Lompat ke isi

Ekonometrika spasial: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29321290; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Ekonometrika spasial''' adalah bidang di mana [[penguraian keruangan|analisis spasial]] dan [[ekonometrika]] beririsan. Istilah "ekonometrika spasial" pertama kali diperkenalkan oleh ekonom berkebangsaan Belgia yang bernama [[Jean Paelinck]] dalam pertemuan tahunan Asosiasi Statistik Belanda (Dutch Statistical Association) pada Mei 1974 (Paelinck dan Klaassen, 1979).
[[File:Inflasi_Indonesia.png|thumb|right|280px|Inflasi Indonesia]]


Secara umum, ekonometrika sendiri berbeda dari cabang statistik lainnya karena berfokus pada model teoretis, yang parameternya diestimasi menggunakan [[analisis regresi]]. Kemudian, ekonometrika spasial merupakan bentuk lanjutan dari ilmu ini. Di mana model teoretis tersebut ikut memperhitungkan interaksi yang dapat terjadi antara entitas dalam suatu wilayah sepanjang memilki hubungan secara geografi atau spasial. Dengan kata lain, pengamatan data tidak benar-benar berdiri sendiri. Sehingga, model yang memperhitungkan [[penguraian keruangan|autokorelasi spasial]] atau [[Neighborhood effects|efek lingkungan]] dapat diestimasi menggunakan metode ekonometrika spasial.
'''Ekonometrika spasial''' adalah bidang di mana [[penguraian keruangan|analisis spasial]] dan [[ekonometrika]] beririsan. Istilah "ekonometrika spasial" pertama kali diperkenalkan oleh ekonom berkebangsaan Belgia yang bernama [[Jean Paelinck]] dalam pertemuan tahunan Asosiasi Statistik Belanda (Dutch Statistical Association) pada Mei 1974 (Paelinck dan Klaassen, 1979).<ref>Jean H. P. Paelinck. [https://books.google.co.id/books/about/Spatial_Econometrics.html?id=mVTaAAAAMAAJ&redir_esc=y Spatial Econometrics]. Saxon House. 1979. ISBN 978-0-566-00264-9.</ref>
 
Secara umum, ekonometrika sendiri berbeda dari cabang statistik lainnya karena berfokus pada model teoretis, yang parameternya diestimasi menggunakan [[analisis regresi]]. Kemudian, ekonometrika spasial merupakan bentuk lanjutan dari ilmu ini. Di mana model teoretis tersebut ikut memperhitungkan interaksi yang dapat terjadi antara entitas dalam suatu wilayah sepanjang memilki hubungan secara geografi atau spasial. Dengan kata lain, pengamatan data tidak benar-benar berdiri sendiri. Sehingga, model yang memperhitungkan [[penguraian keruangan|autokorelasi spasial]] atau [[Neighborhood effects|efek lingkungan]] dapat diestimasi menggunakan metode ekonometrika spasial.  


Dengan mengadopsi pandangan yang lebih umum, disiplin ilmu ini didefinisikan sebagai seperangkat model dan instrumen teoretis dari statistik dan analisis data spasial untuk menganalisis berbagai efek ekonomi seperti [[eksternalitas]], interaksi, konsentrasi spasial, dan banyak lainnya (Asosiasi Ekonometrika Spasial, 2006). Perkembangan terkini bahkan juga mencakup hubungan ekonomi dan sosial antar entitas.
Dengan mengadopsi pandangan yang lebih umum, disiplin ilmu ini didefinisikan sebagai seperangkat model dan instrumen teoretis dari statistik dan analisis data spasial untuk menganalisis berbagai efek ekonomi seperti [[eksternalitas]], interaksi, konsentrasi spasial, dan banyak lainnya (Asosiasi Ekonometrika Spasial, 2006). Perkembangan terkini bahkan juga mencakup hubungan ekonomi dan sosial antar entitas.


== Sejarah ==
== Sejarah ==
Sejarah ekonometrika spatial sudah dimulai sejak Paelinck & Klaassen (1979) menerbitkan sebuah volume berjudul “''Spatial Econometric''”,  yang dapat dikatakan sebagai upaya komprehensif pertama dalam menguraikan bidang ekonometrika spasial dan metodologi tersebut. Dalam volume tersebut Paelinck & Klaassen (1979) tidak mendefinisikan ekonometri spasial oleh mereka sendiri, tetapi mulai dengan menetapkan lima prinsip penting untuk memandu perumusan model ekonometri spasial.
Sejarah ekonometrika spatial sudah dimulai sejak Paelinck & Klaassen (1979) menerbitkan sebuah volume berjudul “''Spatial Econometric''”,  yang dapat dikatakan sebagai upaya komprehensif pertama dalam menguraikan bidang ekonometrika spasial dan metodologi tersebut. Dalam volume tersebut Paelinck & Klaassen (1979) tidak mendefinisikan ekonometri spasial oleh mereka sendiri, tetapi mulai dengan menetapkan lima prinsip penting untuk memandu perumusan model ekonometri spasial.<ref>Jean H. P. Paelinck. [https://books.google.co.id/books/about/Spatial_Econometrics.html?id=mVTaAAAAMAAJ&redir_esc=y Spatial Econometrics]. Saxon House. 1979. ISBN 978-0-566-00264-9.</ref>


Lima aturan tersebut antara lain: (i) peran saling ketergantungan spasial, (ii) asimetri dalam hubungan spasial, (iii) pentingnya faktor penjelas yang terletak pada ruang lain (''space distant explanatory factors''), (iv) diferensiasi interaksi antara ''ex post'' dan ''ex ante'', dan (v) pemodelan eksplisit ruang (topologi) dalam model spasial. Aturan ini menekankan pentingnya ekspresi realistis variabel spasial eksplisit dalam spesifikasi model ekonometri seperti tindakan potensial (''allotropy''), fungsi peluruhan jarak, dan tata ruang (topologi) (Anselin, 2010).
Lima aturan tersebut antara lain: (i) peran saling ketergantungan spasial, (ii) asimetri dalam hubungan spasial, (iii) pentingnya faktor penjelas yang terletak pada ruang lain (''space distant explanatory factors''), (iv) diferensiasi interaksi antara ''ex post'' dan ''ex ante'', dan (v) pemodelan eksplisit ruang (topologi) dalam model spasial. Aturan ini menekankan pentingnya ekspresi realistis variabel spasial eksplisit dalam spesifikasi model ekonometri seperti tindakan potensial (''allotropy''), fungsi peluruhan jarak, dan tata ruang (topologi) (Anselin, 2010).<ref>Luc Anselin. [https://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S1056819023020894 Thirty years of spatial econometrics]. ''Papers in Regional Science''. 2010-03. Vol. 89 (1). hlm. 3–26. doi:10.1111/j.1435-5957.2010.00279.x.</ref>


== Matriks Pembobot Spasial ==
== Matriks Pembobot Spasial ==
[[Matriks pembobot spasial]] atau [[spatial weight matrix]] (dalam bahasa inggris) merupakan elemen yang penting dalam ekonometrika spasial. Matriks ini menggambarkan adanya pengaruh ''spatial dependence'' terkait dengan kondisi ruang atau wilayah yang berdekatan. Dapat digambarkan bahwa pada observasi sejumlah daerah r, matriks W adalah r x r dengan elemen diagonal bernilai 0 dan elemen w<sub>ij</sub> merepresentasikan intensitas efek antara dua daerah yaitu i dan j. Anselin (2003) menggunakan 2 (dua) pendekatan untuk mendefinisikan matriks W, yaitu persentuhan/hubungan (''contiguity'') dan jarak (''distance'').
[[Matriks pembobot spasial]] atau [[spatial weight matrix]] (dalam bahasa inggris) merupakan elemen yang penting dalam ekonometrika spasial. Matriks ini menggambarkan adanya pengaruh ''spatial dependence'' terkait dengan kondisi ruang atau wilayah yang berdekatan. Dapat digambarkan bahwa pada observasi sejumlah daerah r, matriks W adalah r x r dengan elemen diagonal bernilai 0 dan elemen w<sub>ij</sub> merepresentasikan intensitas efek antara dua daerah yaitu i dan j. Anselin (2003) menggunakan 2 (dua) pendekatan untuk mendefinisikan matriks W, yaitu persentuhan/hubungan (''contiguity'') dan jarak (''distance'').<ref>Luc Anselin. [https://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S1056819023020894 Thirty years of spatial econometrics]. ''Papers in Regional Science''. 2010-03. Vol. 89 (1). hlm. 3–26. doi:10.1111/j.1435-5957.2010.00279.x.</ref>


== Persentuhan / Hubungan ==
== Persentuhan / Hubungan ==
Baris 17: Baris 19:


=== a. Rook ===
=== a. Rook ===
Rook atau Benteng (dalam bahasa Indonesia) yaitu matriks persinggungan sisi yang mendefinisikan kode 1 untuk suatu daerah yang bersisian (''common side'') dengan daerah tetangga dan kode 0 untuk daerah lainnya. Sehingga hanya daerah tetangga yang berhubungan secara horizontal dan diagonal yang diakui memiliki hubungan dengan suatu daerah.
Rook atau Benteng (dalam bahasa Indonesia) yaitu matriks persinggungan sisi yang mendefinisikan kode 1 untuk suatu daerah yang bersisian (''common side'') dengan daerah tetangga dan kode 0 untuk daerah lainnya. Sehingga hanya daerah tetangga yang berhubungan secara horizontal dan diagonal yang diakui memiliki hubungan dengan suatu daerah.  


=== b. Queen ===
=== b. Queen ===
Queen atau Ratu (dalam bahasa Indonesia) atau ada juga yang menyebutnya sebagai perdana menteri yaitu matriks persinggungan sisi sudut yang mendefinisikan kode 1 untuk daerah yang bersisian atau titik sudutnya bertemu dengan daerah tetangganya dan kode 0 untuk daerah lainnya. Sehingga, setiap daerah yang bersentuhan, dianggap memiliki hubungan dengan daerah tersebut.


Queen atau Ratu (dalam bahasa Indonesia) atau ada juga yang menyebutnya sebagai perdana menteri yaitu matriks persinggungan sisi sudut yang mendefinisikan kode 1 untuk daerah yang bersisian atau titik sudutnya bertemu dengan daerah tetangganya dan kode 0 untuk daerah lainnya. Sehingga, setiap daerah yang bersentuhan, dianggap memiliki hubungan dengan daerah tersebut.
Meski demikian, kedepannya ekonometrika spasial menjadi lebih fleksibel, misalnya dengan adanya matriks pembobot berdasarkan jarak. Interaksi ketetanggaan seperti ini ditentukan oleh jarak antara dua wilayah. Hal ini sesuai dengan hukum pertama geografi Tobler (1970)<ref>WAldo Tobler. [https://www.jstor.org/stable/143141 A Computer Movie Simulating Urban Growth in the Detroit Region]. ''https://www.jstor.org/stable/143141''. 1970-10-02.</ref> yang mengasumsikan bahwa semakin dekat jarak antara dua wilayah, maka hubungan yang dimiliki akan lebih kuat. Sebaliknya, jika semakin jauh jarak antara dua wilayah, maka interaksi yang dimiliki akan semakin lemah.
 
Meski demikian, kedepannya ekonometrika spasial menjadi lebih fleksibel, misalnya dengan adanya matriks pembobot berdasarkan jarak. Interaksi ketetanggaan seperti ini ditentukan oleh jarak antara dua wilayah. Hal ini sesuai dengan hukum pertama geografi Tobler (1970) yang mengasumsikan bahwa semakin dekat jarak antara dua wilayah, maka hubungan yang dimiliki akan lebih kuat. Sebaliknya, jika semakin jauh jarak antara dua wilayah, maka interaksi yang dimiliki akan semakin lemah.


== Referensi ==
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ekonometrika+spasial&oldid=29321290 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29321290 (2026-06-06T09:28:52Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


== Sumber dan atribusi ==
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->
 
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ekonometrika+spasial&oldid=29321290 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29321290 (2026-06-06T09:28:52Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.

Revisi terkini sejak 23 Agustus 2026 14.02

Berkas:Inflasi Indonesia.png
Inflasi Indonesia

Ekonometrika spasial adalah bidang di mana analisis spasial dan ekonometrika beririsan. Istilah "ekonometrika spasial" pertama kali diperkenalkan oleh ekonom berkebangsaan Belgia yang bernama Jean Paelinck dalam pertemuan tahunan Asosiasi Statistik Belanda (Dutch Statistical Association) pada Mei 1974 (Paelinck dan Klaassen, 1979).[1]

Secara umum, ekonometrika sendiri berbeda dari cabang statistik lainnya karena berfokus pada model teoretis, yang parameternya diestimasi menggunakan analisis regresi. Kemudian, ekonometrika spasial merupakan bentuk lanjutan dari ilmu ini. Di mana model teoretis tersebut ikut memperhitungkan interaksi yang dapat terjadi antara entitas dalam suatu wilayah sepanjang memilki hubungan secara geografi atau spasial. Dengan kata lain, pengamatan data tidak benar-benar berdiri sendiri. Sehingga, model yang memperhitungkan autokorelasi spasial atau efek lingkungan dapat diestimasi menggunakan metode ekonometrika spasial.

Dengan mengadopsi pandangan yang lebih umum, disiplin ilmu ini didefinisikan sebagai seperangkat model dan instrumen teoretis dari statistik dan analisis data spasial untuk menganalisis berbagai efek ekonomi seperti eksternalitas, interaksi, konsentrasi spasial, dan banyak lainnya (Asosiasi Ekonometrika Spasial, 2006). Perkembangan terkini bahkan juga mencakup hubungan ekonomi dan sosial antar entitas.

Sejarah

Sejarah ekonometrika spatial sudah dimulai sejak Paelinck & Klaassen (1979) menerbitkan sebuah volume berjudul “Spatial Econometric”,  yang dapat dikatakan sebagai upaya komprehensif pertama dalam menguraikan bidang ekonometrika spasial dan metodologi tersebut. Dalam volume tersebut Paelinck & Klaassen (1979) tidak mendefinisikan ekonometri spasial oleh mereka sendiri, tetapi mulai dengan menetapkan lima prinsip penting untuk memandu perumusan model ekonometri spasial.[2]

Lima aturan tersebut antara lain: (i) peran saling ketergantungan spasial, (ii) asimetri dalam hubungan spasial, (iii) pentingnya faktor penjelas yang terletak pada ruang lain (space distant explanatory factors), (iv) diferensiasi interaksi antara ex post dan ex ante, dan (v) pemodelan eksplisit ruang (topologi) dalam model spasial. Aturan ini menekankan pentingnya ekspresi realistis variabel spasial eksplisit dalam spesifikasi model ekonometri seperti tindakan potensial (allotropy), fungsi peluruhan jarak, dan tata ruang (topologi) (Anselin, 2010).[3]

Matriks Pembobot Spasial

Matriks pembobot spasial atau spatial weight matrix (dalam bahasa inggris) merupakan elemen yang penting dalam ekonometrika spasial. Matriks ini menggambarkan adanya pengaruh spatial dependence terkait dengan kondisi ruang atau wilayah yang berdekatan. Dapat digambarkan bahwa pada observasi sejumlah daerah r, matriks W adalah r x r dengan elemen diagonal bernilai 0 dan elemen wij merepresentasikan intensitas efek antara dua daerah yaitu i dan j. Anselin (2003) menggunakan 2 (dua) pendekatan untuk mendefinisikan matriks W, yaitu persentuhan/hubungan (contiguity) dan jarak (distance).[4]

Persentuhan / Hubungan

Dalam teori awal, persentuhan / hubungan yang disebut juga dengan contiguity (dalam bahasa inggris) menjadi dasar terjadinya interaksi spasial antara daerah. Matriks bobot spasial berdasarkan persentuhan batas wilayah (contiguity) menunjukkan bahwa interaksi spasial dapat terjadi antar wilayah yang bertetangga atau yang memiliki persentuhan batas wilayah (common boundary). Persinggungan antar wilayah yang berdekatan digambarkan dengan kode binary dalam matriks untuk menyatakan hubungan keterkaitan antara spasial unit. Jika berbatasan langsung diberi nilai 1 dan 0 untuk  lainnya. Menurut GeoDa Center terdapat 2 tipe umum interaksi dari contiguity matrix dan keduanya menggunakan istilah yang ada dalam catur, antara lain:

a. Rook

Rook atau Benteng (dalam bahasa Indonesia) yaitu matriks persinggungan sisi yang mendefinisikan kode 1 untuk suatu daerah yang bersisian (common side) dengan daerah tetangga dan kode 0 untuk daerah lainnya. Sehingga hanya daerah tetangga yang berhubungan secara horizontal dan diagonal yang diakui memiliki hubungan dengan suatu daerah.

b. Queen

Queen atau Ratu (dalam bahasa Indonesia) atau ada juga yang menyebutnya sebagai perdana menteri yaitu matriks persinggungan sisi sudut yang mendefinisikan kode 1 untuk daerah yang bersisian atau titik sudutnya bertemu dengan daerah tetangganya dan kode 0 untuk daerah lainnya. Sehingga, setiap daerah yang bersentuhan, dianggap memiliki hubungan dengan daerah tersebut.

Meski demikian, kedepannya ekonometrika spasial menjadi lebih fleksibel, misalnya dengan adanya matriks pembobot berdasarkan jarak. Interaksi ketetanggaan seperti ini ditentukan oleh jarak antara dua wilayah. Hal ini sesuai dengan hukum pertama geografi Tobler (1970)[5] yang mengasumsikan bahwa semakin dekat jarak antara dua wilayah, maka hubungan yang dimiliki akan lebih kuat. Sebaliknya, jika semakin jauh jarak antara dua wilayah, maka interaksi yang dimiliki akan semakin lemah.

Referensi

  1. Jean H. P. Paelinck. Spatial Econometrics. Saxon House. 1979. ISBN 978-0-566-00264-9.
  2. Jean H. P. Paelinck. Spatial Econometrics. Saxon House. 1979. ISBN 978-0-566-00264-9.
  3. Luc Anselin. Thirty years of spatial econometrics. Papers in Regional Science. 2010-03. Vol. 89 (1). hlm. 3–26. doi:10.1111/j.1435-5957.2010.00279.x.
  4. Luc Anselin. Thirty years of spatial econometrics. Papers in Regional Science. 2010-03. Vol. 89 (1). hlm. 3–26. doi:10.1111/j.1435-5957.2010.00279.x.
  5. WAldo Tobler. A Computer Movie Simulating Urban Growth in the Detroit Region. https://www.jstor.org/stable/143141. 1970-10-02.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29321290 (2026-06-06T09:28:52Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.