Dunia G-Nol: Perbedaan antara revisi
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
Pembersihan konten sesuai kebijakan Wiki Unissula |
||
| Baris 9: | Baris 9: | ||
Dalam artikel “From G8 to G20 to G-Zero: Why no one wants to take charge in the new global order", Ian Bremmer menulis bahwa kompromi sulit dibuat karena setiap negara memiliki nilainya masing-masing dan rakyat negara maju ingin pemimpinnya berfokus di dalam negeri, bukan luar negeri. Negara-negara maju tersebut adalah Amerika Serikat, Britania Raya, Jerman, Prancis, dan Jepang. Ketika negara maju mulai berfokus di dalam negeri, kepemimpinan global semakin pudar sehingga memperbanyak masalah transnasional. Ketika kepemimpinan global memudar, perselisihan antarnegara juga meningkat, contohnya perbedaan pandangan Amerika Serikat dan Tiongkok tentang "kapitalisme pasar bebas versus kapitalisme negara”. Ada pula sejumlah isu di Asia Timur, misalnya perselisihan Tiongkok dan Jepang di Laut Tiongkok Timur. AS juga perlu menyoroti perubahan sektor energinya sekaligus perlu tidaknya berpartisipasi dalam Perang Saudara Suriah. | Dalam artikel “From G8 to G20 to G-Zero: Why no one wants to take charge in the new global order", Ian Bremmer menulis bahwa kompromi sulit dibuat karena setiap negara memiliki nilainya masing-masing dan rakyat negara maju ingin pemimpinnya berfokus di dalam negeri, bukan luar negeri. Negara-negara maju tersebut adalah Amerika Serikat, Britania Raya, Jerman, Prancis, dan Jepang. Ketika negara maju mulai berfokus di dalam negeri, kepemimpinan global semakin pudar sehingga memperbanyak masalah transnasional. Ketika kepemimpinan global memudar, perselisihan antarnegara juga meningkat, contohnya perbedaan pandangan Amerika Serikat dan Tiongkok tentang "kapitalisme pasar bebas versus kapitalisme negara”. Ada pula sejumlah isu di Asia Timur, misalnya perselisihan Tiongkok dan Jepang di Laut Tiongkok Timur. AS juga perlu menyoroti perubahan sektor energinya sekaligus perlu tidaknya berpartisipasi dalam Perang Saudara Suriah. | ||
Para kritikus memandang konsep ini melebih-lebihkan turunnya [[kekuasaan politik]] dan [[kekuasaan ekonomi|ekonomi]] Amerika Serikat dan tidak menganggap serius keinginan [[negara berkembang]] untuk berperan penting dalam kancah internasional.<ref>https://foreignpolicy.com/2011/02/28/g-zero-gee-another-idea-with-zero-to-support-it/</ref> | Para kritikus memandang konsep ini melebih-lebihkan turunnya [[kekuasaan politik]] dan [[kekuasaan ekonomi|ekonomi]] Amerika Serikat dan tidak menganggap serius keinginan [[negara berkembang]] untuk berperan penting dalam kancah internasional.<ref>https://foreignpolicy.com/2011/02/28/g-zero-gee-another-idea-with-zero-to-support-it/</ref> | ||
Revisi terkini sejak 9 September 2026 06.37
Istilah dunia G-Nol () berarti kekosongan kekuasaan yang muncul dalam politik internasional akibat berkurangnya pengaruh Barat dan fokus domestik pemerintahan negara-negara berkembang.[1][2] G-Nol berarti tidak ada satu pun negara atau kumpulan negara yang mampu dan mau mengangkat agenda ekonomi dan politik secara global.
Istilah G-Zero pertama kali diciptakan oleh ilmuwan politik Ian Bremmer dan David F. Gordon.[3][4] G-Nol menjadi tema utama buku Ian Bremmer yang berjudul Every Nation for Itself: Winners and Losers in a G-Zero World. (New York: Portfolio, May 2012; revised paperback 2013). .
G-Nol adalah persepsi peralihan dari kepemimpinan negara-negara industri G7 dan negara-negara besar baru Group of Twenty yang mencakup Tiongkok, India, Brasil, Turki, dan lain-lain.[5][6][7] G-Nol juga merupakan penolakan terhadap G2, potensi kemitraan strategis AS-Tiongkok, atau G3, upaya penyeragaman kepentingan AS, Eropa, dan Jepang untuk mempertahankan demokrasi pasar bebas dari bangkitnya kapitalisme negara ala Tiongkok.
Pihak-pihak yang memandang bahwa G-Nol adalah tatanan internasional yang berlaku saat ini memberi peringatan bahwa G7 sudah usang, G20 menawarkan terlalu banyak visi yang bertentangan tentang peran pemerintah dalam ekonomi untuk membuat kebijakan-kebijakan yang terkoordinasi dengan baik, Tiongkok tidak tertarik memikul tanggung jawab G2, dan Amerika, Eropa, dan Jepang terlalu sibuk mengurus dalam negeri sehingga tidak mampu menyeragamkan pendekatan terhadap kebijakan ekonomi dan keamanan.
Dalam artikel “From G8 to G20 to G-Zero: Why no one wants to take charge in the new global order", Ian Bremmer menulis bahwa kompromi sulit dibuat karena setiap negara memiliki nilainya masing-masing dan rakyat negara maju ingin pemimpinnya berfokus di dalam negeri, bukan luar negeri. Negara-negara maju tersebut adalah Amerika Serikat, Britania Raya, Jerman, Prancis, dan Jepang. Ketika negara maju mulai berfokus di dalam negeri, kepemimpinan global semakin pudar sehingga memperbanyak masalah transnasional. Ketika kepemimpinan global memudar, perselisihan antarnegara juga meningkat, contohnya perbedaan pandangan Amerika Serikat dan Tiongkok tentang "kapitalisme pasar bebas versus kapitalisme negara”. Ada pula sejumlah isu di Asia Timur, misalnya perselisihan Tiongkok dan Jepang di Laut Tiongkok Timur. AS juga perlu menyoroti perubahan sektor energinya sekaligus perlu tidaknya berpartisipasi dalam Perang Saudara Suriah.
Para kritikus memandang konsep ini melebih-lebihkan turunnya kekuasaan politik dan ekonomi Amerika Serikat dan tidak menganggap serius keinginan negara berkembang untuk berperan penting dalam kancah internasional.[8]
Lihat pula
Pranala luar
- Foreign Affairs, March 2011
- International Herald Tribune, October 26, 2011
- The Indian Express [1], September 2013
Referensi
- ↑ Eurasia Group Top 10 Risks of 2011
- ↑ G-Zero, New York Times, February 1, 2011.
- ↑ Racanelli, Vito. Davos: Who or What is G-Zero?, Barron’s, January 26, 2011.
- ↑ The Friday Podcast: G-Zero. NPR Planet Money, January 7, 2011.
- ↑ Reece, Damian. Davos WEF 2011: East and West must cooperate if we’re to survive this economic mess, The Telegraph, January 26, 2011.
- ↑ Reece, Damian, G20 Paris: Sarkozy Dares to Dream in a G-Zero World The Telegraph, February 18, 2011.
- ↑ Khanna, Parag and Leonard, Mark Why China wants a G-3 World The International Herald Tribune, September 8, 2011.
- ↑ https://foreignpolicy.com/2011/02/28/g-zero-gee-another-idea-with-zero-to-support-it/
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 21713364 (2022-09-26T13:33:40Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.