Lompat ke isi

Bias menguntungkan diri sendiri: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28393257; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Bias menguntungkan diri sendiri''' (''self-serving bias'') adalah setiap proses kognitif atau perseptual yang terdistorsi oleh dorongan untuk mempertahankan dan meningkatkan [[harga diri]], atau kecenderungan untuk memandang diri sendiri secara berlebihan dalam sudut pandang yang terlalu positif. Bias ini mencerminkan keyakinan bahwa individu cenderung mengaitkan keberhasilan dengan kemampuan dan usaha mereka sendiri, tetapi menisbatkan kegagalan kepada faktor-faktor eksternal. Ketika seseorang menolak umpan balik negatif, hanya menyoroti kekuatan dan pencapaiannya sembari mengabaikan kelemahan dan kegagalannya, atau mengklaim lebih banyak pujian atas hasil kerja kelompok daripada yang diberikan kepada anggota lain, mereka sesungguhnya sedang melindungi harga diri mereka dari ancaman dan luka psikologis. Pola kognitif dan perseptual semacam ini memang dapat menimbulkan ilusi dan kesalahan, tetapi juga berfungsi sebagai mekanisme untuk memenuhi kebutuhan akan penghargaan diri.
'''Bias menguntungkan diri sendiri''' (''self-serving bias'') adalah setiap proses kognitif atau perseptual yang terdistorsi oleh dorongan untuk mempertahankan dan meningkatkan [[harga diri]], atau kecenderungan untuk memandang diri sendiri secara berlebihan dalam sudut pandang yang terlalu positif.<ref>Myers, D.G. (2015). ''Exploring Social Psychology'', Edisi ke-7. New York: McGraw Hill Education.</ref> Bias ini mencerminkan keyakinan bahwa individu cenderung mengaitkan keberhasilan dengan kemampuan dan usaha mereka sendiri, tetapi menisbatkan kegagalan kepada faktor-faktor eksternal.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bias+menguntungkan+diri+sendiri&oldid=28393257 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Ketika seseorang menolak umpan balik negatif, hanya menyoroti kekuatan dan pencapaiannya sembari mengabaikan kelemahan dan kegagalannya, atau mengklaim lebih banyak pujian atas hasil kerja kelompok daripada yang diberikan kepada anggota lain, mereka sesungguhnya sedang melindungi harga diri mereka dari ancaman dan luka psikologis. Pola kognitif dan perseptual semacam ini memang dapat menimbulkan ilusi dan kesalahan, tetapi juga berfungsi sebagai mekanisme untuk memenuhi kebutuhan akan penghargaan diri.<ref>Donelson Forsyth. [https://facultystaff.richmond.edu/~dforsyth/pubs/forsyth2008selfserving.pdf International Encyclopedia of the Social Sciences]. Macmillan Reference USA. 2007. ISBN 978-0-02-866117-9.</ref>


Sebagai contoh, seorang mahasiswa yang [[Atribusi (psikologi)|mengatribusikan]] nilai baik dalam ujian kepada kecerdasan dan persiapan dirinya, namun menyalahkan kemampuan mengajar dosen yang buruk atau soal ujian yang tidak adil ketika mendapat nilai rendah, dapat dikatakan sedang menunjukkan bias menguntungkan diri sendiri. Penelitian telah menunjukkan bahwa atribusi semacam ini muncul dalam berbagai konteks, seperti di tempat kerja, dalam [[hubungan interpersonal]], bidang olahraga, hingga dalam pengambilan keputusan konsumen.
Sebagai contoh, seorang mahasiswa yang [[Atribusi (psikologi)|mengatribusikan]] nilai baik dalam ujian kepada kecerdasan dan persiapan dirinya, namun menyalahkan kemampuan mengajar dosen yang buruk atau soal ujian yang tidak adil ketika mendapat nilai rendah, dapat dikatakan sedang menunjukkan bias menguntungkan diri sendiri. Penelitian telah menunjukkan bahwa atribusi semacam ini muncul dalam berbagai konteks, seperti di tempat kerja,<ref>G.C. Pal. [https://www.researchgate.net/publication/311450773 Is there a universal self-serving attribution bias?]. ''Psychological Studies''. 2007. Vol. 52 (1). hlm. 85–89.</ref> dalam [[hubungan interpersonal]],<ref>W. Keith Campbell. ''Among friends? An examination of friendship and the self-serving bias''. ''British Journal of Social Psychology''. 2000. Vol. 39 (2). hlm. 229–239. doi:10.1348/014466600164444.</ref> bidang olahraga,<ref>P. De Michele. [http://psycnet.apa.org/record/1998-10476-002 Success and failure attributions of wrestlers: Further Evidence of the Self-Serving Bias]. ''Journal of Sport Behavior''. 1998. Vol. 21 (3). hlm. 242.</ref> hingga dalam pengambilan keputusan konsumen.<ref>Youngme Moon. ''Don't Blame the Computer: When Self-Disclosure Moderates the Self-Serving Bias''. ''Journal of Consumer Psychology''. 2003. Vol. 13 (1). hlm. 125–137. doi:10.1207/153276603768344843.</ref>


Baik proses motivasional (seperti [[peningkatan diri]] dan [[presentasi diri]]) maupun proses kognitif (seperti [[lokus kendali]] dan harga diri) berperan dalam memunculkan bias menguntungkan diri sendiri. Terdapat pula perbedaan lintas budaya (antara budaya [[individualistik]] dan [[kolektivistik]]) serta pertimbangan dalam populasi klinis tertentu, seperti individu dengan [[depresi (suasana hati)|depresi]]. Sebagian besar penelitian tentang bias ini menggunakan laporan diri peserta mengenai atribusi berdasarkan manipulasi hasil tugas secara eksperimental maupun dalam situasi alami. Namun, penelitian modern telah bergeser pada pendekatan fisiologis, seperti penggunaan induksi emosi dan pengamatan aktivasi saraf, untuk memahami mekanisme biologis yang berkontribusi terhadap munculnya bias menguntungkan diri sendiri.
Baik proses motivasional (seperti [[peningkatan diri]] dan [[presentasi diri]]) maupun proses kognitif (seperti [[lokus kendali]] dan harga diri) berperan dalam memunculkan bias menguntungkan diri sendiri.<ref>James Shepperd. ''Exploring Causes of the Self-serving Bias''. ''Social and Personality Psychology Compass''. 2008. Vol. 2 (2). hlm. 895–908. doi:10.1111/j.1751-9004.2008.00078.x.</ref> Terdapat pula perbedaan lintas budaya (antara budaya [[individualistik]] dan [[kolektivistik]]) serta pertimbangan dalam populasi klinis tertentu, seperti individu dengan [[depresi (suasana hati)|depresi]].<ref>Reggy Hooghiemstra. ''East-West Differences in Attributions for Company Performance: A Content Analysis of Japanese and U.S. Corporate Annual Reports''. ''Journal of Cross-Cultural Psychology''. 2008. Vol. 39 (5). hlm. 618–629. doi:10.1177/0022022108321309.</ref><ref>Jeff Greenberg. ''Depression, self-focused attention, and the self-serving attributional bias''. ''Personality and Individual Differences''. 1992. Vol. 13 (9). hlm. 959–965. doi:10.1016/0191-8869(92)90129-D.</ref> Sebagian besar penelitian tentang bias ini menggunakan laporan diri peserta mengenai atribusi berdasarkan manipulasi hasil tugas secara eksperimental maupun dalam situasi alami.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bias+menguntungkan+diri+sendiri&oldid=28393257 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Namun, penelitian modern telah bergeser pada pendekatan fisiologis, seperti penggunaan induksi emosi dan pengamatan aktivasi saraf, untuk memahami mekanisme biologis yang berkontribusi terhadap munculnya bias menguntungkan diri sendiri.<ref>E. A. Krusemark. ''Attributions, deception, and event related potentials: An investigation of the self-serving bias''. ''Psychophysiology''. 2008. Vol. 45 (4). hlm. 511–515. doi:10.1111/j.1469-8986.2008.00659.x.</ref><ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bias+menguntungkan+diri+sendiri&oldid=28393257 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref>


==Lihat pula==
==Lihat pula==


 
== Referensi ==
==Referensi==
<references />
 
 


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bias+menguntungkan+diri+sendiri&oldid=28393257 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28393257 (2025-11-10T00:32:24Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bias+menguntungkan+diri+sendiri&oldid=28393257 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28393257 (2025-11-10T00:32:24Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 23 Agustus 2026 14.09

Bias menguntungkan diri sendiri (self-serving bias) adalah setiap proses kognitif atau perseptual yang terdistorsi oleh dorongan untuk mempertahankan dan meningkatkan harga diri, atau kecenderungan untuk memandang diri sendiri secara berlebihan dalam sudut pandang yang terlalu positif.[1] Bias ini mencerminkan keyakinan bahwa individu cenderung mengaitkan keberhasilan dengan kemampuan dan usaha mereka sendiri, tetapi menisbatkan kegagalan kepada faktor-faktor eksternal.[2] Ketika seseorang menolak umpan balik negatif, hanya menyoroti kekuatan dan pencapaiannya sembari mengabaikan kelemahan dan kegagalannya, atau mengklaim lebih banyak pujian atas hasil kerja kelompok daripada yang diberikan kepada anggota lain, mereka sesungguhnya sedang melindungi harga diri mereka dari ancaman dan luka psikologis. Pola kognitif dan perseptual semacam ini memang dapat menimbulkan ilusi dan kesalahan, tetapi juga berfungsi sebagai mekanisme untuk memenuhi kebutuhan akan penghargaan diri.[3]

Sebagai contoh, seorang mahasiswa yang mengatribusikan nilai baik dalam ujian kepada kecerdasan dan persiapan dirinya, namun menyalahkan kemampuan mengajar dosen yang buruk atau soal ujian yang tidak adil ketika mendapat nilai rendah, dapat dikatakan sedang menunjukkan bias menguntungkan diri sendiri. Penelitian telah menunjukkan bahwa atribusi semacam ini muncul dalam berbagai konteks, seperti di tempat kerja,[4] dalam hubungan interpersonal,[5] bidang olahraga,[6] hingga dalam pengambilan keputusan konsumen.[7]

Baik proses motivasional (seperti peningkatan diri dan presentasi diri) maupun proses kognitif (seperti lokus kendali dan harga diri) berperan dalam memunculkan bias menguntungkan diri sendiri.[8] Terdapat pula perbedaan lintas budaya (antara budaya individualistik dan kolektivistik) serta pertimbangan dalam populasi klinis tertentu, seperti individu dengan depresi.[9][10] Sebagian besar penelitian tentang bias ini menggunakan laporan diri peserta mengenai atribusi berdasarkan manipulasi hasil tugas secara eksperimental maupun dalam situasi alami.[11] Namun, penelitian modern telah bergeser pada pendekatan fisiologis, seperti penggunaan induksi emosi dan pengamatan aktivasi saraf, untuk memahami mekanisme biologis yang berkontribusi terhadap munculnya bias menguntungkan diri sendiri.[12][13]

Lihat pula

Referensi

  1. Myers, D.G. (2015). Exploring Social Psychology, Edisi ke-7. New York: McGraw Hill Education.
  2. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  3. Donelson Forsyth. International Encyclopedia of the Social Sciences. Macmillan Reference USA. 2007. ISBN 978-0-02-866117-9.
  4. G.C. Pal. Is there a universal self-serving attribution bias?. Psychological Studies. 2007. Vol. 52 (1). hlm. 85–89.
  5. W. Keith Campbell. Among friends? An examination of friendship and the self-serving bias. British Journal of Social Psychology. 2000. Vol. 39 (2). hlm. 229–239. doi:10.1348/014466600164444.
  6. P. De Michele. Success and failure attributions of wrestlers: Further Evidence of the Self-Serving Bias. Journal of Sport Behavior. 1998. Vol. 21 (3). hlm. 242.
  7. Youngme Moon. Don't Blame the Computer: When Self-Disclosure Moderates the Self-Serving Bias. Journal of Consumer Psychology. 2003. Vol. 13 (1). hlm. 125–137. doi:10.1207/153276603768344843.
  8. James Shepperd. Exploring Causes of the Self-serving Bias. Social and Personality Psychology Compass. 2008. Vol. 2 (2). hlm. 895–908. doi:10.1111/j.1751-9004.2008.00078.x.
  9. Reggy Hooghiemstra. East-West Differences in Attributions for Company Performance: A Content Analysis of Japanese and U.S. Corporate Annual Reports. Journal of Cross-Cultural Psychology. 2008. Vol. 39 (5). hlm. 618–629. doi:10.1177/0022022108321309.
  10. Jeff Greenberg. Depression, self-focused attention, and the self-serving attributional bias. Personality and Individual Differences. 1992. Vol. 13 (9). hlm. 959–965. doi:10.1016/0191-8869(92)90129-D.
  11. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  12. E. A. Krusemark. Attributions, deception, and event related potentials: An investigation of the self-serving bias. Psychophysiology. 2008. Vol. 45 (4). hlm. 511–515. doi:10.1111/j.1469-8986.2008.00659.x.
  13. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28393257 (2025-11-10T00:32:24Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.