms, and treatment. American Journal of Audiology. December 2014. Vol. 23 (4). hlm. 420–36. doi:10.1044/2014_AJA-13-0037.
- ↑ Hyperacusis: An Increased Sensitivity to Everyday Sounds. American Academy of Otolaryngology–Head and Neck Surgery. 21 April 2014.
- ↑ A review of hyperacusis and future directions: part I. Definitions and manifestations. American Journal of Audiology. December 2014. Vol. 23 (4). hlm. 402–19. doi:10.1044/2014_AJA-14-0010.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28016473 (2025-10-16T11:52:55Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.