Lompat ke isi

Bunuh diri: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29552914; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Pembersihan konten sesuai kebijakan Wiki Unissula
 
(2 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan)
Baris 1: Baris 1:
'''Bunuh diri''' (sering disingkat sebagai '''bundir''') adalah sebuah tindakan sengaja yang menyebabkan [[kematian]] pada diri sendiri. Bunuh diri sering kali dilakukan akibat putus asa, yang penyebabnya sering kali dikaitkan dengan [[gangguan jiwa]] misalnya [[Depresi (psikologi)|depresi]], [[gangguan bipolar]], [[skizofrenia]], ketergantungan [[alkohol]], atau penyalahgunaan [[obat]]. Faktor-faktor penyebab [[stres]] antara lain kesulitan [[keuangan]] atau [[masalah]] dalam [[hubungan]] [[Komunikasi intrapribadi|intrapribadi]] sering kali ikut berperan. Upaya untuk mencegah bunuh diri antara lain adalah dengan pembatasan akses terhadap [[senjata api]], merawat [[penyakit jiwa]] dan penyalahgunaan [[obat]], serta meningkatkan kondisi [[ekonomi]].
[[File:Edouard_Manet_-_Le_Suicidé.jpg|thumb|right|280px|Edouard Manet - Le Suicidé]]


Terdapat beberapa [[metode]] yang paling sering digunakan untuk bunuh diri di berbagai [[negara]] dan sebagian terkait dengan keberadaan [[metode]] tersebut. [[Metode]] yang umum antara lain: [[gantung diri]], [[racun]] [[serangga]], dan [[senjata api]]. Sekitar 800.000 hingga satu juta orang meninggal karena bunuh diri setiap tahun, sehingga bunuh diri menduduki [[posisi]] ke-10 sebagai penyebab [[kematian]] terbesar di dunia. Angka bunuh diri tercatat lebih banyak dilakukan oleh [[pria]] ketimbang [[wanita]], dengan kemungkinan tiga sampai empat kali lebih besar seorang pria melakukan bunuh diri dibandingkan wanita. Tercatat ada sekitar 10 hingga 20 juta kasus [[percobaan]] bunuh diri yang gagal setiap tahun. [[Percobaan]] bunuh diri semacam ini lebih sering dilakukan [[remaja]] dan [[wanita]].
'''Bunuh diri''' (sering disingkat sebagai '''bundir'''<ref>[https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/ Arti kata bundir]. ''KBBI Daring''.</ref>) adalah sebuah tindakan sengaja yang menyebabkan [[kematian]] pada diri sendiri. Bunuh diri sering kali dilakukan akibat putus asa, yang penyebabnya sering kali dikaitkan dengan [[gangguan jiwa]] misalnya [[Depresi (psikologi)|depresi]], [[gangguan bipolar]], [[skizofrenia]], ketergantungan [[alkohol]], atau penyalahgunaan [[obat]].<ref>Hawton K, van Heeringen K. [https://archive.org/details/sim_the-lancet_april-18-24-2009_373_9672/page/1372 Suicide]. ''Lancet''. 2009. Vol. 373 (9672). hlm. 1372–81. doi:10.1016/S0140-6736(09)60372-X.</ref> Faktor-faktor penyebab [[stres]] antara lain kesulitan [[keuangan]] atau [[masalah]] dalam [[hubungan]] [[Komunikasi intrapribadi|intrapribadi]] sering kali ikut berperan. Upaya untuk mencegah bunuh diri antara lain adalah dengan pembatasan akses terhadap [[senjata api]], merawat [[penyakit jiwa]] dan penyalahgunaan [[obat]], serta meningkatkan kondisi [[ekonomi]].


Cara pandang terhadap bunuh diri selama ini dipengaruhi oleh [[konsep]] [[eksistensi]] yang luas seperti [[agama]], [[kehormatan]], dan [[makna]] [[hidup]]. [[Agama Abrahamik]] secara [[tradisional]] menganggap bunuh diri sebagai perbuatan [[dosa]] karena [[kepercayaan]] bahwa [[kehidupan]] itu suci. Selama era [[samurai]] di [[Jepang]], [[seppuku]] dijunjung tinggi sebagai sarana [[pertobatan]] akibat kegagalan atau sebagai bentuk [[protes]]. [[Sati]], sebuah praktik [[pemakaman]] dalam [[agama]] [[Hindu]] yang mengharuskan [[Janda#Para janda dalam budaya India|janda]] untuk melakukan [[pengorbanan diri|pengorbanan]] diri di atas api pembakaran [[jenazah]] suaminya, baik atas keinginan sendiri maupun didesak oleh [[keluarga]] dan [[masyarakat]].
Terdapat beberapa [[metode]] yang paling sering digunakan untuk bunuh diri di berbagai [[negara]] dan sebagian terkait dengan keberadaan [[metode]] tersebut. [[Metode]] yang umum antara lain: [[gantung diri]], [[racun]] [[serangga]], dan [[senjata api]]. Sekitar 800.000 hingga satu juta orang meninggal karena bunuh diri setiap tahun, sehingga bunuh diri menduduki [[posisi]] ke-10 sebagai penyebab [[kematian]] terbesar di dunia.<ref>Hawton K, van Heeringen K. [https://archive.org/details/sim_the-lancet_april-18-24-2009_373_9672/page/1372 Suicide]. ''Lancet''. 2009. Vol. 373 (9672). hlm. 1372–81. doi:10.1016/S0140-6736(09)60372-X.</ref> Angka bunuh diri tercatat lebih banyak dilakukan oleh [[pria]] ketimbang [[wanita]], dengan kemungkinan tiga sampai empat kali lebih besar seorang pria melakukan bunuh diri dibandingkan wanita.<ref>Marshall B. Clinard, Robert F. Meier. [http://books.google.co.uk/books?id=VB3OezIoI44C&pg=PA169 Sociology of deviant behavior]. Wadsworth Cengage Learning. 2008. hlm. 169. ISBN 978-0-495-81167-1.</ref> Tercatat ada sekitar 10 hingga 20&nbsp;juta kasus [[percobaan]] bunuh diri yang gagal setiap tahun.<ref>Bertolote JM, Fleischmann A. ''Suicide and psychiatric diagnosis: a worldwide perspective''. ''World Psychiatry''. 2002. Vol. 1 (3). hlm. 181–5.</ref> [[Percobaan]] bunuh diri semacam ini lebih sering dilakukan [[remaja]] dan [[wanita]].


Dahulu di kebanyakan [[negara]] [[barat]], bunuh diri maupun [[percobaan]] bunuh diri merupakan tindakan [[kriminal]] yang bisa membuat seseorang dihukum, tetapi sekarang [[hukum]] tersebut sudah tidak berlaku lagi. Namun di kebanyakan [[negara]] [[Islam]], tindakan ini masih dianggap melanggar [[hukum]]. Pada abad ke-20 dan ke-21, bunuh diri dalam bentuk [[pengorbanan diri]] digunakan sebagai sarana [[protes]], dan [[kamikaze]] serta [[bom bunuh diri]] digunakan sebagai [[taktik]] [[militer]] atau [[teroris]]me.
Cara pandang terhadap bunuh diri selama ini dipengaruhi oleh [[konsep]] [[eksistensi]] yang luas seperti [[agama]], [[kehormatan]], dan [[makna]] [[hidup]]. [[Agama Abrahamik]] secara [[tradisional]] menganggap bunuh diri sebagai perbuatan [[dosa]] karena [[kepercayaan]] bahwa [[kehidupan]] itu suci. Selama era [[samurai]] di [[Jepang]], [[seppuku]] dijunjung tinggi sebagai sarana [[pertobatan]] akibat kegagalan atau sebagai bentuk [[protes]]. Bbc.co.uk. 2002-08-07.</ref>


Dahulu di kebanyakan [[negara]] [[barat]], bunuh diri maupun [[percobaan]] bunuh diri merupakan tindakan [[kriminal]] yang bisa membuat seseorang dihukum, tetapi sekarang [[hukum]] tersebut sudah tidak berlaku lagi. Namun di kebanyakan [[negara]] [[Islam]], tindakan ini masih dianggap melanggar [[hukum]]. Pada abad ke-20 dan ke-21, bunuh diri dalam bentuk [[pengorbanan diri]] digunakan sebagai sarana [[protes]], dan [[kamikaze]] serta [[bom bunuh diri]] digunakan sebagai [[taktik]] [[militer]] atau [[teroris]]me.<ref>N Aggarwal. ''Rethinking suicide bombing''. ''Crisis''. 2009. Vol. 30 (2). hlm. 94–7. doi:10.1027/0227-5910.30.2.94.</ref>


== Penjelasan ==
== Penjelasan ==
Bunuh diri, yang juga disebut sebagai bunuh diri berhasil, adalah "tindakan mengambil nyawa diri sendiri". Percobaan bunuh diri atau perilaku bunuh diri yang tidak fatal adalah perbuatan [[melukai diri sendiri]] dengan maksud untuk mengakhiri nyawa seseorang tetapi tidak berakhir dengan kematian. [[Bunuh diri dengan bantuan]] adalah ketika seseorang membantu orang lain mengakhiri nyawanya secara tidak langsung melalui pemberian saran atau sarana sampai kematian terjadi. Bunuh diri semacam ini merupakan kebalikan dari [[euthanasia]] ketika orang lain lebih memiliki peran aktif dalam mendatangkan kematian bagi seseorang. [[Ide bunuh diri]] adalah pemikiran untuk mengakhiri hidup seseorang.
Bunuh diri, yang juga disebut sebagai bunuh diri berhasil, adalah "tindakan mengambil nyawa diri sendiri".<ref>[https://archive.org/details/stedmansmedicald00sted_3 Stedman's medical dictionary]. Lippincott Williams & Wilkins. 2006. ISBN 978-0-7817-3390-8.</ref> Percobaan bunuh diri atau perilaku bunuh diri yang tidak fatal adalah perbuatan [[melukai diri sendiri]] dengan maksud untuk mengakhiri nyawa seseorang tetapi tidak berakhir dengan kematian.<ref>Etienne Krug. [http://books.google.ca/books?id=db9OHpk-TksC&pg=PA185 World Report on Violence and Health (Vol. 1)]. World Health Organization. 2002. hlm. 185. ISBN 978-92-4-154561-7.</ref> [[Bunuh diri dengan bantuan]] adalah ketika seseorang membantu orang lain mengakhiri nyawanya secara tidak langsung melalui pemberian saran atau sarana sampai kematian terjadi.<ref>edited by Thomas P. Gullota. [http://books.google.ca/books?id=Elx37xzO0bsC&pg=PA1112 The encyclopedia of primary prevention and health promotion]. Kluwer Academic/Plenum. 2002. hlm. 1112. ISBN 978-0-306-47296-1.</ref> Bunuh diri semacam ini merupakan kebalikan dari [[euthanasia]] ketika orang lain lebih memiliki peran aktif dalam mendatangkan kematian bagi seseorang.<ref>edited by Thomas P. Gullota. [http://books.google.ca/books?id=Elx37xzO0bsC&pg=PA1112 The encyclopedia of primary prevention and health promotion]. Kluwer Academic/Plenum. 2002. hlm. 1112. ISBN 978-0-306-47296-1.</ref> [[Ide bunuh diri]] adalah pemikiran untuk mengakhiri hidup seseorang.<ref>Etienne Krug. [http://books.google.ca/books?id=db9OHpk-TksC&pg=PA185 World Report on Violence and Health (Vol. 1)]. World Health Organization. 2002. hlm. 185. ISBN 978-92-4-154561-7.</ref>


== Faktor-faktor risiko ==
== Faktor-faktor risiko ==
 
Faktor-faktor yang memengaruhi risiko bunuh diri antara lain [[gangguan jiwa]], [[penyalahgunaan obat]], kondisi psikologis, budaya, kondisi keluarga dan masyarakat, dan genetik.<ref>K Hawton. [https://archive.org/details/sim_the-lancet_june-23-29-2012_379_9834/page/2373 Self-harm and suicide in adolescents]. ''Lancet''. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2373–82. doi:10.1016/S0140-6736(12)60322-5.</ref> [[Gangguan jiwa|Penyakit jiwa]] dan penyalahgunaan zat biasanya saling berkaitan.<ref>L Vijayakumar. ''Substance use and suicide''. ''Current opinion in psychiatry''. 2011 May. Vol. 24 (3). hlm. 197–202. doi:10.1097/YCO.0b013e3283459242.</ref> Faktor risiko lain termasuk pernah melakukan percobaan bunuh diri,<ref>B Chang. ''The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies''. ''Emergency medicine practice''. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.</ref> adanya sarana yang tersedia untuk melakukan tindakan tersebut, peristiwa bunuh diri dalam sejarah keluarga, atau adanya [[luka trauma otak]].<ref>G Simpson. ''Suicidality in people surviving a traumatic brain injury: prevalence, risk factors and implications for clinical management''. ''Brain injury : [BI]''. 2007 Dec. Vol. 21 (13–14). hlm. 1335–51. doi:10.1080/02699050701785542.</ref> Contohnya, angka bunuh diri di keluarga yang memiliki senjata api jumlahnya lebih besar daripada di keluarga yang tidak memilikinya.<ref>M Miller. ''Suicide mortality in the United States: the importance of attending to method in understanding population-level disparities in the burden of suicide''. ''Annual review of public health''. 2012 Apr. Vol. 33. hlm. 393–408. doi:10.1146/annurev-publhealth-031811-124636.</ref> Faktor [[sosial ekonomi]] seperti pengangguran, kemiskinan, [[gelandangan]], dan diskriminasi dapat mendorong pemikiran untuk melakukan bunuh diri.<ref>Qin P, Agerbo E, Mortensen PB. [https://archive.org/details/sim_american-journal-of-psychiatry_2003-04_160_4/page/765 Suicide risk in relation to socioeconomic, demographic, psychiatric, and familial factors: a national register-based study of all suicides in Denmark, 1981–1997]. ''Am J Psychiatry''. 2003. Vol. 160 (4). hlm. 765–72. doi:10.1176/appi.ajp.160.4.765.</ref> Sekitar 15-40% pelaku meninggalkan sebuah [[pesan bunuh diri]].<ref>Richard K. James, Burl E. Gilliland. [http://books.google.ca/books?id=E2sKf-sexZwC&pg=PA215 Crisis intervention strategies]. Brooks/Cole. hlm. 215. ISBN 978-1-111-18677-7.</ref> Faktor genetik sepertinya bertanggung jawab terhadap perilaku bunuh diri sebesar 38% hingga 55%.<ref>DA Brent. [https://archive.org/details/sim_psychiatric-clinics-of-north-america_2008-06_31_2/page/157 Familial transmission of suicidal behavior]. ''The Psychiatric clinics of North America''. 2008 Jun. Vol. 31 (2). hlm. 157–77. doi:10.1016/j.psc.2008.02.001.</ref> [[Veteran perang]] memiliki risiko lebih besar untuk melakukan bunuh diri yang sebagian disebabkan oleh tingginya angka penyakit jiwa dan masalah kesehatan fisik yang terkait [[perang]].<ref>V Rozanov. ''Suicide among war veterans''. ''International journal of environmental research and public health''. 2012 Jul. Vol. 9 (7). hlm. 2504–19. doi:10.3390/ijerph9072504.</ref>
 
Faktor-faktor yang memengaruhi risiko bunuh diri antara lain [[gangguan jiwa]], [[penyalahgunaan obat]], kondisi psikologis, budaya, kondisi keluarga dan masyarakat, dan genetik. [[Gangguan jiwa|Penyakit jiwa]] dan penyalahgunaan zat biasanya saling berkaitan. Faktor risiko lain termasuk pernah melakukan percobaan bunuh diri, adanya sarana yang tersedia untuk melakukan tindakan tersebut, peristiwa bunuh diri dalam sejarah keluarga, atau adanya [[luka trauma otak]]. Contohnya, angka bunuh diri di keluarga yang memiliki senjata api jumlahnya lebih besar daripada di keluarga yang tidak memilikinya. Faktor [[sosial ekonomi]] seperti pengangguran, kemiskinan, [[gelandangan]], dan diskriminasi dapat mendorong pemikiran untuk melakukan bunuh diri. Sekitar 15-40% pelaku meninggalkan sebuah [[pesan bunuh diri]]. Faktor genetik sepertinya bertanggung jawab terhadap perilaku bunuh diri sebesar 38% hingga 55%. [[Veteran perang]] memiliki risiko lebih besar untuk melakukan bunuh diri yang sebagian disebabkan oleh tingginya angka penyakit jiwa dan masalah kesehatan fisik yang terkait [[perang]].


=== Gangguan jiwa ===
=== Gangguan jiwa ===
[[Gangguan jiwa]] sering kali terjadi pada seseorang saat melakukan bunuh diri dengan angka kejadian berkisar antara 27% hingga lebih dari 90%. Orang yang pernah dirawat di rumah sakit jiwa memiliki risiko melakukan tindakan bunuh diri yang berhasil sebesar 8.6% selama hidupnya. Sebagian dari orang yang meninggal karena bunuh diri bisa jadi memiliki [[gangguan depresi mayor]]. Orang yang mengidap gangguan depresi mayor atau salah satu dari [[gangguan keadaan jiwa]] seperti [[gangguan bipolar]] memiliki risiko lebih tinggi, hingga mencapai 20 kali lipat, untuk melakukan bunuh diri. Kondisi lain yang turut terlibat adalah [[skizofrenia]] (14%), [[gangguan kepribadian]] (14%), [[gangguan bipolar]], dan [[gangguan stres pasca-trauma]]. Sekitar 5% pengidap [[skizofrenia]] mati karena bunuh diri. [[Gangguan makan]] juga merupakan kondisi berisiko tinggi lainnya.
[[Gangguan jiwa]] sering kali terjadi pada seseorang saat melakukan bunuh diri dengan angka kejadian berkisar antara 27%<ref>University of Manchester Centre for Mental Health and Risk. [http://www.medicine.manchester.ac.uk/cmhr/centreforsuicideprevention/nci/reports/annual_report_2012.pdf The National Confidential Inquiry into Suicide and Homicide by People with Mental Illness].</ref> hingga lebih dari 90%.<ref>B Chang. ''The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies''. ''Emergency medicine practice''. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.</ref> Orang yang pernah dirawat di rumah sakit jiwa memiliki risiko melakukan tindakan bunuh diri yang berhasil sebesar 8.6% selama hidupnya.<ref>B Chang. ''The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies''. ''Emergency medicine practice''. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.</ref> Sebagian dari orang yang meninggal karena bunuh diri bisa jadi memiliki [[gangguan depresi mayor]]. Orang yang mengidap gangguan depresi mayor atau salah satu dari [[gangguan keadaan jiwa]] seperti [[gangguan bipolar]] memiliki risiko lebih tinggi, hingga mencapai 20 kali lipat, untuk melakukan bunuh diri.<ref>Stan Kutcher, Sonia Chehil. [http://books.google.ca/books?id=fV8_1u0c7l0C&pg=PA31 Suicide Risk Management A Manual for Health Professionals]. John Wiley & Sons. 2012. hlm. 30–33. ISBN 978-1-119-95311-1.</ref> Kondisi lain yang turut terlibat adalah [[skizofrenia]] (14%), [[gangguan kepribadian]] (14%),<ref>JM Bertolote. ''Psychiatric diagnoses and suicide: revisiting the evidence''. ''Crisis''. 2004. Vol. 25 (4). hlm. 147–55.</ref> [[gangguan bipolar]],<ref>Stan Kutcher, Sonia Chehil. [http://books.google.ca/books?id=fV8_1u0c7l0C&pg=PA31 Suicide Risk Management A Manual for Health Professionals]. John Wiley & Sons. 2012. hlm. 30–33. ISBN 978-1-119-95311-1.</ref> dan [[gangguan stres pasca-trauma]].<ref>B Chang. ''The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies''. ''Emergency medicine practice''. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.</ref> Sekitar 5% pengidap [[skizofrenia]] mati karena bunuh diri.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bunuh+diri&oldid=29552914 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> [[Gangguan makan]] juga merupakan kondisi berisiko tinggi lainnya.<ref>Tintinalli, Judith E. ''Emergency Medicine: A Comprehensive Study Guide (Emergency Medicine (Tintinalli))''. McGraw-Hill Companies. 2010. hlm. 1940–1946. ISBN 0-07-148480-9.</ref>


Riwayat percobaan bunuh diri pada masa lalu merupakan alat prediksi terbaik terjadinya tindakan bunuh diri yang akhirnya berhasil. Kira-kira 20% bunuh diri menunjukkan adanya riwayat percobaan pada masa lampau. Lalu, dari sekian yang pernah mencoba melakukan bunuh diri memiliki peluang sebesar 1% untuk melakukan bunuh diri yang berhasil dalam tempo satu tahun kemudian dan lebih dari 5% melakukan bunuh diri setelah 10&nbsp;tahun. Meskipun tindakan [[melukai diri sendiri]] bukan merupakan percobaan bunuh diri, tetapi adanya perilaku suka melukai diri sendiri tersebut meningkatkan risiko bunuh diri.
Riwayat percobaan bunuh diri pada masa lalu merupakan alat prediksi terbaik terjadinya tindakan bunuh diri yang akhirnya berhasil.<ref>B Chang. ''The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies''. ''Emergency medicine practice''. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.</ref> Kira-kira 20% bunuh diri menunjukkan adanya riwayat percobaan pada masa lampau. Lalu, dari sekian yang pernah mencoba melakukan bunuh diri memiliki peluang sebesar 1% untuk melakukan bunuh diri yang berhasil dalam tempo satu tahun kemudian<ref>B Chang. ''The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies''. ''Emergency medicine practice''. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.</ref> dan lebih dari 5% melakukan bunuh diri setelah 10&nbsp;tahun.<ref>Tintinalli, Judith E. ''Emergency Medicine: A Comprehensive Study Guide (Emergency Medicine (Tintinalli))''. McGraw-Hill Companies. 2010. hlm. 1940–1946. ISBN 0-07-148480-9.</ref> Meskipun tindakan [[melukai diri sendiri]] bukan merupakan percobaan bunuh diri, tetapi adanya perilaku suka melukai diri sendiri tersebut meningkatkan risiko bunuh diri.<ref>Whitlock J, Knox KL. ''The relationship between self-injurious behavior and suicide in a young adult population''. ''Arch Pediatr Adolesc Med''. 2007. Vol. 161 (7). hlm. 634–40. doi:10.1001/archpedi.161.7.634.</ref>


Dari kasus bunuh diri yang berhasil, sekitar 80% individu yang melakukannya telah menemui dokter selama setahun sebelum kematian, termasuk 45% di antaranya yang menemui dokter dalam satu bulan sebelum kematian. Sekitar 25–40% orang yang berhasil melakukan bunuh diri pernah menghubungi layanan kesehatan jiwa pada tahun sebelumnya.
Dari kasus bunuh diri yang berhasil, sekitar 80% individu yang melakukannya telah menemui dokter selama setahun sebelum kematian,<ref>J Pirkis. ''Suicide and recency of health care contacts. A systematic review''. ''The British journal of psychiatry : the journal of mental science''. 1998 Dec. Vol. 173. hlm. 462–74.</ref> termasuk 45% di antaranya yang menemui dokter dalam satu bulan sebelum kematian.<ref>JB Luoma. [https://archive.org/details/sim_american-journal-of-psychiatry_2002-06_159_6/page/909 Contact with mental health and primary care providers before suicide: a review of the evidence]. ''The American Journal of Psychiatry''. 2002 Jun. Vol. 159 (6). hlm. 909–16.</ref> Sekitar 25–40% orang yang berhasil melakukan bunuh diri pernah menghubungi layanan kesehatan jiwa pada tahun sebelumnya.<ref>University of Manchester Centre for Mental Health and Risk. [http://www.medicine.manchester.ac.uk/cmhr/centreforsuicideprevention/nci/reports/annual_report_2012.pdf The National Confidential Inquiry into Suicide and Homicide by People with Mental Illness].</ref><ref>J Pirkis. ''Suicide and recency of health care contacts. A systematic review''. ''The British journal of psychiatry : the journal of mental science''. 1998 Dec. Vol. 173. hlm. 462–74.</ref>


=== Penggunaan obat ===
=== Penggunaan obat ===
[[Penyalahgunaan obat]] adalah [[faktor risiko]] bunuh diri paling umum kedua setelah [[depresi mayor]] dan [[gangguan bipolar]].<ref>Jerome D. Levin, Joseph Culkin, Richard S. Perrotto. [http://books.google.com/?id=felzn3Ntd-cC&pg=RA1-PA151 Introduction to chemical dependency counseling]. Jason Aronson. 2001. hlm. 150–152. ISBN 978-0-7657-0289-0.</ref> Baik penyalahgunaan obat kronis maupun [[kecanduan obat|kecanduan akut]] saling berhubungan satu sama lain.<ref>L Vijayakumar. ''Substance use and suicide''. ''Current opinion in psychiatry''. 2011 May. Vol. 24 (3). hlm. 197–202. doi:10.1097/YCO.0b013e3283459242.</ref><ref>Barbara Fadem. [http://books.google.ca/books?id=KB-g-oBfApsC&q=217 Behavioral science in medicine]. Lippincott Williams & Wilkins. 2004. hlm. 217. ISBN 978-0-7817-3669-5.</ref> Bila digabungkan dengan kesedihan diri, misalnya [[kesedihan|ditinggalkan seseorang yang meninggal]], risiko tersebut semakin meningkat.<ref>Barbara Fadem. [http://books.google.ca/books?id=KB-g-oBfApsC&q=217 Behavioral science in medicine]. Lippincott Williams & Wilkins. 2004. hlm. 217. ISBN 978-0-7817-3669-5.</ref> Selain itu, penyalahgunaan obat berkaitan dengan gangguan kesehatan jiwa.<ref>L Vijayakumar. ''Substance use and suicide''. ''Current opinion in psychiatry''. 2011 May. Vol. 24 (3). hlm. 197–202. doi:10.1097/YCO.0b013e3283459242.</ref>


[[Penyalahgunaan obat]] adalah [[faktor risiko]] bunuh diri paling umum kedua setelah [[depresi mayor]] dan [[gangguan bipolar]]. Baik penyalahgunaan obat kronis maupun [[kecanduan obat|kecanduan akut]] saling berhubungan satu sama lain. Bila digabungkan dengan kesedihan diri, misalnya [[kesedihan|ditinggalkan seseorang yang meninggal]], risiko tersebut semakin meningkat. Selain itu, penyalahgunaan obat berkaitan dengan gangguan kesehatan jiwa.
Saat melakukan bunuh diri, kebanyakan orang berada dalam pengaruh [[sedatif|obat sedatif-hipnotik]] (misalnya alkohol atau benzodiazepine)<ref>Youssef NA, Rich CL. ''Does acute treatment with sedatives/hypnotics for anxiety in depressed patients affect suicide risk? A literature review''. ''Ann Clin Psychiatry''. 2008. Vol. 20 (3). hlm. 157–69. doi:10.1080/10401230802177698.</ref> dengan adanya alkoholisme pada sekitar 15% sampai 61% kasus.<ref>L Vijayakumar. ''Substance use and suicide''. ''Current opinion in psychiatry''. 2011 May. Vol. 24 (3). hlm. 197–202. doi:10.1097/YCO.0b013e3283459242.</ref> Negara-negara dengan angka penggunaan alkohol tinggi dan memiliki jumlah bar lebih banyak secara umum juga memiliki risiko terjadinya bunuh diri lebih tinggi<ref>L Sher. ''Alcohol consumption and suicide''. ''QJM : monthly journal of the Association of Physicians''. 2006 Jan. Vol. 99 (1). hlm. 57–61. doi:10.1093/qjmed/hci146.</ref> yang keterkaitannya terutama berhubungan dengan penggunaan [[minuman beralkohol hasil distilasi]] ketimbang jumlah total alkohol yang digunakan.<ref>L Vijayakumar. ''Substance use and suicide''. ''Current opinion in psychiatry''. 2011 May. Vol. 24 (3). hlm. 197–202. doi:10.1097/YCO.0b013e3283459242.</ref> Sekitar 2.2–3.4% dari mereka yang pernah dirawat karena menderita alkoholisme pada suatu waktu dalam kehidupan mereka meninggal dengan cara bunuh diri.<ref>L Sher. ''Alcohol consumption and suicide''. ''QJM : monthly journal of the Association of Physicians''. 2006 Jan. Vol. 99 (1). hlm. 57–61. doi:10.1093/qjmed/hci146.</ref> Pecandu alkohol yang melakukan percobaan bunuh diri biasanya pria, dalam usia tua, dan pernah melakukan percobaan bunuh diri pada masa lampau.<ref>L Vijayakumar. ''Substance use and suicide''. ''Current opinion in psychiatry''. 2011 May. Vol. 24 (3). hlm. 197–202. doi:10.1097/YCO.0b013e3283459242.</ref> Antara 3 hingga 35% kematian pada kelompok pemakai heroin diakibatkan oleh bunuh diri (kira-kira 14 kali lipat lebih besar dibandingkan kelompok yang tidak memakai heroin).<ref>Darke S, Ross J. [http://onlinelibrary.wiley.com/resolve/openurl?genre=article&sid=nlm:pubmed&issn=0965-2140&date=2002&volume=97&issue=11&spage=1383 Suicide among heroin users: rates, risk factors and methods]. ''Addiction''. 2002. Vol. 97 (11). hlm. 1383–94. doi:10.1046/j.1360-0443.2002.00214.x.</ref>


Saat melakukan bunuh diri, kebanyakan orang berada dalam pengaruh [[sedatif|obat sedatif-hipnotik]] (misalnya alkohol atau benzodiazepine) dengan adanya alkoholisme pada sekitar 15% sampai 61% kasus. Negara-negara dengan angka penggunaan alkohol tinggi dan memiliki jumlah bar lebih banyak secara umum juga memiliki risiko terjadinya bunuh diri lebih tinggi yang keterkaitannya terutama berhubungan dengan penggunaan [[minuman beralkohol hasil distilasi]] ketimbang jumlah total alkohol yang digunakan. Sekitar 2.2–3.4% dari mereka yang pernah dirawat karena menderita alkoholisme pada suatu waktu dalam kehidupan mereka meninggal dengan cara bunuh diri. Pecandu alkohol yang melakukan percobaan bunuh diri biasanya pria, dalam usia tua, dan pernah melakukan percobaan bunuh diri pada masa lampau. Antara 3 hingga 35% kematian pada kelompok pemakai heroin diakibatkan oleh bunuh diri (kira-kira 14 kali lipat lebih besar dibandingkan kelompok yang tidak memakai heroin).
Penyalahgunaan [[kokain]] dan [[methamphetamine]] memiliki korelasi besar terhadap bunuh diri.<ref>L Vijayakumar. ''Substance use and suicide''. ''Current opinion in psychiatry''. 2011 May. Vol. 24 (3). hlm. 197–202. doi:10.1097/YCO.0b013e3283459242.</ref><ref>S Darke. ''Major physical and psychological harms of methamphetamine use''. ''Drug and alcohol review''. 2008 May. Vol. 27 (3). hlm. 253–62. doi:10.1080/09595230801923702.</ref> Mereka yang menggunakan kokain memiliki risiko terbesar saat berada dalam fase sakaw.<ref>Frank J. Ayd, Jr. [http://books.google.ca/books?id=ea_QVG2BFy8C&q=256 Lexicon of psychiatry, neurology, and the neurosciences]. Lippincott Williams & Wilkins. 2000. hlm. 256. ISBN 978-0-7817-2468-5.</ref> Mereka yang menggunakan [[penyalahgunaan inhalansia|inhalansia]] juga memiliki risiko besar dengan sekitar 20% di antaranya mencoba melakukan bunuh diri pada suatu waktu dan lebih dari 65% pernah berpikir untuk melakukannya.<ref>L Vijayakumar. ''Substance use and suicide''. ''Current opinion in psychiatry''. 2011 May. Vol. 24 (3). hlm. 197–202. doi:10.1097/YCO.0b013e3283459242.</ref> [[Merokok tembakau|Merokok]] memiliki keterkaitan dengan risiko bunuh diri.<ref>JR Hughes. [https://archive.org/details/sim_drug-and-alcohol-dependence_2008-12-01_98_3/page/n4 Smoking and suicide: a brief overview]. ''Drug and alcohol dependence''. 2008 Dec 1. Vol. 98 (3). hlm. 169–78. doi:10.1016/j.drugalcdep.2008.06.003.</ref> Tidak ada bukti yang cukup kuat mengapa ada keterkaitan tersebut; tetapi hipotesis menyatakan bahwa mereka yang memiliki kecenderungan merokok juga memiliki kecenderungan untuk melakukan bunuh diri, bahwa merokok menyebabkan masalah kesehatan sehingga mendorong seseorang untuk mengakhiri hidupnya, dan bahwa merokok memengaruhi kimia otak hingga menyebabkan kecenderungan bunuh diri.<ref>JR Hughes. [https://archive.org/details/sim_drug-and-alcohol-dependence_2008-12-01_98_3/page/n4 Smoking and suicide: a brief overview]. ''Drug and alcohol dependence''. 2008 Dec 1. Vol. 98 (3). hlm. 169–78. doi:10.1016/j.drugalcdep.2008.06.003.</ref> Meski demikian, [[Ganja/Cannabis]] sepertinya tidak secara tunggal menyebabkan peningkatan risiko.<ref>L Vijayakumar. ''Substance use and suicide''. ''Current opinion in psychiatry''. 2011 May. Vol. 24 (3). hlm. 197–202. doi:10.1097/YCO.0b013e3283459242.</ref>
 
Penyalahgunaan [[kokain]] dan [[methamphetamine]] memiliki korelasi besar terhadap bunuh diri. Mereka yang menggunakan kokain memiliki risiko terbesar saat berada dalam fase sakaw. Mereka yang menggunakan [[penyalahgunaan inhalansia|inhalansia]] juga memiliki risiko besar dengan sekitar 20% di antaranya mencoba melakukan bunuh diri pada suatu waktu dan lebih dari 65% pernah berpikir untuk melakukannya. [[Merokok tembakau|Merokok]] memiliki keterkaitan dengan risiko bunuh diri. Tidak ada bukti yang cukup kuat mengapa ada keterkaitan tersebut; tetapi hipotesis menyatakan bahwa mereka yang memiliki kecenderungan merokok juga memiliki kecenderungan untuk melakukan bunuh diri, bahwa merokok menyebabkan masalah kesehatan sehingga mendorong seseorang untuk mengakhiri hidupnya, dan bahwa merokok memengaruhi kimia otak hingga menyebabkan kecenderungan bunuh diri. Meski demikian, [[Ganja/Cannabis]] sepertinya tidak secara tunggal menyebabkan peningkatan risiko.


=== Masalah perjudian ===
=== Masalah perjudian ===
[[Masalah perjudian]] pada seseorang dikaitkan dengan meningkatnya [[keinginan bunuh diri]] dan upaya-upaya melakukan tindak bunuh diri dibandingkan dengan populasi umum. Antara 12 dan 24% pejudi patologis berusaha bunuh diri. Angka bunuh diri di kalangan istri-istri mereka tiga kali lebih besar daripada populasi umum. Faktor lain yang meningkatkan risiko pada mereka dengan masalah perjudian meliputi penyakit mental, alkohol dan penyalahgunaan narkoba.
[[Masalah perjudian]] pada seseorang dikaitkan dengan meningkatnya [[keinginan bunuh diri]] dan upaya-upaya melakukan tindak bunuh diri dibandingkan dengan populasi umum.<ref>Stefano Pallanti. [http://books.google.com/books?id=u2wVP8KJJtcC&pg=PA253 Clinical manual of impulse-control disorders]. American Psychiatric Pub. 2006. hlm. 253. ISBN 978-1-58562-136-1.</ref> Antara 12 dan 24% pejudi patologis berusaha bunuh diri.<ref>MP Oliveira. ''[Pathological gambling and its consequences for public health]''. ''Revista de saude publica''. 2008 Jun. Vol. 42 (3). hlm. 542–9.</ref> Angka bunuh diri di kalangan istri-istri mereka tiga kali lebih besar daripada populasi umum.<ref>MP Oliveira. ''[Pathological gambling and its consequences for public health]''. ''Revista de saude publica''. 2008 Jun. Vol. 42 (3). hlm. 542–9.</ref> Faktor lain yang meningkatkan risiko pada mereka dengan masalah perjudian meliputi penyakit mental, alkohol dan penyalahgunaan narkoba.<ref>M Hansen. ''[Gambling and suicidal behaviour]''. ''Tidsskrift for den Norske laegeforening : tidsskrift for praktisk medicin, ny raekke''. 2008 Jan 17. Vol. 128 (2). hlm. 174–6.</ref>


=== Kondisi Medis ===
=== Kondisi Medis ===
Terdapat hubungan antara bunuh diri dan masalah kesehatan fisik, mencakup: [[sakit kronis]], [[cedera otak traumatis]], kanker, mereka yang menjalani [[hemodialisis]], [[HIV]], [[lupus eritematosus sistemik]], dan beberapa lainnya. Diagnosis kanker membuat risiko bunuh diri menjadi kira-kira dua kali lipat. Angka kejadian bunuh diri yang meningkat tetap tinggi setelah disesuaikan dengan penyakit depresi dan penyalahgunaan alkohol. Pada orang yang memiliki lebih dari satu kondisi medis, risiko tersebut sangat tinggi. Di Jepang, masalah kesehatan termasuk dalam daftar utama diperbolehkannya bunuh diri.
Terdapat hubungan antara bunuh diri dan masalah kesehatan fisik, mencakup:<ref>Tintinalli, Judith E. ''Emergency Medicine: A Comprehensive Study Guide (Emergency Medicine (Tintinalli))''. McGraw-Hill Companies. 2010. hlm. 1940–1946. ISBN 0-07-148480-9.</ref> [[sakit kronis]],<ref>J Manthorpe. [https://archive.org/details/sim_international-journal-of-geriatric-psychiatry_2010-12_25_12/page/1230 Suicide in later life: public health and practitioner perspectives]. ''International journal of geriatric psychiatry''. 2010 Dec. Vol. 25 (12). hlm. 1230–8. doi:10.1002/gps.2473.</ref> [[cedera otak traumatis]],<ref>Simpson GK, Tate RL. [http://www.mja.com.au/public/issues/187_04_200807/sim11240_fm.html Preventing suicide after traumatic brain injury: implications for general practice]. ''Med. J. Aust''. 2007. Vol. 187 (4). hlm. 229–32.</ref> kanker,<ref>L Anguiano. ''A literature review of suicide in cancer patients''. ''Cancer nursing''. 2012 Jul–Aug. Vol. 35 (4). hlm. E14-26. doi:10.1097/NCC.0b013e31822fc76c.</ref> mereka yang menjalani [[hemodialisis]], [[HIV]], [[lupus eritematosus sistemik]], dan beberapa lainnya.<ref>Tintinalli, Judith E. ''Emergency Medicine: A Comprehensive Study Guide (Emergency Medicine (Tintinalli))''. McGraw-Hill Companies. 2010. hlm. 1940–1946. ISBN 0-07-148480-9.</ref> Diagnosis kanker membuat risiko bunuh diri menjadi kira-kira dua kali lipat.<ref>L Anguiano. ''A literature review of suicide in cancer patients''. ''Cancer nursing''. 2012 Jul–Aug. Vol. 35 (4). hlm. E14-26. doi:10.1097/NCC.0b013e31822fc76c.</ref> Angka kejadian bunuh diri yang meningkat tetap tinggi setelah disesuaikan dengan penyakit depresi dan penyalahgunaan alkohol. Pada orang yang memiliki lebih dari satu kondisi medis, risiko tersebut sangat tinggi. Di Jepang, masalah kesehatan termasuk dalam daftar utama diperbolehkannya bunuh diri.<ref>edited by Paul S.F. Yip. [https://archive.org/details/suicideinasiacau0000unse Suicide in Asia : causes and prevention]. Hong Kong University Press. 2008. hlm. http://books.google.ca/books?id=HuHQbtlyM40C&pg=PA11. ISBN 9789622099432.</ref>


Gangguan tidur seperti [[insomnia]] dan [[apnea tidur]] merupakan faktor risiko mengalami depresi dan melakukan bunuh diri. Pada beberapa kasus, gangguan tidur mungkin menjadi faktor risiko independen timbulnya depresi. Sejumlah kondisi medis lainnya mungkin disertai gejala yang mirip dengan gangguan suasana hati, termasuk: [[hipotiroid]], [[penyakit Alzheimer|Alzheimer]], [[tumor otak]], [[lupus eritematosus sistemik]], dan efek samping dari sejumlah obat (seperti [[beta blocker]] dan [[steroid]]).
Gangguan tidur seperti [[insomnia]]<ref>JD Ribeiro. ''Sleep problems outperform depression and hopelessness as cross-sectional and longitudinal predictors of suicidal ideation and behavior in young adults in the military''. ''Journal of Affective Disorders''. 2012 Feb. Vol. 136 (3). hlm. 743–50. doi:10.1016/j.jad.2011.09.049.</ref> dan [[apnea tidur]] merupakan faktor risiko mengalami depresi dan melakukan bunuh diri. Pada beberapa kasus, gangguan tidur mungkin menjadi faktor risiko independen timbulnya depresi.<ref>RA Bernert. ''Suicidality and sleep disturbances''. ''Sleep''. 2005 Sep. Vol. 28 (9). hlm. 1135–41.</ref> Sejumlah kondisi medis lainnya mungkin disertai gejala yang mirip dengan gangguan suasana hati, termasuk: [[hipotiroid]], [[penyakit Alzheimer|Alzheimer]], [[tumor otak]], [[lupus eritematosus sistemik]], dan efek samping dari sejumlah obat (seperti [[beta blocker]] dan [[steroid]]).<ref>B Chang. ''The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies''. ''Emergency medicine practice''. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.</ref>


=== Keadaan psikososial ===
=== Keadaan psikososial ===
Sejumlah keadaan psikologis juga meningkatkan risiko bunuh diri, meliputi: [[keputusasaan]], hilangnya kesenangan dalam hidup, [[depresi]] dan kecemasan. Kurangnya kemampuan untuk memecahkan masalah, hilangnya kemampuan seseorang yang dahulu dimilikinya, dan kurangnya pengendalian impuls juga berperan. Pada orang dewasa lanjut usia, persepsi tentang menjadi beban bagi orang lain merupakan hal yang penting.
Sejumlah keadaan psikologis juga meningkatkan risiko bunuh diri, meliputi: [[keputusasaan]], hilangnya kesenangan dalam hidup, [[depresi]] dan kecemasan.<ref>Stan Kutcher, Sonia Chehil. [http://books.google.ca/books?id=fV8_1u0c7l0C&pg=PA31 Suicide Risk Management A Manual for Health Professionals]. John Wiley & Sons. 2012. hlm. 30–33. ISBN 978-1-119-95311-1.</ref> Kurangnya kemampuan untuk memecahkan masalah, hilangnya kemampuan seseorang yang dahulu dimilikinya, dan kurangnya pengendalian impuls juga berperan.<ref>Stan Kutcher, Sonia Chehil. [http://books.google.ca/books?id=fV8_1u0c7l0C&pg=PA31 Suicide Risk Management A Manual for Health Professionals]. John Wiley & Sons. 2012. hlm. 30–33. ISBN 978-1-119-95311-1.</ref><ref>Jr Joiner TE. [https://archive.org/details/sim_annual-review-of-psychology_2005_56/page/287 The psychology and neurobiology of suicidal behavior]. ''Annual review of psychology''. 2005. Vol. 56. hlm. 287–314. doi:10.1146/annurev.psych.56.091103.070320.</ref> Pada orang dewasa lanjut usia, persepsi tentang menjadi beban bagi orang lain merupakan hal yang penting.<ref>K Van Orden. ''Suicides in late life''. ''Current psychiatry reports''. 2011 Jun. Vol. 13 (3). hlm. 234–41. doi:10.1007/s11920-011-0193-3.</ref><ref>K Van Orden. ''Suicides in late life''. ''Current psychiatry reports''. 2011 Jun. Vol. 13 (3). hlm. 234–41. doi:10.1007/s11920-011-0193-3.</ref>


Stres kehidupan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir seperti kehilangan anggota keluarga atau teman, kehilangan pekerjaan, atau isolasi sosial (seperti hidup sendiri) meningkatkan risiko tersebut. Orang yang tidak pernah menikah juga berisiko lebih besar. Bersikap religius dapat mengurangi risiko seseorang untuk melakukan bunuh diri. Hal ini dikaitkan dengan pandangan negatif sebagian besar agama yang menentang perbuatan bunuh diri dan dengan lebih besarnya rasa keterikatan yang bisa diberikan oleh agama. [[Muslim]], di antara umat beragama, tampaknya memiliki tingkat yang lebih rendah.
Stres kehidupan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir seperti kehilangan anggota keluarga atau teman, kehilangan pekerjaan, atau isolasi sosial (seperti hidup sendiri) meningkatkan risiko tersebut.<ref>Stan Kutcher, Sonia Chehil. [http://books.google.ca/books?id=fV8_1u0c7l0C&pg=PA31 Suicide Risk Management A Manual for Health Professionals]. John Wiley & Sons. 2012. hlm. 30–33. ISBN 978-1-119-95311-1.</ref> Orang yang tidak pernah menikah juga berisiko lebih besar.<ref>B Chang. ''The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies''. ''Emergency medicine practice''. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.</ref> Bersikap religius dapat mengurangi risiko seseorang untuk melakukan bunuh diri.<ref>HG Koenig. ''Research on religion, spirituality, and mental health: a review''. ''Canadian journal of psychiatry. Revue canadienne de psychiatrie''. 2009 May. Vol. 54 (5). hlm. 283–91.</ref> Hal ini dikaitkan dengan pandangan negatif sebagian besar agama yang menentang perbuatan bunuh diri dan dengan lebih besarnya rasa keterikatan yang bisa diberikan oleh agama.<ref>HG Koenig. ''Research on religion, spirituality, and mental health: a review''. ''Canadian journal of psychiatry. Revue canadienne de psychiatrie''. 2009 May. Vol. 54 (5). hlm. 283–91.</ref> [[Muslim]], di antara umat beragama, tampaknya memiliki tingkat yang lebih rendah.<ref>D Lester. ''Suicide and islam''. ''Archives of suicide research : official journal of the International Academy for Suicide Research''. 2006. Vol. 10 (1). hlm. 77–97. doi:10.1080/13811110500318489.</ref>


Sejumlah orang mungkin ingin bunuh diri untuk melarikan diri dari [[intimidasi]] atau [[tuduhan]]. Riwayat [[pelecehan seksual]] pada masa kecil dan dan saat menjadi [[anak asuh]] juga merupakan faktor risiko. Pelecehan seksual diyakini memberi kontribusi sekitar 20% dari keseluruhan risiko.
Sejumlah orang mungkin ingin bunuh diri untuk melarikan diri dari [[intimidasi]] atau [[tuduhan]].<ref>William T. L. Cox. [http://pps.sagepub.com/content/7/5/427.abstract Stereotypes, Prejudice, and Depression: The Integrated Perspective]. ''Perspectives on Psychological Science''. 2012. Vol. 7 (5). hlm. 427–449. doi:10.1177/1745691612455204.</ref> Riwayat [[pelecehan seksual]]<ref>HL Wegman. [https://archive.org/details/sim_psychosomatic-medicine_2009-10_71_8/page/805 A meta-analytic review of the effects of childhood abuse on medical outcomes in adulthood]. ''Psychosomatic Medicine''. 2009 Oct. Vol. 71 (8). hlm. 805–12. doi:10.1097/PSY.0b013e3181bb2b46.</ref> pada masa kecil dan dan saat menjadi [[anak asuh]] juga merupakan faktor risiko.<ref>SH Oswald. ''History of maltreatment and mental health problems in foster children: a review of the literature''. ''Journal of pediatric psychology''. 2010 Jun. Vol. 35 (5). hlm. 462–72. doi:10.1093/jpepsy/jsp114.</ref> Pelecehan seksual diyakini memberi kontribusi sekitar 20% dari keseluruhan risiko.<ref>DA Brent. [https://archive.org/details/sim_psychiatric-clinics-of-north-america_2008-06_31_2/page/157 Familial transmission of suicidal behavior]. ''The Psychiatric clinics of North America''. 2008 Jun. Vol. 31 (2). hlm. 157–77. doi:10.1016/j.psc.2008.02.001.</ref>


[[Psikologi evolusioner|evolusioner]] menjelaskan bahwa persoalan bunuh diri bisa meningkatkan [[kemampuan inklusif]]. Hal ini dapat terjadi jika orang yang ingin bunuh diri tidak dapat lagi memiliki anak dan mengangkat anak dari kerabatnya dengan tetap bertahan hidup. Hal yang tidak dapat disetujui adalah bahwa kematian pada remaja yang sehat tidak menyebabkan terjadinya kemampuan inklusif. Proses [[adaptasi]] terhadap lingkungan adat nenek moyang yang sangat berbeda mungkin menjadi proses yang maladaptif dalam kondisi saat ini.
[[Psikologi evolusioner|evolusioner]] menjelaskan bahwa persoalan bunuh diri bisa meningkatkan [[kemampuan inklusif]]. Hal ini dapat terjadi jika orang yang ingin bunuh diri tidak dapat lagi memiliki anak dan mengangkat anak dari kerabatnya dengan tetap bertahan hidup. Hal yang tidak dapat disetujui adalah bahwa kematian pada remaja yang sehat tidak menyebabkan terjadinya kemampuan inklusif. Proses [[adaptasi]] terhadap lingkungan adat nenek moyang yang sangat berbeda mungkin menjadi proses yang maladaptif dalam kondisi saat ini.<ref>Jr Joiner TE. [https://archive.org/details/sim_annual-review-of-psychology_2005_56/page/287 The psychology and neurobiology of suicidal behavior]. ''Annual review of psychology''. 2005. Vol. 56. hlm. 287–314. doi:10.1146/annurev.psych.56.091103.070320.</ref><ref>Jaime C. Confer. [https://archive.org/details/sim_american-psychologist_february-march-2010_65_2/page/110 Evolutionary psychology: Controversies, questions, prospects, and limitations]. ''American Psychologist''. 1 January 2010. Vol. 65 (2). hlm. 110–126. doi:10.1037/a0018413.</ref>


Kemiskinan dikaitkan dengan risiko bunuh diri. Meningkatnya kemiskinan relatif seseorang yang dibandingkan dengan orang yang ada di sekitarnya dapat meningkatkan risiko bunuh diri. Lebih dari 200.000 petani di [[India]] telah melakukan [[Bunuh dirinya para petani di India|bunuh diri]] sejak tahun 1997, yang sebagian karena persoalan [[utang]]. Di Cina, kemungkinan peristiwa bunuh diri terjadi tiga kali lipat di daerah pedesaan di pinggiran kota, yang diyakini akibat kesulitan keuangan di area ini di negara tersebut.
Kemiskinan dikaitkan dengan risiko bunuh diri.<ref>CR Stark. ''A conceptual model of suicide in rural areas''. ''Rural and remote health''. 2011. Vol. 11 (2). hlm. 1622.</ref> Meningkatnya kemiskinan relatif seseorang yang dibandingkan dengan orang yang ada di sekitarnya dapat meningkatkan risiko bunuh diri.<ref>Mary Daly. [http://www.frbsf.org/publications/economics/papers/2012/wp12-16bk.pdf Relative Status and Well-Being: Evidence from U.S. Suicide Deaths]. ''Federal Reserve Bank of San Francisco Working Paper Series''. Sept 2012.</ref> Lebih dari 200.000 petani di [[India]] telah melakukan [[Bunuh dirinya para petani di India|bunuh diri]] sejak tahun 1997, yang sebagian karena persoalan [[utang]].<ref>George Lerner. [http://articles.cnn.com/2010-01-05/world/india.farmer.suicides_1_farmer-suicides-andhra-pradesh-vandana-shiva?_s=PM:WORLD Activist: Farmer suicides in India linked to debt, globalization]. ''CNN World''. Jan 5,2010.</ref> Di Cina, kemungkinan peristiwa bunuh diri terjadi tiga kali lipat di daerah pedesaan di pinggiran kota, yang diyakini akibat kesulitan keuangan di area ini di negara tersebut.<ref>S Law. ''Suicide in China: unique demographic patterns and relationship to depressive disorder''. ''Current psychiatry reports''. 2008 Feb. Vol. 10 (1). hlm. 80–6.</ref>


=== Media ===
=== Media ===
Media, termasuk internet, memainkan peranan penting. Caranya menyajikan gambaran bunuh diri mungkin saja memiliki efek negatif dengan banyaknya tayangan yang mencolok dan berulang yang mengagungkan atau meromantiskan tindakan bunuh diri dan memberikan dampak terbesar. Bila digambarkan secara rinci tentang cara melakukan bunuh diri dengan menggunakan cara tertentu, metode bunuh diri mungkin saja meningkat dalam populasi secara keseluruhan.
Media, termasuk internet, memainkan peranan penting.<ref>K Hawton. [https://archive.org/details/sim_the-lancet_june-23-29-2012_379_9834/page/2373 Self-harm and suicide in adolescents]. ''Lancet''. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2373–82. doi:10.1016/S0140-6736(12)60322-5.</ref> Caranya menyajikan gambaran bunuh diri mungkin saja memiliki efek negatif dengan banyaknya tayangan yang mencolok dan berulang yang mengagungkan atau meromantiskan tindakan bunuh diri dan memberikan dampak terbesar.<ref>I Bohanna. ''Media guidelines for the responsible reporting of suicide: a review of effectiveness''. ''Crisis''. 2012. Vol. 33 (4). hlm. 190–8. doi:10.1027/0227-5910/a000137.</ref> Bila digambarkan secara rinci tentang cara melakukan bunuh diri dengan menggunakan cara tertentu, metode bunuh diri mungkin saja meningkat dalam populasi secara keseluruhan.<ref>PS Yip. [https://archive.org/details/sim_the-lancet_june-23-29-2012_379_9834/page/2393 Means restriction for suicide prevention]. ''Lancet''. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2393–9. doi:10.1016/S0140-6736(12)60521-2.</ref>


Pemicu penularan bunuh diri atau [[peniruan bunuh diri]] ini dikenal sebagai [[efek Werther]], yang diberi nama berdasarkan tokoh protagonist dalam karya [[Johann Wolfgang von Goethe|Goethe]] yang berjudul ''[[The Sorrows of Young Werther]]'' yang melakukan bunuh diri. Risiko ini lebih besar pada remaja yang mungkin meromantiskan kematian. Sementara media massa memiliki pengaruh yang signifikan, efek dari media hiburan masih tampak samar-samar. Kebalikan dari efek Werther adalah pengusulan efek Papageno, yaitu cakupan yang baik mengenai mekanisme cara mengatasi masalah secara efektif, mungkin memiliki efek perlindungan. Istilah ini didasarkan pada karakter dalam opera [[Wolfgang Amadeus Mozart|Mozart]] yang berjudul ''[[The Magic Flute]]'' yang akan melakukan bunuh diri karena takut kehilangan orang yang dicintainya sampai teman-temannya menyelamatkannya. Bila media mengikuti pedoman pelaporan yang sesuai, risiko bunuh diri dapat diturunkan. Namun, kepatuhan dari industri tersebut bisa saja sulit didapatkan terutama dalam jangka panjang.
Pemicu penularan bunuh diri atau [[peniruan bunuh diri]] ini dikenal sebagai [[efek Werther]], yang diberi nama berdasarkan tokoh protagonist dalam karya [[Johann Wolfgang von Goethe|Goethe]] yang berjudul ''[[The Sorrows of Young Werther]]'' yang melakukan bunuh diri.<ref>M Sisask. ''Media roles in suicide prevention: a systematic review''. ''International journal of environmental research and public health''. 2012 Jan. Vol. 9 (1). hlm. 123–38. doi:10.3390/ijerph9010123.</ref> Risiko ini lebih besar pada remaja yang mungkin meromantiskan kematian.<ref>Stack S. [https://archive.org/details/sim_suicide-life-threatening-behavior_2005-04_35_2/page/121 Suicide in the media: a quantitative review of studies based on non-fictional stories]. ''Suicide Life Threat Behav''. 2005. Vol. 35 (2). hlm. 121–33. doi:10.1521/suli.35.2.121.62877.</ref> Sementara media massa memiliki pengaruh yang signifikan, efek dari media hiburan masih tampak samar-samar.<ref>Pirkis J. [http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S147617930900072X Suicide and the media]. ''Psychiatry''. July 2009. Vol. 8 (7). hlm. 269–271. doi:10.1016/j.mppsy.2009.04.009.</ref> Kebalikan dari efek Werther adalah pengusulan efek Papageno, yaitu cakupan yang baik mengenai mekanisme cara mengatasi masalah secara efektif, mungkin memiliki efek perlindungan. Istilah ini didasarkan pada karakter dalam opera [[Wolfgang Amadeus Mozart|Mozart]] yang berjudul ''[[The Magic Flute]]'' yang akan melakukan bunuh diri karena takut kehilangan orang yang dicintainya sampai teman-temannya menyelamatkannya.<ref>M Sisask. ''Media roles in suicide prevention: a systematic review''. ''International journal of environmental research and public health''. 2012 Jan. Vol. 9 (1). hlm. 123–38. doi:10.3390/ijerph9010123.</ref> Bila media mengikuti pedoman pelaporan yang sesuai, risiko bunuh diri dapat diturunkan.<ref>I Bohanna. ''Media guidelines for the responsible reporting of suicide: a review of effectiveness''. ''Crisis''. 2012. Vol. 33 (4). hlm. 190–8. doi:10.1027/0227-5910/a000137.</ref> Namun, kepatuhan dari industri tersebut bisa saja sulit didapatkan terutama dalam jangka panjang.<ref>I Bohanna. ''Media guidelines for the responsible reporting of suicide: a review of effectiveness''. ''Crisis''. 2012. Vol. 33 (4). hlm. 190–8. doi:10.1027/0227-5910/a000137.</ref>


=== Rasional ===
=== Rasional ===
[[Bunuh diri rasional]] adalah tindakan menghilangkan nyawa sendiri yang beralasan, meskipun sejumlah orang merasa bahwa bunuh diri tidak pernah masuk akal. Tindakan menghilangkan nyawa sendiri demi kepentingan orang lain dikenal sebagai [[bunuh diri altruistik]]. Contohnya adalah sesepuh yang mengakhiri hidup mereka agar dapat meninggalkan makanan dalam jumlah yang lebih besar bagi orang yang lebih muda dalam masyarakat. Dalam beberapa budaya [[Eskimo]], hal ini dianggap sebagai tindakan yang terhormat, berani, atau bijaksana.
[[Bunuh diri rasional]] adalah tindakan menghilangkan nyawa sendiri yang beralasan,<ref>Sana Loue. [http://books.google.ca/books?id=rTMrB0AutLwC&pg=PA696 Encyclopedia of aging and public health : with 19 tables]. Springer. 2008. hlm. 696. ISBN 978-0-387-33753-1.</ref> meskipun sejumlah orang merasa bahwa bunuh diri tidak pernah masuk akal.<ref>Sana Loue. [http://books.google.ca/books?id=rTMrB0AutLwC&pg=PA696 Encyclopedia of aging and public health : with 19 tables]. Springer. 2008. hlm. 696. ISBN 978-0-387-33753-1.</ref> Tindakan menghilangkan nyawa sendiri demi kepentingan orang lain dikenal sebagai [[bunuh diri altruistik]].<ref>Harry R. Moody. [http://books.google.ca/books?id=qj8GS77QAgwC&pg=PA158 Aging : concepts and controversies]. Pine Forge Press. 2010. hlm. 158. ISBN 978-1-4129-6966-6.</ref> Contohnya adalah sesepuh yang mengakhiri hidup mereka agar dapat meninggalkan makanan dalam jumlah yang lebih besar bagi orang yang lebih muda dalam masyarakat.<ref>Harry R. Moody. [http://books.google.ca/books?id=qj8GS77QAgwC&pg=PA158 Aging : concepts and controversies]. Pine Forge Press. 2010. hlm. 158. ISBN 978-1-4129-6966-6.</ref> Dalam beberapa budaya [[Eskimo]], hal ini dianggap sebagai tindakan yang terhormat, berani, atau bijaksana.<ref>edited by Robert I. Simon, Robert E. Hales. [http://books.google.ca/books?id=H8tigTjBCRkC&pg=PA714 The American Psychiatric Publishing textbook of suicide assessment and management]. American Psychiatric Pub. hlm. 714. ISBN 978-1-58562-414-0.</ref>


[[Serangan bunuh diri]] adalah sebuah tindakan politik di mana seorang penyerang melakukan tindakan kekerasan terhadap orang lain sementara mereka mengerti bahwa hal tersebut akan mengakibatkan kematian mereka sendiri. Beberapa pelaku bom bunuh diri melakukannya dalam upaya untuk mendapatkan [[kesyahidan]]. Misi [[Kamikaze]] dilakukan sebagai kewajiban terhadap suatu hal yang penting atau tuntutan moral. [[Bunuh diri-pembunuhan]] merupakan tindakan [[pembunuhan]] yang diikuti oleh tindakan bunuh diri orang yang melakukan perbuatan pembunuhan tersebut dalam kurun waktu satu minggu setelahnya. [[Bunuh diri massal]] sering dilakukan di bawah [[tekanan kelompok|tekanan sosial]] di mana anggotanya menyerahkan hidupnya kepada seorang pemimpin. Bunuh diri massal dapat berlangsung sedikitnya dua orang, yang sering disebut sebagai [[kesepakatan bunuh diri]].
[[Serangan bunuh diri]] adalah sebuah tindakan politik di mana seorang penyerang melakukan tindakan kekerasan terhadap orang lain sementara mereka mengerti bahwa hal tersebut akan mengakibatkan kematian mereka sendiri.<ref>Tarek Sobh, editor. [http://books.google.ca/books?id=B-Zf1sQZapMC&pg=PA503 Innovations and advances in computer sciences and engineering]. Springer Verlag. 2010. hlm. 503. ISBN 978-90-481-3658-2.</ref> Beberapa pelaku bom bunuh diri melakukannya dalam upaya untuk mendapatkan [[kesyahidan]].<ref>V Rozanov. ''Suicide among war veterans''. ''International journal of environmental research and public health''. 2012 Jul. Vol. 9 (7). hlm. 2504–19. doi:10.3390/ijerph9072504.</ref> Misi [[Kamikaze]] dilakukan sebagai kewajiban terhadap suatu hal yang penting atau tuntutan moral.<ref>edited by Robert I. Simon, Robert E. Hales. [http://books.google.ca/books?id=H8tigTjBCRkC&pg=PA714 The American Psychiatric Publishing textbook of suicide assessment and management]. American Psychiatric Pub. hlm. 714. ISBN 978-1-58562-414-0.</ref> [[Bunuh diri-pembunuhan]] merupakan tindakan [[pembunuhan]] yang diikuti oleh tindakan bunuh diri orang yang melakukan perbuatan pembunuhan tersebut dalam kurun waktu satu minggu setelahnya.<ref>S Eliason. [https://archive.org/details/sim_journal-of-the-american-academy-of-psychiatry-and-the-law_2009_37_3/page/371 Murder-suicide: a review of the recent literature]. ''The journal of the American Academy of Psychiatry and the Law''. 2009. Vol. 37 (3). hlm. 371–6.</ref> [[Bunuh diri massal]] sering dilakukan di bawah [[tekanan kelompok|tekanan sosial]] di mana anggotanya menyerahkan hidupnya kepada seorang pemimpin.<ref>William Kornblum in collaboration with Carolyn D. Smith. [http://books.google.ca/books?id=DtKcG6qoY5AC&pg=PT51 Sociology in a changing world]. Wadsworth Cengage Learning. hlm. 27. ISBN 978-1-111-30157-6.</ref> Bunuh diri massal dapat berlangsung sedikitnya dua orang, yang sering disebut sebagai [[kesepakatan bunuh diri]].<ref>Robert Jean Campbell. [http://books.google.ca/books?id=Vrlsos_O13UC&pg=PA636 Campbell's psychiatric dictionary]. Oxford University Press. 2004. hlm. 636. ISBN 978-0-19-515221-0.</ref>


Dalam situasi yang meringankan di mana melanjutkan hidup akan menjadi sesuatu yang tak tertahankan, beberapa orang memilih bunuh diri sebagai sarana untuk melarikan diri. Sejumlah tahanan [[Nazi Jerman|Nazi]] di [[kamp konsentrasi]] diketahui telah bunuh diri dengan sengaja menyentuh pagar beraliran listrik.
Dalam situasi yang meringankan di mana melanjutkan hidup akan menjadi sesuatu yang tak tertahankan, beberapa orang memilih bunuh diri sebagai sarana untuk melarikan diri.<ref>ed. by Robert M. Veatch. [http://books.google.ca/books?id=UCOT4sj-DwUC&pg=PA292 Medical ethics]. Jones and Bartlett. 1997. hlm. 292. ISBN 978-0-86720-974-7.</ref> Sejumlah tahanan [[Nazi Jerman|Nazi]] di [[kamp konsentrasi]] diketahui telah bunuh diri dengan sengaja menyentuh pagar beraliran listrik.<ref>Yisrael Gutman. ''Anatomy of the Auschwitz death camp''. Publ. in association with the United States Holocaust Memorial Museum, Washington, D.C. by Indiana University Press. 1998. hlm. 400. ISBN 978-0-253-20884-2.</ref>


== Metode ==
== Metode ==
Metode utama bunuh diri berbeda-beda antar negara. Metode utama di berbagai wilayah di antaranya [[bunuh diri dengan cara gantung diri|gantung diri]], [[minum racun pestisida]], dan [[senjata api]].<ref>Ajdacic-Gross V. ''Methods of suicide: international suicide patterns derived from the WHO mortality database''. ''Bull. World Health Organ''. 2008. Vol. 86 (9). hlm. 726–32. doi:10.2471/BLT.07.043489.</ref> Perbedaan ini diyakini sebagian karena ketersediaan metode yang berbeda.<ref>PS Yip. [https://archive.org/details/sim_the-lancet_june-23-29-2012_379_9834/page/2393 Means restriction for suicide prevention]. ''Lancet''. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2393–9. doi:10.1016/S0140-6736(12)60521-2.</ref> Sebuah tinjauan pada 56 negara menemukan bahwa gantung diri merupakan metode yang paling umum di sebagian besar negara,<ref>Ajdacic-Gross, Vladeta, ''et al''.. ''Bulletin of the World Health Organization'' '''86''' (9): 726–732. September 2008. Accessed 2 August 2011.[https://web.archive.org/web/20110920054902/http://www.scielosp.org/pdf/bwho/v86n9/a17v86n9.pdf Archived] 2 August 2011. See [http://www.who.int/bulletin/volumes/86/9/07-043489/en/index.html html version]. The data can be seen here [http://www.who.int/bulletin/volumes/86/9/0042-9686_86_07-043489-table-T1.html]</ref> dengan angka 53% untuk kasus bunuh diri pada pria dan 39% untuk kasus bunuh diri pada wanita.<ref>[http://books.google.com/books?id=3fDGLWQtwFkC&pg=PA34 International Handbook of Suicide Prevention: Research, Policy and Practice]. John Wiley and Sons. 1 June 2011. hlm. 34. ISBN 978-1-119-99856-3.</ref>


Di seluruh dunia, 30% kasus bunuh diri menggunakan racun pestisida. Namun, penggunaan metode ini sangat bervariasi mulai dari 4% di Eropa hingga lebih dari 50% di wilayah Pasifik.<ref>Gunnell D, Eddleston M, Phillips MR, Konradsen F. ''The global distribution of fatal pesticide self-poisoning: systematic review''. ''BMC Public Health''. 2007. Vol. 7. hlm. 357. doi:10.1186/1471-2458-7-357.</ref> Metode tersebut juga umum dilakukan di [[Amerika Latin]] mengingat racun pestisida mudah didapat di lingkungan petani.<ref>PS Yip. [https://archive.org/details/sim_the-lancet_june-23-29-2012_379_9834/page/2393 Means restriction for suicide prevention]. ''Lancet''. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2393–9. doi:10.1016/S0140-6736(12)60521-2.</ref> Di banyak negara, overdosis obat tercatat sekitar 60% untuk kasus bunuh diri di kalangan wanita dan 30% di kalangan pria.<ref>John Geddes. [http://books.google.ca/books?id=F4THKWvbAPEC&pg=PA62 Psychiatry]. Oxford University Press. hlm. 62. ISBN 978-0-19-923396-0.</ref> Banyak tindakan bunuh diri yang tidak direncanakan dan terjadi selama periode ambivalensi yang akut.<ref>PS Yip. [https://archive.org/details/sim_the-lancet_june-23-29-2012_379_9834/page/2393 Means restriction for suicide prevention]. ''Lancet''. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2393–9. doi:10.1016/S0140-6736(12)60521-2.</ref> Angka kematian per metode bervariasi: senjata api 80-90%, tenggelam 65-80%, gantung diri 60-85%, gas buang kendaraan 40-60%, lompat dari tempat yang tinggi 35-60%, [[Bunuh diri dengan gas karbon hasil pembakaran|gas karbon hasil pembakaran]] 40-50%, racun pestisida 6-75%, overdosis obat 1,5-4%.<ref>PS Yip. [https://archive.org/details/sim_the-lancet_june-23-29-2012_379_9834/page/2393 Means restriction for suicide prevention]. ''Lancet''. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2393–9. doi:10.1016/S0140-6736(12)60521-2.</ref> Metode percobaan bunuh diri yang paling umum dilakukan berbeda dengan metode bunuh diri yang paling sering berhasil dengan angka mencapai 85% untuk upaya percobaan bunuh diri dengan metode overdosis obat di negara-negara maju.<ref>Tintinalli, Judith E. ''Emergency Medicine: A Comprehensive Study Guide (Emergency Medicine (Tintinalli))''. McGraw-Hill Companies. 2010. hlm. 1940–1946. ISBN 0-07-148480-9.</ref>


Metode utama bunuh diri berbeda-beda antar negara. Metode utama di berbagai wilayah di antaranya [[bunuh diri dengan cara gantung diri|gantung diri]], [[minum racun pestisida]], dan [[senjata api]]. Perbedaan ini diyakini sebagian karena ketersediaan metode yang berbeda. Sebuah tinjauan pada 56 negara menemukan bahwa gantung diri merupakan metode yang paling umum di sebagian besar negara, dengan angka 53% untuk kasus bunuh diri pada pria dan 39% untuk kasus bunuh diri pada wanita.
Di Amerika Serikat, 57% kasus bunuh diri melibatkan penggunaan senjata api sehingga metode ini menjadi agak lebih sering terjadi pada pria dibanding wanita.<ref>B Chang. ''The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies''. ''Emergency medicine practice''. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.</ref> Penyebab berikutnya yang paling umum adalah gantung diri pada pria dan meracuni diri sendiri pada wanita.<ref>B Chang. ''The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies''. ''Emergency medicine practice''. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.</ref> Kedua metode tersebut secara total mencatat angka sekitar 40% dari kasus bunuh diri di AS.<ref>[http://www.suicide.org/suicide-statistics.html U.S. Suicide Statistics (2005)].</ref> Di Swiss, di mana hampir semua orang memiliki senjata api, jumlah terbesar kasus bunuh diri adalah dengan cara gantung diri.<ref>edited by Sussie Eshun. [http://books.google.ca/books?id=Y6uUDBBGqF4C&pg=PA301 Culture and mental health sociocultural influences, theory, and practice]. Wiley-Blackwell. 2009. hlm. 301. ISBN 9781444305814.</ref> Melompat bunuh diri umum terjadi di [[Hongkong]] maupun [[Singapura]] dengan angka masing-masing 50% dan 80%.<ref>PS Yip. [https://archive.org/details/sim_the-lancet_june-23-29-2012_379_9834/page/2393 Means restriction for suicide prevention]. ''Lancet''. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2393–9. doi:10.1016/S0140-6736(12)60521-2.</ref> Di Cina, meminum racun pestisida adalah metode yang paling umum.<ref>Etienne Krug. ''World Report on Violence and Health, Volume 1''. World Health Organization. 2002. hlm. http://books.google.ca/books?id=db9OHpk-TksC&pg=PA196. ISBN 9789241545617.</ref> Di Jepang, masih terjadi tindakan mengeluarkan isi perut sendiri yang dikenal dengan [[seppuku]] atau hara-kiri,<ref>Etienne Krug. ''World Report on Violence and Health, Volume 1''. World Health Organization. 2002. hlm. http://books.google.ca/books?id=db9OHpk-TksC&pg=PA196. ISBN 9789241545617.</ref> tetapi demikian, gantung diri adalah yang paling umum.<ref>Diego de Leo (editor). [https://archive.org/details/suicideeuthanasi0000unse Suicide and euthanasia in older adults : a transcultural journey]. Hogrefe & Huber. 2001. hlm. [https://archive.org/details/suicideeuthanasi0000unse/page/121 121]. ISBN 9780889372511.</ref>
 
Di seluruh dunia, 30% kasus bunuh diri menggunakan racun pestisida. Namun, penggunaan metode ini sangat bervariasi mulai dari 4% di Eropa hingga lebih dari 50% di wilayah Pasifik. Metode tersebut juga umum dilakukan di [[Amerika Latin]] mengingat racun pestisida mudah didapat di lingkungan petani. Di banyak negara, overdosis obat tercatat sekitar 60% untuk kasus bunuh diri di kalangan wanita dan 30% di kalangan pria. Banyak tindakan bunuh diri yang tidak direncanakan dan terjadi selama periode ambivalensi yang akut. Angka kematian per metode bervariasi: senjata api 80-90%, tenggelam 65-80%, gantung diri 60-85%, gas buang kendaraan 40-60%, lompat dari tempat yang tinggi 35-60%, [[Bunuh diri dengan gas karbon hasil pembakaran|gas karbon hasil pembakaran]] 40-50%, racun pestisida 6-75%, overdosis obat 1,5-4%. Metode percobaan bunuh diri yang paling umum dilakukan berbeda dengan metode bunuh diri yang paling sering berhasil dengan angka mencapai 85% untuk upaya percobaan bunuh diri dengan metode overdosis obat di negara-negara maju.
 
Di Amerika Serikat, 57% kasus bunuh diri melibatkan penggunaan senjata api sehingga metode ini menjadi agak lebih sering terjadi pada pria dibanding wanita. Penyebab berikutnya yang paling umum adalah gantung diri pada pria dan meracuni diri sendiri pada wanita. Kedua metode tersebut secara total mencatat angka sekitar 40% dari kasus bunuh diri di AS. Di Swiss, di mana hampir semua orang memiliki senjata api, jumlah terbesar kasus bunuh diri adalah dengan cara gantung diri. Melompat bunuh diri umum terjadi di [[Hongkong]] maupun [[Singapura]] dengan angka masing-masing 50% dan 80%. Di Cina, meminum racun pestisida adalah metode yang paling umum. Di Jepang, masih terjadi tindakan mengeluarkan isi perut sendiri yang dikenal dengan [[seppuku]] atau hara-kiri, tetapi demikian, gantung diri adalah yang paling umum.


== Patofisiologi ==
== Patofisiologi ==
Tidak ada kesamaan faktor [[patofisiologi]] yang mendasari terjadinya bunuh diri atau depresi. Meskipun demikian, hal tersebut diyakini merupakan akibat faktor interaksi perilaku, lingkungan sosial dan kejiwaan.
Tidak ada kesamaan faktor [[patofisiologi]] yang mendasari terjadinya bunuh diri atau depresi.<ref>B Chang. ''The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies''. ''Emergency medicine practice''. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.</ref> Meskipun demikian, hal tersebut diyakini merupakan akibat faktor interaksi perilaku, lingkungan sosial dan kejiwaan.<ref>PS Yip. [https://archive.org/details/sim_the-lancet_june-23-29-2012_379_9834/page/2393 Means restriction for suicide prevention]. ''Lancet''. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2393–9. doi:10.1016/S0140-6736(12)60521-2.</ref>


Rendahnya tingkat [[brain-derived neurotrophic factor]] (BDNF) yang terkait secara langsung dengan bunuh diri dan secara tidak langsung melalui perannya dalam kejadian depresi berat, gangguan stres pasca trauma, skizofrenia dan [[gangguan obsesif-kompulsif]]. Dari studi [[otopsi|Bedah mayat]] ditemukan adanya penurunan tingkat BDNF pada [[hipokampus]] dan [[korteks prefrontal]], pada orang yang mengalami gangguan kejiwaan maupun yang tidak. [[Serotonin]], sebuah [[neurotransmitter]] otak, diyakini rendah tingkatnya pada orang yang bunuh diri. Hal ini sebagian didasarkan pada bukti meningkatnya kadar [[reseptor 5-HT2A]] setelah kematian. Bukti lain termasuk berkurangnya tingkat produk turunan serotonin, [[Asam 5-hidroksiindoleasetat]], dalam [[cairan tulang belakang otak]]. Namun, bukti langsung cukup sulit dikumpulkan. [[Epigenetika]], studi tentang perubahan dalam ekspresi genetika dalam merespons faktor lingkungan yang tidak mengubah [[DNA]] yang mendasarinya, juga diyakini berperan dalam menentukan risiko bunuh diri.
Rendahnya tingkat [[brain-derived neurotrophic factor]] (BDNF) yang terkait secara langsung dengan bunuh diri<ref>M Pjevac. ''Neurobiology of suicidal behaviour''. ''Psychiatria Danubina''. 2012 Oct. Vol. 24 Suppl 3. hlm. S336-41.</ref> dan secara tidak langsung melalui perannya dalam kejadian depresi berat, gangguan stres pasca trauma, skizofrenia dan [[gangguan obsesif-kompulsif]].<ref>L Sher. ''The role of brain-derived neurotrophic factor in the pathophysiology of adolescent suicidal behavior''. ''International journal of adolescent medicine and health''. 2011. Vol. 23 (3). hlm. 181–5.</ref> Dari studi [[otopsi|Bedah mayat]] ditemukan adanya penurunan tingkat BDNF pada [[hipokampus]] dan [[korteks prefrontal]], pada orang yang mengalami gangguan kejiwaan maupun yang tidak.<ref>L Sher. ''Brain-derived neurotrophic factor and suicidal behavior''. ''QJM : monthly journal of the Association of Physicians''. 2011 May. Vol. 104 (5). hlm. 455–8. doi:10.1093/qjmed/hcq207.</ref> [[Serotonin]], sebuah [[neurotransmitter]] otak, diyakini rendah tingkatnya pada orang yang bunuh diri. Hal ini sebagian didasarkan pada bukti meningkatnya kadar [[reseptor 5-HT2A]] setelah kematian.<ref>Yogesh Dwivedi. [http://books.google.ca/books?id=5hcOf_SM-U0C&pg=PA166 The neurobiological basis of suicide]. Taylor & Francis/CRC Press. 2012. hlm. 166. ISBN 978-1-4398-3881-5.</ref> Bukti lain termasuk berkurangnya tingkat produk turunan serotonin, [[Asam 5-hidroksiindoleasetat]], dalam [[cairan tulang belakang otak]].<ref>edited by George Stein. [http://books.google.ca/books?id=6PGzHFuS1xkC&pg=PA145 Seminars in general adult psychiatry]. Gaskell. 2007. hlm. 145. ISBN 978-1-904671-44-2.</ref> Namun, bukti langsung cukup sulit dikumpulkan.<ref>Yogesh Dwivedi. [http://books.google.ca/books?id=5hcOf_SM-U0C&pg=PA166 The neurobiological basis of suicide]. Taylor & Francis/CRC Press. 2012. hlm. 166. ISBN 978-1-4398-3881-5.</ref> [[Epigenetika]], studi tentang perubahan dalam ekspresi genetika dalam merespons faktor lingkungan yang tidak mengubah [[DNA]] yang mendasarinya, juga diyakini berperan dalam menentukan risiko bunuh diri.<ref>AE Autry. ''Epigenetics in suicide and depression''. ''Biological Psychiatry''. 2009 Nov 1. Vol. 66 (9). hlm. 812–3. doi:10.1016/j.biopsych.2009.08.033.</ref>


== Pencegahan ==
== Pencegahan ==
 
Pencegahan bunuh diri merupakan istilah yang digunakan untuk upaya kolektif guna mengurangi insiden bunuh diri melalui tindakan pencegahan. Mengurangi akses ke metode tertentu, seperti senjata api atau racun akan mengurangi risikonya.<ref>PS Yip. [https://archive.org/details/sim_the-lancet_june-23-29-2012_379_9834/page/2393 Means restriction for suicide prevention]. ''Lancet''. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2393–9. doi:10.1016/S0140-6736(12)60521-2.</ref><ref>[http://www.who.int/mental_health/prevention/suicide/suicideprevent/en/ Suicide prevention]. ''WHO Sites: Mental Health''. World Health Organization. Aug 31,2012.</ref> Tindakan lain di antaranya dengan mengurangi akses ke gas karbon dan penghalang di jembatan serta platform kereta bawah tanah.<ref>PS Yip. [https://archive.org/details/sim_the-lancet_june-23-29-2012_379_9834/page/2393 Means restriction for suicide prevention]. ''Lancet''. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2393–9. doi:10.1016/S0140-6736(12)60521-2.</ref> Pengobatan kecanduan narkoba dan alkohol, depresi, dan mereka yang telah mencoba bunuh diri pada masa lalu mungkin juga efektif.<ref>[http://www.who.int/mental_health/prevention/suicide/suicideprevent/en/ Suicide prevention]. ''WHO Sites: Mental Health''. World Health Organization. Aug 31,2012.</ref> Beberapa di antaranya telah mengusulkan pengurangan akses ke alkohol sebagai strategi pencegahan (seperti mengurangi jumlah bar).<ref>L Vijayakumar. ''Substance use and suicide''. ''Current opinion in psychiatry''. 2011 May. Vol. 24 (3). hlm. 197–202. doi:10.1097/YCO.0b013e3283459242.</ref> Walaupun [[saluran bantuan krisis]] bersifat umum, terdapat sedikit bukti yang mendukung atau menolak keefektifannya.<ref>I Sakinofsky. ''The current evidence base for the clinical care of suicidal patients: strengths and weaknesses''. ''Canadian Journal of Psychiatry''. 2007 Jun. Vol. 52 (6 Suppl 1). hlm. 7S–20S.</ref><ref>[http://www.surgeongeneral.gov/library/mentalhealth/chapter3/sec5_1.html Suicide]. ''The United States Surgeon General''.</ref> Pada remaja yang akhir-akhir ini berpikir untuk bunuh diri, [[terapi perilaku kognitif]] tampaknya dapat bermanfaat untuk memberikan perbaikan.<ref>J Robinson. ''Preventing suicide in young people: systematic review''. ''The Australian and New Zealand journal of psychiatry''. 2011 Jan. Vol. 45 (1). hlm. 3–26. doi:10.3109/00048674.2010.511147.</ref> [[Pembangunan ekonomi]] melalui kemampuannya untuk mengurangi kemiskinan mungkin dapat menurunkan tingkat bunuh diri.<ref>CR Stark. ''A conceptual model of suicide in rural areas''. ''Rural and remote health''. 2011. Vol. 11 (2). hlm. 1622.</ref> Upaya untuk meningkatkan hubungan sosial terutama pada pria usia lanjut mungkin saja efektif.<ref>MM Fässberg. ''A systematic review of social factors and suicidal behavior in older adulthood''. ''International journal of environmental research and public health''. 2012 Mar. Vol. 9 (3). hlm. 722–45. doi:10.3390/ijerph9030722.</ref>
 
Pencegahan bunuh diri merupakan istilah yang digunakan untuk upaya kolektif guna mengurangi insiden bunuh diri melalui tindakan pencegahan. Mengurangi akses ke metode tertentu, seperti senjata api atau racun akan mengurangi risikonya. Tindakan lain di antaranya dengan mengurangi akses ke gas karbon dan penghalang di jembatan serta platform kereta bawah tanah. Pengobatan kecanduan narkoba dan alkohol, depresi, dan mereka yang telah mencoba bunuh diri pada masa lalu mungkin juga efektif. Beberapa di antaranya telah mengusulkan pengurangan akses ke alkohol sebagai strategi pencegahan (seperti mengurangi jumlah bar). Walaupun [[saluran bantuan krisis]] bersifat umum, terdapat sedikit bukti yang mendukung atau menolak keefektifannya. Pada remaja yang akhir-akhir ini berpikir untuk bunuh diri, [[terapi perilaku kognitif]] tampaknya dapat bermanfaat untuk memberikan perbaikan. [[Pembangunan ekonomi]] melalui kemampuannya untuk mengurangi kemiskinan mungkin dapat menurunkan tingkat bunuh diri. Upaya untuk meningkatkan hubungan sosial terutama pada pria usia lanjut mungkin saja efektif.


=== Skrining ===
=== Skrining ===
Ada sedikit data tentang efek skrining populasi umum terhadap angka tertinggi bunuh diri. Mengingat terdapat angka yang tinggi pada orang yang dinyatakan positif setelah dites melalui alat ini yang tidak berisiko bunuh diri, ada kekhawatiran bahwa skrining bisa meningkatkan pemanfaatan sumber daya perawatan kesehatan mental secara signifikan. Namun, dianjurkan melakukan pengkajian atas orang yang berisiko tinggi. Bertanya tentang bunuh diri tampaknya tidak akan meningkatkan risikonya.
Ada sedikit data tentang efek skrining populasi umum terhadap angka tertinggi bunuh diri.<ref>SB Williams. ''Screening for child and adolescent depression in primary care settings: a systematic evidence review for the US Preventive Services Task Force''. ''Pediatrics''. 2009 Apr. Vol. 123 (4). hlm. e716-35. doi:10.1542/peds.2008-2415.</ref> Mengingat terdapat angka yang tinggi pada orang yang dinyatakan positif setelah dites melalui alat ini yang tidak berisiko bunuh diri, ada kekhawatiran bahwa skrining bisa meningkatkan pemanfaatan sumber daya perawatan kesehatan mental secara signifikan.<ref>LM Horowitz. ''Suicide screening in schools, primary care and emergency departments''. ''Current Opinion in Pediatrics''. 2009 Oct. Vol. 21 (5). hlm. 620–7. doi:10.1097/MOP.0b013e3283307a89.</ref> Namun, dianjurkan melakukan pengkajian atas orang yang berisiko tinggi.<ref>B Chang. ''The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies''. ''Emergency medicine practice''. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.</ref> Bertanya tentang bunuh diri tampaknya tidak akan meningkatkan risikonya.<ref>B Chang. ''The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies''. ''Emergency medicine practice''. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.</ref>


=== Penyakit mental ===
=== Penyakit mental ===
Pada orang yang mengalami masalah kesehatan mental, sejumlah perawatan bisa mengurangi risiko bunuh diri. Mereka yang aktif berusaha bunuh diri bisa didaftarkan dalam rehabilitasi untuk mendapatkan perawatan kejiwaan baik secara sukarela atau secara paksa. Barang yang bisa digunakan untuk menyakiti diri sendiri biasanya disingkirkan. Beberapa dokter meminta pasiennya untuk menandatangani [[perjanjian pencegahan bunuh diri]] di mana mereka sepakat untuk tidak menyakiti diri sendiri setelah keluar dari perawatan. Namun, belum ada bukti yang mendukung bahwa praktik tersebut memiliki efek yang signifikan. Jika pasiennya berisiko rendah, perawatan kesehatan mental [[pasien]] secara rawat jalan bisa dilakukan. Rawat inap jangka pendek belum terlihat lebih efektif dari kepedulian masyarakat dalam memperbaiki keadaan pada mereka yang mengalami [[gangguan kepribadian borderline]] yang secara kronis berupaya untuk bunuh diri.
Pada orang yang mengalami masalah kesehatan mental, sejumlah perawatan bisa mengurangi risiko bunuh diri. Mereka yang aktif berusaha bunuh diri bisa didaftarkan dalam rehabilitasi untuk mendapatkan perawatan kejiwaan baik secara sukarela atau secara paksa.<ref>B Chang. ''The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies''. ''Emergency medicine practice''. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.</ref> Barang yang bisa digunakan untuk menyakiti diri sendiri biasanya disingkirkan.<ref>Tintinalli, Judith E. ''Emergency Medicine: A Comprehensive Study Guide (Emergency Medicine (Tintinalli))''. McGraw-Hill Companies. 2010. hlm. 1940–1946. ISBN 0-07-148480-9.</ref> Beberapa dokter meminta pasiennya untuk menandatangani [[perjanjian pencegahan bunuh diri]] di mana mereka sepakat untuk tidak menyakiti diri sendiri setelah keluar dari perawatan.<ref>B Chang. ''The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies''. ''Emergency medicine practice''. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.</ref> Namun, belum ada bukti yang mendukung bahwa praktik tersebut memiliki efek yang signifikan.<ref>B Chang. ''The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies''. ''Emergency medicine practice''. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.</ref> Jika pasiennya berisiko rendah, perawatan kesehatan mental [[pasien]] secara rawat jalan bisa dilakukan.<ref>Tintinalli, Judith E. ''Emergency Medicine: A Comprehensive Study Guide (Emergency Medicine (Tintinalli))''. McGraw-Hill Companies. 2010. hlm. 1940–1946. ISBN 0-07-148480-9.</ref> Rawat inap jangka pendek belum terlihat lebih efektif dari kepedulian masyarakat dalam memperbaiki keadaan pada mereka yang mengalami [[gangguan kepribadian borderline]] yang secara kronis berupaya untuk bunuh diri.<ref>J Paris. [https://archive.org/details/sim_journal-of-personality-disorders_2004-06_18_3/page/240 Is hospitalization useful for suicidal patients with borderline personality disorder?]. ''Journal of personality disorders''. June 2004. Vol. 18 (3). hlm. 240–7. doi:10.1521/pedi.18.3.240.35443.</ref><ref>M Goodman. ''Suicidal risk and management in borderline personality disorder''. ''Current psychiatry reports''. 2012 Feb. Vol. 14 (1). hlm. 79–85. doi:10.1007/s11920-011-0249-4.</ref>


Terdapat bukti sementara bahwa [[psikoterapi]], khususnya [[terapi perilaku dialektis]], mengurangi risiko bunuh diri pada remaja serta yang mengalami [[gangguan kepribadian borderline]]. Namun, belum ada bukti penurunan bunuh diri yang dilakukan.
Terdapat bukti sementara bahwa [[psikoterapi]], khususnya [[terapi perilaku dialektis]], mengurangi risiko bunuh diri pada remaja<ref>(CADTH) Canadian Agency for Drugs and Technologies in Health. ''Dialectical behaviour therapy in adolescents for suicide prevention: systematic review of clinical-effectiveness''. ''CADTH technology overviews''. 2010. Vol. 1 (1). hlm. e0104.</ref> serta yang mengalami [[gangguan kepribadian borderline]].<ref>JM Stoffers. ''Psychological therapies for people with borderline personality disorder''. ''Cochrane database of systematic reviews (Online)''. 2012 Aug 15. Vol. 8. hlm. CD005652. doi:10.1002/14651858.CD005652.pub2.</ref> Namun, belum ada bukti penurunan bunuh diri yang dilakukan.<ref>(CADTH) Canadian Agency for Drugs and Technologies in Health. ''Dialectical behaviour therapy in adolescents for suicide prevention: systematic review of clinical-effectiveness''. ''CADTH technology overviews''. 2010. Vol. 1 (1). hlm. e0104.</ref>


Muncul kontroversi seputar manfaat dibandingkan bahaya [[antidepresan]]. Pada orang-orang muda, antidepresan yang baru seperti [[Selective serotonin reuptake inhibitor|SSRI]] tampaknya meningkatkan risiko bunuh diri dari 25 per 1000 menjadi 40 per 1000. Namun, antidepresan dapat menurunkan risiko bunuh diri pada orang yang lebih tua. [[Litium]] tampaknya efektif dalam menurunkan risiko pada mereka yang mengalami gangguan bipolar dan depresi unipolar hingga mendekati tingkat yang sama seperti populasi umum.
Muncul kontroversi seputar manfaat dibandingkan bahaya [[antidepresan]].<ref>K Hawton. [https://archive.org/details/sim_the-lancet_june-23-29-2012_379_9834/page/2373 Self-harm and suicide in adolescents]. ''Lancet''. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2373–82. doi:10.1016/S0140-6736(12)60322-5.</ref> Pada orang-orang muda, antidepresan yang baru seperti [[Selective serotonin reuptake inhibitor|SSRI]] tampaknya meningkatkan risiko bunuh diri dari 25 per 1000 menjadi 40 per 1000.<ref>SE Hetrick. ''Newer generation antidepressants for depressive disorders in children and adolescents''. ''Cochrane database of systematic reviews (Online)''. 2012 Nov 14. Vol. 11. hlm. CD004851. doi:10.1002/14651858.CD004851.pub3.</ref> Namun, antidepresan dapat menurunkan risiko bunuh diri pada orang yang lebih tua.<ref>B Chang. ''The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies''. ''Emergency medicine practice''. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.</ref> [[Litium]] tampaknya efektif dalam menurunkan risiko pada mereka yang mengalami gangguan bipolar dan depresi unipolar hingga mendekati tingkat yang sama seperti populasi umum.<ref>RJ Baldessarini. ''Lithium treatment and suicide risk in major affective disorders: update and new findings''. ''The Journal of clinical psychiatry''. 2003. Vol. 64 Suppl 5. hlm. 44–52.</ref><ref>A Cipriani. [https://archive.org/details/sim_american-journal-of-psychiatry_2005-10_162_10/page/1805 Lithium in the prevention of suicidal behavior and all-cause mortality in patients with mood disorders: a systematic review of randomized trials]. ''The American Journal of Psychiatry''. 2005 Oct. Vol. 162 (10). hlm. 1805–19. doi:10.1176/appi.ajp.162.10.1805.</ref>


== Epidemiologi ==
== Epidemiologi ==
Sekitar 0,5% hingga 1,4% orang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.<ref>B Chang. ''The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies''. ''Emergency medicine practice''. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.</ref><ref>P Värnik. ''Suicide in the world''. ''International journal of environmental research and public health''. 2012 Mar. Vol. 9 (3). hlm. 760–71. doi:10.3390/ijerph9030760.</ref> Secara global, sejak tahun 2008/2009, bunuh diri merupakan penyebab utama kematian kesepuluh<ref>Hawton K, van Heeringen K. [https://archive.org/details/sim_the-lancet_april-18-24-2009_373_9672/page/1372 Suicide]. ''Lancet''. 2009. Vol. 373 (9672). hlm. 1372–81. doi:10.1016/S0140-6736(09)60372-X.</ref> dengan sekitar 800.000 hingga satu juta orang meninggal setiap tahunnya, yang berarti [[angka kematian]] sebesar 11,6 per 100.000 orang per tahun.<ref>P Värnik. ''Suicide in the world''. ''International journal of environmental research and public health''. 2012 Mar. Vol. 9 (3). hlm. 760–71. doi:10.3390/ijerph9030760.</ref> Tingkat bunuh diri telah meningkat sebesar 60% dari tahun 1960 sampai 2012,<ref>[http://www.who.int/mental_health/prevention/suicide/suicideprevent/en/ Suicide prevention]. ''WHO Sites: Mental Health''. World Health Organization. Aug 31,2012.</ref> yang peningkatannya terlihat terutama di [[negara berkembang|negara-negara berkembang]].<ref>Hawton K, van Heeringen K. [https://archive.org/details/sim_the-lancet_april-18-24-2009_373_9672/page/1372 Suicide]. ''Lancet''. 2009. Vol. 373 (9672). hlm. 1372–81. doi:10.1016/S0140-6736(09)60372-X.</ref> Untuk setiap bunuh diri yang menyebabkan kematian, terdapat sekitar 10 hingga 40 percobaan bunuh diri.<ref>B Chang. ''The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies''. ''Emergency medicine practice''. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.</ref>


 
Tingkat bunuh diri berbeda secara signifikan antar negara dan dari waktu ke waktu.<ref>P Värnik. ''Suicide in the world''. ''International journal of environmental research and public health''. 2012 Mar. Vol. 9 (3). hlm. 760–71. doi:10.3390/ijerph9030760.</ref> Persentase kematian pada tahun 2008 yaitu: Afrika 0,5%, Asia Tenggara 1,9%, Amerika 1,2% dan Eropa 1,4%.<ref>P Värnik. ''Suicide in the world''. ''International journal of environmental research and public health''. 2012 Mar. Vol. 9 (3). hlm. 760–71. doi:10.3390/ijerph9030760.</ref> Untuk tingkat per 100.000: Australia 8,6, Canada 11,1, Cina 12,7, India 23,2, Inggris 7,6, Amerika Serikat 11,4.<ref>[http://www.who.int/healthinfo/global_burden_disease/estimates_country/en/index.html Deaths estimates for 2008 by cause for WHO Member States]. World Health Organization.</ref> Bunuh diri berada dalam peringkat 10 teratas untuk [[kematian|penyebab kematian]] di Amerika Serikat pada tahun 2009 dengan sekitar 36.000 kasus setahun.<ref>EM Haney. ''Suicide Risk Factors and Risk Assessment Tools: A Systematic Review''. 2012 Mar.</ref> Dan sekitar 650.000 orang masuk ke unit gawat darurat setiap tahun karena mencoba bunuh diri.<ref>B Chang. ''The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies''. ''Emergency medicine practice''. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.</ref> [[Lituania]], Jepang dan Hungaria memiliki angka tertinggi.<ref>P Värnik. ''Suicide in the world''. ''International journal of environmental research and public health''. 2012 Mar. Vol. 9 (3). hlm. 760–71. doi:10.3390/ijerph9030760.</ref> Negara-negara dengan jumlah mutlak kasus bunuh diri terbesar adalah Cina dan India yang jumlahnya lebih dari setengah jumlah total.<ref>P Värnik. ''Suicide in the world''. ''International journal of environmental research and public health''. 2012 Mar. Vol. 9 (3). hlm. 760–71. doi:10.3390/ijerph9030760.</ref> Di Cina, bunuh diri merupakan penyebab utama kematian ke-5.<ref>C Weiyuan. [https://archive.org/details/sim_world-health-organization-bulletin_2009-12_87_12/page/888 Women and suicide in rural China]. ''Bulletin of the World Health Organization''. 2009 Dec. Vol. 87 (12). hlm. 888–9. doi:10.2471/BLT.09.011209.</ref>
Sekitar 0,5% hingga 1,4% orang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Secara global, sejak tahun 2008/2009, bunuh diri merupakan penyebab utama kematian kesepuluh dengan sekitar 800.000 hingga satu juta orang meninggal setiap tahunnya, yang berarti [[angka kematian]] sebesar 11,6 per 100.000 orang per tahun. Tingkat bunuh diri telah meningkat sebesar 60% dari tahun 1960 sampai 2012, yang peningkatannya terlihat terutama di [[negara berkembang|negara-negara berkembang]]. Untuk setiap bunuh diri yang menyebabkan kematian, terdapat sekitar 10 hingga 40 percobaan bunuh diri.
 
Tingkat bunuh diri berbeda secara signifikan antar negara dan dari waktu ke waktu. Persentase kematian pada tahun 2008 yaitu: Afrika 0,5%, Asia Tenggara 1,9%, Amerika 1,2% dan Eropa 1,4%. Untuk tingkat per 100.000: Australia 8,6, Canada 11,1, Cina 12,7, India 23,2, Inggris 7,6, Amerika Serikat 11,4. Bunuh diri berada dalam peringkat 10 teratas untuk [[kematian|penyebab kematian]] di Amerika Serikat pada tahun 2009 dengan sekitar 36.000 kasus setahun. Dan sekitar 650.000 orang masuk ke unit gawat darurat setiap tahun karena mencoba bunuh diri. [[Lituania]], Jepang dan Hungaria memiliki angka tertinggi. Negara-negara dengan jumlah mutlak kasus bunuh diri terbesar adalah Cina dan India yang jumlahnya lebih dari setengah jumlah total. Di Cina, bunuh diri merupakan penyebab utama kematian ke-5.


=== Jenis Kelamin ===
=== Jenis Kelamin ===
 
Di dunia Barat, pria meninggal sebanyak tiga sampai empat kali lebih banyak dengan cara bunuh diri dibanding wanita, meskipun wanita mencoba bunuh diri empat kali lebih banyak.<ref>B Chang. ''The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies''. ''Emergency medicine practice''. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.</ref><ref>P Värnik. ''Suicide in the world''. ''International journal of environmental research and public health''. 2012 Mar. Vol. 9 (3). hlm. 760–71. doi:10.3390/ijerph9030760.</ref> Hal ini dikaitkan dengan pria yang menggunakan cara yang lebih mematikan untuk mengakhiri hidupnya.<ref>David Sue, Derald Wing Sue, Diane Sue, Stanley Sue. [http://books.google.ca/books?id=mTs--Kt-9a0C&pg=PA255 Understanding abnormal behavior]. Wadsworth/Cengage Learning. hlm. 255. ISBN 978-1-111-83459-3.</ref> Perbedaan ini bahkan lebih menonjol pada orang yang berusia di atas usia 65, dengan jumlah pria yang melakukan bunuh diri sepuluh kali lipat lebih banyak dibanding wanita.<ref>David Sue, Derald Wing Sue, Diane Sue, Stanley Sue. [http://books.google.ca/books?id=mTs--Kt-9a0C&pg=PA255 Understanding abnormal behavior]. Wadsworth/Cengage Learning. hlm. 255. ISBN 978-1-111-83459-3.</ref> [[Bunuh diri di Republik Rakyat Tiongkok|Tiongkok]] memiliki salah satu tingkat bunuh diri wanita tertinggi di dunia dan merupakan satu-satunya negara yang tingkatnya lebih tinggi dari laki-laki (rasio 0,9).<ref>P Värnik. ''Suicide in the world''. ''International journal of environmental research and public health''. 2012 Mar. Vol. 9 (3). hlm. 760–71. doi:10.3390/ijerph9030760.</ref><ref>C Weiyuan. [https://archive.org/details/sim_world-health-organization-bulletin_2009-12_87_12/page/888 Women and suicide in rural China]. ''Bulletin of the World Health Organization''. 2009 Dec. Vol. 87 (12). hlm. 888–9. doi:10.2471/BLT.09.011209.</ref> Di wilayah [[Mediterania Timur]], tingkat bunuh diri hampir setara antara pria dan wanita.<ref>P Värnik. ''Suicide in the world''. ''International journal of environmental research and public health''. 2012 Mar. Vol. 9 (3). hlm. 760–71. doi:10.3390/ijerph9030760.</ref> Untuk wanita, tingkat bunuh diri tertinggi ditemukan di [[Korea Selatan]] yaitu 22 per 100.000, dengan tingkat yang tinggi secara umum di Asia Tenggara dan Pasifik Barat.<ref>P Värnik. ''Suicide in the world''. ''International journal of environmental research and public health''. 2012 Mar. Vol. 9 (3). hlm. 760–71. doi:10.3390/ijerph9030760.</ref>
 
Di dunia Barat, pria meninggal sebanyak tiga sampai empat kali lebih banyak dengan cara bunuh diri dibanding wanita, meskipun wanita mencoba bunuh diri empat kali lebih banyak. Hal ini dikaitkan dengan pria yang menggunakan cara yang lebih mematikan untuk mengakhiri hidupnya. Perbedaan ini bahkan lebih menonjol pada orang yang berusia di atas usia 65, dengan jumlah pria yang melakukan bunuh diri sepuluh kali lipat lebih banyak dibanding wanita. [[Bunuh diri di Republik Rakyat Tiongkok|Tiongkok]] memiliki salah satu tingkat bunuh diri wanita tertinggi di dunia dan merupakan satu-satunya negara yang tingkatnya lebih tinggi dari laki-laki (rasio 0,9). Di wilayah [[Mediterania Timur]], tingkat bunuh diri hampir setara antara pria dan wanita. Untuk wanita, tingkat bunuh diri tertinggi ditemukan di [[Korea Selatan]] yaitu 22 per 100.000, dengan tingkat yang tinggi secara umum di Asia Tenggara dan Pasifik Barat.


=== Usia ===
=== Usia ===
Di banyak negara, tingkat bunuh diri tertinggi terjadi di usia paruh baya atau usia lanjut. Namun, jumlah mutlak bunuh diri terbesar terjadi pada mereka yang berusia antara 15 dan 29 tahun karena jumlah orang dalam kelompok usia tersebut. Di Amerika Serikat, yang terbesar yaitu pada pria [[ras kaukasoid|kaukasoid]] berusia lebih dari 80 tahun, meskipun orang muda lebih sering mencoba bunuh diri. Ini merupakan penyebab kematian paling umum kedua untuk [[remaja]] dan peringkat kedua setelah kematian karena kecelakaan pada pria muda. Pada pria muda di negara maju, bunuh diri adalah penyebab dari hampir 30% kematian. Di negara-negara berkembang, tingkatnya sama tetapi angka tersebut merupakan sebagian kecil kematian secara keseluruhan karena tingkat kematian yang lebih tinggi pada jenis [[trauma (kedokteran)|trauma]] lainnya. Di Asia Tenggara, berbeda dengan daerah lain di dunia, kematian akibat bunuh diri terjadi pada tingkat yang lebih besar pada wanita muda dibandingkan wanita usia lanjut.
Di banyak negara, tingkat bunuh diri tertinggi terjadi di usia paruh baya<ref>A Pitman. [https://archive.org/details/sim_the-lancet_june-23-29-2012_379_9834/page/2383 Suicide in young men]. ''Lancet''. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2383–92. doi:10.1016/S0140-6736(12)60731-4.</ref> atau usia lanjut.<ref>PS Yip. [https://archive.org/details/sim_the-lancet_june-23-29-2012_379_9834/page/2393 Means restriction for suicide prevention]. ''Lancet''. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2393–9. doi:10.1016/S0140-6736(12)60521-2.</ref> Namun, jumlah mutlak bunuh diri terbesar terjadi pada mereka yang berusia antara 15 dan 29 tahun karena jumlah orang dalam kelompok usia tersebut.<ref>P Värnik. ''Suicide in the world''. ''International journal of environmental research and public health''. 2012 Mar. Vol. 9 (3). hlm. 760–71. doi:10.3390/ijerph9030760.</ref> Di Amerika Serikat, yang terbesar yaitu pada pria [[ras kaukasoid|kaukasoid]] berusia lebih dari 80 tahun, meskipun orang muda lebih sering mencoba bunuh diri.<ref>B Chang. ''The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies''. ''Emergency medicine practice''. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.</ref> Ini merupakan penyebab kematian paling umum kedua untuk [[remaja]]<ref>K Hawton. [https://archive.org/details/sim_the-lancet_june-23-29-2012_379_9834/page/2373 Self-harm and suicide in adolescents]. ''Lancet''. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2373–82. doi:10.1016/S0140-6736(12)60322-5.</ref> dan peringkat kedua setelah kematian karena kecelakaan pada pria muda.<ref>A Pitman. [https://archive.org/details/sim_the-lancet_june-23-29-2012_379_9834/page/2383 Suicide in young men]. ''Lancet''. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2383–92. doi:10.1016/S0140-6736(12)60731-4.</ref> Pada pria muda di negara maju, bunuh diri adalah penyebab dari hampir 30% kematian.<ref>A Pitman. [https://archive.org/details/sim_the-lancet_june-23-29-2012_379_9834/page/2383 Suicide in young men]. ''Lancet''. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2383–92. doi:10.1016/S0140-6736(12)60731-4.</ref> Di negara-negara berkembang, tingkatnya sama tetapi angka tersebut merupakan sebagian kecil kematian secara keseluruhan karena tingkat kematian yang lebih tinggi pada jenis [[trauma (kedokteran)|trauma]] lainnya.<ref>A Pitman. [https://archive.org/details/sim_the-lancet_june-23-29-2012_379_9834/page/2383 Suicide in young men]. ''Lancet''. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2383–92. doi:10.1016/S0140-6736(12)60731-4.</ref> Di Asia Tenggara, berbeda dengan daerah lain di dunia, kematian akibat bunuh diri terjadi pada tingkat yang lebih besar pada wanita muda dibandingkan wanita usia lanjut.<ref>P Värnik. ''Suicide in the world''. ''International journal of environmental research and public health''. 2012 Mar. Vol. 9 (3). hlm. 760–71. doi:10.3390/ijerph9030760.</ref>
 
== Sejarah ==


Dalam sejarah [[Athena Klasik|Athena kuno]], orang yang melakukan bunuh diri tanpa persetujuan negara ditolak untuk dimakamkan secara wajar dengan penghormatan. Orang tersebut akan dimakamkan sendirian, di pinggiran kota, tanpa nisan atau tanda. Dalam sejarah [[Yunani Kuno]] dan [[Roma Kuno|Roma]] bunuh diri itu dianggap metode yang dapat diterima saat mengalami kalah perang. Di Roma kuno, bunuh diri pada awalnya diizinkan, tetapi kemudian hal tersebut dianggap sebagai kejahatan terhadap negara karena menimbulkan biaya. Peraturan pidana yang dikeluarkan oleh [[Raja Louis XIV dari Prancis]] pada tahun 1670 jauh lebih berat hukumannya: tubuh orang yang meninggal diseret melintasi jalan-jalan, dalam kondisi tertelungkup, dan kemudian digantung atau dibuang di tumpukan sampah. Selain itu, semua harta orang tersebut disita. Dalam sejarah gereja Kristen, orang yang mencoba bunuh diri [[pengucilan|dikucilkan]] dan mereka yang meninggal karena bunuh diri dimakamkan di luar kuburan suci. Pada akhir abad ke-19 di Inggris, mencoba bunuh diri itu dianggap sama dengan [[percobaan pembunuhan]] dan bisa dihukum gantung. Di Eropa pada abad ke-19, tindakan bunuh diri mengalami pergeseran pandangan dari sebelumnya sebagai tindakan akibat [[dosa]] menjadi akibat [[gila]].


== Sosial dan budaya ==
== Sosial dan budaya ==
=== Perundang-undangan ===
=== Perundang-undangan ===
Di sebagian besar negara-negara Barat, bunuh diri tidak lagi merupakan kejahatan,<ref>Tony White. [http://books.google.ca/books?id=p_ZvK-DBYfIC&pg=PT12 Working with suicidal individuals : a guide to providing understanding, assessment and support]. Jessica Kingsley Publishers. 2010. hlm. 12. ISBN 978-1-84905-115-6.</ref> tetapi masih dianggap demikian di sebagian besar negara-negara Eropa Barat mulai dari Abad Pertengahan sampai setidaknya tahun 1800-an.<ref>Irina Paperno. [http://books.google.ca/books?id=m3pqf8f-6bMC&pg=PA60 Suicide as a cultural institution in Dostoevsky's Russia]. Cornell university press. 1997. hlm. 60. ISBN 978-0-8014-8425-4.</ref> Banyak negara Islam yang menetapkan bunuh diri sebagai tindak pidana.<ref>D Lester. ''Suicide and islam''. ''Archives of suicide research : official journal of the International Academy for Suicide Research''. 2006. Vol. 10 (1). hlm. 77–97. doi:10.1080/13811110500318489.</ref>


Di Australia, bunuh diri bukan merupakan tindak pidana.<ref>David Lanham ... [et al.]. [http://books.google.ca/books?id=D97doQ1iZx4C&pg=PA229 Criminal laws in Australia]. The Federation Press. 2006. hlm. 229. ISBN 978-1-86287-558-6.</ref> Namun, menasihati, [[hasutan|menghasut]], atau membantu dan menghasut orang lain untuk mencoba bunuh diri merupakan tindak kejahatan, dan hukum secara eksplisit memungkinkan setiap orang untuk menggunakan "kekuatan yang sewajarnya diperlukan" untuk mencegah orang lain dari melakukan bunuh diri.<ref>Michael Costa, Mark Duffy. [http://books.google.ca/books?id=TqZqTHwvCH8C&pg=PA315 Labor, prosperity and the nineties : beyond the bonsai economy]. Federation Press. 1991. hlm. 315. ISBN 978-1-86287-060-4.</ref> Wilayah Barat Australia sempat secara singkat memiliki hukum bunuh diri yang dibantu dokter mulai dari tahun 1996 sampai 1997.<ref>Constance E. Putnam ; foreword by Timothy E. Quill. [http://books.google.ca/books?id=GmFwa3I7vqMC&pg=PA143 Hospice or hemlock? : searching for heroic compassion]. Praeger. 2002. hlm. 143. ISBN 978-0-89789-921-5.</ref>


Di sebagian besar negara-negara Barat, bunuh diri tidak lagi merupakan kejahatan, tetapi masih dianggap demikian di sebagian besar negara-negara Eropa Barat mulai dari Abad Pertengahan sampai setidaknya tahun 1800-an. Banyak negara Islam yang menetapkan bunuh diri sebagai tindak pidana.
Tidak satu pun negara di Eropa saat ini yang menganggap bahwa bunuh diri atau percobaan bunuh diri adalah sebuah kejahatan.<ref>Columba McLaughlin. [http://books.google.ca/books?id=I2FJRbekdC8C&pg=PA24 Suicide-related behaviour understanding, caring and therapeutic responses]. John Wiley & Sons. 2007. hlm. 24. ISBN 978-0-470-51241-8.</ref> Inggris dan Wales tidak menganggap lagi bunuh diri sebagai kejahatan melalui [[Suicide Act 1961]] dan di Republik Irlandia pada tahun 1993.<ref>Columba McLaughlin. [http://books.google.ca/books?id=I2FJRbekdC8C&pg=PA24 Suicide-related behaviour understanding, caring and therapeutic responses]. John Wiley & Sons. 2007. hlm. 24. ISBN 978-0-470-51241-8.</ref> Kata "commit" digunakan dalam referensi untuk itu menjadi ilegal tetapi banyak organisasi telah menghentikannya karena konotasi negatif.<ref>Holt, Gerry.[http://www.bbc.co.uk/news/magazine-14374296 "When suicide was illegal"]. BBC News. 3 August 2011. Accessed 11 August 2011.</ref><ref>[http://www.guardian.co.uk/styleguide/s Guardian & Observer style guide]. ''Guardian website''. The Guardian.</ref>
 
Di Australia, bunuh diri bukan merupakan tindak pidana. Namun, menasihati, [[hasutan|menghasut]], atau membantu dan menghasut orang lain untuk mencoba bunuh diri merupakan tindak kejahatan, dan hukum secara eksplisit memungkinkan setiap orang untuk menggunakan "kekuatan yang sewajarnya diperlukan" untuk mencegah orang lain dari melakukan bunuh diri. Wilayah Barat Australia sempat secara singkat memiliki hukum bunuh diri yang dibantu dokter mulai dari tahun 1996 sampai 1997.
 
Tidak satu pun negara di Eropa saat ini yang menganggap bahwa bunuh diri atau percobaan bunuh diri adalah sebuah kejahatan. Inggris dan Wales tidak menganggap lagi bunuh diri sebagai kejahatan melalui [[Suicide Act 1961]] dan di Republik Irlandia pada tahun 1993. Kata "commit" digunakan dalam referensi untuk itu menjadi ilegal tetapi banyak organisasi telah menghentikannya karena konotasi negatif.
 
Di India, bunuh diri merupakan tindakan ilegal dan keluarga yang masih hidup mungkin akan menghadapi kesulitan hukum. Di Jerman, eutanasia aktif merupakan tindakan ilegal dan siapa saja yang hadir selama berlangsungnya bunuh diri dapat dituntut karena gagal memberikan bantuan dalam keadaan darurat. [[Swiss]] baru-baru ini mengambil langkah untuk melegalkan [[bunuh diri yang dibantu]] untuk sakit mental yang kronis. Pengadilan tinggi [[Lausanne]], dalam putusannya tahun 2006, telah memberikan hak kepada seseorang tanpa nama yang memiliki gangguan kejiwaan yang lama untuk mengakhiri hidupnya sendiri.


Di Amerika Serikat, bunuh diri tidak ilegal, tetapi mungkin dikaitkan dengan hukuman bagi orang yang mencobanya. Bunuh diri yang dibantu dokter merupakan tindakan yang legal di negara bagian Oregon dan Washington.
Di India, bunuh diri merupakan tindakan ilegal dan keluarga yang masih hidup mungkin akan menghadapi kesulitan hukum.<ref>editors, Nitish Dogra, Sangeet Srivastava. [http://books.google.ca/books?id=UGrUgX-nKTIC&pg=PA256 Climate change and disease dynamics in India]. The Energy and Resources Institute. hlm. 256. ISBN 978-81-7993-412-8.</ref> Di Jerman, eutanasia aktif merupakan tindakan ilegal dan siapa saja yang hadir selama berlangsungnya bunuh diri dapat dituntut karena gagal memberikan bantuan dalam keadaan darurat.<ref>"German politician Roger Kusch helped elderly woman to die"[http://www.timesonline.co.uk/tol/news/world/europe/article4251894.ece Times Online] July 2, 2008</ref> [[Swiss]] baru-baru ini mengambil langkah untuk melegalkan [[bunuh diri yang dibantu]] untuk sakit mental yang kronis. Pengadilan tinggi [[Lausanne]], dalam putusannya tahun 2006, telah memberikan hak kepada seseorang tanpa nama yang memiliki gangguan kejiwaan yang lama untuk mengakhiri hidupnya sendiri.<ref>Appel, JM. [https://archive.org/details/sim_hastings-center-report_may-june-2007_37_3/page/n43 A Suicide Right for the Mentally Ill? A Swiss Case Opens a New Debate]. ''Hastings Center Report''. 2007. Vol. 37 (3). hlm. 21–23. doi:10.1353/hcr.2007.0035.</ref>


=== Sudut pandang agama ===
Di Amerika Serikat, bunuh diri tidak ilegal, tetapi mungkin dikaitkan dengan hukuman bagi orang yang mencobanya.<ref>Columba McLaughlin. [http://books.google.ca/books?id=I2FJRbekdC8C&pg=PA24 Suicide-related behaviour understanding, caring and therapeutic responses]. John Wiley & Sons. 2007. hlm. 24. ISBN 978-0-470-51241-8.</ref> Bunuh diri yang dibantu dokter merupakan tindakan yang legal di negara bagian Oregon<ref>[http://www.leg.state.or.us/ors/127.html Chapter 127.800–995 The Oregon Death with Dignity Act]. Oregon State Legislature.</ref> dan Washington.<ref>[http://apps.leg.wa.gov/RCW/default.aspx?cite=70.245 Chapter 70.245 RCW, The Washington death with dignity act]. ''Washington State Legislature''.</ref>


Di sebagian besar bentuk kekristenan, bunuh diri dianggap [[dosa]], didasarkan terutama pada tulisan-tulisan para pemikir Kristen berpengaruh dari [[Abad Pertengahan]], seperti [[Santo Agustinus]] dan [[Santo Thomas Aquinas]]; tetapi bunuh diri tidak dianggap sebagai dosa oleh ''[[Codex Justinianus]]'' di [[Kekaisaran Romawi Timur]]. Dalam Doktrin Katolik, argumen didasarkan pada [[Sepuluh Perintah Tuhan|perintah Tuhan]] "Tidak boleh membunuh" (diberlakukan dalam [[Perjanjian Baru]] oleh Yesus dalam [[Injil Matius|Matius 19:18]]), serta pemikiran bahwa hidup adalah karunia yang diberikan oleh Tuhan yang tidak boleh ditolak, dan bahwa bunuh diri merupakan tindakan melawan "hukum alam" sehingga mengganggu rencana utama Allah bagi dunia.
Namun, diyakini bahwa penyakit mental atau rasa takut menderita yang besar mengurangi beban tanggung jawab seseorang terhadap tindakannya melakukan bunuh diri. Argumen yang berlawanan di antaranya: bahwa [[Sepuluh Perintah Tuhan|perintah keenam]] secara lebih tepat diterjemahkan menjadi "jangan membunuh", belum tentu berlaku untuk diri sendiri, bahwa Tuhan telah memberikan kebebasan berkehendak kepada manusia; di mana seseorang yang mengakhiri hidupnya sendiri tidak lagi melanggar Hukum Tuhan lebih dari usaha untuk menyembuhkan penyakit; dan bahwa sejumlah kasus bunuh diri yang dilakukan oleh para pengikut Tuhan tercatat dalam Alkitab tanpa ada hukuman yang mengerikan.
Yudaisme berfokus pada pentingnya menghargai hidup ini, dan dengan demikian, bunuh diri sama saja dengan mengingkari kebaikan Tuhan di dunia. Meskipun demikian, dalam keadaan yang ekstrem bila tampaknya tidak ada pilihan selain dibunuh atau dipaksa untuk mengkhianati agama mereka, orang-orang Yahudi melakukan bunuh diri individual atau [[bunuh diri massal]] (lihat [[Masada]], [[Sejarah Orang Yahudi di Prancis#Penyiksaan pertama terhadap orang Yahudi|Penyiksaan pertama terhadap orang Yahudi di Prancis]], dan [[Kastil York]] misalnya) dan bahkan sebagai peringatan yang kelam terdapat doa dalam liturgi Yahudi yaitu "ketika pisau berada di tenggorokan", bagi mereka yang mati "untuk menguduskan Nama Tuhan" (lihat [[Martir]]). Tindakan ini menerima tanggapan beragam dari otoritas Yahudi, yang oleh sejumlah orang dianggap sebagai contoh kemartiran yang heroik, sementara yang lain menyatakan bahwa hal tersebut merupakan tindakan yang salah, yaitu mengakhiri hidup mereka sendiri justru saat akan menghadapi kemartiran.
Bunuh diri tidak diperbolehkan dalam ajaran agama Islam. Dalam ajaran agama [[Hindu]], bunuh diri umumnya tidak disukai dan dianggap berdosa sama seperti membunuh orang lain dalam masyarakat kontemporer Hindu. [[Kitab agama Hindu|Kitab Suci Agama Hindu]] menyatakan bahwa orang yang melakukan bunuh diri akan menjadi bagian dari dunia roh, bergentayangan di bumi sampai waktu di mana ia akan bertemu dengan orang yang tidak bunuh diri. Namun, ajaran Hindu menerima [[hak untuk mati|hak untuk mengakhiri hidup seseorang]] melalui praktik non-kekerasan yaitu puasa sampai mati yang disebut dengan ''[[Prayopawesa]]''. Namun Prayopawesa secara ketat dibatasi terbatas bagi orang yang tidak lagi memiliki keinginan atau ambisi, dan tidak ada tanggung jawab yang tersisa dalam hidupnya. [[Jainisme]] memiliki praktik yang serupa bernama ''[[Santhara]]''. [[(praktik) sati|Sati]], atau membakar diri yang dilakukan oleh seorang janda merupakan hal yang lazim dalam masyarakat Hindu selama Abad Pertengahan.


=== Filosofi ===
=== Filosofi ===
Sejumlah pertanyaan diajukan dalam filosofi bunuh diri, termasuk apa yang termasuk dalam kategori bunuh diri, apakah bunuh diri bisa menjadi pilihan yang rasional atau tidak, dan kebolehan secara moral untuk bunuh diri.<ref>[http://plato.stanford.edu/entries/suicide/ Suicide (Stanford Encyclopedia of Philosophy)]. Plato.stanford.edu.</ref> Argumen filosofis terkait apakah bunuh diri bisa diterima secara moral atau tidak berkisar dari oposisi yang kuat, (melihat bunuh diri sebagai tindakan tidak etis dan tidak bermoral), hingga persepsi bahwa bunuh diri sebagai hak [[sakral]] bagi siapa saja (bahkan bagi orang yang masih muda dan sehat) yang merasa yakin bahwa mereka secara rasional dan sadar dapat mengambil keputusan untuk mengakhiri hidup mereka sendiri.


Sejumlah pertanyaan diajukan dalam filosofi bunuh diri, termasuk apa yang termasuk dalam kategori bunuh diri, apakah bunuh diri bisa menjadi pilihan yang rasional atau tidak, dan kebolehan secara moral untuk bunuh diri. Argumen filosofis terkait apakah bunuh diri bisa diterima secara moral atau tidak berkisar dari oposisi yang kuat, (melihat bunuh diri sebagai tindakan tidak etis dan tidak bermoral), hingga persepsi bahwa bunuh diri sebagai hak [[sakral]] bagi siapa saja (bahkan bagi orang yang masih muda dan sehat) yang merasa yakin bahwa mereka secara rasional dan sadar dapat mengambil keputusan untuk mengakhiri hidup mereka sendiri.
Para penentang bunuh diri termasuk para filsuf Kristen seperti [[Augustine of Hippo]] dan [[Thomas Aquinas]], [[Immanuel Kant]] dan, boleh dibilang, [[John Stuart Mill]] – Fokus Mill tentang pentingnya [[kebebasan]] dan [[otonomi]] berarti bahwa ia menolak pilihan yang akan mencegah seseorang membuat keputusan otonom pada masa depan. Orang lain melihat bunuh diri sebagai masalah pilihan pribadi yang sah-sah saja. Para pendukung posisi ini mempertahankan bahwa tidak ada yang harus dipaksa menderita dengan melawan keinginan mereka, terutama dari kondisi seperti penyakit yang tidak tersembuhkan, penyakit mental, dan usia tua yang sudah tidak mungkin lagi mengalami perbaikan. Mereka menolak keyakinan bahwa bunuh diri itu selalu irasional, dengan alasan bahwa tindakan itu dapat menjadi pilihan terakhir yang berlaku bagi mereka yang mengidap penyakit atau trauma berat yang berkepanjangan. Pendirian yang lebih kuat berpendapat bahwa orang harus diperbolehkan untuk secara mandiri memilih mati terlepas apakah mereka sedang menderita atau tidak. Pendukung terkemuka untuk [[aliran pemikiran]] ini di antaranya pakar empiris Skotlandia [[David Hume]] dan pakar bioetika Amerika [[Jacob M. Appel|Jacob Appel]].


=== Pembelaan ===
=== Pembelaan ===
Pembelaan atas tindakan bunuh diri terjadi di banyak kultur dan [[sub-kultur]]. [[Militer Jepang]] selama Perang Dunia II menyemangati dan memuliakan serangan [[kamikaze]], yaitu serangan bunuh diri oleh penerbang militer Kekaisaran Jepang terhadap kapal angkatan laut Sekutu pada tahap penutupan kampanye Pasifik dalam Perang Dunia II. Masyarakat Jepang secara keseluruhan telah digambarkan bersikap "toleran" terhadap tindakan bunuh diri<ref>C Ozawa-de Silva. [https://archive.org/details/sim_culture-medicine-and-psychiatry_2008-12_32_4/page/516 Too lonely to die alone: internet suicide pacts and existential suffering in Japan]. ''Culture, medicine and psychiatry''. 2008 Dec. Vol. 32 (4). hlm. 516–51. doi:10.1007/s11013-008-9108-0.</ref> (lihat [[Bunuh diri di Jepang]]).


 
[[Bunuh diri dan Internet|Pencarian tentang bunuh diri lewat Internet]] menghasilkan bahwa 10-30% laman web berisikan dorongan atau fasilitasi untuk upaya bunuh diri. Ada sejumlah kekhawatiran bahwa situs-situs tersebut dapat mendorong orang-orang cenderung melakukannya. Sejumlah orang membentuk [[kelompok bunuh diri]] secara online, baik bersama teman yang sudah ada sebelumnya atau dengan orang yang baru dijumpai dalam [[ruang obrolan]] atau [[Forum Internet|papan pesan]]. Meskipun demikian, Internet juga dapat membantu mencegah tindakan bunuh diri dengan menyediakan kelompok sosial bagi orang yang terisolasi.<ref>T Durkee. ''Internet pathways in suicidality: a review of the evidence''. ''International journal of environmental research and public health''. 2011 Oct. Vol. 8 (10). hlm. 3938–52. doi:10.3390/ijerph8103938.</ref>
Pembelaan atas tindakan bunuh diri terjadi di banyak kultur dan [[sub-kultur]]. [[Militer Jepang]] selama Perang Dunia II menyemangati dan memuliakan serangan [[kamikaze]], yaitu serangan bunuh diri oleh penerbang militer Kekaisaran Jepang terhadap kapal angkatan laut Sekutu pada tahap penutupan kampanye Pasifik dalam Perang Dunia II. Masyarakat Jepang secara keseluruhan telah digambarkan bersikap "toleran" terhadap tindakan bunuh diri (lihat [[Bunuh diri di Jepang]]).
 
[[Bunuh diri dan Internet|Pencarian tentang bunuh diri lewat Internet]] menghasilkan bahwa 10-30% laman web berisikan dorongan atau fasilitasi untuk upaya bunuh diri. Ada sejumlah kekhawatiran bahwa situs-situs tersebut dapat mendorong orang-orang cenderung melakukannya. Sejumlah orang membentuk [[kelompok bunuh diri]] secara online, baik bersama teman yang sudah ada sebelumnya atau dengan orang yang baru dijumpai dalam [[ruang obrolan]] atau [[Forum Internet|papan pesan]]. Meskipun demikian, Internet juga dapat membantu mencegah tindakan bunuh diri dengan menyediakan kelompok sosial bagi orang yang terisolasi.


=== Lokasi ===
=== Lokasi ===
Beberapa tempat tertentu menjadi terkenal karena tingginya tingkat upaya bunuh diri.<ref>edited by David Picard, Mike Robinson. [http://books.google.ca/books?id=PjuY_4Vy_UUC&pg=PT176 Emotion in motion : tourism, affect and transformation]. Ashgate. hlm. 176. ISBN 978-1-4094-2133-7.</ref> Tempat-tempat tersebut di antaranya [[Jembatan Golden Gate]] di [[San Fransisco]] [[Amerika Serikat]], [[Aokigahara|Hutan Aokigahara]] di [[Jepang]],<ref>ed. by Peter Robinson. [http://books.google.ca/books?id=219aFMSRPqgC&pg=PA172 Research themes for tourism]. CABI. 2010. hlm. 172. ISBN 978-1-84593-684-6.</ref> [[Beachy Head]] di [[Inggris]],<ref>edited by David Picard, Mike Robinson. [http://books.google.ca/books?id=PjuY_4Vy_UUC&pg=PT176 Emotion in motion : tourism, affect and transformation]. Ashgate. hlm. 176. ISBN 978-1-4094-2133-7.</ref> dan [[Jembatan Bloor Street]] di [[Toronto]] [[Kanada]].<ref>Richard Dennis. [http://books.google.ca/books?id=Gq9_uNNkmKUC&pg=PA20 Cities in modernity : representations and productions of metropolitan space, 1840 – 1930]. Cambridge Univ. Press. 2008. hlm. 20. ISBN 978-0-521-46841-1.</ref>


Beberapa tempat tertentu menjadi terkenal karena tingginya tingkat upaya bunuh diri. Tempat-tempat tersebut di antaranya [[Jembatan Golden Gate]] di [[San Fransisco]] [[Amerika Serikat]], [[Aokigahara|Hutan Aokigahara]] di [[Jepang]], [[Beachy Head]] di [[Inggris]], dan [[Jembatan Bloor Street]] di [[Toronto]] [[Kanada]].
Sampai tahun 2010, [[Jembatan Golden Gate]] telah menjadi tempat lebih dari 1.300 tindakan bunuh diri dengan cara melompat semenjak jembatan tersebut dibangun pada tahun 1937.<ref>Tim McDougall. [http://books.google.ca/books?id=2VfP1-o0BgcC&pg=PA23 Helping children and young people who self-harm : an introduction to self-harming and suicidal behaviours for health professionals]. Routledge. 2010. hlm. 23. ISBN 978-0-415-49913-2.</ref> Di lokasi-lokasi di mana sering kali terjadi peristiwa bunuh diri telah dibuatkan penghalang untuk mencegahnya.<ref>John Bateson. [http://books.google.ca/books?id=GUzq5qNegkYC&pg=PA180 Building hope : leadership in the nonprofit world]. Praeger. 2008. hlm. 180. ISBN 978-0-313-34851-8.</ref> Di antaranya [[Luminous Veil]] di [[Toronto]], [[Kanada]]<ref>Richard Dennis. [http://books.google.ca/books?id=Gq9_uNNkmKUC&pg=PA20 Cities in modernity : representations and productions of metropolitan space, 1840 – 1930]. Cambridge Univ. Press. 2008. hlm. 20. ISBN 978-0-521-46841-1.</ref> dan penghalang pada [[Menara Eiffel]] di [[Paris]], [[Prancis]], serta [[Empire State Building]] di [[New York]], [[Amerika Serikat]].<ref>John Bateson. [http://books.google.ca/books?id=GUzq5qNegkYC&pg=PA180 Building hope : leadership in the nonprofit world]. Praeger. 2008. hlm. 180. ISBN 978-0-313-34851-8.</ref> Pada tahun 2011, sebuah penghalang sedang dibangun untuk [[Jembatan Golden Gate]].<ref>David Miller. [http://books.google.ca/books?id=bAHcIUDoVEoC&pg=PA46 Child and Adolescent Suicidal Behavior: School-Based Prevention, Assessment, and Intervention]. 2011. hlm. 46. ISBN 978-1-60623-997-1.</ref> Penghalang tersebut secara umum terlihat sangat efektif.<ref>David Miller. [http://books.google.ca/books?id=bAHcIUDoVEoC&pg=PA46 Child and Adolescent Suicidal Behavior: School-Based Prevention, Assessment, and Intervention]. 2011. hlm. 46. ISBN 978-1-60623-997-1.</ref>
 
Sampai tahun 2010, [[Jembatan Golden Gate]] telah menjadi tempat lebih dari 1.300 tindakan bunuh diri dengan cara melompat semenjak jembatan tersebut dibangun pada tahun 1937. Di lokasi-lokasi di mana sering kali terjadi peristiwa bunuh diri telah dibuatkan penghalang untuk mencegahnya. Di antaranya [[Luminous Veil]] di [[Toronto]], [[Kanada]] dan penghalang pada [[Menara Eiffel]] di [[Paris]], [[Prancis]], serta [[Empire State Building]] di [[New York]], [[Amerika Serikat]]. Pada tahun 2011, sebuah penghalang sedang dibangun untuk [[Jembatan Golden Gate]]. Penghalang tersebut secara umum terlihat sangat efektif.


== Makhluk hidup lain ==
== Makhluk hidup lain ==
Mengingat tindakan bunuh diri memerlukan upaya yang dilakukan dengan sengaja agar mati, maka sejumlah orang merasa bahwa hal tersebut tidak dapat terjadi pada makhluk hidup selain manusia. Perilaku bunuh diri telah diamati pada [[salmonella]] yang berusaha mengatasi bakteri pesaing dengan memicu respons [[sistem kekebalan tubuh]] yang membahayakan mereka sendiri. Pertahanan bunuh diri oleh para pekerja juga terlihat pada semut Brasil ''Forelius pusillus'' di mana sekelompok kecil semut meninggalkan sarangnya yang aman setelah menyegel pintu masuk dari luar setiap malam hari.
Mengingat tindakan bunuh diri memerlukan upaya yang dilakukan dengan sengaja agar mati, maka sejumlah orang merasa bahwa hal tersebut tidak dapat terjadi pada makhluk hidup selain manusia.<ref>Ronald Maris. [http://books.google.ca/books?id=Zi-xoFAPnPMC&pg=PA97 Comprehensive textbook of suicidology]. Guilford Press. 2000. hlm. 97–103. ISBN 978-1-57230-541-0.</ref> Perilaku bunuh diri telah diamati pada [[salmonella]] yang berusaha mengatasi bakteri pesaing dengan memicu respons [[sistem kekebalan tubuh]] yang membahayakan mereka sendiri.<ref>Chang, Kenneth. [http://www.nytimes.com/2008/08/26/science/26obsalm.html?ref=science In Salmonella Attack, Taking One for the Team]. New York Times. August 25, 2008.</ref> Pertahanan bunuh diri oleh para pekerja juga terlihat pada semut Brasil ''Forelius pusillus'' di mana sekelompok kecil semut meninggalkan sarangnya yang aman setelah menyegel pintu masuk dari luar setiap malam hari.<ref>Tofilski,Adam; Couvillon, MJ;Evison, SEF; Helantera, H; Robinson, EJH; Ratnieks, FLW. [http://www.cyf-kr.edu.pl/~rotofils/Tofilski_etal_2008.pdf Preemptive Defensive Self-Sacrifice by Ant Workers]. ''The American Naturalist''. 2008. Vol. 172 (5). hlm. E239–E243. doi:10.1086/591688.</ref>


[[Kutu Pea]], saat terancam oleh [[kepik]], dapat meledakkan dirinya sendiri, berhamburan dan melindungi saudara-saudaranya dan bahkan terkadang ledakan tersebut akan membunuh kepik. Beberapa spesies [[rayap]] memiliki pasukan yang meledak, yang menutupi musuh-musuhnya dengan perekat lengket.
[[Kutu Pea]], saat terancam oleh [[kepik]], dapat meledakkan dirinya sendiri, berhamburan dan melindungi saudara-saudaranya dan bahkan terkadang ledakan tersebut akan membunuh kepik.<ref>Larry O'Hanlon. [http://news.discovery.com/animals/animal-suicide-behavior.html Animal Suicide Sheds Light on Human Behavior]. Discovery News. Mar 10, 2010.</ref> Beberapa spesies [[rayap]] memiliki pasukan yang meledak, yang menutupi musuh-musuhnya dengan perekat lengket.<ref>[http://www.bbc.co.uk/pressoffice/pressreleases/stories/2005/10_october/20/life_horrors.shtml Life In The Undergrowth]. BBC.</ref><ref>Bordereau, C. [http://www.springerlink.com/content/m727aywa4mdf04ln/ Suicidal defensive behaviour by frontal gland dehiscence in Globitermes sulphureus Haviland soldiers (Isoptera)]. ''Insectes Sociaux''. Birkhäuser Basel. August, 1997. Vol. 44 (3). hlm. 289. doi:10.1007/s000400050049.</ref>


Ada laporan anekdotal tentang anjing, kuda dan lumba-lumba yang melakukan bunuh diri, meskipun buktinya sedikit. Sedikit sekali studi ilmiah yang dilakukan pada binatang yang bunuh diri.
Ada laporan anekdotal tentang anjing, kuda dan lumba-lumba yang melakukan bunuh diri, meskipun buktinya sedikit.<ref>Nobel, Justin. [http://www.time.com/time/health/article/0,8599,1973486,00.html Do Animals Commit Suicide? A Scientific Debate]. Time. Mar. 19, 2010.</ref> Sedikit sekali studi ilmiah yang dilakukan pada binatang yang bunuh diri.<ref>Stoff, David. [http://www3.interscience.wiley.com/journal/120752899/abstract Suicide Research]. ''Annals of the New York Academy of Sciences''. 1997. Vol. 836 (Neurobiology of Suicide, The : From the Bench to the Clinic). hlm. 1–11. doi:10.1111/j.1749-6632.1997.tb52352.x.</ref>


== Kasus-kasus terkenal ==
== Kasus-kasus terkenal ==
Contoh bunuh diri massal yaitu [[bunuh diri sekte]] "[[Jonestown]]" pada tahun 1978, di mana 918 orang anggota [[Peoples Temple]], sebuah [[sekte]] di Amerika yang dipimpin oleh [[Jim Jones]], mengakhiri hidup mereka dengan minum anggur [[Flavor Aid]] yang dicampur dengan [[Kalium sianida|sianida]]. Lebih dari 10.000 warga sipil Jepang melakukan bunuh diri pada hari-hari terakhir [[Pertempuran Saipan]] pada tahun 1944, sejumlah orang melompat ke dalam "Jurang Bunuh Diri" dan "Jurang Banzai".
Contoh bunuh diri massal yaitu [[bunuh diri sekte]] "[[Jonestown]]" pada tahun 1978, di mana 918 orang anggota [[Peoples Temple]], sebuah [[sekte]] di Amerika yang dipimpin oleh [[Jim Jones]], mengakhiri hidup mereka dengan minum anggur [[Flavor Aid]] yang dicampur dengan [[Kalium sianida|sianida]].<ref>Hall 1987, p.282</ref><ref>[http://jonestown.sdsu.edu/AboutJonestown/Tapes/Tapes/DeathTape/death.html "Jonestown Audiotape Primary Project."]''Alternative Considerations of Jonestown and Peoples Temple''. San Diego State University.</ref><ref>"1978:[http://news.bbc.co.uk/onthisday/hi/dates/stories/november/18/newsid_2540000/2540209.stmMassSuicide Leaves 900 Dead]". Retrieved 9 November 2011.</ref> Lebih dari 10.000 warga sipil Jepang melakukan bunuh diri pada hari-hari terakhir [[Pertempuran Saipan]] pada tahun 1944, sejumlah orang melompat ke dalam "Jurang Bunuh Diri" dan "Jurang Banzai".<ref>John Toland, ''The Rising Sun: The Decline and Fall of the Japanese Empire 1936–1945'', Random House, 1970, p. 519</ref>


[[Aksi mogok makan di Irlandia tahun 1981|Aksi mogok makan 1981]], yang dipimpin oleh [[Bobby Sands]], menyebabkan 10 orang meninggal dunia. Penyebab kematian tersebut dicatat oleh [[petugas forensik]] sebagai "kelaparan, pemaksaan diri" alih-alih bunuh diri; penyebabnya telah dimodifikasi menjadi hanya "kelaparan" pada surat kematian setelah mendapat protes dari keluarga pengunjuk rasa yang mati. [[Erwin Rommel]] selama Perang Dunia II diketahui menyembunyikan rahasia tentang [[Plot 20 Juli]] terkait kehidupan Hitler dan diancam dengan [[pengadilan publik]], hukuman mati dan balas dendam terhadap keluarganya kecuali jika ia mengakhiri hidupnya sendiri.
[[Aksi mogok makan di Irlandia tahun 1981|Aksi mogok makan 1981]], yang dipimpin oleh [[Bobby Sands]], menyebabkan 10 orang meninggal dunia. Penyebab kematian tersebut dicatat oleh [[petugas forensik]] sebagai "kelaparan, pemaksaan diri" alih-alih bunuh diri; penyebabnya telah dimodifikasi menjadi hanya "kelaparan" pada surat kematian setelah mendapat protes dari keluarga pengunjuk rasa yang mati.<ref>[http://www.jstor.org/pss/3750951 Suicide and Self-Starvation], Terence M. O'Keeffe, ''Philosophy'', Vol. 59, No. 229 (Jul., 1984), pp. 349–363</ref> [[Erwin Rommel]] selama Perang Dunia II diketahui menyembunyikan rahasia tentang [[Plot 20 Juli]] terkait kehidupan Hitler dan diancam dengan [[pengadilan publik]], hukuman mati dan balas dendam terhadap keluarganya kecuali jika ia mengakhiri hidupnya sendiri.<ref>Bruce Watson. [https://archive.org/details/exitrommeltunisi0000wats Exit Rommel: The Tunisian Campaign, 1942–43]. Stackpole Books. 2007. hlm. [https://archive.org/details/exitrommeltunisi0000wats/page/170 170]. ISBN 978-0-8117-3381-6.</ref>


== Catatan ==
== Catatan ==
== Bacaan lebih lanjut ==
== Bacaan lebih lanjut ==
*
*  
*
*  


== Lihat pula ==
== Lihat pula ==
Baris 183: Baris 149:


== Pranala luar ==
== Pranala luar ==
*
*


== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


== Sumber dan atribusi ==
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bunuh+diri&oldid=29552914 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29552914 (2026-08-10T08:52:29Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bunuh+diri&oldid=29552914 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29552914 (2026-08-10T08:52:29Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 9 September 2026 09.11

Edouard Manet - Le Suicidé

Bunuh diri (sering disingkat sebagai bundir[1]) adalah sebuah tindakan sengaja yang menyebabkan kematian pada diri sendiri. Bunuh diri sering kali dilakukan akibat putus asa, yang penyebabnya sering kali dikaitkan dengan gangguan jiwa misalnya depresi, gangguan bipolar, skizofrenia, ketergantungan alkohol, atau penyalahgunaan obat.[2] Faktor-faktor penyebab stres antara lain kesulitan keuangan atau masalah dalam hubungan intrapribadi sering kali ikut berperan. Upaya untuk mencegah bunuh diri antara lain adalah dengan pembatasan akses terhadap senjata api, merawat penyakit jiwa dan penyalahgunaan obat, serta meningkatkan kondisi ekonomi.

Terdapat beberapa metode yang paling sering digunakan untuk bunuh diri di berbagai negara dan sebagian terkait dengan keberadaan metode tersebut. Metode yang umum antara lain: gantung diri, racun serangga, dan senjata api. Sekitar 800.000 hingga satu juta orang meninggal karena bunuh diri setiap tahun, sehingga bunuh diri menduduki posisi ke-10 sebagai penyebab kematian terbesar di dunia.[3] Angka bunuh diri tercatat lebih banyak dilakukan oleh pria ketimbang wanita, dengan kemungkinan tiga sampai empat kali lebih besar seorang pria melakukan bunuh diri dibandingkan wanita.[4] Tercatat ada sekitar 10 hingga 20 juta kasus percobaan bunuh diri yang gagal setiap tahun.[5] Percobaan bunuh diri semacam ini lebih sering dilakukan remaja dan wanita.

Cara pandang terhadap bunuh diri selama ini dipengaruhi oleh konsep eksistensi yang luas seperti agama, kehormatan, dan makna hidup. Agama Abrahamik secara tradisional menganggap bunuh diri sebagai perbuatan dosa karena kepercayaan bahwa kehidupan itu suci. Selama era samurai di Jepang, seppuku dijunjung tinggi sebagai sarana pertobatan akibat kegagalan atau sebagai bentuk protes. Bbc.co.uk. 2002-08-07.</ref>

Dahulu di kebanyakan negara barat, bunuh diri maupun percobaan bunuh diri merupakan tindakan kriminal yang bisa membuat seseorang dihukum, tetapi sekarang hukum tersebut sudah tidak berlaku lagi. Namun di kebanyakan negara Islam, tindakan ini masih dianggap melanggar hukum. Pada abad ke-20 dan ke-21, bunuh diri dalam bentuk pengorbanan diri digunakan sebagai sarana protes, dan kamikaze serta bom bunuh diri digunakan sebagai taktik militer atau terorisme.[6]

Penjelasan

Bunuh diri, yang juga disebut sebagai bunuh diri berhasil, adalah "tindakan mengambil nyawa diri sendiri".[7] Percobaan bunuh diri atau perilaku bunuh diri yang tidak fatal adalah perbuatan melukai diri sendiri dengan maksud untuk mengakhiri nyawa seseorang tetapi tidak berakhir dengan kematian.[8] Bunuh diri dengan bantuan adalah ketika seseorang membantu orang lain mengakhiri nyawanya secara tidak langsung melalui pemberian saran atau sarana sampai kematian terjadi.[9] Bunuh diri semacam ini merupakan kebalikan dari euthanasia ketika orang lain lebih memiliki peran aktif dalam mendatangkan kematian bagi seseorang.[10] Ide bunuh diri adalah pemikiran untuk mengakhiri hidup seseorang.[11]

Faktor-faktor risiko

Faktor-faktor yang memengaruhi risiko bunuh diri antara lain gangguan jiwa, penyalahgunaan obat, kondisi psikologis, budaya, kondisi keluarga dan masyarakat, dan genetik.[12] Penyakit jiwa dan penyalahgunaan zat biasanya saling berkaitan.[13] Faktor risiko lain termasuk pernah melakukan percobaan bunuh diri,[14] adanya sarana yang tersedia untuk melakukan tindakan tersebut, peristiwa bunuh diri dalam sejarah keluarga, atau adanya luka trauma otak.[15] Contohnya, angka bunuh diri di keluarga yang memiliki senjata api jumlahnya lebih besar daripada di keluarga yang tidak memilikinya.[16] Faktor sosial ekonomi seperti pengangguran, kemiskinan, gelandangan, dan diskriminasi dapat mendorong pemikiran untuk melakukan bunuh diri.[17] Sekitar 15-40% pelaku meninggalkan sebuah pesan bunuh diri.[18] Faktor genetik sepertinya bertanggung jawab terhadap perilaku bunuh diri sebesar 38% hingga 55%.[19] Veteran perang memiliki risiko lebih besar untuk melakukan bunuh diri yang sebagian disebabkan oleh tingginya angka penyakit jiwa dan masalah kesehatan fisik yang terkait perang.[20]

Gangguan jiwa

Gangguan jiwa sering kali terjadi pada seseorang saat melakukan bunuh diri dengan angka kejadian berkisar antara 27%[21] hingga lebih dari 90%.[22] Orang yang pernah dirawat di rumah sakit jiwa memiliki risiko melakukan tindakan bunuh diri yang berhasil sebesar 8.6% selama hidupnya.[23] Sebagian dari orang yang meninggal karena bunuh diri bisa jadi memiliki gangguan depresi mayor. Orang yang mengidap gangguan depresi mayor atau salah satu dari gangguan keadaan jiwa seperti gangguan bipolar memiliki risiko lebih tinggi, hingga mencapai 20 kali lipat, untuk melakukan bunuh diri.[24] Kondisi lain yang turut terlibat adalah skizofrenia (14%), gangguan kepribadian (14%),[25] gangguan bipolar,[26] dan gangguan stres pasca-trauma.[27] Sekitar 5% pengidap skizofrenia mati karena bunuh diri.[28] Gangguan makan juga merupakan kondisi berisiko tinggi lainnya.[29]

Riwayat percobaan bunuh diri pada masa lalu merupakan alat prediksi terbaik terjadinya tindakan bunuh diri yang akhirnya berhasil.[30] Kira-kira 20% bunuh diri menunjukkan adanya riwayat percobaan pada masa lampau. Lalu, dari sekian yang pernah mencoba melakukan bunuh diri memiliki peluang sebesar 1% untuk melakukan bunuh diri yang berhasil dalam tempo satu tahun kemudian[31] dan lebih dari 5% melakukan bunuh diri setelah 10 tahun.[32] Meskipun tindakan melukai diri sendiri bukan merupakan percobaan bunuh diri, tetapi adanya perilaku suka melukai diri sendiri tersebut meningkatkan risiko bunuh diri.[33]

Dari kasus bunuh diri yang berhasil, sekitar 80% individu yang melakukannya telah menemui dokter selama setahun sebelum kematian,[34] termasuk 45% di antaranya yang menemui dokter dalam satu bulan sebelum kematian.[35] Sekitar 25–40% orang yang berhasil melakukan bunuh diri pernah menghubungi layanan kesehatan jiwa pada tahun sebelumnya.[36][37]

Penggunaan obat

Penyalahgunaan obat adalah faktor risiko bunuh diri paling umum kedua setelah depresi mayor dan gangguan bipolar.[38] Baik penyalahgunaan obat kronis maupun kecanduan akut saling berhubungan satu sama lain.[39][40] Bila digabungkan dengan kesedihan diri, misalnya ditinggalkan seseorang yang meninggal, risiko tersebut semakin meningkat.[41] Selain itu, penyalahgunaan obat berkaitan dengan gangguan kesehatan jiwa.[42]

Saat melakukan bunuh diri, kebanyakan orang berada dalam pengaruh obat sedatif-hipnotik (misalnya alkohol atau benzodiazepine)[43] dengan adanya alkoholisme pada sekitar 15% sampai 61% kasus.[44] Negara-negara dengan angka penggunaan alkohol tinggi dan memiliki jumlah bar lebih banyak secara umum juga memiliki risiko terjadinya bunuh diri lebih tinggi[45] yang keterkaitannya terutama berhubungan dengan penggunaan minuman beralkohol hasil distilasi ketimbang jumlah total alkohol yang digunakan.[46] Sekitar 2.2–3.4% dari mereka yang pernah dirawat karena menderita alkoholisme pada suatu waktu dalam kehidupan mereka meninggal dengan cara bunuh diri.[47] Pecandu alkohol yang melakukan percobaan bunuh diri biasanya pria, dalam usia tua, dan pernah melakukan percobaan bunuh diri pada masa lampau.[48] Antara 3 hingga 35% kematian pada kelompok pemakai heroin diakibatkan oleh bunuh diri (kira-kira 14 kali lipat lebih besar dibandingkan kelompok yang tidak memakai heroin).[49]

Penyalahgunaan kokain dan methamphetamine memiliki korelasi besar terhadap bunuh diri.[50][51] Mereka yang menggunakan kokain memiliki risiko terbesar saat berada dalam fase sakaw.[52] Mereka yang menggunakan inhalansia juga memiliki risiko besar dengan sekitar 20% di antaranya mencoba melakukan bunuh diri pada suatu waktu dan lebih dari 65% pernah berpikir untuk melakukannya.[53] Merokok memiliki keterkaitan dengan risiko bunuh diri.[54] Tidak ada bukti yang cukup kuat mengapa ada keterkaitan tersebut; tetapi hipotesis menyatakan bahwa mereka yang memiliki kecenderungan merokok juga memiliki kecenderungan untuk melakukan bunuh diri, bahwa merokok menyebabkan masalah kesehatan sehingga mendorong seseorang untuk mengakhiri hidupnya, dan bahwa merokok memengaruhi kimia otak hingga menyebabkan kecenderungan bunuh diri.[55] Meski demikian, Ganja/Cannabis sepertinya tidak secara tunggal menyebabkan peningkatan risiko.[56]

Masalah perjudian

Masalah perjudian pada seseorang dikaitkan dengan meningkatnya keinginan bunuh diri dan upaya-upaya melakukan tindak bunuh diri dibandingkan dengan populasi umum.[57] Antara 12 dan 24% pejudi patologis berusaha bunuh diri.[58] Angka bunuh diri di kalangan istri-istri mereka tiga kali lebih besar daripada populasi umum.[59] Faktor lain yang meningkatkan risiko pada mereka dengan masalah perjudian meliputi penyakit mental, alkohol dan penyalahgunaan narkoba.[60]

Kondisi Medis

Terdapat hubungan antara bunuh diri dan masalah kesehatan fisik, mencakup:[61] sakit kronis,[62] cedera otak traumatis,[63] kanker,[64] mereka yang menjalani hemodialisis, HIV, lupus eritematosus sistemik, dan beberapa lainnya.[65] Diagnosis kanker membuat risiko bunuh diri menjadi kira-kira dua kali lipat.[66] Angka kejadian bunuh diri yang meningkat tetap tinggi setelah disesuaikan dengan penyakit depresi dan penyalahgunaan alkohol. Pada orang yang memiliki lebih dari satu kondisi medis, risiko tersebut sangat tinggi. Di Jepang, masalah kesehatan termasuk dalam daftar utama diperbolehkannya bunuh diri.[67]

Gangguan tidur seperti insomnia[68] dan apnea tidur merupakan faktor risiko mengalami depresi dan melakukan bunuh diri. Pada beberapa kasus, gangguan tidur mungkin menjadi faktor risiko independen timbulnya depresi.[69] Sejumlah kondisi medis lainnya mungkin disertai gejala yang mirip dengan gangguan suasana hati, termasuk: hipotiroid, Alzheimer, tumor otak, lupus eritematosus sistemik, dan efek samping dari sejumlah obat (seperti beta blocker dan steroid).[70]

Keadaan psikososial

Sejumlah keadaan psikologis juga meningkatkan risiko bunuh diri, meliputi: keputusasaan, hilangnya kesenangan dalam hidup, depresi dan kecemasan.[71] Kurangnya kemampuan untuk memecahkan masalah, hilangnya kemampuan seseorang yang dahulu dimilikinya, dan kurangnya pengendalian impuls juga berperan.[72][73] Pada orang dewasa lanjut usia, persepsi tentang menjadi beban bagi orang lain merupakan hal yang penting.[74][75]

Stres kehidupan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir seperti kehilangan anggota keluarga atau teman, kehilangan pekerjaan, atau isolasi sosial (seperti hidup sendiri) meningkatkan risiko tersebut.[76] Orang yang tidak pernah menikah juga berisiko lebih besar.[77] Bersikap religius dapat mengurangi risiko seseorang untuk melakukan bunuh diri.[78] Hal ini dikaitkan dengan pandangan negatif sebagian besar agama yang menentang perbuatan bunuh diri dan dengan lebih besarnya rasa keterikatan yang bisa diberikan oleh agama.[79] Muslim, di antara umat beragama, tampaknya memiliki tingkat yang lebih rendah.[80]

Sejumlah orang mungkin ingin bunuh diri untuk melarikan diri dari intimidasi atau tuduhan.[81] Riwayat pelecehan seksual[82] pada masa kecil dan dan saat menjadi anak asuh juga merupakan faktor risiko.[83] Pelecehan seksual diyakini memberi kontribusi sekitar 20% dari keseluruhan risiko.[84]

evolusioner menjelaskan bahwa persoalan bunuh diri bisa meningkatkan kemampuan inklusif. Hal ini dapat terjadi jika orang yang ingin bunuh diri tidak dapat lagi memiliki anak dan mengangkat anak dari kerabatnya dengan tetap bertahan hidup. Hal yang tidak dapat disetujui adalah bahwa kematian pada remaja yang sehat tidak menyebabkan terjadinya kemampuan inklusif. Proses adaptasi terhadap lingkungan adat nenek moyang yang sangat berbeda mungkin menjadi proses yang maladaptif dalam kondisi saat ini.[85][86]

Kemiskinan dikaitkan dengan risiko bunuh diri.[87] Meningkatnya kemiskinan relatif seseorang yang dibandingkan dengan orang yang ada di sekitarnya dapat meningkatkan risiko bunuh diri.[88] Lebih dari 200.000 petani di India telah melakukan bunuh diri sejak tahun 1997, yang sebagian karena persoalan utang.[89] Di Cina, kemungkinan peristiwa bunuh diri terjadi tiga kali lipat di daerah pedesaan di pinggiran kota, yang diyakini akibat kesulitan keuangan di area ini di negara tersebut.[90]

Media

Media, termasuk internet, memainkan peranan penting.[91] Caranya menyajikan gambaran bunuh diri mungkin saja memiliki efek negatif dengan banyaknya tayangan yang mencolok dan berulang yang mengagungkan atau meromantiskan tindakan bunuh diri dan memberikan dampak terbesar.[92] Bila digambarkan secara rinci tentang cara melakukan bunuh diri dengan menggunakan cara tertentu, metode bunuh diri mungkin saja meningkat dalam populasi secara keseluruhan.[93]

Pemicu penularan bunuh diri atau peniruan bunuh diri ini dikenal sebagai efek Werther, yang diberi nama berdasarkan tokoh protagonist dalam karya Goethe yang berjudul The Sorrows of Young Werther yang melakukan bunuh diri.[94] Risiko ini lebih besar pada remaja yang mungkin meromantiskan kematian.[95] Sementara media massa memiliki pengaruh yang signifikan, efek dari media hiburan masih tampak samar-samar.[96] Kebalikan dari efek Werther adalah pengusulan efek Papageno, yaitu cakupan yang baik mengenai mekanisme cara mengatasi masalah secara efektif, mungkin memiliki efek perlindungan. Istilah ini didasarkan pada karakter dalam opera Mozart yang berjudul The Magic Flute yang akan melakukan bunuh diri karena takut kehilangan orang yang dicintainya sampai teman-temannya menyelamatkannya.[97] Bila media mengikuti pedoman pelaporan yang sesuai, risiko bunuh diri dapat diturunkan.[98] Namun, kepatuhan dari industri tersebut bisa saja sulit didapatkan terutama dalam jangka panjang.[99]

Rasional

Bunuh diri rasional adalah tindakan menghilangkan nyawa sendiri yang beralasan,[100] meskipun sejumlah orang merasa bahwa bunuh diri tidak pernah masuk akal.[101] Tindakan menghilangkan nyawa sendiri demi kepentingan orang lain dikenal sebagai bunuh diri altruistik.[102] Contohnya adalah sesepuh yang mengakhiri hidup mereka agar dapat meninggalkan makanan dalam jumlah yang lebih besar bagi orang yang lebih muda dalam masyarakat.[103] Dalam beberapa budaya Eskimo, hal ini dianggap sebagai tindakan yang terhormat, berani, atau bijaksana.[104]

Serangan bunuh diri adalah sebuah tindakan politik di mana seorang penyerang melakukan tindakan kekerasan terhadap orang lain sementara mereka mengerti bahwa hal tersebut akan mengakibatkan kematian mereka sendiri.[105] Beberapa pelaku bom bunuh diri melakukannya dalam upaya untuk mendapatkan kesyahidan.[106] Misi Kamikaze dilakukan sebagai kewajiban terhadap suatu hal yang penting atau tuntutan moral.[107] Bunuh diri-pembunuhan merupakan tindakan pembunuhan yang diikuti oleh tindakan bunuh diri orang yang melakukan perbuatan pembunuhan tersebut dalam kurun waktu satu minggu setelahnya.[108] Bunuh diri massal sering dilakukan di bawah tekanan sosial di mana anggotanya menyerahkan hidupnya kepada seorang pemimpin.[109] Bunuh diri massal dapat berlangsung sedikitnya dua orang, yang sering disebut sebagai kesepakatan bunuh diri.[110]

Dalam situasi yang meringankan di mana melanjutkan hidup akan menjadi sesuatu yang tak tertahankan, beberapa orang memilih bunuh diri sebagai sarana untuk melarikan diri.[111] Sejumlah tahanan Nazi di kamp konsentrasi diketahui telah bunuh diri dengan sengaja menyentuh pagar beraliran listrik.[112]

Metode

Metode utama bunuh diri berbeda-beda antar negara. Metode utama di berbagai wilayah di antaranya gantung diri, minum racun pestisida, dan senjata api.[113] Perbedaan ini diyakini sebagian karena ketersediaan metode yang berbeda.[114] Sebuah tinjauan pada 56 negara menemukan bahwa gantung diri merupakan metode yang paling umum di sebagian besar negara,[115] dengan angka 53% untuk kasus bunuh diri pada pria dan 39% untuk kasus bunuh diri pada wanita.[116]

Di seluruh dunia, 30% kasus bunuh diri menggunakan racun pestisida. Namun, penggunaan metode ini sangat bervariasi mulai dari 4% di Eropa hingga lebih dari 50% di wilayah Pasifik.[117] Metode tersebut juga umum dilakukan di Amerika Latin mengingat racun pestisida mudah didapat di lingkungan petani.[118] Di banyak negara, overdosis obat tercatat sekitar 60% untuk kasus bunuh diri di kalangan wanita dan 30% di kalangan pria.[119] Banyak tindakan bunuh diri yang tidak direncanakan dan terjadi selama periode ambivalensi yang akut.[120] Angka kematian per metode bervariasi: senjata api 80-90%, tenggelam 65-80%, gantung diri 60-85%, gas buang kendaraan 40-60%, lompat dari tempat yang tinggi 35-60%, gas karbon hasil pembakaran 40-50%, racun pestisida 6-75%, overdosis obat 1,5-4%.[121] Metode percobaan bunuh diri yang paling umum dilakukan berbeda dengan metode bunuh diri yang paling sering berhasil dengan angka mencapai 85% untuk upaya percobaan bunuh diri dengan metode overdosis obat di negara-negara maju.[122]

Di Amerika Serikat, 57% kasus bunuh diri melibatkan penggunaan senjata api sehingga metode ini menjadi agak lebih sering terjadi pada pria dibanding wanita.[123] Penyebab berikutnya yang paling umum adalah gantung diri pada pria dan meracuni diri sendiri pada wanita.[124] Kedua metode tersebut secara total mencatat angka sekitar 40% dari kasus bunuh diri di AS.[125] Di Swiss, di mana hampir semua orang memiliki senjata api, jumlah terbesar kasus bunuh diri adalah dengan cara gantung diri.[126] Melompat bunuh diri umum terjadi di Hongkong maupun Singapura dengan angka masing-masing 50% dan 80%.[127] Di Cina, meminum racun pestisida adalah metode yang paling umum.[128] Di Jepang, masih terjadi tindakan mengeluarkan isi perut sendiri yang dikenal dengan seppuku atau hara-kiri,[129] tetapi demikian, gantung diri adalah yang paling umum.[130]

Patofisiologi

Tidak ada kesamaan faktor patofisiologi yang mendasari terjadinya bunuh diri atau depresi.[131] Meskipun demikian, hal tersebut diyakini merupakan akibat faktor interaksi perilaku, lingkungan sosial dan kejiwaan.[132]

Rendahnya tingkat brain-derived neurotrophic factor (BDNF) yang terkait secara langsung dengan bunuh diri[133] dan secara tidak langsung melalui perannya dalam kejadian depresi berat, gangguan stres pasca trauma, skizofrenia dan gangguan obsesif-kompulsif.[134] Dari studi Bedah mayat ditemukan adanya penurunan tingkat BDNF pada hipokampus dan korteks prefrontal, pada orang yang mengalami gangguan kejiwaan maupun yang tidak.[135] Serotonin, sebuah neurotransmitter otak, diyakini rendah tingkatnya pada orang yang bunuh diri. Hal ini sebagian didasarkan pada bukti meningkatnya kadar reseptor 5-HT2A setelah kematian.[136] Bukti lain termasuk berkurangnya tingkat produk turunan serotonin, Asam 5-hidroksiindoleasetat, dalam cairan tulang belakang otak.[137] Namun, bukti langsung cukup sulit dikumpulkan.[138] Epigenetika, studi tentang perubahan dalam ekspresi genetika dalam merespons faktor lingkungan yang tidak mengubah DNA yang mendasarinya, juga diyakini berperan dalam menentukan risiko bunuh diri.[139]

Pencegahan

Pencegahan bunuh diri merupakan istilah yang digunakan untuk upaya kolektif guna mengurangi insiden bunuh diri melalui tindakan pencegahan. Mengurangi akses ke metode tertentu, seperti senjata api atau racun akan mengurangi risikonya.[140][141] Tindakan lain di antaranya dengan mengurangi akses ke gas karbon dan penghalang di jembatan serta platform kereta bawah tanah.[142] Pengobatan kecanduan narkoba dan alkohol, depresi, dan mereka yang telah mencoba bunuh diri pada masa lalu mungkin juga efektif.[143] Beberapa di antaranya telah mengusulkan pengurangan akses ke alkohol sebagai strategi pencegahan (seperti mengurangi jumlah bar).[144] Walaupun saluran bantuan krisis bersifat umum, terdapat sedikit bukti yang mendukung atau menolak keefektifannya.[145][146] Pada remaja yang akhir-akhir ini berpikir untuk bunuh diri, terapi perilaku kognitif tampaknya dapat bermanfaat untuk memberikan perbaikan.[147] Pembangunan ekonomi melalui kemampuannya untuk mengurangi kemiskinan mungkin dapat menurunkan tingkat bunuh diri.[148] Upaya untuk meningkatkan hubungan sosial terutama pada pria usia lanjut mungkin saja efektif.[149]

Skrining

Ada sedikit data tentang efek skrining populasi umum terhadap angka tertinggi bunuh diri.[150] Mengingat terdapat angka yang tinggi pada orang yang dinyatakan positif setelah dites melalui alat ini yang tidak berisiko bunuh diri, ada kekhawatiran bahwa skrining bisa meningkatkan pemanfaatan sumber daya perawatan kesehatan mental secara signifikan.[151] Namun, dianjurkan melakukan pengkajian atas orang yang berisiko tinggi.[152] Bertanya tentang bunuh diri tampaknya tidak akan meningkatkan risikonya.[153]

Penyakit mental

Pada orang yang mengalami masalah kesehatan mental, sejumlah perawatan bisa mengurangi risiko bunuh diri. Mereka yang aktif berusaha bunuh diri bisa didaftarkan dalam rehabilitasi untuk mendapatkan perawatan kejiwaan baik secara sukarela atau secara paksa.[154] Barang yang bisa digunakan untuk menyakiti diri sendiri biasanya disingkirkan.[155] Beberapa dokter meminta pasiennya untuk menandatangani perjanjian pencegahan bunuh diri di mana mereka sepakat untuk tidak menyakiti diri sendiri setelah keluar dari perawatan.[156] Namun, belum ada bukti yang mendukung bahwa praktik tersebut memiliki efek yang signifikan.[157] Jika pasiennya berisiko rendah, perawatan kesehatan mental pasien secara rawat jalan bisa dilakukan.[158] Rawat inap jangka pendek belum terlihat lebih efektif dari kepedulian masyarakat dalam memperbaiki keadaan pada mereka yang mengalami gangguan kepribadian borderline yang secara kronis berupaya untuk bunuh diri.[159][160]

Terdapat bukti sementara bahwa psikoterapi, khususnya terapi perilaku dialektis, mengurangi risiko bunuh diri pada remaja[161] serta yang mengalami gangguan kepribadian borderline.[162] Namun, belum ada bukti penurunan bunuh diri yang dilakukan.[163]

Muncul kontroversi seputar manfaat dibandingkan bahaya antidepresan.[164] Pada orang-orang muda, antidepresan yang baru seperti SSRI tampaknya meningkatkan risiko bunuh diri dari 25 per 1000 menjadi 40 per 1000.[165] Namun, antidepresan dapat menurunkan risiko bunuh diri pada orang yang lebih tua.[166] Litium tampaknya efektif dalam menurunkan risiko pada mereka yang mengalami gangguan bipolar dan depresi unipolar hingga mendekati tingkat yang sama seperti populasi umum.[167][168]

Epidemiologi

Sekitar 0,5% hingga 1,4% orang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.[169][170] Secara global, sejak tahun 2008/2009, bunuh diri merupakan penyebab utama kematian kesepuluh[171] dengan sekitar 800.000 hingga satu juta orang meninggal setiap tahunnya, yang berarti angka kematian sebesar 11,6 per 100.000 orang per tahun.[172] Tingkat bunuh diri telah meningkat sebesar 60% dari tahun 1960 sampai 2012,[173] yang peningkatannya terlihat terutama di negara-negara berkembang.[174] Untuk setiap bunuh diri yang menyebabkan kematian, terdapat sekitar 10 hingga 40 percobaan bunuh diri.[175]

Tingkat bunuh diri berbeda secara signifikan antar negara dan dari waktu ke waktu.[176] Persentase kematian pada tahun 2008 yaitu: Afrika 0,5%, Asia Tenggara 1,9%, Amerika 1,2% dan Eropa 1,4%.[177] Untuk tingkat per 100.000: Australia 8,6, Canada 11,1, Cina 12,7, India 23,2, Inggris 7,6, Amerika Serikat 11,4.[178] Bunuh diri berada dalam peringkat 10 teratas untuk penyebab kematian di Amerika Serikat pada tahun 2009 dengan sekitar 36.000 kasus setahun.[179] Dan sekitar 650.000 orang masuk ke unit gawat darurat setiap tahun karena mencoba bunuh diri.[180] Lituania, Jepang dan Hungaria memiliki angka tertinggi.[181] Negara-negara dengan jumlah mutlak kasus bunuh diri terbesar adalah Cina dan India yang jumlahnya lebih dari setengah jumlah total.[182] Di Cina, bunuh diri merupakan penyebab utama kematian ke-5.[183]

Jenis Kelamin

Di dunia Barat, pria meninggal sebanyak tiga sampai empat kali lebih banyak dengan cara bunuh diri dibanding wanita, meskipun wanita mencoba bunuh diri empat kali lebih banyak.[184][185] Hal ini dikaitkan dengan pria yang menggunakan cara yang lebih mematikan untuk mengakhiri hidupnya.[186] Perbedaan ini bahkan lebih menonjol pada orang yang berusia di atas usia 65, dengan jumlah pria yang melakukan bunuh diri sepuluh kali lipat lebih banyak dibanding wanita.[187] Tiongkok memiliki salah satu tingkat bunuh diri wanita tertinggi di dunia dan merupakan satu-satunya negara yang tingkatnya lebih tinggi dari laki-laki (rasio 0,9).[188][189] Di wilayah Mediterania Timur, tingkat bunuh diri hampir setara antara pria dan wanita.[190] Untuk wanita, tingkat bunuh diri tertinggi ditemukan di Korea Selatan yaitu 22 per 100.000, dengan tingkat yang tinggi secara umum di Asia Tenggara dan Pasifik Barat.[191]

Usia

Di banyak negara, tingkat bunuh diri tertinggi terjadi di usia paruh baya[192] atau usia lanjut.[193] Namun, jumlah mutlak bunuh diri terbesar terjadi pada mereka yang berusia antara 15 dan 29 tahun karena jumlah orang dalam kelompok usia tersebut.[194] Di Amerika Serikat, yang terbesar yaitu pada pria kaukasoid berusia lebih dari 80 tahun, meskipun orang muda lebih sering mencoba bunuh diri.[195] Ini merupakan penyebab kematian paling umum kedua untuk remaja[196] dan peringkat kedua setelah kematian karena kecelakaan pada pria muda.[197] Pada pria muda di negara maju, bunuh diri adalah penyebab dari hampir 30% kematian.[198] Di negara-negara berkembang, tingkatnya sama tetapi angka tersebut merupakan sebagian kecil kematian secara keseluruhan karena tingkat kematian yang lebih tinggi pada jenis trauma lainnya.[199] Di Asia Tenggara, berbeda dengan daerah lain di dunia, kematian akibat bunuh diri terjadi pada tingkat yang lebih besar pada wanita muda dibandingkan wanita usia lanjut.[200]


Sosial dan budaya

Perundang-undangan

Di sebagian besar negara-negara Barat, bunuh diri tidak lagi merupakan kejahatan,[201] tetapi masih dianggap demikian di sebagian besar negara-negara Eropa Barat mulai dari Abad Pertengahan sampai setidaknya tahun 1800-an.[202] Banyak negara Islam yang menetapkan bunuh diri sebagai tindak pidana.[203]

Di Australia, bunuh diri bukan merupakan tindak pidana.[204] Namun, menasihati, menghasut, atau membantu dan menghasut orang lain untuk mencoba bunuh diri merupakan tindak kejahatan, dan hukum secara eksplisit memungkinkan setiap orang untuk menggunakan "kekuatan yang sewajarnya diperlukan" untuk mencegah orang lain dari melakukan bunuh diri.[205] Wilayah Barat Australia sempat secara singkat memiliki hukum bunuh diri yang dibantu dokter mulai dari tahun 1996 sampai 1997.[206]

Tidak satu pun negara di Eropa saat ini yang menganggap bahwa bunuh diri atau percobaan bunuh diri adalah sebuah kejahatan.[207] Inggris dan Wales tidak menganggap lagi bunuh diri sebagai kejahatan melalui Suicide Act 1961 dan di Republik Irlandia pada tahun 1993.[208] Kata "commit" digunakan dalam referensi untuk itu menjadi ilegal tetapi banyak organisasi telah menghentikannya karena konotasi negatif.[209][210]

Di India, bunuh diri merupakan tindakan ilegal dan keluarga yang masih hidup mungkin akan menghadapi kesulitan hukum.[211] Di Jerman, eutanasia aktif merupakan tindakan ilegal dan siapa saja yang hadir selama berlangsungnya bunuh diri dapat dituntut karena gagal memberikan bantuan dalam keadaan darurat.[212] Swiss baru-baru ini mengambil langkah untuk melegalkan bunuh diri yang dibantu untuk sakit mental yang kronis. Pengadilan tinggi Lausanne, dalam putusannya tahun 2006, telah memberikan hak kepada seseorang tanpa nama yang memiliki gangguan kejiwaan yang lama untuk mengakhiri hidupnya sendiri.[213]

Di Amerika Serikat, bunuh diri tidak ilegal, tetapi mungkin dikaitkan dengan hukuman bagi orang yang mencobanya.[214] Bunuh diri yang dibantu dokter merupakan tindakan yang legal di negara bagian Oregon[215] dan Washington.[216]


Filosofi

Sejumlah pertanyaan diajukan dalam filosofi bunuh diri, termasuk apa yang termasuk dalam kategori bunuh diri, apakah bunuh diri bisa menjadi pilihan yang rasional atau tidak, dan kebolehan secara moral untuk bunuh diri.[217] Argumen filosofis terkait apakah bunuh diri bisa diterima secara moral atau tidak berkisar dari oposisi yang kuat, (melihat bunuh diri sebagai tindakan tidak etis dan tidak bermoral), hingga persepsi bahwa bunuh diri sebagai hak sakral bagi siapa saja (bahkan bagi orang yang masih muda dan sehat) yang merasa yakin bahwa mereka secara rasional dan sadar dapat mengambil keputusan untuk mengakhiri hidup mereka sendiri.


Pembelaan

Pembelaan atas tindakan bunuh diri terjadi di banyak kultur dan sub-kultur. Militer Jepang selama Perang Dunia II menyemangati dan memuliakan serangan kamikaze, yaitu serangan bunuh diri oleh penerbang militer Kekaisaran Jepang terhadap kapal angkatan laut Sekutu pada tahap penutupan kampanye Pasifik dalam Perang Dunia II. Masyarakat Jepang secara keseluruhan telah digambarkan bersikap "toleran" terhadap tindakan bunuh diri[218] (lihat Bunuh diri di Jepang).

Pencarian tentang bunuh diri lewat Internet menghasilkan bahwa 10-30% laman web berisikan dorongan atau fasilitasi untuk upaya bunuh diri. Ada sejumlah kekhawatiran bahwa situs-situs tersebut dapat mendorong orang-orang cenderung melakukannya. Sejumlah orang membentuk kelompok bunuh diri secara online, baik bersama teman yang sudah ada sebelumnya atau dengan orang yang baru dijumpai dalam ruang obrolan atau papan pesan. Meskipun demikian, Internet juga dapat membantu mencegah tindakan bunuh diri dengan menyediakan kelompok sosial bagi orang yang terisolasi.[219]

Lokasi

Beberapa tempat tertentu menjadi terkenal karena tingginya tingkat upaya bunuh diri.[220] Tempat-tempat tersebut di antaranya Jembatan Golden Gate di San Fransisco Amerika Serikat, Hutan Aokigahara di Jepang,[221] Beachy Head di Inggris,[222] dan Jembatan Bloor Street di Toronto Kanada.[223]

Sampai tahun 2010, Jembatan Golden Gate telah menjadi tempat lebih dari 1.300 tindakan bunuh diri dengan cara melompat semenjak jembatan tersebut dibangun pada tahun 1937.[224] Di lokasi-lokasi di mana sering kali terjadi peristiwa bunuh diri telah dibuatkan penghalang untuk mencegahnya.[225] Di antaranya Luminous Veil di Toronto, Kanada[226] dan penghalang pada Menara Eiffel di Paris, Prancis, serta Empire State Building di New York, Amerika Serikat.[227] Pada tahun 2011, sebuah penghalang sedang dibangun untuk Jembatan Golden Gate.[228] Penghalang tersebut secara umum terlihat sangat efektif.[229]

Makhluk hidup lain

Mengingat tindakan bunuh diri memerlukan upaya yang dilakukan dengan sengaja agar mati, maka sejumlah orang merasa bahwa hal tersebut tidak dapat terjadi pada makhluk hidup selain manusia.[230] Perilaku bunuh diri telah diamati pada salmonella yang berusaha mengatasi bakteri pesaing dengan memicu respons sistem kekebalan tubuh yang membahayakan mereka sendiri.[231] Pertahanan bunuh diri oleh para pekerja juga terlihat pada semut Brasil Forelius pusillus di mana sekelompok kecil semut meninggalkan sarangnya yang aman setelah menyegel pintu masuk dari luar setiap malam hari.[232]

Kutu Pea, saat terancam oleh kepik, dapat meledakkan dirinya sendiri, berhamburan dan melindungi saudara-saudaranya dan bahkan terkadang ledakan tersebut akan membunuh kepik.[233] Beberapa spesies rayap memiliki pasukan yang meledak, yang menutupi musuh-musuhnya dengan perekat lengket.[234][235]

Ada laporan anekdotal tentang anjing, kuda dan lumba-lumba yang melakukan bunuh diri, meskipun buktinya sedikit.[236] Sedikit sekali studi ilmiah yang dilakukan pada binatang yang bunuh diri.[237]

Kasus-kasus terkenal

Contoh bunuh diri massal yaitu bunuh diri sekte "Jonestown" pada tahun 1978, di mana 918 orang anggota Peoples Temple, sebuah sekte di Amerika yang dipimpin oleh Jim Jones, mengakhiri hidup mereka dengan minum anggur Flavor Aid yang dicampur dengan sianida.[238][239][240] Lebih dari 10.000 warga sipil Jepang melakukan bunuh diri pada hari-hari terakhir Pertempuran Saipan pada tahun 1944, sejumlah orang melompat ke dalam "Jurang Bunuh Diri" dan "Jurang Banzai".[241]

Aksi mogok makan 1981, yang dipimpin oleh Bobby Sands, menyebabkan 10 orang meninggal dunia. Penyebab kematian tersebut dicatat oleh petugas forensik sebagai "kelaparan, pemaksaan diri" alih-alih bunuh diri; penyebabnya telah dimodifikasi menjadi hanya "kelaparan" pada surat kematian setelah mendapat protes dari keluarga pengunjuk rasa yang mati.[242] Erwin Rommel selama Perang Dunia II diketahui menyembunyikan rahasia tentang Plot 20 Juli terkait kehidupan Hitler dan diancam dengan pengadilan publik, hukuman mati dan balas dendam terhadap keluarganya kecuali jika ia mengakhiri hidupnya sendiri.[243]

Catatan

Bacaan lebih lanjut

Lihat pula

Pranala luar

Referensi

  1. Arti kata bundir. KBBI Daring.
  2. Hawton K, van Heeringen K. Suicide. Lancet. 2009. Vol. 373 (9672). hlm. 1372–81. doi:10.1016/S0140-6736(09)60372-X.
  3. Hawton K, van Heeringen K. Suicide. Lancet. 2009. Vol. 373 (9672). hlm. 1372–81. doi:10.1016/S0140-6736(09)60372-X.
  4. Marshall B. Clinard, Robert F. Meier. Sociology of deviant behavior. Wadsworth Cengage Learning. 2008. hlm. 169. ISBN 978-0-495-81167-1.
  5. Bertolote JM, Fleischmann A. Suicide and psychiatric diagnosis: a worldwide perspective. World Psychiatry. 2002. Vol. 1 (3). hlm. 181–5.
  6. N Aggarwal. Rethinking suicide bombing. Crisis. 2009. Vol. 30 (2). hlm. 94–7. doi:10.1027/0227-5910.30.2.94.
  7. Stedman's medical dictionary. Lippincott Williams & Wilkins. 2006. ISBN 978-0-7817-3390-8.
  8. Etienne Krug. World Report on Violence and Health (Vol. 1). World Health Organization. 2002. hlm. 185. ISBN 978-92-4-154561-7.
  9. edited by Thomas P. Gullota. The encyclopedia of primary prevention and health promotion. Kluwer Academic/Plenum. 2002. hlm. 1112. ISBN 978-0-306-47296-1.
  10. edited by Thomas P. Gullota. The encyclopedia of primary prevention and health promotion. Kluwer Academic/Plenum. 2002. hlm. 1112. ISBN 978-0-306-47296-1.
  11. Etienne Krug. World Report on Violence and Health (Vol. 1). World Health Organization. 2002. hlm. 185. ISBN 978-92-4-154561-7.
  12. K Hawton. Self-harm and suicide in adolescents. Lancet. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2373–82. doi:10.1016/S0140-6736(12)60322-5.
  13. L Vijayakumar. Substance use and suicide. Current opinion in psychiatry. 2011 May. Vol. 24 (3). hlm. 197–202. doi:10.1097/YCO.0b013e3283459242.
  14. B Chang. The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies. Emergency medicine practice. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.
  15. G Simpson. Suicidality in people surviving a traumatic brain injury: prevalence, risk factors and implications for clinical management. Brain injury : [BI]. 2007 Dec. Vol. 21 (13–14). hlm. 1335–51. doi:10.1080/02699050701785542.
  16. M Miller. Suicide mortality in the United States: the importance of attending to method in understanding population-level disparities in the burden of suicide. Annual review of public health. 2012 Apr. Vol. 33. hlm. 393–408. doi:10.1146/annurev-publhealth-031811-124636.
  17. Qin P, Agerbo E, Mortensen PB. Suicide risk in relation to socioeconomic, demographic, psychiatric, and familial factors: a national register-based study of all suicides in Denmark, 1981–1997. Am J Psychiatry. 2003. Vol. 160 (4). hlm. 765–72. doi:10.1176/appi.ajp.160.4.765.
  18. Richard K. James, Burl E. Gilliland. Crisis intervention strategies. Brooks/Cole. hlm. 215. ISBN 978-1-111-18677-7.
  19. DA Brent. Familial transmission of suicidal behavior. The Psychiatric clinics of North America. 2008 Jun. Vol. 31 (2). hlm. 157–77. doi:10.1016/j.psc.2008.02.001.
  20. V Rozanov. Suicide among war veterans. International journal of environmental research and public health. 2012 Jul. Vol. 9 (7). hlm. 2504–19. doi:10.3390/ijerph9072504.
  21. University of Manchester Centre for Mental Health and Risk. The National Confidential Inquiry into Suicide and Homicide by People with Mental Illness.
  22. B Chang. The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies. Emergency medicine practice. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.
  23. B Chang. The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies. Emergency medicine practice. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.
  24. Stan Kutcher, Sonia Chehil. Suicide Risk Management A Manual for Health Professionals. John Wiley & Sons. 2012. hlm. 30–33. ISBN 978-1-119-95311-1.
  25. JM Bertolote. Psychiatric diagnoses and suicide: revisiting the evidence. Crisis. 2004. Vol. 25 (4). hlm. 147–55.
  26. Stan Kutcher, Sonia Chehil. Suicide Risk Management A Manual for Health Professionals. John Wiley & Sons. 2012. hlm. 30–33. ISBN 978-1-119-95311-1.
  27. B Chang. The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies. Emergency medicine practice. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.
  28. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  29. Tintinalli, Judith E. Emergency Medicine: A Comprehensive Study Guide (Emergency Medicine (Tintinalli)). McGraw-Hill Companies. 2010. hlm. 1940–1946. ISBN 0-07-148480-9.
  30. B Chang. The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies. Emergency medicine practice. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.
  31. B Chang. The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies. Emergency medicine practice. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.
  32. Tintinalli, Judith E. Emergency Medicine: A Comprehensive Study Guide (Emergency Medicine (Tintinalli)). McGraw-Hill Companies. 2010. hlm. 1940–1946. ISBN 0-07-148480-9.
  33. Whitlock J, Knox KL. The relationship between self-injurious behavior and suicide in a young adult population. Arch Pediatr Adolesc Med. 2007. Vol. 161 (7). hlm. 634–40. doi:10.1001/archpedi.161.7.634.
  34. J Pirkis. Suicide and recency of health care contacts. A systematic review. The British journal of psychiatry : the journal of mental science. 1998 Dec. Vol. 173. hlm. 462–74.
  35. JB Luoma. Contact with mental health and primary care providers before suicide: a review of the evidence. The American Journal of Psychiatry. 2002 Jun. Vol. 159 (6). hlm. 909–16.
  36. University of Manchester Centre for Mental Health and Risk. The National Confidential Inquiry into Suicide and Homicide by People with Mental Illness.
  37. J Pirkis. Suicide and recency of health care contacts. A systematic review. The British journal of psychiatry : the journal of mental science. 1998 Dec. Vol. 173. hlm. 462–74.
  38. Jerome D. Levin, Joseph Culkin, Richard S. Perrotto. Introduction to chemical dependency counseling. Jason Aronson. 2001. hlm. 150–152. ISBN 978-0-7657-0289-0.
  39. L Vijayakumar. Substance use and suicide. Current opinion in psychiatry. 2011 May. Vol. 24 (3). hlm. 197–202. doi:10.1097/YCO.0b013e3283459242.
  40. Barbara Fadem. Behavioral science in medicine. Lippincott Williams & Wilkins. 2004. hlm. 217. ISBN 978-0-7817-3669-5.
  41. Barbara Fadem. Behavioral science in medicine. Lippincott Williams & Wilkins. 2004. hlm. 217. ISBN 978-0-7817-3669-5.
  42. L Vijayakumar. Substance use and suicide. Current opinion in psychiatry. 2011 May. Vol. 24 (3). hlm. 197–202. doi:10.1097/YCO.0b013e3283459242.
  43. Youssef NA, Rich CL. Does acute treatment with sedatives/hypnotics for anxiety in depressed patients affect suicide risk? A literature review. Ann Clin Psychiatry. 2008. Vol. 20 (3). hlm. 157–69. doi:10.1080/10401230802177698.
  44. L Vijayakumar. Substance use and suicide. Current opinion in psychiatry. 2011 May. Vol. 24 (3). hlm. 197–202. doi:10.1097/YCO.0b013e3283459242.
  45. L Sher. Alcohol consumption and suicide. QJM : monthly journal of the Association of Physicians. 2006 Jan. Vol. 99 (1). hlm. 57–61. doi:10.1093/qjmed/hci146.
  46. L Vijayakumar. Substance use and suicide. Current opinion in psychiatry. 2011 May. Vol. 24 (3). hlm. 197–202. doi:10.1097/YCO.0b013e3283459242.
  47. L Sher. Alcohol consumption and suicide. QJM : monthly journal of the Association of Physicians. 2006 Jan. Vol. 99 (1). hlm. 57–61. doi:10.1093/qjmed/hci146.
  48. L Vijayakumar. Substance use and suicide. Current opinion in psychiatry. 2011 May. Vol. 24 (3). hlm. 197–202. doi:10.1097/YCO.0b013e3283459242.
  49. Darke S, Ross J. Suicide among heroin users: rates, risk factors and methods. Addiction. 2002. Vol. 97 (11). hlm. 1383–94. doi:10.1046/j.1360-0443.2002.00214.x.
  50. L Vijayakumar. Substance use and suicide. Current opinion in psychiatry. 2011 May. Vol. 24 (3). hlm. 197–202. doi:10.1097/YCO.0b013e3283459242.
  51. S Darke. Major physical and psychological harms of methamphetamine use. Drug and alcohol review. 2008 May. Vol. 27 (3). hlm. 253–62. doi:10.1080/09595230801923702.
  52. Frank J. Ayd, Jr. Lexicon of psychiatry, neurology, and the neurosciences. Lippincott Williams & Wilkins. 2000. hlm. 256. ISBN 978-0-7817-2468-5.
  53. L Vijayakumar. Substance use and suicide. Current opinion in psychiatry. 2011 May. Vol. 24 (3). hlm. 197–202. doi:10.1097/YCO.0b013e3283459242.
  54. JR Hughes. Smoking and suicide: a brief overview. Drug and alcohol dependence. 2008 Dec 1. Vol. 98 (3). hlm. 169–78. doi:10.1016/j.drugalcdep.2008.06.003.
  55. JR Hughes. Smoking and suicide: a brief overview. Drug and alcohol dependence. 2008 Dec 1. Vol. 98 (3). hlm. 169–78. doi:10.1016/j.drugalcdep.2008.06.003.
  56. L Vijayakumar. Substance use and suicide. Current opinion in psychiatry. 2011 May. Vol. 24 (3). hlm. 197–202. doi:10.1097/YCO.0b013e3283459242.
  57. Stefano Pallanti. Clinical manual of impulse-control disorders. American Psychiatric Pub. 2006. hlm. 253. ISBN 978-1-58562-136-1.
  58. MP Oliveira. [Pathological gambling and its consequences for public health]. Revista de saude publica. 2008 Jun. Vol. 42 (3). hlm. 542–9.
  59. MP Oliveira. [Pathological gambling and its consequences for public health]. Revista de saude publica. 2008 Jun. Vol. 42 (3). hlm. 542–9.
  60. M Hansen. [Gambling and suicidal behaviour]. Tidsskrift for den Norske laegeforening : tidsskrift for praktisk medicin, ny raekke. 2008 Jan 17. Vol. 128 (2). hlm. 174–6.
  61. Tintinalli, Judith E. Emergency Medicine: A Comprehensive Study Guide (Emergency Medicine (Tintinalli)). McGraw-Hill Companies. 2010. hlm. 1940–1946. ISBN 0-07-148480-9.
  62. J Manthorpe. Suicide in later life: public health and practitioner perspectives. International journal of geriatric psychiatry. 2010 Dec. Vol. 25 (12). hlm. 1230–8. doi:10.1002/gps.2473.
  63. Simpson GK, Tate RL. Preventing suicide after traumatic brain injury: implications for general practice. Med. J. Aust. 2007. Vol. 187 (4). hlm. 229–32.
  64. L Anguiano. A literature review of suicide in cancer patients. Cancer nursing. 2012 Jul–Aug. Vol. 35 (4). hlm. E14-26. doi:10.1097/NCC.0b013e31822fc76c.
  65. Tintinalli, Judith E. Emergency Medicine: A Comprehensive Study Guide (Emergency Medicine (Tintinalli)). McGraw-Hill Companies. 2010. hlm. 1940–1946. ISBN 0-07-148480-9.
  66. L Anguiano. A literature review of suicide in cancer patients. Cancer nursing. 2012 Jul–Aug. Vol. 35 (4). hlm. E14-26. doi:10.1097/NCC.0b013e31822fc76c.
  67. edited by Paul S.F. Yip. Suicide in Asia : causes and prevention. Hong Kong University Press. 2008. hlm. http://books.google.ca/books?id=HuHQbtlyM40C&pg=PA11. ISBN 9789622099432.
  68. JD Ribeiro. Sleep problems outperform depression and hopelessness as cross-sectional and longitudinal predictors of suicidal ideation and behavior in young adults in the military. Journal of Affective Disorders. 2012 Feb. Vol. 136 (3). hlm. 743–50. doi:10.1016/j.jad.2011.09.049.
  69. RA Bernert. Suicidality and sleep disturbances. Sleep. 2005 Sep. Vol. 28 (9). hlm. 1135–41.
  70. B Chang. The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies. Emergency medicine practice. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.
  71. Stan Kutcher, Sonia Chehil. Suicide Risk Management A Manual for Health Professionals. John Wiley & Sons. 2012. hlm. 30–33. ISBN 978-1-119-95311-1.
  72. Stan Kutcher, Sonia Chehil. Suicide Risk Management A Manual for Health Professionals. John Wiley & Sons. 2012. hlm. 30–33. ISBN 978-1-119-95311-1.
  73. Jr Joiner TE. The psychology and neurobiology of suicidal behavior. Annual review of psychology. 2005. Vol. 56. hlm. 287–314. doi:10.1146/annurev.psych.56.091103.070320.
  74. K Van Orden. Suicides in late life. Current psychiatry reports. 2011 Jun. Vol. 13 (3). hlm. 234–41. doi:10.1007/s11920-011-0193-3.
  75. K Van Orden. Suicides in late life. Current psychiatry reports. 2011 Jun. Vol. 13 (3). hlm. 234–41. doi:10.1007/s11920-011-0193-3.
  76. Stan Kutcher, Sonia Chehil. Suicide Risk Management A Manual for Health Professionals. John Wiley & Sons. 2012. hlm. 30–33. ISBN 978-1-119-95311-1.
  77. B Chang. The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies. Emergency medicine practice. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.
  78. HG Koenig. Research on religion, spirituality, and mental health: a review. Canadian journal of psychiatry. Revue canadienne de psychiatrie. 2009 May. Vol. 54 (5). hlm. 283–91.
  79. HG Koenig. Research on religion, spirituality, and mental health: a review. Canadian journal of psychiatry. Revue canadienne de psychiatrie. 2009 May. Vol. 54 (5). hlm. 283–91.
  80. D Lester. Suicide and islam. Archives of suicide research : official journal of the International Academy for Suicide Research. 2006. Vol. 10 (1). hlm. 77–97. doi:10.1080/13811110500318489.
  81. William T. L. Cox. Stereotypes, Prejudice, and Depression: The Integrated Perspective. Perspectives on Psychological Science. 2012. Vol. 7 (5). hlm. 427–449. doi:10.1177/1745691612455204.
  82. HL Wegman. A meta-analytic review of the effects of childhood abuse on medical outcomes in adulthood. Psychosomatic Medicine. 2009 Oct. Vol. 71 (8). hlm. 805–12. doi:10.1097/PSY.0b013e3181bb2b46.
  83. SH Oswald. History of maltreatment and mental health problems in foster children: a review of the literature. Journal of pediatric psychology. 2010 Jun. Vol. 35 (5). hlm. 462–72. doi:10.1093/jpepsy/jsp114.
  84. DA Brent. Familial transmission of suicidal behavior. The Psychiatric clinics of North America. 2008 Jun. Vol. 31 (2). hlm. 157–77. doi:10.1016/j.psc.2008.02.001.
  85. Jr Joiner TE. The psychology and neurobiology of suicidal behavior. Annual review of psychology. 2005. Vol. 56. hlm. 287–314. doi:10.1146/annurev.psych.56.091103.070320.
  86. Jaime C. Confer. Evolutionary psychology: Controversies, questions, prospects, and limitations. American Psychologist. 1 January 2010. Vol. 65 (2). hlm. 110–126. doi:10.1037/a0018413.
  87. CR Stark. A conceptual model of suicide in rural areas. Rural and remote health. 2011. Vol. 11 (2). hlm. 1622.
  88. Mary Daly. Relative Status and Well-Being: Evidence from U.S. Suicide Deaths. Federal Reserve Bank of San Francisco Working Paper Series. Sept 2012.
  89. George Lerner. Activist: Farmer suicides in India linked to debt, globalization. CNN World. Jan 5,2010.
  90. S Law. Suicide in China: unique demographic patterns and relationship to depressive disorder. Current psychiatry reports. 2008 Feb. Vol. 10 (1). hlm. 80–6.
  91. K Hawton. Self-harm and suicide in adolescents. Lancet. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2373–82. doi:10.1016/S0140-6736(12)60322-5.
  92. I Bohanna. Media guidelines for the responsible reporting of suicide: a review of effectiveness. Crisis. 2012. Vol. 33 (4). hlm. 190–8. doi:10.1027/0227-5910/a000137.
  93. PS Yip. Means restriction for suicide prevention. Lancet. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2393–9. doi:10.1016/S0140-6736(12)60521-2.
  94. M Sisask. Media roles in suicide prevention: a systematic review. International journal of environmental research and public health. 2012 Jan. Vol. 9 (1). hlm. 123–38. doi:10.3390/ijerph9010123.
  95. Stack S. Suicide in the media: a quantitative review of studies based on non-fictional stories. Suicide Life Threat Behav. 2005. Vol. 35 (2). hlm. 121–33. doi:10.1521/suli.35.2.121.62877.
  96. Pirkis J. Suicide and the media. Psychiatry. July 2009. Vol. 8 (7). hlm. 269–271. doi:10.1016/j.mppsy.2009.04.009.
  97. M Sisask. Media roles in suicide prevention: a systematic review. International journal of environmental research and public health. 2012 Jan. Vol. 9 (1). hlm. 123–38. doi:10.3390/ijerph9010123.
  98. I Bohanna. Media guidelines for the responsible reporting of suicide: a review of effectiveness. Crisis. 2012. Vol. 33 (4). hlm. 190–8. doi:10.1027/0227-5910/a000137.
  99. I Bohanna. Media guidelines for the responsible reporting of suicide: a review of effectiveness. Crisis. 2012. Vol. 33 (4). hlm. 190–8. doi:10.1027/0227-5910/a000137.
  100. Sana Loue. Encyclopedia of aging and public health : with 19 tables. Springer. 2008. hlm. 696. ISBN 978-0-387-33753-1.
  101. Sana Loue. Encyclopedia of aging and public health : with 19 tables. Springer. 2008. hlm. 696. ISBN 978-0-387-33753-1.
  102. Harry R. Moody. Aging : concepts and controversies. Pine Forge Press. 2010. hlm. 158. ISBN 978-1-4129-6966-6.
  103. Harry R. Moody. Aging : concepts and controversies. Pine Forge Press. 2010. hlm. 158. ISBN 978-1-4129-6966-6.
  104. edited by Robert I. Simon, Robert E. Hales. The American Psychiatric Publishing textbook of suicide assessment and management. American Psychiatric Pub. hlm. 714. ISBN 978-1-58562-414-0.
  105. Tarek Sobh, editor. Innovations and advances in computer sciences and engineering. Springer Verlag. 2010. hlm. 503. ISBN 978-90-481-3658-2.
  106. V Rozanov. Suicide among war veterans. International journal of environmental research and public health. 2012 Jul. Vol. 9 (7). hlm. 2504–19. doi:10.3390/ijerph9072504.
  107. edited by Robert I. Simon, Robert E. Hales. The American Psychiatric Publishing textbook of suicide assessment and management. American Psychiatric Pub. hlm. 714. ISBN 978-1-58562-414-0.
  108. S Eliason. Murder-suicide: a review of the recent literature. The journal of the American Academy of Psychiatry and the Law. 2009. Vol. 37 (3). hlm. 371–6.
  109. William Kornblum in collaboration with Carolyn D. Smith. Sociology in a changing world. Wadsworth Cengage Learning. hlm. 27. ISBN 978-1-111-30157-6.
  110. Robert Jean Campbell. Campbell's psychiatric dictionary. Oxford University Press. 2004. hlm. 636. ISBN 978-0-19-515221-0.
  111. ed. by Robert M. Veatch. Medical ethics. Jones and Bartlett. 1997. hlm. 292. ISBN 978-0-86720-974-7.
  112. Yisrael Gutman. Anatomy of the Auschwitz death camp. Publ. in association with the United States Holocaust Memorial Museum, Washington, D.C. by Indiana University Press. 1998. hlm. 400. ISBN 978-0-253-20884-2.
  113. Ajdacic-Gross V. Methods of suicide: international suicide patterns derived from the WHO mortality database. Bull. World Health Organ. 2008. Vol. 86 (9). hlm. 726–32. doi:10.2471/BLT.07.043489.
  114. PS Yip. Means restriction for suicide prevention. Lancet. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2393–9. doi:10.1016/S0140-6736(12)60521-2.
  115. Ajdacic-Gross, Vladeta, et al.. Bulletin of the World Health Organization 86 (9): 726–732. September 2008. Accessed 2 August 2011.Archived 2 August 2011. See html version. The data can be seen here [1]
  116. International Handbook of Suicide Prevention: Research, Policy and Practice. John Wiley and Sons. 1 June 2011. hlm. 34. ISBN 978-1-119-99856-3.
  117. Gunnell D, Eddleston M, Phillips MR, Konradsen F. The global distribution of fatal pesticide self-poisoning: systematic review. BMC Public Health. 2007. Vol. 7. hlm. 357. doi:10.1186/1471-2458-7-357.
  118. PS Yip. Means restriction for suicide prevention. Lancet. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2393–9. doi:10.1016/S0140-6736(12)60521-2.
  119. John Geddes. Psychiatry. Oxford University Press. hlm. 62. ISBN 978-0-19-923396-0.
  120. PS Yip. Means restriction for suicide prevention. Lancet. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2393–9. doi:10.1016/S0140-6736(12)60521-2.
  121. PS Yip. Means restriction for suicide prevention. Lancet. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2393–9. doi:10.1016/S0140-6736(12)60521-2.
  122. Tintinalli, Judith E. Emergency Medicine: A Comprehensive Study Guide (Emergency Medicine (Tintinalli)). McGraw-Hill Companies. 2010. hlm. 1940–1946. ISBN 0-07-148480-9.
  123. B Chang. The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies. Emergency medicine practice. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.
  124. B Chang. The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies. Emergency medicine practice. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.
  125. U.S. Suicide Statistics (2005).
  126. edited by Sussie Eshun. Culture and mental health sociocultural influences, theory, and practice. Wiley-Blackwell. 2009. hlm. 301. ISBN 9781444305814.
  127. PS Yip. Means restriction for suicide prevention. Lancet. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2393–9. doi:10.1016/S0140-6736(12)60521-2.
  128. Etienne Krug. World Report on Violence and Health, Volume 1. World Health Organization. 2002. hlm. http://books.google.ca/books?id=db9OHpk-TksC&pg=PA196. ISBN 9789241545617.
  129. Etienne Krug. World Report on Violence and Health, Volume 1. World Health Organization. 2002. hlm. http://books.google.ca/books?id=db9OHpk-TksC&pg=PA196. ISBN 9789241545617.
  130. Diego de Leo (editor). Suicide and euthanasia in older adults : a transcultural journey. Hogrefe & Huber. 2001. hlm. 121. ISBN 9780889372511.
  131. B Chang. The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies. Emergency medicine practice. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.
  132. PS Yip. Means restriction for suicide prevention. Lancet. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2393–9. doi:10.1016/S0140-6736(12)60521-2.
  133. M Pjevac. Neurobiology of suicidal behaviour. Psychiatria Danubina. 2012 Oct. Vol. 24 Suppl 3. hlm. S336-41.
  134. L Sher. The role of brain-derived neurotrophic factor in the pathophysiology of adolescent suicidal behavior. International journal of adolescent medicine and health. 2011. Vol. 23 (3). hlm. 181–5.
  135. L Sher. Brain-derived neurotrophic factor and suicidal behavior. QJM : monthly journal of the Association of Physicians. 2011 May. Vol. 104 (5). hlm. 455–8. doi:10.1093/qjmed/hcq207.
  136. Yogesh Dwivedi. The neurobiological basis of suicide. Taylor & Francis/CRC Press. 2012. hlm. 166. ISBN 978-1-4398-3881-5.
  137. edited by George Stein. Seminars in general adult psychiatry. Gaskell. 2007. hlm. 145. ISBN 978-1-904671-44-2.
  138. Yogesh Dwivedi. The neurobiological basis of suicide. Taylor & Francis/CRC Press. 2012. hlm. 166. ISBN 978-1-4398-3881-5.
  139. AE Autry. Epigenetics in suicide and depression. Biological Psychiatry. 2009 Nov 1. Vol. 66 (9). hlm. 812–3. doi:10.1016/j.biopsych.2009.08.033.
  140. PS Yip. Means restriction for suicide prevention. Lancet. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2393–9. doi:10.1016/S0140-6736(12)60521-2.
  141. Suicide prevention. WHO Sites: Mental Health. World Health Organization. Aug 31,2012.
  142. PS Yip. Means restriction for suicide prevention. Lancet. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2393–9. doi:10.1016/S0140-6736(12)60521-2.
  143. Suicide prevention. WHO Sites: Mental Health. World Health Organization. Aug 31,2012.
  144. L Vijayakumar. Substance use and suicide. Current opinion in psychiatry. 2011 May. Vol. 24 (3). hlm. 197–202. doi:10.1097/YCO.0b013e3283459242.
  145. I Sakinofsky. The current evidence base for the clinical care of suicidal patients: strengths and weaknesses. Canadian Journal of Psychiatry. 2007 Jun. Vol. 52 (6 Suppl 1). hlm. 7S–20S.
  146. Suicide. The United States Surgeon General.
  147. J Robinson. Preventing suicide in young people: systematic review. The Australian and New Zealand journal of psychiatry. 2011 Jan. Vol. 45 (1). hlm. 3–26. doi:10.3109/00048674.2010.511147.
  148. CR Stark. A conceptual model of suicide in rural areas. Rural and remote health. 2011. Vol. 11 (2). hlm. 1622.
  149. MM Fässberg. A systematic review of social factors and suicidal behavior in older adulthood. International journal of environmental research and public health. 2012 Mar. Vol. 9 (3). hlm. 722–45. doi:10.3390/ijerph9030722.
  150. SB Williams. Screening for child and adolescent depression in primary care settings: a systematic evidence review for the US Preventive Services Task Force. Pediatrics. 2009 Apr. Vol. 123 (4). hlm. e716-35. doi:10.1542/peds.2008-2415.
  151. LM Horowitz. Suicide screening in schools, primary care and emergency departments. Current Opinion in Pediatrics. 2009 Oct. Vol. 21 (5). hlm. 620–7. doi:10.1097/MOP.0b013e3283307a89.
  152. B Chang. The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies. Emergency medicine practice. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.
  153. B Chang. The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies. Emergency medicine practice. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.
  154. B Chang. The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies. Emergency medicine practice. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.
  155. Tintinalli, Judith E. Emergency Medicine: A Comprehensive Study Guide (Emergency Medicine (Tintinalli)). McGraw-Hill Companies. 2010. hlm. 1940–1946. ISBN 0-07-148480-9.
  156. B Chang. The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies. Emergency medicine practice. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.
  157. B Chang. The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies. Emergency medicine practice. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.
  158. Tintinalli, Judith E. Emergency Medicine: A Comprehensive Study Guide (Emergency Medicine (Tintinalli)). McGraw-Hill Companies. 2010. hlm. 1940–1946. ISBN 0-07-148480-9.
  159. J Paris. Is hospitalization useful for suicidal patients with borderline personality disorder?. Journal of personality disorders. June 2004. Vol. 18 (3). hlm. 240–7. doi:10.1521/pedi.18.3.240.35443.
  160. M Goodman. Suicidal risk and management in borderline personality disorder. Current psychiatry reports. 2012 Feb. Vol. 14 (1). hlm. 79–85. doi:10.1007/s11920-011-0249-4.
  161. (CADTH) Canadian Agency for Drugs and Technologies in Health. Dialectical behaviour therapy in adolescents for suicide prevention: systematic review of clinical-effectiveness. CADTH technology overviews. 2010. Vol. 1 (1). hlm. e0104.
  162. JM Stoffers. Psychological therapies for people with borderline personality disorder. Cochrane database of systematic reviews (Online). 2012 Aug 15. Vol. 8. hlm. CD005652. doi:10.1002/14651858.CD005652.pub2.
  163. (CADTH) Canadian Agency for Drugs and Technologies in Health. Dialectical behaviour therapy in adolescents for suicide prevention: systematic review of clinical-effectiveness. CADTH technology overviews. 2010. Vol. 1 (1). hlm. e0104.
  164. K Hawton. Self-harm and suicide in adolescents. Lancet. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2373–82. doi:10.1016/S0140-6736(12)60322-5.
  165. SE Hetrick. Newer generation antidepressants for depressive disorders in children and adolescents. Cochrane database of systematic reviews (Online). 2012 Nov 14. Vol. 11. hlm. CD004851. doi:10.1002/14651858.CD004851.pub3.
  166. B Chang. The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies. Emergency medicine practice. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.
  167. RJ Baldessarini. Lithium treatment and suicide risk in major affective disorders: update and new findings. The Journal of clinical psychiatry. 2003. Vol. 64 Suppl 5. hlm. 44–52.
  168. A Cipriani. Lithium in the prevention of suicidal behavior and all-cause mortality in patients with mood disorders: a systematic review of randomized trials. The American Journal of Psychiatry. 2005 Oct. Vol. 162 (10). hlm. 1805–19. doi:10.1176/appi.ajp.162.10.1805.
  169. B Chang. The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies. Emergency medicine practice. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.
  170. P Värnik. Suicide in the world. International journal of environmental research and public health. 2012 Mar. Vol. 9 (3). hlm. 760–71. doi:10.3390/ijerph9030760.
  171. Hawton K, van Heeringen K. Suicide. Lancet. 2009. Vol. 373 (9672). hlm. 1372–81. doi:10.1016/S0140-6736(09)60372-X.
  172. P Värnik. Suicide in the world. International journal of environmental research and public health. 2012 Mar. Vol. 9 (3). hlm. 760–71. doi:10.3390/ijerph9030760.
  173. Suicide prevention. WHO Sites: Mental Health. World Health Organization. Aug 31,2012.
  174. Hawton K, van Heeringen K. Suicide. Lancet. 2009. Vol. 373 (9672). hlm. 1372–81. doi:10.1016/S0140-6736(09)60372-X.
  175. B Chang. The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies. Emergency medicine practice. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.
  176. P Värnik. Suicide in the world. International journal of environmental research and public health. 2012 Mar. Vol. 9 (3). hlm. 760–71. doi:10.3390/ijerph9030760.
  177. P Värnik. Suicide in the world. International journal of environmental research and public health. 2012 Mar. Vol. 9 (3). hlm. 760–71. doi:10.3390/ijerph9030760.
  178. Deaths estimates for 2008 by cause for WHO Member States. World Health Organization.
  179. EM Haney. Suicide Risk Factors and Risk Assessment Tools: A Systematic Review. 2012 Mar.
  180. B Chang. The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies. Emergency medicine practice. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.
  181. P Värnik. Suicide in the world. International journal of environmental research and public health. 2012 Mar. Vol. 9 (3). hlm. 760–71. doi:10.3390/ijerph9030760.
  182. P Värnik. Suicide in the world. International journal of environmental research and public health. 2012 Mar. Vol. 9 (3). hlm. 760–71. doi:10.3390/ijerph9030760.
  183. C Weiyuan. Women and suicide in rural China. Bulletin of the World Health Organization. 2009 Dec. Vol. 87 (12). hlm. 888–9. doi:10.2471/BLT.09.011209.
  184. B Chang. The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies. Emergency medicine practice. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.
  185. P Värnik. Suicide in the world. International journal of environmental research and public health. 2012 Mar. Vol. 9 (3). hlm. 760–71. doi:10.3390/ijerph9030760.
  186. David Sue, Derald Wing Sue, Diane Sue, Stanley Sue. Understanding abnormal behavior. Wadsworth/Cengage Learning. hlm. 255. ISBN 978-1-111-83459-3.
  187. David Sue, Derald Wing Sue, Diane Sue, Stanley Sue. Understanding abnormal behavior. Wadsworth/Cengage Learning. hlm. 255. ISBN 978-1-111-83459-3.
  188. P Värnik. Suicide in the world. International journal of environmental research and public health. 2012 Mar. Vol. 9 (3). hlm. 760–71. doi:10.3390/ijerph9030760.
  189. C Weiyuan. Women and suicide in rural China. Bulletin of the World Health Organization. 2009 Dec. Vol. 87 (12). hlm. 888–9. doi:10.2471/BLT.09.011209.
  190. P Värnik. Suicide in the world. International journal of environmental research and public health. 2012 Mar. Vol. 9 (3). hlm. 760–71. doi:10.3390/ijerph9030760.
  191. P Värnik. Suicide in the world. International journal of environmental research and public health. 2012 Mar. Vol. 9 (3). hlm. 760–71. doi:10.3390/ijerph9030760.
  192. A Pitman. Suicide in young men. Lancet. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2383–92. doi:10.1016/S0140-6736(12)60731-4.
  193. PS Yip. Means restriction for suicide prevention. Lancet. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2393–9. doi:10.1016/S0140-6736(12)60521-2.
  194. P Värnik. Suicide in the world. International journal of environmental research and public health. 2012 Mar. Vol. 9 (3). hlm. 760–71. doi:10.3390/ijerph9030760.
  195. B Chang. The depressed patient and suicidal patient in the emergency department: evidence-based management and treatment strategies. Emergency medicine practice. 2011 Sep. Vol. 13 (9). hlm. 1–23; quiz 23–4.
  196. K Hawton. Self-harm and suicide in adolescents. Lancet. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2373–82. doi:10.1016/S0140-6736(12)60322-5.
  197. A Pitman. Suicide in young men. Lancet. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2383–92. doi:10.1016/S0140-6736(12)60731-4.
  198. A Pitman. Suicide in young men. Lancet. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2383–92. doi:10.1016/S0140-6736(12)60731-4.
  199. A Pitman. Suicide in young men. Lancet. 2012 Jun 23. Vol. 379 (9834). hlm. 2383–92. doi:10.1016/S0140-6736(12)60731-4.
  200. P Värnik. Suicide in the world. International journal of environmental research and public health. 2012 Mar. Vol. 9 (3). hlm. 760–71. doi:10.3390/ijerph9030760.
  201. Tony White. Working with suicidal individuals : a guide to providing understanding, assessment and support. Jessica Kingsley Publishers. 2010. hlm. 12. ISBN 978-1-84905-115-6.
  202. Irina Paperno. Suicide as a cultural institution in Dostoevsky's Russia. Cornell university press. 1997. hlm. 60. ISBN 978-0-8014-8425-4.
  203. D Lester. Suicide and islam. Archives of suicide research : official journal of the International Academy for Suicide Research. 2006. Vol. 10 (1). hlm. 77–97. doi:10.1080/13811110500318489.
  204. David Lanham ... [et al.]. Criminal laws in Australia. The Federation Press. 2006. hlm. 229. ISBN 978-1-86287-558-6.
  205. Michael Costa, Mark Duffy. Labor, prosperity and the nineties : beyond the bonsai economy. Federation Press. 1991. hlm. 315. ISBN 978-1-86287-060-4.
  206. Constance E. Putnam ; foreword by Timothy E. Quill. Hospice or hemlock? : searching for heroic compassion. Praeger. 2002. hlm. 143. ISBN 978-0-89789-921-5.
  207. Columba McLaughlin. Suicide-related behaviour understanding, caring and therapeutic responses. John Wiley & Sons. 2007. hlm. 24. ISBN 978-0-470-51241-8.
  208. Columba McLaughlin. Suicide-related behaviour understanding, caring and therapeutic responses. John Wiley & Sons. 2007. hlm. 24. ISBN 978-0-470-51241-8.
  209. Holt, Gerry."When suicide was illegal". BBC News. 3 August 2011. Accessed 11 August 2011.
  210. Guardian & Observer style guide. Guardian website. The Guardian.
  211. editors, Nitish Dogra, Sangeet Srivastava. Climate change and disease dynamics in India. The Energy and Resources Institute. hlm. 256. ISBN 978-81-7993-412-8.
  212. "German politician Roger Kusch helped elderly woman to die"Times Online July 2, 2008
  213. Appel, JM. A Suicide Right for the Mentally Ill? A Swiss Case Opens a New Debate. Hastings Center Report. 2007. Vol. 37 (3). hlm. 21–23. doi:10.1353/hcr.2007.0035.
  214. Columba McLaughlin. Suicide-related behaviour understanding, caring and therapeutic responses. John Wiley & Sons. 2007. hlm. 24. ISBN 978-0-470-51241-8.
  215. Chapter 127.800–995 The Oregon Death with Dignity Act. Oregon State Legislature.
  216. Chapter 70.245 RCW, The Washington death with dignity act. Washington State Legislature.
  217. Suicide (Stanford Encyclopedia of Philosophy). Plato.stanford.edu.
  218. C Ozawa-de Silva. Too lonely to die alone: internet suicide pacts and existential suffering in Japan. Culture, medicine and psychiatry. 2008 Dec. Vol. 32 (4). hlm. 516–51. doi:10.1007/s11013-008-9108-0.
  219. T Durkee. Internet pathways in suicidality: a review of the evidence. International journal of environmental research and public health. 2011 Oct. Vol. 8 (10). hlm. 3938–52. doi:10.3390/ijerph8103938.
  220. edited by David Picard, Mike Robinson. Emotion in motion : tourism, affect and transformation. Ashgate. hlm. 176. ISBN 978-1-4094-2133-7.
  221. ed. by Peter Robinson. Research themes for tourism. CABI. 2010. hlm. 172. ISBN 978-1-84593-684-6.
  222. edited by David Picard, Mike Robinson. Emotion in motion : tourism, affect and transformation. Ashgate. hlm. 176. ISBN 978-1-4094-2133-7.
  223. Richard Dennis. Cities in modernity : representations and productions of metropolitan space, 1840 – 1930. Cambridge Univ. Press. 2008. hlm. 20. ISBN 978-0-521-46841-1.
  224. Tim McDougall. Helping children and young people who self-harm : an introduction to self-harming and suicidal behaviours for health professionals. Routledge. 2010. hlm. 23. ISBN 978-0-415-49913-2.
  225. John Bateson. Building hope : leadership in the nonprofit world. Praeger. 2008. hlm. 180. ISBN 978-0-313-34851-8.
  226. Richard Dennis. Cities in modernity : representations and productions of metropolitan space, 1840 – 1930. Cambridge Univ. Press. 2008. hlm. 20. ISBN 978-0-521-46841-1.
  227. John Bateson. Building hope : leadership in the nonprofit world. Praeger. 2008. hlm. 180. ISBN 978-0-313-34851-8.
  228. David Miller. Child and Adolescent Suicidal Behavior: School-Based Prevention, Assessment, and Intervention. 2011. hlm. 46. ISBN 978-1-60623-997-1.
  229. David Miller. Child and Adolescent Suicidal Behavior: School-Based Prevention, Assessment, and Intervention. 2011. hlm. 46. ISBN 978-1-60623-997-1.
  230. Ronald Maris. Comprehensive textbook of suicidology. Guilford Press. 2000. hlm. 97–103. ISBN 978-1-57230-541-0.
  231. Chang, Kenneth. In Salmonella Attack, Taking One for the Team. New York Times. August 25, 2008.
  232. Tofilski,Adam; Couvillon, MJ;Evison, SEF; Helantera, H; Robinson, EJH; Ratnieks, FLW. Preemptive Defensive Self-Sacrifice by Ant Workers. The American Naturalist. 2008. Vol. 172 (5). hlm. E239–E243. doi:10.1086/591688.
  233. Larry O'Hanlon. Animal Suicide Sheds Light on Human Behavior. Discovery News. Mar 10, 2010.
  234. Life In The Undergrowth. BBC.
  235. Bordereau, C. Suicidal defensive behaviour by frontal gland dehiscence in Globitermes sulphureus Haviland soldiers (Isoptera). Insectes Sociaux. Birkhäuser Basel. August, 1997. Vol. 44 (3). hlm. 289. doi:10.1007/s000400050049.
  236. Nobel, Justin. Do Animals Commit Suicide? A Scientific Debate. Time. Mar. 19, 2010.
  237. Stoff, David. Suicide Research. Annals of the New York Academy of Sciences. 1997. Vol. 836 (Neurobiology of Suicide, The : From the Bench to the Clinic). hlm. 1–11. doi:10.1111/j.1749-6632.1997.tb52352.x.
  238. Hall 1987, p.282
  239. "Jonestown Audiotape Primary Project."Alternative Considerations of Jonestown and Peoples Temple. San Diego State University.
  240. "1978:Leaves 900 Dead". Retrieved 9 November 2011.
  241. John Toland, The Rising Sun: The Decline and Fall of the Japanese Empire 1936–1945, Random House, 1970, p. 519
  242. Suicide and Self-Starvation, Terence M. O'Keeffe, Philosophy, Vol. 59, No. 229 (Jul., 1984), pp. 349–363
  243. Bruce Watson. Exit Rommel: The Tunisian Campaign, 1942–43. Stackpole Books. 2007. hlm. 170. ISBN 978-0-8117-3381-6.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29552914 (2026-08-10T08:52:29Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.