Lompat ke isi

Dunia G-Nol: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 21713364; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Pembersihan konten sesuai kebijakan Wiki Unissula
 
(1 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan)
Baris 1: Baris 1:
Istilah '''dunia G-Nol''' () berarti [[kekosongan kekuasaan]] yang muncul dalam [[politik internasional]] akibat berkurangnya pengaruh [[dunia Barat|Barat]] dan fokus domestik pemerintahan negara-negara berkembang. G-Nol berarti tidak ada satu pun negara atau kumpulan negara yang mampu dan mau mengangkat agenda ekonomi dan politik secara global.
Istilah '''dunia G-Nol''' () berarti [[kekosongan kekuasaan]] yang muncul dalam [[politik internasional]] akibat berkurangnya pengaruh [[dunia Barat|Barat]] dan fokus domestik pemerintahan negara-negara berkembang.<ref>[http://eurasiagroup.net/pages/top-risks Eurasia Group Top 10 Risks of 2011]</ref><ref>[http://schott.blogs.nytimes.com/2011/02/01/g-zero/ G-Zero], ''New York Times'', February 1, 2011.</ref> G-Nol berarti tidak ada satu pun negara atau kumpulan negara yang mampu dan mau mengangkat agenda ekonomi dan politik secara global.


Istilah ''G-Zero'' pertama kali diciptakan oleh ilmuwan politik [[Ian Bremmer]] dan [[David F. Gordon]]. G-Nol menjadi tema utama buku [[Ian Bremmer]] yang berjudul ''[[Every Nation for Itself: Winners and Losers in a G-Zero World]]''. (New York: Portfolio, May 2012; revised paperback 2013). .
Istilah ''G-Zero'' pertama kali diciptakan oleh ilmuwan politik [[Ian Bremmer]] dan [[David F. Gordon]].<ref>Racanelli, Vito. [http://blogs.barrons.com/stockstowatchtoday/2011/01/26/davos-who-or-what-is-g-zero/ Davos: Who or What is G-Zero?], ''Barron’s'', January 26, 2011.</ref><ref>[https://www.npr.org/blogs/money/2011/01/28/132742511/the-friday-podcast-g-zero The Friday Podcast: G-Zero]. NPR ''Planet Money'', January 7, 2011.</ref> G-Nol menjadi tema utama buku [[Ian Bremmer]] yang berjudul ''[[Every Nation for Itself: Winners and Losers in a G-Zero World]]''. (New York: Portfolio, May 2012; revised paperback 2013). .


G-Nol adalah persepsi peralihan dari kepemimpinan negara-negara industri [[G7]] dan negara-negara besar baru [[G20|Group of Twenty]] yang mencakup [[Tiongkok]], [[India]], [[Brasil]], [[Turki]], dan lain-lain. G-Nol juga merupakan penolakan terhadap [[Group of Two|G2]], potensi kemitraan strategis AS-Tiongkok, atau G3, upaya penyeragaman kepentingan AS, Eropa, dan Jepang untuk mempertahankan [[demokrasi pasar bebas]] dari bangkitnya [[kapitalisme negara#Republik Rakyat Tiongkok|kapitalisme negara ala Tiongkok]].
G-Nol adalah persepsi peralihan dari kepemimpinan negara-negara industri [[G7]] dan negara-negara besar baru [[G20|Group of Twenty]] yang mencakup [[Tiongkok]], [[India]], [[Brasil]], [[Turki]], dan lain-lain.<ref>Reece, Damian. [https://www.telegraph.co.uk/finance/comment/damianreece/8284541/Davos-WEF-2011-East-and-West-must-cooperate-if-were-to-survive-this-economic-mess.html Davos WEF 2011: East and West must cooperate if we’re to survive this economic mess], ''The Telegraph'', January 26, 2011.</ref><ref>Reece, Damian, [https://www.telegraph.co.uk/finance/financetopics/g20-summit/8332545/G20-Paris-Sarkozy-dares-to-dream-in-a-G-Zero-world.html G20 Paris: Sarkozy Dares to Dream in a G-Zero World] ''The Telegraph'', February 18, 2011.</ref><ref>Khanna, Parag and Leonard, Mark [https://www.nytimes.com/2011/09/08/opinion/08iht-edkhanna08.html Why China wants a G-3 World] ''The International Herald Tribune'', September 8, 2011.</ref> G-Nol juga merupakan penolakan terhadap [[Group of Two|G2]], potensi kemitraan strategis AS-Tiongkok, atau G3, upaya penyeragaman kepentingan AS, Eropa, dan Jepang untuk mempertahankan [[demokrasi pasar bebas]] dari bangkitnya [[kapitalisme negara#Republik Rakyat Tiongkok|kapitalisme negara ala Tiongkok]].


Pihak-pihak yang memandang bahwa G-Nol adalah tatanan internasional yang berlaku saat ini memberi peringatan bahwa [[G7]] sudah usang, [[G20]] menawarkan terlalu banyak visi yang bertentangan tentang peran pemerintah dalam ekonomi untuk membuat kebijakan-kebijakan yang terkoordinasi dengan baik, Tiongkok tidak tertarik memikul tanggung jawab [[Group of Two|G2]], dan Amerika, Eropa, dan Jepang terlalu sibuk mengurus dalam negeri sehingga tidak mampu menyeragamkan pendekatan terhadap kebijakan ekonomi dan keamanan.
Pihak-pihak yang memandang bahwa G-Nol adalah tatanan internasional yang berlaku saat ini memberi peringatan bahwa [[G7]] sudah usang, [[G20]] menawarkan terlalu banyak visi yang bertentangan tentang peran pemerintah dalam ekonomi untuk membuat kebijakan-kebijakan yang terkoordinasi dengan baik, Tiongkok tidak tertarik memikul tanggung jawab [[Group of Two|G2]], dan Amerika, Eropa, dan Jepang terlalu sibuk mengurus dalam negeri sehingga tidak mampu menyeragamkan pendekatan terhadap kebijakan ekonomi dan keamanan.
Baris 9: Baris 9:
Dalam artikel “From G8 to G20 to G-Zero: Why no one wants to take charge in the new global order", Ian Bremmer menulis bahwa kompromi sulit dibuat karena setiap negara memiliki nilainya masing-masing dan rakyat negara maju ingin pemimpinnya berfokus di dalam negeri, bukan luar negeri. Negara-negara maju tersebut adalah Amerika Serikat, Britania Raya, Jerman, Prancis, dan Jepang. Ketika negara maju mulai berfokus di dalam negeri, kepemimpinan global semakin pudar sehingga memperbanyak masalah transnasional. Ketika kepemimpinan global memudar, perselisihan antarnegara juga meningkat, contohnya perbedaan pandangan Amerika Serikat dan Tiongkok tentang "kapitalisme pasar bebas versus kapitalisme negara”. Ada pula sejumlah isu di Asia Timur, misalnya perselisihan Tiongkok dan Jepang di Laut Tiongkok Timur. AS juga perlu menyoroti perubahan sektor energinya sekaligus perlu tidaknya berpartisipasi dalam Perang Saudara Suriah.
Dalam artikel “From G8 to G20 to G-Zero: Why no one wants to take charge in the new global order", Ian Bremmer menulis bahwa kompromi sulit dibuat karena setiap negara memiliki nilainya masing-masing dan rakyat negara maju ingin pemimpinnya berfokus di dalam negeri, bukan luar negeri. Negara-negara maju tersebut adalah Amerika Serikat, Britania Raya, Jerman, Prancis, dan Jepang. Ketika negara maju mulai berfokus di dalam negeri, kepemimpinan global semakin pudar sehingga memperbanyak masalah transnasional. Ketika kepemimpinan global memudar, perselisihan antarnegara juga meningkat, contohnya perbedaan pandangan Amerika Serikat dan Tiongkok tentang "kapitalisme pasar bebas versus kapitalisme negara”. Ada pula sejumlah isu di Asia Timur, misalnya perselisihan Tiongkok dan Jepang di Laut Tiongkok Timur. AS juga perlu menyoroti perubahan sektor energinya sekaligus perlu tidaknya berpartisipasi dalam Perang Saudara Suriah.


Bremmer menjelaskan bahwa pemerintah dapat beradaptasi dengan situasi G-Nol dengan berfokus pada solusi-solusi regional seperti kerja sama Tiongkok dengan [[Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara]] (ASEAN) dan keterlibatan Amerika Serikat dalam [[Kemitraan Trans-Pasifik]]. Pemerintah juga bisa membangun hubungan dengan berbagai mitra. Namun, beberapa negara mungkin tidak mampu beradaptasi karena ada tiga peristiwa besar: kebangkitan Tiongkok, gejolak Timur Tengah, dan penataan ulang Eropa. Negara-negara yang terdampak oleh deretan peristiwa tersebut adalah Jepang, Israel, dan Britania Raya.


Para kritikus memandang konsep ini melebih-lebihkan turunnya [[kekuasaan politik]] dan [[kekuasaan ekonomi|ekonomi]] Amerika Serikat dan tidak menganggap serius keinginan [[negara berkembang]] untuk berperan penting dalam kancah internasional.
Para kritikus memandang konsep ini melebih-lebihkan turunnya [[kekuasaan politik]] dan [[kekuasaan ekonomi|ekonomi]] Amerika Serikat dan tidak menganggap serius keinginan [[negara berkembang]] untuk berperan penting dalam kancah internasional.<ref>https://foreignpolicy.com/2011/02/28/g-zero-gee-another-idea-with-zero-to-support-it/</ref>


== Lihat pula ==
== Lihat pula ==
Baris 18: Baris 17:
* [[U.S.-Japan Council]]
* [[U.S.-Japan Council]]
* [[World Economic Forum]]
* [[World Economic Forum]]
== Referensi ==


== Pranala luar ==
== Pranala luar ==
Baris 27: Baris 23:
* [[The Indian Express]] [http://www.indianexpress.com/news/the-gzero-scenario/1167890/1], September 2013
* [[The Indian Express]] [http://www.indianexpress.com/news/the-gzero-scenario/1167890/1], September 2013


 
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Dunia+G-Nol&oldid=21713364 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 21713364 (2022-09-26T13:33:40Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Dunia+G-Nol&oldid=21713364 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 21713364 (2022-09-26T13:33:40Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 9 September 2026 06.37

Istilah dunia G-Nol () berarti kekosongan kekuasaan yang muncul dalam politik internasional akibat berkurangnya pengaruh Barat dan fokus domestik pemerintahan negara-negara berkembang.[1][2] G-Nol berarti tidak ada satu pun negara atau kumpulan negara yang mampu dan mau mengangkat agenda ekonomi dan politik secara global.

Istilah G-Zero pertama kali diciptakan oleh ilmuwan politik Ian Bremmer dan David F. Gordon.[3][4] G-Nol menjadi tema utama buku Ian Bremmer yang berjudul Every Nation for Itself: Winners and Losers in a G-Zero World. (New York: Portfolio, May 2012; revised paperback 2013). .

G-Nol adalah persepsi peralihan dari kepemimpinan negara-negara industri G7 dan negara-negara besar baru Group of Twenty yang mencakup Tiongkok, India, Brasil, Turki, dan lain-lain.[5][6][7] G-Nol juga merupakan penolakan terhadap G2, potensi kemitraan strategis AS-Tiongkok, atau G3, upaya penyeragaman kepentingan AS, Eropa, dan Jepang untuk mempertahankan demokrasi pasar bebas dari bangkitnya kapitalisme negara ala Tiongkok.

Pihak-pihak yang memandang bahwa G-Nol adalah tatanan internasional yang berlaku saat ini memberi peringatan bahwa G7 sudah usang, G20 menawarkan terlalu banyak visi yang bertentangan tentang peran pemerintah dalam ekonomi untuk membuat kebijakan-kebijakan yang terkoordinasi dengan baik, Tiongkok tidak tertarik memikul tanggung jawab G2, dan Amerika, Eropa, dan Jepang terlalu sibuk mengurus dalam negeri sehingga tidak mampu menyeragamkan pendekatan terhadap kebijakan ekonomi dan keamanan.

Dalam artikel “From G8 to G20 to G-Zero: Why no one wants to take charge in the new global order", Ian Bremmer menulis bahwa kompromi sulit dibuat karena setiap negara memiliki nilainya masing-masing dan rakyat negara maju ingin pemimpinnya berfokus di dalam negeri, bukan luar negeri. Negara-negara maju tersebut adalah Amerika Serikat, Britania Raya, Jerman, Prancis, dan Jepang. Ketika negara maju mulai berfokus di dalam negeri, kepemimpinan global semakin pudar sehingga memperbanyak masalah transnasional. Ketika kepemimpinan global memudar, perselisihan antarnegara juga meningkat, contohnya perbedaan pandangan Amerika Serikat dan Tiongkok tentang "kapitalisme pasar bebas versus kapitalisme negara”. Ada pula sejumlah isu di Asia Timur, misalnya perselisihan Tiongkok dan Jepang di Laut Tiongkok Timur. AS juga perlu menyoroti perubahan sektor energinya sekaligus perlu tidaknya berpartisipasi dalam Perang Saudara Suriah.


Para kritikus memandang konsep ini melebih-lebihkan turunnya kekuasaan politik dan ekonomi Amerika Serikat dan tidak menganggap serius keinginan negara berkembang untuk berperan penting dalam kancah internasional.[8]

Lihat pula

Pranala luar

Referensi

  1. Eurasia Group Top 10 Risks of 2011
  2. G-Zero, New York Times, February 1, 2011.
  3. Racanelli, Vito. Davos: Who or What is G-Zero?, Barron’s, January 26, 2011.
  4. The Friday Podcast: G-Zero. NPR Planet Money, January 7, 2011.
  5. Reece, Damian. Davos WEF 2011: East and West must cooperate if we’re to survive this economic mess, The Telegraph, January 26, 2011.
  6. Reece, Damian, G20 Paris: Sarkozy Dares to Dream in a G-Zero World The Telegraph, February 18, 2011.
  7. Khanna, Parag and Leonard, Mark Why China wants a G-3 World The International Herald Tribune, September 8, 2011.
  8. https://foreignpolicy.com/2011/02/28/g-zero-gee-another-idea-with-zero-to-support-it/

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 21713364 (2022-09-26T13:33:40Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.