Senyawa fitokimia: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29582404; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Senyawa fitokimia''' adalah [[senyawa kimia]] yang terdapat secara alami dalam tanaman (fito berarti "tanaman" dalam [[bahasa Latin]]). Beberapa bahan memengaruhi warna atau sifat [[organoleptik]] lainnya, seperti ungu tua pada blueberries dan bau pada bawang putih. Senyawa fitokimia dapat memiliki signifikansi biologis, contohnya [[karotenoid]] atau [[flavonoid]], tetapi tidak tersedia sebagai unsur hara. Terdapat kurang lebih 4.000 senyawa fitokimia di alam. | [[File:Flowers_2013-08-10_19-21.jpg|thumb|right|280px|Flowers 2013-08-10 19-21]] | ||
'''Senyawa fitokimia''' adalah [[senyawa kimia]] yang terdapat secara alami dalam tanaman (fito berarti "tanaman" dalam [[bahasa Latin]]). Beberapa bahan memengaruhi warna atau sifat [[organoleptik]] lainnya, seperti ungu tua pada blueberries dan bau pada bawang putih. Senyawa fitokimia dapat memiliki signifikansi biologis, contohnya [[karotenoid]] atau [[flavonoid]], tetapi tidak tersedia sebagai unsur hara.<ref>[http://www.fda.gov/Food/GuidanceComplianceRegulatoryInformation/GuidanceDocuments/FoodLabelingNutrition/ucm073332.htm US FDA, Guidance for Industry: Evidence-Based Review System for the Scientific Evaluation of Health Claims]</ref><ref>[http://www.fruitsandveggiesmorematters.org/what-are-phytochemicals Fruits and Veggies, More Matters. What are phytochemicals?]. Produce for Better Health Foundation. 2014.</ref><ref>[http://lpi.oregonstate.edu/infocenter/phytochemicals.html Micronutrient Information Center: Phytochemicals]. Linus Pauling Institute, Oregon State University, Corvallis, Oregon. 2014.</ref> Terdapat kurang lebih 4.000 senyawa fitokimia di alam.<ref>[http://www.fruitsandveggiesmorematters.org/what-are-phytochemicals Fruits and Veggies, More Matters. What are phytochemicals?]. Produce for Better Health Foundation. 2014.</ref> | |||
== Senyawa fitokimia sebagai kandidat nutrien == | == Senyawa fitokimia sebagai kandidat nutrien == | ||
Tanpa pengetahuan khusus aksi atau mekanisme selulernya, senyawa fitokimia telah diperhitungkan sebagai obat alternatif selama berabad-abad. Sebagai contoh, [[Hippokrates|Hippocrates]] telah meresepkan daun [[dedalu]] untuk demam abate. [[Salicin]], yang mempunyai sifat [[anti inflamasi]] dan pereda nyeri, pertama kali diekstraksi dari kulit kayu dedalu putih dan kemudian disintesis massal menjadi [[aspirin]]. | Tanpa pengetahuan khusus aksi atau mekanisme selulernya, senyawa fitokimia telah diperhitungkan sebagai obat alternatif selama berabad-abad. Sebagai contoh, [[Hippokrates|Hippocrates]] telah meresepkan daun [[dedalu]] untuk demam abate. [[Salicin]], yang mempunyai sifat [[anti inflamasi]] dan pereda nyeri, pertama kali diekstraksi dari kulit kayu dedalu putih dan kemudian disintesis massal menjadi [[aspirin]].<ref>Sneader, W. (2000). "[https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1119266 The discovery of aspirin: A reappraisal]". ''BMJ (Clinical research ed.)'' '''321''' (7276): 1591–1594. doi:10.1136/bmj.321.7276.1591. PMC [https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1119266 1119266].PMID [https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11124191 11124191].</ref><ref>Landau E. [http://www.cnn.com/2010/HEALTH/12/22/aspirin.history/ From a tree, a 'miracle' called aspirin]. CNN. 22 Dec 2010.</ref> | ||
Senyawa fitokimia spesifik, seperti [[serat pangan]] yang dapat [[Fermentasi|difermentasi]], memiliki klaim kesehatan terbatas yang diizinkan oleh [[Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat]] (FDA). | Senyawa fitokimia spesifik, seperti [[serat pangan]] yang dapat [[Fermentasi|difermentasi]], memiliki klaim kesehatan terbatas yang diizinkan oleh [[Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat]] (FDA).<ref>[http://www.fda.gov/Food/GuidanceComplianceRegulatoryInformation/GuidanceDocuments/FoodLabelingNutrition/ucm073332.htm US FDA, Guidance for Industry: Evidence-Based Review System for the Scientific Evaluation of Health Claims]</ref> | ||
Beberapa senyawa fitokimia dengan sifat [[fisiologis]] lebih berupa unsur dan bukan molekul organik kompleks. Sebagai contoh, [[selenium]], yang melimpah dalam buah dan sayuran, adalah [[mineral diet]] yang terlibat dalam sebagian besar jalur metabolisme, termasuk metabolisme [[hormon tiroid]] dan fungsi [[imunitas]]. Terutama, untuk [[nutrien esensial]] dan [[Kofaktor (biokimia)|kofaktor]] untuk sintesis enzimatis [[glutathion]], suatu [[antioksidan]] [[endogeny]]. | Beberapa senyawa fitokimia dengan sifat [[fisiologis]] lebih berupa unsur dan bukan molekul organik kompleks. Sebagai contoh, [[selenium]], yang melimpah dalam buah dan sayuran, adalah [[mineral diet]] yang terlibat dalam sebagian besar jalur metabolisme, termasuk metabolisme [[hormon tiroid]] dan fungsi [[imunitas]].<ref>KM Brown. ''Selenium, selenoproteins and human health: a review''. ''Public health nutrition''. 2001. Vol. 4 (2B). hlm. 593–9. doi:10.1079/PHN2001143.</ref> Terutama, untuk [[nutrien esensial]] dan [[Kofaktor (biokimia)|kofaktor]] untuk sintesis enzimatis [[glutathion]], suatu [[antioksidan]] [[endogeny]].<ref>LV Papp. ''From selenium to selenoproteins: synthesis, identity, and their role in human health''. ''Antioxidants & redox signaling''. 2007. Vol. 9 (7). hlm. 775–806. doi:10.1089/ars.2007.1528.</ref> | ||
=== Uji klinis dan status klaim kesehatan === | === Uji klinis dan status klaim kesehatan === | ||
Suplemen berbasis senyawa fitokimia dapat dibeli di pasaran. Menurut [[American Cancer Society]], "Bukti ilmiah yang tersedia tidak mendukung klaim bahwa mengkonsumsi suplemen fitokimia sama baiknya, dari sisi kesehatan jangka panjang, dengan mengkonsumsi langsung buah, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian." | Suplemen berbasis senyawa fitokimia dapat dibeli di pasaran.<ref>[http://www.cancer.org/treatment/treatmentsandsideeffects/complementaryandalternativemedicine/herbsvitaminsandminerals/phytochemicals Phytochemical]. American Cancer Society. 17 January 2013.</ref> Menurut [[American Cancer Society]], "Bukti ilmiah yang tersedia tidak mendukung klaim bahwa mengkonsumsi suplemen fitokimia sama baiknya, dari sisi kesehatan jangka panjang, dengan mengkonsumsi langsung buah, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian."<ref>[http://www.cancer.org/treatment/treatmentsandsideeffects/complementaryandalternativemedicine/herbsvitaminsandminerals/phytochemicals Phytochemical]. American Cancer Society. 17 January 2013.</ref> | ||
== Pengolahan makanan dan senyawa fitokimia == | == Pengolahan makanan dan senyawa fitokimia == | ||
Senyawa fitokimia dalam tanaman pangan yang baru dipanen dapat mengalami degradasi selama proses pengolahan, termasuk memasak. Penyebab utama kehilangan senyawa fitokimia selama pemasakan adalah [[dekomposisi termal]]. | Senyawa fitokimia dalam tanaman pangan yang baru dipanen dapat mengalami degradasi selama proses pengolahan, termasuk memasak.<ref>R Bongoni. ''Studying consumer behaviour related to the quality of food: A case on vegetable preparation affecting sensory and health attributes''. ''Trends in Food Science & Technology''. 2013. Vol. 33 (2). hlm. 139–145. doi:10.1016/j.tifs.2013.08.004.</ref><ref>R Bongoni. ''Evaluation of Different Cooking Conditions on Broccoli (Brassica oleracea var. italica) to Improve the Nutritional Value and Consumer Acceptance''. ''Plant foods for human nutrition''. doi:10.1007/s11130-014-0420-2.</ref><ref>Palermo. ''The effect of cooking on the phytochemical content of vegetables''. ''Journal of the Science of Food and Agriculture''. 2014. Vol. 94 (6). hlm. 1057–70. doi:10.1002/jsfa.6478.</ref><ref>RH Liu. [http://jn.nutrition.org/content/134/12/3479S.long Potential synergy of phytochemicals in cancer prevention: mechanism of action]. ''Journal of Nutrition''. 2004. Vol. 134 (12 Suppl). hlm. 3479S–3485S.</ref><ref>AV Rao. ''Carotenoids and human health''. ''Pharmacological research''. 2007. Vol. 55 (3). hlm. 207–16. doi:10.1016/j.phrs.2007.01.012.</ref> Penyebab utama kehilangan senyawa fitokimia selama pemasakan adalah [[dekomposisi termal]].<ref>Palermo. ''The effect of cooking on the phytochemical content of vegetables''. ''Journal of the Science of Food and Agriculture''. 2014. Vol. 94 (6). hlm. 1057–70. doi:10.1002/jsfa.6478.</ref> | ||
Suatu diskusi muncul dalam kasus [[karotenoid]], seperti [[likopena]] dalam [[tomat]], yang mungkin tetap stabil atau bertambah kadarnya selama pemasakan akibat pembebasan dari membran seluler dalam makanan matang. Teknik [[pengolahan makanan]] seperti pengolahan mekanis dapat pula membebaskan karotenoid dan senyawa fitokimia lainnya dari matriks makanan, meningkatkan kadar asupan. | Suatu diskusi muncul dalam kasus [[karotenoid]], seperti [[likopena]] dalam [[tomat]], yang mungkin tetap stabil atau bertambah kadarnya selama pemasakan akibat pembebasan dari membran seluler dalam makanan matang.<ref>A Agarwal. ''Lycopene Content of Tomato Products: Its Stability, Bioavailability and in Vivo Antioxidant Properties''. ''Journal of medicinal food''. 2001. Vol. 4 (1). hlm. 9–15. doi:10.1089/10966200152053668.</ref><ref>V Dewanto. ''Thermal processing enhances the nutritional value of tomatoes by increasing total antioxidant activity''. ''Journal of Agricultural and Food Chemistry''. 2002. Vol. 50 (10). hlm. 3010–4. doi:10.1021/jf0115589.</ref> Teknik [[pengolahan makanan]] seperti pengolahan mekanis dapat pula membebaskan karotenoid dan senyawa fitokimia lainnya dari matriks makanan, meningkatkan kadar asupan.<ref>Palermo. ''The effect of cooking on the phytochemical content of vegetables''. ''Journal of the Science of Food and Agriculture''. 2014. Vol. 94 (6). hlm. 1057–70. doi:10.1002/jsfa.6478.</ref><ref>Hotz. [https://archive.org/details/sim_journal-of-nutrition_2007-04_137_4/page/1097 Traditional food-processing and preparation practices to enhance the bioavailability of micronutrients in plant-based diets]. ''The Journal of nutrition''. 2007. Vol. 137 (4). hlm. 1097–100.</ref> | ||
== Lihat juga == | == Lihat juga == | ||
* [[Allelopathy]] | * [[Allelopathy]] | ||
* [[Daftar antioksidan dalam makanan]] | * [[Daftar antioksidan dalam makanan]] | ||
| Baris 24: | Baris 25: | ||
* [[Fitokimia]] | * [[Fitokimia]] | ||
* [[Metabolit sekunder]] | * [[Metabolit sekunder]] | ||
== Bacaan lain == | == Bacaan lain == | ||
| Baris 40: | Baris 37: | ||
* [http://lpi.oregonstate.edu/infocenter/phytochemicals.html Phytochemicals at LPI] – Linus Pauling Institute at Oregon State University | * [http://lpi.oregonstate.edu/infocenter/phytochemicals.html Phytochemicals at LPI] – Linus Pauling Institute at Oregon State University | ||
== Referensi == | |||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
== | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Senyawa+fitokimia&oldid=29582404 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29582404 (2026-08-15T11:00:39Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 29 Agustus 2026 18.14

Senyawa fitokimia adalah senyawa kimia yang terdapat secara alami dalam tanaman (fito berarti "tanaman" dalam bahasa Latin). Beberapa bahan memengaruhi warna atau sifat organoleptik lainnya, seperti ungu tua pada blueberries dan bau pada bawang putih. Senyawa fitokimia dapat memiliki signifikansi biologis, contohnya karotenoid atau flavonoid, tetapi tidak tersedia sebagai unsur hara.[1][2][3] Terdapat kurang lebih 4.000 senyawa fitokimia di alam.[4]
Senyawa fitokimia sebagai kandidat nutrien
Tanpa pengetahuan khusus aksi atau mekanisme selulernya, senyawa fitokimia telah diperhitungkan sebagai obat alternatif selama berabad-abad. Sebagai contoh, Hippocrates telah meresepkan daun dedalu untuk demam abate. Salicin, yang mempunyai sifat anti inflamasi dan pereda nyeri, pertama kali diekstraksi dari kulit kayu dedalu putih dan kemudian disintesis massal menjadi aspirin.[5][6]
Senyawa fitokimia spesifik, seperti serat pangan yang dapat difermentasi, memiliki klaim kesehatan terbatas yang diizinkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA).[7]
Beberapa senyawa fitokimia dengan sifat fisiologis lebih berupa unsur dan bukan molekul organik kompleks. Sebagai contoh, selenium, yang melimpah dalam buah dan sayuran, adalah mineral diet yang terlibat dalam sebagian besar jalur metabolisme, termasuk metabolisme hormon tiroid dan fungsi imunitas.[8] Terutama, untuk nutrien esensial dan kofaktor untuk sintesis enzimatis glutathion, suatu antioksidan endogeny.[9]
Uji klinis dan status klaim kesehatan
Suplemen berbasis senyawa fitokimia dapat dibeli di pasaran.[10] Menurut American Cancer Society, "Bukti ilmiah yang tersedia tidak mendukung klaim bahwa mengkonsumsi suplemen fitokimia sama baiknya, dari sisi kesehatan jangka panjang, dengan mengkonsumsi langsung buah, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian."[11]
Pengolahan makanan dan senyawa fitokimia
Senyawa fitokimia dalam tanaman pangan yang baru dipanen dapat mengalami degradasi selama proses pengolahan, termasuk memasak.[12][13][14][15][16] Penyebab utama kehilangan senyawa fitokimia selama pemasakan adalah dekomposisi termal.[17]
Suatu diskusi muncul dalam kasus karotenoid, seperti likopena dalam tomat, yang mungkin tetap stabil atau bertambah kadarnya selama pemasakan akibat pembebasan dari membran seluler dalam makanan matang.[18][19] Teknik pengolahan makanan seperti pengolahan mekanis dapat pula membebaskan karotenoid dan senyawa fitokimia lainnya dari matriks makanan, meningkatkan kadar asupan.[20][21]
Lihat juga
- Allelopathy
- Daftar antioksidan dalam makanan
- Daftar senyawa fitokimia dalam makanan
- Nutrisi
- Fitokimia
- Metabolit sekunder
Bacaan lain
- Higdon, J. An Evidence – Based Approach to Dietary Phytochemicals. 2007. Thieme. ISBN 978-1-58890-408-9.
- Rosa, L.A. de la / Alvarez-Parrilla, E. / González-Aguilar, G.A. (eds.) Fruit and Vegetable Phytochemicals: Chemistry, Nutritional Value and Stability. 2010. Wiley-Blackwell. ISBN 978-0-8138-0320-3.
- Bongoni R, Steenbekkers LPA, Verkerk R, van Boekel MAJS, Dekker M. Studying consumer behaviour related to the quality of food: A case on vegetable preparation affecting sensory and health attributes. Trends in Food Science & Technology. 2013;33(2):139-45.
- Rao AV, Rao LG. Carotenoids and human health. Pharmacological Research. 2007;55(3):207-16.
- Liu RH. Potential Synergy of Phytochemicals in Cancer Prevention: Mechanism of Action. J Nutr. 2004;134(12):3479S-85.
Pranala luar
- Phytochemical Database – United States Department of Agriculture
- Phytochemicals at LPI – Linus Pauling Institute at Oregon State University
Referensi
- ↑ US FDA, Guidance for Industry: Evidence-Based Review System for the Scientific Evaluation of Health Claims
- ↑ Fruits and Veggies, More Matters. What are phytochemicals?. Produce for Better Health Foundation. 2014.
- ↑ Micronutrient Information Center: Phytochemicals. Linus Pauling Institute, Oregon State University, Corvallis, Oregon. 2014.
- ↑ Fruits and Veggies, More Matters. What are phytochemicals?. Produce for Better Health Foundation. 2014.
- ↑ Sneader, W. (2000). "The discovery of aspirin: A reappraisal". BMJ (Clinical research ed.) 321 (7276): 1591–1594. doi:10.1136/bmj.321.7276.1591. PMC 1119266.PMID 11124191.
- ↑ Landau E. From a tree, a 'miracle' called aspirin. CNN. 22 Dec 2010.
- ↑ US FDA, Guidance for Industry: Evidence-Based Review System for the Scientific Evaluation of Health Claims
- ↑ KM Brown. Selenium, selenoproteins and human health: a review. Public health nutrition. 2001. Vol. 4 (2B). hlm. 593–9. doi:10.1079/PHN2001143.
- ↑ LV Papp. From selenium to selenoproteins: synthesis, identity, and their role in human health. Antioxidants & redox signaling. 2007. Vol. 9 (7). hlm. 775–806. doi:10.1089/ars.2007.1528.
- ↑ Phytochemical. American Cancer Society. 17 January 2013.
- ↑ Phytochemical. American Cancer Society. 17 January 2013.
- ↑ R Bongoni. Studying consumer behaviour related to the quality of food: A case on vegetable preparation affecting sensory and health attributes. Trends in Food Science & Technology. 2013. Vol. 33 (2). hlm. 139–145. doi:10.1016/j.tifs.2013.08.004.
- ↑ R Bongoni. Evaluation of Different Cooking Conditions on Broccoli (Brassica oleracea var. italica) to Improve the Nutritional Value and Consumer Acceptance. Plant foods for human nutrition. doi:10.1007/s11130-014-0420-2.
- ↑ Palermo. The effect of cooking on the phytochemical content of vegetables. Journal of the Science of Food and Agriculture. 2014. Vol. 94 (6). hlm. 1057–70. doi:10.1002/jsfa.6478.
- ↑ RH Liu. Potential synergy of phytochemicals in cancer prevention: mechanism of action. Journal of Nutrition. 2004. Vol. 134 (12 Suppl). hlm. 3479S–3485S.
- ↑ AV Rao. Carotenoids and human health. Pharmacological research. 2007. Vol. 55 (3). hlm. 207–16. doi:10.1016/j.phrs.2007.01.012.
- ↑ Palermo. The effect of cooking on the phytochemical content of vegetables. Journal of the Science of Food and Agriculture. 2014. Vol. 94 (6). hlm. 1057–70. doi:10.1002/jsfa.6478.
- ↑ A Agarwal. Lycopene Content of Tomato Products: Its Stability, Bioavailability and in Vivo Antioxidant Properties. Journal of medicinal food. 2001. Vol. 4 (1). hlm. 9–15. doi:10.1089/10966200152053668.
- ↑ V Dewanto. Thermal processing enhances the nutritional value of tomatoes by increasing total antioxidant activity. Journal of Agricultural and Food Chemistry. 2002. Vol. 50 (10). hlm. 3010–4. doi:10.1021/jf0115589.
- ↑ Palermo. The effect of cooking on the phytochemical content of vegetables. Journal of the Science of Food and Agriculture. 2014. Vol. 94 (6). hlm. 1057–70. doi:10.1002/jsfa.6478.
- ↑ Hotz. Traditional food-processing and preparation practices to enhance the bioavailability of micronutrients in plant-based diets. The Journal of nutrition. 2007. Vol. 137 (4). hlm. 1097–100.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29582404 (2026-08-15T11:00:39Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.