Pahit: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29573823; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Pahit''' adalah salah satu [[Pengecapan|rasa]] yang paling sensitif. Kebanyakan menganggapnya tidak nyaman dan tajam, tetapi terkadang diinginkan dan sengaja ditambahkan dalam hidangan melalui [[pemahit makanan]]. Contoh makanan dan minuman pahit mencakup [[zaitun]] yang belum matang, beberapa jenis [[keju]], [[kopi]], dan [[kakao]] yang belum dimaniskan. | '''Pahit''' adalah salah satu [[Pengecapan|rasa]] yang paling sensitif. Kebanyakan menganggapnya tidak nyaman dan tajam, tetapi terkadang diinginkan dan sengaja ditambahkan dalam hidangan melalui [[pemahit makanan]]. Contoh makanan dan minuman pahit mencakup [[zaitun]] yang belum matang, beberapa jenis [[keju]], [[kopi]], dan [[kakao]] yang belum dimaniskan. | ||
Rasa pahit menjadi perhatian bagi peneliti bidang [[evolusi]] begitu juga banyak ahli kesehatan karena banyaknya jumlah senyawa pahit beracun yang ditemukan di alam. Kemampuan untuk mendeteksi senyawa pahit yang beracun pada jumlah sedikit diyakini berperan penting dalam perlindungan diri. Tumbuhan umumnya mengandung daun matang yang beracun, dan terdapat kecenderugan untuk memakan daun muda pada primata pemakan daun, yang cenderug lebih tinggi protein dan lebih rendah serat dan zat beracun dari pada daun tua. Pada manusia, berbagai metode [[pengolahan makanan]] telah digunakan di seluruh dunia untuk menghilangkan racun dari makanan-makanan yang sebelumnya tidak dapat dimakan. Terlebih lagi, penggunaan api, perubahan pola makan, dan penghindaran dari zat beracun telah mengarah ke evolusi netral dari sensitivitas kepahitan manusia. Hal ini memungkinkan terjadinya mutasi yang dapat menghilangkan fungsi, yang telah menyebabkan kepada berkurangnya kapasitas sensorik untuk rasa pahit pada manusia, ketimbang spesies lainnya. | Rasa pahit menjadi perhatian bagi peneliti bidang [[evolusi]] begitu juga banyak ahli kesehatan<ref>Guyton, Arthur C. (1991) ''Textbook of Medical Physiology''. (8th ed). Philadelphia: W.B. Saunders</ref><ref>Alexandra W. Logue. [https://archive.org/details/psychologyofeati0000logu_k9e8 The Psychology of Eating and Drinking]. W.H. Freeman & Co. 1986. ISBN 978-0-415-81708-0.</ref> karena banyaknya jumlah senyawa pahit beracun yang ditemukan di alam. Kemampuan untuk mendeteksi senyawa pahit yang beracun pada jumlah sedikit diyakini berperan penting dalam perlindungan diri.<ref>Guyton, Arthur C. (1991) ''Textbook of Medical Physiology''. (8th ed). Philadelphia: W.B. Saunders</ref><ref>Alexandra W. Logue. [https://archive.org/details/psychologyofeati0000logu_k9e8 The Psychology of Eating and Drinking]. W.H. Freeman & Co. 1986. ISBN 978-0-415-81708-0.</ref><ref>J. I. Glendinning. [https://archive.org/details/sim_physiology-behavior_1994-12_56_6/page/1217 Is the bitter rejection response always adaptive?]. ''Physiol Behav''. 1994. Vol. 56 (6). hlm. 1217–1227. doi:10.1016/0031-9384(94)90369-7.</ref> Tumbuhan umumnya mengandung daun matang yang beracun, dan terdapat kecenderugan untuk memakan daun muda pada primata pemakan daun, yang cenderug lebih tinggi protein dan lebih rendah serat dan zat beracun dari pada daun tua.<ref>Jones, S., Martin, R., & Pilbeam, D. (1994) ''The Cambridge Encyclopedia of Human Evolution''. Cambridge: Cambridge University Press</ref> Pada manusia, berbagai metode [[pengolahan makanan]] telah digunakan di seluruh dunia untuk menghilangkan racun dari makanan-makanan yang sebelumnya tidak dapat dimakan.<ref>Johns, T. (1990). ''With Bitter Herbs They Shall Eat It: Chemical ecology and the origins of human diet and medicine''. Tucson: University of Arizona Press</ref> Terlebih lagi, penggunaan api, perubahan pola makan, dan penghindaran dari zat beracun telah mengarah ke evolusi netral dari sensitivitas kepahitan manusia. Hal ini memungkinkan terjadinya mutasi yang dapat menghilangkan fungsi, yang telah menyebabkan kepada berkurangnya kapasitas sensorik untuk rasa pahit pada manusia, ketimbang spesies lainnya.<ref>X. Wang. ''Relaxation Of Selective Constraint And Loss Of Function In The Evolution Of Human Bitter Taste Receptor Genes''. ''Human Molecular Genetics''. 2004. Vol. 13 (21). hlm. 2671–2678. doi:10.1093/hmg/ddh289.</ref> | ||
== Referensi == | == Referensi == | ||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | == Sumber dan atribusi == | ||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pahit&oldid=29573823 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29573823 (2026-08-13T23:12:31Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pahit&oldid=29573823 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29573823 (2026-08-13T23:12:31Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 29 Agustus 2026 04.09
Pahit adalah salah satu rasa yang paling sensitif. Kebanyakan menganggapnya tidak nyaman dan tajam, tetapi terkadang diinginkan dan sengaja ditambahkan dalam hidangan melalui pemahit makanan. Contoh makanan dan minuman pahit mencakup zaitun yang belum matang, beberapa jenis keju, kopi, dan kakao yang belum dimaniskan.
Rasa pahit menjadi perhatian bagi peneliti bidang evolusi begitu juga banyak ahli kesehatan[1][2] karena banyaknya jumlah senyawa pahit beracun yang ditemukan di alam. Kemampuan untuk mendeteksi senyawa pahit yang beracun pada jumlah sedikit diyakini berperan penting dalam perlindungan diri.[3][4][5] Tumbuhan umumnya mengandung daun matang yang beracun, dan terdapat kecenderugan untuk memakan daun muda pada primata pemakan daun, yang cenderug lebih tinggi protein dan lebih rendah serat dan zat beracun dari pada daun tua.[6] Pada manusia, berbagai metode pengolahan makanan telah digunakan di seluruh dunia untuk menghilangkan racun dari makanan-makanan yang sebelumnya tidak dapat dimakan.[7] Terlebih lagi, penggunaan api, perubahan pola makan, dan penghindaran dari zat beracun telah mengarah ke evolusi netral dari sensitivitas kepahitan manusia. Hal ini memungkinkan terjadinya mutasi yang dapat menghilangkan fungsi, yang telah menyebabkan kepada berkurangnya kapasitas sensorik untuk rasa pahit pada manusia, ketimbang spesies lainnya.[8]
Referensi
- ↑ Guyton, Arthur C. (1991) Textbook of Medical Physiology. (8th ed). Philadelphia: W.B. Saunders
- ↑ Alexandra W. Logue. The Psychology of Eating and Drinking. W.H. Freeman & Co. 1986. ISBN 978-0-415-81708-0.
- ↑ Guyton, Arthur C. (1991) Textbook of Medical Physiology. (8th ed). Philadelphia: W.B. Saunders
- ↑ Alexandra W. Logue. The Psychology of Eating and Drinking. W.H. Freeman & Co. 1986. ISBN 978-0-415-81708-0.
- ↑ J. I. Glendinning. Is the bitter rejection response always adaptive?. Physiol Behav. 1994. Vol. 56 (6). hlm. 1217–1227. doi:10.1016/0031-9384(94)90369-7.
- ↑ Jones, S., Martin, R., & Pilbeam, D. (1994) The Cambridge Encyclopedia of Human Evolution. Cambridge: Cambridge University Press
- ↑ Johns, T. (1990). With Bitter Herbs They Shall Eat It: Chemical ecology and the origins of human diet and medicine. Tucson: University of Arizona Press
- ↑ X. Wang. Relaxation Of Selective Constraint And Loss Of Function In The Evolution Of Human Bitter Taste Receptor Genes. Human Molecular Genetics. 2004. Vol. 13 (21). hlm. 2671–2678. doi:10.1093/hmg/ddh289.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29573823 (2026-08-13T23:12:31Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.