Peristiwa 4,2 kilowarsa: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29345834; atribusi sumber disertakan. |
Pembersihan konten sesuai kebijakan Wiki Unissula |
||
| (1 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan) | |||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Peristiwa 4,2 kilowarsa''', yang dikenal sebagai '''peristiwa 4,2 ka''' (singkatan dari "''kiloyear ago''"), adalah peristiwa kekeringan panjang yang terjadi pada 4.200 tahun yang lalu (atau 2200 tahun [[Sebelum Masa Kini|sebelum masehi]]). Ini merupakan salah satu peristiwa perubahan iklim paling parah pada zaman [[Holosen]], yang menjadi penanda awal zaman [[Holosen Akhir]] di saat ini. | '''Peristiwa 4,2 kilowarsa''', yang dikenal sebagai '''peristiwa 4,2 ka''' (singkatan dari "''kiloyear ago''"), adalah peristiwa kekeringan panjang yang terjadi pada 4.200 tahun yang lalu (atau 2200 tahun [[Sebelum Masa Kini|sebelum masehi]]). Ini merupakan salah satu peristiwa perubahan iklim paling parah pada zaman [[Holosen]],<ref>Peter B. deMenocal. [https://archive.org/details/sim_science_2001-04-27_292_5517/page/666 Cultural Responses to Climate Change During the Late Holocene]. ''Science''. 2001. Vol. 292 (5517). hlm. 667–673. doi:10.1126/science.1059827.</ref> yang menjadi penanda awal zaman [[Holosen Akhir]] di saat ini. | ||
Memasuki 2200 SM terjadi kekeringan panjang yang berlangsung hampir di sepanjang abad ke 22 SM. Beberapa sejarahwan melihat kejadian ini sebagai penyebab runtuhnya beberapa kerajaan kuno, seperti [[Kerajaan Lama Mesir|Kerajaan Lama]] di [[Mesir Kuno|Mesir]], [[Kekaisaran Akkadia]] di [[Mesopotamia]], dan [[Kebudayaan Liangzhu]] di daerah hilir [[Sungai Panjang|Sungai Yangtze]]. | Memasuki 2200 SM terjadi kekeringan panjang yang berlangsung hampir di sepanjang abad ke 22 SM. Beberapa sejarahwan melihat kejadian ini sebagai penyebab runtuhnya beberapa kerajaan kuno, seperti [[Kerajaan Lama Mesir|Kerajaan Lama]] di [[Mesir Kuno|Mesir]], [[Kekaisaran Akkadia]] di [[Mesopotamia]], dan [[Kebudayaan Liangzhu]] di daerah hilir [[Sungai Panjang|Sungai Yangtze]]. <ref>Gibbons, Ann. [https://archive.org/details/sim_science_1993-08-20_261_5124/page/984 How the Akkadian Empire Was Hung Out to Dry]. ''Science''. 1993. Vol. 261 (5124). hlm. 985. doi:10.1126/science.261.5124.985.</ref> <ref>Chun-Hai Li. ''A high-resolution pollen record from East China reveals large climate variability near the Northgrippian-Meghalayan boundary (around 4200 years ago) exerted societal influence''. ''Palaeogeography, Palaeoclimatology, Palaeoecology''. August 2018. Vol. 512. hlm. 156–165. doi:10.1016/j.palaeo.2018.07.031.</ref> Kekeringan ini mungkin juga memicu runtuhnya [[Peradaban Lembah Indus]] di India, di mana sebagian penduduknya ditenggarai melakukan migrasi ke tenggara untuk mengikuti pergerakan habitat yang mereka inginkan,<ref>M. Staubwasser. ''Climate change at the 4.2 ka BP termination of the Indus valley civilization and Holocene south Asian monsoon variability''. ''Geophysical Research Letters''. 2003. Vol. 30 (8). hlm. 1425. doi:10.1029/2002GL016822.</ref> dan juga memicu [[Migrasi Indo-Arya|migrasi orang-orang berbahasa Indo-Eropa ke India]].<ref>Rajesh Kochhar. [https://indianexpress.com/article/opinion/columns/aryans-dna-genetics-archaeology-4765740/ The Aryan chromosome]. ''The Indian Express''. 2017-07-25.</ref> | ||
== Penyebab == | == Penyebab == | ||
Bukti pemodelan menunjukkan bahwa peristiwa 4,2 ka merupakan akibat dari pelemahan signifikan [[sirkulasi meridional Atlantik]] (''Atlantic Meridional Overturning Circulation'', AMOC) yang mengganggu arus laut global dan menghasilkan perubahan curah hujan dan suhu di berbagai wilayah, di antaranya adanya pergeseran tiba-tiba dari [[Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis|Zona Konvergensi Angin Antar Tropis]] (''Intertropical Convergence Zone'', ITCZ) ke selatan. Bukti menunjukkan peningkatan variabilitas [[El Niño–Osilasi Selatan|El Niño–Southern Oscillation]] (ENSO) juga turut berperan dalam menghasilkan kondisi iklim pada peristiwa tersebut. Letusan gunung berapi di Islandia juga telah diusulkan sebagai penyebabnya, meski kandungan sulfur yang rendah pada gunung api Islandia membuat beberapa peneliti mengabaikan dampaknya terhadap perubahan iklim global. | Bukti pemodelan menunjukkan bahwa peristiwa 4,2 ka merupakan akibat dari pelemahan signifikan [[sirkulasi meridional Atlantik]] (''Atlantic Meridional Overturning Circulation'', AMOC) yang mengganggu arus laut global dan menghasilkan perubahan curah hujan dan suhu di berbagai wilayah,<ref>Mi Yan. [https://cp.copernicus.org/articles/15/265/2019/ Physical processes of cooling and mega-drought during the 4.2 ka BP event: results from TraCE-21ka simulations]. ''Climate of the Past''. 21 February 2019. Vol. 15 (1). hlm. 265–277. doi:10.5194/cp-15-265-2019.</ref><ref>Liang Ning. [https://cp.copernicus.org/articles/15/41/2019/ Comparing the spatial patterns of climate change in the 9th and 5th millennia BP from TRACE-21 model simulations]. ''Climate of the Past''. 10 January 2019. Vol. 15 (1). hlm. 41–52. doi:10.5194/cp-15-41-2019.</ref> di antaranya adanya pergeseran tiba-tiba dari [[Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis|Zona Konvergensi Angin Antar Tropis]] (''Intertropical Convergence Zone'', ITCZ) ke selatan.<ref>Bassem Jalali. [https://cp.copernicus.org/articles/15/701/2019/ Influence of the North Atlantic subpolar gyre circulation on the 4.2 ka BP event]. ''Climate of the Past''. 8 April 2019. Vol. 15 (2). hlm. 701–711. doi:10.5194/cp-15-701-2019.</ref><ref>Monica Bini. [https://cp.copernicus.org/articles/15/555/2019/ The 4.2 ka BP Event in the Mediterranean region: an overview]. ''Climate of the Past''. 27 March 2019. Vol. 15 (2). hlm. 555–577. doi:10.5194/cp-15-555-2019.</ref> Bukti menunjukkan peningkatan variabilitas [[El Niño–Osilasi Selatan|El Niño–Southern Oscillation]] (ENSO) juga turut berperan dalam menghasilkan kondisi iklim pada peristiwa tersebut.<ref>Lauren T. Toth. [https://cp.copernicus.org/articles/15/105/2019/ The 4.2 ka event, ENSO, and coral reef development]. ''Climate of the Past''. 16 January 2019. Vol. 15 (1). hlm. 105–119. doi:10.5194/cp-15-105-2019.</ref> Letusan gunung berapi di Islandia juga telah diusulkan sebagai penyebabnya,<ref>Raymond S. Bradley. [https://cp.copernicus.org/articles/15/1665/2019/ Is there evidence for a 4.2 ka BP event in the northern North Atlantic region?]. ''Climate of the Past''. 2 September 2019. Vol. 15 (5). hlm. 1665–1676. doi:10.5194/cp-15-1665-2019.</ref> meski kandungan sulfur yang rendah pada gunung api Islandia membuat beberapa peneliti mengabaikan dampaknya terhadap perubahan iklim global.<ref>Áslaug Geirsdóttir. [https://cp.copernicus.org/articles/15/25/2019/ The onset of neoglaciation in Iceland and the 4.2 ka event]. ''Climate of the Past''. 8 January 2019. Vol. 15 (1). hlm. 25–40. doi:10.5194/cp-15-25-2019.</ref> | ||
Pada tahun 2018, Komisi Internasional tentang Stratigrafi membagi zaman Holosen menjadi tiga periode,<ref>[https://timesofindia.indiatimes.com/home/science/newest-phase-in-earths-history-named-after-meghalaya-rock/articleshow/65046837.cms Meghalaya Age: Newest phase in Earth's history named after Meghalaya rock | – Times of India]. ''The Times of India''. 19 July 2018.</ref> dengan Holosen Akhir berlangsung dari 2250 SM dan seterusnya ditetapkan sebagai tahap atau zaman [[Holosen Akhir|Meghalayan]].<ref>Jonathan Amos. [https://www.bbc.com/news/science-environment-44868527 Welcome to the Meghalayan Age a new phase in history]. ''BBC News''. 18 July 2018.</ref> Batas dari stratotipe adalah [[Speleotem|lspeleotem]] di Gua Mawmluh di India, dan stratotipe tambahan globalnya adalah [[inti es]] dari Gunung Logan di Kanada.<ref>[https://www.qpg.geog.cam.ac.uk/news/formalsubdivisionoftheholoceneseriesgeogr18.pdf Formal subdivision of the Holocene Series/Epoch].</ref> Namun, justifikasi pembagian ini diperdebatkan karena beberapa menganggap kurun waktunya tidak konkrit, seperti diajukan Jessica Tierney, seorang paleoklimatolog di Universitas Arizona di Tucson, yang menyatakan bahwa para pendukung pembagian baru tersebut secara keliru "mencampuradukkan bukti kekeringan dan periode basah lainnya, terkadang berabad-abad jauhnya dari peristiwa tersebut."<ref>Voosen. [https://www.science.org/content/article/massive-drought-or-myth-scientists-spar-over-ancient-climate-event-behind-our-new Massive drought or myth? Scientists spar over an ancient climate event behind our new geological age]. ''Science''. August 8, 2018.</ref> | |||
Pada tahun 2018, Komisi Internasional tentang Stratigrafi membagi zaman Holosen menjadi tiga periode, dengan Holosen Akhir berlangsung dari 2250 SM dan seterusnya ditetapkan sebagai tahap atau zaman [[Holosen Akhir|Meghalayan]]. Batas dari stratotipe adalah [[Speleotem|lspeleotem]] di Gua Mawmluh di India, dan stratotipe tambahan globalnya adalah [[inti es]] dari Gunung Logan di Kanada. Namun, justifikasi pembagian ini diperdebatkan karena beberapa menganggap kurun waktunya tidak konkrit, seperti diajukan Jessica Tierney, seorang paleoklimatolog di Universitas Arizona di Tucson, yang menyatakan bahwa para pendukung pembagian baru tersebut secara keliru "mencampuradukkan bukti kekeringan dan periode basah lainnya, terkadang berabad-abad jauhnya dari peristiwa tersebut." | |||
== Lihat Juga == | == Lihat Juga == | ||
* [[Peristiwa 8,2 kilowarsa|Peristiwa 8,2 ka]] | * [[Peristiwa 8,2 kilowarsa|Peristiwa 8,2 ka]] | ||
* [[Periode Afrika basah]] | * [[Periode Afrika basah]] | ||
| Baris 22: | Baris 18: | ||
* [[Longsor Storegga]] | * [[Longsor Storegga]] | ||
* [[Dryas Terkini|Younger Dryas]] | * [[Dryas Terkini|Younger Dryas]] | ||
== Bibliografi == | == Bibliografi == | ||
* | * | ||
* | * | ||
* | * | ||
== Pranala luar == | == Pranala luar == | ||
| Baris 38: | Baris 30: | ||
* [https://www.allesbleibtanders.com/en/modules/klimaflucht/ Digital exhibition of the crisis around 2200 BCE on the Iberian Peninsula.] | * [https://www.allesbleibtanders.com/en/modules/klimaflucht/ Digital exhibition of the crisis around 2200 BCE on the Iberian Peninsula.] | ||
== Referensi == | |||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | == Sumber dan atribusi == | ||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Peristiwa+4%2C2+kilowarsa&oldid=29345834 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29345834 (2026-06-14T13:46:50Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Peristiwa+4%2C2+kilowarsa&oldid=29345834 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29345834 (2026-06-14T13:46:50Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 9 September 2026 06.41
Peristiwa 4,2 kilowarsa, yang dikenal sebagai peristiwa 4,2 ka (singkatan dari "kiloyear ago"), adalah peristiwa kekeringan panjang yang terjadi pada 4.200 tahun yang lalu (atau 2200 tahun sebelum masehi). Ini merupakan salah satu peristiwa perubahan iklim paling parah pada zaman Holosen,[1] yang menjadi penanda awal zaman Holosen Akhir di saat ini.
Memasuki 2200 SM terjadi kekeringan panjang yang berlangsung hampir di sepanjang abad ke 22 SM. Beberapa sejarahwan melihat kejadian ini sebagai penyebab runtuhnya beberapa kerajaan kuno, seperti Kerajaan Lama di Mesir, Kekaisaran Akkadia di Mesopotamia, dan Kebudayaan Liangzhu di daerah hilir Sungai Yangtze. [2] [3] Kekeringan ini mungkin juga memicu runtuhnya Peradaban Lembah Indus di India, di mana sebagian penduduknya ditenggarai melakukan migrasi ke tenggara untuk mengikuti pergerakan habitat yang mereka inginkan,[4] dan juga memicu migrasi orang-orang berbahasa Indo-Eropa ke India.[5]
Penyebab
Bukti pemodelan menunjukkan bahwa peristiwa 4,2 ka merupakan akibat dari pelemahan signifikan sirkulasi meridional Atlantik (Atlantic Meridional Overturning Circulation, AMOC) yang mengganggu arus laut global dan menghasilkan perubahan curah hujan dan suhu di berbagai wilayah,[6][7] di antaranya adanya pergeseran tiba-tiba dari Zona Konvergensi Angin Antar Tropis (Intertropical Convergence Zone, ITCZ) ke selatan.[8][9] Bukti menunjukkan peningkatan variabilitas El Niño–Southern Oscillation (ENSO) juga turut berperan dalam menghasilkan kondisi iklim pada peristiwa tersebut.[10] Letusan gunung berapi di Islandia juga telah diusulkan sebagai penyebabnya,[11] meski kandungan sulfur yang rendah pada gunung api Islandia membuat beberapa peneliti mengabaikan dampaknya terhadap perubahan iklim global.[12]
Pada tahun 2018, Komisi Internasional tentang Stratigrafi membagi zaman Holosen menjadi tiga periode,[13] dengan Holosen Akhir berlangsung dari 2250 SM dan seterusnya ditetapkan sebagai tahap atau zaman Meghalayan.[14] Batas dari stratotipe adalah lspeleotem di Gua Mawmluh di India, dan stratotipe tambahan globalnya adalah inti es dari Gunung Logan di Kanada.[15] Namun, justifikasi pembagian ini diperdebatkan karena beberapa menganggap kurun waktunya tidak konkrit, seperti diajukan Jessica Tierney, seorang paleoklimatolog di Universitas Arizona di Tucson, yang menyatakan bahwa para pendukung pembagian baru tersebut secara keliru "mencampuradukkan bukti kekeringan dan periode basah lainnya, terkadang berabad-abad jauhnya dari peristiwa tersebut."[16]
Lihat Juga
- Peristiwa 8,2 ka
- Periode Afrika basah
- Pembalikan Dingin Antartika
- Zaman Es Kecil
- Osilasi Piora
- Teori pompa Sahara
- Longsor Storegga
- Younger Dryas
Bibliografi
Pranala luar
- The Egyptian Old Kingdom, Sumer and Akkad
- The End of the Old Kingdom
- Michael Marshall (26 January 2022), 'Did a mega drought topple empires 4,200 years ago?', Nature
- Digital exhibition of the crisis around 2200 BCE on the Iberian Peninsula.
Referensi
- ↑ Peter B. deMenocal. Cultural Responses to Climate Change During the Late Holocene. Science. 2001. Vol. 292 (5517). hlm. 667–673. doi:10.1126/science.1059827.
- ↑ Gibbons, Ann. How the Akkadian Empire Was Hung Out to Dry. Science. 1993. Vol. 261 (5124). hlm. 985. doi:10.1126/science.261.5124.985.
- ↑ Chun-Hai Li. A high-resolution pollen record from East China reveals large climate variability near the Northgrippian-Meghalayan boundary (around 4200 years ago) exerted societal influence. Palaeogeography, Palaeoclimatology, Palaeoecology. August 2018. Vol. 512. hlm. 156–165. doi:10.1016/j.palaeo.2018.07.031.
- ↑ M. Staubwasser. Climate change at the 4.2 ka BP termination of the Indus valley civilization and Holocene south Asian monsoon variability. Geophysical Research Letters. 2003. Vol. 30 (8). hlm. 1425. doi:10.1029/2002GL016822.
- ↑ Rajesh Kochhar. The Aryan chromosome. The Indian Express. 2017-07-25.
- ↑ Mi Yan. Physical processes of cooling and mega-drought during the 4.2 ka BP event: results from TraCE-21ka simulations. Climate of the Past. 21 February 2019. Vol. 15 (1). hlm. 265–277. doi:10.5194/cp-15-265-2019.
- ↑ Liang Ning. Comparing the spatial patterns of climate change in the 9th and 5th millennia BP from TRACE-21 model simulations. Climate of the Past. 10 January 2019. Vol. 15 (1). hlm. 41–52. doi:10.5194/cp-15-41-2019.
- ↑ Bassem Jalali. Influence of the North Atlantic subpolar gyre circulation on the 4.2 ka BP event. Climate of the Past. 8 April 2019. Vol. 15 (2). hlm. 701–711. doi:10.5194/cp-15-701-2019.
- ↑ Monica Bini. The 4.2 ka BP Event in the Mediterranean region: an overview. Climate of the Past. 27 March 2019. Vol. 15 (2). hlm. 555–577. doi:10.5194/cp-15-555-2019.
- ↑ Lauren T. Toth. The 4.2 ka event, ENSO, and coral reef development. Climate of the Past. 16 January 2019. Vol. 15 (1). hlm. 105–119. doi:10.5194/cp-15-105-2019.
- ↑ Raymond S. Bradley. Is there evidence for a 4.2 ka BP event in the northern North Atlantic region?. Climate of the Past. 2 September 2019. Vol. 15 (5). hlm. 1665–1676. doi:10.5194/cp-15-1665-2019.
- ↑ Áslaug Geirsdóttir. The onset of neoglaciation in Iceland and the 4.2 ka event. Climate of the Past. 8 January 2019. Vol. 15 (1). hlm. 25–40. doi:10.5194/cp-15-25-2019.
- ↑ Meghalaya Age: Newest phase in Earth's history named after Meghalaya rock | – Times of India. The Times of India. 19 July 2018.
- ↑ Jonathan Amos. Welcome to the Meghalayan Age a new phase in history. BBC News. 18 July 2018.
- ↑ Formal subdivision of the Holocene Series/Epoch.
- ↑ Voosen. Massive drought or myth? Scientists spar over an ancient climate event behind our new geological age. Science. August 8, 2018.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29345834 (2026-06-14T13:46:50Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.