Metode Mill: Perbedaan antara revisi
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
Pembersihan konten sesuai kebijakan Wiki Unissula |
||
| Baris 104: | Baris 104: | ||
|} | |} | ||
Dalam menerapkan Metode Mill, perlu diketahui bahwa penyebab dapat berarti "penyebab total" atau "penyebab parsial". Misalkan, Jones tertembak dan kemudian mati. Jika salah menerapkan metode perbedaan, kesimpulan yang dihasilkan mungkin bahwa ditembak tidak menyebabkan mati, sebab beberapa orang yang ditembak tidak mati. Namun, kesimpulan yang tepat yaitu ditembak tidak selalu menyebabkan kematian. Pada contoh dapat disimpulkan penyebab total dari kematian Jones bukanlah tertembak, melainkan dia ditembak dengan cara tertentu (misal, di kepala) dan dalam keadaan tertentu (misal, tidak ada pertlongan medis). Ini adalah penyebab totalnya. | Dalam menerapkan Metode Mill, perlu diketahui bahwa penyebab dapat berarti "penyebab total" atau "penyebab parsial". Misalkan, Jones tertembak dan kemudian mati. Jika salah menerapkan metode perbedaan, kesimpulan yang dihasilkan mungkin bahwa ditembak tidak menyebabkan mati, sebab beberapa orang yang ditembak tidak mati. Namun, kesimpulan yang tepat yaitu ditembak tidak selalu menyebabkan kematian. Pada contoh dapat disimpulkan penyebab total dari kematian Jones bukanlah tertembak, melainkan dia ditembak dengan cara tertentu (misal, di kepala) dan dalam keadaan tertentu (misal, tidak ada pertlongan medis). Ini adalah penyebab totalnya. | ||
Revisi terkini sejak 9 September 2026 06.28

Metode Mill adalah lima metode induksi yang dikemukakan oleh John Stuart Mill (1806–1873) dalam bukunya tahun 1843 A System of Logic.[1] Pada awalnya Mill merumuskan empat metode induksi yaitu: metode persetujuan, metode perbedaan, metode persamaan variasi, metode sisasisihan. Kemudian orang sesudah Mill datang menambah satu metode lagi yaitu metode gabungan persetujuan dan perbedaan.[2]
Gambaran Umum
Kritik terhadap induksi Enumerasi Sederhana mendorong filsuf Inggris, Francis Bacon menyarankan tipe-tipe prosedur induktif yang lain. Formulasi klasik ini dikemukakan oleh seorang ilsuf Inggris lain, John Stuart Mill.[3] John Stuart Mill mempertemukan sistem induksi dengan sistem deduksi pada tahun 1843 dengan bukunya yang berjudul A System of Logic, suatu tulisan tentang metode ilmiah.[4] Setiap pangkal pikir besar dalam sistem deduksi memerlukan induksi begitupun sebaliknya, sistem induksi memerlukan deduksi bagi penyusunan pikiran mengenai hasil eksperimen dan penyelidikan. Jadi, keduanya bukan bagian yang saling terpisah melainkan saling membantu.[5] Mill mengusung metode induktif dengan lima kaidah yang dinamakan Metode Inferensi Induktif Mill atau disingkat menjadi Metode Mill. Sebab suatu kejadian bagi Mill dimaknai sebagai seluruh jumlah kondisi positif dan negatif yang diperlukan.[6] Ide dasarnya adalah bahwa faktor-faktor yang secara teratur terjadi bersama-sama kemungkinan besar terkait secara kausal. Metode ini didasarkan pada dua asumsi, pertama, tidak ada sesuatu disebut sebab bagi suatu akibat bila tidak ditemukan pada saat akibat tejadi. Kedua, tidak ada sesuatu disebut sebab bagi akibat bila ditemukan pada saat akibat tidak terjadi.[7] Metode ini harus dilihat sebagai metode untuk menemukan sebab yang perlu atau sebab yang cukup dari kejadian yang diberikan.[8]
Terdapat berbagai pendapat mengenai Metode Mill, metode perbedaan dan persetujuannya memungkinkan untuk menemukan serta membuktikan hubungan kausal. Sebaliknya, nilai dari Metode Mill terdapat pada kapasitasnya untuk menghilangkan pernyataan kausal alternatif lain.[9] Sayangnya, beberapa dari itu salah mengatikan metodeseperti yang awalnya dijelaskan oleh Mill sendiri. Saat menerapkan Metode Mill, seseorang menari penyebab dari fenomena tertentu. Untuk melakukan itu, seseorang perlu mempertibangkan sejumlah kasus, di mana fenomena tersebut ada atau tidak ada. Dengan menggunakan Metode Mill, seseorang ungkin dapat menemukan alasan bahwa keadaan tertentu adalah penyebab fenomena tersebut.[10]
Metode
Metode persetujuan
Taruhlah contohnya dalam satu barak, dengan mendadak seantero penghuninya terkena berak dan muntah-muntah. Sebagian dari mereka diwawancarai untuk menemukan sebab dari musibah. Mereka dimintai keterangan tentang apa yang dimakan hari itu. Tentara kesatu menyatakan makan pempek, rambutan, rujak, pisang goreng, telur rebus, dan nasi goreng kiriman. Sampai ke tentara keenam dan ketujuh makan soto, mangga, pentol, dan nasi goreng kiriman. Bila masing-masing makanan yang dipilih tentara ini dituliskan dengan huruf A, B, C, D, E, dan F maka hasil permintaan keterangan ini akan lebih gamblang bila dibuat tabel seperti berikut:
| Peristiwa | Faktor dan peristiwa | Gejala |
|---|---|---|
| 1 | A, –, C, D, E, F | Berak dan muntah-muntah |
| 2 | A, –, C, D, E, F | Berak dan muntah-muntah |
| 3 | A, B, C, D, E, F | Berak dan muntah-muntah |
| 4 | A, –, C, –, E, F | Berak dan muntah-muntah |
| 5 | –, B, –, D, E, F | Berak dan muntah-muntah |
| 6 | A, B, –, D, –, F | Berak dan muntah-muntah |
| 7 | –, B, C, D, E, F | Berak dan muntah-muntah |
Di sini terlihat gejala yang diselidik adalah "berak dan muntah-muntah" peristiwanya adalah "makan dari makanan kiriman" sedangkan jumlah peristiwanya ada tujuh.
Dapat disimpulkan dari data tersebut bahwa F penyebab berak dan muntah-muntah, jadi besar kemungkinan berak dan muntah-muntah di barak disebabkan oleh faktor yang ada pada setiap peristiwa yaitu nasi goreng kiriman.
Metode perbedaan
Contoh untuk metode ini dapat dikemukakan mengenai keracunan ringan pada barak tentara sebagaimana yang telah disebutkan. Pada penyelidikan yang lebih dalam ternyata tentara yang tidak makan nasi goreng kiriman tidak terserang berak dan muntah-muntah. Bila tentara yang tidak terserang berak dan muntah-muntah diberi kode t beserta tabel singkat sebagai berikut:
| Peristiwa | Keadaan peristiwa | Gejala |
|---|---|---|
| 1 | A, B, C, D, E, F | berak dan muntah-muntah |
| t | A, B, C, D, E, – | tidak berak dan muntah-muntah |
Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa F adalah sebab munculnya berak dan muntah-muntah. Dengan demikian itu dapat dikatakan bahwa besar kemungkinan nasi goreng kiriman yang menyebabkan berak dan muntah-muntah.
Persamaan variasi
Ambillah contoh dari hubungan panas dengan merkurium di termometer. Panas itu mengakibatkan kenaikan merkurium. Kenaikan merkurium memiliki variasi seperti panas itu. Maka merkurium dengan panas memiliki hubungan sebab akibat. Kalau ditampilkan dalam tabel maka metode persamaan variasi adalah sebagai berikut:
| Sebab | Akibat |
|---|---|
| A B C | a b c |
| A + B C | a + b c |
| A - B C | a - b c |
Metode Residu
Dari ketiga metode sebelumnya, masih terdapat suatu hukum yang tidak praktis untuk dipastikan, yaitu hukum penyebab permanen atau faktor alami yang tidak dapat dihancurkan serta dikecualikan atau diisolasi, yang tidak dapat dicegah untuk hadir.[11]
| Sebab | Akibat |
|---|---|
| A B C | a b c |
| B diketahui penyebab dari b | |
| C diketahui penyebab dari c | |
| Jadi, penyebab dari A adalah a. | |
Dalam menerapkan Metode Mill, perlu diketahui bahwa penyebab dapat berarti "penyebab total" atau "penyebab parsial". Misalkan, Jones tertembak dan kemudian mati. Jika salah menerapkan metode perbedaan, kesimpulan yang dihasilkan mungkin bahwa ditembak tidak menyebabkan mati, sebab beberapa orang yang ditembak tidak mati. Namun, kesimpulan yang tepat yaitu ditembak tidak selalu menyebabkan kematian. Pada contoh dapat disimpulkan penyebab total dari kematian Jones bukanlah tertembak, melainkan dia ditembak dengan cara tertentu (misal, di kepala) dan dalam keadaan tertentu (misal, tidak ada pertlongan medis). Ini adalah penyebab totalnya.
Ambiguitas kata penyebab sangat dalam. "faktor A menyebabkan faktor B" dapat berarti kehadiran faktor A akan selalu dengan sendirinya atau dalam kombinasi dengan faktor C secara langsung atau melalui rantai sebab akibat lebih lanjut membawa kehadiran faktor B, artinya tidak adanya faktor A akan ... menyebabkan tidak adanya faktor B.[12]
Lihat pula
Referensi
- ↑ Robert Paul Churchill. Logic: An Introduction. St. Martin's Press. 1990. hlm. 418. ISBN 978-0-312-02353-9.
- ↑ Drs. H. Mundiri. Logika. Rajawali Pers. 2014. ISBN 979-421-398-5.
- ↑ B. Arief Sidharta. Pengantar Logika: Sebuah Langkah Pertama Pengenalan Medan Telaah. Refika Aditama. 2010. hlm. 86. ISBN 979-1073-49-X.
- ↑ J. K. Whitaker. John Stuart Mill's Methodology. Journal of Political Economy. 1975. Vol. 83 (5). hlm. 1033–1049.
- ↑ Kadir Sobur. LOGIKA DAN PENALARAN DALAM PERSPEKTIF ILMU PENGETAHUAN. TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin. 2015-11-02. Vol. 14 (2). hlm. 387-414. doi:10.30631/tjd.v14i2.28.
- ↑ Ainurrahman Hidayat. METAFISIKA SUBSTANSI ILMU LOGIKA. NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam. 2016-06-30. Vol. 13 (1). hlm. 75–106. doi:10.19105/nuansa.v13i1.878.
- ↑ Joesoef Sou'yb. Peladjaran Logika. Intisari. 1966. hlm. 226.
- ↑ Brian Skyrms. Choice and Chance: An Introduction to Inductive Logic. Wadsworth. 2000. hlm. 73.
- ↑ Jukka Savolainen. The Rationality of Drawing Big Conclusions Based on Small Samples: In Defense of Mill's Methods. Social Forces. 1994-06-01. Vol. 72. doi:10.1093/sf/72.4.1217.
- ↑ Bram Van Heuveln. A Preferred Treatment of Mill's Methods: Some Misinterpretations by Modern Textbooks. Informal Logic. 2000-01-01. Vol. 20 (1). doi:10.22329/il.v20i1.2252.
- ↑ John Stuart Mill. A system of logic, ratiocinative and inductive: Being a connected view of the principles of evidence and the methods of scientific investigation. hlm. 430. ISBN 978-3-337-91102-7.
- ↑ Harry Gensler. Introduction to Logic. Taylor & Francis. 2010. hlm. 102. ISBN 978-0-203-85500-3.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28675711 (2025-12-08T08:41:32Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.