Lompat ke isi

Sefaloridin: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29581660; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Sefaloridin''' adalah [[antibiotik]] [[semisintesis]] yang termasuk dalam golongan [[sefalosporin]] generasi pertama. Karena sifat nefrotoksiknya (efek toksik pada ginjal), obat ini sudah jarang digunakan semenjak tahun 1980-an.
[[File:Cefaloridine.svg|thumb|right|280px|Cefaloridine]]


Sefaloridin dipatenkan oleh Glaxo pada tahun 1965 setelah sintesis asam 7-aminosefalosporanat.
'''Sefaloridin''' adalah [[antibiotik]] [[semisintesis]] yang termasuk dalam golongan [[sefalosporin]] generasi pertama. Karena sifat nefrotoksiknya (efek toksik pada ginjal), obat ini sudah jarang digunakan semenjak tahun 1980-an.<ref>Ernst Mutschler, Björn Lemmer (Hrsg.): ''Wörterbuch der Pharmazie.'' Band 2: ''Pharmakologie, Medizinische Grundbegriffe.'' WVG, Stuttgart 1985, ISBN 3-8047-0667-3, S. 105.</ref>
 
Sefaloridin dipatenkan oleh Glaxo pada tahun 1965 setelah sintesis asam 7-aminosefalosporanat.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sefaloridin&oldid=29581660 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref><ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sefaloridin&oldid=29581660 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref>


==Sejarah==
==Sejarah==
Sejak ditemukannya sefalosporin P, N, dan C pada tahun 1948, telah banyak penelitian yang menjelaskan aksi antibiotik sefalosporin dan kemungkinan untuk mensintesis [[turunan (kimia)|turunan]]nya. [[Hidrolisis]] sefalosporin C, isolasi asam 7-aminosefalosporanat, dan penambahan rantai samping membuka kemungkinan untuk memproduksi berbagai sefalosporin semisintetis. Pada tahun 1962, [[sefalotin]] dan sefaloridin diperkenalkan.
Sejak ditemukannya sefalosporin P, N, dan C pada tahun 1948, telah banyak penelitian yang menjelaskan aksi antibiotik sefalosporin dan kemungkinan untuk mensintesis [[turunan (kimia)|turunan]]nya. [[Hidrolisis]] sefalosporin C, isolasi asam 7-aminosefalosporanat, dan penambahan rantai samping membuka kemungkinan untuk memproduksi berbagai sefalosporin semisintetis. Pada tahun 1962, [[sefalotin]] dan sefaloridin diperkenalkan.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sefaloridin&oldid=29581660 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref>


Sefaloridin sempat populer karena dapat ditoleransi secara intramuskular dan mencapai kadar yang lebih tinggi dan lebih berkelanjutan dalam darah daripada sefalotin. Namun, obat ini mengikat protein pada tingkat yang jauh lebih rendah daripada sefalotin. Karena obat ini juga diserap dengan buruk setelah pemberian oral, penggunaan obat ini untuk manusia menurun dengan cepat, terutama sejak sefalosporin generasi kedua diperkenalkan pada tahun 1970-an. Saat ini, obat ini lebih umum digunakan dalam praktik veteriner untuk mengobati infeksi [[bakteri]] ringan hingga berat yang disebabkan oleh ''[[Staphylococcus aureus]], [[Escherichia coli]], [[Streptococcus pyogenes]], [[Streptococcus pneumoniae]], [[Bacillus subtilis]], [[Klebsiella]], [[Clostridium diphtheriae]], [[Salmonella]]'', dan ''[[Shigella]]'' yang resistan terhadap [[penisilin]] dan sensitif terhadap penisilin. Minat untuk mempelajari sefalosporin muncul karena beberapa sifat sefaloridin yang tidak biasa. Antibiotik ini sangat kontras dengan berbagai sefalosporin lain dan penisilin yang terkait secara struktural karena mengalami sedikit atau tidak ada sekresi bersih oleh ginjal manusia dan mamalia. Namun, sefaloridin sangat [[sitotoksisitas|sitotoksik]] terhadap tubulus ginjal proksimal, segmen [[nefron]] yang bertanggung jawab atas sekresi anion organik, termasuk para-am-minohipurat (PAH), serta berbagai antibiotik penisilin dan sefalosporin. Sitotoksisitas sefaloridin sepenuhnya dicegah oleh [[probenesid]] dan beberapa penghambat lain dari transportasi anion organik, termasuk sefalotin yang hampir tidak beracun.
Sefaloridin sempat populer karena dapat ditoleransi secara intramuskular dan mencapai kadar yang lebih tinggi dan lebih berkelanjutan dalam darah daripada sefalotin. Namun, obat ini mengikat protein pada tingkat yang jauh lebih rendah daripada sefalotin. Karena obat ini juga diserap dengan buruk setelah pemberian oral, penggunaan obat ini untuk manusia menurun dengan cepat, terutama sejak sefalosporin generasi kedua diperkenalkan pada tahun 1970-an.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sefaloridin&oldid=29581660 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Saat ini, obat ini lebih umum digunakan dalam praktik veteriner untuk mengobati infeksi [[bakteri]] ringan hingga berat yang disebabkan oleh ''[[Staphylococcus aureus]], [[Escherichia coli]], [[Streptococcus pyogenes]], [[Streptococcus pneumoniae]], [[Bacillus subtilis]], [[Klebsiella]], [[Clostridium diphtheriae]], [[Salmonella]]'', dan ''[[Shigella]]'' yang resistan terhadap [[penisilin]] dan sensitif terhadap penisilin.<ref>''Disposition and dosage regimen of cephaloridine in calves''. ''Veterinary Research Communications''. 1989. Vol. 13 (4). hlm. 325–9. doi:10.1007/BF00420839.</ref> Minat untuk mempelajari sefalosporin muncul karena beberapa sifat sefaloridin yang tidak biasa. Antibiotik ini sangat kontras dengan berbagai sefalosporin lain dan penisilin yang terkait secara struktural karena mengalami sedikit atau tidak ada sekresi bersih oleh ginjal manusia dan mamalia. Namun, sefaloridin sangat [[sitotoksisitas|sitotoksik]] terhadap tubulus ginjal proksimal, segmen [[nefron]] yang bertanggung jawab atas sekresi anion organik, termasuk para-am-minohipurat (PAH), serta berbagai antibiotik penisilin dan sefalosporin. Sitotoksisitas sefaloridin sepenuhnya dicegah oleh [[probenesid]] dan beberapa penghambat lain dari transportasi anion organik, termasuk sefalotin yang hampir tidak beracun.<ref>''Mechanisms of cephalosporin nephrotoxicity: a comparison of cephaloridine and cephaloglycin''. ''Kidney International''. November 1980. Vol. 18 (5). hlm. 591–600. doi:10.1038/ki.1980.177.</ref>


==Struktur & reaktifitas==
==Struktur & reaktifitas==
Sefaloridin adalah senyawa sefalosporin dengan gugus samping piridinium-1-ilmetil dan 2-tienilasetamido. Inti molekuler, yang merupakan turunan semua sefalosporin, adalah asam A3-7-aminosefalosporanat. Konformasi di sekitar cincin [[laktam beta|β-laktam]] cukup mirip dengan inti molekuler penisilin, sedangkan konformasi di gugus karboksil eksosiklik terhadap cincin dihidrotiazin dan tiazolidin masing-masing berbeda.
Sefaloridin adalah senyawa sefalosporin dengan gugus samping piridinium-1-ilmetil dan 2-tienilasetamido. Inti molekuler, yang merupakan turunan semua sefalosporin, adalah asam A3-7-aminosefalosporanat. Konformasi di sekitar cincin [[laktam beta|β-laktam]] cukup mirip dengan inti molekuler penisilin, sedangkan konformasi di gugus karboksil eksosiklik terhadap cincin dihidrotiazin dan tiazolidin masing-masing berbeda.<ref>[https://archive.org/details/biochemical-and-biophysical-research-comms_1969-01-06_34_1/page/14 The structure of cephaloridine hydrochloride monohydrate]. ''Biochemical and Biophysical Research Communications''. January 1969. Vol. 34 (1). hlm. 14–6. doi:10.1016/0006-291X(69)90520-8.</ref>


==Sintesis==
==Sintesis==
Sefaloridin dapat disintesis dari Sefalotin dan piridina melalui deasetilasi. Hal ini dapat dilakukan dengan memanaskan campuran berair sefalotin, tiosianat, piridina, dan [[asam fosfat]] selama beberapa jam. Setelah didinginkan, diencerkan dengan air, dan [[pH]] disesuaikan dengan asam mineral, garam tiosianat sefaloridin mengendap. Garam ini dapat dimurnikan dan diubah menjadi sefaloridin melalui penyesuaian pH atau melalui interaksi dengan resin penukar ion.
Sefaloridin dapat disintesis dari Sefalotin dan piridina melalui deasetilasi. Hal ini dapat dilakukan dengan memanaskan campuran berair sefalotin, tiosianat, piridina, dan [[asam fosfat]] selama beberapa jam. Setelah didinginkan, diencerkan dengan air, dan [[pH]] disesuaikan dengan asam mineral, garam tiosianat sefaloridin mengendap. Garam ini dapat dimurnikan dan diubah menjadi sefaloridin melalui penyesuaian pH atau melalui interaksi dengan resin penukar ion.<ref>''Remington's Pharmaceutical Sciences''. Mack Publishing Co. 1975. hlm. 1120.</ref>


==Kegunaan klinis==
==Kegunaan klinis==
Sebelum tahun 1970-an, sefaloridin digunakan untuk mengobati pasien dengan [[infeksi saluran kemih]]. Selain itu, obat ini telah berhasil digunakan dalam pengobatan berbagai infeksi saluran napas bawah. Sefaloridin sangat efektif untuk menyembuhkan [[pneumonia]] akibat ''[[Pneumococcus]]''. Obat ini memiliki tingkat keberhasilan klinis dan bakteriologis yang tinggi dalam mengobati infeksi akibat ''[[Staphylococcus]]'' dan ''[[Streptococcus]]''.
Sebelum tahun 1970-an, sefaloridin digunakan untuk mengobati pasien dengan [[infeksi saluran kemih]]. Selain itu, obat ini telah berhasil digunakan dalam pengobatan berbagai infeksi saluran napas bawah. Sefaloridin sangat efektif untuk menyembuhkan [[pneumonia]] akibat ''[[Pneumococcus]]''. Obat ini memiliki tingkat keberhasilan klinis dan bakteriologis yang tinggi dalam mengobati infeksi akibat ''[[Staphylococcus]]'' dan ''[[Streptococcus]]''.<ref>''Advances in Pharmacology and Chemotherapy''. Academic Press, Inc. Vol. 13. hlm. 83–170.</ref>


==Kinetik==
==Kinetik==
===Farmakokinetik===
===Farmakokinetik===
Analisis farmakokinetik tidak memungkinkan karena data yang memadai belum dipublikasikan. Sifat fisikokimianya hampir sama dengan sefalosporin lainnya, oleh karena itu farmakokinetiknya sebanding.
Analisis farmakokinetik tidak memungkinkan karena data yang memadai belum dipublikasikan. Sifat fisikokimianya hampir sama dengan sefalosporin lainnya, oleh karena itu farmakokinetiknya sebanding.<ref>[https://archive.org/details/sim_journal-of-pharmaceutical-sciences_1975-12_64_12/page/1899 Pharmacokinetics and clinical use of cephalosporin antibiotics]. ''Journal of Pharmaceutical Sciences''. December 1975. Vol. 64 (12). hlm. 1899–926. doi:10.1002/jps.2600641202.</ref>


====Absorpsi====
====Absorpsi====
Sefaloridin mudah diabsorpsi setelah diinjeksi intramuskular dan diabsorpsi dengan buruk dari saluran pencernaan.
Sefaloridin mudah diabsorpsi setelah diinjeksi intramuskular dan diabsorpsi dengan buruk dari saluran pencernaan.<ref>[https://archive.org/details/sim_journal-of-pharmaceutical-sciences_1975-12_64_12/page/1899 Pharmacokinetics and clinical use of cephalosporin antibiotics]. ''Journal of Pharmaceutical Sciences''. December 1975. Vol. 64 (12). hlm. 1899–926. doi:10.1002/jps.2600641202.</ref>


====Distribusi====
====Distribusi====
Jalur eliminasi minor adalah ekskresi bilier. Ketika konsentrasi serum darah adalah 24 μg/mL, konsentrasi bilier yang sesuai adalah 10 μg/mL. Dalam cairan tulang belakang, konsentrasi sefaloridin adalah 6–12% dari konsentrasi dalam darah dan serum. Sefaloridin didistribusikan dengan baik ke dalam hati, dinding lambung, paru-paru, limpa, dan juga ditemukan pada luka baru satu jam setelah injeksi. Konsentrasi pada luka akan menurun seiring bertambahnya usia luka. Namun, obat ini tidak dapat menembus dengan baik ke dalam [[cairan serebrospinal]] dan ditemukan dalam jumlah yang jauh lebih sedikit di korteks serebral.
Jalur eliminasi minor adalah ekskresi bilier. Ketika konsentrasi serum darah adalah 24 μg/mL, konsentrasi bilier yang sesuai adalah 10 μg/mL. Dalam cairan tulang belakang, konsentrasi sefaloridin adalah 6–12% dari konsentrasi dalam darah dan serum. Sefaloridin didistribusikan dengan baik ke dalam hati, dinding lambung, paru-paru, limpa, dan juga ditemukan pada luka baru satu jam setelah injeksi. Konsentrasi pada luka akan menurun seiring bertambahnya usia luka. Namun, obat ini tidak dapat menembus dengan baik ke dalam [[cairan serebrospinal]] dan ditemukan dalam jumlah yang jauh lebih sedikit di korteks serebral.<ref>[https://archive.org/details/sim_journal-of-pharmaceutical-sciences_1975-12_64_12/page/1899 Pharmacokinetics and clinical use of cephalosporin antibiotics]. ''Journal of Pharmaceutical Sciences''. December 1975. Vol. 64 (12). hlm. 1899–926. doi:10.1002/jps.2600641202.</ref>


=====Pada kehamilan=====
=====Pada kehamilan=====
Ketika sefaloridin diberikan kepada wanita hamil, obat ini melewati [[plasenta]]. Konsentrasi sefaloridin dapat diukur dalam serum bayi baru lahir hingga 22 jam setelah persalinan, dan dapat mencapai kadar 54% dari konsentrasi dalam serum ibu. Ketika diberikan dosis intramuskular 1 g, puncaknya terjadi dalam darah tali pusat setelah 4 jam. Dalam [[air ketuban|cairan ketuban]], konsentrasi membutuhkan waktu sekitar 3 jam untuk mencapai efek antibakterinya.
Ketika sefaloridin diberikan kepada wanita hamil, obat ini melewati [[plasenta]]. Konsentrasi sefaloridin dapat diukur dalam serum bayi baru lahir hingga 22 jam setelah persalinan, dan dapat mencapai kadar 54% dari konsentrasi dalam serum ibu. Ketika diberikan dosis intramuskular 1 g, puncaknya terjadi dalam darah tali pusat setelah 4 jam. Dalam [[air ketuban|cairan ketuban]], konsentrasi membutuhkan waktu sekitar 3 jam untuk mencapai efek antibakterinya.<ref>''Advances in Pharmacology and Chemotherapy''. Academic Press, Inc. Vol. 13. hlm. 83–170.</ref>


====Metabolisme dan ekskresi====
====Metabolisme dan ekskresi====
Spesimen urin menunjukkan bahwa tidak ada metabolit aktif mikrobiologis lain yang hadir kecuali sefaloridin dan bahwa sefaloridin diekskresikan tanpa perubahan. Klirens ginjal dilaporkan sebesar 146–280 ml/menit, klirens plasma sebesar 167 ml/menit/1,73m2 dan klirens ginjal sebesar 125 ml/menit/1,73m2. Waktu paruh serum 1,1-1,5 jam dan volume distribusi sebesar 16 liter dilaporkan.
Spesimen urin menunjukkan bahwa tidak ada metabolit aktif mikrobiologis lain yang hadir kecuali sefaloridin dan bahwa sefaloridin diekskresikan tanpa perubahan. Klirens ginjal dilaporkan sebesar 146–280 ml/menit, klirens plasma sebesar 167 ml/menit/1,73m2 dan klirens ginjal sebesar 125 ml/menit/1,73m2. Waktu paruh serum 1,1-1,5 jam dan volume distribusi sebesar 16 liter dilaporkan.<ref>[https://archive.org/details/sim_journal-of-pharmaceutical-sciences_1975-12_64_12/page/1899 Pharmacokinetics and clinical use of cephalosporin antibiotics]. ''Journal of Pharmaceutical Sciences''. December 1975. Vol. 64 (12). hlm. 1899–926. doi:10.1002/jps.2600641202.</ref>


==Efek samping==
==Efek samping==
===Toksisitas===
===Toksisitas===
Sefaloridin dapat menyebabkan kerusakan ginjal pada manusia, karena secara aktif diserap dari darah oleh sel [[tubulus proksimal]] melalui transporter anion organik (OAT) di membran basolateral. Anion organik disekresikan melalui sel tubulus proksimal melalui transpor transelular searah. Anion organik diserap dari darah ke dalam sel melalui membran basolateral dan dikeluarkan melalui membran ''brush border'' ke dalam cairan tubulus. Sefaloridin adalah substrat untuk OAT1 dan dengan demikian dapat diangkut ke dalam sel tubulus proksimal, yang membentuk korteks ginjal. Namun obat ini tidak dapat bergerak dengan mudah melintasi membran luminal karena merupakan [[ion zwitter]]. Kelompok kationik (cincin piridinium) dari senyawa tersebut mungkin menghambat aliran keluar melalui membran. Hal ini mengakibatkan akumulasi sefaloridin di korteks ginjal, yang menyebabkan kerusakan dan nekrosis segmen S2 tubulus. Namun, tidak ada efek samping pada fungsi ginjal jika kadar serum sefaloridin dipertahankan antara 20 dan 80 μg/mL.
Sefaloridin dapat menyebabkan kerusakan ginjal pada manusia, karena secara aktif diserap dari darah oleh sel [[tubulus proksimal]] melalui transporter anion organik (OAT) di membran basolateral. Anion organik disekresikan melalui sel tubulus proksimal melalui transpor transelular searah. Anion organik diserap dari darah ke dalam sel melalui membran basolateral dan dikeluarkan melalui membran ''brush border'' ke dalam cairan tubulus.<ref>''Role of organic anion transporter 1 (OAT1) in cephaloridine (CER)-induced nephrotoxicity''. ''Kidney International''. December 1999. Vol. 56 (6). hlm. 2128–36. doi:10.1046/j.1523-1755.1999.00789.x.</ref> Sefaloridin adalah substrat untuk OAT1 dan dengan demikian dapat diangkut ke dalam sel tubulus proksimal, yang membentuk korteks ginjal.<ref>John Timbrell. [https://archive.org/details/principlesofbioc0000timb_a9v2 Principles of Biochemical Toxicology]. CRC. 2008. hlm. [https://archive.org/details/principlesofbioc0000timb_a9v2/page/332 332]–335. ISBN 978-0-8493-7302-2.</ref> Namun obat ini tidak dapat bergerak dengan mudah melintasi membran luminal karena merupakan [[ion zwitter]]. Kelompok kationik (cincin piridinium) dari senyawa tersebut mungkin menghambat aliran keluar melalui membran.<ref>John Timbrell. [https://archive.org/details/principlesofbioc0000timb_a9v2 Principles of Biochemical Toxicology]. CRC. 2008. hlm. [https://archive.org/details/principlesofbioc0000timb_a9v2/page/332 332]–335. ISBN 978-0-8493-7302-2.</ref><ref>Robert W. Schrier. [https://books.google.com/books?id=ERqtOZMAiw0C&q=Cephaloridine+reactivity&pg=PA1041 Diseases of the kidney & urinary tract]. Wolters Kluwer/Lippincott Williams & Wilkins. 2007. hlm. 1042. ISBN 978-0-7817-9307-0.</ref> Hal ini mengakibatkan akumulasi sefaloridin di korteks ginjal, yang menyebabkan kerusakan dan nekrosis segmen S2 tubulus.<ref>''Role of organic anion transporter 1 (OAT1) in cephaloridine (CER)-induced nephrotoxicity''. ''Kidney International''. December 1999. Vol. 56 (6). hlm. 2128–36. doi:10.1046/j.1523-1755.1999.00789.x.</ref><ref>John Timbrell. [https://archive.org/details/principlesofbioc0000timb_a9v2 Principles of Biochemical Toxicology]. CRC. 2008. hlm. [https://archive.org/details/principlesofbioc0000timb_a9v2/page/332 332]–335. ISBN 978-0-8493-7302-2.</ref> Namun, tidak ada efek samping pada fungsi ginjal jika kadar serum sefaloridin dipertahankan antara 20 dan 80 μg/mL.<ref>[https://archive.org/details/sim_the-lancet_1972-09-09_2_7776/page/514 Absence of nephrotoxicity during cephaloridine therapy for urinary-tract infection]. ''Lancet''. September 1972. Vol. 2 (7776). hlm. 514–6. doi:10.1016/S0140-6736(72)91908-3.</ref>


===Metabolisme===
===Metabolisme===
Sefaloridin diekskresikan dalam urin tanpa mengalami [[metabolisme]]. Obat ini menghambat transportasi ion organik di ginjal. Proses ini didahului oleh peroksidasi [[lipid]]. Setelah itu, kemungkinan kombinasi kejadian seperti pembentukan zat antara reaktif, [[radikal bebas]], dan stimulasi peroksidasi lipid, menyebabkan kerusakan peroksidatif pada [[membran sel]] dan [[mitokondria]]. Belum jelas apakah aktivasi metabolik oleh [[sitokrom P450]], penataan ulang kimia, aktivasi reduktif, atau semua tindakan ini terlibat.
Sefaloridin diekskresikan dalam urin tanpa mengalami [[metabolisme]].<ref>''Cephalosporins and related antibiotics: an overview''. ''Reviews of Infectious Diseases''. 1982. Vol. 4 Suppl. hlm. S281-7. doi:10.1093/clinids/4.Supplement_2.S281.</ref> Obat ini menghambat transportasi ion organik di ginjal. Proses ini didahului oleh peroksidasi [[lipid]]. Setelah itu, kemungkinan kombinasi kejadian seperti pembentukan zat antara reaktif, [[radikal bebas]], dan stimulasi peroksidasi lipid, menyebabkan kerusakan peroksidatif pada [[membran sel]] dan [[mitokondria]]. Belum jelas apakah aktivasi metabolik oleh [[sitokrom P450]], penataan ulang kimia, aktivasi reduktif, atau semua tindakan ini terlibat.<ref>John Timbrell. [https://archive.org/details/principlesofbioc0000timb_a9v2 Principles of Biochemical Toxicology]. CRC. 2008. hlm. [https://archive.org/details/principlesofbioc0000timb_a9v2/page/332 332]–335. ISBN 978-0-8493-7302-2.</ref>


Hipotesis yang dibuat tentang mekanisme kerja yang menyebabkan toksisitas sefaloridin adalah:
Hipotesis yang dibuat tentang mekanisme kerja yang menyebabkan toksisitas sefaloridin adalah:
*[[Metabolit]] reaktif dibentuk oleh sitokrom P450 atau muncul dari destabilisasi cincin β-laktam. Aktivasi metabolik obat-obatan mungkin terjadi melalui sitokrom P450, yang menghasilkan metabolit reaktif. Hipotesis ini didasarkan pada perilaku beberapa penghambat CYP450, yang menurunkan toksisitas, dan beberapa penginduksi monooksigenase yang meningkatkan toksisitas. Mungkin juga terbentuk zat antara reaktif akibat cincin β-laktam yang tidak stabil. Gugus samping piridinium dari sefaloridin memiliki ikatan yang tidak stabil dengan inti senyawa (dibandingkan dengan sefalosporin lainnya). Ketika gugus samping ini keluar, cincin β-laktam menjadi tidak stabil akibat pergeseran elektron intramolekuler. Dengan demikian, gugus yang keluar menghasilkan produk reaktif.
*[[Metabolit]] reaktif dibentuk oleh sitokrom P450 atau muncul dari destabilisasi cincin β-laktam. Aktivasi metabolik obat-obatan mungkin terjadi melalui sitokrom P450, yang menghasilkan metabolit reaktif. Hipotesis ini didasarkan pada perilaku beberapa penghambat CYP450, yang menurunkan toksisitas, dan beberapa penginduksi monooksigenase yang meningkatkan toksisitas. Mungkin juga terbentuk zat antara reaktif akibat cincin β-laktam yang tidak stabil.<ref>John Timbrell. [https://archive.org/details/principlesofbioc0000timb_a9v2 Principles of Biochemical Toxicology]. CRC. 2008. hlm. [https://archive.org/details/principlesofbioc0000timb_a9v2/page/332 332]–335. ISBN 978-0-8493-7302-2.</ref> Gugus samping piridinium dari sefaloridin memiliki ikatan yang tidak stabil dengan inti senyawa (dibandingkan dengan sefalosporin lainnya). Ketika gugus samping ini keluar, cincin β-laktam menjadi tidak stabil akibat pergeseran elektron intramolekuler.<ref>''Nephrotoxicity of beta-lactam antibiotics: mechanisms and strategies for prevention''. ''Pediatric Nephrology''. December 1997. Vol. 11 (6). hlm. 768–72. doi:10.1007/s004670050386.</ref> Dengan demikian, gugus yang keluar menghasilkan produk reaktif.
*Peroksidasi lipid dan stres oksidatif dapat menyebabkan kerusakan membran. Peroksidasi lipid dan stres oksidatif terjadi karena produk peroksidasi lipid seperti malondialdehida telah terdeteksi. [[Glutation]] tereduksi (GSH) dan NADPH keduanya terkuras. Akibatnya, GSSG tidak dapat direduksi menjadi GSH. Hal ini menyebabkan peningkatan [[toksisitas]] karena stres oksidatif tidak dapat dikurangi. Selain itu, nefrotoksisitas diperparah oleh defisiensi [[selenium]] atau [[tokoferol]]. Kelompok samping piridinium berinteraksi dengan NADP tereduksi dalam siklus [[redoks]]. Telah dikemukakan bahwa radikal anion superoksida dan radikal hidroksil dapat terbentuk dan bahwa peroksidasi lipid dapat bertanggung jawab atas toksisitas sefaloridin.
*Peroksidasi lipid dan stres oksidatif dapat menyebabkan kerusakan membran. Peroksidasi lipid dan stres oksidatif terjadi karena produk peroksidasi lipid seperti malondialdehida telah terdeteksi. [[Glutation]] tereduksi (GSH) dan NADPH keduanya terkuras. Akibatnya, GSSG tidak dapat direduksi menjadi GSH. Hal ini menyebabkan peningkatan [[toksisitas]] karena stres oksidatif tidak dapat dikurangi. Selain itu, nefrotoksisitas diperparah oleh defisiensi [[selenium]] atau [[tokoferol]]. Kelompok samping piridinium berinteraksi dengan NADP tereduksi dalam siklus [[redoks]]. Telah dikemukakan bahwa radikal anion superoksida dan radikal hidroksil dapat terbentuk dan bahwa peroksidasi lipid dapat bertanggung jawab atas toksisitas sefaloridin.<ref>John Timbrell. [https://archive.org/details/principlesofbioc0000timb_a9v2 Principles of Biochemical Toxicology]. CRC. 2008. hlm. [https://archive.org/details/principlesofbioc0000timb_a9v2/page/332 332]–335. ISBN 978-0-8493-7302-2.</ref><ref>''Nephrotoxicity of beta-lactam antibiotics: mechanisms and strategies for prevention''. ''Pediatric Nephrology''. December 1997. Vol. 11 (6). hlm. 768–72. doi:10.1007/s004670050386.</ref>
*Kerusakan pada [[mitokondria]] dan proses pernapasan intraseluler serta penurunan respirasi mitokondria dapat menyebabkan nefrotoksisitas. Kerusakan yang disebutkan sebelumnya telah terdeteksi setelah paparan sefalosporin. [[antibiotik laktam beta|Antibiotik β-laktam]] melukai mitokondria dengan menyerang pembawa substrat metabolik dari membran bagian dalam. Toksisitas pernapasan disebabkan oleh inaktivasi pembawa substrat anion mitokondria.
*Kerusakan pada [[mitokondria]] dan proses pernapasan intraseluler serta penurunan respirasi mitokondria dapat menyebabkan nefrotoksisitas. Kerusakan yang disebutkan sebelumnya telah terdeteksi setelah paparan sefalosporin.<ref>John Timbrell. [https://archive.org/details/principlesofbioc0000timb_a9v2 Principles of Biochemical Toxicology]. CRC. 2008. hlm. [https://archive.org/details/principlesofbioc0000timb_a9v2/page/332 332]–335. ISBN 978-0-8493-7302-2.</ref> [[antibiotik laktam beta|Antibiotik β-laktam]] melukai mitokondria dengan menyerang pembawa substrat metabolik dari membran bagian dalam.<ref>''Nephrotoxicity of beta-lactam antibiotics: mechanisms and strategies for prevention''. ''Pediatric Nephrology''. December 1997. Vol. 11 (6). hlm. 768–72. doi:10.1007/s004670050386.</ref> Toksisitas pernapasan disebabkan oleh inaktivasi pembawa substrat anion mitokondria.<ref>''Role of organic anion transporter 1 (OAT1) in cephaloridine (CER)-induced nephrotoxicity''. ''Kidney International''. December 1999. Vol. 56 (6). hlm. 2128–36. doi:10.1046/j.1523-1755.1999.00789.x.</ref>


===Gejala kerusakan ginjal akibat sefaloridin===
===Gejala kerusakan ginjal akibat sefaloridin===
Beberapa gejala akibat sefaloridin adalah: [[asimtomatik]], enzimuria, [[proteinuria]], nekrosis tubular, peningkatan kadar urea dalam darah, anemia, peningkatan kadar ion hidrogen dalam darah, [[kelelahan]], peningkatan tekanan darah, peningkatan kadar elektrolit darah, disfungsi ginjal, kerusakan ginjal, gangguan keseimbangan air tubuh dan gangguan keseimbangan [[elektrolit]].
Beberapa gejala akibat sefaloridin adalah: [[asimtomatik]], enzimuria, [[proteinuria]], nekrosis tubular, peningkatan kadar urea dalam darah, anemia, peningkatan kadar ion hidrogen dalam darah, [[kelelahan]], peningkatan tekanan darah, peningkatan kadar elektrolit darah, disfungsi ginjal, kerusakan ginjal, gangguan keseimbangan air tubuh dan gangguan keseimbangan [[elektrolit]].<ref>[http://www.wrongdiagnosis.com/k/kidney_damage_cephaloridine/intro.htm Kidney damage -- Cephaloridine]. ''RightDiagnosis''. Health Grades Inc.</ref>


===Komplikasi akibat sefaloridin===
===Komplikasi akibat sefaloridin===
Komplikasi akibat penggunaan sefaloridin meliputi [[sawan]], [[koma (medis)|koma]], gagal ginjal kronis, gagal ginjal akut, dan kematian.
Komplikasi akibat penggunaan sefaloridin meliputi [[sawan]], [[koma (medis)|koma]], gagal ginjal kronis, gagal ginjal akut, dan kematian.<ref>[http://www.wrongdiagnosis.com/k/kidney_damage_cephaloridine/intro.htm Kidney damage -- Cephaloridine]. ''RightDiagnosis''. Health Grades Inc.</ref>


===Pengobatan kerusakan ginjal akibat sefaloridin===
===Pengobatan kerusakan ginjal akibat sefaloridin===
Kerusakan ginjal dapat diobati dengan membuang toksin dari tubuh, memantau dan mendukung fungsi ginjal (dialisis jika perlu), dan pada kasus yang parah dilakukan [[transplantasi ginjal]]. Terapi suportif pada fase akut dapat dilakukan dengan manajemen cairan, elektrolit, dan [[tekanan darah tinggi|hipertensi]]. Manajemen jangka panjang meliputi pemantauan fungsi ginjal dan manajemen [[tekanan darah tinggi]] yang ketat. Lebih jauh, manajemen diet dapat mencakup manajemen [[protein]] dan [[natrium]], hidrasi yang adekuat, serta pembatasan [[fosfat]] dan [[kalium]]. Dalam kasus [[gagal ginjal]] kronis, manajemen diet juga mencakup agonis eritropoietin (karena [[anemia]] dikaitkan dengan gagal ginjal kronis), pengikat fosfat (dalam kasus [[hiperfosfatemia]]), suplemen [[kalsium]], suplemen [[vitamin D]], dan [[natrium bikarbonat]] (untuk memperbaiki gangguan asam-basa).
Kerusakan ginjal dapat diobati dengan membuang toksin dari tubuh, memantau dan mendukung fungsi ginjal (dialisis jika perlu), dan pada kasus yang parah dilakukan [[transplantasi ginjal]]. Terapi suportif pada fase akut dapat dilakukan dengan manajemen cairan, elektrolit, dan [[tekanan darah tinggi|hipertensi]]. Manajemen jangka panjang meliputi pemantauan fungsi ginjal dan manajemen [[tekanan darah tinggi]] yang ketat. Lebih jauh, manajemen diet dapat mencakup manajemen [[protein]] dan [[natrium]], hidrasi yang adekuat, serta pembatasan [[fosfat]] dan [[kalium]]. Dalam kasus [[gagal ginjal]] kronis, manajemen diet juga mencakup agonis eritropoietin (karena [[anemia]] dikaitkan dengan gagal ginjal kronis), pengikat fosfat (dalam kasus [[hiperfosfatemia]]), suplemen [[kalsium]], suplemen [[vitamin D]], dan [[natrium bikarbonat]] (untuk memperbaiki gangguan asam-basa).<ref>[http://www.wrongdiagnosis.com/k/kidney_damage_cephaloridine/intro.htm Kidney damage -- Cephaloridine]. ''RightDiagnosis''. Health Grades Inc.</ref>
 
==Referensi==


== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


== Sumber dan atribusi ==
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sefaloridin&oldid=29581660 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29581660 (2026-08-15T08:41:42Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sefaloridin&oldid=29581660 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29581660 (2026-08-15T08:41:42Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 27 Agustus 2026 22.58

Berkas:Cefaloridine.svg
Cefaloridine

Sefaloridin adalah antibiotik semisintesis yang termasuk dalam golongan sefalosporin generasi pertama. Karena sifat nefrotoksiknya (efek toksik pada ginjal), obat ini sudah jarang digunakan semenjak tahun 1980-an.[1]

Sefaloridin dipatenkan oleh Glaxo pada tahun 1965 setelah sintesis asam 7-aminosefalosporanat.[2][3]

Sejarah

Sejak ditemukannya sefalosporin P, N, dan C pada tahun 1948, telah banyak penelitian yang menjelaskan aksi antibiotik sefalosporin dan kemungkinan untuk mensintesis turunannya. Hidrolisis sefalosporin C, isolasi asam 7-aminosefalosporanat, dan penambahan rantai samping membuka kemungkinan untuk memproduksi berbagai sefalosporin semisintetis. Pada tahun 1962, sefalotin dan sefaloridin diperkenalkan.[4]

Sefaloridin sempat populer karena dapat ditoleransi secara intramuskular dan mencapai kadar yang lebih tinggi dan lebih berkelanjutan dalam darah daripada sefalotin. Namun, obat ini mengikat protein pada tingkat yang jauh lebih rendah daripada sefalotin. Karena obat ini juga diserap dengan buruk setelah pemberian oral, penggunaan obat ini untuk manusia menurun dengan cepat, terutama sejak sefalosporin generasi kedua diperkenalkan pada tahun 1970-an.[5] Saat ini, obat ini lebih umum digunakan dalam praktik veteriner untuk mengobati infeksi bakteri ringan hingga berat yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Streptococcus pyogenes, Streptococcus pneumoniae, Bacillus subtilis, Klebsiella, Clostridium diphtheriae, Salmonella, dan Shigella yang resistan terhadap penisilin dan sensitif terhadap penisilin.[6] Minat untuk mempelajari sefalosporin muncul karena beberapa sifat sefaloridin yang tidak biasa. Antibiotik ini sangat kontras dengan berbagai sefalosporin lain dan penisilin yang terkait secara struktural karena mengalami sedikit atau tidak ada sekresi bersih oleh ginjal manusia dan mamalia. Namun, sefaloridin sangat sitotoksik terhadap tubulus ginjal proksimal, segmen nefron yang bertanggung jawab atas sekresi anion organik, termasuk para-am-minohipurat (PAH), serta berbagai antibiotik penisilin dan sefalosporin. Sitotoksisitas sefaloridin sepenuhnya dicegah oleh probenesid dan beberapa penghambat lain dari transportasi anion organik, termasuk sefalotin yang hampir tidak beracun.[7]

Struktur & reaktifitas

Sefaloridin adalah senyawa sefalosporin dengan gugus samping piridinium-1-ilmetil dan 2-tienilasetamido. Inti molekuler, yang merupakan turunan semua sefalosporin, adalah asam A3-7-aminosefalosporanat. Konformasi di sekitar cincin β-laktam cukup mirip dengan inti molekuler penisilin, sedangkan konformasi di gugus karboksil eksosiklik terhadap cincin dihidrotiazin dan tiazolidin masing-masing berbeda.[8]

Sintesis

Sefaloridin dapat disintesis dari Sefalotin dan piridina melalui deasetilasi. Hal ini dapat dilakukan dengan memanaskan campuran berair sefalotin, tiosianat, piridina, dan asam fosfat selama beberapa jam. Setelah didinginkan, diencerkan dengan air, dan pH disesuaikan dengan asam mineral, garam tiosianat sefaloridin mengendap. Garam ini dapat dimurnikan dan diubah menjadi sefaloridin melalui penyesuaian pH atau melalui interaksi dengan resin penukar ion.[9]

Kegunaan klinis

Sebelum tahun 1970-an, sefaloridin digunakan untuk mengobati pasien dengan infeksi saluran kemih. Selain itu, obat ini telah berhasil digunakan dalam pengobatan berbagai infeksi saluran napas bawah. Sefaloridin sangat efektif untuk menyembuhkan pneumonia akibat Pneumococcus. Obat ini memiliki tingkat keberhasilan klinis dan bakteriologis yang tinggi dalam mengobati infeksi akibat Staphylococcus dan Streptococcus.[10]

Kinetik

Farmakokinetik

Analisis farmakokinetik tidak memungkinkan karena data yang memadai belum dipublikasikan. Sifat fisikokimianya hampir sama dengan sefalosporin lainnya, oleh karena itu farmakokinetiknya sebanding.[11]

Absorpsi

Sefaloridin mudah diabsorpsi setelah diinjeksi intramuskular dan diabsorpsi dengan buruk dari saluran pencernaan.[12]

Distribusi

Jalur eliminasi minor adalah ekskresi bilier. Ketika konsentrasi serum darah adalah 24 μg/mL, konsentrasi bilier yang sesuai adalah 10 μg/mL. Dalam cairan tulang belakang, konsentrasi sefaloridin adalah 6–12% dari konsentrasi dalam darah dan serum. Sefaloridin didistribusikan dengan baik ke dalam hati, dinding lambung, paru-paru, limpa, dan juga ditemukan pada luka baru satu jam setelah injeksi. Konsentrasi pada luka akan menurun seiring bertambahnya usia luka. Namun, obat ini tidak dapat menembus dengan baik ke dalam cairan serebrospinal dan ditemukan dalam jumlah yang jauh lebih sedikit di korteks serebral.[13]

Pada kehamilan

Ketika sefaloridin diberikan kepada wanita hamil, obat ini melewati plasenta. Konsentrasi sefaloridin dapat diukur dalam serum bayi baru lahir hingga 22 jam setelah persalinan, dan dapat mencapai kadar 54% dari konsentrasi dalam serum ibu. Ketika diberikan dosis intramuskular 1 g, puncaknya terjadi dalam darah tali pusat setelah 4 jam. Dalam cairan ketuban, konsentrasi membutuhkan waktu sekitar 3 jam untuk mencapai efek antibakterinya.[14]

Metabolisme dan ekskresi

Spesimen urin menunjukkan bahwa tidak ada metabolit aktif mikrobiologis lain yang hadir kecuali sefaloridin dan bahwa sefaloridin diekskresikan tanpa perubahan. Klirens ginjal dilaporkan sebesar 146–280 ml/menit, klirens plasma sebesar 167 ml/menit/1,73m2 dan klirens ginjal sebesar 125 ml/menit/1,73m2. Waktu paruh serum 1,1-1,5 jam dan volume distribusi sebesar 16 liter dilaporkan.[15]

Efek samping

Toksisitas

Sefaloridin dapat menyebabkan kerusakan ginjal pada manusia, karena secara aktif diserap dari darah oleh sel tubulus proksimal melalui transporter anion organik (OAT) di membran basolateral. Anion organik disekresikan melalui sel tubulus proksimal melalui transpor transelular searah. Anion organik diserap dari darah ke dalam sel melalui membran basolateral dan dikeluarkan melalui membran brush border ke dalam cairan tubulus.[16] Sefaloridin adalah substrat untuk OAT1 dan dengan demikian dapat diangkut ke dalam sel tubulus proksimal, yang membentuk korteks ginjal.[17] Namun obat ini tidak dapat bergerak dengan mudah melintasi membran luminal karena merupakan ion zwitter. Kelompok kationik (cincin piridinium) dari senyawa tersebut mungkin menghambat aliran keluar melalui membran.[18][19] Hal ini mengakibatkan akumulasi sefaloridin di korteks ginjal, yang menyebabkan kerusakan dan nekrosis segmen S2 tubulus.[20][21] Namun, tidak ada efek samping pada fungsi ginjal jika kadar serum sefaloridin dipertahankan antara 20 dan 80 μg/mL.[22]

Metabolisme

Sefaloridin diekskresikan dalam urin tanpa mengalami metabolisme.[23] Obat ini menghambat transportasi ion organik di ginjal. Proses ini didahului oleh peroksidasi lipid. Setelah itu, kemungkinan kombinasi kejadian seperti pembentukan zat antara reaktif, radikal bebas, dan stimulasi peroksidasi lipid, menyebabkan kerusakan peroksidatif pada membran sel dan mitokondria. Belum jelas apakah aktivasi metabolik oleh sitokrom P450, penataan ulang kimia, aktivasi reduktif, atau semua tindakan ini terlibat.[24]

Hipotesis yang dibuat tentang mekanisme kerja yang menyebabkan toksisitas sefaloridin adalah:

  • Metabolit reaktif dibentuk oleh sitokrom P450 atau muncul dari destabilisasi cincin β-laktam. Aktivasi metabolik obat-obatan mungkin terjadi melalui sitokrom P450, yang menghasilkan metabolit reaktif. Hipotesis ini didasarkan pada perilaku beberapa penghambat CYP450, yang menurunkan toksisitas, dan beberapa penginduksi monooksigenase yang meningkatkan toksisitas. Mungkin juga terbentuk zat antara reaktif akibat cincin β-laktam yang tidak stabil.[25] Gugus samping piridinium dari sefaloridin memiliki ikatan yang tidak stabil dengan inti senyawa (dibandingkan dengan sefalosporin lainnya). Ketika gugus samping ini keluar, cincin β-laktam menjadi tidak stabil akibat pergeseran elektron intramolekuler.[26] Dengan demikian, gugus yang keluar menghasilkan produk reaktif.
  • Peroksidasi lipid dan stres oksidatif dapat menyebabkan kerusakan membran. Peroksidasi lipid dan stres oksidatif terjadi karena produk peroksidasi lipid seperti malondialdehida telah terdeteksi. Glutation tereduksi (GSH) dan NADPH keduanya terkuras. Akibatnya, GSSG tidak dapat direduksi menjadi GSH. Hal ini menyebabkan peningkatan toksisitas karena stres oksidatif tidak dapat dikurangi. Selain itu, nefrotoksisitas diperparah oleh defisiensi selenium atau tokoferol. Kelompok samping piridinium berinteraksi dengan NADP tereduksi dalam siklus redoks. Telah dikemukakan bahwa radikal anion superoksida dan radikal hidroksil dapat terbentuk dan bahwa peroksidasi lipid dapat bertanggung jawab atas toksisitas sefaloridin.[27][28]
  • Kerusakan pada mitokondria dan proses pernapasan intraseluler serta penurunan respirasi mitokondria dapat menyebabkan nefrotoksisitas. Kerusakan yang disebutkan sebelumnya telah terdeteksi setelah paparan sefalosporin.[29] Antibiotik β-laktam melukai mitokondria dengan menyerang pembawa substrat metabolik dari membran bagian dalam.[30] Toksisitas pernapasan disebabkan oleh inaktivasi pembawa substrat anion mitokondria.[31]

Gejala kerusakan ginjal akibat sefaloridin

Beberapa gejala akibat sefaloridin adalah: asimtomatik, enzimuria, proteinuria, nekrosis tubular, peningkatan kadar urea dalam darah, anemia, peningkatan kadar ion hidrogen dalam darah, kelelahan, peningkatan tekanan darah, peningkatan kadar elektrolit darah, disfungsi ginjal, kerusakan ginjal, gangguan keseimbangan air tubuh dan gangguan keseimbangan elektrolit.[32]

Komplikasi akibat sefaloridin

Komplikasi akibat penggunaan sefaloridin meliputi sawan, koma, gagal ginjal kronis, gagal ginjal akut, dan kematian.[33]

Pengobatan kerusakan ginjal akibat sefaloridin

Kerusakan ginjal dapat diobati dengan membuang toksin dari tubuh, memantau dan mendukung fungsi ginjal (dialisis jika perlu), dan pada kasus yang parah dilakukan transplantasi ginjal. Terapi suportif pada fase akut dapat dilakukan dengan manajemen cairan, elektrolit, dan hipertensi. Manajemen jangka panjang meliputi pemantauan fungsi ginjal dan manajemen tekanan darah tinggi yang ketat. Lebih jauh, manajemen diet dapat mencakup manajemen protein dan natrium, hidrasi yang adekuat, serta pembatasan fosfat dan kalium. Dalam kasus gagal ginjal kronis, manajemen diet juga mencakup agonis eritropoietin (karena anemia dikaitkan dengan gagal ginjal kronis), pengikat fosfat (dalam kasus hiperfosfatemia), suplemen kalsium, suplemen vitamin D, dan natrium bikarbonat (untuk memperbaiki gangguan asam-basa).[34]

Referensi

  1. Ernst Mutschler, Björn Lemmer (Hrsg.): Wörterbuch der Pharmazie. Band 2: Pharmakologie, Medizinische Grundbegriffe. WVG, Stuttgart 1985, ISBN 3-8047-0667-3, S. 105.
  2. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  3. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  4. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  5. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  6. Disposition and dosage regimen of cephaloridine in calves. Veterinary Research Communications. 1989. Vol. 13 (4). hlm. 325–9. doi:10.1007/BF00420839.
  7. Mechanisms of cephalosporin nephrotoxicity: a comparison of cephaloridine and cephaloglycin. Kidney International. November 1980. Vol. 18 (5). hlm. 591–600. doi:10.1038/ki.1980.177.
  8. The structure of cephaloridine hydrochloride monohydrate. Biochemical and Biophysical Research Communications. January 1969. Vol. 34 (1). hlm. 14–6. doi:10.1016/0006-291X(69)90520-8.
  9. Remington's Pharmaceutical Sciences. Mack Publishing Co. 1975. hlm. 1120.
  10. Advances in Pharmacology and Chemotherapy. Academic Press, Inc. Vol. 13. hlm. 83–170.
  11. Pharmacokinetics and clinical use of cephalosporin antibiotics. Journal of Pharmaceutical Sciences. December 1975. Vol. 64 (12). hlm. 1899–926. doi:10.1002/jps.2600641202.
  12. Pharmacokinetics and clinical use of cephalosporin antibiotics. Journal of Pharmaceutical Sciences. December 1975. Vol. 64 (12). hlm. 1899–926. doi:10.1002/jps.2600641202.
  13. Pharmacokinetics and clinical use of cephalosporin antibiotics. Journal of Pharmaceutical Sciences. December 1975. Vol. 64 (12). hlm. 1899–926. doi:10.1002/jps.2600641202.
  14. Advances in Pharmacology and Chemotherapy. Academic Press, Inc. Vol. 13. hlm. 83–170.
  15. Pharmacokinetics and clinical use of cephalosporin antibiotics. Journal of Pharmaceutical Sciences. December 1975. Vol. 64 (12). hlm. 1899–926. doi:10.1002/jps.2600641202.
  16. Role of organic anion transporter 1 (OAT1) in cephaloridine (CER)-induced nephrotoxicity. Kidney International. December 1999. Vol. 56 (6). hlm. 2128–36. doi:10.1046/j.1523-1755.1999.00789.x.
  17. John Timbrell. Principles of Biochemical Toxicology. CRC. 2008. hlm. 332–335. ISBN 978-0-8493-7302-2.
  18. John Timbrell. Principles of Biochemical Toxicology. CRC. 2008. hlm. 332–335. ISBN 978-0-8493-7302-2.
  19. Robert W. Schrier. Diseases of the kidney & urinary tract. Wolters Kluwer/Lippincott Williams & Wilkins. 2007. hlm. 1042. ISBN 978-0-7817-9307-0.
  20. Role of organic anion transporter 1 (OAT1) in cephaloridine (CER)-induced nephrotoxicity. Kidney International. December 1999. Vol. 56 (6). hlm. 2128–36. doi:10.1046/j.1523-1755.1999.00789.x.
  21. John Timbrell. Principles of Biochemical Toxicology. CRC. 2008. hlm. 332–335. ISBN 978-0-8493-7302-2.
  22. Absence of nephrotoxicity during cephaloridine therapy for urinary-tract infection. Lancet. September 1972. Vol. 2 (7776). hlm. 514–6. doi:10.1016/S0140-6736(72)91908-3.
  23. Cephalosporins and related antibiotics: an overview. Reviews of Infectious Diseases. 1982. Vol. 4 Suppl. hlm. S281-7. doi:10.1093/clinids/4.Supplement_2.S281.
  24. John Timbrell. Principles of Biochemical Toxicology. CRC. 2008. hlm. 332–335. ISBN 978-0-8493-7302-2.
  25. John Timbrell. Principles of Biochemical Toxicology. CRC. 2008. hlm. 332–335. ISBN 978-0-8493-7302-2.
  26. Nephrotoxicity of beta-lactam antibiotics: mechanisms and strategies for prevention. Pediatric Nephrology. December 1997. Vol. 11 (6). hlm. 768–72. doi:10.1007/s004670050386.
  27. John Timbrell. Principles of Biochemical Toxicology. CRC. 2008. hlm. 332–335. ISBN 978-0-8493-7302-2.
  28. Nephrotoxicity of beta-lactam antibiotics: mechanisms and strategies for prevention. Pediatric Nephrology. December 1997. Vol. 11 (6). hlm. 768–72. doi:10.1007/s004670050386.
  29. John Timbrell. Principles of Biochemical Toxicology. CRC. 2008. hlm. 332–335. ISBN 978-0-8493-7302-2.
  30. Nephrotoxicity of beta-lactam antibiotics: mechanisms and strategies for prevention. Pediatric Nephrology. December 1997. Vol. 11 (6). hlm. 768–72. doi:10.1007/s004670050386.
  31. Role of organic anion transporter 1 (OAT1) in cephaloridine (CER)-induced nephrotoxicity. Kidney International. December 1999. Vol. 56 (6). hlm. 2128–36. doi:10.1046/j.1523-1755.1999.00789.x.
  32. Kidney damage -- Cephaloridine. RightDiagnosis. Health Grades Inc.
  33. Kidney damage -- Cephaloridine. RightDiagnosis. Health Grades Inc.
  34. Kidney damage -- Cephaloridine. RightDiagnosis. Health Grades Inc.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29581660 (2026-08-15T08:41:42Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.