Lompat ke isi

Perahu mayang: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29576370; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Perahu Mayang''' adalah sebuah jenis perahu nelayan dari [[Jawa]], [[Indonesia]]. Tipe perahu ini digunakan umumnya untuk mencari ikan dan berdagang. Secara historis, perahu ini juga disukai oleh nakhoda Eropa dan pedagang swasta untuk berdagang di [[Hindia|Hindia Belanda]]: 50% mereka menggunakan mayang dan [[pencalang]]. Kebanyakan digunakan di pesisir utara Jawa, tempat produksi utama mayang adalah di [[Kabupaten Rembang|Rembang]], [[Jawa Tengah]].
[[File:Malay_proas.jpg|thumb|right|280px|Malay proas]]
 
'''Perahu Mayang''' adalah sebuah jenis perahu nelayan dari [[Jawa]], [[Indonesia]]. Tipe perahu ini digunakan umumnya untuk mencari ikan dan berdagang. Secara historis, perahu ini juga disukai oleh nakhoda Eropa dan pedagang swasta untuk berdagang di [[Hindia|Hindia Belanda]]: 50% mereka menggunakan mayang dan [[pencalang]].<ref>Horst H. Liebner. ''Eksplorasi Sumberdaya Budaya Maritim''. Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumber Daya Nonhayati, Badan Riset Kelautan dan Perikanan; Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, Universitas Indonesia. 2005. hlm. 53–124.</ref> Kebanyakan digunakan di pesisir utara Jawa, tempat produksi utama mayang adalah di [[Kabupaten Rembang|Rembang]], [[Jawa Tengah]].<ref>G.J. Knaap. ''Shallow Waters, Rising Tide – Shipping and Trade in Java around 1775''. KITLV Press. 1996.</ref>


== Etimologi ==
== Etimologi ==
Nama mayang berasal dari payang (sejenis jala atau jaring yang ditarik dan diseret) yang digunakan oleh nelayan setempat. Dengan demikian nama tersebut dapat diterjemahkan sebagai "menggunakan payang".
Nama mayang berasal dari payang (sejenis jala atau jaring yang ditarik dan diseret) yang digunakan oleh nelayan setempat. Dengan demikian nama tersebut dapat diterjemahkan sebagai "menggunakan payang".<ref>Djoko Pramono. ''Budaya Bahari''. Gramedia Pustaka Utama. 2005. hlm. 112-113. ISBN 9792213767.</ref>


== Deskripsi ==
== Deskripsi ==
Sebagian besar lambung Mayang dibangun menggunakan kayu jati. Bentuk lambungnya lebar, dengan dasar rata dan haluan dan buritan yang naik ke atas. Ia tidak bergeladak, tetapi beberapa memiliki "rumah" di tengah kapal. Mayang juga dibangun dengan sekat kedap air. Pada abad ke-18, Mayang dijelaskan memiliki awak 6 orang, panjang 9,15 hingga 12,2 meter; dengan muatan yang dapat diangkut sebesar 7,24 metrik ton. Sebuah perahu dari tahun 1850 memiliki lebar 3 m, panjang 12 m, dan kedalaman 1 m. Setidaknya ada 9 kompartemen untuk menyimpan ikan (disebut petak), tiga di antaranya di depan tiang yang dipisahkan satu sama lain oleh dinding sekat. Semua papan dikuatkan oleh pasak ke dalam sekat. Perahu mayang memiliki 1 tiang dengan layar berjenis [[Layar tanja|tanja]], [[lateen]], atau [[layar cakar kepiting]], dengan penggunaan layar tanja adalah yang paling umum. Ia dikemudikan menggunakan 1 kemudi aksial atau 2 kemudi kuartal (kemudi samping). Untuk pertahanan, Mayang tidak memiliki meriam besar, tetapi memiliki 1 [[meriam putar]] dan 2 [[senapan]]. Mayang modern juga dilengkapi dengan mesin, dan beberapa dari mereka juga memiliki [[Lunas kapal|lunas]]. Mayang modern memiliki panjang sekitar 10–15 m, lebar 2–3 m, dengan tinggi lambung 0,5–0,9 m. Tinggi tiang adalah 8–9 m, dengan luas layar sekitar 14x16 m.
Sebagian besar lambung Mayang dibangun menggunakan kayu jati. Bentuk lambungnya lebar, dengan dasar rata dan haluan dan buritan yang naik ke atas. Ia tidak bergeladak, tetapi beberapa memiliki "rumah" di tengah kapal. Mayang juga dibangun dengan sekat kedap air. Pada abad ke-18, Mayang dijelaskan memiliki awak 6 orang, panjang 9,15 hingga 12,2 meter; dengan muatan yang dapat diangkut sebesar 7,24 metrik ton.<ref>G.J. Knaap. ''Shallow Waters, Rising Tide – Shipping and Trade in Java around 1775''. KITLV Press. 1996.</ref> Sebuah perahu dari tahun 1850 memiliki lebar 3 m, panjang 12 m, dan kedalaman 1 m. Setidaknya ada 9 kompartemen untuk menyimpan ikan (disebut petak), tiga di antaranya di depan tiang yang dipisahkan satu sama lain oleh dinding sekat. Semua papan dikuatkan oleh pasak ke dalam sekat.<ref>Horridge, Adrian (2015). ''Perahu Layar Tradisional Nusantara''. Yogyakarta: Penerbit Ombak. Terjemahan bahasa Indonesia dari Horridge, Adrian (1985). ''The Prahu: Traditional Sailing Boat of Indonesia, second edition''. Oxford: Oxford University Press.</ref> Perahu mayang memiliki 1 tiang dengan layar berjenis [[Layar tanja|tanja]], [[lateen]], atau [[layar cakar kepiting]], dengan penggunaan layar tanja adalah yang paling umum. Ia dikemudikan menggunakan 1 kemudi aksial atau 2 kemudi kuartal (kemudi samping).<ref>Ruth Barnes. ''Ships and the Development of Maritime Technology on the Indian Ocean''. Routledge. 2015. hlm. 231. ISBN 9781317793434.</ref> Untuk pertahanan, Mayang tidak memiliki meriam besar, tetapi memiliki 1 [[meriam putar]] dan 2 [[senapan]].<ref>Gerrit Knaap. [https://archive.org/details/sim_modern-asian-studies_1999-05_33/page/405 Shipping and Trade in Java, c. 1775: A Quantitative Analysis]. ''Modern Asian Studies''. 1999. Vol. 33. hlm. 405-420.</ref> Mayang modern juga dilengkapi dengan mesin, dan beberapa dari mereka juga memiliki [[Lunas kapal|lunas]]. Mayang modern memiliki panjang sekitar 10–15 m, lebar 2–3 m, dengan tinggi lambung 0,5–0,9 m. Tinggi tiang adalah 8–9 m, dengan luas layar sekitar 14x16 m.


''Linggi'' (bagian terdepan rangka) tingginya sekitar 2,1 m, dengan lebar sekitar 1,2 m dan dihiasi dengan motif tradisional seperti bunga, kepala kuda, tokoh [[wayang]] dan tulisan dalam warna-warna cerah. Fitur yang mencolok adalah tiang tinggi dengan ''pembawon'' (bambu paling atas digunakan untuk mengikat layar, jika berlayar jenis tanja) yang sangat panjang. Untuk menggulung layar, bambu di bagian bawah layar yang disebut penggiling digunakan. Mayang memiliki ''draft'' dangkal yang membuatnya cocok untuk pergi ke pantai dan sungai. Layar besarnya mendorong perahu ini dengan kecepatan yang relatif tinggi, ketika angin tidak tersedia dayung dapat digunakan sebagai gantinya.
''Linggi'' (bagian terdepan rangka) tingginya sekitar 2,1 m, dengan lebar sekitar 1,2 m dan dihiasi dengan motif tradisional seperti bunga, kepala kuda, tokoh [[wayang]] dan tulisan dalam warna-warna cerah. Fitur yang mencolok adalah tiang tinggi dengan ''pembawon'' (bambu paling atas digunakan untuk mengikat layar, jika berlayar jenis tanja) yang sangat panjang. Untuk menggulung layar, bambu di bagian bawah layar yang disebut penggiling digunakan. Mayang memiliki ''draft'' dangkal yang membuatnya cocok untuk pergi ke pantai dan sungai. Layar besarnya mendorong perahu ini dengan kecepatan yang relatif tinggi, ketika angin tidak tersedia dayung dapat digunakan sebagai gantinya.<ref>Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Pemprov DKI Jakarta (2017). ''Mayang, Perahu.''</ref>


Bentuk perahu ini bervariasi di setiap lokasi. Di Madura, mayang adalah perahu yang diperkenalkan. Mereka cukup sama dalam teknik pembuatan perahu jaring tetapi lebih lebar dan memiliki galah seperti tanduk yang membawa melampaui sisi-sisi perahu ke buritan untuk mendukung jaring. Mayang dari madura memiliki haluan yang kecil, sedangkan yang dari Jawa Timur memiliki busur besar datar berwarna cerah. Mayang Madura menggunakan [[Layar cakar kepiting|layar lete]] Madura. Mayang Jawa Timur mengadopsi layar Madura, tetapi tiang layar yang tinggi, tali penahan layar, dan sisa dari sistem layar mayang lainnya tetap dipertahankan. Di pantai barat Jawa, haluan mayang cenderung lebih kecil. Di [[Rembang]] perahunya memiliki 2 tiang vertikal di belakang linggi depan dan disebut sebagai konting.
Bentuk perahu ini bervariasi di setiap lokasi. Di Madura, mayang adalah perahu yang diperkenalkan. Mereka cukup sama dalam teknik pembuatan perahu jaring tetapi lebih lebar dan memiliki galah seperti tanduk yang membawa melampaui sisi-sisi perahu ke buritan untuk mendukung jaring. Mayang dari madura memiliki haluan yang kecil, sedangkan yang dari Jawa Timur memiliki busur besar datar berwarna cerah. Mayang Madura menggunakan [[Layar cakar kepiting|layar lete]] Madura. Mayang Jawa Timur mengadopsi layar Madura, tetapi tiang layar yang tinggi, tali penahan layar, dan sisa dari sistem layar mayang lainnya tetap dipertahankan. Di pantai barat Jawa, haluan mayang cenderung lebih kecil. Di [[Rembang]] perahunya memiliki 2 tiang vertikal di belakang linggi depan dan disebut sebagai konting.<ref>Horridge, Adrian (2015). ''Perahu Layar Tradisional Nusantara''. Yogyakarta: Penerbit Ombak. Terjemahan bahasa Indonesia dari Horridge, Adrian (1985). ''The Prahu: Traditional Sailing Boat of Indonesia, second edition''. Oxford: Oxford University Press.</ref>


== Galeri ==
== Galeri ==
== Lihat pula ==
== Lihat pula ==
*
*
* [[Pencalang]]
* [[Pencalang]]
Baris 21: Baris 20:
* [[Kakap (perahu)|Kakap]]
* [[Kakap (perahu)|Kakap]]
* [[Perahu payang]], perahu nelayan dari semenanjung Malaya
* [[Perahu payang]], perahu nelayan dari semenanjung Malaya
== Referensi ==


== Bacaan lanjutan ==
== Bacaan lanjutan ==
* [https://jakarta.go.id/artikel/konten/2384/mayang-perahu Perahu Mayang]
* [https://jakarta.go.id/artikel/konten/2384/mayang-perahu Perahu Mayang]


== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


== Sumber dan atribusi ==
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Perahu+mayang&oldid=29576370 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29576370 (2026-08-14T10:14:30Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Perahu+mayang&oldid=29576370 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29576370 (2026-08-14T10:14:30Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 30 Agustus 2026 04.03

Malay proas

Perahu Mayang adalah sebuah jenis perahu nelayan dari Jawa, Indonesia. Tipe perahu ini digunakan umumnya untuk mencari ikan dan berdagang. Secara historis, perahu ini juga disukai oleh nakhoda Eropa dan pedagang swasta untuk berdagang di Hindia Belanda: 50% mereka menggunakan mayang dan pencalang.[1] Kebanyakan digunakan di pesisir utara Jawa, tempat produksi utama mayang adalah di Rembang, Jawa Tengah.[2]

Etimologi

Nama mayang berasal dari payang (sejenis jala atau jaring yang ditarik dan diseret) yang digunakan oleh nelayan setempat. Dengan demikian nama tersebut dapat diterjemahkan sebagai "menggunakan payang".[3]

Deskripsi

Sebagian besar lambung Mayang dibangun menggunakan kayu jati. Bentuk lambungnya lebar, dengan dasar rata dan haluan dan buritan yang naik ke atas. Ia tidak bergeladak, tetapi beberapa memiliki "rumah" di tengah kapal. Mayang juga dibangun dengan sekat kedap air. Pada abad ke-18, Mayang dijelaskan memiliki awak 6 orang, panjang 9,15 hingga 12,2 meter; dengan muatan yang dapat diangkut sebesar 7,24 metrik ton.[4] Sebuah perahu dari tahun 1850 memiliki lebar 3 m, panjang 12 m, dan kedalaman 1 m. Setidaknya ada 9 kompartemen untuk menyimpan ikan (disebut petak), tiga di antaranya di depan tiang yang dipisahkan satu sama lain oleh dinding sekat. Semua papan dikuatkan oleh pasak ke dalam sekat.[5] Perahu mayang memiliki 1 tiang dengan layar berjenis tanja, lateen, atau layar cakar kepiting, dengan penggunaan layar tanja adalah yang paling umum. Ia dikemudikan menggunakan 1 kemudi aksial atau 2 kemudi kuartal (kemudi samping).[6] Untuk pertahanan, Mayang tidak memiliki meriam besar, tetapi memiliki 1 meriam putar dan 2 senapan.[7] Mayang modern juga dilengkapi dengan mesin, dan beberapa dari mereka juga memiliki lunas. Mayang modern memiliki panjang sekitar 10–15 m, lebar 2–3 m, dengan tinggi lambung 0,5–0,9 m. Tinggi tiang adalah 8–9 m, dengan luas layar sekitar 14x16 m.

Linggi (bagian terdepan rangka) tingginya sekitar 2,1 m, dengan lebar sekitar 1,2 m dan dihiasi dengan motif tradisional seperti bunga, kepala kuda, tokoh wayang dan tulisan dalam warna-warna cerah. Fitur yang mencolok adalah tiang tinggi dengan pembawon (bambu paling atas digunakan untuk mengikat layar, jika berlayar jenis tanja) yang sangat panjang. Untuk menggulung layar, bambu di bagian bawah layar yang disebut penggiling digunakan. Mayang memiliki draft dangkal yang membuatnya cocok untuk pergi ke pantai dan sungai. Layar besarnya mendorong perahu ini dengan kecepatan yang relatif tinggi, ketika angin tidak tersedia dayung dapat digunakan sebagai gantinya.[8]

Bentuk perahu ini bervariasi di setiap lokasi. Di Madura, mayang adalah perahu yang diperkenalkan. Mereka cukup sama dalam teknik pembuatan perahu jaring tetapi lebih lebar dan memiliki galah seperti tanduk yang membawa melampaui sisi-sisi perahu ke buritan untuk mendukung jaring. Mayang dari madura memiliki haluan yang kecil, sedangkan yang dari Jawa Timur memiliki busur besar datar berwarna cerah. Mayang Madura menggunakan layar lete Madura. Mayang Jawa Timur mengadopsi layar Madura, tetapi tiang layar yang tinggi, tali penahan layar, dan sisa dari sistem layar mayang lainnya tetap dipertahankan. Di pantai barat Jawa, haluan mayang cenderung lebih kecil. Di Rembang perahunya memiliki 2 tiang vertikal di belakang linggi depan dan disebut sebagai konting.[9]

Galeri

Lihat pula

Bacaan lanjutan

Referensi

  1. Horst H. Liebner. Eksplorasi Sumberdaya Budaya Maritim. Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumber Daya Nonhayati, Badan Riset Kelautan dan Perikanan; Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, Universitas Indonesia. 2005. hlm. 53–124.
  2. G.J. Knaap. Shallow Waters, Rising Tide – Shipping and Trade in Java around 1775. KITLV Press. 1996.
  3. Djoko Pramono. Budaya Bahari. Gramedia Pustaka Utama. 2005. hlm. 112-113. ISBN 9792213767.
  4. G.J. Knaap. Shallow Waters, Rising Tide – Shipping and Trade in Java around 1775. KITLV Press. 1996.
  5. Horridge, Adrian (2015). Perahu Layar Tradisional Nusantara. Yogyakarta: Penerbit Ombak. Terjemahan bahasa Indonesia dari Horridge, Adrian (1985). The Prahu: Traditional Sailing Boat of Indonesia, second edition. Oxford: Oxford University Press.
  6. Ruth Barnes. Ships and the Development of Maritime Technology on the Indian Ocean. Routledge. 2015. hlm. 231. ISBN 9781317793434.
  7. Gerrit Knaap. Shipping and Trade in Java, c. 1775: A Quantitative Analysis. Modern Asian Studies. 1999. Vol. 33. hlm. 405-420.
  8. Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Pemprov DKI Jakarta (2017). Mayang, Perahu.
  9. Horridge, Adrian (2015). Perahu Layar Tradisional Nusantara. Yogyakarta: Penerbit Ombak. Terjemahan bahasa Indonesia dari Horridge, Adrian (1985). The Prahu: Traditional Sailing Boat of Indonesia, second edition. Oxford: Oxford University Press.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29576370 (2026-08-14T10:14:30Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.