Kaca: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28025513; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
[[File:Glasbausteine_Wabenmuster.jpg|thumb|right|280px|Glasbausteine Wabenmuster]] | |||
Kaca | '''Kaca''' berasal dari bahan yang bersifat cair namun memiliki kepadatan tinggi, dan [[struktur]] [[amorf]].<ref>Hassan Shadily. ''Ensiklopedi Indonesia Volume 3''. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.</ref> [[Atom]]-atom di dalamnya tidak membentuk suatu jalinan yang beraturan, seperti [[kristal]], atau biasa disebut [[gelas]].<ref>Hassan Shadily. ''Ensiklopedi Indonesia Volume 3''. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.</ref> Kaca kebanyakan dibuat dari [[silika]] (SiO<sub>2</sub>), campuran batu pasir dengan [[fluks]] yang menghasilkan kekentalan dan titik leleh yang tidak terlalu tinggi, untuk kemudian dicampur lagi dengan bahan [[stabilisator]] supaya kuat.<ref>Hassan Shadily. ''Ensiklopedi Indonesia Volume 3''. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.</ref> | ||
Warna hijau pada kaca berfungsi untuk menunjukkan adanya [[ionfero]]. Warna ini dapat dihilangkan dengan menambahkan [[natrium nitrat]] atau [[mangan dioksida]] pada tahap pembuatan. Untuk membuat kaca berwarna biru kita dapat menggunakan [[kobalt]] oksida, ungu dengan [[mangan oksida]], juga merah emas atau selen, kuning dengan [[uranium]] oksida atau petak, cokelat dengan [[ionfero]], hitam dengan [[iridium]] oksida atau campuran unsur oksida lain ([[kobalt]], [[besi]] [[nikel]] dan [[mangan]]). Kaca susu diciptakan dari salah satu atau hasil campuran dari [[kalsium]] [[fluorida]], [[arsen trioksida]], [[aluminium]] oksida, [[seng]] oksida, dan [[kalsium]] fosfat. Kaca aman adalah kaca yang tahan terhadap benturan. Kaca ini terbuat dari dua lapis kaca yang direkatkan satu sama lainnya menggunakan lapisan tipis dari [[seluosa asetat|selulosa asetat]] atau bahan [[plastik]] lainnya. | Kaca [[jendela]], [[lampu]], dan [[botol]], tergolong sebagai kaca [[sodalime]] yang terbuat dari [[silika]] (SiO<sub>2</sub>), [[fluks]] [[soda]], (Na<sub>2</sub>O) dan [[stabilisator]] [[lime]] atau [[tanah liat]] [[kapur]] ([[CaO]]) dengan [[magnesia]] [[MgO]] yang sedikit dicampur dengan [[alumina]] (Al<sub>2</sub>O<sub>2</sub>).<ref>Hassan Shadily. ''Ensiklopedi Indonesia Volume 3''. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.</ref> Jenis kaca yang tahan panas adalah kaca [[borosilikat]].<ref>Hassan Shadily. ''Ensiklopedi Indonesia Volume 3''. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.</ref> Kaca ini terbuat dari [[silika]], [[boron oksida]] (B<sub>2</sub>O<sub>3</sub>), [[alumina]] dan [[soda]] yang mempunyai titik leleh yang tinggi dan tidak mudah pecah jika dipanaskan,<ref>Hassan Shadily. ''Ensiklopedi Indonesia Volume 3''. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.</ref> karena [[koefisien]] muainya amat kecil.<ref>Hassan Shadily. ''Ensiklopedi Indonesia Volume 3''. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.</ref> Kaca seperti ini biasa disebut [[pireks]].<ref>Hassan Shadily. ''Ensiklopedi Indonesia Volume 3''. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.</ref> Kaca [[silika]] yang dileburkan atau [[kuarsa]] yang melebur sendiri, dan 99,9% [[silika]] mempunyai titik leleh sebesar 1.580 °C, koefisien muai yang rendah, tembus [[radiasi]] ultraungu dan [[inframerah]].<ref>Hassan Shadily. ''Ensiklopedi Indonesia Volume 3''. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.</ref> | ||
Warna hijau pada kaca berfungsi untuk menunjukkan adanya [[ionfero]].<ref>Hassan Shadily. ''Ensiklopedi Indonesia Volume 3''. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.</ref> Warna ini dapat dihilangkan dengan menambahkan [[natrium nitrat]] atau [[mangan dioksida]] pada tahap pembuatan.<ref>Hassan Shadily. ''Ensiklopedi Indonesia Volume 3''. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.</ref> Untuk membuat kaca berwarna biru kita dapat menggunakan [[kobalt]] oksida, ungu dengan [[mangan oksida]], juga merah emas atau selen, kuning dengan [[uranium]] oksida atau petak, cokelat dengan [[ionfero]], hitam dengan [[iridium]] oksida atau campuran unsur oksida lain ([[kobalt]], [[besi]] [[nikel]] dan [[mangan]]).<ref>Hassan Shadily. ''Ensiklopedi Indonesia Volume 3''. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.</ref> Kaca susu diciptakan dari salah satu atau hasil campuran dari [[kalsium]] [[fluorida]], [[arsen trioksida]], [[aluminium]] oksida, [[seng]] oksida, dan [[kalsium]] fosfat.<ref>Hassan Shadily. ''Ensiklopedi Indonesia Volume 3''. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.</ref> Kaca aman adalah kaca yang tahan terhadap benturan.<ref>Hassan Shadily. ''Ensiklopedi Indonesia Volume 3''. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.</ref> Kaca ini terbuat dari dua lapis kaca yang direkatkan satu sama lainnya menggunakan lapisan tipis dari [[seluosa asetat|selulosa asetat]] atau bahan [[plastik]] lainnya.<ref>Hassan Shadily. ''Ensiklopedi Indonesia Volume 3''. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.</ref> | |||
== Pemakaian kaca di kehidupan sehari-hari == | == Pemakaian kaca di kehidupan sehari-hari == | ||
=== Kaca las === | === Kaca las === | ||
Kaca ini berfungsi untuk melindungi area wajah ketika seseorang sedang mengelas.<ref>Hassan Shadily. ''Ensiklopedi Indonesia Volume 3''. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.</ref> Terutama pada kegiatan pengelasan [[listrik]].<ref>Hassan Shadily. ''Ensiklopedi Indonesia Volume 3''. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.</ref> Secara keseluruhan kacanya berwarna gelap, karena kaca ini harus dapat meng[[absorbsi]] semua sinar [[inframerah]], [[ultraungu]], sebagian besar sinar lainnya yang dapat menyebabkan penyilauan.<ref>Hassan Shadily. ''Ensiklopedi Indonesia Volume 3''. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.</ref> Dalam melindungi kaca gelap dari percikan [[api]] [[las]], terdapat kaca pelindung yang bening yang dipasang di bagian luar kaca.<ref>Hassan Shadily. ''Ensiklopedi Indonesia Volume 3''. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.</ref> Untuk las [[listrik]], alat ini menjadi bagian dari [[topeng las]] atau [[helm las]].<ref>Hassan Shadily. ''Ensiklopedi Indonesia Volume 3''. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.</ref> | |||
Kaca ini berfungsi untuk melindungi area wajah ketika seseorang sedang mengelas. Terutama pada kegiatan pengelasan [[listrik]]. Secara keseluruhan kacanya berwarna gelap, karena kaca ini harus dapat meng[[absorbsi]] semua sinar [[inframerah]], [[ultraungu]], sebagian besar sinar lainnya yang dapat menyebabkan penyilauan. Dalam melindungi kaca gelap dari percikan [[api]] [[las]], terdapat kaca pelindung yang bening yang dipasang di bagian luar kaca. Untuk las [[listrik]], alat ini menjadi bagian dari [[topeng las]] atau [[helm las]]. | |||
=== Kacamata === | === Kacamata === | ||
Adalah alat optik yang dikenakan pada area mata yang berfungsi sebagai lensa dan membantu perbaikan pada kelainan-kelainan [[refraksi mata]]. Kelainan tersebut terjadi karena daya pembiasan mata yang kurang, dengan bola mata yang lebih pendek, atau pembiasan mata yang terlalu kuat, dengan bola mata yang lebih panjang. Kacamata dapat dibedakan dari beberapa jenisnya, yaitu kacamata dengan lensa [[cembung]] ([[positif]]) untuk penderita rabun dekat ([[hipermetropi]]), kacamata dengan [[lensa]] [[cekung]] ([[negatif]]) untuk penderita rabun jauh ([[miopia]]). Pengguna kacamata yang berusia di atas 10 tahun, memerlukan kacamata [[bifokus]]. Kacamata [[bifokus]] ialah kacamata berlensa ganda, dengan lensa atas untuk melihat jauh, dan lensa bawah untuk melihat dekat. | Adalah alat optik yang dikenakan pada area mata yang berfungsi sebagai lensa dan membantu perbaikan pada kelainan-kelainan [[refraksi mata]].<ref>Hassan Shadily. ''Ensiklopedi Indonesia Volume 3''. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.</ref> Kelainan tersebut terjadi karena daya pembiasan mata yang kurang, dengan bola mata yang lebih pendek, atau pembiasan mata yang terlalu kuat, dengan bola mata yang lebih panjang.<ref>Hassan Shadily. ''Ensiklopedi Indonesia Volume 3''. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.</ref> Kacamata dapat dibedakan dari beberapa jenisnya, yaitu kacamata dengan lensa [[cembung]] ([[positif]]) untuk penderita rabun dekat ([[hipermetropi]]), kacamata dengan [[lensa]] [[cekung]] ([[negatif]]) untuk penderita rabun jauh ([[miopia]]).<ref>Hassan Shadily. ''Ensiklopedi Indonesia Volume 3''. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.</ref> Pengguna kacamata yang berusia di atas 10 tahun, memerlukan kacamata [[bifokus]].<ref>Hassan Shadily. ''Ensiklopedi Indonesia Volume 3''. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.</ref> Kacamata [[bifokus]] ialah kacamata berlensa ganda, dengan lensa atas untuk melihat jauh, dan lensa bawah untuk melihat dekat.<ref>Hassan Shadily. ''Ensiklopedi Indonesia Volume 3''. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.</ref> | ||
=== Peralatan optik === | === Peralatan optik === | ||
Kaca secara meluas banyak dipakai karena komposisinya yang bersifat transparan dan dapat ditembus cahaya. Sifat dari polikristalin, secara bertentangan, tidak memiliki kemampuan untuk menghantarkan cahaya. Kristal, dalam bentuk yang terpisah mungkin transparan, tetapi butiran-butiran pembatas dari kristal tersebut mampu merefleksikan atau memancarkan cahaya dan menghasilkan refleksi yang menyebar. Kaca tidak mengandung bagian internal yang berasosiasi dengan butiran pembatas pada polikristal dan tidak mampu memancarkan cahaya sebagaimana polikristalin. Permukaan kaca sering kali lembut, karena semenjak tahap pembentukannya, molekul dari cairan yang didinginkan tidak dipaksa untuk membuang kristal dengan kondisi geometris yang kasar dan dapat mengikuti tekanan permukaan, sehingga secara mikroskopis menjadi lembut. Bahan-bahan tersebut yang membuat kebeningan kaca dapat bertahan meskipun beberapa bagian dari kaca dapat menyerap cahaya. | Kaca secara meluas banyak dipakai karena komposisinya yang bersifat transparan dan dapat ditembus cahaya.<ref>Michel W. Barsoum. [https://archive.org/details/fundamentalsofce0000bars_m6r3 Fundamental of ceramics (2 ed.)]. Bristol-IOP. 2003. ISBN 0-7503-0902-4.</ref> Sifat dari polikristalin, secara bertentangan, tidak memiliki kemampuan untuk menghantarkan cahaya. Kristal, dalam bentuk yang terpisah mungkin transparan, tetapi butiran-butiran pembatas dari kristal tersebut mampu merefleksikan atau memancarkan cahaya dan menghasilkan refleksi yang menyebar. Kaca tidak mengandung bagian internal yang berasosiasi dengan butiran pembatas pada polikristal dan tidak mampu memancarkan cahaya sebagaimana polikristalin. Permukaan kaca sering kali lembut, karena semenjak tahap pembentukannya, molekul dari cairan yang didinginkan tidak dipaksa untuk membuang kristal dengan kondisi geometris yang kasar dan dapat mengikuti tekanan permukaan, sehingga secara mikroskopis menjadi lembut. Bahan-bahan tersebut yang membuat kebeningan kaca dapat bertahan meskipun beberapa bagian dari kaca dapat menyerap cahaya.<ref>''Optical properties of glass''. American Ceramic Society. 1991. ISBN 0-944904-35-1.</ref> | ||
=== Partisi kaca === | === Partisi kaca === | ||
| Baris 29: | Baris 30: | ||
== Referensi == | == Referensi == | ||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kaca&oldid=28025513 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28025513 (2025-10-16T16:11:29Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | |||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 27 Agustus 2026 23.03

Kaca berasal dari bahan yang bersifat cair namun memiliki kepadatan tinggi, dan struktur amorf.[1] Atom-atom di dalamnya tidak membentuk suatu jalinan yang beraturan, seperti kristal, atau biasa disebut gelas.[2] Kaca kebanyakan dibuat dari silika (SiO2), campuran batu pasir dengan fluks yang menghasilkan kekentalan dan titik leleh yang tidak terlalu tinggi, untuk kemudian dicampur lagi dengan bahan stabilisator supaya kuat.[3]
Kaca jendela, lampu, dan botol, tergolong sebagai kaca sodalime yang terbuat dari silika (SiO2), fluks soda, (Na2O) dan stabilisator lime atau tanah liat kapur (CaO) dengan magnesia MgO yang sedikit dicampur dengan alumina (Al2O2).[4] Jenis kaca yang tahan panas adalah kaca borosilikat.[5] Kaca ini terbuat dari silika, boron oksida (B2O3), alumina dan soda yang mempunyai titik leleh yang tinggi dan tidak mudah pecah jika dipanaskan,[6] karena koefisien muainya amat kecil.[7] Kaca seperti ini biasa disebut pireks.[8] Kaca silika yang dileburkan atau kuarsa yang melebur sendiri, dan 99,9% silika mempunyai titik leleh sebesar 1.580 °C, koefisien muai yang rendah, tembus radiasi ultraungu dan inframerah.[9]
Warna hijau pada kaca berfungsi untuk menunjukkan adanya ionfero.[10] Warna ini dapat dihilangkan dengan menambahkan natrium nitrat atau mangan dioksida pada tahap pembuatan.[11] Untuk membuat kaca berwarna biru kita dapat menggunakan kobalt oksida, ungu dengan mangan oksida, juga merah emas atau selen, kuning dengan uranium oksida atau petak, cokelat dengan ionfero, hitam dengan iridium oksida atau campuran unsur oksida lain (kobalt, besi nikel dan mangan).[12] Kaca susu diciptakan dari salah satu atau hasil campuran dari kalsium fluorida, arsen trioksida, aluminium oksida, seng oksida, dan kalsium fosfat.[13] Kaca aman adalah kaca yang tahan terhadap benturan.[14] Kaca ini terbuat dari dua lapis kaca yang direkatkan satu sama lainnya menggunakan lapisan tipis dari selulosa asetat atau bahan plastik lainnya.[15]
Pemakaian kaca di kehidupan sehari-hari
Kaca las
Kaca ini berfungsi untuk melindungi area wajah ketika seseorang sedang mengelas.[16] Terutama pada kegiatan pengelasan listrik.[17] Secara keseluruhan kacanya berwarna gelap, karena kaca ini harus dapat mengabsorbsi semua sinar inframerah, ultraungu, sebagian besar sinar lainnya yang dapat menyebabkan penyilauan.[18] Dalam melindungi kaca gelap dari percikan api las, terdapat kaca pelindung yang bening yang dipasang di bagian luar kaca.[19] Untuk las listrik, alat ini menjadi bagian dari topeng las atau helm las.[20]
Kacamata
Adalah alat optik yang dikenakan pada area mata yang berfungsi sebagai lensa dan membantu perbaikan pada kelainan-kelainan refraksi mata.[21] Kelainan tersebut terjadi karena daya pembiasan mata yang kurang, dengan bola mata yang lebih pendek, atau pembiasan mata yang terlalu kuat, dengan bola mata yang lebih panjang.[22] Kacamata dapat dibedakan dari beberapa jenisnya, yaitu kacamata dengan lensa cembung (positif) untuk penderita rabun dekat (hipermetropi), kacamata dengan lensa cekung (negatif) untuk penderita rabun jauh (miopia).[23] Pengguna kacamata yang berusia di atas 10 tahun, memerlukan kacamata bifokus.[24] Kacamata bifokus ialah kacamata berlensa ganda, dengan lensa atas untuk melihat jauh, dan lensa bawah untuk melihat dekat.[25]
Peralatan optik
Kaca secara meluas banyak dipakai karena komposisinya yang bersifat transparan dan dapat ditembus cahaya.[26] Sifat dari polikristalin, secara bertentangan, tidak memiliki kemampuan untuk menghantarkan cahaya. Kristal, dalam bentuk yang terpisah mungkin transparan, tetapi butiran-butiran pembatas dari kristal tersebut mampu merefleksikan atau memancarkan cahaya dan menghasilkan refleksi yang menyebar. Kaca tidak mengandung bagian internal yang berasosiasi dengan butiran pembatas pada polikristal dan tidak mampu memancarkan cahaya sebagaimana polikristalin. Permukaan kaca sering kali lembut, karena semenjak tahap pembentukannya, molekul dari cairan yang didinginkan tidak dipaksa untuk membuang kristal dengan kondisi geometris yang kasar dan dapat mengikuti tekanan permukaan, sehingga secara mikroskopis menjadi lembut. Bahan-bahan tersebut yang membuat kebeningan kaca dapat bertahan meskipun beberapa bagian dari kaca dapat menyerap cahaya.[27]
Partisi kaca
Pemasangan kaca juga dipakai untuk bangunan dalam kehidupan sehari-hari. Sifat kaca yang transparan dan tembus cahaya sangat penting sebagai sirkulasi sinar matahari, serta memperluas pandangan terhadap area luar bagi orang di dalam bangunan. Contoh penggunaan kaca untuk bangunan, antara lain dapat berupa partisi yang digunakan sebagai pembagi atau penyekat sebuah ruangan. Pemakaian kaca untuk penyekat ruangan memiliki banyak manfaat bagi sebuah bangunan. Beberapa manfaat partisi kaca adalah tidak membebani struktur, lebih hemat biaya dibandingkan dengan pembuatan tembok, mudah untuk dibongkar-pasang secara berulang menyesuaikan kebutuhan, dan banyak lainnya.
Pintu Kaca
Kaca yang transparan juga digunakan sebagai salah satu bagian dari bangunan untuk memajangkan isi di dalam ruangan. Banyak bangunan perkantoran dan mall menggunakan pintu kaca yang memiliki bukaan seperti pintu kayu, yaitu bukaan dengan model diayun atau digeser. Bahkan, pintu kamar mandi pun sudah banyak yang menggunakan material kaca.
Kanopi Kaca
Kanopi kaca dimanfaatkan agar sirkulasi sinar matahari cukup untuk sebuah ruangan, dengan cara memosisikan kaca sebagai atap atau plafon. Biasanya, kanopi kaca diterapkan pada garasi mobil, void rumah, dan atap kaca.
Dinding tirai
Dinding tirai adalah pemasangan kaca untuk muka bangunan. Pemakaian kaca pada wajah bangunan contohnya adalah untuk memajang isi dalam bangunan, seperti pada ruang pamer dan dealer mobil. Selain murah dari segi biaya, penggunaan dinding tirai juga membuat bangunan terlihat mengikuti kecenderungan kekinian dan menjadi ikonik.
Referensi
- ↑ Hassan Shadily. Ensiklopedi Indonesia Volume 3. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.
- ↑ Hassan Shadily. Ensiklopedi Indonesia Volume 3. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.
- ↑ Hassan Shadily. Ensiklopedi Indonesia Volume 3. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.
- ↑ Hassan Shadily. Ensiklopedi Indonesia Volume 3. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.
- ↑ Hassan Shadily. Ensiklopedi Indonesia Volume 3. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.
- ↑ Hassan Shadily. Ensiklopedi Indonesia Volume 3. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.
- ↑ Hassan Shadily. Ensiklopedi Indonesia Volume 3. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.
- ↑ Hassan Shadily. Ensiklopedi Indonesia Volume 3. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.
- ↑ Hassan Shadily. Ensiklopedi Indonesia Volume 3. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.
- ↑ Hassan Shadily. Ensiklopedi Indonesia Volume 3. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.
- ↑ Hassan Shadily. Ensiklopedi Indonesia Volume 3. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.
- ↑ Hassan Shadily. Ensiklopedi Indonesia Volume 3. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.
- ↑ Hassan Shadily. Ensiklopedi Indonesia Volume 3. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.
- ↑ Hassan Shadily. Ensiklopedi Indonesia Volume 3. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.
- ↑ Hassan Shadily. Ensiklopedi Indonesia Volume 3. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.
- ↑ Hassan Shadily. Ensiklopedi Indonesia Volume 3. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.
- ↑ Hassan Shadily. Ensiklopedi Indonesia Volume 3. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.
- ↑ Hassan Shadily. Ensiklopedi Indonesia Volume 3. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.
- ↑ Hassan Shadily. Ensiklopedi Indonesia Volume 3. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.
- ↑ Hassan Shadily. Ensiklopedi Indonesia Volume 3. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.
- ↑ Hassan Shadily. Ensiklopedi Indonesia Volume 3. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.
- ↑ Hassan Shadily. Ensiklopedi Indonesia Volume 3. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.
- ↑ Hassan Shadily. Ensiklopedi Indonesia Volume 3. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.
- ↑ Hassan Shadily. Ensiklopedi Indonesia Volume 3. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.
- ↑ Hassan Shadily. Ensiklopedi Indonesia Volume 3. Ichtiar Baru-Van Hoeve. 1984. hlm. 1614.
- ↑ Michel W. Barsoum. Fundamental of ceramics (2 ed.). Bristol-IOP. 2003. ISBN 0-7503-0902-4.
- ↑ Optical properties of glass. American Ceramic Society. 1991. ISBN 0-944904-35-1.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28025513 (2025-10-16T16:11:29Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.