Batu Satam: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28195988; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Batu Satam''' adalah batuan khas [[Indonesia]] yang ditemukan di pulau [[Belitung]], Provinsi [[Bangka Belitung]]. Batu ini berwarna hitam dan memiliki urat-urat yang khas. Batu Satam termasuk kedalam batuan langka. Batu ini terbentuk dari hasil proses alam atas reaksi tabrakan [[meteor]] dengan lapisan bumi yang mengandung [[timah]] tinggi jutaan tahun lalu. Serpihan batu meteor itu tersebar keseluruh pelosok dunia seperti [[Australia]], [[Cekoslovakia]], [[Arab]], dan di Indonesia tepatnya di pulau [[Belitung]]. Saat jatuh diatas tanah pulau Belitung, meteor ini bereaksi dengan kandungan [[timah]] yang sangat banyak yang terdapat dipulau Belitung, sehingga membentuk batu hitam yang kemudian dinamakan '''Batu Satam'''. Karena proses inilah Batu Satam hanya terdapat di [[Indonesia]] dan menjadi batuan langka yang diburu para kolektor batu diseluruh dunia. Di Belitung sendiri batu satam ini di jadikan sebagai ikon dari ibu kota Belitung yaitu [[Tanjung Pandan]]. | [[File:Two_tektites.JPG|thumb|right|280px|Two tektites]] | ||
'''Batu Satam''' adalah batuan khas [[Indonesia]] yang ditemukan di pulau [[Belitung]], Provinsi [[Bangka Belitung]].<ref>Berita Unik. [http://www.beritaunik.net/misteri-dunia/batu-satam-batu-berumur-jutaan-tahun-yang-hanya-ada-di-indonesia.html Batu Satam, Batu Berumur Jutaan Tahun yang Hanya Ada di Indonesia].</ref> Batu ini berwarna hitam dan memiliki urat-urat yang khas.<ref>Berita Unik. [http://www.beritaunik.net/misteri-dunia/batu-satam-batu-berumur-jutaan-tahun-yang-hanya-ada-di-indonesia.html Batu Satam, Batu Berumur Jutaan Tahun yang Hanya Ada di Indonesia].</ref> Batu Satam termasuk kedalam batuan langka.<ref>Berita Unik. [http://www.beritaunik.net/misteri-dunia/batu-satam-batu-berumur-jutaan-tahun-yang-hanya-ada-di-indonesia.html Batu Satam, Batu Berumur Jutaan Tahun yang Hanya Ada di Indonesia].</ref> Batu ini terbentuk dari hasil proses alam atas reaksi tabrakan [[meteor]] dengan lapisan bumi yang mengandung [[timah]] tinggi jutaan tahun lalu.<ref>Berita Unik. [http://www.beritaunik.net/misteri-dunia/batu-satam-batu-berumur-jutaan-tahun-yang-hanya-ada-di-indonesia.html Batu Satam, Batu Berumur Jutaan Tahun yang Hanya Ada di Indonesia].</ref> Serpihan batu meteor itu tersebar keseluruh pelosok dunia seperti [[Australia]], [[Cekoslovakia]], [[Arab]], dan di Indonesia tepatnya di pulau [[Belitung]].<ref>Bimbingan. [http://www.bimbingan.org/kekuatan-batu-meteor.htm Kekuatan Batu Meteor yang Bernama Satam].</ref> Saat jatuh diatas tanah pulau Belitung, meteor ini bereaksi dengan kandungan [[timah]] yang sangat banyak yang terdapat dipulau Belitung, sehingga membentuk batu hitam yang kemudian dinamakan '''Batu Satam'''. Karena proses inilah Batu Satam hanya terdapat di [[Indonesia]] dan menjadi batuan langka yang diburu para kolektor batu diseluruh dunia.<ref>Bimbingan. [http://www.bimbingan.org/kekuatan-batu-meteor.htm Kekuatan Batu Meteor yang Bernama Satam].</ref> Di Belitung sendiri batu satam ini di jadikan sebagai ikon dari ibu kota Belitung yaitu [[Tanjung Pandan]].<ref>Matari Mulyani. [http://unik.kompasiana.com/2012/09/29/satam-batu-unik-berusia-ratusan-tahun-497356.html Satam, Batu Unik Berusia Ratusan Tahun].</ref> | |||
== Latar Belakang == | == Latar Belakang == | ||
Batu Satam pertama kali ditemukan di Pulau Belitung pada tahun 1973. Di [[Desa Buding]], Kecamatan [[Kelapa Kampit]]. Batu ini ditemukan secara tidak sengaja oleh penambang timah beretnis [[China]] dalam penambangan timah dengan kedalaman 50 meter. Menurut Sejarah, penamaan Baru Satam ini didasari dua suku kata, yaitu Sa dan Tam yg berasal dari bahasa china suku Khek yg ada di Belitung. Jika diartikan secara harfiah, Sa berarti [[pasir]] dan Tam berarti [[empedu]]. Sehingga Satam memiliki arti empedu pasir. | Batu Satam pertama kali ditemukan di Pulau Belitung pada tahun 1973.<ref>Direktorat Jendral Pemberdayaan Masyarakat dan Desa. [http://www.pemetaanttg.com/?op=ttg&mode=detail&id=47 Kerajinan Batu Satam].</ref> Di [[Desa Buding]], Kecamatan [[Kelapa Kampit]].<ref>Bogor Kita. [http://www.bogor-kita.com/berita/hot-topic/3483-batu-satam-penolak-bala.html Batu Satam Penolak Bala].</ref> Batu ini ditemukan secara tidak sengaja oleh penambang timah beretnis [[China]] dalam penambangan timah dengan kedalaman 50 meter.<ref>Pulau Belitung. [http://pulaubelitung.com/2013/12/batu-meteor-satam-belitung/ Batu Meteor Satam Belitung].</ref> Menurut Sejarah, penamaan Baru Satam ini didasari dua suku kata, yaitu Sa dan Tam yg berasal dari bahasa china suku Khek yg ada di Belitung.<ref>Pulau Belitung. [http://pulaubelitung.com/2013/12/batu-meteor-satam-belitung/ Batu Meteor Satam Belitung].</ref> Jika diartikan secara harfiah, Sa berarti [[pasir]] dan Tam berarti [[empedu]]. Sehingga Satam memiliki arti empedu pasir.<ref>Pulau Belitung. [http://pulaubelitung.com/2013/12/batu-meteor-satam-belitung/ Batu Meteor Satam Belitung].</ref> | ||
Batu Satam memiliki beberapa nama yakni '''Tektite''' dan '''Billitonite'''. Istilah Tektite digunakan oleh para ilmuan yang meneliti Batu Satam, sedangkan istilah Billitonite digunakan oleh seorang peneliti dari Belanda bernama Ir. N. [[Wing Easton]] yang melakukan penelitian terhadap Batu Satam pada tahun 1922. Batu satam sudah diuji oleh Fakultas MIPA [[Universitas Padjajaran]] dan [[Laboratorium Kimia Mineral dan Lingkungan]]. Menurut penelitian ilmiah, sekitar 700 ribu tahun lalu sebuah meteor jatuh ke bumi Indonesia. Meteor inlah yang kemudian menjadi cikal bakal Batu Satam. | Batu Satam memiliki beberapa nama yakni '''Tektite''' dan '''Billitonite'''.<ref>Direktorat Jendral Pemberdayaan Masyarakat dan Desa. [http://www.pemetaanttg.com/?op=ttg&mode=detail&id=47 Kerajinan Batu Satam].</ref> Istilah Tektite digunakan oleh para ilmuan yang meneliti Batu Satam, sedangkan istilah Billitonite digunakan oleh seorang peneliti dari Belanda bernama Ir. N. [[Wing Easton]] yang melakukan penelitian terhadap Batu Satam pada tahun 1922.<ref>Direktorat Jendral Pemberdayaan Masyarakat dan Desa. [http://www.pemetaanttg.com/?op=ttg&mode=detail&id=47 Kerajinan Batu Satam].</ref> Batu satam sudah diuji oleh Fakultas MIPA [[Universitas Padjajaran]] dan [[Laboratorium Kimia Mineral dan Lingkungan]].<ref>Direktorat Jendral Pemberdayaan Masyarakat dan Desa. [http://www.pemetaanttg.com/?op=ttg&mode=detail&id=47 Kerajinan Batu Satam].</ref> Menurut penelitian ilmiah, sekitar 700 ribu tahun lalu sebuah meteor jatuh ke bumi Indonesia.<ref>Direktorat Jendral Pemberdayaan Masyarakat dan Desa. [http://www.pemetaanttg.com/?op=ttg&mode=detail&id=47 Kerajinan Batu Satam].</ref> Meteor inlah yang kemudian menjadi cikal bakal Batu Satam.<ref>Direktorat Jendral Pemberdayaan Masyarakat dan Desa. [http://www.pemetaanttg.com/?op=ttg&mode=detail&id=47 Kerajinan Batu Satam].</ref> | ||
== Proses pembentukan == | == Proses pembentukan == | ||
Sekitar 780.000 tahun yang lalu sebuah [[asteroid]] yang besar menabrak bumi di [[Laut Cina Selatan]] (kemungkinan di Teluk Tonkin). Asteroid ini bergerak dari [[barat laut]] ke [[tenggara]] dan menabrak [[bumi]] dengan sudut tabrakan yang kecil. Pada tahap awal dari tabrakan, [[energi kinetis]] dari asteroid yang menabrak bumi ini melelehkan dan menghantarkan momentum kepada lapisan atas dari batuan di permukaan bumi (seperti pasir dan lumpur) di daerah tabrakan. Lapisan yang meleleh, terdiri dari batuan yang mencair, meninggalkan [[atmosfer]] bumi dan pecah menjadi batu semi cair berbentuk bulatan-bulatan kecil ([[globules]]) yang bernama '''tektite'''. Globules ini membentuk bola, [[dumbbells]] atau air mata, tergantung pada kecepatan [[rotasi]] yang terjadi saat pembentukan batu [[tektites]] atau batu satam itu. Batu Satam yang berbentuk bola, dumbbells dan air mata mendingin dengan cepat, begitu cepat sehingga mereka membentuk kaca (sama dengan kaca, tetapi tidak murni, seperti di botol anggur atau bir modern). Sekitar lima hingga enam menit setelah tabrakan dengan asteroid terjadi, bola yang sekarang telah membeku dan menjadi solid mulai masuk kembali ke atmosfer bumi dan jatuh di Belitung. Karena Batu Satam itu memasuki kembali atmosfer bumi dengan kecepatan tinggi, gaya gesekan yang dialaminya memanaskan bagian depan dari batu ini. Bila kaca dipanaskan dengan tidak merata (perbedaan [[Suhu|temperatur]] yang besar antara bagian depan dan belakangnya), ia akan pecah. Seperti menuangkan air mendidih kedalam gelas minum. Bagian depan dari Batu Satam ini akan membentuk pecahan-pecahan kecil. Pecahan ini ditingkatkan juga oleh tekanan yang intens karena perlambatan kecepatan. Kecepatan kosmik yang dibawa oleh momentum Batu Satam ini pada akhirnya akan berkurang dan pecahnya batuan juga akan berkurang. Karena ini Batu Satam akan jatuh ke bumi dengan gravitasi dengan gerakan yang lebih vertikal. Di bumi Batu Satam dibawa oleh air sungai dan mungkin tererosi. Pada akhirnya Batu Satam akan tergabung dengan endapan sediment yang biasanya juga mengandung timah (tererosi dari deposit panas bumi yang terkait dengan [[Intrusi (geologi)|intrusi]] batu [[granit]]). Di dalam tumpukan pasir yang berporositas tinggi, air tawar akan dengan sangat perlahan mengukir Batu Satam tersebut. Retakan setipis kertas (terbentuk karena gelas itu dipanaskan saat memasuki kembali atmosfer bumi) akan diperbesar dan membentuk parit kecil berbentuk U. Perhatikan bahwa parit berbentuk U ini hanya terbentuk di bagian yang terpanaskan, bagian depan dari Batu Satam (Tektite). Bagian belakang dari Batu Satam ini tetap seperti aslinya, berbentuk bola. | Sekitar 780.000 tahun yang lalu sebuah [[asteroid]] yang besar menabrak bumi di [[Laut Cina Selatan]] (kemungkinan di Teluk Tonkin).<ref>Tektites. [http://www.tektites.co.uk/billitonites.html Billitonite / Satam Stone Formation].</ref> Asteroid ini bergerak dari [[barat laut]] ke [[tenggara]] dan menabrak [[bumi]] dengan sudut tabrakan yang kecil.<ref>Tektites. [http://www.tektites.co.uk/billitonites.html Billitonite / Satam Stone Formation].</ref> Pada tahap awal dari tabrakan, [[energi kinetis]] dari asteroid yang menabrak bumi ini melelehkan dan menghantarkan momentum kepada lapisan atas dari batuan di permukaan bumi (seperti pasir dan lumpur) di daerah tabrakan.<ref>Tektites. [http://www.tektites.co.uk/billitonites.html Billitonite / Satam Stone Formation].</ref> Lapisan yang meleleh, terdiri dari batuan yang mencair, meninggalkan [[atmosfer]] bumi dan pecah menjadi batu semi cair berbentuk bulatan-bulatan kecil ([[globules]]) yang bernama '''tektite'''. Globules ini membentuk bola, [[dumbbells]] atau air mata, tergantung pada kecepatan [[rotasi]] yang terjadi saat pembentukan batu [[tektites]] atau batu satam itu.<ref>Tektites. [http://www.tektites.co.uk/billitonites.html Billitonite / Satam Stone Formation].</ref> Batu Satam yang berbentuk bola, dumbbells dan air mata mendingin dengan cepat, begitu cepat sehingga mereka membentuk kaca (sama dengan kaca, tetapi tidak murni, seperti di botol anggur atau bir modern).<ref>Tektites. [http://www.tektites.co.uk/billitonites.html Billitonite / Satam Stone Formation].</ref> Sekitar lima hingga enam menit setelah tabrakan dengan asteroid terjadi, bola yang sekarang telah membeku dan menjadi solid mulai masuk kembali ke atmosfer bumi dan jatuh di Belitung.<ref>Tektites. [http://www.tektites.co.uk/billitonites.html Billitonite / Satam Stone Formation].</ref> Karena Batu Satam itu memasuki kembali atmosfer bumi dengan kecepatan tinggi, gaya gesekan yang dialaminya memanaskan bagian depan dari batu ini.<ref>Tektites. [http://www.tektites.co.uk/billitonites.html Billitonite / Satam Stone Formation].</ref> Bila kaca dipanaskan dengan tidak merata (perbedaan [[Suhu|temperatur]] yang besar antara bagian depan dan belakangnya), ia akan pecah.<ref>Tektites. [http://www.tektites.co.uk/billitonites.html Billitonite / Satam Stone Formation].</ref> Seperti menuangkan air mendidih kedalam gelas minum.<ref>Tektites. [http://www.tektites.co.uk/billitonites.html Billitonite / Satam Stone Formation].</ref> Bagian depan dari Batu Satam ini akan membentuk pecahan-pecahan kecil.<ref>Tektites. [http://www.tektites.co.uk/billitonites.html Billitonite / Satam Stone Formation].</ref> Pecahan ini ditingkatkan juga oleh tekanan yang intens karena perlambatan kecepatan.<ref>Tektites. [http://www.tektites.co.uk/billitonites.html Billitonite / Satam Stone Formation].</ref> Kecepatan kosmik yang dibawa oleh momentum Batu Satam ini pada akhirnya akan berkurang dan pecahnya batuan juga akan berkurang.<ref>Tektites. [http://www.tektites.co.uk/billitonites.html Billitonite / Satam Stone Formation].</ref> Karena ini Batu Satam akan jatuh ke bumi dengan gravitasi dengan gerakan yang lebih vertikal.<ref>Tektites. [http://www.tektites.co.uk/billitonites.html Billitonite / Satam Stone Formation].</ref> Di bumi Batu Satam dibawa oleh air sungai dan mungkin tererosi.<ref>Tektites. [http://www.tektites.co.uk/billitonites.html Billitonite / Satam Stone Formation].</ref> Pada akhirnya Batu Satam akan tergabung dengan endapan sediment yang biasanya juga mengandung timah (tererosi dari deposit panas bumi yang terkait dengan [[Intrusi (geologi)|intrusi]] batu [[granit]]).<ref>Tektites. [http://www.tektites.co.uk/billitonites.html Billitonite / Satam Stone Formation].</ref> Di dalam tumpukan pasir yang berporositas tinggi, air tawar akan dengan sangat perlahan mengukir Batu Satam tersebut.<ref>Tektites. [http://www.tektites.co.uk/billitonites.html Billitonite / Satam Stone Formation].</ref> Retakan setipis kertas (terbentuk karena gelas itu dipanaskan saat memasuki kembali atmosfer bumi) akan diperbesar dan membentuk parit kecil berbentuk U.<ref>Tektites. [http://www.tektites.co.uk/billitonites.html Billitonite / Satam Stone Formation].</ref> Perhatikan bahwa parit berbentuk U ini hanya terbentuk di bagian yang terpanaskan, bagian depan dari Batu Satam (Tektite).<ref>Tektites. [http://www.tektites.co.uk/billitonites.html Billitonite / Satam Stone Formation].</ref> Bagian belakang dari Batu Satam ini tetap seperti aslinya, berbentuk bola.<ref>Tektites. [http://www.tektites.co.uk/billitonites.html Billitonite / Satam Stone Formation].</ref> | ||
== Ciri khas == | == Ciri khas == | ||
Batu Satam memiliki ciri-ciri berbentuk fisik bulat,lonjong,dan ada pula yang berbentuk tak beraturan atau dalam bentuk sudah pecah atau terbelah yang sering di sebut dengan [[suiseki]]. Ciri khas batu ini adalah pada permukaan batu memiliki goretan yang terukir secara alami,tergesek melalui arus air di bawah tanah pada lapisan tanah dengan kedalaman kurang lebih 50 meter. | Batu Satam memiliki ciri-ciri berbentuk fisik bulat,lonjong,dan ada pula yang berbentuk tak beraturan atau dalam bentuk sudah pecah atau terbelah yang sering di sebut dengan [[suiseki]].<ref>Pulau Belitung. [http://pulaubelitung.com/2013/12/batu-meteor-satam-belitung/ Batu Meteor Satam Belitung].</ref> Ciri khas batu ini adalah pada permukaan batu memiliki goretan yang terukir secara alami,tergesek melalui arus air di bawah tanah pada lapisan tanah dengan kedalaman kurang lebih 50 meter.<ref>Pulau Belitung. [http://pulaubelitung.com/2013/12/batu-meteor-satam-belitung/ Batu Meteor Satam Belitung].</ref> | ||
== Manfaat == | == Manfaat == | ||
Batu satam menjadi kebanggan Pulau [[Belitung]]. Kini, produksi Batu Satam digunakan sebagai cindera mata khas pulau Belitung, seperti, perhiasan terutama untuk dipakai wanita berupa [[cincin]], [[giwang]], atau [[liontin]]. Dalam kreasi yang beragam bisa juga dibuat tongkat yang bermata batu satam, cincin pria, dan sebagainya. | Batu satam menjadi kebanggan Pulau [[Belitung]].<ref>Bogor Kita. [http://www.bogor-kita.com/berita/hot-topic/3483-batu-satam-penolak-bala.html Batu Satam Penolak Bala].</ref> Kini, produksi Batu Satam digunakan sebagai cindera mata khas pulau Belitung, seperti, perhiasan terutama untuk dipakai wanita berupa [[cincin]], [[giwang]], atau [[liontin]].<ref>Bogor Kita. [http://www.bogor-kita.com/berita/hot-topic/3483-batu-satam-penolak-bala.html Batu Satam Penolak Bala].</ref> Dalam kreasi yang beragam bisa juga dibuat tongkat yang bermata batu satam, cincin pria, dan sebagainya.<ref>Bogor Kita. [http://www.bogor-kita.com/berita/hot-topic/3483-batu-satam-penolak-bala.html Batu Satam Penolak Bala].</ref> | ||
Selain sebagai [[cindera mata]], beberapa orang memercayai bahwa batu satam memiliki kekuatan tersendiri, yaitu sebagai penangkal [[racun]], penolak [[jin]], dan [[setan]]. | Selain sebagai [[cindera mata]], beberapa orang memercayai bahwa batu satam memiliki kekuatan tersendiri, yaitu sebagai penangkal [[racun]], penolak [[jin]], dan [[setan]].<ref>Bogor Kita. [http://www.bogor-kita.com/berita/hot-topic/3483-batu-satam-penolak-bala.html Batu Satam Penolak Bala].</ref> | ||
== Referensi == | == Referensi == | ||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Batu+Satam&oldid=28195988 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28195988 (2025-10-28T03:52:19Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | |||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 28 Agustus 2026 03.59
Batu Satam adalah batuan khas Indonesia yang ditemukan di pulau Belitung, Provinsi Bangka Belitung.[1] Batu ini berwarna hitam dan memiliki urat-urat yang khas.[2] Batu Satam termasuk kedalam batuan langka.[3] Batu ini terbentuk dari hasil proses alam atas reaksi tabrakan meteor dengan lapisan bumi yang mengandung timah tinggi jutaan tahun lalu.[4] Serpihan batu meteor itu tersebar keseluruh pelosok dunia seperti Australia, Cekoslovakia, Arab, dan di Indonesia tepatnya di pulau Belitung.[5] Saat jatuh diatas tanah pulau Belitung, meteor ini bereaksi dengan kandungan timah yang sangat banyak yang terdapat dipulau Belitung, sehingga membentuk batu hitam yang kemudian dinamakan Batu Satam. Karena proses inilah Batu Satam hanya terdapat di Indonesia dan menjadi batuan langka yang diburu para kolektor batu diseluruh dunia.[6] Di Belitung sendiri batu satam ini di jadikan sebagai ikon dari ibu kota Belitung yaitu Tanjung Pandan.[7]
Latar Belakang
Batu Satam pertama kali ditemukan di Pulau Belitung pada tahun 1973.[8] Di Desa Buding, Kecamatan Kelapa Kampit.[9] Batu ini ditemukan secara tidak sengaja oleh penambang timah beretnis China dalam penambangan timah dengan kedalaman 50 meter.[10] Menurut Sejarah, penamaan Baru Satam ini didasari dua suku kata, yaitu Sa dan Tam yg berasal dari bahasa china suku Khek yg ada di Belitung.[11] Jika diartikan secara harfiah, Sa berarti pasir dan Tam berarti empedu. Sehingga Satam memiliki arti empedu pasir.[12] Batu Satam memiliki beberapa nama yakni Tektite dan Billitonite.[13] Istilah Tektite digunakan oleh para ilmuan yang meneliti Batu Satam, sedangkan istilah Billitonite digunakan oleh seorang peneliti dari Belanda bernama Ir. N. Wing Easton yang melakukan penelitian terhadap Batu Satam pada tahun 1922.[14] Batu satam sudah diuji oleh Fakultas MIPA Universitas Padjajaran dan Laboratorium Kimia Mineral dan Lingkungan.[15] Menurut penelitian ilmiah, sekitar 700 ribu tahun lalu sebuah meteor jatuh ke bumi Indonesia.[16] Meteor inlah yang kemudian menjadi cikal bakal Batu Satam.[17]
Proses pembentukan
Sekitar 780.000 tahun yang lalu sebuah asteroid yang besar menabrak bumi di Laut Cina Selatan (kemungkinan di Teluk Tonkin).[18] Asteroid ini bergerak dari barat laut ke tenggara dan menabrak bumi dengan sudut tabrakan yang kecil.[19] Pada tahap awal dari tabrakan, energi kinetis dari asteroid yang menabrak bumi ini melelehkan dan menghantarkan momentum kepada lapisan atas dari batuan di permukaan bumi (seperti pasir dan lumpur) di daerah tabrakan.[20] Lapisan yang meleleh, terdiri dari batuan yang mencair, meninggalkan atmosfer bumi dan pecah menjadi batu semi cair berbentuk bulatan-bulatan kecil (globules) yang bernama tektite. Globules ini membentuk bola, dumbbells atau air mata, tergantung pada kecepatan rotasi yang terjadi saat pembentukan batu tektites atau batu satam itu.[21] Batu Satam yang berbentuk bola, dumbbells dan air mata mendingin dengan cepat, begitu cepat sehingga mereka membentuk kaca (sama dengan kaca, tetapi tidak murni, seperti di botol anggur atau bir modern).[22] Sekitar lima hingga enam menit setelah tabrakan dengan asteroid terjadi, bola yang sekarang telah membeku dan menjadi solid mulai masuk kembali ke atmosfer bumi dan jatuh di Belitung.[23] Karena Batu Satam itu memasuki kembali atmosfer bumi dengan kecepatan tinggi, gaya gesekan yang dialaminya memanaskan bagian depan dari batu ini.[24] Bila kaca dipanaskan dengan tidak merata (perbedaan temperatur yang besar antara bagian depan dan belakangnya), ia akan pecah.[25] Seperti menuangkan air mendidih kedalam gelas minum.[26] Bagian depan dari Batu Satam ini akan membentuk pecahan-pecahan kecil.[27] Pecahan ini ditingkatkan juga oleh tekanan yang intens karena perlambatan kecepatan.[28] Kecepatan kosmik yang dibawa oleh momentum Batu Satam ini pada akhirnya akan berkurang dan pecahnya batuan juga akan berkurang.[29] Karena ini Batu Satam akan jatuh ke bumi dengan gravitasi dengan gerakan yang lebih vertikal.[30] Di bumi Batu Satam dibawa oleh air sungai dan mungkin tererosi.[31] Pada akhirnya Batu Satam akan tergabung dengan endapan sediment yang biasanya juga mengandung timah (tererosi dari deposit panas bumi yang terkait dengan intrusi batu granit).[32] Di dalam tumpukan pasir yang berporositas tinggi, air tawar akan dengan sangat perlahan mengukir Batu Satam tersebut.[33] Retakan setipis kertas (terbentuk karena gelas itu dipanaskan saat memasuki kembali atmosfer bumi) akan diperbesar dan membentuk parit kecil berbentuk U.[34] Perhatikan bahwa parit berbentuk U ini hanya terbentuk di bagian yang terpanaskan, bagian depan dari Batu Satam (Tektite).[35] Bagian belakang dari Batu Satam ini tetap seperti aslinya, berbentuk bola.[36]
Ciri khas
Batu Satam memiliki ciri-ciri berbentuk fisik bulat,lonjong,dan ada pula yang berbentuk tak beraturan atau dalam bentuk sudah pecah atau terbelah yang sering di sebut dengan suiseki.[37] Ciri khas batu ini adalah pada permukaan batu memiliki goretan yang terukir secara alami,tergesek melalui arus air di bawah tanah pada lapisan tanah dengan kedalaman kurang lebih 50 meter.[38]
Manfaat
Batu satam menjadi kebanggan Pulau Belitung.[39] Kini, produksi Batu Satam digunakan sebagai cindera mata khas pulau Belitung, seperti, perhiasan terutama untuk dipakai wanita berupa cincin, giwang, atau liontin.[40] Dalam kreasi yang beragam bisa juga dibuat tongkat yang bermata batu satam, cincin pria, dan sebagainya.[41] Selain sebagai cindera mata, beberapa orang memercayai bahwa batu satam memiliki kekuatan tersendiri, yaitu sebagai penangkal racun, penolak jin, dan setan.[42]
Referensi
- ↑ Berita Unik. Batu Satam, Batu Berumur Jutaan Tahun yang Hanya Ada di Indonesia.
- ↑ Berita Unik. Batu Satam, Batu Berumur Jutaan Tahun yang Hanya Ada di Indonesia.
- ↑ Berita Unik. Batu Satam, Batu Berumur Jutaan Tahun yang Hanya Ada di Indonesia.
- ↑ Berita Unik. Batu Satam, Batu Berumur Jutaan Tahun yang Hanya Ada di Indonesia.
- ↑ Bimbingan. Kekuatan Batu Meteor yang Bernama Satam.
- ↑ Bimbingan. Kekuatan Batu Meteor yang Bernama Satam.
- ↑ Matari Mulyani. Satam, Batu Unik Berusia Ratusan Tahun.
- ↑ Direktorat Jendral Pemberdayaan Masyarakat dan Desa. Kerajinan Batu Satam.
- ↑ Bogor Kita. Batu Satam Penolak Bala.
- ↑ Pulau Belitung. Batu Meteor Satam Belitung.
- ↑ Pulau Belitung. Batu Meteor Satam Belitung.
- ↑ Pulau Belitung. Batu Meteor Satam Belitung.
- ↑ Direktorat Jendral Pemberdayaan Masyarakat dan Desa. Kerajinan Batu Satam.
- ↑ Direktorat Jendral Pemberdayaan Masyarakat dan Desa. Kerajinan Batu Satam.
- ↑ Direktorat Jendral Pemberdayaan Masyarakat dan Desa. Kerajinan Batu Satam.
- ↑ Direktorat Jendral Pemberdayaan Masyarakat dan Desa. Kerajinan Batu Satam.
- ↑ Direktorat Jendral Pemberdayaan Masyarakat dan Desa. Kerajinan Batu Satam.
- ↑ Tektites. Billitonite / Satam Stone Formation.
- ↑ Tektites. Billitonite / Satam Stone Formation.
- ↑ Tektites. Billitonite / Satam Stone Formation.
- ↑ Tektites. Billitonite / Satam Stone Formation.
- ↑ Tektites. Billitonite / Satam Stone Formation.
- ↑ Tektites. Billitonite / Satam Stone Formation.
- ↑ Tektites. Billitonite / Satam Stone Formation.
- ↑ Tektites. Billitonite / Satam Stone Formation.
- ↑ Tektites. Billitonite / Satam Stone Formation.
- ↑ Tektites. Billitonite / Satam Stone Formation.
- ↑ Tektites. Billitonite / Satam Stone Formation.
- ↑ Tektites. Billitonite / Satam Stone Formation.
- ↑ Tektites. Billitonite / Satam Stone Formation.
- ↑ Tektites. Billitonite / Satam Stone Formation.
- ↑ Tektites. Billitonite / Satam Stone Formation.
- ↑ Tektites. Billitonite / Satam Stone Formation.
- ↑ Tektites. Billitonite / Satam Stone Formation.
- ↑ Tektites. Billitonite / Satam Stone Formation.
- ↑ Tektites. Billitonite / Satam Stone Formation.
- ↑ Pulau Belitung. Batu Meteor Satam Belitung.
- ↑ Pulau Belitung. Batu Meteor Satam Belitung.
- ↑ Bogor Kita. Batu Satam Penolak Bala.
- ↑ Bogor Kita. Batu Satam Penolak Bala.
- ↑ Bogor Kita. Batu Satam Penolak Bala.
- ↑ Bogor Kita. Batu Satam Penolak Bala.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28195988 (2025-10-28T03:52:19Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.