Lompat ke isi

Sejarah aluminium: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29581811; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Pembersihan konten sesuai kebijakan Wiki Unissula
 
(1 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan)
Baris 1: Baris 1:
Logam [[aluminium]] (atau aluminum) sangat langka dalam [[aluminium alam|bentuk alaminya]], dan proses untuk memurnikannya dari batuan sangat kompleks, sehingga keterlibatannya dalam sejarah manusia sebagian besar tidak diketahui. Namun, senyawa [[tawas]] (alum) telah dikenal sejak abad ke-5 SM dan digunakan secara luas untuk pewarnaan. Selama [[Abad Pertengahan]], tawas digunakan sebagai zat pewarna yang menjadikannya [[komoditas]] [[perdagangan internasional]]. Ilmuwan [[Abad Renaisans]] percaya bahwa tawas merupakan garam dari suatu [[batuan]] baru; selama [[Zaman Pencerahan]], diketahui bahwa batuan tersebut, [[alumina]], merupakan oksida dari logam baru. Penemuan logam ini diumumkan pada tahun 1825 oleh [[fisikawan]] Denmark [[Hans Christian Ørsted]], yang karyanya diperkaya lebih lanjut oleh ahli kimia Jerman [[Friedrich Wöhler]].
[[File:Tovarna_glinice_in_aluminija_Kidričevo_-_kupi_aluminija_1968.jpg|thumb|right|280px|Tovarna glinice in aluminija Kidričevo - kupi aluminija 1968]]


Aluminium sulit untuk dimurnikan dan karenanya jarang digunakan. Segera setelah penemuannya, harga aluminium melebihi harga [[emas]]. Hal tersebut menurun hanya setelah dimulainya produksi industri pertama oleh ahli kimia Prancis [[Henri Étienne Sainte-Claire Deville]] pada tahun 1856. Aluminium menjadi lebih tersedia untuk umum dengan adanya [[proses Hall–Héroult]] yang dikembangkan secara independen oleh insinyur Prancis [[Paul Héroult]] dan insinyur Amerika [[Charles Martin Hall]] pada tahun 1886, serta [[proses Bayer]] yang dikembangkan oleh ahli kimia Austria [[Carl Josef Bayer]] pada tahun 1889. Proses ini telah digunakan untuk produksi aluminium hingga saat ini.
Logam [[aluminium]] (atau aluminum) sangat langka dalam [[aluminium alam|bentuk alaminya]], dan proses untuk memurnikannya dari batuan sangat kompleks, sehingga keterlibatannya dalam sejarah manusia sebagian besar tidak diketahui. Namun, senyawa [[tawas]] (alum) telah dikenal sejak abad ke-5 SM dan digunakan secara luas untuk pewarnaan. Selama [[Abad Pertengahan]], tawas digunakan sebagai zat pewarna yang menjadikannya [[komoditas]] [[perdagangan internasional]]. Ilmuwan [[Abad Renaisans]] percaya bahwa tawas merupakan garam dari suatu [[batuan]] baru; selama [[Zaman Pencerahan]], diketahui bahwa batuan tersebut, [[alumina]], merupakan oksida dari logam baru. Penemuan logam ini diumumkan pada tahun 1825 oleh [[fisikawan]] Denmark [[Hans Christian Ørsted]], yang karyanya diperkaya lebih lanjut oleh ahli kimia Jerman [[Friedrich Wöhler]].<ref>Harry N. Holmes. [https://archive.org/details/sim_journal-of-chemical-education_1930-02_7_2/page/232 The story of aluminum]. ''J. Chem. Educ''. 1930. Vol. 7 (2). hlm. 232. doi:10.1021/ed007p232.</ref>


Pengenalan metode-metode ini untuk memproduksi aluminium secara massal menyebabkan penggunaan secara luas dari [[logam ringan]], yang tahan korosi tersebut dalam industri dan kehidupan sehari-hari. Aluminium mulai digunakan dalam rekayasa dan konstruksi. Dalam Perang Dunia [[Perang Dunia I|I]] dan [[Perang Dunia II|II]], aluminium merupakan [[Faktor produksi|sumber daya strategis]] yang penting bagi dunia [[penerbangan]]. Produksi logam dunia tumbuh dari 6,800&nbsp;metrik&nbsp;ton pada tahun 1900 menjadi 2,810,000&nbsp;metrik&nbsp;ton pada tahun 1954, ketika aluminium menjadi [[logam]] non-[[besi]] yang paling banyak diproduksi, melampaui [[tembaga]].
Aluminium sulit untuk dimurnikan dan karenanya jarang digunakan. Segera setelah penemuannya, harga aluminium melebihi harga [[emas]]. Hal tersebut menurun hanya setelah dimulainya produksi industri pertama oleh ahli kimia Prancis [[Henri Étienne Sainte-Claire Deville]] pada tahun 1856. Aluminium menjadi lebih tersedia untuk umum dengan adanya [[proses Hall–Héroult]] yang dikembangkan secara independen oleh insinyur Prancis [[Paul Héroult]] dan insinyur Amerika [[Charles Martin Hall]] pada tahun 1886, serta [[proses Bayer]] yang dikembangkan oleh ahli kimia Austria [[Carl Josef Bayer]] pada tahun 1889. Proses ini telah digunakan untuk produksi aluminium hingga saat ini.<ref>McGeer, J.P. [https://archive.org/details/sim_jom_1986-11_38_11/page/n28 Hall-Heroult: 100 Years of Processes Evolution]. ''JOM''. 1986. Vol. 38 (11). hlm. 27–33. doi:10.1007/BF03257618.</ref><ref>Harris, Chris. ''Micro reform – impacts on firms: aluminium case study''. Industry Commission. 1998. ISBN 978-0-646-33550-6.</ref>


Pada paruh kedua abad ke-20, aluminium mulai digunakan dalam transportasi dan pengemasan. Produksi aluminium menjadi perhatian akibat pengaruhnya terhadap lingkungan, hingga kemudian ditemukan cara mendaur ulang aluminium. Logam ini menjadi komoditas pertukaran pada 1970-an. Produksi aluminium mulai bergeser dari [[negara maju]] ke [[negara berkembang]]; pada 2010, [[Tiongkok]] telah mengakumulasikan bagian yang sangat besar dalam produksi dan konsumsi aluminium. Produksi aluminium dunia terus meningkat, mencapai 58,500,000&nbsp;metrik&nbsp;ton pada tahun 2015. Produksi aluminium melebihi gabungan semua logam non-besi lainnya.
Pengenalan metode-metode ini untuk memproduksi aluminium secara massal menyebabkan penggunaan secara luas dari [[logam ringan]], yang tahan korosi tersebut dalam industri dan kehidupan sehari-hari. Aluminium mulai digunakan dalam rekayasa dan konstruksi. Dalam Perang Dunia [[Perang Dunia I|I]] dan [[Perang Dunia II|II]], aluminium merupakan [[Faktor produksi|sumber daya strategis]] yang penting bagi dunia [[penerbangan]]. Produksi logam dunia tumbuh dari 6,800&nbsp;metrik&nbsp;ton pada tahun 1900 menjadi 2,810,000&nbsp;metrik&nbsp;ton pada tahun 1954, ketika aluminium menjadi [[logam]] non-[[besi]] yang paling banyak diproduksi, melampaui [[tembaga]].<ref>Harald U. Sverdrup, Kristin Vala Ragnarsdottir, Deniz Koca. [http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0921344915300276 Aluminium for the future: Modelling the global production, market supply, demand, price and long term development of the global reserves]. ''Resources, Conservation and Recycling''. 2015. Vol. 103. hlm. 139-154. doi:10.1016/j.resconrec.2015.06.008.</ref>
 
Pada paruh kedua abad ke-20, aluminium mulai digunakan dalam transportasi dan pengemasan. Produksi aluminium menjadi perhatian akibat pengaruhnya terhadap lingkungan, hingga kemudian ditemukan cara mendaur ulang aluminium. Logam ini menjadi komoditas pertukaran pada 1970-an. Produksi aluminium mulai bergeser dari [[negara maju]] ke [[negara berkembang]]; pada 2010, [[Tiongkok]] telah mengakumulasikan bagian yang sangat besar dalam produksi dan konsumsi aluminium.<ref>Min Dai, Peng Wang, Wei-Qiang Chen, Gang Liu. [http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0959652619310996 Scenario analysis of China's aluminum cycle reveals the coming scrap age and the end of primary aluminum boom]. ''Journal of Cleaner Production''. 2019. Vol. 226. hlm. 793-804. doi:10.1016/j.jclepro.2019.04.029.</ref> Produksi aluminium dunia terus meningkat, mencapai 58,500,000&nbsp;metrik&nbsp;ton pada tahun 2015. Produksi aluminium melebihi gabungan semua logam non-besi lainnya.<ref>Dudin, Mihail & Voykova, N.A. & Frolova, E.E. & Artemieva, J.A. & Rusakova, E.P. & Abashidze, A.H. [https://hrcak.srce.hr/168955 Modern trends and challenges of development of global aluminum industry]. ''METALURGIJA''. Metalurgija -Sisak then Zagreb-. 2017. Vol. 56 (1-2). hlm. 255-258.</ref>


== Sejarah awal ==
== Sejarah awal ==
Sejarah aluminium terbentuk melalui penggunaan senyawa [[tawas]]nya. Catatan tertulis pertama dari tawas adalah pada abad ke-5 SM oleh sejarawan [[Yunani Kuno|Yunani]] [[Herodotus]]. Orang-orang kuno menggunakannya sebagai [[zat pewarna]], dalam kedokteran, dalam [[penggilingan kimia]], serta sebagai lapisan tahan api bagi kayu untuk melindungi benteng dari pembakaran musuh. Logam aluminium tidak dikenal saat itu. Penulis Romawi [[Petronius]] menyebutkan dalam novelnya ''[[Satyricon]]'' bahwa sebuah gelas yang tidak biasa telah diberikan kepada kaisar: setelah dilempar ke trotoar, gelas tersebut tidak pecah tetapi hanya berubah bentuk. Gelas itu lalu dikembalikan ke bentuk semula menggunakan palu. Setelah mengetahui dari penemu bahwa tidak ada orang lain yang tahu cara memproduksi bahan gelas ini, kaisar memerintahkan penemu itu dieksekusi sehingga tidak mengurangi harga emas.<ref>A. Duboin. [https://gallica.bnf.fr/ark:/12148/bpt6k2151370/f754.image Les Romains ont-ils connu l'aluminium ?]. ''La Revue Scientifique''. 1902. Vol. 18 (24). hlm. 751–753.</ref> Variasi dari kisah ini disebutkan secara singkat dalam ''[[Naturalis Historia]]'' oleh sejarawan Romawi [[Plinius yang Tua]] (yang mencatat bahwa cerita itu "telah sering diputar ulang daripada sering diautentikasi")<ref>[http://www.masseiana.org/pliny.htm Pliny's ''Natural History'']. Harvard University Press; William Heinemann. 1949–54.</ref> serta ''Roman History'' oleh sejarawan Romawi [[Cassius Dio]].<ref>A. Duboin. [https://gallica.bnf.fr/ark:/12148/bpt6k2151370/f754.image Les Romains ont-ils connu l'aluminium ?]. ''La Revue Scientifique''. 1902. Vol. 18 (24). hlm. 751–753.</ref> Beberapa sumber menyarankan gelas ini mungkin saja terbuat dari aluminium. Paduan logam yang mengandung aluminium mungkin turut diproduksi di Tiongkok selama masa pemerintahan [[dinasti Jin (265–420)|dinasti Jin pertama]] (265–420).


Sejarah aluminium terbentuk melalui penggunaan senyawa [[tawas]]nya. Catatan tertulis pertama dari tawas adalah pada abad ke-5 SM oleh sejarawan [[Yunani Kuno|Yunani]] [[Herodotus]]. Orang-orang kuno menggunakannya sebagai [[zat pewarna]], dalam kedokteran, dalam [[penggilingan kimia]], serta sebagai lapisan tahan api bagi kayu untuk melindungi benteng dari pembakaran musuh. Logam aluminium tidak dikenal saat itu. Penulis Romawi [[Petronius]] menyebutkan dalam novelnya ''[[Satyricon]]'' bahwa sebuah gelas yang tidak biasa telah diberikan kepada kaisar: setelah dilempar ke trotoar, gelas tersebut tidak pecah tetapi hanya berubah bentuk. Gelas itu lalu dikembalikan ke bentuk semula menggunakan palu. Setelah mengetahui dari penemu bahwa tidak ada orang lain yang tahu cara memproduksi bahan gelas ini, kaisar memerintahkan penemu itu dieksekusi sehingga tidak mengurangi harga emas. Variasi dari kisah ini disebutkan secara singkat dalam ''[[Naturalis Historia]]'' oleh sejarawan Romawi [[Plinius yang Tua]] (yang mencatat bahwa cerita itu "telah sering diputar ulang daripada sering diautentikasi") serta ''Roman History'' oleh sejarawan Romawi [[Cassius Dio]]. Beberapa sumber menyarankan gelas ini mungkin saja terbuat dari aluminium. Paduan logam yang mengandung aluminium mungkin turut diproduksi di Tiongkok selama masa pemerintahan [[dinasti Jin (265–420)|dinasti Jin pertama]] (265–420).
Setelah [[Perang Salib]], tawas menjadi [[komoditas]] perdagangan internasional; zat tersebut sangat diperlukan dalam industri kain Eropa. Tambang-tambang alum kecil terdapat di Eropa yang penduduknya beragama Katolik tetapi sebagian besar tawas berasal dari Timur Tengah. Tawas terus diperdagangkan melalui [[Laut Tengah|Laut Mediterania]] hingga pertengahan abad ke-15, ketika [[Kesultanan Utsmaniyah|Utsmaniyah]] sangat menaikkan pajak ekspor. Dalam beberapa tahun, tawas ditemukan dalam jumlah besar di Italia. Paus Pius II melarang semua impor dari timur, menggunakan keuntungan dari perdagangan tawas untuk memulai [[Perang Utsmaniyah-Venesia (1463–1479)|perang]] dengan Utsmaniyah. Tawas yang baru ditemukan ini memainkan peran penting dalam [[farmasi]] Eropa, tetapi harga tinggi yang ditetapkan oleh pemerintah kepausan akhirnya membuat negara-negara lain memulai produksi tawas mereka sendiri; penambangan tawas skala besar dilakukan oleh daerah lain di Eropa pada abad ke-16.


== Sintesis logam ==
== Sintesis logam ==
Pada 1760, de Henouville mencoba mereduksi alumina menjadi logamnya namun tidak berhasil. Ia mengklaim telah mencoba setiap metode reduksi yang diketahui pada saat itu, meskipun metodenya tidak dipublikasikan. Mungkin dia mencampurkan alum dengan karbon atau zat organik, dengan garam atau soda untuk fluks, dan memanaskannya dalam api arang. Ahli kimia Austria Anton Leopold Ruprecht dan Matteo Tondi mengulangi eksperimen Baron pada 1790, yang secara signifikan meningkatkan suhu. Mereka menemukan partikel logam kecil yang mereka yakini sebagai logam yang dicari; tetapi percobaan kemudian oleh ahli kimia lain menunjukkan ini [[besi fosfida]] dari kotoran di arang dan abu tulang. Ahli kimia Jerman [[Martin Heinrich Klaproth]] berkomentar setelahnya, "jika ada batuan yang telah diletakkan dalam kondisi di mana sifat logamnya harus diungkapkan, jika ada, batuan yang terpapar pada eksperimen yang cocok untuk mereduksinya, diuji dalam api terpanas dengan segala macam metode, pada skala besar maupun kecil, bahwa batuan tersebut pastinya adalah alumina, tetapi belum ada yang merasakan logamisasi itu."  Lavoisier pada tahun 1794<ref>Louis-Bernard Guyton. [http://gallica.bnf.fr/ark:/12148/bpt6k4336621/f113.image Expériences comparatives sur les terres, pour déterminer leur fusibilité, leur manière de se comporter avec les flux salins ou vitreux, et l'action dissolvante qu'elles exercent réciproquement les unes sur les autres]. ''Journal de l'École Polytechnique''. 1795. Vol. 3. hlm. 299.</ref> dan kimiawan Prancis [[Louis-Bernard Guyton de Morveau]] pada tahun 1795 melelehkan alumina menjadi enamel putih dalam api arang yang dihasilkan dari [[oksigen]] murni tetapi tidak menemukan logam.<ref>Louis-Bernard Guyton. [http://gallica.bnf.fr/ark:/12148/bpt6k4336621/f113.image Expériences comparatives sur les terres, pour déterminer leur fusibilité, leur manière de se comporter avec les flux salins ou vitreux, et l'action dissolvante qu'elles exercent réciproquement les unes sur les autres]. ''Journal de l'École Polytechnique''. 1795. Vol. 3. hlm. 299.</ref> Kimiawan Amerika [[Robert Hare (kimiawan)|Robert Hare]] melelehkan alumina dengan suatu [[Oksihidrogen#Pipa tiup oksihidrogen|pipa tiup oksihidrogen]] pada tahun 1802, juga mendapatkan enamel, tetapi masih belum menemukan logam.


 
Pada tahun 1807, ahli kimia Inggris [[Humphry Davy]] berhasil [[Elektrolisis|mengelektrolisis]] alumina dengan baterai alkali, tetapi paduan yang dihasilkan mengandung [[kalium]] dan [[natrium]], dan Davy tidak memiliki alat untuk memisahkan logam yang diinginkan dari logam-logam tersebut. Dia kemudian memanaskan alumina dengan kalium, membentuk [[kalium oksida]] tetapi tidak dapat menghasilkan logam yang dicari. Pada 1808, Davy melakukan percobaan berbeda pada elektrolisis alumina, menetapkan bahwa alumina terurai dalam busur listrik tetapi membentuk logam yang tercampur dengan [[besi]]; ia tidak dapat memisahkan keduanya.<ref>Humphry Davy. [https://books.google.com/books?id=YjMwAAAAYAAJ Elements of Chemical Philosophy: Part 1]. Bradford and Inskeep. 1812. Vol. 1. hlm. 201.</ref> Akhirnya, ia mencoba percobaan elektrolisis lain, berusaha mengumpulkan logam pada besi, tetapi sekali lagi tidak dapat memisahkan logam yang diinginkan darinya. Davy menyarankan logam tersebut dinamai ''alumium'' pada tahun 1808<ref>Humphry Davy. [https://books.google.com/?id=Kg9GAAAAMAAJ&pg=RA1-PA353 Electro Chemical Researches, on the Decomposition of the Earths; with Observations on the Metals obtained from the alkaline Earths, and on the Amalgam procured from Ammonia]. ''Philosophical Transactions of the Royal Society''. 1808. Vol. 98. hlm. 353. doi:10.1098/rstl.1808.0023.</ref> dan ''aluminum'' pada tahun 1812, yang kemudian menghasilkan nama yang digunakan hingga saat ini.<ref>Humphry Davy. [https://books.google.com/books?id=YjMwAAAAYAAJ Elements of Chemical Philosophy: Part 1]. Bradford and Inskeep. 1812. Vol. 1. hlm. 201.</ref> Ilmuwan lain menggunakan ejaan ''aluminium''; ejaan yang sebelumnya digunakan kembali di [[Amerika Serikat]] dalam beberapa dekade berikutnya.<ref>Michael Quinion. [https://books.google.com/books?id=Js-PbsEjKSQC&pg=PT23 Port Out, Starboard Home: The Fascinating Stories We Tell About the words We Use]. Penguin Books Limited. 2005. hlm. 23–24. ISBN 978-0-14-190904-2.</ref>
Pada 1760, de Henouville mencoba mereduksi alumina menjadi logamnya namun tidak berhasil. Ia mengklaim telah mencoba setiap metode reduksi yang diketahui pada saat itu, meskipun metodenya tidak dipublikasikan. Mungkin dia mencampurkan alum dengan karbon atau zat organik, dengan garam atau soda untuk fluks, dan memanaskannya dalam api arang. Ahli kimia Austria Anton Leopold Ruprecht dan Matteo Tondi mengulangi eksperimen Baron pada 1790, yang secara signifikan meningkatkan suhu. Mereka menemukan partikel logam kecil yang mereka yakini sebagai logam yang dicari; tetapi percobaan kemudian oleh ahli kimia lain menunjukkan ini [[besi fosfida]] dari kotoran di arang dan abu tulang. Ahli kimia Jerman [[Martin Heinrich Klaproth]] berkomentar setelahnya, "jika ada batuan yang telah diletakkan dalam kondisi di mana sifat logamnya harus diungkapkan, jika ada, batuan yang terpapar pada eksperimen yang cocok untuk mereduksinya, diuji dalam api terpanas dengan segala macam metode, pada skala besar maupun kecil, bahwa batuan tersebut pastinya adalah alumina, tetapi belum ada yang merasakan logamisasi itu."  Lavoisier pada tahun 1794 dan kimiawan Prancis [[Louis-Bernard Guyton de Morveau]] pada tahun 1795 melelehkan alumina menjadi enamel putih dalam api arang yang dihasilkan dari [[oksigen]] murni tetapi tidak menemukan logam. Kimiawan Amerika [[Robert Hare (kimiawan)|Robert Hare]] melelehkan alumina dengan suatu [[Oksihidrogen#Pipa tiup oksihidrogen|pipa tiup oksihidrogen]] pada tahun 1802, juga mendapatkan enamel, tetapi masih belum menemukan logam.
 
Pada tahun 1807, ahli kimia Inggris [[Humphry Davy]] berhasil [[Elektrolisis|mengelektrolisis]] alumina dengan baterai alkali, tetapi paduan yang dihasilkan mengandung [[kalium]] dan [[natrium]], dan Davy tidak memiliki alat untuk memisahkan logam yang diinginkan dari logam-logam tersebut. Dia kemudian memanaskan alumina dengan kalium, membentuk [[kalium oksida]] tetapi tidak dapat menghasilkan logam yang dicari. Pada 1808, Davy melakukan percobaan berbeda pada elektrolisis alumina, menetapkan bahwa alumina terurai dalam busur listrik tetapi membentuk logam yang tercampur dengan [[besi]]; ia tidak dapat memisahkan keduanya. Akhirnya, ia mencoba percobaan elektrolisis lain, berusaha mengumpulkan logam pada besi, tetapi sekali lagi tidak dapat memisahkan logam yang diinginkan darinya. Davy menyarankan logam tersebut dinamai ''alumium'' pada tahun 1808 dan ''aluminum'' pada tahun 1812, yang kemudian menghasilkan nama yang digunakan hingga saat ini. Ilmuwan lain menggunakan ejaan ''aluminium''; ejaan yang sebelumnya digunakan kembali di [[Amerika Serikat]] dalam beberapa dekade berikutnya.


Ahli kimia Amerika [[Benjamin Silliman]] mengulangi percobaan Hare pada tahun 1813 dan memperoleh butiran kecil dari logam yang dicari, yang hampir terbakar dengan cepat.
Ahli kimia Amerika [[Benjamin Silliman]] mengulangi percobaan Hare pada tahun 1813 dan memperoleh butiran kecil dari logam yang dicari, yang hampir terbakar dengan cepat.


 
Pada tahun 1824, fisikawan Denmark [[Hans Christian Ørsted]] berusaha memproduksi logam tersebut. Dia mereaksikan aluminium klorida [[anhidrat]] dengan [[amalgam]] kalium, menghasilkan benjolan logam yang terlihat mirip timah.<ref>Royal Danish Academy of Sciences and Letters. [https://books.google.com/books?id=L2BFAAAAcAAJ&pg=PR25 Det Kongelige Danske Videnskabernes Selskabs philosophiske og historiske afhandlinger]. Popp. 1827. hlm. xxv–xxvi.</ref><ref>Friedrich Wöhler. [http://babel.hathitrust.org/cgi/pt?id=uc1.b4433551;view=1up;seq=162 Ueber das Aluminium]. ''Annalen der Physik und Chemie''. 1827. Vol. 11. hlm. 146–161.</ref> Dia mempresentasikan hasil tersebut dan menunjukkan sampel logam baru pada tahun 1825. Pada tahun 1826, ia menulis, "aluminium memiliki kilau logam dan warna agak keabu-abuan serta memecah air dengan sangat lambat"; hal ini menunjukkan bahwa dia telah memperoleh paduan aluminium-kalium, daripada aluminium murni. Ørsted tidak terlalu mementingkan penemuannya tersebut.<ref>Dan Ch. Christensen. [https://books.google.com/books?id=JiZpAgAAQBAJ&pg=PA429 Hans Christian Ørsted: Reading Nature's Mind]. OUP Oxford. 2013. hlm. 424–430. ISBN 978-0-19-164711-6.</ref> Dia tidak memberi tahu Davy atau Berzelius, yang keduanya dia kenal, dan menerbitkan karyanya di majalah Denmark yang tidak diketahui publik Eropa.<ref>Dan Ch. Christensen. [https://books.google.com/books?id=JiZpAgAAQBAJ&pg=PA429 Hans Christian Ørsted: Reading Nature's Mind]. OUP Oxford. 2013. hlm. 424–430. ISBN 978-0-19-164711-6.</ref> Akibatnya, ia sering tidak dikreditkan sebagai penemu unsur tersebut;<ref>Marco Fontani. [https://books.google.com/books?id=Ck9jBAAAQBAJ&pg=PA30 The Lost Elements: The Periodic Table's Shadow Side]. Oxford University Press. 2015. hlm. 30. ISBN 978-0-19-938334-4.</ref> beberapa sumber sebelumnya mengklaim Ørsted belum mengisolasi aluminium.<ref>Josephus Nelson Larned. [https://books.google.com/books?id=mDsFAAAAIAAJ The New Larned History for Ready Reference, Reading and Research: The Actual Words of the World's Best Historians, Biographers and Specialists; a Complete System of History for All Uses, Extending to All Countries and Subjects and Representing the Better and Newer Literature of History]. C.A. Nichols Publishing Company. 1923. hlm. 4472.</ref>
Pada tahun 1824, fisikawan Denmark [[Hans Christian Ørsted]] berusaha memproduksi logam tersebut. Dia mereaksikan aluminium klorida [[anhidrat]] dengan [[amalgam]] kalium, menghasilkan benjolan logam yang terlihat mirip timah. Dia mempresentasikan hasil tersebut dan menunjukkan sampel logam baru pada tahun 1825. Pada tahun 1826, ia menulis, "aluminium memiliki kilau logam dan warna agak keabu-abuan serta memecah air dengan sangat lambat"; hal ini menunjukkan bahwa dia telah memperoleh paduan aluminium-kalium, daripada aluminium murni. Ørsted tidak terlalu mementingkan penemuannya tersebut. Dia tidak memberi tahu Davy atau Berzelius, yang keduanya dia kenal, dan menerbitkan karyanya di majalah Denmark yang tidak diketahui publik Eropa. Akibatnya, ia sering tidak dikreditkan sebagai penemu unsur tersebut; beberapa sumber sebelumnya mengklaim Ørsted belum mengisolasi aluminium.


Berzelius mencoba mengisolasi logam aluminium pada tahun 1825 dengan hati-hati mencuci analog kalium dari garam basa dalam [[kriolit]] di suatu wadah. Sebelum percobaan, ia telah mengidentifikasi rumus garam ini dengan benar sebagai K<sub>3</sub>AlF<sub>6</sub>. Dia tidak menemukan logam, tetapi percobaannya nyaris berhasil dan berhasil direproduksi berkali-kali kemudian. Kesalahan Berzelius adalah menggunakan kelebihan kalium, yang membuat larutan terlalu basa dan melarutkan semua aluminium yang baru terbentuk.
Berzelius mencoba mengisolasi logam aluminium pada tahun 1825 dengan hati-hati mencuci analog kalium dari garam basa dalam [[kriolit]] di suatu wadah. Sebelum percobaan, ia telah mengidentifikasi rumus garam ini dengan benar sebagai K<sub>3</sub>AlF<sub>6</sub>. Dia tidak menemukan logam, tetapi percobaannya nyaris berhasil dan berhasil direproduksi berkali-kali kemudian. Kesalahan Berzelius adalah menggunakan kelebihan kalium, yang membuat larutan terlalu basa dan melarutkan semua aluminium yang baru terbentuk.


Ahli kimia Jerman [[Friedrich Wöhler]] mengunjungi Ørsted pada tahun 1827 dan menerima izin eksplisit untuk melanjutkan penelitian aluminium, yang Ørsted nyatakan "tidak punya waktu" untuk hal tersebut. Wöhler mengulangi eksperimen Ørsted tetapi tidak mengidentifikasi aluminium apa pun. (Wöhler kemudian menulis kepada Berzelius, "apa yang dianggap Oersted sebagai gumpalan aluminium tentu tidak lain adalah kalium yang mengandung aluminium".) Dia melakukan percobaan serupa, mencampur aluminium klorida anhidrat dengan kalium, dan menghasilkan bubuk aluminium. Setelah mendengar tentang ini, Ørsted menyarankan aluminiumnya sendiri mungkin mengandung kalium. Wöhler melanjutkan penelitiannya dan pada tahun 1845 mampu menghasilkan potongan-potongan kecil logam dan menggambarkan beberapa sifat fisiknya. Deskripsi Wöhler tentang sifat tersebut menunjukkan ia telah memperoleh aluminium yang tidak murni. Ilmuwan lain juga gagal mereproduksi eksperimen Ørsted, dan Wöhler dikreditkan sebagai penemu logam aluminium. Sementara Ørsted tidak mementingkan prioritas penemuan tersebut, beberapa orang Denmark mencoba menunjukkan bahwa dia telah memperoleh aluminium. Pada tahun 1921, alasan ketidakkonsistenan antara eksperimen Ørsted dan Wöhler ditemukan oleh ahli kimia Denmark Johan Fogh, yang menunjukkan bahwa eksperimen Ørsted berhasil berkat penggunaan sejumlah besar aluminium klorida berlebih dan campuran amalgam dengan kandungan kalium yang rendah. Pada tahun 1936, para ilmuwan dari perusahaan penghasil aluminium Amerika [[Alcoa]] berhasil menciptakan kembali eksperimen itu. Namun, banyak sumber kemudian masih menyebut Wöhler sebagai penemu.
Ahli kimia Jerman [[Friedrich Wöhler]] mengunjungi Ørsted pada tahun 1827 dan menerima izin eksplisit untuk melanjutkan penelitian aluminium, yang Ørsted nyatakan "tidak punya waktu" untuk hal tersebut.<ref>Dan Ch. Christensen. [https://books.google.com/books?id=JiZpAgAAQBAJ&pg=PA429 Hans Christian Ørsted: Reading Nature's Mind]. OUP Oxford. 2013. hlm. 424–430. ISBN 978-0-19-164711-6.</ref> Wöhler mengulangi eksperimen Ørsted tetapi tidak mengidentifikasi aluminium apa pun. (Wöhler kemudian menulis kepada Berzelius, "apa yang dianggap Oersted sebagai gumpalan aluminium tentu tidak lain adalah kalium yang mengandung aluminium".)<ref>Niels Bjerrum. ''Die Entdeckung des Aluminiums''. ''Zeitschrift für Angewandte Chemie''. 1926. Vol. 39 (9). hlm. 316–317. doi:10.1002/ange.19260390907.</ref> Dia melakukan percobaan serupa, mencampur aluminium klorida anhidrat dengan kalium, dan menghasilkan bubuk aluminium.<ref>Friedrich Wöhler. [http://babel.hathitrust.org/cgi/pt?id=uc1.b4433551;view=1up;seq=162 Ueber das Aluminium]. ''Annalen der Physik und Chemie''. 1827. Vol. 11. hlm. 146–161.</ref> Setelah mendengar tentang ini, Ørsted menyarankan aluminiumnya sendiri mungkin mengandung kalium.<ref>Dan Ch. Christensen. [https://books.google.com/books?id=JiZpAgAAQBAJ&pg=PA429 Hans Christian Ørsted: Reading Nature's Mind]. OUP Oxford. 2013. hlm. 424–430. ISBN 978-0-19-164711-6.</ref> Wöhler melanjutkan penelitiannya dan pada tahun 1845 mampu menghasilkan potongan-potongan kecil logam dan menggambarkan beberapa sifat fisiknya. Deskripsi Wöhler tentang sifat tersebut menunjukkan ia telah memperoleh aluminium yang tidak murni. Ilmuwan lain juga gagal mereproduksi eksperimen Ørsted, dan Wöhler dikreditkan sebagai penemu logam aluminium.<ref>Harry N. Holmes. [https://archive.org/details/sim_scientific-monthly_1936-03_42_3/page/236 Fifty Years of Industrial Aluminum]. ''The Scientific Monthly''. 1936. Vol. 42 (3). hlm. 236–239.</ref> Sementara Ørsted tidak mementingkan prioritas penemuan tersebut,<ref>Dan Ch. Christensen. [https://books.google.com/books?id=JiZpAgAAQBAJ&pg=PA429 Hans Christian Ørsted: Reading Nature's Mind]. OUP Oxford. 2013. hlm. 424–430. ISBN 978-0-19-164711-6.</ref> beberapa orang Denmark mencoba menunjukkan bahwa dia telah memperoleh aluminium.<ref>Dan Ch. Christensen. [https://books.google.com/books?id=JiZpAgAAQBAJ&pg=PA429 Hans Christian Ørsted: Reading Nature's Mind]. OUP Oxford. 2013. hlm. 424–430. ISBN 978-0-19-164711-6.</ref> Pada tahun 1921, alasan ketidakkonsistenan antara eksperimen Ørsted dan Wöhler ditemukan oleh ahli kimia Denmark Johan Fogh, yang menunjukkan bahwa eksperimen Ørsted berhasil berkat penggunaan sejumlah besar aluminium klorida berlebih dan campuran amalgam dengan kandungan kalium yang rendah. Pada tahun 1936, para ilmuwan dari perusahaan penghasil aluminium Amerika [[Alcoa]] berhasil menciptakan kembali eksperimen itu. Namun, banyak sumber kemudian masih menyebut Wöhler sebagai penemu.<ref>David R. Lide. [https://books.google.com/books?id=q2qJId5TKOkC&pg=PP853 CRC Handbook of Chemistry and Physics: A Ready-reference Book of Chemical and Physical Data]. CRC Press. 1995. hlm. 4-3. ISBN 978-0-8493-0595-5.</ref>


== Produksi elektrolitik dan komersialisasi ==
== Produksi elektrolitik dan komersialisasi ==
Aluminium pertama kali disintesis secara independen menggunakan elektrolisis pada 1854 oleh ahli kimia Jerman [[Robert Bunsen|Robert Wilhelm Bunsen]] dan Deville. Metode mereka tidak menjadi dasar untuk produksi industri aluminium karena pasokan listrik tidak efisien pada saat itu. Hal ini berubah setelah insinyur Belgia [[Zénobe Gramme|Zénobe-Théophile Gramme]] menemukan [[dinamo]] pada tahun 1870, yang memungkinkan terciptanya sejumlah besar listrik. Penemuan [[Tiga fase|arus tiga fase]] oleh insinyur Rusia [[Mikhail Dolivo-Dobrovolsky]] pada tahun 1889 membuat transmisi listrik ini pada jarak jauh dapat dicapai. Segera setelah penemuannya, Bunsen pindah ke bidang lain yang kemudian karya Deville diperhatikan oleh Napoleon III; inilah alasan mengapa penelitian Deville yang didanai Napoleon pada produksi aluminium telah dimulai. Deville dengan cepat menyadari bahwa produksi elektrolitik tidak praktis pada saat itu dan beralih ke metode kimiawi, memberikan hasil akhir tahun itu.<ref>Tom Geller. [https://www.sciencehistory.org/distillations/magazine/aluminum-common-metal-uncommon-past Aluminum: Common Metal, Uncommon Past]. ''Distillations''. Science History Institute. 2007.</ref><ref>Maurice Crosland. [https://books.google.com/books?id=haqCCVoeQW8C&pg=PA252 Science Under Control: The French Academy of Sciences 1795-1914]. Cambridge University Press. 2002. hlm. 252. ISBN 978-0-521-52475-9.</ref>


Metode produksi skala besar pertama dikembangkan secara independen oleh insinyur Prancis [[Paul Héroult]] dan insinyur Amerika [[Charles Martin Hall]] pada tahun 1886; saat ini dikenal sebagai [[proses Hall–Héroult]]. Elektrolisis alumina murni tidak praktis mengingat titik leburnya yang sangat tinggi; baik Héroult dan Hall menyadari bahwa titik lebur tersebut dapat diturunkan secara signifikan dengan adanya kriolit cair. Héroult diberikan paten di Perancis pada bulan April<ref>American Chemical Society Office of Public Outreach. [http://www.pittsburghacs.org/wp-content/uploads/2012/11/National-Historic-Chemical-Landmark-Production-of-Al-Metal.pdf Production of aluminum metal by electrochemistry]. American Chemical Society. 1997.</ref> dan kemudian di beberapa negara Eropa lainnya; ia juga mengajukan paten AS pada bulan Mei.<ref>American Chemical Society Office of Public Outreach. [http://www.pittsburghacs.org/wp-content/uploads/2012/11/National-Historic-Chemical-Landmark-Production-of-Al-Metal.pdf Production of aluminum metal by electrochemistry]. American Chemical Society. 1997.</ref> Setelah mendapatkan paten, Héroult tidak dapat menemukan minat pada penemuannya. Ketika meminta nasihat profesional, dia diberitahu tidak ada permintaan untuk aluminium tetapi beberapa untuk aluminium perunggu. Pabrik di Salindres tidak ingin memperbaiki proses mereka. Pada tahun 1888, Héroult dan rekan-rekannya mendirikan Aluminium Industrie Aktiengesellschaft dan memulai produksi industri aluminium perunggu di [[Neuhausen am Rheinfall]]. Kemudian, Société électrométallurgique française didirikan di Paris. Mereka meyakinkan Héroult untuk kembali ke Prancis, membeli patennya, dan mengangkatnya sebagai direktur pabrik peleburan di [[Isère]], yang memproduksi aluminium perunggu dalam skala besar pada awalnya dan aluminium murni dalam beberapa bulan.<ref>[http://www.hls-dhs-dss.ch/textes/d/D41942.php Alusuisse]. Historisches Lexikon der Schweiz. 2013.</ref>


Aluminium pertama kali disintesis secara independen menggunakan elektrolisis pada 1854 oleh ahli kimia Jerman [[Robert Bunsen|Robert Wilhelm Bunsen]] dan Deville. Metode mereka tidak menjadi dasar untuk produksi industri aluminium karena pasokan listrik tidak efisien pada saat itu. Hal ini berubah setelah insinyur Belgia [[Zénobe Gramme|Zénobe-Théophile Gramme]] menemukan [[dinamo]] pada tahun 1870, yang memungkinkan terciptanya sejumlah besar listrik. Penemuan [[Tiga fase|arus tiga fase]] oleh insinyur Rusia [[Mikhail Dolivo-Dobrovolsky]] pada tahun 1889 membuat transmisi listrik ini pada jarak jauh dapat dicapai. Segera setelah penemuannya, Bunsen pindah ke bidang lain yang kemudian karya Deville diperhatikan oleh Napoleon III; inilah alasan mengapa penelitian Deville yang didanai Napoleon pada produksi aluminium telah dimulai. Deville dengan cepat menyadari bahwa produksi elektrolitik tidak praktis pada saat itu dan beralih ke metode kimiawi, memberikan hasil akhir tahun itu.
Pada saat yang sama, Hall memproduksi aluminium dengan proses yang sama di rumahnya di [[Oberlin, Ohio|Oberlin]].<ref>Mimi Sheller. [https://books.google.com/books?id=wOfaAgAAQBAJ&pg=PA41 Aluminum Dreams: The Making of Light Modernity]. MIT Press. 2014. hlm. 41. ISBN 978-0-262-02682-6.</ref> Dia mengajukan paten pada bulan Juli, dan kantor paten memberi tahu Hall tentang adanya "gangguan" dengan aplikasi Héroult. Cowles bersaudara menawarkan bantuan hukum. Pada saat itu, Hall telah gagal mengembangkan proses komersial untuk investor pertamanya, dan dia beralih ke percobaan di pabrik peleburan Cowles di Lockport. Dia bereksperimen selama setahun tanpa banyak keberhasilan tetapi mendapat perhatian investor. Hall bersama-sama mendirikan Pittsburgh Reduction Company pada tahun 1888 dan memprakarsai produksi aluminium. Paten Hall diberikan pada tahun 1889. Pada tahun 1889, produksi Hall mulai menggunakan prinsip pemanasan internal. Pada September 1889, produksi Hall tumbuh  dengan biaya $0.65 per pon. Pada 1890, perusahaan Hall masih kekurangan modal dan tidak membayar [[dividen]]; Hall harus menjual sebagian sahamnya untuk menarik investasi. Selama tahun itu, sebuah pabrik baru di [[Patricroft]] dibangun. Pabrik peleburan di Lockport tidak dapat menahan persaingan dan ditutup pada tahun 1892.


Metode produksi skala besar pertama dikembangkan secara independen oleh insinyur Prancis [[Paul Héroult]] dan insinyur Amerika [[Charles Martin Hall]] pada tahun 1886; saat ini dikenal sebagai [[proses Hall–Héroult]]. Elektrolisis alumina murni tidak praktis mengingat titik leburnya yang sangat tinggi; baik Héroult dan Hall menyadari bahwa titik lebur tersebut dapat diturunkan secara signifikan dengan adanya kriolit cair. Héroult diberikan paten di Perancis pada bulan April dan kemudian di beberapa negara Eropa lainnya; ia juga mengajukan paten AS pada bulan Mei. Setelah mendapatkan paten, Héroult tidak dapat menemukan minat pada penemuannya. Ketika meminta nasihat profesional, dia diberitahu tidak ada permintaan untuk aluminium tetapi beberapa untuk aluminium perunggu. Pabrik di Salindres tidak ingin memperbaiki proses mereka. Pada tahun 1888, Héroult dan rekan-rekannya mendirikan Aluminium Industrie Aktiengesellschaft dan memulai produksi industri aluminium perunggu di [[Neuhausen am Rheinfall]]. Kemudian, Société électrométallurgique française didirikan di Paris. Mereka meyakinkan Héroult untuk kembali ke Prancis, membeli patennya, dan mengangkatnya sebagai direktur pabrik peleburan di [[Isère]], yang memproduksi aluminium perunggu dalam skala besar pada awalnya dan aluminium murni dalam beberapa bulan.
Proses Hall–Héroult mengubah alumina menjadi logam. Ahli kimia Austria [[Carl Josef Bayer]] menemukan cara memurnikan bauksit untuk menghasilkan alumina pada tahun 1888 di sebuah pabrik tekstil di [[Saint Petersburg]] dan mendapatkan paten pada akhir tahun tersebut;<ref>Fathi Habashi. [http://link.springer.com/10.1007/978-3-319-48176-0_12 A Hundred Years of the Bayer Process for Alumina Production]. ''Essential Readings in Light Metals''. Springer International Publishing. 2016. hlm. 85–93. doi:10.1007/978-3-319-48176-0_12. ISBN 9783319485744.</ref> proses tersebut saat ini dikenal sebagai [[proses Bayer]]. Bayer men-''[[sintering]]'' bauksit dengan alkali kemudian merendamnya dengan air; setelah mengaduk larutan tersebut dan menambahkan agen pembenih ke dalamnya, ia menemukan endapan aluminium hidroksida murni, yang terurai menjadi alumina saat dipanaskan. Pada tahun 1892, ketika bekerja di pabrik kimia di [[Yelabuga]], ia menemukan kandungan aluminium bauksit yang dilarutkan dalam sisa basa dari isolasi padatan alumina; hal ini sangat penting untuk penggunaan metode ini dalam industri. Dia diberi hak paten akhir tahun itu.<ref>Fathi Habashi. [http://link.springer.com/10.1007/978-3-319-48176-0_12 A Hundred Years of the Bayer Process for Alumina Production]. ''Essential Readings in Light Metals''. Springer International Publishing. 2016. hlm. 85–93. doi:10.1007/978-3-319-48176-0_12. ISBN 9783319485744.</ref>
 
Pada saat yang sama, Hall memproduksi aluminium dengan proses yang sama di rumahnya di [[Oberlin, Ohio|Oberlin]]. Dia mengajukan paten pada bulan Juli, dan kantor paten memberi tahu Hall tentang adanya "gangguan" dengan aplikasi Héroult. Cowles bersaudara menawarkan bantuan hukum. Pada saat itu, Hall telah gagal mengembangkan proses komersial untuk investor pertamanya, dan dia beralih ke percobaan di pabrik peleburan Cowles di Lockport. Dia bereksperimen selama setahun tanpa banyak keberhasilan tetapi mendapat perhatian investor. Hall bersama-sama mendirikan Pittsburgh Reduction Company pada tahun 1888 dan memprakarsai produksi aluminium. Paten Hall diberikan pada tahun 1889. Pada tahun 1889, produksi Hall mulai menggunakan prinsip pemanasan internal. Pada September 1889, produksi Hall tumbuh  dengan biaya $0.65 per pon. Pada 1890, perusahaan Hall masih kekurangan modal dan tidak membayar [[dividen]]; Hall harus menjual sebagian sahamnya untuk menarik investasi. Selama tahun itu, sebuah pabrik baru di [[Patricroft]] dibangun. Pabrik peleburan di Lockport tidak dapat menahan persaingan dan ditutup pada tahun 1892.
 
Proses Hall–Héroult mengubah alumina menjadi logam. Ahli kimia Austria [[Carl Josef Bayer]] menemukan cara memurnikan bauksit untuk menghasilkan alumina pada tahun 1888 di sebuah pabrik tekstil di [[Saint Petersburg]] dan mendapatkan paten pada akhir tahun tersebut; proses tersebut saat ini dikenal sebagai [[proses Bayer]]. Bayer men-''[[sintering]]'' bauksit dengan alkali kemudian merendamnya dengan air; setelah mengaduk larutan tersebut dan menambahkan agen pembenih ke dalamnya, ia menemukan endapan aluminium hidroksida murni, yang terurai menjadi alumina saat dipanaskan. Pada tahun 1892, ketika bekerja di pabrik kimia di [[Yelabuga]], ia menemukan kandungan aluminium bauksit yang dilarutkan dalam sisa basa dari isolasi padatan alumina; hal ini sangat penting untuk penggunaan metode ini dalam industri. Dia diberi hak paten akhir tahun itu.


== Lihat pula ==
== Lihat pula ==
* [[Daftar negara berdasarkan produksi aluminium primer]]
* [[Daftar negara berdasarkan produksi aluminium primer]]


== Catatan ==
== Catatan ==
== Referensi ==
== Daftar pustaka ==
== Daftar pustaka ==
*
*  
*
*  
*
*  
*
*  
*
*


== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


== Sumber dan atribusi ==
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sejarah+aluminium&oldid=29581811 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29581811 (2026-08-15T09:06:01Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sejarah+aluminium&oldid=29581811 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29581811 (2026-08-15T09:06:01Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 9 September 2026 06.38

Tovarna glinice in aluminija Kidričevo - kupi aluminija 1968

Logam aluminium (atau aluminum) sangat langka dalam bentuk alaminya, dan proses untuk memurnikannya dari batuan sangat kompleks, sehingga keterlibatannya dalam sejarah manusia sebagian besar tidak diketahui. Namun, senyawa tawas (alum) telah dikenal sejak abad ke-5 SM dan digunakan secara luas untuk pewarnaan. Selama Abad Pertengahan, tawas digunakan sebagai zat pewarna yang menjadikannya komoditas perdagangan internasional. Ilmuwan Abad Renaisans percaya bahwa tawas merupakan garam dari suatu batuan baru; selama Zaman Pencerahan, diketahui bahwa batuan tersebut, alumina, merupakan oksida dari logam baru. Penemuan logam ini diumumkan pada tahun 1825 oleh fisikawan Denmark Hans Christian Ørsted, yang karyanya diperkaya lebih lanjut oleh ahli kimia Jerman Friedrich Wöhler.[1]

Aluminium sulit untuk dimurnikan dan karenanya jarang digunakan. Segera setelah penemuannya, harga aluminium melebihi harga emas. Hal tersebut menurun hanya setelah dimulainya produksi industri pertama oleh ahli kimia Prancis Henri Étienne Sainte-Claire Deville pada tahun 1856. Aluminium menjadi lebih tersedia untuk umum dengan adanya proses Hall–Héroult yang dikembangkan secara independen oleh insinyur Prancis Paul Héroult dan insinyur Amerika Charles Martin Hall pada tahun 1886, serta proses Bayer yang dikembangkan oleh ahli kimia Austria Carl Josef Bayer pada tahun 1889. Proses ini telah digunakan untuk produksi aluminium hingga saat ini.[2][3]

Pengenalan metode-metode ini untuk memproduksi aluminium secara massal menyebabkan penggunaan secara luas dari logam ringan, yang tahan korosi tersebut dalam industri dan kehidupan sehari-hari. Aluminium mulai digunakan dalam rekayasa dan konstruksi. Dalam Perang Dunia I dan II, aluminium merupakan sumber daya strategis yang penting bagi dunia penerbangan. Produksi logam dunia tumbuh dari 6,800 metrik ton pada tahun 1900 menjadi 2,810,000 metrik ton pada tahun 1954, ketika aluminium menjadi logam non-besi yang paling banyak diproduksi, melampaui tembaga.[4]

Pada paruh kedua abad ke-20, aluminium mulai digunakan dalam transportasi dan pengemasan. Produksi aluminium menjadi perhatian akibat pengaruhnya terhadap lingkungan, hingga kemudian ditemukan cara mendaur ulang aluminium. Logam ini menjadi komoditas pertukaran pada 1970-an. Produksi aluminium mulai bergeser dari negara maju ke negara berkembang; pada 2010, Tiongkok telah mengakumulasikan bagian yang sangat besar dalam produksi dan konsumsi aluminium.[5] Produksi aluminium dunia terus meningkat, mencapai 58,500,000 metrik ton pada tahun 2015. Produksi aluminium melebihi gabungan semua logam non-besi lainnya.[6]

Sejarah awal

Sejarah aluminium terbentuk melalui penggunaan senyawa tawasnya. Catatan tertulis pertama dari tawas adalah pada abad ke-5 SM oleh sejarawan Yunani Herodotus. Orang-orang kuno menggunakannya sebagai zat pewarna, dalam kedokteran, dalam penggilingan kimia, serta sebagai lapisan tahan api bagi kayu untuk melindungi benteng dari pembakaran musuh. Logam aluminium tidak dikenal saat itu. Penulis Romawi Petronius menyebutkan dalam novelnya Satyricon bahwa sebuah gelas yang tidak biasa telah diberikan kepada kaisar: setelah dilempar ke trotoar, gelas tersebut tidak pecah tetapi hanya berubah bentuk. Gelas itu lalu dikembalikan ke bentuk semula menggunakan palu. Setelah mengetahui dari penemu bahwa tidak ada orang lain yang tahu cara memproduksi bahan gelas ini, kaisar memerintahkan penemu itu dieksekusi sehingga tidak mengurangi harga emas.[7] Variasi dari kisah ini disebutkan secara singkat dalam Naturalis Historia oleh sejarawan Romawi Plinius yang Tua (yang mencatat bahwa cerita itu "telah sering diputar ulang daripada sering diautentikasi")[8] serta Roman History oleh sejarawan Romawi Cassius Dio.[9] Beberapa sumber menyarankan gelas ini mungkin saja terbuat dari aluminium. Paduan logam yang mengandung aluminium mungkin turut diproduksi di Tiongkok selama masa pemerintahan dinasti Jin pertama (265–420).


Sintesis logam

Pada 1760, de Henouville mencoba mereduksi alumina menjadi logamnya namun tidak berhasil. Ia mengklaim telah mencoba setiap metode reduksi yang diketahui pada saat itu, meskipun metodenya tidak dipublikasikan. Mungkin dia mencampurkan alum dengan karbon atau zat organik, dengan garam atau soda untuk fluks, dan memanaskannya dalam api arang. Ahli kimia Austria Anton Leopold Ruprecht dan Matteo Tondi mengulangi eksperimen Baron pada 1790, yang secara signifikan meningkatkan suhu. Mereka menemukan partikel logam kecil yang mereka yakini sebagai logam yang dicari; tetapi percobaan kemudian oleh ahli kimia lain menunjukkan ini besi fosfida dari kotoran di arang dan abu tulang. Ahli kimia Jerman Martin Heinrich Klaproth berkomentar setelahnya, "jika ada batuan yang telah diletakkan dalam kondisi di mana sifat logamnya harus diungkapkan, jika ada, batuan yang terpapar pada eksperimen yang cocok untuk mereduksinya, diuji dalam api terpanas dengan segala macam metode, pada skala besar maupun kecil, bahwa batuan tersebut pastinya adalah alumina, tetapi belum ada yang merasakan logamisasi itu." Lavoisier pada tahun 1794[10] dan kimiawan Prancis Louis-Bernard Guyton de Morveau pada tahun 1795 melelehkan alumina menjadi enamel putih dalam api arang yang dihasilkan dari oksigen murni tetapi tidak menemukan logam.[11] Kimiawan Amerika Robert Hare melelehkan alumina dengan suatu pipa tiup oksihidrogen pada tahun 1802, juga mendapatkan enamel, tetapi masih belum menemukan logam.

Pada tahun 1807, ahli kimia Inggris Humphry Davy berhasil mengelektrolisis alumina dengan baterai alkali, tetapi paduan yang dihasilkan mengandung kalium dan natrium, dan Davy tidak memiliki alat untuk memisahkan logam yang diinginkan dari logam-logam tersebut. Dia kemudian memanaskan alumina dengan kalium, membentuk kalium oksida tetapi tidak dapat menghasilkan logam yang dicari. Pada 1808, Davy melakukan percobaan berbeda pada elektrolisis alumina, menetapkan bahwa alumina terurai dalam busur listrik tetapi membentuk logam yang tercampur dengan besi; ia tidak dapat memisahkan keduanya.[12] Akhirnya, ia mencoba percobaan elektrolisis lain, berusaha mengumpulkan logam pada besi, tetapi sekali lagi tidak dapat memisahkan logam yang diinginkan darinya. Davy menyarankan logam tersebut dinamai alumium pada tahun 1808[13] dan aluminum pada tahun 1812, yang kemudian menghasilkan nama yang digunakan hingga saat ini.[14] Ilmuwan lain menggunakan ejaan aluminium; ejaan yang sebelumnya digunakan kembali di Amerika Serikat dalam beberapa dekade berikutnya.[15]

Ahli kimia Amerika Benjamin Silliman mengulangi percobaan Hare pada tahun 1813 dan memperoleh butiran kecil dari logam yang dicari, yang hampir terbakar dengan cepat.

Pada tahun 1824, fisikawan Denmark Hans Christian Ørsted berusaha memproduksi logam tersebut. Dia mereaksikan aluminium klorida anhidrat dengan amalgam kalium, menghasilkan benjolan logam yang terlihat mirip timah.[16][17] Dia mempresentasikan hasil tersebut dan menunjukkan sampel logam baru pada tahun 1825. Pada tahun 1826, ia menulis, "aluminium memiliki kilau logam dan warna agak keabu-abuan serta memecah air dengan sangat lambat"; hal ini menunjukkan bahwa dia telah memperoleh paduan aluminium-kalium, daripada aluminium murni. Ørsted tidak terlalu mementingkan penemuannya tersebut.[18] Dia tidak memberi tahu Davy atau Berzelius, yang keduanya dia kenal, dan menerbitkan karyanya di majalah Denmark yang tidak diketahui publik Eropa.[19] Akibatnya, ia sering tidak dikreditkan sebagai penemu unsur tersebut;[20] beberapa sumber sebelumnya mengklaim Ørsted belum mengisolasi aluminium.[21]

Berzelius mencoba mengisolasi logam aluminium pada tahun 1825 dengan hati-hati mencuci analog kalium dari garam basa dalam kriolit di suatu wadah. Sebelum percobaan, ia telah mengidentifikasi rumus garam ini dengan benar sebagai K3AlF6. Dia tidak menemukan logam, tetapi percobaannya nyaris berhasil dan berhasil direproduksi berkali-kali kemudian. Kesalahan Berzelius adalah menggunakan kelebihan kalium, yang membuat larutan terlalu basa dan melarutkan semua aluminium yang baru terbentuk.

Ahli kimia Jerman Friedrich Wöhler mengunjungi Ørsted pada tahun 1827 dan menerima izin eksplisit untuk melanjutkan penelitian aluminium, yang Ørsted nyatakan "tidak punya waktu" untuk hal tersebut.[22] Wöhler mengulangi eksperimen Ørsted tetapi tidak mengidentifikasi aluminium apa pun. (Wöhler kemudian menulis kepada Berzelius, "apa yang dianggap Oersted sebagai gumpalan aluminium tentu tidak lain adalah kalium yang mengandung aluminium".)[23] Dia melakukan percobaan serupa, mencampur aluminium klorida anhidrat dengan kalium, dan menghasilkan bubuk aluminium.[24] Setelah mendengar tentang ini, Ørsted menyarankan aluminiumnya sendiri mungkin mengandung kalium.[25] Wöhler melanjutkan penelitiannya dan pada tahun 1845 mampu menghasilkan potongan-potongan kecil logam dan menggambarkan beberapa sifat fisiknya. Deskripsi Wöhler tentang sifat tersebut menunjukkan ia telah memperoleh aluminium yang tidak murni. Ilmuwan lain juga gagal mereproduksi eksperimen Ørsted, dan Wöhler dikreditkan sebagai penemu logam aluminium.[26] Sementara Ørsted tidak mementingkan prioritas penemuan tersebut,[27] beberapa orang Denmark mencoba menunjukkan bahwa dia telah memperoleh aluminium.[28] Pada tahun 1921, alasan ketidakkonsistenan antara eksperimen Ørsted dan Wöhler ditemukan oleh ahli kimia Denmark Johan Fogh, yang menunjukkan bahwa eksperimen Ørsted berhasil berkat penggunaan sejumlah besar aluminium klorida berlebih dan campuran amalgam dengan kandungan kalium yang rendah. Pada tahun 1936, para ilmuwan dari perusahaan penghasil aluminium Amerika Alcoa berhasil menciptakan kembali eksperimen itu. Namun, banyak sumber kemudian masih menyebut Wöhler sebagai penemu.[29]

Produksi elektrolitik dan komersialisasi

Aluminium pertama kali disintesis secara independen menggunakan elektrolisis pada 1854 oleh ahli kimia Jerman Robert Wilhelm Bunsen dan Deville. Metode mereka tidak menjadi dasar untuk produksi industri aluminium karena pasokan listrik tidak efisien pada saat itu. Hal ini berubah setelah insinyur Belgia Zénobe-Théophile Gramme menemukan dinamo pada tahun 1870, yang memungkinkan terciptanya sejumlah besar listrik. Penemuan arus tiga fase oleh insinyur Rusia Mikhail Dolivo-Dobrovolsky pada tahun 1889 membuat transmisi listrik ini pada jarak jauh dapat dicapai. Segera setelah penemuannya, Bunsen pindah ke bidang lain yang kemudian karya Deville diperhatikan oleh Napoleon III; inilah alasan mengapa penelitian Deville yang didanai Napoleon pada produksi aluminium telah dimulai. Deville dengan cepat menyadari bahwa produksi elektrolitik tidak praktis pada saat itu dan beralih ke metode kimiawi, memberikan hasil akhir tahun itu.[30][31]

Metode produksi skala besar pertama dikembangkan secara independen oleh insinyur Prancis Paul Héroult dan insinyur Amerika Charles Martin Hall pada tahun 1886; saat ini dikenal sebagai proses Hall–Héroult. Elektrolisis alumina murni tidak praktis mengingat titik leburnya yang sangat tinggi; baik Héroult dan Hall menyadari bahwa titik lebur tersebut dapat diturunkan secara signifikan dengan adanya kriolit cair. Héroult diberikan paten di Perancis pada bulan April[32] dan kemudian di beberapa negara Eropa lainnya; ia juga mengajukan paten AS pada bulan Mei.[33] Setelah mendapatkan paten, Héroult tidak dapat menemukan minat pada penemuannya. Ketika meminta nasihat profesional, dia diberitahu tidak ada permintaan untuk aluminium tetapi beberapa untuk aluminium perunggu. Pabrik di Salindres tidak ingin memperbaiki proses mereka. Pada tahun 1888, Héroult dan rekan-rekannya mendirikan Aluminium Industrie Aktiengesellschaft dan memulai produksi industri aluminium perunggu di Neuhausen am Rheinfall. Kemudian, Société électrométallurgique française didirikan di Paris. Mereka meyakinkan Héroult untuk kembali ke Prancis, membeli patennya, dan mengangkatnya sebagai direktur pabrik peleburan di Isère, yang memproduksi aluminium perunggu dalam skala besar pada awalnya dan aluminium murni dalam beberapa bulan.[34]

Pada saat yang sama, Hall memproduksi aluminium dengan proses yang sama di rumahnya di Oberlin.[35] Dia mengajukan paten pada bulan Juli, dan kantor paten memberi tahu Hall tentang adanya "gangguan" dengan aplikasi Héroult. Cowles bersaudara menawarkan bantuan hukum. Pada saat itu, Hall telah gagal mengembangkan proses komersial untuk investor pertamanya, dan dia beralih ke percobaan di pabrik peleburan Cowles di Lockport. Dia bereksperimen selama setahun tanpa banyak keberhasilan tetapi mendapat perhatian investor. Hall bersama-sama mendirikan Pittsburgh Reduction Company pada tahun 1888 dan memprakarsai produksi aluminium. Paten Hall diberikan pada tahun 1889. Pada tahun 1889, produksi Hall mulai menggunakan prinsip pemanasan internal. Pada September 1889, produksi Hall tumbuh dengan biaya $0.65 per pon. Pada 1890, perusahaan Hall masih kekurangan modal dan tidak membayar dividen; Hall harus menjual sebagian sahamnya untuk menarik investasi. Selama tahun itu, sebuah pabrik baru di Patricroft dibangun. Pabrik peleburan di Lockport tidak dapat menahan persaingan dan ditutup pada tahun 1892.

Proses Hall–Héroult mengubah alumina menjadi logam. Ahli kimia Austria Carl Josef Bayer menemukan cara memurnikan bauksit untuk menghasilkan alumina pada tahun 1888 di sebuah pabrik tekstil di Saint Petersburg dan mendapatkan paten pada akhir tahun tersebut;[36] proses tersebut saat ini dikenal sebagai proses Bayer. Bayer men-sintering bauksit dengan alkali kemudian merendamnya dengan air; setelah mengaduk larutan tersebut dan menambahkan agen pembenih ke dalamnya, ia menemukan endapan aluminium hidroksida murni, yang terurai menjadi alumina saat dipanaskan. Pada tahun 1892, ketika bekerja di pabrik kimia di Yelabuga, ia menemukan kandungan aluminium bauksit yang dilarutkan dalam sisa basa dari isolasi padatan alumina; hal ini sangat penting untuk penggunaan metode ini dalam industri. Dia diberi hak paten akhir tahun itu.[37]

Lihat pula

Catatan

Daftar pustaka

Referensi

  1. Harry N. Holmes. The story of aluminum. J. Chem. Educ. 1930. Vol. 7 (2). hlm. 232. doi:10.1021/ed007p232.
  2. McGeer, J.P. Hall-Heroult: 100 Years of Processes Evolution. JOM. 1986. Vol. 38 (11). hlm. 27–33. doi:10.1007/BF03257618.
  3. Harris, Chris. Micro reform – impacts on firms: aluminium case study. Industry Commission. 1998. ISBN 978-0-646-33550-6.
  4. Harald U. Sverdrup, Kristin Vala Ragnarsdottir, Deniz Koca. Aluminium for the future: Modelling the global production, market supply, demand, price and long term development of the global reserves. Resources, Conservation and Recycling. 2015. Vol. 103. hlm. 139-154. doi:10.1016/j.resconrec.2015.06.008.
  5. Min Dai, Peng Wang, Wei-Qiang Chen, Gang Liu. Scenario analysis of China's aluminum cycle reveals the coming scrap age and the end of primary aluminum boom. Journal of Cleaner Production. 2019. Vol. 226. hlm. 793-804. doi:10.1016/j.jclepro.2019.04.029.
  6. Dudin, Mihail & Voykova, N.A. & Frolova, E.E. & Artemieva, J.A. & Rusakova, E.P. & Abashidze, A.H. Modern trends and challenges of development of global aluminum industry. METALURGIJA. Metalurgija -Sisak then Zagreb-. 2017. Vol. 56 (1-2). hlm. 255-258.
  7. A. Duboin. Les Romains ont-ils connu l'aluminium ?. La Revue Scientifique. 1902. Vol. 18 (24). hlm. 751–753.
  8. Pliny's Natural History. Harvard University Press; William Heinemann. 1949–54.
  9. A. Duboin. Les Romains ont-ils connu l'aluminium ?. La Revue Scientifique. 1902. Vol. 18 (24). hlm. 751–753.
  10. Louis-Bernard Guyton. Expériences comparatives sur les terres, pour déterminer leur fusibilité, leur manière de se comporter avec les flux salins ou vitreux, et l'action dissolvante qu'elles exercent réciproquement les unes sur les autres. Journal de l'École Polytechnique. 1795. Vol. 3. hlm. 299.
  11. Louis-Bernard Guyton. Expériences comparatives sur les terres, pour déterminer leur fusibilité, leur manière de se comporter avec les flux salins ou vitreux, et l'action dissolvante qu'elles exercent réciproquement les unes sur les autres. Journal de l'École Polytechnique. 1795. Vol. 3. hlm. 299.
  12. Humphry Davy. Elements of Chemical Philosophy: Part 1. Bradford and Inskeep. 1812. Vol. 1. hlm. 201.
  13. Humphry Davy. Electro Chemical Researches, on the Decomposition of the Earths; with Observations on the Metals obtained from the alkaline Earths, and on the Amalgam procured from Ammonia. Philosophical Transactions of the Royal Society. 1808. Vol. 98. hlm. 353. doi:10.1098/rstl.1808.0023.
  14. Humphry Davy. Elements of Chemical Philosophy: Part 1. Bradford and Inskeep. 1812. Vol. 1. hlm. 201.
  15. Michael Quinion. Port Out, Starboard Home: The Fascinating Stories We Tell About the words We Use. Penguin Books Limited. 2005. hlm. 23–24. ISBN 978-0-14-190904-2.
  16. Royal Danish Academy of Sciences and Letters. Det Kongelige Danske Videnskabernes Selskabs philosophiske og historiske afhandlinger. Popp. 1827. hlm. xxv–xxvi.
  17. Friedrich Wöhler. Ueber das Aluminium. Annalen der Physik und Chemie. 1827. Vol. 11. hlm. 146–161.
  18. Dan Ch. Christensen. Hans Christian Ørsted: Reading Nature's Mind. OUP Oxford. 2013. hlm. 424–430. ISBN 978-0-19-164711-6.
  19. Dan Ch. Christensen. Hans Christian Ørsted: Reading Nature's Mind. OUP Oxford. 2013. hlm. 424–430. ISBN 978-0-19-164711-6.
  20. Marco Fontani. The Lost Elements: The Periodic Table's Shadow Side. Oxford University Press. 2015. hlm. 30. ISBN 978-0-19-938334-4.
  21. Josephus Nelson Larned. The New Larned History for Ready Reference, Reading and Research: The Actual Words of the World's Best Historians, Biographers and Specialists; a Complete System of History for All Uses, Extending to All Countries and Subjects and Representing the Better and Newer Literature of History. C.A. Nichols Publishing Company. 1923. hlm. 4472.
  22. Dan Ch. Christensen. Hans Christian Ørsted: Reading Nature's Mind. OUP Oxford. 2013. hlm. 424–430. ISBN 978-0-19-164711-6.
  23. Niels Bjerrum. Die Entdeckung des Aluminiums. Zeitschrift für Angewandte Chemie. 1926. Vol. 39 (9). hlm. 316–317. doi:10.1002/ange.19260390907.
  24. Friedrich Wöhler. Ueber das Aluminium. Annalen der Physik und Chemie. 1827. Vol. 11. hlm. 146–161.
  25. Dan Ch. Christensen. Hans Christian Ørsted: Reading Nature's Mind. OUP Oxford. 2013. hlm. 424–430. ISBN 978-0-19-164711-6.
  26. Harry N. Holmes. Fifty Years of Industrial Aluminum. The Scientific Monthly. 1936. Vol. 42 (3). hlm. 236–239.
  27. Dan Ch. Christensen. Hans Christian Ørsted: Reading Nature's Mind. OUP Oxford. 2013. hlm. 424–430. ISBN 978-0-19-164711-6.
  28. Dan Ch. Christensen. Hans Christian Ørsted: Reading Nature's Mind. OUP Oxford. 2013. hlm. 424–430. ISBN 978-0-19-164711-6.
  29. David R. Lide. CRC Handbook of Chemistry and Physics: A Ready-reference Book of Chemical and Physical Data. CRC Press. 1995. hlm. 4-3. ISBN 978-0-8493-0595-5.
  30. Tom Geller. Aluminum: Common Metal, Uncommon Past. Distillations. Science History Institute. 2007.
  31. Maurice Crosland. Science Under Control: The French Academy of Sciences 1795-1914. Cambridge University Press. 2002. hlm. 252. ISBN 978-0-521-52475-9.
  32. American Chemical Society Office of Public Outreach. Production of aluminum metal by electrochemistry. American Chemical Society. 1997.
  33. American Chemical Society Office of Public Outreach. Production of aluminum metal by electrochemistry. American Chemical Society. 1997.
  34. Alusuisse. Historisches Lexikon der Schweiz. 2013.
  35. Mimi Sheller. Aluminum Dreams: The Making of Light Modernity. MIT Press. 2014. hlm. 41. ISBN 978-0-262-02682-6.
  36. Fathi Habashi. A Hundred Years of the Bayer Process for Alumina Production. Essential Readings in Light Metals. Springer International Publishing. 2016. hlm. 85–93. doi:10.1007/978-3-319-48176-0_12. ISBN 9783319485744.
  37. Fathi Habashi. A Hundred Years of the Bayer Process for Alumina Production. Essential Readings in Light Metals. Springer International Publishing. 2016. hlm. 85–93. doi:10.1007/978-3-319-48176-0_12. ISBN 9783319485744.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29581811 (2026-08-15T09:06:01Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.