Bakau minyak: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28498509; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
[[File:Tall-stilt_mangrove_(Rhizophora_apiculata)_flower.jpg|thumb|right|280px|Tall-stilt mangrove (Rhizophora apiculata) flower]] | |||
'''Bakau minyak''' atau '''bakau lelaki''' ( ''Rhizophora apiculata'' ) adalah sejenis pohon bakau yang dalam famili [[Rhizophoraceae]]. ''R. apiculata'' tersebar di seluruh [[Australia]] ( [[Queensland]] dan [[Wilayah Utara|Northern Territory]] ), [[Guam]], [[India]], [[Indonesia]], [[Malaysia]], [[Mikronesia]], [[Kaledonia Baru]], [[Papua Nugini]], [[Filipina]], [[Singapura]], [[Kepulauan Solomon]], [[Sri Lanka]], [[Republik Tiongkok|Taiwan]], [[Maladewa]], [[Thailand]], [[Vanuatu]], dan [[Vietnam]]. | '''Bakau minyak''' atau '''bakau lelaki''' ( ''Rhizophora apiculata'' ) adalah sejenis pohon bakau yang dalam famili [[Rhizophoraceae]]. ''R. apiculata'' tersebar di seluruh [[Australia]] ( [[Queensland]] dan [[Wilayah Utara|Northern Territory]] ), [[Guam]], [[India]], [[Indonesia]], [[Malaysia]], [[Mikronesia]], [[Kaledonia Baru]], [[Papua Nugini]], [[Filipina]], [[Singapura]], [[Kepulauan Solomon]], [[Sri Lanka]], [[Republik Tiongkok|Taiwan]], [[Maladewa]], [[Thailand]], [[Vanuatu]], dan [[Vietnam]]. | ||
== Anatomi dan Taksonomi == | == Anatomi dan Taksonomi == | ||
=== Keterangan === | === Keterangan === | ||
''Rhizophora apiculata'' termasuk dalam kingdom Plantae dalam famili Rhizophoraceae. Ukuran semak tergantung pada faktor geografis (khususnya iklim dan tanah). Rata-rata semak ''R. apiculata'' dewasa tingginya mencapai antara 5 – 8 meter meskipun berpotensi mencapai 30 – 40 meter. | ''Rhizophora apiculata'' termasuk dalam kingdom Plantae dalam famili Rhizophoraceae. Ukuran semak tergantung pada faktor geografis (khususnya iklim dan tanah). Rata-rata semak ''R. apiculata'' dewasa tingginya mencapai antara 5 – 8 meter meskipun berpotensi mencapai 30 – 40 meter.<ref>Norman C. Duke. [http://agroforestry.org/images/pdfs/Rhizophora-IWP.pdf Indo-West Pacific stilt mangroves: Rhizophora apiculata, R. mucronata, R. stylosa, R. X annamalai, R. X lamarckii]. ''Traditional Trees of Pacific Islands: their culture, environment, and use''. Permanent Agriculture Resources (PAR). 2006. hlm. 641–660. ISBN 978-0-9702544-5-0.</ref> | ||
==== Ukuran ranting ==== | ==== Ukuran ranting ==== | ||
Dimensi ranting dan cabang tergantung pada umur tanaman. Saat dewasa diameternya mencapai 50 cm, dan biasanya berwarna abu-abu tua. Ukuran batang sangat bergantung pada unsur hara di dalam tanah karena unsur hara tersebut akan menjadi faktor yang mendasari pertumbuhan karena air biasanya bukan merupakan faktor pembatas di habitatnya. | Dimensi ranting dan cabang tergantung pada umur tanaman. Saat dewasa diameternya mencapai 50 cm, dan biasanya berwarna abu-abu tua.<ref>[https://www.nparks.gov.sg/florafaunaweb/flora/3/2/3265 Rhizophora apiculata Blume]. ''www.nparks.gov.sg''.</ref> Ukuran batang sangat bergantung pada unsur hara di dalam tanah karena unsur hara tersebut akan menjadi faktor yang mendasari pertumbuhan karena air biasanya bukan merupakan faktor pembatas di habitatnya. | ||
=== Variasi dalam spesies === | === Variasi dalam spesies === | ||
==== Daun ==== | ==== Daun ==== | ||
Bukaan yang dibuat oleh kutil gabus memungkinkan adanya jalur bagi udara untuk terperangkap di dalam [[Aerenkima|aerenkim]] yang kemudian disimpan. Udara setelah disimpan dipanaskan oleh sinar matahari sehingga menyebabkan udara mengembang dan memperbesar daun. Aerenkim pada tanaman merupakan bagian integral untuk pertumbuhan dan fungsionalitas serta memungkinkan akar berfungsi dalam substrat yang 'kekurangan oksigen' ( anoksik ). | Bukaan yang dibuat oleh kutil gabus memungkinkan adanya jalur bagi udara untuk terperangkap di dalam [[Aerenkima|aerenkim]] yang kemudian disimpan. Udara setelah disimpan dipanaskan oleh sinar matahari sehingga menyebabkan udara mengembang dan memperbesar daun. Aerenkim pada tanaman merupakan bagian integral untuk pertumbuhan dan fungsionalitas serta memungkinkan akar berfungsi dalam substrat yang 'kekurangan oksigen' ( anoksik ).<ref>Hudson DeYoe. [https://bioone.org/journals/journal-of-coastal-research/volume-36/issue-4/JCOASTRES-D-19-00088.1/Biological-Flora-of-the-Tropical-and-Subtropical-Intertidal-Zone/10.2112/JCOASTRES-D-19-00088.1.full Biological Flora of the Tropical and Subtropical Intertidal Zone: Literature Review for Rhizophora mangle L]. ''Journal of Coastal Research''. March 2020. Vol. 36 (4). hlm. 857–884. doi:10.2112/JCOASTRES-D-19-00088.1.</ref> | ||
Karena perbedaan [[Morfologi (biologi)|morfologi]] antara ''R. apiculata'' dengan dan tanpa kutil gabus, efek tambahan terlihat berkontribusi terhadap berkurangnya jumlah asupan cahaya karena penampang [[klorofil]] akan terbatas. Hal ini secara keseluruhan akan membatasi potensi pertumbuhan antara R. apiculata dengan vs. tanpa kutil gabus, seolah-olah lingkungan terkendali maka akan terjadi penurunan potensi pertumbuhan. | Karena perbedaan [[Morfologi (biologi)|morfologi]] antara ''R. apiculata'' dengan dan tanpa kutil gabus, efek tambahan terlihat berkontribusi terhadap berkurangnya jumlah asupan cahaya karena penampang [[klorofil]] akan terbatas. Hal ini secara keseluruhan akan membatasi potensi pertumbuhan antara R. apiculata dengan vs. tanpa kutil gabus, seolah-olah lingkungan terkendali maka akan terjadi penurunan potensi pertumbuhan.<ref>Lance S. Evans. [https://www.jstor.org/stable/40864968 Characterization of cork warts and aerenchyma in leaves of Rhizophova mangle and Rhizophora racemosa]. ''The Journal of the Torrey Botanical Society''. 2010. Vol. 137 (1). hlm. 30–38. doi:10.3159/09-RA-024.1.</ref> | ||
Ini awalnya dianggap eksklusif untuk ''R. apiculata'' tetapi ''R. racemosa'' juga menunjukkan sifat yang sama berkembang. Distribusi ''R. apiculata'' berperan dalam menentukan apakah adaptasi ini akan terjadi atau tidak, dimana wilayah utara dan barat pesisir New Guinea memiliki sifat ini sedangkan wilayah selatan dan timur pantai New Guinea tidak memiliki sifat ini. Kehadiran adaptasi ini berhubungan langsung dengan lingkungan tempatnya berada sebagai substrat anoksik kemungkinan besar akan memiliki karakteristik ini karena mendukung kemampuan bertahan hidup. | Ini awalnya dianggap eksklusif untuk ''R. apiculata'' tetapi ''R. racemosa'' juga menunjukkan sifat yang sama berkembang.<ref>Norman C. Duke. [http://agroforestry.org/images/pdfs/Rhizophora-IWP.pdf Indo-West Pacific stilt mangroves: Rhizophora apiculata, R. mucronata, R. stylosa, R. X annamalai, R. X lamarckii]. ''Traditional Trees of Pacific Islands: their culture, environment, and use''. Permanent Agriculture Resources (PAR). 2006. hlm. 641–660. ISBN 978-0-9702544-5-0.</ref> Distribusi ''R. apiculata'' berperan dalam menentukan apakah adaptasi ini akan terjadi atau tidak, dimana wilayah utara dan barat pesisir New Guinea memiliki sifat ini sedangkan wilayah selatan dan timur pantai New Guinea tidak memiliki sifat ini.<ref>Norman C. Duke. [http://agroforestry.org/images/pdfs/Rhizophora-IWP.pdf Indo-West Pacific stilt mangroves: Rhizophora apiculata, R. mucronata, R. stylosa, R. X annamalai, R. X lamarckii]. ''Traditional Trees of Pacific Islands: their culture, environment, and use''. Permanent Agriculture Resources (PAR). 2006. hlm. 641–660. ISBN 978-0-9702544-5-0.</ref> Kehadiran adaptasi ini berhubungan langsung dengan lingkungan tempatnya berada sebagai substrat anoksik kemungkinan besar akan memiliki karakteristik ini karena mendukung kemampuan bertahan hidup. | ||
==== Akar ==== | ==== Akar ==== | ||
''R. apiculata'' juga memiliki dua jenis akar [[Akar|tambahan]] ; [[akar udara]] dan [[Bakau kecil|akar sangga]]. Kedua jenis akar tersebut merupakan adaptasi yang dilakukan karena faktor lingkungan, dirancang untuk bertahan/melawan; gelombang besar, gelombang besar, angin kencang, dan badai tropis. Akar juga mempunyai dua kekuatan utama yang mengatur besarnya potensi serapan air. Ini termasuk hidrostatik (yang mendistribusikan air yang diambil oleh akar ke masing-masing organnya) dan gaya osmotik (menggunakan tekanan air negatif pada akar untuk menyedot air dari tanah). | ''R. apiculata'' juga memiliki dua jenis akar [[Akar|tambahan]] ; [[akar udara]] dan [[Bakau kecil|akar sangga]]. Kedua jenis akar tersebut merupakan adaptasi yang dilakukan karena faktor lingkungan, dirancang untuk bertahan/melawan; gelombang besar, gelombang besar, angin kencang, dan badai tropis.<ref>Joju P. Alappatt. [https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/B9780128130643000053 Structure and Species Diversity of Mangrove Ecosystem]. ''Biodiversity and Climate Change Adaptation in Tropical Islands''. 2008-01-01. hlm. 127–144. doi:10.1016/B978-0-12-813064-3.00005-3. ISBN 9780128130643.</ref> Akar juga mempunyai dua kekuatan utama yang mengatur besarnya potensi serapan air. Ini termasuk hidrostatik (yang mendistribusikan air yang diambil oleh akar ke masing-masing organnya) dan gaya osmotik (menggunakan tekanan air negatif pada akar untuk menyedot air dari tanah).<ref>Ricardo Aroca. [https://doi.org/10.1093/jxb/err266 Regulation of root water uptake under abiotic stress conditions]. ''Journal of Experimental Botany''. 2012-01-01. Vol. 63 (1). hlm. 43–57. doi:10.1093/jxb/err266.</ref> | ||
=== Ultra-filtrasi === | === Ultra-filtrasi === | ||
Proses akar menyerap air dan nutrisi merupakan proses mendasar yang bertanggung jawab untuk pertumbuhan, namun karena lingkungan tempat tumbuhnya ''R. apiculata'' memiliki kadar garam yang tinggi. Akar menjalani proses yang disebut ultra-filtrasi untuk menghilangkan garam yang masuk ke dalam tanaman, tetapi garam yang diserap akan disimpan di daun tua yang pada akhirnya akan rontok dan mati menghilangkan kapasitas garam di dalam tanaman. | Proses akar menyerap air dan nutrisi merupakan proses mendasar yang bertanggung jawab untuk pertumbuhan, namun karena lingkungan tempat tumbuhnya ''R. apiculata'' memiliki kadar garam yang tinggi.<ref>Norman C. Duke. [http://agroforestry.org/images/pdfs/Rhizophora-IWP.pdf Indo-West Pacific stilt mangroves: Rhizophora apiculata, R. mucronata, R. stylosa, R. X annamalai, R. X lamarckii]. ''Traditional Trees of Pacific Islands: their culture, environment, and use''. Permanent Agriculture Resources (PAR). 2006. hlm. 641–660. ISBN 978-0-9702544-5-0.</ref> Akar menjalani proses yang disebut ultra-filtrasi untuk menghilangkan garam yang masuk ke dalam tanaman, tetapi garam yang diserap akan disimpan di daun tua yang pada akhirnya akan rontok dan mati menghilangkan kapasitas garam di dalam tanaman. | ||
== Penggunaan komersial == | == Penggunaan komersial == | ||
=== Kegunaan umum === | === Kegunaan umum === | ||
Tanaman ini dulunya dan masih merupakan tanaman aspek integral yang telah dieksploitasi karena ketersediaan dan kualitas kayunya. Saat ini sudah ada [[perkebunan]] yang memungkinkan ''R. apiculata'' dibudidayakan dan diubah menjadi arang; menghasilkan energi terbarukan dan sumber pendapatan potensial. Di antara kegunaan fisik yang terkait dengan kayu ''R. apiculata,'' kulit kayunya sendiri juga kaya akan bahan kimia Tanin yang biasa digunakan untuk memperkuat tali pancing, tali dan jaring. Di antaranya kulit kayunya juga berperan sebagai penyamakan kulit dan penawar disentri (radang usus). | Tanaman ini dulunya dan masih merupakan tanaman aspek integral yang telah dieksploitasi karena ketersediaan dan kualitas kayunya. Saat ini sudah ada [[perkebunan]] yang memungkinkan ''R. apiculata'' dibudidayakan dan diubah menjadi arang; menghasilkan energi terbarukan dan sumber pendapatan potensial.<ref>Chaisit Thongjoo. ''Tropical Ecology; Soil fertility improvement from commercial monospecific mangrove forests (Rhizophora apiculata) at Yeesarn Village, Samut Songkram Province, Thailand''. 2018. hlm. 59(1), pp.91–97.</ref> Di antara kegunaan fisik yang terkait dengan kayu ''R. apiculata,'' kulit kayunya sendiri juga kaya akan bahan kimia Tanin yang biasa digunakan untuk memperkuat tali pancing, tali dan jaring. Di antaranya kulit kayunya juga berperan sebagai penyamakan kulit dan penawar disentri (radang usus). | ||
=== Tujuan pengobatan === | === Tujuan pengobatan === | ||
Karena ''R. apiculata'' kaya akan [[tanin]], ekstrak kimia dari kulit kayu, akar dan daun secara alami menghambat berbagai infeksi jamur; misalnya ekstrak [[etanol]] dari ''R. apiculata'' menghambat ''[[Candida albicans]]'', sejenis infeksi jamur yang umum. Seperti yang terlihat dalam Baishya dkk. (2020) prosedur [[ekstraksi]] meliputi pengeringan, segera dilanjutkan dengan penggilingan kulit kayu, daun dan akar, pelarut organik akan digunakan dalam ekstraksi kasar yang dilanjutkan dengan rotor evaporator. | Karena ''R. apiculata'' kaya akan [[tanin]], ekstrak kimia dari kulit kayu, akar dan daun secara alami menghambat berbagai infeksi jamur; misalnya ekstrak [[etanol]] dari ''R. apiculata'' menghambat ''[[Candida albicans]]'', sejenis infeksi jamur yang umum.<ref>Somorita Baishya. [https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/B9780128195321000111 Therapeutic potentials of littoral vegetation: an antifungal perspective]. ''Biotechnological Utilization of Mangrove Resources''. 2020-01-01. hlm. 275–292. doi:10.1016/B978-0-12-819532-1.00011-1. ISBN 9780128195321.</ref> Seperti yang terlihat dalam Baishya dkk. (2020) prosedur [[ekstraksi]] meliputi pengeringan, segera dilanjutkan dengan penggilingan kulit kayu, daun dan akar, pelarut organik akan digunakan dalam ekstraksi kasar yang dilanjutkan dengan rotor evaporator. | ||
=== Praktik-praktik pribumi === | === Praktik-praktik pribumi === | ||
Karena faktor-faktor ini, ada hipotesis bahwa penyebaran spesies ke timur dibantu oleh masyarakat adat. Aborigin menggunakan ''R. apiculata'' untuk makanan; memanen cacing bakau secara medis; untuk mengobati luka dan untuk ban lengan upacara tetapi karena komposisi kimiawi kulit kayunya juga digunakan sebagai kayu bakar. | Karena faktor-faktor ini, ada hipotesis bahwa penyebaran spesies ke timur dibantu oleh masyarakat adat. Aborigin menggunakan ''R. apiculata'' untuk makanan; memanen cacing bakau secara medis; untuk mengobati luka dan untuk ban lengan upacara tetapi karena komposisi kimiawi kulit kayunya juga digunakan sebagai kayu bakar.<ref>Department of Agriculture. [https://www.agriculture.gov.au/abares/forestsaustralia/profiles/mangrove-2016 Mangrove forest - Department of Agriculture]. ''Department of Agriculture''. 2020.</ref> | ||
== Referensi == | == Referensi == | ||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bakau+minyak&oldid=28498509 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28498509 (2025-11-15T04:28:13Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | |||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 29 Agustus 2026 23.03

Bakau minyak atau bakau lelaki ( Rhizophora apiculata ) adalah sejenis pohon bakau yang dalam famili Rhizophoraceae. R. apiculata tersebar di seluruh Australia ( Queensland dan Northern Territory ), Guam, India, Indonesia, Malaysia, Mikronesia, Kaledonia Baru, Papua Nugini, Filipina, Singapura, Kepulauan Solomon, Sri Lanka, Taiwan, Maladewa, Thailand, Vanuatu, dan Vietnam.
Anatomi dan Taksonomi
Keterangan
Rhizophora apiculata termasuk dalam kingdom Plantae dalam famili Rhizophoraceae. Ukuran semak tergantung pada faktor geografis (khususnya iklim dan tanah). Rata-rata semak R. apiculata dewasa tingginya mencapai antara 5 – 8 meter meskipun berpotensi mencapai 30 – 40 meter.[1]
Ukuran ranting
Dimensi ranting dan cabang tergantung pada umur tanaman. Saat dewasa diameternya mencapai 50 cm, dan biasanya berwarna abu-abu tua.[2] Ukuran batang sangat bergantung pada unsur hara di dalam tanah karena unsur hara tersebut akan menjadi faktor yang mendasari pertumbuhan karena air biasanya bukan merupakan faktor pembatas di habitatnya.
Variasi dalam spesies
Daun
Bukaan yang dibuat oleh kutil gabus memungkinkan adanya jalur bagi udara untuk terperangkap di dalam aerenkim yang kemudian disimpan. Udara setelah disimpan dipanaskan oleh sinar matahari sehingga menyebabkan udara mengembang dan memperbesar daun. Aerenkim pada tanaman merupakan bagian integral untuk pertumbuhan dan fungsionalitas serta memungkinkan akar berfungsi dalam substrat yang 'kekurangan oksigen' ( anoksik ).[3]
Karena perbedaan morfologi antara R. apiculata dengan dan tanpa kutil gabus, efek tambahan terlihat berkontribusi terhadap berkurangnya jumlah asupan cahaya karena penampang klorofil akan terbatas. Hal ini secara keseluruhan akan membatasi potensi pertumbuhan antara R. apiculata dengan vs. tanpa kutil gabus, seolah-olah lingkungan terkendali maka akan terjadi penurunan potensi pertumbuhan.[4]
Ini awalnya dianggap eksklusif untuk R. apiculata tetapi R. racemosa juga menunjukkan sifat yang sama berkembang.[5] Distribusi R. apiculata berperan dalam menentukan apakah adaptasi ini akan terjadi atau tidak, dimana wilayah utara dan barat pesisir New Guinea memiliki sifat ini sedangkan wilayah selatan dan timur pantai New Guinea tidak memiliki sifat ini.[6] Kehadiran adaptasi ini berhubungan langsung dengan lingkungan tempatnya berada sebagai substrat anoksik kemungkinan besar akan memiliki karakteristik ini karena mendukung kemampuan bertahan hidup.
Akar
R. apiculata juga memiliki dua jenis akar tambahan ; akar udara dan akar sangga. Kedua jenis akar tersebut merupakan adaptasi yang dilakukan karena faktor lingkungan, dirancang untuk bertahan/melawan; gelombang besar, gelombang besar, angin kencang, dan badai tropis.[7] Akar juga mempunyai dua kekuatan utama yang mengatur besarnya potensi serapan air. Ini termasuk hidrostatik (yang mendistribusikan air yang diambil oleh akar ke masing-masing organnya) dan gaya osmotik (menggunakan tekanan air negatif pada akar untuk menyedot air dari tanah).[8]
Ultra-filtrasi
Proses akar menyerap air dan nutrisi merupakan proses mendasar yang bertanggung jawab untuk pertumbuhan, namun karena lingkungan tempat tumbuhnya R. apiculata memiliki kadar garam yang tinggi.[9] Akar menjalani proses yang disebut ultra-filtrasi untuk menghilangkan garam yang masuk ke dalam tanaman, tetapi garam yang diserap akan disimpan di daun tua yang pada akhirnya akan rontok dan mati menghilangkan kapasitas garam di dalam tanaman.
Penggunaan komersial
Kegunaan umum
Tanaman ini dulunya dan masih merupakan tanaman aspek integral yang telah dieksploitasi karena ketersediaan dan kualitas kayunya. Saat ini sudah ada perkebunan yang memungkinkan R. apiculata dibudidayakan dan diubah menjadi arang; menghasilkan energi terbarukan dan sumber pendapatan potensial.[10] Di antara kegunaan fisik yang terkait dengan kayu R. apiculata, kulit kayunya sendiri juga kaya akan bahan kimia Tanin yang biasa digunakan untuk memperkuat tali pancing, tali dan jaring. Di antaranya kulit kayunya juga berperan sebagai penyamakan kulit dan penawar disentri (radang usus).
Tujuan pengobatan
Karena R. apiculata kaya akan tanin, ekstrak kimia dari kulit kayu, akar dan daun secara alami menghambat berbagai infeksi jamur; misalnya ekstrak etanol dari R. apiculata menghambat Candida albicans, sejenis infeksi jamur yang umum.[11] Seperti yang terlihat dalam Baishya dkk. (2020) prosedur ekstraksi meliputi pengeringan, segera dilanjutkan dengan penggilingan kulit kayu, daun dan akar, pelarut organik akan digunakan dalam ekstraksi kasar yang dilanjutkan dengan rotor evaporator.
Praktik-praktik pribumi
Karena faktor-faktor ini, ada hipotesis bahwa penyebaran spesies ke timur dibantu oleh masyarakat adat. Aborigin menggunakan R. apiculata untuk makanan; memanen cacing bakau secara medis; untuk mengobati luka dan untuk ban lengan upacara tetapi karena komposisi kimiawi kulit kayunya juga digunakan sebagai kayu bakar.[12]
Referensi
- ↑ Norman C. Duke. Indo-West Pacific stilt mangroves: Rhizophora apiculata, R. mucronata, R. stylosa, R. X annamalai, R. X lamarckii. Traditional Trees of Pacific Islands: their culture, environment, and use. Permanent Agriculture Resources (PAR). 2006. hlm. 641–660. ISBN 978-0-9702544-5-0.
- ↑ Rhizophora apiculata Blume. www.nparks.gov.sg.
- ↑ Hudson DeYoe. Biological Flora of the Tropical and Subtropical Intertidal Zone: Literature Review for Rhizophora mangle L. Journal of Coastal Research. March 2020. Vol. 36 (4). hlm. 857–884. doi:10.2112/JCOASTRES-D-19-00088.1.
- ↑ Lance S. Evans. Characterization of cork warts and aerenchyma in leaves of Rhizophova mangle and Rhizophora racemosa. The Journal of the Torrey Botanical Society. 2010. Vol. 137 (1). hlm. 30–38. doi:10.3159/09-RA-024.1.
- ↑ Norman C. Duke. Indo-West Pacific stilt mangroves: Rhizophora apiculata, R. mucronata, R. stylosa, R. X annamalai, R. X lamarckii. Traditional Trees of Pacific Islands: their culture, environment, and use. Permanent Agriculture Resources (PAR). 2006. hlm. 641–660. ISBN 978-0-9702544-5-0.
- ↑ Norman C. Duke. Indo-West Pacific stilt mangroves: Rhizophora apiculata, R. mucronata, R. stylosa, R. X annamalai, R. X lamarckii. Traditional Trees of Pacific Islands: their culture, environment, and use. Permanent Agriculture Resources (PAR). 2006. hlm. 641–660. ISBN 978-0-9702544-5-0.
- ↑ Joju P. Alappatt. Structure and Species Diversity of Mangrove Ecosystem. Biodiversity and Climate Change Adaptation in Tropical Islands. 2008-01-01. hlm. 127–144. doi:10.1016/B978-0-12-813064-3.00005-3. ISBN 9780128130643.
- ↑ Ricardo Aroca. Regulation of root water uptake under abiotic stress conditions. Journal of Experimental Botany. 2012-01-01. Vol. 63 (1). hlm. 43–57. doi:10.1093/jxb/err266.
- ↑ Norman C. Duke. Indo-West Pacific stilt mangroves: Rhizophora apiculata, R. mucronata, R. stylosa, R. X annamalai, R. X lamarckii. Traditional Trees of Pacific Islands: their culture, environment, and use. Permanent Agriculture Resources (PAR). 2006. hlm. 641–660. ISBN 978-0-9702544-5-0.
- ↑ Chaisit Thongjoo. Tropical Ecology; Soil fertility improvement from commercial monospecific mangrove forests (Rhizophora apiculata) at Yeesarn Village, Samut Songkram Province, Thailand. 2018. hlm. 59(1), pp.91–97.
- ↑ Somorita Baishya. Therapeutic potentials of littoral vegetation: an antifungal perspective. Biotechnological Utilization of Mangrove Resources. 2020-01-01. hlm. 275–292. doi:10.1016/B978-0-12-819532-1.00011-1. ISBN 9780128195321.
- ↑ Department of Agriculture. Mangrove forest - Department of Agriculture. Department of Agriculture. 2020.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28498509 (2025-11-15T04:28:13Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.