Lompat ke isi

Pengapungan: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 27033360; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Pengapungan''' atau '''flotasi''' adalah suatu cara untuk memisahkan campuran [[zat padat]] dengan [[air]] berdasarkan perbedaan [[daya]] pembahasan. Partikel dengan pembahasan lebih besar akan tenggelam (mengendap), sedangkan yang daya pembahasannya kecil akan mengapung sebagai [[busa]]. Agar mengendap dengan baik, ukuran partikel itu harus besar. Sebaliknya agar mengapung dengan baik, partikel harus kecil, tetapi karena zat-zat padat ini sama-sama ditumbuk dalam suatu campuran, harus ditentukan perbandingan susunan yang terbaik. Sumber lain menjelaskan bahwa pengapungan adalah suatu proses ketika zat padat, zat cair atau zat terlarut dibawa ke permukaan larutan dengan memanfaatkan gelembung udara. Zat yang diapungkan menempel pada permukaan gelembung udara, sehingga terangkat ke permukaan larutan yang untuk selanjutnya dapat dipisahkan dari larutan. Proses pengapungan dengan memasukkan udara ke dalam [[air]] akan membentuk partikel-partikel terlarut di dalam air berkumpul membentuk flok-flok, sehingga menyebabkan ukuran partikel-partikel tersebut menjadi lebih besar dan mudah terangkat oleh gelembung-gelembung udara. Terjadinya pengapungan merupakan hasil interaksi antara gelembung-gelembung [[udara]] dengan suatu fase tersebar, ketika kecepatan [[gaya]] dorong ke atas sangat tergantung pada gaya [[gravitasi]] dan sebar (''disperse''). Pengapungan juga dipengaruhi oleh konsentrasi permukaan dari fase tersebar (terdispersi) dan pemakaian bahan [[kimia]] sebagai penurun tegangan antara fase tersebar terhadap media air. Proses pengapungan membutuhkan beberapa bahan: antara lain pembuatan busa, zat pembasah, minyak hidrokarbon untuk melindungi lapisan-lapisan, pengatur pH, Pengaktif (aktivator) dan pengawaaktif (deaktivator) (agar bahan yang satu benar-benar dibasahi, dan bahan yang lain benar-benar tidak dibasahi).
[[File:Flotation_cell.jpg|thumb|right|280px|Flotation cell]]


== Rujukan ==
'''Pengapungan''' atau '''flotasi''' adalah suatu cara untuk memisahkan campuran [[zat padat]] dengan [[air]] berdasarkan perbedaan [[daya]] pembahasan.<ref>Van Hoeve. ''Ensiklopedia Indonesia, Jilid 7''. Ichtiar Baru. hlm. 1018.</ref> Partikel dengan pembahasan lebih besar akan tenggelam (mengendap), sedangkan yang daya pembahasannya kecil akan mengapung sebagai [[busa]].<ref>Van Hoeve. ''Ensiklopedia Indonesia, Jilid 7''. Ichtiar Baru. hlm. 1018.</ref> Agar mengendap dengan baik, ukuran partikel itu harus besar.<ref>Van Hoeve. ''Ensiklopedia Indonesia, Jilid 7''. Ichtiar Baru. hlm. 1018.</ref> Sebaliknya agar mengapung dengan baik, partikel harus kecil, tetapi karena zat-zat padat ini sama-sama ditumbuk dalam suatu campuran, harus ditentukan perbandingan susunan yang terbaik.<ref>Van Hoeve. ''Ensiklopedia Indonesia, Jilid 7''. Ichtiar Baru. hlm. 1018.</ref> Sumber lain menjelaskan bahwa pengapungan adalah suatu proses ketika zat padat, zat cair atau zat terlarut dibawa ke permukaan larutan dengan memanfaatkan gelembung udara.<ref>Satriananda. ''Pengelolahan Air Limbah Domestik Dengan Proses Flotasi Udara Terlarut, Volume 3, Nomor 1''. Lppm Universitas Islam Bandung. 2012. hlm. 242.</ref> Zat yang diapungkan menempel pada permukaan gelembung udara, sehingga terangkat ke permukaan larutan yang untuk selanjutnya dapat dipisahkan dari larutan.<ref>Satriananda. ''Pengelolahan Air Limbah Domestik Dengan Proses Flotasi Udara Terlarut, Volume 3, Nomor 1''. Lppm Universitas Islam Bandung. 2012. hlm. 242.</ref> Proses pengapungan dengan memasukkan udara ke dalam [[air]] akan membentuk partikel-partikel terlarut di dalam air berkumpul membentuk flok-flok, sehingga menyebabkan ukuran partikel-partikel tersebut menjadi lebih besar dan mudah terangkat oleh gelembung-gelembung udara.<ref>Satriananda. ''Pengelolahan Air Limbah Domestik Dengan Proses Flotasi Udara Terlarut, Volume 3, Nomor 1''. Lppm Universitas Islam Bandung. 2012. hlm. 242.</ref> Terjadinya pengapungan merupakan hasil interaksi antara gelembung-gelembung [[udara]] dengan suatu fase tersebar, ketika kecepatan [[gaya]] dorong ke atas sangat tergantung pada gaya [[gravitasi]] dan sebar (''disperse'').<ref>Satriananda. ''Pengelolahan Air Limbah Domestik Dengan Proses Flotasi Udara Terlarut, Volume 3, Nomor 1''. Lppm Universitas Islam Bandung. 2012. hlm. 242.</ref> Pengapungan juga dipengaruhi oleh konsentrasi permukaan dari fase tersebar (terdispersi) dan pemakaian bahan [[kimia]] sebagai penurun tegangan antara fase tersebar terhadap media air.<ref>Satriananda. ''Pengelolahan Air Limbah Domestik Dengan Proses Flotasi Udara Terlarut, Volume 3, Nomor 1''. Lppm Universitas Islam Bandung. 2012. hlm. 242.</ref> Proses pengapungan membutuhkan beberapa bahan: antara lain pembuatan busa, zat pembasah, minyak hidrokarbon untuk melindungi lapisan-lapisan, pengatur pH, Pengaktif (aktivator) dan pengawaaktif (deaktivator) (agar bahan yang satu benar-benar dibasahi, dan bahan yang lain benar-benar tidak dibasahi).<ref>Van Hoeve. ''Ensiklopedia Indonesia, Jilid 7''. Ichtiar Baru. hlm. 1018.</ref>


== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


== Sumber dan atribusi ==
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pengapungan&oldid=27033360 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 27033360 (2025-03-14T23:44:31Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pengapungan&oldid=27033360 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 27033360 (2025-03-14T23:44:31Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 28 Agustus 2026 14.52

Berkas:Flotation cell.jpg
Flotation cell

Pengapungan atau flotasi adalah suatu cara untuk memisahkan campuran zat padat dengan air berdasarkan perbedaan daya pembahasan.[1] Partikel dengan pembahasan lebih besar akan tenggelam (mengendap), sedangkan yang daya pembahasannya kecil akan mengapung sebagai busa.[2] Agar mengendap dengan baik, ukuran partikel itu harus besar.[3] Sebaliknya agar mengapung dengan baik, partikel harus kecil, tetapi karena zat-zat padat ini sama-sama ditumbuk dalam suatu campuran, harus ditentukan perbandingan susunan yang terbaik.[4] Sumber lain menjelaskan bahwa pengapungan adalah suatu proses ketika zat padat, zat cair atau zat terlarut dibawa ke permukaan larutan dengan memanfaatkan gelembung udara.[5] Zat yang diapungkan menempel pada permukaan gelembung udara, sehingga terangkat ke permukaan larutan yang untuk selanjutnya dapat dipisahkan dari larutan.[6] Proses pengapungan dengan memasukkan udara ke dalam air akan membentuk partikel-partikel terlarut di dalam air berkumpul membentuk flok-flok, sehingga menyebabkan ukuran partikel-partikel tersebut menjadi lebih besar dan mudah terangkat oleh gelembung-gelembung udara.[7] Terjadinya pengapungan merupakan hasil interaksi antara gelembung-gelembung udara dengan suatu fase tersebar, ketika kecepatan gaya dorong ke atas sangat tergantung pada gaya gravitasi dan sebar (disperse).[8] Pengapungan juga dipengaruhi oleh konsentrasi permukaan dari fase tersebar (terdispersi) dan pemakaian bahan kimia sebagai penurun tegangan antara fase tersebar terhadap media air.[9] Proses pengapungan membutuhkan beberapa bahan: antara lain pembuatan busa, zat pembasah, minyak hidrokarbon untuk melindungi lapisan-lapisan, pengatur pH, Pengaktif (aktivator) dan pengawaaktif (deaktivator) (agar bahan yang satu benar-benar dibasahi, dan bahan yang lain benar-benar tidak dibasahi).[10]

Referensi

  1. Van Hoeve. Ensiklopedia Indonesia, Jilid 7. Ichtiar Baru. hlm. 1018.
  2. Van Hoeve. Ensiklopedia Indonesia, Jilid 7. Ichtiar Baru. hlm. 1018.
  3. Van Hoeve. Ensiklopedia Indonesia, Jilid 7. Ichtiar Baru. hlm. 1018.
  4. Van Hoeve. Ensiklopedia Indonesia, Jilid 7. Ichtiar Baru. hlm. 1018.
  5. Satriananda. Pengelolahan Air Limbah Domestik Dengan Proses Flotasi Udara Terlarut, Volume 3, Nomor 1. Lppm Universitas Islam Bandung. 2012. hlm. 242.
  6. Satriananda. Pengelolahan Air Limbah Domestik Dengan Proses Flotasi Udara Terlarut, Volume 3, Nomor 1. Lppm Universitas Islam Bandung. 2012. hlm. 242.
  7. Satriananda. Pengelolahan Air Limbah Domestik Dengan Proses Flotasi Udara Terlarut, Volume 3, Nomor 1. Lppm Universitas Islam Bandung. 2012. hlm. 242.
  8. Satriananda. Pengelolahan Air Limbah Domestik Dengan Proses Flotasi Udara Terlarut, Volume 3, Nomor 1. Lppm Universitas Islam Bandung. 2012. hlm. 242.
  9. Satriananda. Pengelolahan Air Limbah Domestik Dengan Proses Flotasi Udara Terlarut, Volume 3, Nomor 1. Lppm Universitas Islam Bandung. 2012. hlm. 242.
  10. Van Hoeve. Ensiklopedia Indonesia, Jilid 7. Ichtiar Baru. hlm. 1018.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 27033360 (2025-03-14T23:44:31Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.