Lompat ke isi

Masjid Mantingan: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
Maintenance script (bicara | kontrib)
Pembersihan konten sesuai kebijakan Wiki Unissula
 
Baris 3: Baris 3:
'''Masjid Mantingan''' (), juga dikenal dengan nama '''Masjid Astana Sultan Hadlirin''',<ref>Aditya Putra Perdana. [https://www.kompas.id/baca/nusantara/2021/05/17/masjid-mantingan-potret-akultrasi-dan-cikal-bakal-seni-ukir-jepara/ Masjid Mantingan, Potret Akultrasi dan Cikal Bakal Seni Ukir Jepara]. ''Kompas.id''. 2021-05-17.</ref><ref>Rhobi Shani. [https://www.medcom.id/ramadan/khas-daerah-ramadan/aNrL9xak-masjid-mantingan-bangunan-bersejarah-peninggalan-ratu-kalinyamat Masjid Mantingan, Bangunan Bersejarah Peninggalan Ratu Kalinyamat]. ''Medcom.id''. 2016-06-10.</ref> adalah salah satu masjid kuno di [[Indonesia]] yang terletak di [[Mantingan, Tahunan, Jepara|Desa Mantingan]], [[Tahunan, Jepara|Kecamatan Tahunan]], [[Kabupaten Jepara]], [[Jawa Tengah]]. Jaraknya sekitar 5 km arah selatan dari [[Jepara, Jepara|Kecamatan Jepara]]. Secara keseluruhan, Masjid Mantingan merupakan sebuah kompleks yang terdiri dari masjid itu sendiri, permakaman, dan sebuah museum sederhana.
'''Masjid Mantingan''' (), juga dikenal dengan nama '''Masjid Astana Sultan Hadlirin''',<ref>Aditya Putra Perdana. [https://www.kompas.id/baca/nusantara/2021/05/17/masjid-mantingan-potret-akultrasi-dan-cikal-bakal-seni-ukir-jepara/ Masjid Mantingan, Potret Akultrasi dan Cikal Bakal Seni Ukir Jepara]. ''Kompas.id''. 2021-05-17.</ref><ref>Rhobi Shani. [https://www.medcom.id/ramadan/khas-daerah-ramadan/aNrL9xak-masjid-mantingan-bangunan-bersejarah-peninggalan-ratu-kalinyamat Masjid Mantingan, Bangunan Bersejarah Peninggalan Ratu Kalinyamat]. ''Medcom.id''. 2016-06-10.</ref> adalah salah satu masjid kuno di [[Indonesia]] yang terletak di [[Mantingan, Tahunan, Jepara|Desa Mantingan]], [[Tahunan, Jepara|Kecamatan Tahunan]], [[Kabupaten Jepara]], [[Jawa Tengah]]. Jaraknya sekitar 5 km arah selatan dari [[Jepara, Jepara|Kecamatan Jepara]]. Secara keseluruhan, Masjid Mantingan merupakan sebuah kompleks yang terdiri dari masjid itu sendiri, permakaman, dan sebuah museum sederhana.


Masjid ini memiliki [[gaya arsitektur]] campuran dari kebudayaan [[Sejarah Nusantara pada era kerajaan Hindu-Buddha|Hindu-Buddha]], [[Arsitektur Jawa|Jawa]], dan [[Budaya Tionghoa-Indonesia|Tionghoa]]. Contohnya adalah bentuk [[atap]] tumpang dan mustaka yang merupakan [[akulturasi]] dari arsitektur masa [[Majapahit]] dan Tionghoa. Kebudayaan Jawa dapat terlihat dari [[gapura]] masuk masjid dan sebuah [[petilasan]] candi di dekat masjid, meskipun sudah tidak utuh lagi.
Contohnya adalah bentuk [[atap]] tumpang dan mustaka yang merupakan [[akulturasi]] dari arsitektur masa [[Majapahit]] dan Tionghoa. Kebudayaan Jawa dapat terlihat dari [[gapura]] masuk masjid dan sebuah [[petilasan]] candi di dekat masjid, meskipun sudah tidak utuh lagi.


== Sejarah ==
== Sejarah ==
Baris 12: Baris 12:
Antara tahun 1977 dan 1978, [[Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia|Departemen Pendidikan dan Kebudayaan]] [[Jawa Tengah]] melakukan pemugaran terhadap Masjid Mantingan melalui proyek yang bernama "Proyek Pembinaan dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah". Dalam pemugaran tersebut, ditemukan enam panel relief, sejumlah balok batu putih, dan fondasi bangunan kuno.<ref>Ivan Efendi. [https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/dpk/masjid-mantingan-persembahan-sang-ratu-untuk-sultan-hadiri/ Masjid Mantingan, Persembahan Sang Ratu untuk Sang Suami]. ''Direktorat Pelindungan Kebudayaan''. 2018-10-05.</ref>
Antara tahun 1977 dan 1978, [[Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia|Departemen Pendidikan dan Kebudayaan]] [[Jawa Tengah]] melakukan pemugaran terhadap Masjid Mantingan melalui proyek yang bernama "Proyek Pembinaan dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah". Dalam pemugaran tersebut, ditemukan enam panel relief, sejumlah balok batu putih, dan fondasi bangunan kuno.<ref>Ivan Efendi. [https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/dpk/masjid-mantingan-persembahan-sang-ratu-untuk-sultan-hadiri/ Masjid Mantingan, Persembahan Sang Ratu untuk Sang Suami]. ''Direktorat Pelindungan Kebudayaan''. 2018-10-05.</ref>


== Arsitektur ==
Keseluruhan bangunannya memiliki tipologi masjid kuno Jawa pada umumnya seperti konstruksi atap yang disangga dengan soko guru (empat tiang penyangga), atap yang bersusun tiga, adanya serambi depan, dan gapura masuk berbentuk lengkungan. Lalu, terdapat petilasan candi di dekat bangunan utama masjid, meskipun sudah tidak tampak utuh. Bentuk [[atap]] tumpang dan mustakanya merupakan [[akulturasi]] dari arsitektur masa [[Majapahit]] dan Tionghoa.<ref>Hasanul Rizqa. [https://www.republika.co.id/berita/q8zdur458/masjid-mantingan-jepara-akulturasi-tiga-budaya Masjid Mantingan Jepara, Akulturasi Tiga Budaya]. ''Republika Online''. 2020-04-18.</ref>
Akulturasi kebudayaan [[Sejarah Nusantara pada era kerajaan Hindu-Buddha|Hindu-Buddha]], [[Arsitektur Jawa|Jawa]], dan [[Budaya Tionghoa-Indonesia|Tionghoa]] tampak melekat pada arsitektur Masjid Mantingan. Keseluruhan bangunannya memiliki tipologi masjid kuno Jawa pada umumnya seperti konstruksi atap yang disangga dengan soko guru (empat tiang penyangga), atap yang bersusun tiga, adanya serambi depan, dan gapura masuk berbentuk lengkungan. Lalu, terdapat petilasan candi di dekat bangunan utama masjid, meskipun sudah tidak tampak utuh. Bentuk [[atap]] tumpang dan mustakanya merupakan [[akulturasi]] dari arsitektur masa [[Majapahit]] dan Tionghoa.<ref>Hasanul Rizqa. [https://www.republika.co.id/berita/q8zdur458/masjid-mantingan-jepara-akulturasi-tiga-budaya Masjid Mantingan Jepara, Akulturasi Tiga Budaya]. ''Republika Online''. 2020-04-18.</ref>


Menurut [[Pramoedya Ananta Toer]] dalam ''[[Arus Balik]]'', masjid ini didirikan dengan lantai tinggi yang ditutup dengan ubin dan [[Punden berundak|undak-undakannya]] yang berasal dari [[Makau]]. Dinding luar dan dalam dihiasi dengan piring tembikar bergambar biru.
Menurut [[Pramoedya Ananta Toer]] dalam ''[[Arus Balik]]'', masjid ini didirikan dengan lantai tinggi yang ditutup dengan ubin dan [[Punden berundak|undak-undakannya]] yang berasal dari [[Makau]]. Dinding luar dan dalam dihiasi dengan piring tembikar bergambar biru.
Baris 20: Baris 19:
Masjid Mantingan memiliki hiasan-hiasan berupa panel relief yang terdapat di dinding depan bangunan induknya. Panel-panel ini terbuat dari [[Tanah padas|batu padas]] dengan motif relief bercorak Tionghoa. Selain di bangunan induk, panel relief ini juga terdapat di dinding belakang dan dinding pembatas antara ruangan tengah dengan samping kiri dan kanan, sehingga jumlah panel relief yang terpasang masjid berjumlah 51. Aslinya, masjid ini memiliki 114 relief, tetapi sisanya disimpan dalam sebuah museum sederhana.<ref>Hasanul Rizqa. [https://www.republika.co.id/berita/q8zdur458/masjid-mantingan-jepara-akulturasi-tiga-budaya Masjid Mantingan Jepara, Akulturasi Tiga Budaya]. ''Republika Online''. 2020-04-18.</ref><ref>Ivan Efendi. [https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/dpk/masjid-mantingan-persembahan-sang-ratu-untuk-sultan-hadiri/ Masjid Mantingan, Persembahan Sang Ratu untuk Sang Suami]. ''Direktorat Pelindungan Kebudayaan''. 2018-10-05.</ref>  
Masjid Mantingan memiliki hiasan-hiasan berupa panel relief yang terdapat di dinding depan bangunan induknya. Panel-panel ini terbuat dari [[Tanah padas|batu padas]] dengan motif relief bercorak Tionghoa. Selain di bangunan induk, panel relief ini juga terdapat di dinding belakang dan dinding pembatas antara ruangan tengah dengan samping kiri dan kanan, sehingga jumlah panel relief yang terpasang masjid berjumlah 51. Aslinya, masjid ini memiliki 114 relief, tetapi sisanya disimpan dalam sebuah museum sederhana.<ref>Hasanul Rizqa. [https://www.republika.co.id/berita/q8zdur458/masjid-mantingan-jepara-akulturasi-tiga-budaya Masjid Mantingan Jepara, Akulturasi Tiga Budaya]. ''Republika Online''. 2020-04-18.</ref><ref>Ivan Efendi. [https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/dpk/masjid-mantingan-persembahan-sang-ratu-untuk-sultan-hadiri/ Masjid Mantingan, Persembahan Sang Ratu untuk Sang Suami]. ''Direktorat Pelindungan Kebudayaan''. 2018-10-05.</ref>  


Penelitian-penelitian selanjutnya mengungkapkan penemuan enam panel lainnya dengan relief di kedua sisinya, membuktikan adanya perubahan dari kesenian Hindu-Buddha ke Islam di masjid ini.<ref>[https://spkt.kemdikbud.go.id/kompleks-mantingan Kompleks Mantingan]. ''spkt.kemdikbud.go.id''.</ref>
''spkt.kemdikbud.go.id''.</ref>


Bentuk panel-panel ini beragam antara [[persegi]], [[lingkaran]], [[heksagon]], hingga berbentuk [[kelelawar]]. Dalam panel ini terdapat relief [[wikt:id:sulur|sulur]], untaian tali, [[bunga]], [[daun]], dan binatang yang distilir (disamarkan).
Bentuk panel-panel ini beragam antara [[persegi]], [[lingkaran]], [[heksagon]], hingga berbentuk [[kelelawar]]. Dalam panel ini terdapat relief [[wikt:id:sulur|sulur]], untaian tali, [[bunga]], [[daun]], dan binatang yang distilir (disamarkan).

Revisi terkini sejak 9 September 2026 09.11

Berkas:Masjid Mantingan Jepara.jpg
Masjid Mantingan Jepara

Masjid Mantingan (), juga dikenal dengan nama Masjid Astana Sultan Hadlirin,[1][2] adalah salah satu masjid kuno di Indonesia yang terletak di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Jaraknya sekitar 5 km arah selatan dari Kecamatan Jepara. Secara keseluruhan, Masjid Mantingan merupakan sebuah kompleks yang terdiri dari masjid itu sendiri, permakaman, dan sebuah museum sederhana.

Contohnya adalah bentuk atap tumpang dan mustaka yang merupakan akulturasi dari arsitektur masa Majapahit dan Tionghoa. Kebudayaan Jawa dapat terlihat dari gapura masuk masjid dan sebuah petilasan candi di dekat masjid, meskipun sudah tidak utuh lagi.

Sejarah

Masjid Mantingan diperkirakan berdiri pada tahun 1559 berdasarkan prasasti yang ditemukan di mihrab. Prasasti ini berisi sebuah candrasengkala yang berbunyi rupa brahmana warna sari, menunjukkan arti angka tahun 1481 Saka (1559 Masehi). Riwayat masjid ini juga berkaitan dengan Ratu Kalinyamat dan suaminya, Sultan Hadlirin, yang dimakamkan di sana. Menurut tradisi Jawa, Ratu Kalinyamat adalah putri dari Sultan Demak ketiga Pangeran Trenggana. Konon, kompleks masjid tersebut dibangun oleh Ratu untuk mengatasi kesedihannya ketika suaminya dibunuh oleh Arya Panangsang terkait penerusan takhta Demak.[3]

Menurut cerita tradisional setempat, arsitek masjid ini adalah Chi Hui Gwan (Tjie Wie Gwan) atau yang lebih dikenal dengan julukannya, Patih Sungging Badarduwung. Patih ini merupakan ayah angkat Sultan Hadlirin yang membantu Ratu Kalinyamat dan masyarakat setempat dalam mendirikan masjid dan makam tersebut.[4] Masyarakat setempat memperkirakan bahwa ukiran-ukiran kayu yang terdapat di makam adalah karya Chi Hui Gwan.

Antara tahun 1977 dan 1978, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah melakukan pemugaran terhadap Masjid Mantingan melalui proyek yang bernama "Proyek Pembinaan dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah". Dalam pemugaran tersebut, ditemukan enam panel relief, sejumlah balok batu putih, dan fondasi bangunan kuno.[5]

Keseluruhan bangunannya memiliki tipologi masjid kuno Jawa pada umumnya seperti konstruksi atap yang disangga dengan soko guru (empat tiang penyangga), atap yang bersusun tiga, adanya serambi depan, dan gapura masuk berbentuk lengkungan. Lalu, terdapat petilasan candi di dekat bangunan utama masjid, meskipun sudah tidak tampak utuh. Bentuk atap tumpang dan mustakanya merupakan akulturasi dari arsitektur masa Majapahit dan Tionghoa.[6]

Menurut Pramoedya Ananta Toer dalam Arus Balik, masjid ini didirikan dengan lantai tinggi yang ditutup dengan ubin dan undak-undakannya yang berasal dari Makau. Dinding luar dan dalam dihiasi dengan piring tembikar bergambar biru.

Relief

Masjid Mantingan memiliki hiasan-hiasan berupa panel relief yang terdapat di dinding depan bangunan induknya. Panel-panel ini terbuat dari batu padas dengan motif relief bercorak Tionghoa. Selain di bangunan induk, panel relief ini juga terdapat di dinding belakang dan dinding pembatas antara ruangan tengah dengan samping kiri dan kanan, sehingga jumlah panel relief yang terpasang masjid berjumlah 51. Aslinya, masjid ini memiliki 114 relief, tetapi sisanya disimpan dalam sebuah museum sederhana.[7][8]

spkt.kemdikbud.go.id.</ref>

Bentuk panel-panel ini beragam antara persegi, lingkaran, heksagon, hingga berbentuk kelelawar. Dalam panel ini terdapat relief sulur, untaian tali, bunga, daun, dan binatang yang distilir (disamarkan).

Foto koleksi Tropenmuseum tahun 1930

Foto kontemporer

Permakaman

Di halaman belakang masjid, terdapat kompleks makam yang terdiri dari tiga halaman. Seperti dengan makam-makam kuno, halaman ini memiliki tingkatan yang menunjukkan kedudukan sosial yang dimakamkan. Halaman pertama merupakan makam-makam umum. Halaman kedua merupakan makam-makam orang yang statusnya menengah. Sedangkan halaman ketiga adalah makam orang-orang yang statusnya tinggi, terutama yang di dalam cangkup. Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin dimakamkan di sini beserta kerabatnya. Halaman dua dan halaman tiga dibatasi oleh candi paduraksa, sementara halaman pertama dibatasi oleh candi bentar.[9]

Tradisi dan kepercayaan

Makam ini selalu ramai dikunjungi pada saat Haul untuk memperingati wafatnya Sultan Hadlirin dengan upacara mengganti kelambu penutup makam Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin. Upacara ini diselenggarakan setiap tahunnya pada tanggal 17 Rabiulawal.[10]

Makam Mantingan sampai sekarang masih dianggap sakral dan mempunyai tuah bagi masyarakat Jepara dan sekitarnya. Konon pohon mengkudu yang tumbuh di sekitar makam ini dapat menjadi obat bagi Ibu-ibu yang sudah sekian tahun menikah belum dikarunia putra. Tetapi, makannya harus dengan cara mengambil buah mengkudu yang jatuh kemudian dimakan bersama suami. Kepercayaan lainnya adalah adanya tuah air mantingan yang menurut kisahnya ampuh untuk menguji kejujuran seseorang dan membuktikan hal mana yang benar dan yang salah. Biasanya air keramat ini digunakan masyarakat Jepara dan sekitarnya bila sedang menghadapi suatu sengketa. Air ini diberi mantra dan doa lalu diminum.[11]

Referensi

  1. Aditya Putra Perdana. Masjid Mantingan, Potret Akultrasi dan Cikal Bakal Seni Ukir Jepara. Kompas.id. 2021-05-17.
  2. Rhobi Shani. Masjid Mantingan, Bangunan Bersejarah Peninggalan Ratu Kalinyamat. Medcom.id. 2016-06-10.
  3. Hasanul Rizqa. Masjid Mantingan Jepara, Akulturasi Tiga Budaya. Republika Online. 2020-04-18.
  4. Ivan Efendi. Masjid Mantingan, Persembahan Sang Ratu untuk Sang Suami. Direktorat Pelindungan Kebudayaan. 2018-10-05.
  5. Ivan Efendi. Masjid Mantingan, Persembahan Sang Ratu untuk Sang Suami. Direktorat Pelindungan Kebudayaan. 2018-10-05.
  6. Hasanul Rizqa. Masjid Mantingan Jepara, Akulturasi Tiga Budaya. Republika Online. 2020-04-18.
  7. Hasanul Rizqa. Masjid Mantingan Jepara, Akulturasi Tiga Budaya. Republika Online. 2020-04-18.
  8. Ivan Efendi. Masjid Mantingan, Persembahan Sang Ratu untuk Sang Suami. Direktorat Pelindungan Kebudayaan. 2018-10-05.
  9. Makam dan Masjid Mantingan. tic.jepara.go.id.
  10. Makam dan Masjid Mantingan. tic.jepara.go.id.
  11. Makam dan Masjid Mantingan. tic.jepara.go.id.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 27643506 (2025-08-06T14:03:43Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.