Lompat ke isi

Lempeng Halmahera: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 24444450; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 4: Baris 4:
Susunan tektonik wilayah [[Laut Maluku]] cukup unik. Ini adalah satu-satunya contoh tabrakan antarbusur aktif di dunia yang menenggelamkan sebuah cekungan samudra melalui [[subduksi]] secara dua arah. [[Lempeng Laut Maluku]] telah ditenggelamkan oleh dua lempeng tektonik mikro, Lempeng Halmahera dan [[Lempeng Sangihe]]. Kerumitannya saat ini dikenal sebagai [[Zona Tabrakan Laut Maluku]].
Susunan tektonik wilayah [[Laut Maluku]] cukup unik. Ini adalah satu-satunya contoh tabrakan antarbusur aktif di dunia yang menenggelamkan sebuah cekungan samudra melalui [[subduksi]] secara dua arah. [[Lempeng Laut Maluku]] telah ditenggelamkan oleh dua lempeng tektonik mikro, Lempeng Halmahera dan [[Lempeng Sangihe]]. Kerumitannya saat ini dikenal sebagai [[Zona Tabrakan Laut Maluku]].


Keberadaan Halmahera sebagai lempeng tektonik yang terpisah dari [[Lempeng Laut Maluku]] belum disepakati oleh para [[geologi sejarah|paleogeolog]]. Ada yang melihat Halmahera sebagai sambungan timur Lempeng Laut Maluku dan Sangihe sebagai sambungan baratnya. Hal yang tampak saat ini adalah Halmahera merupakan bagian dari perpanjangan Laut Maluku yang bersubduksi pada masa [[Neogene]] antara 45 dan 25 juta tahun yang lalu.<ref>R. Hall and W. Spakman, ''Australian Plate Tomography and Tectonics'' in R. R. Hillis, R. D. Müller, ''Evolution and Dynamics of the Australian Plate,'' Geological Society of America Special Papers 2003, #372, p377 ISBN 0-8137-2372-8</ref>


Keberadaan Halmahera sebagai lempeng tektonik yang terpisah dari [[Lempeng Laut Maluku]] belum disepakati oleh para [[geologi sejarah|paleogeolog]]. Ada yang melihat Halmahera sebagai sambungan timur Lempeng Laut Maluku dan Sangihe sebagai sambungan baratnya. Hal yang tampak saat ini adalah Halmahera merupakan bagian dari perpanjangan Laut Maluku yang bersubduksi pada masa [[Neogene]] antara 45 dan 25 juta tahun yang lalu.
[[Seismologi|Seismisitas]] menunjukkan lempeng Halmahera mencapai kedalaman sekitar 200&nbsp;km.<ref>R. Hall and W. Spakman, ''Australian Plate Tomography and Tectonics'' in R. R. Hillis, R. D. Müller, ''Evolution and Dynamics of the Australian Plate,'' Geological Society of America Special Papers 2003, #372, p377 ISBN 0-8137-2372-8</ref> [[Tomografi seismik]] memperlihatkan bahwa Halmahera masuk lebih dalam sampai setidaknya 400&nbsp;km.<ref>R. Hall and W. Spakman, ''Australian Plate Tomography and Tectonics'' in R. R. Hillis, R. D. Müller, ''Evolution and Dynamics of the Australian Plate,'' Geological Society of America Special Papers 2003, #372, p377 ISBN 0-8137-2372-8</ref> Baik Sangihe maupun Halmahera terekspos ke permukaan, sedangkan lempeng Laut Maluku sepenuhnya tenggelam di bawah dua lempeng mikro ini. Batas selatan Lempeng Laut Maluku juga merupakan batas [[Lempeng Laut Filipina]] dan [[Lempeng Australia]]. Batas tersebut bergerak ke atas. Karena Lempeng Sangihe dan Halmahera bersambung dengan Lempeng Laut Maluku, ini berarti ketiga sambungan tersebut bergerak ke utara di mantel bersama [[Lempeng Australia]].<ref>R. Hall and W. Spakman, ''Australian Plate Tomography and Tectonics'' in R. R. Hillis, R. D. Müller, ''Evolution and Dynamics of the Australian Plate,'' Geological Society of America Special Papers 2003, #372, p377 ISBN 0-8137-2372-8</ref>


[[Seismologi|Seismisitas]] menunjukkan lempeng Halmahera mencapai kedalaman sekitar 200&nbsp;km. [[Tomografi seismik]] memperlihatkan bahwa Halmahera masuk lebih dalam sampai setidaknya 400&nbsp;km. Baik Sangihe maupun Halmahera terekspos ke permukaan, sedangkan lempeng Laut Maluku sepenuhnya tenggelam di bawah dua lempeng mikro ini. Batas selatan Lempeng Laut Maluku juga merupakan batas [[Lempeng Laut Filipina]] dan [[Lempeng Australia]]. Batas tersebut bergerak ke atas. Karena Lempeng Sangihe dan Halmahera bersambung dengan Lempeng Laut Maluku, ini berarti ketiga sambungan tersebut bergerak ke utara di mantel bersama [[Lempeng Australia]].
Zona luas berkecepatan tinggi di bawah [[Lempeng Kepala Burung]] di kedalaman 400–600&nbsp;km diperkirakan oleh R. Hall dan W. Spakman sebagai sisa sambungan yang bersubduksi di bawah Lempeng Halmahera. Zona luas berkecepatan tinggi lainnya di bawah [[Laut Sulawesi]] di kedalaman 700–1000&nbsp;km diperkirakan sebagai sisa sambungan di bawah Lempeng Sangihe. Kedua sisa tersebut berasal dari sambungan yang bersubduksi di bawah [[Busur Filipina-Halmahera]] 45 sampai 25 juta tahun yang lalu.<ref>R. Hall and W. Spakman, ''Australian Plate Tomography and Tectonics'' in R. R. Hillis, R. D. Müller, ''Evolution and Dynamics of the Australian Plate,'' Geological Society of America Special Papers 2003, #372, p377 ISBN 0-8137-2372-8</ref>
 
Zona luas berkecepatan tinggi di bawah [[Lempeng Kepala Burung]] di kedalaman 400–600&nbsp;km diperkirakan oleh R. Hall dan W. Spakman sebagai sisa sambungan yang bersubduksi di bawah Lempeng Halmahera. Zona luas berkecepatan tinggi lainnya di bawah [[Laut Sulawesi]] di kedalaman 700–1000&nbsp;km diperkirakan sebagai sisa sambungan di bawah Lempeng Sangihe. Kedua sisa tersebut berasal dari sambungan yang bersubduksi di bawah [[Busur Filipina-Halmahera]] 45 sampai 25 juta tahun yang lalu.


Dalam model ini, Lempeng Kepala Burung dan Halmahera dipisahkan oleh [[Patahan Sorong]], patahan timur-barat lateral besar.
Dalam model ini, Lempeng Kepala Burung dan Halmahera dipisahkan oleh [[Patahan Sorong]], patahan timur-barat lateral besar.


Model sebelumnya menganggap wilayah ini sebagai [[Busur Halmahera]], busur pulau vulkanik tanpa dasar lempeng tektonik. Penelitian yang lebih baru tahun 1990-an dan seterusnya menggantikan teori tersebut dengan teori Lempeng Halmahera.
Model sebelumnya menganggap wilayah ini sebagai [[Busur Halmahera]], busur pulau vulkanik tanpa dasar lempeng tektonik. Penelitian yang lebih baru tahun 1990-an dan seterusnya menggantikan teori tersebut dengan teori Lempeng Halmahera.<ref>R. Hall and W. Spakman, ''Australian Plate Tomography and Tectonics'' in R. R. Hillis, R. D. Müller, ''Evolution and Dynamics of the Australian Plate,'' Geological Society of America Special Papers 2003, #372, p377 ISBN 0-8137-2372-8</ref>


== Lihat pula ==
== Lihat pula ==
Baris 20: Baris 19:


== Referensi ==
== Referensi ==
 
<references />
 


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Lempeng+Halmahera&oldid=24444450 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 24444450 (2023-10-05T20:37:01Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Lempeng+Halmahera&oldid=24444450 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 24444450 (2023-10-05T20:37:01Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 27 Agustus 2026 18.08

Lempeng Halmahera dipaparkan pada tahun 1990-an sebagai lempeng mikro di Zona Tabrakan Laut Maluku, Indonesia timur.

Tektonika wilayah

Susunan tektonik wilayah Laut Maluku cukup unik. Ini adalah satu-satunya contoh tabrakan antarbusur aktif di dunia yang menenggelamkan sebuah cekungan samudra melalui subduksi secara dua arah. Lempeng Laut Maluku telah ditenggelamkan oleh dua lempeng tektonik mikro, Lempeng Halmahera dan Lempeng Sangihe. Kerumitannya saat ini dikenal sebagai Zona Tabrakan Laut Maluku.

Keberadaan Halmahera sebagai lempeng tektonik yang terpisah dari Lempeng Laut Maluku belum disepakati oleh para paleogeolog. Ada yang melihat Halmahera sebagai sambungan timur Lempeng Laut Maluku dan Sangihe sebagai sambungan baratnya. Hal yang tampak saat ini adalah Halmahera merupakan bagian dari perpanjangan Laut Maluku yang bersubduksi pada masa Neogene antara 45 dan 25 juta tahun yang lalu.[1]

Seismisitas menunjukkan lempeng Halmahera mencapai kedalaman sekitar 200 km.[2] Tomografi seismik memperlihatkan bahwa Halmahera masuk lebih dalam sampai setidaknya 400 km.[3] Baik Sangihe maupun Halmahera terekspos ke permukaan, sedangkan lempeng Laut Maluku sepenuhnya tenggelam di bawah dua lempeng mikro ini. Batas selatan Lempeng Laut Maluku juga merupakan batas Lempeng Laut Filipina dan Lempeng Australia. Batas tersebut bergerak ke atas. Karena Lempeng Sangihe dan Halmahera bersambung dengan Lempeng Laut Maluku, ini berarti ketiga sambungan tersebut bergerak ke utara di mantel bersama Lempeng Australia.[4]

Zona luas berkecepatan tinggi di bawah Lempeng Kepala Burung di kedalaman 400–600 km diperkirakan oleh R. Hall dan W. Spakman sebagai sisa sambungan yang bersubduksi di bawah Lempeng Halmahera. Zona luas berkecepatan tinggi lainnya di bawah Laut Sulawesi di kedalaman 700–1000 km diperkirakan sebagai sisa sambungan di bawah Lempeng Sangihe. Kedua sisa tersebut berasal dari sambungan yang bersubduksi di bawah Busur Filipina-Halmahera 45 sampai 25 juta tahun yang lalu.[5]

Dalam model ini, Lempeng Kepala Burung dan Halmahera dipisahkan oleh Patahan Sorong, patahan timur-barat lateral besar.

Model sebelumnya menganggap wilayah ini sebagai Busur Halmahera, busur pulau vulkanik tanpa dasar lempeng tektonik. Penelitian yang lebih baru tahun 1990-an dan seterusnya menggantikan teori tersebut dengan teori Lempeng Halmahera.[6]

Lihat pula

Referensi

  1. R. Hall and W. Spakman, Australian Plate Tomography and Tectonics in R. R. Hillis, R. D. Müller, Evolution and Dynamics of the Australian Plate, Geological Society of America Special Papers 2003, #372, p377 ISBN 0-8137-2372-8
  2. R. Hall and W. Spakman, Australian Plate Tomography and Tectonics in R. R. Hillis, R. D. Müller, Evolution and Dynamics of the Australian Plate, Geological Society of America Special Papers 2003, #372, p377 ISBN 0-8137-2372-8
  3. R. Hall and W. Spakman, Australian Plate Tomography and Tectonics in R. R. Hillis, R. D. Müller, Evolution and Dynamics of the Australian Plate, Geological Society of America Special Papers 2003, #372, p377 ISBN 0-8137-2372-8
  4. R. Hall and W. Spakman, Australian Plate Tomography and Tectonics in R. R. Hillis, R. D. Müller, Evolution and Dynamics of the Australian Plate, Geological Society of America Special Papers 2003, #372, p377 ISBN 0-8137-2372-8
  5. R. Hall and W. Spakman, Australian Plate Tomography and Tectonics in R. R. Hillis, R. D. Müller, Evolution and Dynamics of the Australian Plate, Geological Society of America Special Papers 2003, #372, p377 ISBN 0-8137-2372-8
  6. R. Hall and W. Spakman, Australian Plate Tomography and Tectonics in R. R. Hillis, R. D. Müller, Evolution and Dynamics of the Australian Plate, Geological Society of America Special Papers 2003, #372, p377 ISBN 0-8137-2372-8

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 24444450 (2023-10-05T20:37:01Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.