Lompat ke isi

Matriks idempoten: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29525020; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
Dalam [[aljabar linear]], '''matriks idempoten''' adalah sebuah [[Matriks (matematika)|matriks]] yang tidak berubah nilainya ketika dikalikan dengan dirinya sendiri. Dengan kata lain, matriks <math>A</math> dikatakan idempoten jika dan hanya jika <math>A^2 = A</math>. Agar hasil perkalian <math>A^2</math> [[Perkalian matriks|terdefinisi]], <math>A</math> harus berupa [[matriks persegi]]. Matriks idempoten dapat dipandang sebagai [[unsur idempoten]] pada sebuah [[gelanggang matriks]].
Dalam [[aljabar linear]], '''matriks idempoten''' adalah sebuah [[Matriks (matematika)|matriks]] yang tidak berubah nilainya ketika dikalikan dengan dirinya sendiri.<ref>Alpha C. Chiang. [https://archive.org/details/fundamentalmetho0000chia_b4p1/page/80 Fundamental Methods of Mathematical Economics]. McGraw–Hill. 1984. hlm. [https://archive.org/details/fundamentalmetho0000chia_b4p1/page/80 80]. ISBN 0070108137.</ref><ref>William H. Greene. [https://archive.org/details/econometricanaly0000gree_b5n1 Econometric Analysis]. Prentice–Hall. 2003. hlm. [https://archive.org/details/econometricanaly0000gree_b5n1/page/808 808]–809. ISBN 0130661899.</ref> Dengan kata lain, matriks <math>A</math> dikatakan idempoten jika dan hanya jika <math>A^2 = A</math>. Agar hasil perkalian <math>A^2</math> [[Perkalian matriks|terdefinisi]], <math>A</math> harus berupa [[matriks persegi]]. Matriks idempoten dapat dipandang sebagai [[unsur idempoten]] pada sebuah [[gelanggang matriks]].


== Contoh ==
== Contoh ==
Baris 53: Baris 53:


== Sifat ==
== Sifat ==
=== Singularitas dan regularitas ===
=== Singularitas dan regularitas ===
Satu-satunya matriks idempoten yang tidak [[Matriks singular|singular]] adalah [[matriks identitas]]. Hal ini dapat terlihat dari menuliskan persamaan <math>A^2 = A</math>; dengan mengasumsikan <math>A</math> memiliki peringkat penuh (tidak singular), dan mengalikan kedua ruas dengan <math>A^{-1}</math>, akan didapatkan bentuk  <math>A = IA = A^{-1}A^2 = A^{-1}A = I</math>. Hal ini juga mengartikan bahwa matriks idempoten yang bukan matriks identitas, memiliki jumlah baris (dan jumlah kolom) yang saling [[bebas linear]] lebih sedikit daripada total jumlah baris (dan kolom) pada matriks.
Satu-satunya matriks idempoten yang tidak [[Matriks singular|singular]] adalah [[matriks identitas]]. Hal ini dapat terlihat dari menuliskan persamaan <math>A^2 = A</math>; dengan mengasumsikan <math>A</math> memiliki peringkat penuh (tidak singular), dan mengalikan kedua ruas dengan <math>A^{-1}</math>, akan didapatkan bentuk  <math>A = IA = A^{-1}A^2 = A^{-1}A = I</math>. Hal ini juga mengartikan bahwa matriks idempoten yang bukan matriks identitas, memiliki jumlah baris (dan jumlah kolom) yang saling [[bebas linear]] lebih sedikit daripada total jumlah baris (dan kolom) pada matriks.
Baris 64: Baris 63:


=== Nilai eigen ===
=== Nilai eigen ===
Matriks idempoten selalu [[Matriks yang dapat didiagonalkan|dapat didiagonalkan]] dan [[Nilai dan vektor eigen|nilai eigennya]] selalu bernilai 0 atau 1.
Matriks idempoten selalu [[Matriks yang dapat didiagonalkan|dapat didiagonalkan]] dan [[Nilai dan vektor eigen|nilai eigennya]] selalu bernilai 0 atau 1.<ref>Roger A. Horn. ''Matrix analysis''. Cambridge University Press. 1990. hlm. 148. ISBN 0521386322.</ref>


=== Teras ===
=== Teras ===
Baris 78: Baris 77:
: <math>\hat\beta = \left(X^\textsf{T}X\right)^{-1}X^\textsf{T}y </math>
: <math>\hat\beta = \left(X^\textsf{T}X\right)^{-1}X^\textsf{T}y </math>


dengan simbol <math>\textsf{T}</math> menunjukkan [[Transpos|operasi transpos]]; vektor residu dari observasi adalah
dengan simbol <math>\textsf{T}</math> menunjukkan [[Transpos|operasi transpos]]; vektor residu dari observasi adalah<ref>William H. Greene. [https://archive.org/details/econometricanaly0000gree_b5n1 Econometric Analysis]. Prentice–Hall. 2003. hlm. [https://archive.org/details/econometricanaly0000gree_b5n1/page/808 808]–809. ISBN 0130661899.</ref>


: <math>
: <math>
Baris 94: Baris 93:


== Referensi ==
== Referensi ==
 
<references />
 


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Matriks+idempoten&oldid=29525020 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29525020 (2026-08-04T15:03:42Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Matriks+idempoten&oldid=29525020 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29525020 (2026-08-04T15:03:42Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 25 Agustus 2026 09.03

Dalam aljabar linear, matriks idempoten adalah sebuah matriks yang tidak berubah nilainya ketika dikalikan dengan dirinya sendiri.[1][2] Dengan kata lain, matriks A dikatakan idempoten jika dan hanya jika A2=A. Agar hasil perkalian A2 terdefinisi, A harus berupa matriks persegi. Matriks idempoten dapat dipandang sebagai unsur idempoten pada sebuah gelanggang matriks.

Contoh

Contoh dari matriks idempoten ukuran 2×2 adalah: [1001][3612]

Contoh dari matriks idempoten ukuran 3×3 adalah: [100010001][224134123]

Matriks riil ukuran 2 × 2

Jika sebuah matriks riil idempoten (abcd), maka entri-entrinya memiliki hubungan berikut:

  • a=a2+bc,
  • b=ab+bd, mensyaratkan b(1ad)=0 sehingga b=0 atau d=1a,
  • c=ca+cd, mensyaratkan c(1ad)=0 sehingga c=0 atau d=1a,
  • d=bc+d2.

Dengan demikian, syarat perlu bagi matriks 2 × 2 dikatakan idempoten adalah berupa matriks diagonal atau terasnya bernilai 1. Untuk matriks diagonal idempoten, nilai a dan d harus bernilai 1 atau bernilai 0.

Jika b=c, matriks (abb1a) akan idempoten ketika a2+b2=a. Persamaan kuadrat tersebut dapat diubah bentuknya menjadi

a2a+b2=0, atau (a12)2+b2=14,

yakni persamaan lingkaran dengan titik pusat (1/2, 0) dan radius 1/2. Menuliskan solusi dalam bentuk derajat θ, matriks

A=12(1cosθsinθsinθ1+cosθ)

bersifat idempoten. Namun, b=c pada matriks di atas bukanlah syarat perlu: setiap matriks

(abc1a) dengan a2+bc=a adalah matriks idempoten.

Sifat

Singularitas dan regularitas

Satu-satunya matriks idempoten yang tidak singular adalah matriks identitas. Hal ini dapat terlihat dari menuliskan persamaan A2=A; dengan mengasumsikan A memiliki peringkat penuh (tidak singular), dan mengalikan kedua ruas dengan A1, akan didapatkan bentuk A=IA=A1A2=A1A=I. Hal ini juga mengartikan bahwa matriks idempoten yang bukan matriks identitas, memiliki jumlah baris (dan jumlah kolom) yang saling bebas linear lebih sedikit daripada total jumlah baris (dan kolom) pada matriks.

Ketika matriks identitas dikurangi dengan matriks idempoten, hasilnya juga berupa matriks idempoten, karena

(IA)(IA)=IAA+A2=IAA+A=IA.

Jika sebuah matriks A idempoten, maka untuk setiap bilangan bulat positif n akan berlaku An=A. Hal ini dapat dibuktikan dengan menggunakan induksi matematika: Jelas hal ini berlaku untuk n=1, karena A1=A. Anggap bahwa Ak1=A. Selanjutnya Ak dapat dituliskan sebagai Ak=Ak1A=AA=A, karena A idempoten. Berdasarkan prinsip induksi, pernyataan terbukti.

Nilai eigen

Matriks idempoten selalu dapat didiagonalkan dan nilai eigennya selalu bernilai 0 atau 1.[3]

Teras

Nilai teras dari sebuah matriks idempoten — yakni jumlah semua elemen pada diagonal utamanya — sama dengan nilai peringkat dari matriks dan selalu berupa bilangan bulat. Hal ini memberikan cara mudah untuk menghitung nilai peringkat, atau sebagai cara alternatif menghitung teras dari matriks yang entri-entrinya tidak diketahui secara pasti. Dalam statistika, sebagai contoh, hal tersebut dipakai dalam menentukan derajat bias ketika menggunakan variansi sampel sebagai estimator variansi populasi.

Aplikasi

Matriks idempoten sering muncul dalam analisis regresi dan ekonometrika. Sebagai contoh, dalam ordinary least squares, permasalahan regresi adalah mencari vektor koefisien β sehingga dapat meminimunkan kuadrat residu ei (prediksi yang salah). Permasalahan ini dapat ditulis dalam bentuk matriks,

Minimumkan (yXβ)𝖳(yXβ)

dengan y adalah vektor dari variabel terikat hasil observasi, dan X adalah sebuah matriks dengan setiap kolomnya adalah variabel-variabel bebas dalam observasi. Estimator untuk vektor β adalah

β̂=(X𝖳X)1X𝖳y

dengan simbol 𝖳 menunjukkan operasi transpos; vektor residu dari observasi adalah[4]

ê=yXβ̂=yX(X𝖳X)1X𝖳y=[IX(X𝖳X)1X𝖳]y=My.

Dalam persamaan ini, baik matriks M dan X(X𝖳X)1X𝖳 adalah matriks idempoten sekaligus matriks simetris, yang dapat digunakan untuk menyederhanakan perhitungan jumlah kuadrat residu:

ê𝖳ê=(My)𝖳(My)=y𝖳M𝖳My=y𝖳MMy=y𝖳My.

Sifat idempoten dari M juga dipakai untuk menyederhanakan perhitungan lainnya, contohnya dalam menentukan variansi dari estimator β̂.

Referensi

  1. Alpha C. Chiang. Fundamental Methods of Mathematical Economics. McGraw–Hill. 1984. hlm. 80. ISBN 0070108137.
  2. William H. Greene. Econometric Analysis. Prentice–Hall. 2003. hlm. 808–809. ISBN 0130661899.
  3. Roger A. Horn. Matrix analysis. Cambridge University Press. 1990. hlm. 148. ISBN 0521386322.
  4. William H. Greene. Econometric Analysis. Prentice–Hall. 2003. hlm. 808–809. ISBN 0130661899.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29525020 (2026-08-04T15:03:42Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.