Lompat ke isi

Transformasi digital: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29507630; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Transformasi digital''' (juga disebut '''pengalihbentukan digital''', '''pengalihrupaan digital''', '''pengalihwujudan digital''', atau '''alih ragam digital''') adalah bagian dari proses teknologi yang lebih besar. Transformasi digital merupakan perubahan yang berhubungan dengan penerapan [[Elektronika digital|teknologi digital]] dalam semua aspek kehidupan [[masyarakat]].
'''Transformasi digital''' (juga disebut '''pengalihbentukan digital''', '''pengalihrupaan digital''', '''pengalihwujudan digital''', atau '''alih ragam digital''') adalah bagian dari proses teknologi yang lebih besar.<ref>Khan, S. (2016).</ref> Transformasi digital merupakan perubahan yang berhubungan dengan penerapan [[Elektronika digital|teknologi digital]] dalam semua aspek kehidupan [[masyarakat]].<ref>Erik Stolterman, Anna Croon Fors, "Information TEchnology and the Good Life", in: "Information systems research: relevant theory and informed practice", 2004, ISBN 1-4020-8094-8, [https://books.google.com/books?id=6fmSk7ykB2sC&pg=PA689&dq=%22digital+transformation%22&hl=en&ei=cVU3Td_oKYu6sQPkjpz_Ag&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=1&ved=0CCYQ6AEwADgK#v=onepage&q=%22digital%20transformation%22&f=false p. 689]</ref>


Transformasi digital mencakup penggunaan dan kemampuan transformatif dalam hal menginformasikan kesadaran digital. Tahap transformasi adalah tahap penggunaan proses digital yang memungkinkan inovasi dan kreativitas dalam suatu produk digital tertentu, bukan hanya meningkatkan saja, tetapi juga mendukung metode tradisional.
Transformasi digital mencakup penggunaan dan kemampuan transformatif dalam hal menginformasikan kesadaran digital. Tahap transformasi adalah tahap penggunaan proses digital yang memungkinkan inovasi dan kreativitas dalam suatu produk digital tertentu, bukan hanya meningkatkan saja, tetapi juga mendukung metode tradisional.<ref>Digital literacies: concepts, policies and practices By Colin Lankshear, Michele Knobel, 2008, [https://books.google.com/books?id=doVQq67wWSwC&pg=PA173&dq=%22digital+transformation%22&hl=en&ei=cVU3Td_oKYu6sQPkjpz_Ag&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=7&ved=0CEcQ6AEwBjgK#v=onepage&q=%22digital%20transformation%22&f=false p. 173]</ref>


Dalam arti sempit, transformasi digital dapat menghasilkan konsep ''paperless'' (minim atau tanpa kertas) dan memengaruhi efektivitas usaha perorangan dan dapat berguna pada seluruh segmen masyarakat, seperti [[pemerintah]], [[komunikasi massa]], seni, [[Obat|obat-obatan]], dan [[Ilmu|ilmu pengetahuan]].
Dalam arti sempit, transformasi digital dapat menghasilkan konsep ''paperless'' (minim atau tanpa kertas) dan memengaruhi efektivitas usaha perorangan<ref>Digital transformation: the essentials of e-business leadership, by Keyur Patel, Mary Pat McCarthy, 2000, ISBN 0-07-136408-0</ref> dan dapat berguna pada seluruh segmen masyarakat, seperti [[pemerintah]],<ref>E-government in Canada: transformation for the digital age By Jeffrey Roy, 2006, ISBN 0-7766-0617-4</ref> [[komunikasi massa]],<ref>Mass Communication And Its Digital Transformation, by Ramanujam, 2009, ISBN 81-313-0039-0</ref> seni,<ref>[http://www.doctorhugo.org/synaesthesia/e-tsyn.htm ''Art & Computers: an exploratory investigation on the digital transformation of art.'']</ref> [[Obat|obat-obatan]],<ref>[https://books.google.com/books?id=RxzdgBK_iucC&q=%22digital+transformation%22&dq=%22digital+transformation%22&hl=en&ei=vWU3TdmnD5HGsAOt1JDRAw&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=10&ved=0CFoQ6AEwCTgU Digital medicine: implications for healthcare leaders], by Jeff Charles Goldsmith, 2003, ISBN 1-56793-211-8</ref> dan [[Ilmu|ilmu pengetahuan]].<ref>Digital Transformation By Mark Baker, 2014, ISBN 978-1-5004-4848-6</ref>


Menurut [[Shahyan Khan]] (2016), telah terjadi kerancuan mengenai definisi digitasi, digitalisasi dan transformasi digital. Sebuah kajian akademik yang dilakukan oleh Khan dan [[Bounfour]] (2016), [[Vogelsang]] (2010), Westerman (2014), Collin, et al. (2015) berjudul "Kepemimpinan pada era Digital – sebuah studi tentang efek digitalisasi pada top manajemen kepemimpinan" akhirnya mampu menjelaskan sejarah perkembangan digitalisasi beserta dengan istilah-istilah dari konsep tersebut.
Menurut [[Shahyan Khan]] (2016), telah terjadi kerancuan mengenai definisi digitasi, digitalisasi dan transformasi digital. Sebuah kajian akademik yang dilakukan oleh Khan dan [[Bounfour]] (2016),<ref>Bounfour, A. (2016).</ref> [[Vogelsang]] (2010),<ref>Vogelsang, M. (2010).</ref> Westerman (2014),<ref>Westerman, G. Bonnet, D., McAfee, A. (2014).</ref> Collin, et al. (2015)<ref>Collin, J., Hiekkanen, K., Korhonen, JJ, the heel, M., Itälä, T., Helenius, M ., (2015).</ref> berjudul "Kepemimpinan pada era Digital – sebuah studi tentang efek digitalisasi pada top manajemen kepemimpinan"<ref>Khan, S. (2016).</ref> akhirnya mampu menjelaskan sejarah perkembangan digitalisasi beserta dengan istilah-istilah dari konsep tersebut.


Transformasi digital telah menjadi sebuah fenomena yang mengubah banyak aspek kehidupan manusia. Saat ini merupakan era yang sering disebut sebagai era digital mulai dari istilah 3.0, 4.0, hingga 5.0. Masyarakat juga sudah menyadari hal tersebut dan menganggap penting untuk mengadopsi teknologi informasi dan komunikasi sebagai upaya untuk mengoptimalkan proses produksi, meningkatkan efisiensi, dan mencapai keberlanjutan usaha . Banyak manfaat yang dapat diperoleh dari adanya transformasi digital dalam dunia usaha, seperti peningkatan efisiensi yang dapat diperoleh dari penggunaan teknologi digital. Hal ini disebabkan pelaku usaha menjadi sangat mudah dalam melakukan pemantauan dan pengelolaan yang lebih baik terhadap produk dan sumber daya lainnya. Transformasi digital dapat mengubah sektor usaha menjadi lebih efisien, berkelanjutan, dan inovatif. Dengan adopsi teknologi digital, pelaku usaha dapat dengan mudah meningkatkan produktivitas dan menghadapi tantangan global dalam pemenuhan kebutuhan.
Transformasi digital telah menjadi sebuah fenomena yang mengubah banyak aspek kehidupan manusia. Saat ini merupakan era yang sering disebut sebagai era digital mulai dari istilah 3.0, 4.0, hingga 5.0. Masyarakat juga sudah menyadari hal tersebut dan menganggap penting untuk mengadopsi teknologi informasi dan komunikasi sebagai upaya untuk mengoptimalkan proses produksi, meningkatkan efisiensi, dan mencapai keberlanjutan usaha . Banyak manfaat yang dapat diperoleh dari adanya transformasi digital dalam dunia usaha, seperti peningkatan efisiensi yang dapat diperoleh dari penggunaan teknologi digital. Hal ini disebabkan pelaku usaha menjadi sangat mudah dalam melakukan pemantauan dan pengelolaan yang lebih baik terhadap produk dan sumber daya lainnya. Transformasi digital dapat mengubah sektor usaha menjadi lebih efisien, berkelanjutan, dan inovatif. Dengan adopsi teknologi digital, pelaku usaha dapat dengan mudah meningkatkan produktivitas dan menghadapi tantangan global dalam pemenuhan kebutuhan.<ref>Nurdiyah. [http://repository.ut.ac.id/10566/ TRANSFORMASI DIGITAL DALAM SEKTOR AGRIBISNIS]. Fakultas Sains dan Informasi, Universitas Terbuka. 23 Nov 2023. hlm. 308. ISBN 978-623-153-294-7.</ref>


== Sejarah ==
== Sejarah ==
Khan mencoba mendefinisikan asal-usul digitalisasi berdasarkan gagasan [[Gottfried Leibniz|Gottfried Wilhelm von Leibniz]] (1679), yang dipublikasi dalam ''Penjelasan de l'Arithmétique Binaire'' pada tahun 1703. Publikasi tersebut menjelaskan dan memvisualisasikan konsep yang dikenal sebagai "digitalisasi". Digitalisasi pertama kali dikembangkan sebagai sistem numerik yang terus menjadi sistem elektromekanis komputer, dalam pengembangan tersebut muncul teknologi komputer yang akhirnya diperkenalkan oleh John Atanasoff pada tahun 1939.
Khan<ref>''Khan, S. (2016). ''</ref> mencoba mendefinisikan asal-usul digitalisasi berdasarkan gagasan [[Gottfried Leibniz|Gottfried Wilhelm von Leibniz]] (1679),<ref>''Leibniz G., (1703). ''</ref> yang dipublikasi dalam ''Penjelasan de l'Arithmétique Binaire'' pada tahun 1703. Publikasi tersebut menjelaskan dan memvisualisasikan konsep yang dikenal sebagai "digitalisasi".<ref>''Boole, G., (2009) [1854]. ''</ref> Digitalisasi pertama kali dikembangkan sebagai sistem numerik yang terus menjadi sistem elektromekanis komputer, dalam pengembangan tersebut muncul teknologi komputer yang akhirnya diperkenalkan oleh John Atanasoff pada tahun 1939.<ref>''Tropp, H. S., (1993), "Stibitz, George Robert," in Anthony Ralston and Edwin D. Reilly, eds., Encyclopedia of Computer Science, Third Edition (New York: van Nostrand Rheinhold, 1993), pp. 1284–1286.''</ref>


Pada Tahun 1950, teknologi komputer yang muncul mendorong proses digitalisasi menjadi semakin cepat. Contoh pesatnya proses digitalisasi ditandai dengan munculnya komputer bermerk Simon pada tahun 1950, Apple II pada tahun 1977, dan [[IBM PC|PC IBM]] pada tahun 1981 (Vogelsang, 2010). Selanjutnya, seiring dengan pengembangan teknologi komputer, maka mulai muncul teknologi [[World Wide Web]] (WWW). Jaringan tanpa batas yang disajikan oleh World Wide Web menembus batas ruang lingkup, dimensi, skala, kecepatan serta efek digitalisasi di dunia. Hal ini tentu mengakibatkan peningkatan pesat pada proses transformasi sosial (Khan, 2016).
Pada Tahun 1950, teknologi komputer yang muncul mendorong proses digitalisasi menjadi semakin cepat. Contoh pesatnya proses digitalisasi ditandai dengan munculnya komputer bermerk Simon pada tahun 1950, Apple II pada tahun 1977, dan [[IBM PC|PC IBM]] pada tahun 1981 (Vogelsang, 2010). Selanjutnya, seiring dengan pengembangan teknologi komputer, maka mulai muncul teknologi [[World Wide Web]] (WWW). Jaringan tanpa batas yang disajikan oleh World Wide Web menembus batas ruang lingkup, dimensi, skala, kecepatan serta efek digitalisasi di dunia. Hal ini tentu mengakibatkan peningkatan pesat pada proses transformasi sosial (Khan, 2016).
Baris 21: Baris 21:


=== Faktor pendorong ===
=== Faktor pendorong ===
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya transformasi digital adalah perubahan regulasi atau aturan, adanya perubahan pada lansekap persaingan, adanya pergeseran atau perubahan ke bentuk digital dari industri, adanya perubahan perilaku dan harapan konsumen, adanya pemahaman akan manfaat teknologi digital, dan kesiapan sumber daya.
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya transformasi digital adalah perubahan regulasi atau aturan, adanya perubahan pada lansekap persaingan, adanya pergeseran atau perubahan ke bentuk digital dari industri, adanya perubahan perilaku dan harapan konsumen, adanya pemahaman akan manfaat teknologi digital, dan kesiapan sumber daya.<ref>Kristophorus dan Rina Candra Noor Santi Hadiono. [https://www.researchgate.net/publication/343135526_MENYONGSONG_TRANSFORMASI_DIGITAL Menyongsong Transformasi Digital]. ''ResearchGate''. 2020. ISBN 978-979-3649-72-6.</ref>


== Pengembangan ==
== Pengembangan ==
Baris 28: Baris 28:


=== Digitalisasi ===
=== Digitalisasi ===
Tidak seperti digitasi, Khan menjelaskan istilah ini merupakan "''proses'' dari yang disebabkan oleh perubahan teknologi dalam industri di atas". Proses ini telah memungkinkan banyak fenomena yang dikenal sebagai [[Internet of Things]], Industri Internet, Industri 4.0, [[Big data]], ''Machine to Machine'', ''Blockchain'', ''Cryptocurrencies'' dll. Diskusi Akademik seputar digitalisasi telah digambarkan sebagai permasalahan dengan penggunaan Westerman (2014), Vogelsang (2010), Khan (2016), Mengunyah (2013), karena tidak ada definisi yang jelas dari fenomena yang telah dikembangkan sebelumnya. Digitalisasi pada dasarnya berarti penggunaan canggih dari TI, dalam rangka untuk mengaktifkan dan mengambil keuntungan dari teknologi digital dan data. Sekarang digitalisasi dikaitkan dengan pandangan holistik pada bisnis & perubahan sosial, organisasi horisontal, dan pengembangan bisnis, serta TI.
Tidak seperti digitasi, Khan menjelaskan istilah ini merupakan "''proses'' dari yang disebabkan oleh perubahan teknologi dalam industri di atas". Proses ini telah memungkinkan banyak fenomena yang dikenal sebagai [[Internet of Things]], Industri Internet, Industri 4.0, [[Big data]], ''Machine to Machine'', ''Blockchain'', ''Cryptocurrencies'' dll. Diskusi Akademik seputar digitalisasi telah digambarkan sebagai permasalahan dengan penggunaan Westerman (2014), Vogelsang (2010), Khan (2016), Mengunyah (2013),<ref>'' Chew, E. K., (2013). ''</ref> karena tidak ada definisi yang jelas dari fenomena yang telah dikembangkan sebelumnya. Digitalisasi pada dasarnya berarti penggunaan canggih dari TI, dalam rangka untuk mengaktifkan dan mengambil keuntungan dari teknologi digital dan data. Sekarang digitalisasi dikaitkan dengan pandangan holistik pada bisnis & perubahan sosial, organisasi horisontal, dan pengembangan bisnis, serta TI.


Digitalisasi adalah proses pengubahan informasi analog ke dalam bentuk digital menggunakan konverter analog-ke-digital, seperti pada pemindai gambar atau untuk rekaman audio digital. Karena penggunaan internet telah meningkat sejak tahun 1990-an, penggunaan digitalisasi juga meningkat. Transformasi digital lebih luas dari sekadar digitalisasi proses yang ada. Transformasi digital memerlukan pertimbangan bagaimana produk, proses, dan organisasi dapat diubah melalui penggunaan teknologi digital baru.
Digitalisasi adalah proses pengubahan informasi analog ke dalam bentuk digital menggunakan konverter analog-ke-digital, seperti pada pemindai gambar atau untuk rekaman audio digital. Karena penggunaan internet telah meningkat sejak tahun 1990-an, penggunaan digitalisasi juga meningkat. Transformasi digital lebih luas dari sekadar digitalisasi proses yang ada. Transformasi digital memerlukan pertimbangan bagaimana produk, proses, dan organisasi dapat diubah melalui penggunaan teknologi digital baru.


=== Transformasi digital ===
=== Transformasi digital ===
Akhirnya, transformasi digital ini digambarkan sebagai "total dan keseluruhan efek [[Digitisasi|digitalisasi]] di masyarakat". Khan mengatakan bahwa digitasi telah memungkinkan proses digitalisasi, yang mendorong peluang lebih kuat untuk bertransformasi dan mengubah modal bisnis yang ada, sosial-struktur ekonomi, hukum dan langkah-langkah kebijakan, pola organisasi, hambatan budaya, dll. Digitasi (konversi), digitalisasi (proses) dan transformasi digital (efek) mempercepat dan menerangi apa yang sudah ada dan sedang berlangsung secara horisontal dan proses-proses perubahan global dalam masyarakat (Khan, 2016, Collin et al. 2015).
Akhirnya, transformasi digital ini digambarkan sebagai "total dan keseluruhan efek [[Digitisasi|digitalisasi]] di masyarakat". Khan mengatakan bahwa digitasi telah memungkinkan proses digitalisasi, yang mendorong peluang lebih kuat untuk bertransformasi dan mengubah modal bisnis yang ada, sosial-struktur ekonomi, hukum dan langkah-langkah kebijakan, pola organisasi, hambatan budaya, dll.<ref>ibid</ref> Digitasi (konversi), digitalisasi (proses) dan transformasi digital (efek) mempercepat dan menerangi apa yang sudah ada dan sedang berlangsung secara horisontal dan proses-proses perubahan global dalam masyarakat (Khan, 2016, Collin et al. 2015).


Transformasi digital dapat dilihat sebagai program sosio-teknis. Mengadopsi teknologi digital dapat membawa manfaat bagi bisnis tetapi beberapa budaya perusahaan dapat berjuang dengan perubahan yang diperlukan oleh transformasi digital.
Transformasi digital dapat dilihat sebagai program sosio-teknis. Mengadopsi teknologi digital dapat membawa manfaat bagi bisnis tetapi beberapa budaya perusahaan dapat berjuang dengan perubahan yang diperlukan oleh transformasi digital.


=== Peluang dan tantangan ===
=== Peluang dan tantangan ===
Ketika merencanakan untuk transformasi digital, organisasi harus mengenali faktor perubahan budaya yang akan mereka hadapi baik untuk pekerja dan para pemimpin organisasi agar dapat menyesuaikan diri saat mengadopsi dan bergantung pada teknologi asing. Transformasi digital telah memunculkan banyak tantangan dengan adanya pasar baru dan berbagai peluang. Dengan transformasi digitalisasi yang terjadi, organisasi harus bersaing dengan gesit terhadap para pesaing yang mengambil keuntungan dari rendahnya hambatan dalam menyediakan teknologi baru.
Ketika merencanakan untuk transformasi digital, organisasi harus mengenali faktor perubahan budaya yang akan mereka hadapi baik untuk pekerja dan para pemimpin organisasi agar dapat menyesuaikan diri saat mengadopsi dan bergantung pada teknologi asing.<ref>https://hbr.org/2015/08/the-company-cultures-that-help-or-hinder-digital-transformation</ref> Transformasi digital telah memunculkan banyak tantangan dengan adanya pasar baru dan berbagai peluang. Dengan transformasi digitalisasi yang terjadi, organisasi harus bersaing dengan gesit terhadap para pesaing yang mengambil keuntungan dari rendahnya hambatan dalam menyediakan teknologi baru.<ref>Harvard Business Review, https://hbr.org/2016/03/the-industries-that-are-being-disrupted-the-most-by-digital</ref>


Sementara si bungsu yang masih dilahirkan, anggota tertua dari [[Generasi Z]] sekarang berusia 19 tahun dan membuat perjalanan dari pendidikan penuh-waktu ke tempat kerja. Mereka bersemangat, lebih akrab dengan hal digital dengan pendekatan yang unik sebagai konsep bekerja.
Sementara si bungsu yang masih dilahirkan, anggota tertua dari [[Generasi Z]] sekarang berusia 19 tahun dan membuat perjalanan dari pendidikan penuh-waktu ke tempat kerja. Mereka bersemangat, lebih akrab dengan hal digital dengan pendekatan yang unik sebagai konsep bekerja.


Tantangan dan peluang yang terjadi pada Gen Z ([[generasi Z]]) yang merupakan merupakan generasi kini ialah adanya garis antara pekerjaan dan kehidupan pribadi yang semakin kabur (''boundary less''). Bekerja adalah sebuah pola pikir bagi mereka, bukan hanya satu set untuk menyelesaikan tugas-tugas atau tujuan yang ingin dicapai. Mereka secara konstan harus mengakses segala hal ke email dan berkolaborasi melalui platform terbaru, dan selalu terhubung. Pada masa ini, Gen Z harus mampu menyusun strategi untuk merangkul digitalisasi, meningkatkan kelincahan dalam menguasai teknologi informasi dan mengadopsi platform kolaborasi terbaru di bisnis ini.
Tantangan dan peluang yang terjadi pada Gen Z ([[generasi Z]]) yang merupakan merupakan generasi kini ialah adanya garis antara pekerjaan dan kehidupan pribadi yang semakin kabur (''boundary less''). Bekerja adalah sebuah pola pikir bagi mereka, bukan hanya satu set untuk menyelesaikan tugas-tugas atau tujuan yang ingin dicapai. Mereka secara konstan harus mengakses segala hal ke email dan berkolaborasi melalui platform terbaru, dan selalu terhubung. Pada masa ini, Gen Z harus mampu menyusun strategi untuk merangkul digitalisasi, meningkatkan kelincahan dalam menguasai teknologi informasi dan mengadopsi platform kolaborasi terbaru di bisnis ini.
 
<ref>As a case study, we can study Ricoh's business transformation practices.</ref>


=== Penelitian lain ===
=== Penelitian lain ===
Pada November 2011, tiga tahun studi yang dilakukan oleh MIT Center untuk Bisnis Digital dan Capgemini Consulting, menyimpulkan bahwa hanya sepertiga dari perusahaan-perusahaan global yang efektif dalam menerapkan program transformasi digital.
Pada November 2011, tiga tahun studi yang dilakukan oleh MIT Center untuk Bisnis Digital dan Capgemini Consulting, menyimpulkan bahwa hanya sepertiga dari perusahaan-perusahaan global yang efektif dalam menerapkan program transformasi digital.<ref>[http://www.capgemini.com/sites/default/files/resource/pdf/Digital_Transformation__A_Road-Map_for_Billion-Dollar_Organizations.pdf Digital Transformation: A Roadmap for Billion-Dollar Organization]. Capgemini Consulting.</ref>


Penelitian ini didefinisikan sebagai "efektivitas program transformasi digital" sebagai salah satu yang dibahas
Penelitian ini didefinisikan sebagai "efektivitas program transformasi digital" sebagai salah satu yang dibahas
* "Apa": intensitas inisiatif digital dalam sebuah perusahaan
* "Apa": intensitas inisiatif digital dalam sebuah perusahaan
* "Bagaimana": kemampuan suatu perusahaan untuk menguasai perubahan transformasional untuk memberikan nilai dan hasil pada bisnis.
* "Bagaimana": kemampuan suatu perusahaan untuk menguasai perubahan transformasional untuk memberikan nilai dan hasil pada bisnis.<ref>[http://www.capgemini.com/sites/default/files/resource/pdf/Digital_Transformation__A_Road-Map_for_Billion-Dollar_Organizations.pdf Digital Transformation: A Roadmap for Billion-Dollar Organization]. Capgemini Consulting.</ref>
Laporan terbaru oleh MIT Center untuk Bisnis Digital dan [[Deloitte Touche Tohmatsu|Deloitte]] pada tahun 2015 menemukan bahwa "bisinis digital yang telah berkembang semakin berfokus dalam melakukan integrasi teknologi digital, seperti ''social, mobile, analytics'' dan komputasi awan, dalam rangka mengubah cara kerja layanan bisnis mereka. Bisnis digital yang kurang berkembang berfokus pada pemecahan masalah bisnis dengan teknologi digital secara individu."
Laporan terbaru oleh MIT Center untuk Bisnis Digital dan [[Deloitte Touche Tohmatsu|Deloitte]] pada tahun 2015 menemukan bahwa "bisinis digital yang telah berkembang semakin berfokus dalam melakukan integrasi teknologi digital, seperti ''social, mobile, analytics'' dan komputasi awan, dalam rangka mengubah cara kerja layanan bisnis mereka. Bisnis digital yang kurang berkembang berfokus pada pemecahan masalah bisnis dengan teknologi digital secara individu."<ref>[http://sloanreview.mit.edu/projects/strategy-drives-digital-transformation/ Strategy, not Technology, Drives Digital Transformation]. ''MIT Sloan Management Review''.</ref>


Dalam waktu yang tidak begitu jauh di masa depan, teknologi seperti [[Internet of Things]] (IoT) dan cryptocurrencies akan menjadi bagian integral dari transformasi digital. IoT dapat dianggap sebagai "komuputasi di mana-mana " tak terlihat yang tertanam dalam benda-benda di sekitar kita.
Dalam waktu yang tidak begitu jauh di masa depan, teknologi seperti [[Internet of Things]] (IoT) dan cryptocurrencies akan menjadi bagian integral dari transformasi digital. IoT dapat dianggap sebagai "komuputasi di mana-mana " tak terlihat yang tertanam dalam benda-benda di sekitar kita.<ref>Rainer. ''Introduction to Information Systems, 6th Edition. Wiley, 2015-10-23. VitalBook file''. Rainer. 2015.</ref>


Transformasi Digital dapat dianalisis dan diberikan peringkat berdasarkan model 10S. Salah satu contoh utama dari sebuah transformasi digital adalah Sistem Informasi ''[[Western Digital Vigiliant]]''. Mereka telah mengimplementasikan sistem VIS di pabrik dan perusahaan untuk memantau kemajuan mereka secara real-time. Inovasi ini telah membantu mereka untuk tetap menjadi pemimpin pasar ''[[Cakram keras|Hard disk]]''.
Transformasi Digital dapat dianalisis dan diberikan peringkat berdasarkan model 10S. Salah satu contoh utama dari sebuah transformasi digital adalah Sistem Informasi ''[[Western Digital Vigiliant]]''. Mereka telah mengimplementasikan sistem VIS di pabrik dan perusahaan untuk memantau kemajuan mereka secara real-time. Inovasi ini telah membantu mereka untuk tetap menjadi pemimpin pasar ''[[Cakram keras|Hard disk]]''.<ref>[http://www.business.unr.edu/faculty/kuechler/788/visatwesterndigital.pdf Salinan arsip].</ref>


== Model bisnis ==
== Model bisnis ==
Model bisnis menggambarkan aktivitas dimana suatu perusahaan dapat menciptakan sebuah nilai, yaitu mentransfer informasi mengenai segmen pelanggan dan memanfaatkan nilai yang diciptakan secara ekonomis. Dalam arti luas, model bisnis digital mencakup semua model bisnis yang kegiatan penambahan nilainya didasarkan pada teknologi digital. Oliver Gassmann memberikan definisi yang lebih sempit lagi, yaitu 'tawaran nilai online berdasarkan rantai nilai cerdas'. Akibat kemajuan bidang teknologi digital, harapan terus berubah, maka model bisnis digital juga ikut berubah.
Model bisnis menggambarkan aktivitas dimana suatu perusahaan dapat menciptakan sebuah nilai, yaitu mentransfer informasi mengenai segmen pelanggan dan memanfaatkan nilai yang diciptakan secara ekonomis. Dalam arti luas, model bisnis digital mencakup semua model bisnis yang kegiatan penambahan nilainya didasarkan pada teknologi digital. Oliver Gassmann memberikan definisi yang lebih sempit lagi, yaitu 'tawaran nilai online berdasarkan rantai nilai cerdas'.<ref>[https://principus.si/2022/06/30/oliver-gassmann-karolin-frankenberger-the-business-model-navigator/ Oliver Gassmann, Karolin Frankenberger: The Business Model Navigator]. ''principus.si''.</ref> Akibat kemajuan bidang teknologi digital, harapan terus berubah, maka model bisnis digital juga ikut berubah.


Hal ini berdampak pada beberapa perusahaan media, perdagangan, keuangan, transportasi dan retail yang menyisihkan sebagian modal bisnis konvensional dengan mengadopsi pendekatan digital. Harian [[Kompas (surat kabar)|Kompas]], [[Jawa Pos]], [[Bluebird]], [[Kabayan55]], [[Carrefour]] adalah contoh perusahaan konvesional yang pada akhirnya fokus untuk mengembangkan fase bisnis mereka ke model bisnis digital secara bertahap.
Hal ini berdampak pada beberapa perusahaan media, perdagangan, keuangan, transportasi dan retail yang menyisihkan sebagian modal bisnis konvensional dengan mengadopsi pendekatan digital. Harian [[Kompas (surat kabar)|Kompas]], [[Jawa Pos]], [[Bluebird]], [[Kabayan55]], [[Carrefour]] adalah contoh perusahaan konvesional yang pada akhirnya fokus untuk mengembangkan fase bisnis mereka ke model bisnis digital secara bertahap.<ref>REBIYYAH SALASAH, PRAYOGI DWI SULISTYO. [https://www.kompas.id/baca/humaniora/2024/02/20/harapan-media-dari-model-bisnis-berlangganan Masa Depan Media dengan Model Bisnis Berlangganan]. ''KOMPAS''. 20 Februari 2024.</ref><ref>Carrefour. [https://www.carrefour.com/en/digital-retail-strategy-2026 DIGITAL RETAIL 2026]. ''Carrefour''.</ref>


Analisis terhadap perusahaan listing menunjukkan bahwa perusahaan berdasarkan model bisnis digital, terutama di AS, telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir dan mampu mencapai kapitalisasi pasar berkali-kali lipat dibandingkan dengan perusahaan tradisional dalam waktu singkat. Pengembalian investasi, biasanya disebut sebagai ROI, yang mana sangat bergantung pada kesuksesan strategi digitalisasi.
Analisis terhadap perusahaan listing menunjukkan bahwa perusahaan berdasarkan model bisnis digital, terutama di AS, telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir dan mampu mencapai kapitalisasi pasar berkali-kali lipat dibandingkan dengan perusahaan tradisional dalam waktu singkat. Pengembalian investasi, biasanya disebut sebagai ROI, yang mana sangat bergantung pada kesuksesan strategi digitalisasi.


Pengembalian investasi menyoroti pentingnya semua faktor di atas. Karena semuanya turut berkontribusi pada perusahaan yang secara efektif mengadopsi teknologi digital untuk memberikan dampak positif pada keuntungan perusahaan. Analisis perusahaan muda dan perusahaan yang disukai oleh investor ventura menunjukkan bahwa munculnya inovator terobosan juga dapat diharapkan di banyak sektor lainnya. Ketersediaan cloud computing juga mempercepat kesuksesan model bisnis digital baru dengan mendukung skalabilitas yang cepat.
Pengembalian investasi menyoroti pentingnya semua faktor di atas.<ref>[https://www.digital-adoption.com/digital-adoption-strategies/ Top 10 High-Impact Digital Adoption Strategies]. ''digital-adoption.com''.</ref> Karena semuanya turut berkontribusi pada perusahaan yang secara efektif mengadopsi teknologi digital untuk memberikan dampak positif pada keuntungan perusahaan. Analisis perusahaan muda dan perusahaan yang disukai oleh investor ventura menunjukkan bahwa munculnya inovator terobosan juga dapat diharapkan di banyak sektor lainnya. Ketersediaan cloud computing juga mempercepat kesuksesan model bisnis digital baru dengan mendukung skalabilitas yang cepat.<ref>[https://mothersontechnology.com/en-sg/blogs/accelerating-cloud-adoption-the-new-business-imperative-for-success/ Accelerating Cloud Adoption: The New Business Imperative for Success]. ''mothersontechnology.com''.</ref>


== Lihat juga ==
== Lihat juga ==
Baris 71: Baris 71:


== Referensi ==
== Referensi ==
 
<references />
 


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Transformasi+digital&oldid=29507630 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29507630 (2026-07-30T17:43:49Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Transformasi+digital&oldid=29507630 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29507630 (2026-07-30T17:43:49Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 23 Agustus 2026 18.06

Transformasi digital (juga disebut pengalihbentukan digital, pengalihrupaan digital, pengalihwujudan digital, atau alih ragam digital) adalah bagian dari proses teknologi yang lebih besar.[1] Transformasi digital merupakan perubahan yang berhubungan dengan penerapan teknologi digital dalam semua aspek kehidupan masyarakat.[2]

Transformasi digital mencakup penggunaan dan kemampuan transformatif dalam hal menginformasikan kesadaran digital. Tahap transformasi adalah tahap penggunaan proses digital yang memungkinkan inovasi dan kreativitas dalam suatu produk digital tertentu, bukan hanya meningkatkan saja, tetapi juga mendukung metode tradisional.[3]

Dalam arti sempit, transformasi digital dapat menghasilkan konsep paperless (minim atau tanpa kertas) dan memengaruhi efektivitas usaha perorangan[4] dan dapat berguna pada seluruh segmen masyarakat, seperti pemerintah,[5] komunikasi massa,[6] seni,[7] obat-obatan,[8] dan ilmu pengetahuan.[9]

Menurut Shahyan Khan (2016), telah terjadi kerancuan mengenai definisi digitasi, digitalisasi dan transformasi digital. Sebuah kajian akademik yang dilakukan oleh Khan dan Bounfour (2016),[10] Vogelsang (2010),[11] Westerman (2014),[12] Collin, et al. (2015)[13] berjudul "Kepemimpinan pada era Digital – sebuah studi tentang efek digitalisasi pada top manajemen kepemimpinan"[14] akhirnya mampu menjelaskan sejarah perkembangan digitalisasi beserta dengan istilah-istilah dari konsep tersebut.

Transformasi digital telah menjadi sebuah fenomena yang mengubah banyak aspek kehidupan manusia. Saat ini merupakan era yang sering disebut sebagai era digital mulai dari istilah 3.0, 4.0, hingga 5.0. Masyarakat juga sudah menyadari hal tersebut dan menganggap penting untuk mengadopsi teknologi informasi dan komunikasi sebagai upaya untuk mengoptimalkan proses produksi, meningkatkan efisiensi, dan mencapai keberlanjutan usaha . Banyak manfaat yang dapat diperoleh dari adanya transformasi digital dalam dunia usaha, seperti peningkatan efisiensi yang dapat diperoleh dari penggunaan teknologi digital. Hal ini disebabkan pelaku usaha menjadi sangat mudah dalam melakukan pemantauan dan pengelolaan yang lebih baik terhadap produk dan sumber daya lainnya. Transformasi digital dapat mengubah sektor usaha menjadi lebih efisien, berkelanjutan, dan inovatif. Dengan adopsi teknologi digital, pelaku usaha dapat dengan mudah meningkatkan produktivitas dan menghadapi tantangan global dalam pemenuhan kebutuhan.[15]

Sejarah

Khan[16] mencoba mendefinisikan asal-usul digitalisasi berdasarkan gagasan Gottfried Wilhelm von Leibniz (1679),[17] yang dipublikasi dalam Penjelasan de l'Arithmétique Binaire pada tahun 1703. Publikasi tersebut menjelaskan dan memvisualisasikan konsep yang dikenal sebagai "digitalisasi".[18] Digitalisasi pertama kali dikembangkan sebagai sistem numerik yang terus menjadi sistem elektromekanis komputer, dalam pengembangan tersebut muncul teknologi komputer yang akhirnya diperkenalkan oleh John Atanasoff pada tahun 1939.[19]

Pada Tahun 1950, teknologi komputer yang muncul mendorong proses digitalisasi menjadi semakin cepat. Contoh pesatnya proses digitalisasi ditandai dengan munculnya komputer bermerk Simon pada tahun 1950, Apple II pada tahun 1977, dan PC IBM pada tahun 1981 (Vogelsang, 2010). Selanjutnya, seiring dengan pengembangan teknologi komputer, maka mulai muncul teknologi World Wide Web (WWW). Jaringan tanpa batas yang disajikan oleh World Wide Web menembus batas ruang lingkup, dimensi, skala, kecepatan serta efek digitalisasi di dunia. Hal ini tentu mengakibatkan peningkatan pesat pada proses transformasi sosial (Khan, 2016).

Pada tahun 2000, digitalisasi telah menjangkau bagian dari kepentingan pemerintahan. Penggunaan internet terus meningkat dan terjadi pada semua golongan masyarakat. Pemanfaatan teknologi semakin dirasakan para pelaku ekonomi dan pelaku usaha sebagai upaya untuk memperbesar peluang ekonomi.

Di Uni Eropa, sebuah inovasi teknologi yang disebut Digital Single Market dikembangkan. Dengan pemanfaatan teknologi canggih, inovasi ini memberikan kontribusi untuk masa depan transformasi masyarakat. Masyarakat menjadi lebih mudah mendapatkan layanan informasi sehingga menjadi lebih modern, terstruktur dan memiliki tata pemerintahan yang terkelola secara sistem digital.

Secara umum, digitalisasi telah mampu meningkatkan percepatan peluang pengembangan masyarakat, pembangunan bisnis, efisiensi kegiatan, dan berbagai isu sosial.

Faktor pendorong

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya transformasi digital adalah perubahan regulasi atau aturan, adanya perubahan pada lansekap persaingan, adanya pergeseran atau perubahan ke bentuk digital dari industri, adanya perubahan perilaku dan harapan konsumen, adanya pemahaman akan manfaat teknologi digital, dan kesiapan sumber daya.[20]

Pengembangan

Digitasi

Didefenisikan dalam politik, bisnis, perdagangan, industri, dan wacana media, sebagai "konversi dari informasi analog ke dalam bentuk digital" (contoh: numerik, biner format). Digitalisasi secara teknis dijelaskan sebagai representasi dari sinyal-sinyal, gambar, suara, dan benda-benda dengan menghasilkan serangkaian angka, yang dinyatakan sebagai nilai diskrit (Khan, 2016). Menurut Collin et. al, (2015), dll. Mayoritas sektor dan industri di media, perbankan & keuangan, telekomunikasi, med-tech dan perawatan kesehatan telah dipengaruhi oleh konversi informasi ini.

Digitalisasi

Tidak seperti digitasi, Khan menjelaskan istilah ini merupakan "proses dari yang disebabkan oleh perubahan teknologi dalam industri di atas". Proses ini telah memungkinkan banyak fenomena yang dikenal sebagai Internet of Things, Industri Internet, Industri 4.0, Big data, Machine to Machine, Blockchain, Cryptocurrencies dll. Diskusi Akademik seputar digitalisasi telah digambarkan sebagai permasalahan dengan penggunaan Westerman (2014), Vogelsang (2010), Khan (2016), Mengunyah (2013),[21] karena tidak ada definisi yang jelas dari fenomena yang telah dikembangkan sebelumnya. Digitalisasi pada dasarnya berarti penggunaan canggih dari TI, dalam rangka untuk mengaktifkan dan mengambil keuntungan dari teknologi digital dan data. Sekarang digitalisasi dikaitkan dengan pandangan holistik pada bisnis & perubahan sosial, organisasi horisontal, dan pengembangan bisnis, serta TI.

Digitalisasi adalah proses pengubahan informasi analog ke dalam bentuk digital menggunakan konverter analog-ke-digital, seperti pada pemindai gambar atau untuk rekaman audio digital. Karena penggunaan internet telah meningkat sejak tahun 1990-an, penggunaan digitalisasi juga meningkat. Transformasi digital lebih luas dari sekadar digitalisasi proses yang ada. Transformasi digital memerlukan pertimbangan bagaimana produk, proses, dan organisasi dapat diubah melalui penggunaan teknologi digital baru.

Transformasi digital

Akhirnya, transformasi digital ini digambarkan sebagai "total dan keseluruhan efek digitalisasi di masyarakat". Khan mengatakan bahwa digitasi telah memungkinkan proses digitalisasi, yang mendorong peluang lebih kuat untuk bertransformasi dan mengubah modal bisnis yang ada, sosial-struktur ekonomi, hukum dan langkah-langkah kebijakan, pola organisasi, hambatan budaya, dll.[22] Digitasi (konversi), digitalisasi (proses) dan transformasi digital (efek) mempercepat dan menerangi apa yang sudah ada dan sedang berlangsung secara horisontal dan proses-proses perubahan global dalam masyarakat (Khan, 2016, Collin et al. 2015).

Transformasi digital dapat dilihat sebagai program sosio-teknis. Mengadopsi teknologi digital dapat membawa manfaat bagi bisnis tetapi beberapa budaya perusahaan dapat berjuang dengan perubahan yang diperlukan oleh transformasi digital.

Peluang dan tantangan

Ketika merencanakan untuk transformasi digital, organisasi harus mengenali faktor perubahan budaya yang akan mereka hadapi baik untuk pekerja dan para pemimpin organisasi agar dapat menyesuaikan diri saat mengadopsi dan bergantung pada teknologi asing.[23] Transformasi digital telah memunculkan banyak tantangan dengan adanya pasar baru dan berbagai peluang. Dengan transformasi digitalisasi yang terjadi, organisasi harus bersaing dengan gesit terhadap para pesaing yang mengambil keuntungan dari rendahnya hambatan dalam menyediakan teknologi baru.[24]

Sementara si bungsu yang masih dilahirkan, anggota tertua dari Generasi Z sekarang berusia 19 tahun dan membuat perjalanan dari pendidikan penuh-waktu ke tempat kerja. Mereka bersemangat, lebih akrab dengan hal digital dengan pendekatan yang unik sebagai konsep bekerja.

Tantangan dan peluang yang terjadi pada Gen Z (generasi Z) yang merupakan merupakan generasi kini ialah adanya garis antara pekerjaan dan kehidupan pribadi yang semakin kabur (boundary less). Bekerja adalah sebuah pola pikir bagi mereka, bukan hanya satu set untuk menyelesaikan tugas-tugas atau tujuan yang ingin dicapai. Mereka secara konstan harus mengakses segala hal ke email dan berkolaborasi melalui platform terbaru, dan selalu terhubung. Pada masa ini, Gen Z harus mampu menyusun strategi untuk merangkul digitalisasi, meningkatkan kelincahan dalam menguasai teknologi informasi dan mengadopsi platform kolaborasi terbaru di bisnis ini. [25]

Penelitian lain

Pada November 2011, tiga tahun studi yang dilakukan oleh MIT Center untuk Bisnis Digital dan Capgemini Consulting, menyimpulkan bahwa hanya sepertiga dari perusahaan-perusahaan global yang efektif dalam menerapkan program transformasi digital.[26]

Penelitian ini didefinisikan sebagai "efektivitas program transformasi digital" sebagai salah satu yang dibahas

  • "Apa": intensitas inisiatif digital dalam sebuah perusahaan
  • "Bagaimana": kemampuan suatu perusahaan untuk menguasai perubahan transformasional untuk memberikan nilai dan hasil pada bisnis.[27]

Laporan terbaru oleh MIT Center untuk Bisnis Digital dan Deloitte pada tahun 2015 menemukan bahwa "bisinis digital yang telah berkembang semakin berfokus dalam melakukan integrasi teknologi digital, seperti social, mobile, analytics dan komputasi awan, dalam rangka mengubah cara kerja layanan bisnis mereka. Bisnis digital yang kurang berkembang berfokus pada pemecahan masalah bisnis dengan teknologi digital secara individu."[28]

Dalam waktu yang tidak begitu jauh di masa depan, teknologi seperti Internet of Things (IoT) dan cryptocurrencies akan menjadi bagian integral dari transformasi digital. IoT dapat dianggap sebagai "komuputasi di mana-mana " tak terlihat yang tertanam dalam benda-benda di sekitar kita.[29]

Transformasi Digital dapat dianalisis dan diberikan peringkat berdasarkan model 10S. Salah satu contoh utama dari sebuah transformasi digital adalah Sistem Informasi Western Digital Vigiliant. Mereka telah mengimplementasikan sistem VIS di pabrik dan perusahaan untuk memantau kemajuan mereka secara real-time. Inovasi ini telah membantu mereka untuk tetap menjadi pemimpin pasar Hard disk.[30]

Model bisnis

Model bisnis menggambarkan aktivitas dimana suatu perusahaan dapat menciptakan sebuah nilai, yaitu mentransfer informasi mengenai segmen pelanggan dan memanfaatkan nilai yang diciptakan secara ekonomis. Dalam arti luas, model bisnis digital mencakup semua model bisnis yang kegiatan penambahan nilainya didasarkan pada teknologi digital. Oliver Gassmann memberikan definisi yang lebih sempit lagi, yaitu 'tawaran nilai online berdasarkan rantai nilai cerdas'.[31] Akibat kemajuan bidang teknologi digital, harapan terus berubah, maka model bisnis digital juga ikut berubah.

Hal ini berdampak pada beberapa perusahaan media, perdagangan, keuangan, transportasi dan retail yang menyisihkan sebagian modal bisnis konvensional dengan mengadopsi pendekatan digital. Harian Kompas, Jawa Pos, Bluebird, Kabayan55, Carrefour adalah contoh perusahaan konvesional yang pada akhirnya fokus untuk mengembangkan fase bisnis mereka ke model bisnis digital secara bertahap.[32][33]

Analisis terhadap perusahaan listing menunjukkan bahwa perusahaan berdasarkan model bisnis digital, terutama di AS, telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir dan mampu mencapai kapitalisasi pasar berkali-kali lipat dibandingkan dengan perusahaan tradisional dalam waktu singkat. Pengembalian investasi, biasanya disebut sebagai ROI, yang mana sangat bergantung pada kesuksesan strategi digitalisasi.

Pengembalian investasi menyoroti pentingnya semua faktor di atas.[34] Karena semuanya turut berkontribusi pada perusahaan yang secara efektif mengadopsi teknologi digital untuk memberikan dampak positif pada keuntungan perusahaan. Analisis perusahaan muda dan perusahaan yang disukai oleh investor ventura menunjukkan bahwa munculnya inovator terobosan juga dapat diharapkan di banyak sektor lainnya. Ketersediaan cloud computing juga mempercepat kesuksesan model bisnis digital baru dengan mendukung skalabilitas yang cepat.[35]

Lihat juga

Referensi

  1. Khan, S. (2016).
  2. Erik Stolterman, Anna Croon Fors, "Information TEchnology and the Good Life", in: "Information systems research: relevant theory and informed practice", 2004, ISBN 1-4020-8094-8, p. 689
  3. Digital literacies: concepts, policies and practices By Colin Lankshear, Michele Knobel, 2008, p. 173
  4. Digital transformation: the essentials of e-business leadership, by Keyur Patel, Mary Pat McCarthy, 2000, ISBN 0-07-136408-0
  5. E-government in Canada: transformation for the digital age By Jeffrey Roy, 2006, ISBN 0-7766-0617-4
  6. Mass Communication And Its Digital Transformation, by Ramanujam, 2009, ISBN 81-313-0039-0
  7. Art & Computers: an exploratory investigation on the digital transformation of art.
  8. Digital medicine: implications for healthcare leaders, by Jeff Charles Goldsmith, 2003, ISBN 1-56793-211-8
  9. Digital Transformation By Mark Baker, 2014, ISBN 978-1-5004-4848-6
  10. Bounfour, A. (2016).
  11. Vogelsang, M. (2010).
  12. Westerman, G. Bonnet, D., McAfee, A. (2014).
  13. Collin, J., Hiekkanen, K., Korhonen, JJ, the heel, M., Itälä, T., Helenius, M ., (2015).
  14. Khan, S. (2016).
  15. Nurdiyah. TRANSFORMASI DIGITAL DALAM SEKTOR AGRIBISNIS. Fakultas Sains dan Informasi, Universitas Terbuka. 23 Nov 2023. hlm. 308. ISBN 978-623-153-294-7.
  16. Khan, S. (2016).
  17. Leibniz G., (1703).
  18. Boole, G., (2009) [1854].
  19. Tropp, H. S., (1993), "Stibitz, George Robert," in Anthony Ralston and Edwin D. Reilly, eds., Encyclopedia of Computer Science, Third Edition (New York: van Nostrand Rheinhold, 1993), pp. 1284–1286.
  20. Kristophorus dan Rina Candra Noor Santi Hadiono. Menyongsong Transformasi Digital. ResearchGate. 2020. ISBN 978-979-3649-72-6.
  21. Chew, E. K., (2013).
  22. ibid
  23. https://hbr.org/2015/08/the-company-cultures-that-help-or-hinder-digital-transformation
  24. Harvard Business Review, https://hbr.org/2016/03/the-industries-that-are-being-disrupted-the-most-by-digital
  25. As a case study, we can study Ricoh's business transformation practices.
  26. Digital Transformation: A Roadmap for Billion-Dollar Organization. Capgemini Consulting.
  27. Digital Transformation: A Roadmap for Billion-Dollar Organization. Capgemini Consulting.
  28. Strategy, not Technology, Drives Digital Transformation. MIT Sloan Management Review.
  29. Rainer. Introduction to Information Systems, 6th Edition. Wiley, 2015-10-23. VitalBook file. Rainer. 2015.
  30. Salinan arsip.
  31. Oliver Gassmann, Karolin Frankenberger: The Business Model Navigator. principus.si.
  32. REBIYYAH SALASAH, PRAYOGI DWI SULISTYO. Masa Depan Media dengan Model Bisnis Berlangganan. KOMPAS. 20 Februari 2024.
  33. Carrefour. DIGITAL RETAIL 2026. Carrefour.
  34. Top 10 High-Impact Digital Adoption Strategies. digital-adoption.com.
  35. Accelerating Cloud Adoption: The New Business Imperative for Success. mothersontechnology.com.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29507630 (2026-07-30T17:43:49Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.