Gunung Merapi: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29481575; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
[[File:Pendidikan_Karakter_Dan_Nasionalisme.jpg|thumb|right|280px|Pendidikan Karakter Dan Nasionalisme]] | |||
'''Gunung Merapi''' (; ketinggian puncak 2.930 [[Meter di atas permukaan laut|mdpl]], per 2010) adalah [[gunung berapi]] di bagian tengah [[Pulau Jawa]] dan merupakan salah satu gunung api teraktif di [[Indonesia]]. Lereng sisi selatan berada dalam administrasi [[Kabupaten Sleman]], [[Daerah Istimewa Yogyakarta]], dan sisanya berada dalam wilayah Provinsi [[Jawa Tengah]], yaitu [[Kabupaten Magelang]] di sisi barat, [[Kabupaten Boyolali]] di sisi utara dan timur, serta [[Kabupaten Klaten]] di sisi tenggara. Kawasan hutan di sekitar puncaknya menjadi kawasan [[Taman Nasional Gunung Merapi]] sejak tahun 2004. | '''Gunung Merapi''' (; ketinggian puncak 2.930 [[Meter di atas permukaan laut|mdpl]], per 2010) adalah [[gunung berapi]] di bagian tengah [[Pulau Jawa]] dan merupakan salah satu gunung api teraktif di [[Indonesia]]. Lereng sisi selatan berada dalam administrasi [[Kabupaten Sleman]], [[Daerah Istimewa Yogyakarta]], dan sisanya berada dalam wilayah Provinsi [[Jawa Tengah]], yaitu [[Kabupaten Magelang]] di sisi barat, [[Kabupaten Boyolali]] di sisi utara dan timur, serta [[Kabupaten Klaten]] di sisi tenggara. Kawasan hutan di sekitar puncaknya menjadi kawasan [[Taman Nasional Gunung Merapi]] sejak tahun 2004. | ||
Gunung ini memiliki potensi kebencanaan yang tinggi karena menurut catatan modern, Gunung Merapi telah mengalami [[erupsi]] setiap dua sampai lima tahun sekali dan dikelilingi oleh permukiman yang padat. Sejak tahun [[1548]], gunung ini sudah meletus sebanyak 68 kali. [[Kota Magelang]] dan [[Kota Yogyakarta]] adalah kota besar terdekat, berjarak kurang dari 30 km dari puncaknya. Di lerengnya masih terdapat permukiman sampai ketinggian 1.700 meter dan hanya berjarak empat kilometer dari puncak. Oleh karena tingkat kepentingannya ini, Merapi menjadi salah satu dari enam belas gunung api dunia yang termasuk dalam proyek [[Gunung Api Dekade Ini]] (''[[Wikipedia:Decade Volcanoes|Decade Volcanoes]]''). | Gunung ini memiliki potensi kebencanaan yang tinggi karena menurut catatan modern, Gunung Merapi telah mengalami [[erupsi]] setiap dua sampai lima tahun sekali dan dikelilingi oleh permukiman yang padat. Sejak tahun [[1548]], gunung ini sudah meletus sebanyak 68 kali. [[Kota Magelang]] dan [[Kota Yogyakarta]] adalah kota besar terdekat, berjarak kurang dari 30 km dari puncaknya. Di lerengnya masih terdapat permukiman sampai ketinggian 1.700 meter dan hanya berjarak empat kilometer dari puncak. Oleh karena tingkat kepentingannya ini, Merapi menjadi salah satu dari enam belas gunung api dunia yang termasuk dalam proyek [[Gunung Api Dekade Ini]] (''[[Wikipedia:Decade Volcanoes|Decade Volcanoes]]'').<ref>[http://vulcan.wr.usgs.gov/Volcanoes/DecadeVolcanoes/ Laman ''Decade Volcanoes''].</ref> | ||
== Etimologi == | == Etimologi == | ||
Nama "Merapi" berasal dari penyingkatan ''"meru"'' () dan "api", sehingga nama "merapi" sebenarnya sudah berarti "gunung api". Dalam naskah lama, Merapi pernah dikenal sebagai '''Mandrageni'''. | Nama "Merapi" berasal dari penyingkatan ''"meru"'' () dan "api", sehingga nama "merapi" sebenarnya sudah berarti "gunung api". Dalam naskah lama, Merapi pernah dikenal sebagai '''Mandrageni'''.<ref>Rendra Agusta. [https://ejournal.perpusnas.go.id/jm/article/view/009002201903 I SAKALA DIHYANG: RELASI PRASASTI AKHIR MAJAPAHIT DAN NASKAH-NASKAH MERAPI-MERBABU]. ''Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara''. 2019-08-07. Vol. 9 (2). hlm. 49–68. doi:10.37014/jumantara.v9i2.243.</ref> | ||
== Geologi == | == Geologi == | ||
Gunung ini adalah gunung termuda dalam rangkaian [[gunung berapi]] yang mengarah ke selatan dari [[Gunung Ungaran]], [[Gunung Merbabu]], dan Gunung Merapi. Gunung ini terbentuk karena aktivitas di [[zona subduksi]] [[Lempeng Indo-Australia]] yang bergerak ke bawah [[Lempeng Eurasia]] menyebabkan munculnya aktivitas vulkanik di sepanjang bagian tengah Pulau Jawa. Puncak yang sekarang ini tidak ditumbuhi [[vegetasi]] karena aktivitas vulkanik yang tinggi. Puncak ini tumbuh di sisi barat daya puncak Batulawang yang lebih tua. | Gunung ini adalah gunung termuda dalam rangkaian [[gunung berapi]] yang mengarah ke selatan dari [[Gunung Ungaran]], [[Gunung Merbabu]], dan Gunung Merapi. Gunung ini terbentuk karena aktivitas di [[zona subduksi]] [[Lempeng Indo-Australia]] yang bergerak ke bawah [[Lempeng Eurasia]] menyebabkan munculnya aktivitas vulkanik di sepanjang bagian tengah Pulau Jawa. Puncak yang sekarang ini tidak ditumbuhi [[vegetasi]] karena aktivitas vulkanik yang tinggi. Puncak ini tumbuh di sisi barat daya puncak Batulawang yang lebih tua.<ref>[http://vulcan.wr.usgs.gov/Volcanoes/Indonesia/description_indonesia_volcanics.html DESCRIPTION:Indonesia Volcanoes and Volcanics] . Laman USGeological Survey.</ref> | ||
=== Sejarah geologi === | === Sejarah geologi === | ||
Proses pembentukan Gunung Merapi telah dipelajari dan dipublikasi sejak 1989 dan seterusnya. Pascale-Claire Berthommier membagi perkembangan Merapi dalam empat tahap: Pra-Merapi, Merapi Tua atau Merapi Purba, Merapi Pertengahan, dan Merapi Baru (Modern). | Proses pembentukan Gunung Merapi telah dipelajari dan dipublikasi sejak 1989 dan seterusnya.<ref>[http://www.merapi.bgl.esdm.go.id/informasi_merapi.php?page=informasi-merapi&subpage=sejarah Sejarah Merapi menurut Badan Geologi].</ref> Pascale-Claire Berthommier membagi perkembangan Merapi dalam empat tahap: Pra-Merapi, Merapi Tua atau Merapi Purba, Merapi Pertengahan, dan Merapi Baru (Modern).<ref>Berthommier, P., 1990. ''Etude volcanologique du Merapi (Centre-Java): Te´phrostratigraphic et Chronologie—produits eruptifs.'' PhD thesis, Universite´ Blaise Pascal, 216 pp.</ref> | ||
Tahap aktivitas ''Pra-Merapi'' diperkirakan berlangsung 700.000 sampai 400.000 tahun yang lalu. Periode ini menyisakan jejak Gunung Bibi (2.025 meter) yang bagiannya masih dapat dilihat di sisi timur puncak Merapi. Gunung Bibi memiliki [[lava]] yang bersifat [[basal]]tik [[andesit]]. | Tahap aktivitas ''Pra-Merapi'' diperkirakan berlangsung 700.000 sampai 400.000 tahun yang lalu. Periode ini menyisakan jejak Gunung Bibi (2.025 meter) yang bagiannya masih dapat dilihat di sisi timur puncak Merapi. Gunung Bibi memiliki [[lava]] yang bersifat [[basal]]tik [[andesit]]. | ||
| Baris 18: | Baris 20: | ||
Tahap aktivitas selanjutnya, ''Merapi Pertengahan'', berlangsung 8.000 – 2.000 tahun lalu. Tahap ini ditandai dengan terbentuknya kerucut-kerucut tinggi, yang sekarang disebut Bukit Gajahmungkur dan Batulawang, terletak di lereng utara, yang tersusun dari lava andesit. Proses pembentukan pada masa ini ditandai dengan aliran lava, [[Breksi]]asi lava, dan [[Aliran piroklastik|awan panas]]. Aktivitas Merapi telah bersifat [[erupsi efusif]] (lelehan) dan eksplosif. Diperkirakan juga terjadi letusan eksplosif dengan runtuhan material ke arah barat yang meninggalkan morfologi [[Tapal Kuda|tapal kuda]] dengan panjang 7 km, lebar 1–2 km dengan beberapa bukit di lereng barat. Kawah Pasarbubrah (di lereng sisi utara) diperkirakan terbentuk pada masa ini. Puncak Merapi yang sekarang, Puncak Anyar ("baru"), mulai terbentuk sekitar 2.000 tahun yang lalu. Dalam perkembangannya, diketahui terjadi beberapa kali letusan eksplosif dengan [[VEI]] 4 berdasarkan pengamatan lapisan [[tefra]]. | Tahap aktivitas selanjutnya, ''Merapi Pertengahan'', berlangsung 8.000 – 2.000 tahun lalu. Tahap ini ditandai dengan terbentuknya kerucut-kerucut tinggi, yang sekarang disebut Bukit Gajahmungkur dan Batulawang, terletak di lereng utara, yang tersusun dari lava andesit. Proses pembentukan pada masa ini ditandai dengan aliran lava, [[Breksi]]asi lava, dan [[Aliran piroklastik|awan panas]]. Aktivitas Merapi telah bersifat [[erupsi efusif]] (lelehan) dan eksplosif. Diperkirakan juga terjadi letusan eksplosif dengan runtuhan material ke arah barat yang meninggalkan morfologi [[Tapal Kuda|tapal kuda]] dengan panjang 7 km, lebar 1–2 km dengan beberapa bukit di lereng barat. Kawah Pasarbubrah (di lereng sisi utara) diperkirakan terbentuk pada masa ini. Puncak Merapi yang sekarang, Puncak Anyar ("baru"), mulai terbentuk sekitar 2.000 tahun yang lalu. Dalam perkembangannya, diketahui terjadi beberapa kali letusan eksplosif dengan [[VEI]] 4 berdasarkan pengamatan lapisan [[tefra]]. | ||
Periode ''Merapi Baru'' (2000 tahun lalu s.d sekarang) adalah yang masih berlangsung. Pada tahap ini terbentuk kerucut puncak Merapi modern (Gunung/Puncak Anyar) di bekas kawah Pasarbubrah; proses dimulai sekitar 2000 tahun yang lalu. Tahap ini sangat aktif dan berkali-kali memengaruhi perubahan peradaban penduduk yang tinggal di sekitarnya. Karakteristik letusan sejak 1953 adalah desakan lava ke puncak [[kawah]] disertai dengan keruntuhan kubah lava secara periodik dan pelepasan [[awan panas]] (''nuée ardente'') yang biasanya meluncur di lereng gunung tetapi dapat pula menyembur vertikal ke atas. Letusan tipe Merapi ini secara umum tidak mengeluarkan suara ledakan tetapi desisan. Kubah puncak yang ada sampai 2010 adalah hasil proses yang berlangsung sejak letusan gas 1969. Kubah ini runtuh pada letusan 2010, menimbulkan bukaan ke arah tenggara (lembah Kali Gendol dan Kali Woro). | Periode ''Merapi Baru'' (2000 tahun lalu s.d sekarang) adalah yang masih berlangsung. Pada tahap ini terbentuk kerucut puncak Merapi modern (Gunung/Puncak Anyar) di bekas kawah Pasarbubrah; proses dimulai sekitar 2000 tahun yang lalu. Tahap ini sangat aktif dan berkali-kali memengaruhi perubahan peradaban penduduk yang tinggal di sekitarnya. Karakteristik letusan sejak 1953 adalah desakan lava ke puncak [[kawah]] disertai dengan keruntuhan kubah lava secara periodik dan pelepasan [[awan panas]] (''nuée ardente'') yang biasanya meluncur di lereng gunung tetapi dapat pula menyembur vertikal ke atas. Letusan tipe Merapi ini secara umum tidak mengeluarkan suara ledakan tetapi desisan. Kubah puncak yang ada sampai 2010 adalah hasil proses yang berlangsung sejak letusan gas 1969.<ref>[http://vulcan.wr.usgs.gov/Volcanoes/Indonesia/description_indonesia_volcanics.html DESCRIPTION:Indonesia Volcanoes and Volcanics] . Laman USGeological Survey.</ref> Kubah ini runtuh pada letusan 2010, menimbulkan bukaan ke arah tenggara (lembah Kali Gendol dan Kali Woro). | ||
Pakar geologi pada tahun 2006 mendeteksi adanya ruang raksasa di bawah Merapi berisi material seperti lumpur yang "secara signifikan menghambat gelombang getaran gempa bumi". Para ilmuwan memperkirakan material itu adalah [[magma]]. Kantung magma ini merupakan bagian dari formasi yang terbentuk akibat menghunjamnya [[Lempeng Indo-Australia]] ke bawah [[Lempeng Eurasia]]. | Pakar geologi pada tahun 2006 mendeteksi adanya ruang raksasa di bawah Merapi berisi material seperti lumpur yang "secara signifikan menghambat gelombang getaran gempa bumi". Para ilmuwan memperkirakan material itu adalah [[magma]].<ref>Axel Bojanowski. [http://www.spiegel.de/wissenschaft/natur/0,1518,727092,00.html Riesige Magmamenge. Geologen warnen vor Mega-Eruption des Merapi] . Spiegel Online edisi 05 November 2010.</ref> Kantung magma ini merupakan bagian dari formasi yang terbentuk akibat menghunjamnya [[Lempeng Indo-Australia]] ke bawah [[Lempeng Eurasia]].<ref>[http://www.spiegel.de/fotostrecke/fotostrecke-61341.html Diagram pola pembentukan ruang magma hipotetik di bawah Merapi].</ref> | ||
== Wilayah administratif == | == Wilayah administratif == | ||
Gunung Merapi termasuk dalam wilayah [[Jawa Tengah|Provinsi Jawa Tengah]] dan [[Daerah Istimewa Yogyakarta|Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta]]. Di Jawa Tengah, kawasan Gunung Merapi terbagi dalam [[Kabupaten Magelang]], [[Kabupaten Klaten]] dan [[Kabupaten Boyolali]]. Sedangkan di Daerah Istimewa Yogyakarta, kawasan Gunung Merapi terbagi dalam [[Kabupaten Sleman]]. | Gunung Merapi termasuk dalam wilayah [[Jawa Tengah|Provinsi Jawa Tengah]] dan [[Daerah Istimewa Yogyakarta|Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta]]. Di Jawa Tengah, kawasan Gunung Merapi terbagi dalam [[Kabupaten Magelang]], [[Kabupaten Klaten]] dan [[Kabupaten Boyolali]]. Sedangkan di Daerah Istimewa Yogyakarta, kawasan Gunung Merapi terbagi dalam [[Kabupaten Sleman]].<ref>Saparita, R., dkk. [https://penerbit.brin.go.id/press/catalog/view/943/1111/27089 Menghadapi Bencana, Mengubah Masa Depan: Transformasi Sistem Penghidupan yang Tangguh]. Penerbit BRIN. Oktober 2024. hlm. 31. ISBN 978-602-6303-37-0.</ref> | ||
== Hidrologi DAS == | == Hidrologi DAS == | ||
Puncak Merapi menjadi titik batas semu tiga [[Daerah aliran sungai|daerah aliran sungai (DAS)]] di antaranya, [[:Kategori:DAS Solo|DAS Solo]] disebelah timur, [[:Kategori:DAS Opak|DAS Opak]] di sebelah selatan dan [[:Kategori:DAS Progo|DAS Progo]] di sebelah barat lereng gunung tersebut, juga merupakan titik hulu terjauh bagi sub DAS Opak. DAS Solo dan DAS Progo merupakan [[daerah tangkapan air]] yang terluas cakupannya pada lereng gunung ini. DAS Solo mengalirkan alirannya dan bermuara ke pesisir utara pulau Jawa, sedangkan DAS Progo dan DAS Opak keduanya bermuara di pesisir selatan pulau Jawa, wilayah perairan [[Samudra Hindia|Samudera Hindia]]. | Puncak Merapi menjadi titik batas semu tiga [[Daerah aliran sungai|daerah aliran sungai (DAS)]] di antaranya, [[:Kategori:DAS Solo|DAS Solo]] disebelah timur, [[:Kategori:DAS Opak|DAS Opak]] di sebelah selatan dan [[:Kategori:DAS Progo|DAS Progo]] di sebelah barat lereng gunung tersebut, juga merupakan titik hulu terjauh bagi sub DAS Opak. DAS Solo dan DAS Progo merupakan [[daerah tangkapan air]] yang terluas cakupannya pada lereng gunung ini. DAS Solo mengalirkan alirannya dan bermuara ke pesisir utara pulau Jawa, sedangkan DAS Progo dan DAS Opak keduanya bermuara di pesisir selatan pulau Jawa, wilayah perairan [[Samudra Hindia|Samudera Hindia]].<ref>[https://geoportal.menlhk.go.id/portal/apps/webappviewer/index.html?id=2ee8bdda1d714899955fccbe7fdf8468# Peta Interaktif]. ''Geoportal MenLHK''.</ref><ref>Hukum Online. [https://www.hukumonline.com/pusatdata/detail/v2/lt4f2f760d2fff3/keputusan-menteri-kehutanan-nomor-sk511menhutv2011-tahun-2011 Keputusan Menteri Kehutanan No. SK.511/MENHUT-V/2011].</ref> | ||
Gunung Merapi memiliki banyak sumber air sebagai akibat desakan uap air dari dalam bumi. Terdapat banyak aliran yang kemudian membentuk ngarai di bagian lereng dan kemudian membentuk dataran sedimen material vulkanik. Sungai-sungai ini terutama mengarah ke arah tenggara (Klaten), selatan (Yogyakarta) serta barat (Magelang), memasok air untuk daerah disekitarnya. | Gunung Merapi memiliki banyak sumber air sebagai akibat desakan uap air dari dalam bumi. Terdapat banyak aliran yang kemudian membentuk ngarai di bagian lereng dan kemudian membentuk dataran sedimen material vulkanik. Sungai-sungai ini terutama mengarah ke arah tenggara (Klaten), selatan (Yogyakarta) serta barat (Magelang), memasok air untuk daerah disekitarnya. | ||
| Baris 35: | Baris 37: | ||
== Catatan erupsi == | == Catatan erupsi == | ||
Sejak tahun 1768, sudah tercatat lebih dari 80 kali letusan terjadi di gunung ini. Di antara letusan tersebut, merupakan letusan besar ([[Volcanic Explosivity Index|VEI]] ≥ 3) yaitu periode abad ke-19 (letusan tahun 1768, 1822, 1849, 1872) dan periode abad ke-20 yaitu 1930-1931. Erupsi abad ke-19 intensitas letusannya relatif lebih besar, sedangkan letusan abad ke-20 frekuensinya lebih sering. Kemungkinan letusan besar terjadi sekali dalam 100 tahun.<ref>Muh. Syaifullah (). [https://tekno.tempo.co/read/1330080/gunung-merapi-meletus-lagi-kolom-erupsi-tiga-kilometer Gunung Merapi Meletus Lagi, Kolom Erupsi Tiga Kilometer]. ''Tempo.co''. 2020-04-10.</ref> Erupsi abad ke-19 jauh lebih besar dari letusan abad ke-20, di mana awan panas mencapai 20 kilometer dari puncak. Aktivitas Merapi pada abad ke-20 terjadi minimal 28 kali letusan, di mana letusan terbesar terjadi pada tahun 1931. Sudah tiga perempat abad tidak terjadi letusan besar. | |||
Sejak tahun 1768, sudah tercatat lebih dari 80 kali letusan terjadi di gunung ini. Di antara letusan tersebut, merupakan letusan besar ([[Volcanic Explosivity Index|VEI]] ≥ 3) yaitu periode abad ke-19 (letusan tahun 1768, 1822, 1849, 1872) dan periode abad ke-20 yaitu 1930-1931. Erupsi abad ke-19 intensitas letusannya relatif lebih besar, sedangkan letusan abad ke-20 frekuensinya lebih sering. Kemungkinan letusan besar terjadi sekali dalam 100 tahun. Erupsi abad ke-19 jauh lebih besar dari letusan abad ke-20, di mana awan panas mencapai 20 kilometer dari puncak. Aktivitas Merapi pada abad ke-20 terjadi minimal 28 kali letusan, di mana letusan terbesar terjadi pada tahun 1931. Sudah tiga perempat abad tidak terjadi letusan besar. | |||
Letusan besar bisa bersifat eksplosif dan jangkauan awan panas mencapai 15 kilometer. Letusan gunung ini sejak 1872-1931 mengarah ke barat-barat laut. Namun, sejak letusan besar 1930-1931, arah letusan dominan ke barat daya sampai dengan letusan 2001. Kecuali pada letusan 1994, terjadi penyimpangan ke arah selatan yaitu ke hulu Kali Boyong, terletak antara bukit Turgo dan Plawangan. Erupsi terakhir pada 2006, terjadi perubahan arah dari barat daya ke arah tenggara, dengan membentuk bukaan kawah yang mengarah ke Kali Gendol. | Letusan besar bisa bersifat eksplosif dan jangkauan awan panas mencapai 15 kilometer. Letusan gunung ini sejak 1872-1931 mengarah ke barat-barat laut. Namun, sejak letusan besar 1930-1931, arah letusan dominan ke barat daya sampai dengan letusan 2001. Kecuali pada letusan 1994, terjadi penyimpangan ke arah selatan yaitu ke hulu Kali Boyong, terletak antara bukit Turgo dan Plawangan. Erupsi terakhir pada 2006, terjadi perubahan arah dari barat daya ke arah tenggara, dengan membentuk bukaan kawah yang mengarah ke Kali Gendol. | ||
Letusan-letusan kecil terjadi tiap 2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Letusan-letusan Merapi yang dampaknya besar tercatat pada tahun [[1006]] (dugaan), [[1786]], [[1822]], [[1872]], dan [[1930]]. Letusan pada tahun [[1006]] membuat seluruh bagian tengah [[Pulau Jawa]] diselubungi abu, berdasarkan pengamatan timbunan debu vulkanik. Ahli geologi Belanda, [[Rein van Bemmelen]], berteori bahwa letusan tersebutlah yang menyebabkan pusat [[Kerajaan Medang]] (Mataram Kuno) harus berpindah ke [[Jawa Timur]]. Letusan pada tahun 1872 dianggap sebagai letusan terkuat dalam catatan era modern geologi dengan skala [[VEI]] mencapai 3 sampai 4. Letusan besar 2010 diperkirakan juga memiliki kekuatan yang mendekati atau sama. Letusan tahun [[1930]], yang menghancurkan tiga belas desa dan menewaskan 1400 orang, merupakan letusan dengan catatan korban terbesar hingga sekarang. | Letusan-letusan kecil terjadi tiap 2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Letusan-letusan Merapi yang dampaknya besar tercatat pada tahun [[1006]] (dugaan), [[1786]], [[1822]], [[1872]], dan [[1930]]. Letusan pada tahun [[1006]] membuat seluruh bagian tengah [[Pulau Jawa]] diselubungi abu, berdasarkan pengamatan timbunan debu vulkanik.<ref>[http://volcano.und.edu/vwdocs/current_volcs/merapi/ A history of Merapi].</ref> Ahli geologi Belanda, [[Rein van Bemmelen]], berteori bahwa letusan tersebutlah yang menyebabkan pusat [[Kerajaan Medang]] (Mataram Kuno) harus berpindah ke [[Jawa Timur]]. Letusan pada tahun 1872 dianggap sebagai letusan terkuat dalam catatan era modern geologi dengan skala [[VEI]] mencapai 3 sampai 4. Letusan besar 2010 diperkirakan juga memiliki kekuatan yang mendekati atau sama. Letusan tahun [[1930]], yang menghancurkan tiga belas desa dan menewaskan 1400 orang, merupakan letusan dengan catatan korban terbesar hingga sekarang. | ||
Letusan pada tanggal 22 November 1994 menyebabkan beberapa desa di lereng gunung terkena awan sehingga memakan korban sebanyak 60 jiwa manusia. | Letusan pada tanggal 22 November 1994 menyebabkan beberapa desa di lereng gunung terkena awan sehingga memakan korban sebanyak 60 jiwa manusia.<ref>Luthfia Ayu Azanella. [https://regional.kompas.com/read/2018/05/11/16523971/infografik-riwayat-letusan-merapi-sejak-1990-an INFOGRAFIK: Riwayat Letusan Merapi Sejak 1990-an]. ''Kompas.com''. 2018-05-11.</ref><ref>Iswara N. Raditya. [https://tirto.id/akhir-cerita-antara-mbah-maridjan-dan-merapi-cy4j Akhir Cerita Antara Mbah Maridjan dan Merapi]. ''Tirto.id''.</ref> | ||
Pada 19 Juli 1998 terjadi letusan cukup besar namun material vulkanik yang dikeluarkan mengarah ke atas sehingga tidak memakan korban jiwa. | Pada 19 Juli 1998 terjadi letusan cukup besar namun material vulkanik yang dikeluarkan mengarah ke atas sehingga tidak memakan korban jiwa.<ref>Iswara N. Raditya. [https://tirto.id/akhir-cerita-antara-mbah-maridjan-dan-merapi-cy4j Akhir Cerita Antara Mbah Maridjan dan Merapi]. ''Tirto.id''.</ref> | ||
Pada tahun 2001 sampai 2003, tercatat aktivitas tinggi yang berlangsung terus-menerus tanpa disertai erupsi ledakan tetapi membentuk [[kubah lava]]. | Pada tahun 2001 sampai 2003, tercatat aktivitas tinggi yang berlangsung terus-menerus tanpa disertai erupsi ledakan tetapi membentuk [[kubah lava]]. | ||
| Baris 52: | Baris 53: | ||
Semua catatan ini membentuk apa yang disebut sebagai letusan "tipe Merapi", yaitu aktivitas tinggi yang cukup lama disertai dengan luncuran aliran piroklastik atau ''wedhus gèmbèl'' — istilah [[bahasa Jawa]] yang berarti "[[domba]] yang berbulu lebat" — berulang-ulang yang biasanya meluncur ke lereng gunung dengan kecepatan dan tenaga tinggi, sehingga membahayakan warga di lereng gunung tersebut. | Semua catatan ini membentuk apa yang disebut sebagai letusan "tipe Merapi", yaitu aktivitas tinggi yang cukup lama disertai dengan luncuran aliran piroklastik atau ''wedhus gèmbèl'' — istilah [[bahasa Jawa]] yang berarti "[[domba]] yang berbulu lebat" — berulang-ulang yang biasanya meluncur ke lereng gunung dengan kecepatan dan tenaga tinggi, sehingga membahayakan warga di lereng gunung tersebut. | ||
Rangkaian letusan pada bulan Oktober dan November 2010 dievaluasi sebagai yang terbesar sejak letusan 1872. dan memakan korban nyawa 273 orang (per 17 November 2010), meskipun telah dijalankan pengamatan yang intensif, mitigasi, serta manajemen pengungsian yang cukup tertata. Letusan 2010 juga teramati sebagai penyimpangan dari letusan "tipe Merapi" karena bersifat eksplosif disertai suara ledakan dan gemuruh yang terdengar hingga jarak 20–30 km. | Rangkaian letusan pada bulan Oktober dan November 2010 dievaluasi sebagai yang terbesar sejak letusan 1872.<ref>[http://www.vsi.esdm.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=64:laporan-aktivitas-g-merapi-tanggal-5-november-2010-pukul-0000-sampai-dengan-pukul-0600-wib&catid=49:merapi Laporan aktivitas Gn Merapi tanggal 5 November 2010 pukul 00:00 sampai dengan pukul 06:00 WIB] Jumat, 05 November 2010 08:05</ref> dan memakan korban nyawa 273 orang (per 17 November 2010),<ref>[https://docs.google.com/leaf?id=0B9HSfxkNrX4iMTI0NGExOGYtOTQxZS00OGQ0LWIxN2UtMzE1MTJlNzU2Yjll&sort=name&layout=list&num=50 Laporan situasi dari BPNB per 17 November 2010]</ref> meskipun telah dijalankan pengamatan yang intensif, mitigasi, serta manajemen pengungsian yang cukup tertata. Letusan 2010 juga teramati sebagai penyimpangan dari letusan "tipe Merapi" karena bersifat eksplosif disertai suara ledakan dan gemuruh yang terdengar hingga jarak 20–30 km. | ||
Karena potensi bahayanya, gunung ini dimonitor tanpa jeda oleh Pusat Pengamatan Gunung Merapi (di bawah Badan Geologi, [[PVMBG]]) di Kota Yogyakarta melalui lima (hingga 2019) pos pengamatan visual (dengan CCTV) dan pencatat kegempaan (Pengamatan Gunungapi Merapi, PGM). Pos-pos ini juga memonitor data dari berbagai instrumen [[geofisika]] [[telemetri]] yang sensornya ditempatkan di sekitar gunung dan titik-titik jauh sebagai pembanding aktivitas vulkanik dengan tektonik. | Karena potensi bahayanya, gunung ini dimonitor tanpa jeda oleh Pusat Pengamatan Gunung Merapi (di bawah Badan Geologi, [[PVMBG]]) di Kota Yogyakarta melalui lima (hingga 2019) pos pengamatan visual (dengan CCTV) dan pencatat kegempaan (Pengamatan Gunungapi Merapi, PGM). Pos-pos ini juga memonitor data dari berbagai instrumen [[geofisika]] [[telemetri]] yang sensornya ditempatkan di sekitar gunung dan titik-titik jauh sebagai pembanding aktivitas vulkanik dengan tektonik. | ||
| Baris 66: | Baris 67: | ||
Selain lima pos tersebut, terdapat pos pemantauan di Desa [[Balerante, Kemalang, Klaten]] (dusun Gondang, sisi tenggara) yang didirikan oleh BPBD Jawa Tengah. | Selain lima pos tersebut, terdapat pos pemantauan di Desa [[Balerante, Kemalang, Klaten]] (dusun Gondang, sisi tenggara) yang didirikan oleh BPBD Jawa Tengah. | ||
Sebanyak 30 stasiun seismik [[telemetri]]k dan 35 kamera/CCTV pemantau (dua di antaranya kamera termal) telah dipasang [[BPPTKG]] Yogyakarta untuk memonitor aktivitas vulkanik Merapi. Stasiun seismik terdekat berada di Pasarbubrah dan yang terjauh di Imogiri. Delapan titik stasiun seismik terdekat dari puncak gunung berada di Juranggrawah (GRA), Klatakan (KLS), Pasarbubrah (PAS), Pusunglondon (PUS), Labuhan (LAB), Jurangjero (JRO), Deles (DEL), dan Plawangan (PLA). Seismometer telemetrik untuk aktivitas tektonik ditempatkan di Imogiri (IMO), Pacitan (PCJI), [[Wanagama]] (UGM), Bungbulang (BBJI), dan Jajag (JAGI). Aktivitas tinggi di titik pengukur vulkanik jika tidak disertai aktivitas tinggi di titik pengukur tektonik menandakan adanya aktivitas kegempaan vulkanik oleh Merapi. BPPTKG juga menggunakan [[dron]] kamera dan pemanfaatan citra satelit untuk melakukan fotogrametri, menggunakan teknologi ''[[Interferometric Synthetic-Aperture Radar]]'' (InSAR) dan ''[[Electronic-Distance Measurement]]'' (EDM). | Sebanyak 30 stasiun seismik<ref>''Magma Merapi Hampir Mencapai Puncak''. ''Tribun Jogja (cetak)''. 5 Desember 2020.</ref> [[telemetri]]k dan 35 kamera/CCTV pemantau (dua di antaranya kamera termal) telah dipasang [[BPPTKG]] Yogyakarta untuk memonitor aktivitas vulkanik Merapi.<ref>Maruti Asmaul Husna. [https://jogja.tribunnews.com/2020/11/29/puncak-gunung-merapi-alami-pemekaran-sebesar-4-meter-magma-mendekat-ke-permukaan?page=all Puncak Gunung Merapi Alami Pemekaran Sebesar 4 Meter, Magma Mendekat ke Permukaan]. ''Tribunnews.com''. 29 November 2020.</ref> Stasiun seismik terdekat berada di Pasarbubrah dan yang terjauh di Imogiri. Delapan titik stasiun seismik terdekat dari puncak gunung berada di Juranggrawah (GRA), Klatakan (KLS), Pasarbubrah (PAS), Pusunglondon (PUS), Labuhan (LAB), Jurangjero (JRO), Deles (DEL), dan Plawangan (PLA). Seismometer telemetrik untuk aktivitas tektonik ditempatkan di Imogiri (IMO), Pacitan (PCJI), [[Wanagama]] (UGM), Bungbulang (BBJI), dan Jajag (JAGI). Aktivitas tinggi di titik pengukur vulkanik jika tidak disertai aktivitas tinggi di titik pengukur tektonik menandakan adanya aktivitas kegempaan vulkanik oleh Merapi. BPPTKG juga menggunakan [[dron]] kamera dan pemanfaatan citra satelit untuk melakukan fotogrametri, menggunakan teknologi ''[[Interferometric Synthetic-Aperture Radar]]'' (InSAR) dan ''[[Electronic-Distance Measurement]]'' (EDM). | ||
Sisi timur gunung ini tidak diamati karena dianggap relatif aman akibat adanya punggungan Puncak Bibi yang terbentuk pada era pra-Merapi. | Sisi timur gunung ini tidak diamati karena dianggap relatif aman akibat adanya punggungan Puncak Bibi yang terbentuk pada era pra-Merapi. | ||
| Baris 75: | Baris 76: | ||
Pada tanggal [[15 Mei]] [[2006]] akhirnya Merapi meletus. Lalu pada [[4 Juni]], dilaporkan bahwa aktivitas Gunung Merapi telah melampaui [[status awas]]. Kepala [[BPPTK]] [[Daerah Istimewa Yogyakarta]], [[Ratdomo Purbo]] menjelaskan bahwa sekitar 2-4 Juni volume lava di kubah Merapi sudah mencapai 4 juta meter kubik - artinya lava telah memenuhi seluruh kapasitas kubah Merapi sehingga tambahan semburan lava terbaru akan langsung keluar dari kubah Merapi. | Pada tanggal [[15 Mei]] [[2006]] akhirnya Merapi meletus. Lalu pada [[4 Juni]], dilaporkan bahwa aktivitas Gunung Merapi telah melampaui [[status awas]]. Kepala [[BPPTK]] [[Daerah Istimewa Yogyakarta]], [[Ratdomo Purbo]] menjelaskan bahwa sekitar 2-4 Juni volume lava di kubah Merapi sudah mencapai 4 juta meter kubik - artinya lava telah memenuhi seluruh kapasitas kubah Merapi sehingga tambahan semburan lava terbaru akan langsung keluar dari kubah Merapi. | ||
Tanggal [[1 Juni]], [[Hujan abu vulkanik]] dari luncuran [[awan panas]] Gunung Merapi yang lebat, tiga hari belakangan ini terjadi di [[Kota Magelang]] dan [[Kabupaten Magelang]], [[Jawa Tengah]]. [[Muntilan]] sekitar 14 kilometer dari Puncak Merapi, paling merasakan hujan abu ini. | Tanggal [[1 Juni]], [[Hujan abu vulkanik]] dari luncuran [[awan panas]] Gunung Merapi yang lebat, tiga hari belakangan ini terjadi di [[Kota Magelang]] dan [[Kabupaten Magelang]], [[Jawa Tengah]]. [[Muntilan]] sekitar 14 kilometer dari Puncak Merapi, paling merasakan hujan abu ini.<ref>[http://www.kompas.com/utama/news/0606/01/194615.htm Salinan arsip].</ref> | ||
Tanggal [[8 Juni]], Gunung Merapi pada pukul 09.03 WIB meletus dengan semburan [[awan panas]] yang membuat ribuan warga di wilayah lereng Gunung Merapi panik dan berusaha melarikan diri ke tempat aman. Tercatat terjadi dua letusan, letusan kedua terjadi sekitar pukul 09.40 WIB. Semburan awan panas sejauh 5 km lebih mengarah ke hulu [[Kali Gendol]] (lereng selatan) dan menghanguskan sebagian kawasan hutan di utara [[Kaliadem]] di wilayah [[Kabupaten Sleman]]. | Tanggal [[8 Juni]], Gunung Merapi pada pukul 09.03 WIB meletus dengan semburan [[awan panas]] yang membuat ribuan warga di wilayah lereng Gunung Merapi panik dan berusaha melarikan diri ke tempat aman. Tercatat terjadi dua letusan, letusan kedua terjadi sekitar pukul 09.40 WIB. Semburan awan panas sejauh 5 km lebih mengarah ke hulu [[Kali Gendol]] (lereng selatan) dan menghanguskan sebagian kawasan hutan di utara [[Kaliadem]] di wilayah [[Kabupaten Sleman]].<ref>[http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=102228] [http://www.kompas.com/utama/news/0606/08/100943.htm]</ref> | ||
Letusan Merapi pada tahun 2006 ini menelan setidaknya 2 | Letusan Merapi pada tahun 2006 ini menelan setidaknya 2 | ||
orang korban jiwa. | orang korban jiwa.<ref>[https://tirto.id/sejarah-letusan-merapi-perbedaan-erupsi-pada-2006-dan-2010-f6ED Sejarah Letusan Merapi, Perbedaan Erupsi pada 2006 dan 2010]. ''Tirto.id''.</ref> | ||
=== Erupsi 2010 === | === Erupsi 2010 === | ||
Peningkatan status dari "normal aktif" menjadi "waspada" pada tanggal [[20 September]] 2010 direkomendasi oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta. Setelah sekitar satu bulan, pada tanggal [[21 Oktober]] status berubah menjadi "siaga" sejak pukul 18.00 WIB. Pada tingkat ini kegiatan pengungsian sudah harus dipersiapkan. Karena aktivitas yang semakin meningkat, ditunjukkan dengan tingginya frekuensi gempa multifase dan gempa vulkanik, sejak pukul 06.00 WIB tangggal [[25 Oktober]] BPPTK Yogyakarta merekomendasi peningkatan status Gunung Merapi menjadi "awas" dan semua penghuni wilayah dalam radius 10 km dari puncak harus dievakuasi dan diungsikan ke wilayah aman. | Peningkatan status dari "normal aktif" menjadi "waspada" pada tanggal [[20 September]] 2010 direkomendasi oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta. Setelah sekitar satu bulan, pada tanggal [[21 Oktober]] status berubah menjadi "siaga" sejak pukul 18.00 WIB. Pada tingkat ini kegiatan pengungsian sudah harus dipersiapkan. Karena aktivitas yang semakin meningkat, ditunjukkan dengan tingginya frekuensi gempa multifase dan gempa vulkanik, sejak pukul 06.00 WIB tangggal [[25 Oktober]] BPPTK Yogyakarta merekomendasi peningkatan status Gunung Merapi menjadi "awas" dan semua penghuni wilayah dalam radius 10 km dari puncak harus dievakuasi dan diungsikan ke wilayah aman. | ||
Erupsi pertama terjadi sekitar pukul 17.02 WIB tanggal [[26 Oktober]]. Sedikitnya terjadi hingga tiga kali letusan. Letusan menyemburkan material vulkanik setinggi kurang lebih 1,5 km dan disertai keluarnya awan panas yang menerjang Kaliadem, Desa [[Kepuharjo, Cangkringan, Sleman|Kepuharjo]], Kecamatan [[Cangkringan, Sleman|Cangkringan]], Sleman. dan menelan korban 43 orang, ditambah seorang bayi dari Magelang yang tewas karena gangguan pernapasan. | Erupsi pertama terjadi sekitar pukul 17.02 WIB tanggal [[26 Oktober]]. Sedikitnya terjadi hingga tiga kali letusan. Letusan menyemburkan material vulkanik setinggi kurang lebih 1,5 km dan disertai keluarnya awan panas yang menerjang Kaliadem, Desa [[Kepuharjo, Cangkringan, Sleman|Kepuharjo]], Kecamatan [[Cangkringan, Sleman|Cangkringan]], Sleman.<ref>[http://nusantara.tvone.co.id/berita/view/45077/2010/10/26/merapi_meletus/ Salinan arsip].</ref> dan menelan korban 43 orang, ditambah seorang bayi dari Magelang yang tewas karena gangguan pernapasan. | ||
Sejak saat itu mulai terjadi muntahan awan panas secara tidak teratur. Mulai [[28 Oktober]], Gunung Merapi memuntahkan lava pijar yang muncul hampir bersamaan dengan keluarnya awan panas pada pukul 19.54 WIB. Selanjutnya mulai teramati titik api diam di puncak pada tanggal 1 November, menandai fase baru bahwa magma telah mencapai lubang kawah. | Sejak saat itu mulai terjadi muntahan awan panas secara tidak teratur. Mulai [[28 Oktober]], Gunung Merapi memuntahkan lava pijar yang muncul hampir bersamaan dengan keluarnya awan panas pada pukul 19.54 WIB.<ref>[http://nasional.tvone.co.id/berita/view/45146/2010/10/28/gunung_merapi_muntahkan_lava_pijar/ Salinan arsip].</ref> Selanjutnya mulai teramati titik api diam di puncak pada tanggal 1 November, menandai fase baru bahwa magma telah mencapai lubang kawah. | ||
Namun, berbeda dari karakter Merapi biasanya, bukannya terjadi pembentukan kubah lava baru, malah yang terjadi adalah peningkatan aktivitas semburan lava dan awan panas sejak 3 November. Erupsi eksplosif berupa letusan besar diawali pada pagi hari Kamis, 4 November 2010, menghasilkan kolom awan setinggi 4 km dan semburan awan panas ke berbagai arah di kaki Merapi. Selanjutnya, sejak sekitar pukul tiga siang terjadi letusan yang tidak henti-hentinya hingga malam hari dan mencapai puncaknya pada dini hari Jumat 5 November 2010. Menjelang tengah malam, radius bahaya untuk semua tempat diperbesar menjadi 20 km dari puncak. Rangkaian letusan ini serta suara gemuruh terdengar hingga Kota Yogyakarta (jarak sekitar 27 km dari puncak), [[Kota Magelang]], dan pusat [[Kabupaten Wonosobo]] (jarak 50 km). Hujan kerikil dan pasir mencapai Kota Yogyakarta bagian utara, sedangkan hujan abu vulkanik pekat melanda hingga Purwokerto dan Cilacap. Pada siang harinya, debu vulkanik diketahui telah mencapai [[Tasikmalaya]], [[Kota Bandung|Bandung]], dan [[Kota Bogor|Bogor]]. | Namun, berbeda dari karakter Merapi biasanya, bukannya terjadi pembentukan kubah lava baru, malah yang terjadi adalah peningkatan aktivitas semburan lava dan awan panas sejak 3 November. Erupsi eksplosif berupa letusan besar diawali pada pagi hari Kamis, 4 November 2010, menghasilkan kolom awan setinggi 4 km dan semburan awan panas ke berbagai arah di kaki Merapi. Selanjutnya, sejak sekitar pukul tiga siang terjadi letusan yang tidak henti-hentinya hingga malam hari dan mencapai puncaknya pada dini hari Jumat 5 November 2010. Menjelang tengah malam, radius bahaya untuk semua tempat diperbesar menjadi 20 km dari puncak. Rangkaian letusan ini serta suara gemuruh terdengar hingga Kota Yogyakarta (jarak sekitar 27 km dari puncak), [[Kota Magelang]], dan pusat [[Kabupaten Wonosobo]] (jarak 50 km). Hujan kerikil dan pasir mencapai Kota Yogyakarta bagian utara, sedangkan hujan abu vulkanik pekat melanda hingga Purwokerto dan Cilacap. Pada siang harinya, debu vulkanik diketahui telah mencapai [[Tasikmalaya]], [[Kota Bandung|Bandung]],<ref>Ismoko Widjaya. [http://nasional.vivanews.com/news/read/187137-abu-merapi-di-bandung-berbahaya Abu Merapi di Bandung Berbahaya] . vivanews.com. Jum'at, 5 November 2010, 20:45 WIB</ref> dan [[Kota Bogor|Bogor]].<ref>Rachmadin Ismail. [http://www.detiknews.com/read/2010/11/05/192917/1487762/10/hujan-abu-merapi-sampai-lido-bogor Hujan Abu Merapi Sampai Lido Bogor]. detikNews. Jumat, 05/11/2010 19:29 WIB</ref> | ||
Bahaya sekunder berupa aliran lahar dingin juga mengancam kawasan lebih rendahsetelah pada tanggal 4 November terjadi hujan deras di sekitar puncak Merapi. Pada tanggal 5 November [[Kali Code]] di kawasan Kota Yogyakarta dinaikkan statusnya menjadi "awas" (''red alert''). | Bahaya sekunder berupa aliran lahar dingin juga mengancam kawasan lebih rendahsetelah pada tanggal 4 November terjadi hujan deras di sekitar puncak Merapi. Pada tanggal 5 November [[Kali Code]] di kawasan Kota Yogyakarta dinaikkan statusnya menjadi "awas" (''red alert'').<ref>[http://www.tempointeraktif.com/hg/jogja/2010/11/05/brk,20101105-289739,id.html Kali Code Kritis, Warga Diperintahkan Menyingkir] . Tempointeraktif.com Jum'at, 05 November 2010 | 18:23 WIB</ref><ref>[https://nasional.kompas.com/read/2010/11/07/02564041/banjir.lahar.dingin.di.code?page=all Banjir Lahar Dingin di Code]. ''Kompas.com''. 2010-11-07.</ref> | ||
Letusan kuat 5 November diikuti oleh aktivitas tinggi selama sekitar seminggu, sebelum kemudian terjadi sedikit penurunan aktivitas, tetapi status keamanan tetap "Awas". Pada tanggal 15 November 2010 batas radius bahaya untuk Kabupaten Magelang dikurangi menjadi 15 km dan untuk dua kabupaten Jawa Tengah lainnya menjadi 10 km. Hanya bagi Kab. Sleman yang masih tetap diberlakukan radius bahaya 20 km. | Letusan kuat 5 November diikuti oleh aktivitas tinggi selama sekitar seminggu, sebelum kemudian terjadi sedikit penurunan aktivitas, tetapi status keamanan tetap "Awas". Pada tanggal 15 November 2010 batas radius bahaya untuk Kabupaten Magelang dikurangi menjadi 15 km dan untuk dua kabupaten Jawa Tengah lainnya menjadi 10 km. Hanya bagi Kab. Sleman yang masih tetap diberlakukan radius bahaya 20 km.<ref>Fajar Pratama. [http://www.detiknews.com/read/2010/11/18/135047/1496723/10/bnpb-jumlah-korban-tewas-merapi-275-orang BNPB: Jumlah Korban Tewas Merapi 275 Orang] . detikNews. Edisi Kamis, 18/11/2010.</ref> | ||
=== Aktivitas 2018-2021 === | === Aktivitas 2018-2021 === | ||
Peningkatan aktivitas vulkanik kembali ditunjukan gunung ini sejak Jumat, 11 Mei 2018, pukul 07.30 WIB. Meski berstatus normal, Gunung Merapi mengeluarkan suara gemuruh disertai asap membumbung tinggi. Letusan tipe freatik (hembusan) ini memunculkan asap setinggi hingga 5.500 meter vertikal. Erupsi ini disaksikan dalam jarak dekat oleh pendaki yang masih berada di areal Pasarbubrah dan terdokumentasi dalam video di [[media sosial]]. Tak ada laporan pendaki yang meninggal dunia. Kawasan Pasarbubrah adalah tempat para pendaki Merapi biasa menginap dan memasang tenda sebelum mendaki ke puncak. Hujan abu tipis jatuh di wilayah lereng barat. | Peningkatan aktivitas vulkanik kembali ditunjukan gunung ini sejak Jumat, 11 Mei 2018, pukul 07.30 WIB. Meski berstatus normal, Gunung Merapi mengeluarkan suara gemuruh disertai asap membumbung tinggi.<ref>[http://news.detik.com/jawatengah/4015091/merapi-bergemuruh-dan-keluarkan-asap-putih-tinggi-pagi-ini Merapi Bergemuruh dan Keluarkan Asap Putih Tinggi Pagi Ini].</ref> Letusan tipe freatik (hembusan) ini memunculkan asap setinggi hingga 5.500 meter vertikal. Erupsi ini disaksikan dalam jarak dekat oleh pendaki yang masih berada di areal Pasarbubrah dan terdokumentasi dalam video di [[media sosial]]. Tak ada laporan pendaki yang meninggal dunia. Kawasan Pasarbubrah adalah tempat para pendaki Merapi biasa menginap dan memasang tenda sebelum mendaki ke puncak. Hujan abu tipis jatuh di wilayah lereng barat. | ||
Sejak peristiwa itu, PPGM mulai memantau aktivitas Merapi yang terus meningkat, sehingga pada tanggal 21 Mei 2018, pukul 23.00 WIB status Merapi dinaikkan dari normal aktif menjadi waspada. Status ini tidak pernah diturunkan setelahnya, yang berakibat ditutupnya akses pendakian ke Gunung Merapi. | Sejak peristiwa itu, PPGM mulai memantau aktivitas Merapi yang terus meningkat, sehingga pada tanggal 21 Mei 2018, pukul 23.00 WIB status Merapi dinaikkan dari normal aktif menjadi waspada.<ref>[http://regional.kompas.com/read/2018/05/22/04494951/status-gunung-merapi-dinaikkan-jadi-waspada Status Gunung Merapi Dinaikkan Jadi Waspada].</ref> Status ini tidak pernah diturunkan setelahnya, yang berakibat ditutupnya akses pendakian ke Gunung Merapi. | ||
Kamis, 24 Mei 2018, gunung Merapi kembali erupsi dengan menyemburkan asap setinggi 6.000 meter. Hujan abu mengguyur wilayah barat gunung yaitu [[Kabupaten Magelang]] bahkan sampi ke [[Kabupaten Kebumen]] yang berjarak lebih dari 40 kilometer. Gunung Merapi kembali erupsi pada Jumat, 1 Juni 2018 pada pukul 08.20 WIB dengan durasi 2 menit. Menurut BPPTKG, kolom letusan gunung Merapi sekitar 6.000 meter dari puncak, atau sekitar 8.968 meter di atas permukaan laut arah barat laut dan teramati dari Pos Pengamatan Jrakah. Letusan tersebut menyebabkan hujan abu di Pos Pengamatan Gunung Merapi Jrakah dan Selo. Bahkan laporan hujan abu hingga ke [[Salatiga]] dan [[Kabupaten Semarang]]. Masyarakat diimbau tetap tenang dan waspada atas hujan abu dan selalu mengenakan alat pelindung diri (APD), seperti kacamata, jaket, dan masker saat berada di luar rumah. | Kamis, 24 Mei 2018, gunung Merapi kembali erupsi dengan menyemburkan asap setinggi 6.000 meter. Hujan abu mengguyur wilayah barat gunung yaitu [[Kabupaten Magelang]] bahkan sampi ke [[Kabupaten Kebumen]] yang berjarak lebih dari 40 kilometer.<ref>[http://regional.kompas.com/read/2018/05/24/08593571/hujan-abu-vulkanik-merapi-sampai-ke-kebumen-dan-purworejo Hujan Abu Vulkanik Merapi Sampai ke Kebumen dan Purworejo].</ref> Gunung Merapi kembali erupsi pada Jumat, 1 Juni 2018 pada pukul 08.20 WIB dengan durasi 2 menit. Menurut BPPTKG, kolom letusan gunung Merapi sekitar 6.000 meter dari puncak, atau sekitar 8.968 meter di atas permukaan laut arah barat laut dan teramati dari Pos Pengamatan Jrakah. Letusan tersebut menyebabkan hujan abu di Pos Pengamatan Gunung Merapi Jrakah dan Selo. Bahkan laporan hujan abu hingga ke [[Salatiga]] dan [[Kabupaten Semarang]].<ref>[http://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-4048438/hujan-abu-gunung-merapi-guyur-perbatasan-kabupaten-semarang Hujan Abu Gunung Merapi Guyur Perbatasan Kabupaten Semarang].</ref> Masyarakat diimbau tetap tenang dan waspada atas hujan abu dan selalu mengenakan alat pelindung diri (APD), seperti kacamata, jaket, dan masker saat berada di luar rumah.<ref>Wijaya Kusuma. [http://regional.kompas.com/read/2018/06/01/09255111/merapi-kembali-meletus-dengan-tinggi-kolom-6000-meter Merapi Kembali Meletus dengan Tinggi Kolom 6.000 Meter]. ''Kompas.com''. Kompas. 1 Juni 2018.</ref> | ||
Setelah relatif stabil pada tahun 2019, pada hari Sabtu, 28 Maret 2020, pukul 19.25 WIB, gunung Merapi meletus.Pada erupsi ini, karakter letusan mulai bercampur dengan letusan eksplosif (disertai ledakan dan lontaran material besar). Pada hari Minggu, 29 Maret 2020, pukul 00.15 WIB, gunung Merapi meletus dengan tinggi kolom erupsi terukur 1500 meter di atas puncak atau 4.468 meter di atas permukaan laut. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 40 mm berdurasi kurang lebih 2 menit 30 detik. | Setelah relatif stabil pada tahun 2019, pada hari Sabtu, 28 Maret 2020, pukul 19.25 WIB, gunung Merapi meletus.Pada erupsi ini, karakter letusan mulai bercampur dengan letusan eksplosif (disertai ledakan dan lontaran material besar). Pada hari Minggu, 29 Maret 2020, pukul 00.15 WIB, gunung Merapi meletus dengan tinggi kolom erupsi terukur 1500 meter di atas puncak atau 4.468 meter di atas permukaan laut. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 40 mm berdurasi kurang lebih 2 menit 30 detik.<ref>Mela Arnani. [https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/29/113100865/erupsi-merapi-dan-sejarah-letusannya- Erupsi Merapi dan Sejarah Letusannya]. ''Kompas.com''. 2020-03-29.</ref> | ||
Pada 10 April 2020, pukul 09.10 WIB, gunung Merapi meletus dengan tinggi kolom erupsi terukur 3000 meter dari atas kawah puncak gunung. Erupsi tercatat di seismogram dengan amplitudo 75 mm dan durasi 103 detik. Arah angin saat erupsi ke Barat Laut. | Pada 10 April 2020, pukul 09.10 WIB, gunung Merapi meletus dengan tinggi kolom erupsi terukur 3000 meter dari atas kawah puncak gunung. Erupsi tercatat di seismogram dengan amplitudo 75 mm dan durasi 103 detik. Arah angin saat erupsi ke Barat Laut.<ref>Muh. Syaifullah (). [https://tekno.tempo.co/read/1330080/gunung-merapi-meletus-lagi-kolom-erupsi-tiga-kilometer Gunung Merapi Meletus Lagi, Kolom Erupsi Tiga Kilometer]. ''Tempo.co''. 2020-04-10.</ref> | ||
Pada 21 Juni 2020, pukul 09.13 WIB, gunung Merapi kembali meletus dengan tinggi kolom erupsi 6000 meter dari atas kawah puncak gunung. Erupsi tercatat di seismogram dengan amplitudo 75 mm dan durasi 328 detik. Saat erupsi pertama terjadi, BPPTKG memonitor arah angin menuju barat. Pada erupsi kedua, amplitudo termonitor 75 mm dan durasi 100 detik. Tinggi kolom saat erupsi kedua ini tidak teramati. Pusat Pengendali Operasi BNPB mendapatkan laporan dari BPBD setempat mengenai sebaran abu. Sebaran hujan abu vulkanik erupsi Gunung Merapi yang terpantau pada 09.56 terjadi di wilayah beberapa desa pada dua Kecamatan Srumbung (Desa Kaliurang, Kemiren, Srumbung, Banyuadem, Kalibening dan Ngargosoko) dan Kecamatan Dukun (Desa Ngargomulyo dan Keningar). | Pada 21 Juni 2020, pukul 09.13 WIB, gunung Merapi kembali meletus dengan tinggi kolom erupsi 6000 meter dari atas kawah puncak gunung. Erupsi tercatat di seismogram dengan amplitudo 75 mm dan durasi 328 detik. Saat erupsi pertama terjadi, BPPTKG memonitor arah angin menuju barat. Pada erupsi kedua, amplitudo termonitor 75 mm dan durasi 100 detik. Tinggi kolom saat erupsi kedua ini tidak teramati. Pusat Pengendali Operasi BNPB mendapatkan laporan dari BPBD setempat mengenai sebaran abu. Sebaran hujan abu vulkanik erupsi Gunung Merapi yang terpantau pada 09.56 terjadi di wilayah beberapa desa pada dua Kecamatan Srumbung (Desa Kaliurang, Kemiren, Srumbung, Banyuadem, Kalibening dan Ngargosoko) dan Kecamatan Dukun (Desa Ngargomulyo dan Keningar).<ref>Dob. [https://www.cnbcindonesia.com/news/20200621151235-4-166922/tiba-tiba-merapi-meletus-dan-lontarkan-abu-setinggi-6-km Tiba-tiba, Merapi Meletus dan Lontarkan Abu Setinggi 6 KM]. ''CNBC Indonesia''. 2020-06-21.</ref> | ||
Pada hari Kamis, 5 November 2020, pukul 12.00 WIB, BPPTKG meningkatkan status gunung Merapi dari Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III) karena aktivitas vulkanik di Gunung Merapi diduga dapat berlanjut ke erupsi yang membahayakan masyarakat. Ini didasarkan pada kronologi data hasil pemantauan aktivitas vulkanik, yaitu pertama setelah letusan eksplosif 21 Juni 2020, kegempaan internal yaitu VA, vulkanik dangkal (VB) dan fase banyak (MP) mulai meningkat. Sejak bulan Oktober 2020 kegempaan meningkat semakin intensif. Pada 4 November 2020 rata-rata gempa VB 29 kali/hari, MP 272 kali/hari, guguran (RF) 57 kali/hari, hembusan (DG) 64 kali/hari. Meskipun demikian, tidak terlihat indikasi pembentukan kubah lava yang baru. Gempa dan deformasi masih meningkat dan BPPTKG memperingatkan bahaya luncuran awan panas sejauh 5 kilometer dari puncak gunung. | Pada hari Kamis, 5 November 2020, pukul 12.00 WIB, BPPTKG meningkatkan status gunung Merapi dari Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III)<ref>[https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-5242582/status-gunung-merapi-naik-jadi-siaga Status Gunung Merapi Naik Jadi Siaga!] , ''detik.news''</ref> karena aktivitas vulkanik di Gunung Merapi diduga dapat berlanjut ke erupsi yang membahayakan masyarakat. Ini didasarkan pada kronologi data hasil pemantauan aktivitas vulkanik, yaitu pertama setelah letusan eksplosif 21 Juni 2020, kegempaan internal yaitu VA, vulkanik dangkal (VB) dan fase banyak (MP) mulai meningkat. Sejak bulan Oktober 2020 kegempaan meningkat semakin intensif. Pada 4 November 2020 rata-rata gempa VB 29 kali/hari, MP 272 kali/hari, guguran (RF) 57 kali/hari, hembusan (DG) 64 kali/hari.<ref>Pythag Kurniati, [https://regional.kompas.com/read/2020/11/06/06100081/7-fakta-status-gunung-merapi-naik-jadi-siaga-kondisi-ancaman-bahaya-hingga 7 Fakta Status Gunung Merapi Naik Jadi Siaga, Kondisi, Ancaman Bahaya hingga Mitigasi Bencana] , ''Kompas.com''</ref> Meskipun demikian, tidak terlihat indikasi pembentukan kubah lava yang baru. Gempa dan deformasi masih meningkat dan BPPTKG memperingatkan bahaya luncuran awan panas sejauh 5 kilometer dari puncak gunung. | ||
Pada Laporan Aktivitas Gunung Merapi Periode Bulan November 2020 yang diterbitkan oleh BPPTKG pada 30 November 2020, mendapat kesimpulan bahwa terdapat peningkatan aktivitas vulkanik G. Merapi berupa aktivitas kegempaan internal yang mencapai 400 kali/hari, laju deformasi mencapai 11 cm/hari, konsentrasi gas CO2 pada 21 November-30 November meningkat dengan nilai maksimal 675 ppm setelah sebelumnya pada awal bulan november hingga tanggal 20 November cukup konstan berada pada 525 ppm, serta perubahan morfologi puncak akibat intensifnya aktivitas guguran. Data pemantauan ini menunjukkan proses desakan magma menuju permukaan. | Pada Laporan Aktivitas Gunung Merapi Periode Bulan November 2020 yang diterbitkan oleh BPPTKG pada 30 November 2020, mendapat kesimpulan bahwa terdapat peningkatan aktivitas vulkanik G. Merapi berupa aktivitas kegempaan internal yang mencapai 400 kali/hari, laju deformasi mencapai 11 cm/hari, konsentrasi gas CO2 pada 21 November-30 November meningkat dengan nilai maksimal 675 ppm setelah sebelumnya pada awal bulan november hingga tanggal 20 November cukup konstan berada pada 525 ppm, serta perubahan morfologi puncak akibat intensifnya aktivitas guguran. Data pemantauan ini menunjukkan proses desakan magma menuju permukaan. | ||
Memasuki tahun 2021, aktivitas vulkanik semakin meningkat. Setelah semakin sering teramati runtuhan batuan lava sisa letusan terdahulu semakin tebalnya asap/uap putih dari puncak, pada hari Senin malam tanggal 4 Januari 2021 mulai teramati adanya titik api dan guguran material vulkanik (batu dan lava) yang berlanjut pada hari berikutnya. Pihak BPPTKG menyatakan bahwa fase erupsi telah dimulai. Sejak itu leleran material awan panas dan runtuhan batuan semakin sering teramati dengan jarak yang semakin jauh. Pada tanggal 7 Januari 2021, Gunung Merapi mengeluarkan guguran awan panas ([[aliran piroklastik]]) dan memunculkan kolom asap setinggi 200 meter dari puncak. Guguran awan panas tersebut terjadi pada pukul 8:02 WIB menimbulkan gempa vulkanik dengan amplitudo maksimum 28 mm dan berdurasi 154 detik, dan pada pukul 12:50 WIB dengan amplitudo maksimum 21 mm dan berdurasi 139 detik. Arah pergerakan material ke barat daya (hulu Kali Kuning sampai hulu Kali Krasak). | Memasuki tahun 2021, aktivitas vulkanik semakin meningkat. Setelah semakin sering teramati runtuhan batuan lava sisa letusan terdahulu semakin tebalnya asap/uap putih dari puncak, pada hari Senin malam tanggal 4 Januari 2021 mulai teramati adanya titik api dan guguran material vulkanik (batu dan lava) yang berlanjut pada hari berikutnya. Pihak BPPTKG menyatakan bahwa fase erupsi telah dimulai.<ref>[https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210106064255-20-589965/gunung-merapi-fase-erupsi-keluarkan-lava-pijar Gunung Merapi Fase Erupsi, Keluarkan Lava Pijar]. ''CNN Indonesia''. Rabu, 06 Jan 2021.</ref><ref>Pribadi Wicaksono (). [https://tekno.tempo.co/read/1420495/gunung-merapi-masuk-fase-erupsi-bpptkg-erupsi-eksplosif-bisa-setiap-saat Gunung Merapi Masuk Fase Erupsi, BPPTKG: Erupsi Eksplosif Bisa Setiap Saat]. ''Tempo.co''. 6 Jan 2021.</ref> Sejak itu leleran material awan panas dan runtuhan batuan semakin sering teramati dengan jarak yang semakin jauh. Pada tanggal 7 Januari 2021, Gunung Merapi mengeluarkan guguran awan panas ([[aliran piroklastik]]) dan memunculkan kolom asap setinggi 200 meter dari puncak.<ref>Jauh Hari Wawan S. [https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-5324156/gunung-merapi-erupsi-pagi-ini-muntahkan-awan-panas Gunung Merapi Erupsi Pagi Ini, Muntahkan Awan Panas]. ''detikcom''. 2021-01-07.</ref><ref>Riyadi Slamet. [https://apnews.com/article/avalanches-asia-pacific-indonesia-c96846b0963ef668576cbecfc65c42ee Indonesia's Merapi volcano spews hot clouds, 500 evacuate]. ''AP NEWS''. 2021-01-07.</ref><ref>Retia Kartika Dewi. [https://www.kompas.com/tren/read/2021/01/07/145700665/awan-panas-di-gunung-merapi-simak-penjelasan-bpptkg Awan Panas di Gunung Merapi, Simak Penjelasan BPPTKG]. ''Kompas.com''.</ref> Guguran awan panas tersebut terjadi pada pukul 8:02 WIB menimbulkan gempa vulkanik dengan amplitudo maksimum 28 mm dan berdurasi 154 detik,<ref>Jauh Hari Wawan S. [https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-5324156/gunung-merapi-erupsi-pagi-ini-muntahkan-awan-panas Gunung Merapi Erupsi Pagi Ini, Muntahkan Awan Panas]. ''detikcom''. 2021-01-07.</ref> dan pada pukul 12:50 WIB dengan amplitudo maksimum 21 mm dan berdurasi 139 detik.<ref>Retia Kartika Dewi. [https://www.kompas.com/tren/read/2021/01/07/145700665/awan-panas-di-gunung-merapi-simak-penjelasan-bpptkg Awan Panas di Gunung Merapi, Simak Penjelasan BPPTKG]. ''Kompas.com''.</ref> Arah pergerakan material ke barat daya (hulu Kali Kuning sampai hulu Kali Krasak). | ||
=== Aktivitas 2023 === | === Aktivitas 2023 === | ||
| Baris 122: | Baris 121: | ||
== Vegetasi == | == Vegetasi == | ||
Gunung Merapi di bagian puncak tidak pernah ditumbuhi vegetasi karena aktivitas yang tinggi. Jenis tumbuhan di bagian teratas bertipe alpina khas pegunungan Jawa, seperti ''[[Rhododendron]]'' dan [[Anaphalis javanica|edelweis jawa]]. Agak ke bawah terdapat hutan [[bambu]] dan tetumbuhan pegunungan tropika. Hutan hujan tropis pegunungan di lereng selatan Merapi merupakan tempat salah satu forma [[anggrek]] endemik ''Vanda tricolor'' 'Merapi' yang langka.<ref>Metusala D. [http://anggrek.org/melirik-konservasi-anggrek-vanda-tricolor-di-merapi-2.html Melirik Konservasi Anggrek Vanda tricolor di Merapi] . Dirilis 20 Juli 2006. Diakses 9 Agustus 2015.</ref> | |||
Gunung Merapi di bagian puncak tidak pernah ditumbuhi vegetasi karena aktivitas yang tinggi. Jenis tumbuhan di bagian teratas bertipe alpina khas pegunungan Jawa, seperti ''[[Rhododendron]]'' dan [[Anaphalis javanica|edelweis jawa]]. Agak ke bawah terdapat hutan [[bambu]] dan tetumbuhan pegunungan tropika. Hutan hujan tropis pegunungan di lereng selatan Merapi merupakan tempat salah satu forma [[anggrek]] endemik ''Vanda tricolor'' 'Merapi' yang langka. | |||
Lereng Merapi sisi barat daya, khususnya di bawah 1.000 m, merupakan tempat asal dua kultivar [[salak]] unggul nasional, yaitu salak 'Pondoh' dan 'Nglumut'. | Lereng Merapi sisi barat daya, khususnya di bawah 1.000 m, merupakan tempat asal dua kultivar [[salak]] unggul nasional, yaitu salak 'Pondoh' dan 'Nglumut'. | ||
== Juru kunci == | == Juru kunci == | ||
Karena Gunung Merapi sangat disakralkan, [[Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat]] memiliki seorang [[juru kunci]] yang bertugas menjaga gunung dan melindungi masyarakat yang tinggal di bawahnya. Seorang [[abdi dalem]] [[Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat|Keraton Yogyakarta]] ditunjuk langsung oleh Sultan untuk mengisi jabatan tersebut. Juru kunci Merapi saat ini adalah Mas Bekel Anom Suraksosihono, atau Mas Asih menggantikan ayahnya [[Mbah Maridjan]] yang meninggal dalam erupsi gunung Merapi pada tahun 2010. | Karena Gunung Merapi sangat disakralkan, [[Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat]] memiliki seorang [[juru kunci]] yang bertugas menjaga gunung dan melindungi masyarakat yang tinggal di bawahnya. Seorang [[abdi dalem]] [[Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat|Keraton Yogyakarta]] ditunjuk langsung oleh Sultan untuk mengisi jabatan tersebut. Juru kunci Merapi saat ini adalah Mas Bekel Anom Suraksosihono, atau Mas Asih menggantikan ayahnya [[Mbah Maridjan]] yang meninggal dalam erupsi gunung Merapi pada tahun 2010.<ref>[http://nasional.news.viva.co.id/news/read/212799-putra-mbah-maridjan-jadi-juru-kunci-merapi Putra Mbah Maridjan Jadi Juru Kunci Merapi]. ''VIVA.co.id''. 2011-04-03.</ref> | ||
== Rute pendakian == | == Rute pendakian == | ||
| Baris 158: | Baris 156: | ||
== Galeri == | == Galeri == | ||
=== Foto-foto terbaru === | === Foto-foto terbaru === | ||
Panorama dari lembah Merapi (''by;assyaiban''), 17 September 2024, [[Kabupaten Magelang]]. | Panorama dari lembah Merapi (''by;assyaiban''), 17 September 2024, [[Kabupaten Magelang]]. | ||
=== Foto-foto setelah erupsi 2006 === | === Foto-foto setelah erupsi 2006 === | ||
=== Dokumentasi [[Tropenmuseum]] === | === Dokumentasi [[Tropenmuseum]] === | ||
=== Foto-foto lain === | === Foto-foto lain === | ||
== Pranala luar == | == Pranala luar == | ||
* [http://www.nusinau.com/merapi/ Peta gunung merapi] Peta Merapi disertai keterangan desa dan dusun serta radius zona aman; 5 km, 10 km, 15 km dan 20 km. | * [http://www.nusinau.com/merapi/ Peta gunung merapi] Peta Merapi disertai keterangan desa dan dusun serta radius zona aman; 5 km, 10 km, 15 km dan 20 km. | ||
* [http://www.vsi.esdm.go.id/gunungapiIndonesia/merapi/umum.html Informasi gunung di situs web Direktorat Vulkanologi Indonesia] | * [http://www.vsi.esdm.go.id/gunungapiIndonesia/merapi/umum.html Informasi gunung di situs web Direktorat Vulkanologi Indonesia] | ||
* [http://merapi.combine.or.id Jaringan Informasi Lingkar Merapi (JALIN Merapi)] | * [http://merapi.combine.or.id Jaringan Informasi Lingkar Merapi (JALIN Merapi)] | ||
* [http://www.educatedearth.net/video.php?id=4290 Film tahun 2010 letusan] | * [http://www.educatedearth.net/video.php?id=4290 Film tahun 2010 letusan] | ||
* [http://www.volcano.si.edu/world/volcano.cfm?vnum=0603-25= Informasi gunung di situs Institut Smithsonian] | * [http://www.volcano.si.edu/world/volcano.cfm?vnum=0603-25= Informasi gunung di situs Institut Smithsonian] | ||
* [http://volcano.und.nodak.edu/vwdocs/volc_images/southeast_asia/merapi.html Informasi dan gambar] | * [http://volcano.und.nodak.edu/vwdocs/volc_images/southeast_asia/merapi.html Informasi dan gambar] | ||
* [http://www.ipgp.jussieu.fr/~beaudu/merapi.html Informasi dan gambar] | * [http://www.ipgp.jussieu.fr/~beaudu/merapi.html Informasi dan gambar] | ||
== Referensi == | |||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
== | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Gunung+Merapi&oldid=29481575 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29481575 (2026-07-21T03:21:41Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 25 Agustus 2026 13.56

Gunung Merapi (; ketinggian puncak 2.930 mdpl, per 2010) adalah gunung berapi di bagian tengah Pulau Jawa dan merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia. Lereng sisi selatan berada dalam administrasi Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan sisanya berada dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Magelang di sisi barat, Kabupaten Boyolali di sisi utara dan timur, serta Kabupaten Klaten di sisi tenggara. Kawasan hutan di sekitar puncaknya menjadi kawasan Taman Nasional Gunung Merapi sejak tahun 2004.
Gunung ini memiliki potensi kebencanaan yang tinggi karena menurut catatan modern, Gunung Merapi telah mengalami erupsi setiap dua sampai lima tahun sekali dan dikelilingi oleh permukiman yang padat. Sejak tahun 1548, gunung ini sudah meletus sebanyak 68 kali. Kota Magelang dan Kota Yogyakarta adalah kota besar terdekat, berjarak kurang dari 30 km dari puncaknya. Di lerengnya masih terdapat permukiman sampai ketinggian 1.700 meter dan hanya berjarak empat kilometer dari puncak. Oleh karena tingkat kepentingannya ini, Merapi menjadi salah satu dari enam belas gunung api dunia yang termasuk dalam proyek Gunung Api Dekade Ini (Decade Volcanoes).[1]
Etimologi
Nama "Merapi" berasal dari penyingkatan "meru" () dan "api", sehingga nama "merapi" sebenarnya sudah berarti "gunung api". Dalam naskah lama, Merapi pernah dikenal sebagai Mandrageni.[2]
Geologi
Gunung ini adalah gunung termuda dalam rangkaian gunung berapi yang mengarah ke selatan dari Gunung Ungaran, Gunung Merbabu, dan Gunung Merapi. Gunung ini terbentuk karena aktivitas di zona subduksi Lempeng Indo-Australia yang bergerak ke bawah Lempeng Eurasia menyebabkan munculnya aktivitas vulkanik di sepanjang bagian tengah Pulau Jawa. Puncak yang sekarang ini tidak ditumbuhi vegetasi karena aktivitas vulkanik yang tinggi. Puncak ini tumbuh di sisi barat daya puncak Batulawang yang lebih tua.[3]
Sejarah geologi
Proses pembentukan Gunung Merapi telah dipelajari dan dipublikasi sejak 1989 dan seterusnya.[4] Pascale-Claire Berthommier membagi perkembangan Merapi dalam empat tahap: Pra-Merapi, Merapi Tua atau Merapi Purba, Merapi Pertengahan, dan Merapi Baru (Modern).[5]
Tahap aktivitas Pra-Merapi diperkirakan berlangsung 700.000 sampai 400.000 tahun yang lalu. Periode ini menyisakan jejak Gunung Bibi (2.025 meter) yang bagiannya masih dapat dilihat di sisi timur puncak Merapi. Gunung Bibi memiliki lava yang bersifat basaltik andesit.
Tahap Merapi Tua terjadi ketika badan dasar Merapi mulai terbentuk namun belum berbentuk kerucut. Masa ini kira-kira berlangsung 60.000 – 8000 tahun lalu. Sisa-sisa aktivitas tahap ini adalah Bukit Turgo dan Bukit Plawangan di bagian selatan, yang terbentuk dari lava basaltik.
Tahap aktivitas selanjutnya, Merapi Pertengahan, berlangsung 8.000 – 2.000 tahun lalu. Tahap ini ditandai dengan terbentuknya kerucut-kerucut tinggi, yang sekarang disebut Bukit Gajahmungkur dan Batulawang, terletak di lereng utara, yang tersusun dari lava andesit. Proses pembentukan pada masa ini ditandai dengan aliran lava, Breksiasi lava, dan awan panas. Aktivitas Merapi telah bersifat erupsi efusif (lelehan) dan eksplosif. Diperkirakan juga terjadi letusan eksplosif dengan runtuhan material ke arah barat yang meninggalkan morfologi tapal kuda dengan panjang 7 km, lebar 1–2 km dengan beberapa bukit di lereng barat. Kawah Pasarbubrah (di lereng sisi utara) diperkirakan terbentuk pada masa ini. Puncak Merapi yang sekarang, Puncak Anyar ("baru"), mulai terbentuk sekitar 2.000 tahun yang lalu. Dalam perkembangannya, diketahui terjadi beberapa kali letusan eksplosif dengan VEI 4 berdasarkan pengamatan lapisan tefra.
Periode Merapi Baru (2000 tahun lalu s.d sekarang) adalah yang masih berlangsung. Pada tahap ini terbentuk kerucut puncak Merapi modern (Gunung/Puncak Anyar) di bekas kawah Pasarbubrah; proses dimulai sekitar 2000 tahun yang lalu. Tahap ini sangat aktif dan berkali-kali memengaruhi perubahan peradaban penduduk yang tinggal di sekitarnya. Karakteristik letusan sejak 1953 adalah desakan lava ke puncak kawah disertai dengan keruntuhan kubah lava secara periodik dan pelepasan awan panas (nuée ardente) yang biasanya meluncur di lereng gunung tetapi dapat pula menyembur vertikal ke atas. Letusan tipe Merapi ini secara umum tidak mengeluarkan suara ledakan tetapi desisan. Kubah puncak yang ada sampai 2010 adalah hasil proses yang berlangsung sejak letusan gas 1969.[6] Kubah ini runtuh pada letusan 2010, menimbulkan bukaan ke arah tenggara (lembah Kali Gendol dan Kali Woro).
Pakar geologi pada tahun 2006 mendeteksi adanya ruang raksasa di bawah Merapi berisi material seperti lumpur yang "secara signifikan menghambat gelombang getaran gempa bumi". Para ilmuwan memperkirakan material itu adalah magma.[7] Kantung magma ini merupakan bagian dari formasi yang terbentuk akibat menghunjamnya Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia.[8]
Wilayah administratif
Gunung Merapi termasuk dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Di Jawa Tengah, kawasan Gunung Merapi terbagi dalam Kabupaten Magelang, Kabupaten Klaten dan Kabupaten Boyolali. Sedangkan di Daerah Istimewa Yogyakarta, kawasan Gunung Merapi terbagi dalam Kabupaten Sleman.[9]
Hidrologi DAS
Puncak Merapi menjadi titik batas semu tiga daerah aliran sungai (DAS) di antaranya, DAS Solo disebelah timur, DAS Opak di sebelah selatan dan DAS Progo di sebelah barat lereng gunung tersebut, juga merupakan titik hulu terjauh bagi sub DAS Opak. DAS Solo dan DAS Progo merupakan daerah tangkapan air yang terluas cakupannya pada lereng gunung ini. DAS Solo mengalirkan alirannya dan bermuara ke pesisir utara pulau Jawa, sedangkan DAS Progo dan DAS Opak keduanya bermuara di pesisir selatan pulau Jawa, wilayah perairan Samudera Hindia.[10][11]
Gunung Merapi memiliki banyak sumber air sebagai akibat desakan uap air dari dalam bumi. Terdapat banyak aliran yang kemudian membentuk ngarai di bagian lereng dan kemudian membentuk dataran sedimen material vulkanik. Sungai-sungai ini terutama mengarah ke arah tenggara (Klaten), selatan (Yogyakarta) serta barat (Magelang), memasok air untuk daerah disekitarnya.
Sungai-sungai yang membentuk ngarai sebagai jalur pergerakan material piroklastik dan lahar; beberapa yang cukup besar dan penting adalah Kali Woro (arah tenggara, Kabupaten Klaten), Kali Gèndhol (arah selatan-tenggara, dekat perbatasan Sleman-Klaten), Kali Bebeng (selatan, Sleman, lalu bergabung dengan Kali Gèndhol), Kali Kuning (selatan, Sleman), Kali Boyong (selatan, Sleman), Kali Krasak (barat daya, Magelang), Kali Putih (barat, Magelang), dan Kali Pabelan (barat, Magelang). Terhadap sungai-sungai ini telah dibangun sistem penahan lahar berupa sabo.
Selain sungai, terdapat pula sumber-sumber air (umbul) yang menjadi tempat pemandian dan sumber pengairan persawahan.
Catatan erupsi
Sejak tahun 1768, sudah tercatat lebih dari 80 kali letusan terjadi di gunung ini. Di antara letusan tersebut, merupakan letusan besar (VEI ≥ 3) yaitu periode abad ke-19 (letusan tahun 1768, 1822, 1849, 1872) dan periode abad ke-20 yaitu 1930-1931. Erupsi abad ke-19 intensitas letusannya relatif lebih besar, sedangkan letusan abad ke-20 frekuensinya lebih sering. Kemungkinan letusan besar terjadi sekali dalam 100 tahun.[12] Erupsi abad ke-19 jauh lebih besar dari letusan abad ke-20, di mana awan panas mencapai 20 kilometer dari puncak. Aktivitas Merapi pada abad ke-20 terjadi minimal 28 kali letusan, di mana letusan terbesar terjadi pada tahun 1931. Sudah tiga perempat abad tidak terjadi letusan besar.
Letusan besar bisa bersifat eksplosif dan jangkauan awan panas mencapai 15 kilometer. Letusan gunung ini sejak 1872-1931 mengarah ke barat-barat laut. Namun, sejak letusan besar 1930-1931, arah letusan dominan ke barat daya sampai dengan letusan 2001. Kecuali pada letusan 1994, terjadi penyimpangan ke arah selatan yaitu ke hulu Kali Boyong, terletak antara bukit Turgo dan Plawangan. Erupsi terakhir pada 2006, terjadi perubahan arah dari barat daya ke arah tenggara, dengan membentuk bukaan kawah yang mengarah ke Kali Gendol.
Letusan-letusan kecil terjadi tiap 2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Letusan-letusan Merapi yang dampaknya besar tercatat pada tahun 1006 (dugaan), 1786, 1822, 1872, dan 1930. Letusan pada tahun 1006 membuat seluruh bagian tengah Pulau Jawa diselubungi abu, berdasarkan pengamatan timbunan debu vulkanik.[13] Ahli geologi Belanda, Rein van Bemmelen, berteori bahwa letusan tersebutlah yang menyebabkan pusat Kerajaan Medang (Mataram Kuno) harus berpindah ke Jawa Timur. Letusan pada tahun 1872 dianggap sebagai letusan terkuat dalam catatan era modern geologi dengan skala VEI mencapai 3 sampai 4. Letusan besar 2010 diperkirakan juga memiliki kekuatan yang mendekati atau sama. Letusan tahun 1930, yang menghancurkan tiga belas desa dan menewaskan 1400 orang, merupakan letusan dengan catatan korban terbesar hingga sekarang.
Letusan pada tanggal 22 November 1994 menyebabkan beberapa desa di lereng gunung terkena awan sehingga memakan korban sebanyak 60 jiwa manusia.[14][15]
Pada 19 Juli 1998 terjadi letusan cukup besar namun material vulkanik yang dikeluarkan mengarah ke atas sehingga tidak memakan korban jiwa.[16]
Pada tahun 2001 sampai 2003, tercatat aktivitas tinggi yang berlangsung terus-menerus tanpa disertai erupsi ledakan tetapi membentuk kubah lava.
Gunung Merapi kembali beraktivitas tinggi pada tahun 2006 dengan terus-menerus meluncurkan awan panas yang memaksa warga yang bertempat tinggal di lereng Merapi mengungsi. Aktivitas ini sempat menelan dua nyawa sukarelawan di kawasan Kaliadem dekat kediaman juru kunci Gunung Merapi, Mbah Maridjan. Mereka terkena terjangan awan panas meskipun keduanya sempat berlindung di dalam bunker bawah tanah.
Semua catatan ini membentuk apa yang disebut sebagai letusan "tipe Merapi", yaitu aktivitas tinggi yang cukup lama disertai dengan luncuran aliran piroklastik atau wedhus gèmbèl — istilah bahasa Jawa yang berarti "domba yang berbulu lebat" — berulang-ulang yang biasanya meluncur ke lereng gunung dengan kecepatan dan tenaga tinggi, sehingga membahayakan warga di lereng gunung tersebut.
Rangkaian letusan pada bulan Oktober dan November 2010 dievaluasi sebagai yang terbesar sejak letusan 1872.[17] dan memakan korban nyawa 273 orang (per 17 November 2010),[18] meskipun telah dijalankan pengamatan yang intensif, mitigasi, serta manajemen pengungsian yang cukup tertata. Letusan 2010 juga teramati sebagai penyimpangan dari letusan "tipe Merapi" karena bersifat eksplosif disertai suara ledakan dan gemuruh yang terdengar hingga jarak 20–30 km.
Karena potensi bahayanya, gunung ini dimonitor tanpa jeda oleh Pusat Pengamatan Gunung Merapi (di bawah Badan Geologi, PVMBG) di Kota Yogyakarta melalui lima (hingga 2019) pos pengamatan visual (dengan CCTV) dan pencatat kegempaan (Pengamatan Gunungapi Merapi, PGM). Pos-pos ini juga memonitor data dari berbagai instrumen geofisika telemetri yang sensornya ditempatkan di sekitar gunung dan titik-titik jauh sebagai pembanding aktivitas vulkanik dengan tektonik.
Lima pos PGM yang berfungsi adalah
- Kaliurang (sisi selatan; Padukuhan Kaliurang Timur, Kalurahan Hargobinangun, Kapanéwon Pakem, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, alt. +858 m; menggantikan Pos Plawangan yang ditutup sejak 2006)
- Ngepos (sisi barat daya; Dusun Ngepos, Desa Ngablak, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah +603,4 m)
- Babadan (sisi barat laut; Desa Krinjing, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah)
- Jrakah (sisi utara–barat laut; Desa Jrakah, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah)
- Selo (sisi utara; Desa Selo, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah)
Selain lima pos tersebut, terdapat pos pemantauan di Desa Balerante, Kemalang, Klaten (dusun Gondang, sisi tenggara) yang didirikan oleh BPBD Jawa Tengah.
Sebanyak 30 stasiun seismik[19] telemetrik dan 35 kamera/CCTV pemantau (dua di antaranya kamera termal) telah dipasang BPPTKG Yogyakarta untuk memonitor aktivitas vulkanik Merapi.[20] Stasiun seismik terdekat berada di Pasarbubrah dan yang terjauh di Imogiri. Delapan titik stasiun seismik terdekat dari puncak gunung berada di Juranggrawah (GRA), Klatakan (KLS), Pasarbubrah (PAS), Pusunglondon (PUS), Labuhan (LAB), Jurangjero (JRO), Deles (DEL), dan Plawangan (PLA). Seismometer telemetrik untuk aktivitas tektonik ditempatkan di Imogiri (IMO), Pacitan (PCJI), Wanagama (UGM), Bungbulang (BBJI), dan Jajag (JAGI). Aktivitas tinggi di titik pengukur vulkanik jika tidak disertai aktivitas tinggi di titik pengukur tektonik menandakan adanya aktivitas kegempaan vulkanik oleh Merapi. BPPTKG juga menggunakan dron kamera dan pemanfaatan citra satelit untuk melakukan fotogrametri, menggunakan teknologi Interferometric Synthetic-Aperture Radar (InSAR) dan Electronic-Distance Measurement (EDM).
Sisi timur gunung ini tidak diamati karena dianggap relatif aman akibat adanya punggungan Puncak Bibi yang terbentuk pada era pra-Merapi.
Erupsi 2006
Pada bulan April dan Mei 2006, mulai muncul tanda-tanda bahwa Merapi akan meletus kembali, ditandai dengan gempa-gempa dan deformasi. Pemerintah daerah Jawa Tengah dan DI Yogyakarta sudah mempersiapkan upaya-upaya evakuasi. Instruksi juga sudah dikeluarkan oleh kedua pemda tersebut agar penduduk yang tinggal di dekat Merapi segera mengungsi ke tempat-tempat yang telah disediakan.
Pada tanggal 15 Mei 2006 akhirnya Merapi meletus. Lalu pada 4 Juni, dilaporkan bahwa aktivitas Gunung Merapi telah melampaui status awas. Kepala BPPTK Daerah Istimewa Yogyakarta, Ratdomo Purbo menjelaskan bahwa sekitar 2-4 Juni volume lava di kubah Merapi sudah mencapai 4 juta meter kubik - artinya lava telah memenuhi seluruh kapasitas kubah Merapi sehingga tambahan semburan lava terbaru akan langsung keluar dari kubah Merapi.
Tanggal 1 Juni, Hujan abu vulkanik dari luncuran awan panas Gunung Merapi yang lebat, tiga hari belakangan ini terjadi di Kota Magelang dan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Muntilan sekitar 14 kilometer dari Puncak Merapi, paling merasakan hujan abu ini.[21]
Tanggal 8 Juni, Gunung Merapi pada pukul 09.03 WIB meletus dengan semburan awan panas yang membuat ribuan warga di wilayah lereng Gunung Merapi panik dan berusaha melarikan diri ke tempat aman. Tercatat terjadi dua letusan, letusan kedua terjadi sekitar pukul 09.40 WIB. Semburan awan panas sejauh 5 km lebih mengarah ke hulu Kali Gendol (lereng selatan) dan menghanguskan sebagian kawasan hutan di utara Kaliadem di wilayah Kabupaten Sleman.[22]
Letusan Merapi pada tahun 2006 ini menelan setidaknya 2 orang korban jiwa.[23]
Erupsi 2010
Peningkatan status dari "normal aktif" menjadi "waspada" pada tanggal 20 September 2010 direkomendasi oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta. Setelah sekitar satu bulan, pada tanggal 21 Oktober status berubah menjadi "siaga" sejak pukul 18.00 WIB. Pada tingkat ini kegiatan pengungsian sudah harus dipersiapkan. Karena aktivitas yang semakin meningkat, ditunjukkan dengan tingginya frekuensi gempa multifase dan gempa vulkanik, sejak pukul 06.00 WIB tangggal 25 Oktober BPPTK Yogyakarta merekomendasi peningkatan status Gunung Merapi menjadi "awas" dan semua penghuni wilayah dalam radius 10 km dari puncak harus dievakuasi dan diungsikan ke wilayah aman.
Erupsi pertama terjadi sekitar pukul 17.02 WIB tanggal 26 Oktober. Sedikitnya terjadi hingga tiga kali letusan. Letusan menyemburkan material vulkanik setinggi kurang lebih 1,5 km dan disertai keluarnya awan panas yang menerjang Kaliadem, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman.[24] dan menelan korban 43 orang, ditambah seorang bayi dari Magelang yang tewas karena gangguan pernapasan.
Sejak saat itu mulai terjadi muntahan awan panas secara tidak teratur. Mulai 28 Oktober, Gunung Merapi memuntahkan lava pijar yang muncul hampir bersamaan dengan keluarnya awan panas pada pukul 19.54 WIB.[25] Selanjutnya mulai teramati titik api diam di puncak pada tanggal 1 November, menandai fase baru bahwa magma telah mencapai lubang kawah.
Namun, berbeda dari karakter Merapi biasanya, bukannya terjadi pembentukan kubah lava baru, malah yang terjadi adalah peningkatan aktivitas semburan lava dan awan panas sejak 3 November. Erupsi eksplosif berupa letusan besar diawali pada pagi hari Kamis, 4 November 2010, menghasilkan kolom awan setinggi 4 km dan semburan awan panas ke berbagai arah di kaki Merapi. Selanjutnya, sejak sekitar pukul tiga siang terjadi letusan yang tidak henti-hentinya hingga malam hari dan mencapai puncaknya pada dini hari Jumat 5 November 2010. Menjelang tengah malam, radius bahaya untuk semua tempat diperbesar menjadi 20 km dari puncak. Rangkaian letusan ini serta suara gemuruh terdengar hingga Kota Yogyakarta (jarak sekitar 27 km dari puncak), Kota Magelang, dan pusat Kabupaten Wonosobo (jarak 50 km). Hujan kerikil dan pasir mencapai Kota Yogyakarta bagian utara, sedangkan hujan abu vulkanik pekat melanda hingga Purwokerto dan Cilacap. Pada siang harinya, debu vulkanik diketahui telah mencapai Tasikmalaya, Bandung,[26] dan Bogor.[27]
Bahaya sekunder berupa aliran lahar dingin juga mengancam kawasan lebih rendahsetelah pada tanggal 4 November terjadi hujan deras di sekitar puncak Merapi. Pada tanggal 5 November Kali Code di kawasan Kota Yogyakarta dinaikkan statusnya menjadi "awas" (red alert).[28][29]
Letusan kuat 5 November diikuti oleh aktivitas tinggi selama sekitar seminggu, sebelum kemudian terjadi sedikit penurunan aktivitas, tetapi status keamanan tetap "Awas". Pada tanggal 15 November 2010 batas radius bahaya untuk Kabupaten Magelang dikurangi menjadi 15 km dan untuk dua kabupaten Jawa Tengah lainnya menjadi 10 km. Hanya bagi Kab. Sleman yang masih tetap diberlakukan radius bahaya 20 km.[30]
Aktivitas 2018-2021
Peningkatan aktivitas vulkanik kembali ditunjukan gunung ini sejak Jumat, 11 Mei 2018, pukul 07.30 WIB. Meski berstatus normal, Gunung Merapi mengeluarkan suara gemuruh disertai asap membumbung tinggi.[31] Letusan tipe freatik (hembusan) ini memunculkan asap setinggi hingga 5.500 meter vertikal. Erupsi ini disaksikan dalam jarak dekat oleh pendaki yang masih berada di areal Pasarbubrah dan terdokumentasi dalam video di media sosial. Tak ada laporan pendaki yang meninggal dunia. Kawasan Pasarbubrah adalah tempat para pendaki Merapi biasa menginap dan memasang tenda sebelum mendaki ke puncak. Hujan abu tipis jatuh di wilayah lereng barat.
Sejak peristiwa itu, PPGM mulai memantau aktivitas Merapi yang terus meningkat, sehingga pada tanggal 21 Mei 2018, pukul 23.00 WIB status Merapi dinaikkan dari normal aktif menjadi waspada.[32] Status ini tidak pernah diturunkan setelahnya, yang berakibat ditutupnya akses pendakian ke Gunung Merapi.
Kamis, 24 Mei 2018, gunung Merapi kembali erupsi dengan menyemburkan asap setinggi 6.000 meter. Hujan abu mengguyur wilayah barat gunung yaitu Kabupaten Magelang bahkan sampi ke Kabupaten Kebumen yang berjarak lebih dari 40 kilometer.[33] Gunung Merapi kembali erupsi pada Jumat, 1 Juni 2018 pada pukul 08.20 WIB dengan durasi 2 menit. Menurut BPPTKG, kolom letusan gunung Merapi sekitar 6.000 meter dari puncak, atau sekitar 8.968 meter di atas permukaan laut arah barat laut dan teramati dari Pos Pengamatan Jrakah. Letusan tersebut menyebabkan hujan abu di Pos Pengamatan Gunung Merapi Jrakah dan Selo. Bahkan laporan hujan abu hingga ke Salatiga dan Kabupaten Semarang.[34] Masyarakat diimbau tetap tenang dan waspada atas hujan abu dan selalu mengenakan alat pelindung diri (APD), seperti kacamata, jaket, dan masker saat berada di luar rumah.[35]
Setelah relatif stabil pada tahun 2019, pada hari Sabtu, 28 Maret 2020, pukul 19.25 WIB, gunung Merapi meletus.Pada erupsi ini, karakter letusan mulai bercampur dengan letusan eksplosif (disertai ledakan dan lontaran material besar). Pada hari Minggu, 29 Maret 2020, pukul 00.15 WIB, gunung Merapi meletus dengan tinggi kolom erupsi terukur 1500 meter di atas puncak atau 4.468 meter di atas permukaan laut. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 40 mm berdurasi kurang lebih 2 menit 30 detik.[36]
Pada 10 April 2020, pukul 09.10 WIB, gunung Merapi meletus dengan tinggi kolom erupsi terukur 3000 meter dari atas kawah puncak gunung. Erupsi tercatat di seismogram dengan amplitudo 75 mm dan durasi 103 detik. Arah angin saat erupsi ke Barat Laut.[37]
Pada 21 Juni 2020, pukul 09.13 WIB, gunung Merapi kembali meletus dengan tinggi kolom erupsi 6000 meter dari atas kawah puncak gunung. Erupsi tercatat di seismogram dengan amplitudo 75 mm dan durasi 328 detik. Saat erupsi pertama terjadi, BPPTKG memonitor arah angin menuju barat. Pada erupsi kedua, amplitudo termonitor 75 mm dan durasi 100 detik. Tinggi kolom saat erupsi kedua ini tidak teramati. Pusat Pengendali Operasi BNPB mendapatkan laporan dari BPBD setempat mengenai sebaran abu. Sebaran hujan abu vulkanik erupsi Gunung Merapi yang terpantau pada 09.56 terjadi di wilayah beberapa desa pada dua Kecamatan Srumbung (Desa Kaliurang, Kemiren, Srumbung, Banyuadem, Kalibening dan Ngargosoko) dan Kecamatan Dukun (Desa Ngargomulyo dan Keningar).[38]
Pada hari Kamis, 5 November 2020, pukul 12.00 WIB, BPPTKG meningkatkan status gunung Merapi dari Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III)[39] karena aktivitas vulkanik di Gunung Merapi diduga dapat berlanjut ke erupsi yang membahayakan masyarakat. Ini didasarkan pada kronologi data hasil pemantauan aktivitas vulkanik, yaitu pertama setelah letusan eksplosif 21 Juni 2020, kegempaan internal yaitu VA, vulkanik dangkal (VB) dan fase banyak (MP) mulai meningkat. Sejak bulan Oktober 2020 kegempaan meningkat semakin intensif. Pada 4 November 2020 rata-rata gempa VB 29 kali/hari, MP 272 kali/hari, guguran (RF) 57 kali/hari, hembusan (DG) 64 kali/hari.[40] Meskipun demikian, tidak terlihat indikasi pembentukan kubah lava yang baru. Gempa dan deformasi masih meningkat dan BPPTKG memperingatkan bahaya luncuran awan panas sejauh 5 kilometer dari puncak gunung.
Pada Laporan Aktivitas Gunung Merapi Periode Bulan November 2020 yang diterbitkan oleh BPPTKG pada 30 November 2020, mendapat kesimpulan bahwa terdapat peningkatan aktivitas vulkanik G. Merapi berupa aktivitas kegempaan internal yang mencapai 400 kali/hari, laju deformasi mencapai 11 cm/hari, konsentrasi gas CO2 pada 21 November-30 November meningkat dengan nilai maksimal 675 ppm setelah sebelumnya pada awal bulan november hingga tanggal 20 November cukup konstan berada pada 525 ppm, serta perubahan morfologi puncak akibat intensifnya aktivitas guguran. Data pemantauan ini menunjukkan proses desakan magma menuju permukaan.
Memasuki tahun 2021, aktivitas vulkanik semakin meningkat. Setelah semakin sering teramati runtuhan batuan lava sisa letusan terdahulu semakin tebalnya asap/uap putih dari puncak, pada hari Senin malam tanggal 4 Januari 2021 mulai teramati adanya titik api dan guguran material vulkanik (batu dan lava) yang berlanjut pada hari berikutnya. Pihak BPPTKG menyatakan bahwa fase erupsi telah dimulai.[41][42] Sejak itu leleran material awan panas dan runtuhan batuan semakin sering teramati dengan jarak yang semakin jauh. Pada tanggal 7 Januari 2021, Gunung Merapi mengeluarkan guguran awan panas (aliran piroklastik) dan memunculkan kolom asap setinggi 200 meter dari puncak.[43][44][45] Guguran awan panas tersebut terjadi pada pukul 8:02 WIB menimbulkan gempa vulkanik dengan amplitudo maksimum 28 mm dan berdurasi 154 detik,[46] dan pada pukul 12:50 WIB dengan amplitudo maksimum 21 mm dan berdurasi 139 detik.[47] Arah pergerakan material ke barat daya (hulu Kali Kuning sampai hulu Kali Krasak).
Aktivitas 2023
Sabtu tanggal 11 Maret 2023 pukul 12.12 WIB terjadi rentetan awan panas guguran di Gunung Merapi bersumber dari longsoran kubah lava barat daya. Hingga pukul 15.00 WIB siang ini, tercatat 21 kali awan panas guguran dengan jarak luncur maksimal kurang lebih 4 km ke arah barat daya yaitu di alur Kali Bebeng dan Krasak. Pada saat kejadian, angin di sekitar Gunung Merapi bertiup ke arah barat laut-utara. Awan panas guguran ini menyebabkan hujan abu ke beberapa tempat terutama di sisi barat laut-utara Gunung Merapi dan mencapai Kota Magelang.
Aktivitas erupsi saat ini terhitung masih tinggi; pada minggu ini guguran lava teramati sebanyak 19 kali ke arah barat daya (hulu Kali Boyong, Kali Bebeng dan Kali Sat/Putih) dengan jarak luncur maksimal 1.200 m. Suara guguran terdengar dari Pos Kaliurang dan Pos Babadan sebanyak 6 kali dengan intensitas kecil hingga sedang. Aktivitas vulkanik internal juga masih tinggi ditunjukkan oleh data seismisitas dan deformasi. Seismisitas internal seperti gempa vulkanik dalam (VTA) terjadi sebanyak 77 kejadian/hari, gempa vulkanik dangkal (VTB) 1 kejadian/hari, gempa Multifase (MP) 6 kejadian/hari, dan gempa guguran sebanyak 44 kejadian/hari. Sedangkan laju deformasi EDM RB1 sebesar 0.5 cm/hari.
Vegetasi
Gunung Merapi di bagian puncak tidak pernah ditumbuhi vegetasi karena aktivitas yang tinggi. Jenis tumbuhan di bagian teratas bertipe alpina khas pegunungan Jawa, seperti Rhododendron dan edelweis jawa. Agak ke bawah terdapat hutan bambu dan tetumbuhan pegunungan tropika. Hutan hujan tropis pegunungan di lereng selatan Merapi merupakan tempat salah satu forma anggrek endemik Vanda tricolor 'Merapi' yang langka.[48]
Lereng Merapi sisi barat daya, khususnya di bawah 1.000 m, merupakan tempat asal dua kultivar salak unggul nasional, yaitu salak 'Pondoh' dan 'Nglumut'.
Juru kunci
Karena Gunung Merapi sangat disakralkan, Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat memiliki seorang juru kunci yang bertugas menjaga gunung dan melindungi masyarakat yang tinggal di bawahnya. Seorang abdi dalem Keraton Yogyakarta ditunjuk langsung oleh Sultan untuk mengisi jabatan tersebut. Juru kunci Merapi saat ini adalah Mas Bekel Anom Suraksosihono, atau Mas Asih menggantikan ayahnya Mbah Maridjan yang meninggal dalam erupsi gunung Merapi pada tahun 2010.[49]
Rute pendakian
Gunung Merapi merupakan objek pendakian yang populer. karena gunung ini merupakan gunung yang sangat memesona. Jalur pendakian yang paling umum dan dekat adalah melalui sisi utara dari Sélo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, tepatnya di Desa Plalangan, Selo, Boyolali, Desa ini terletak di antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Pendakian melalui Selo memakan waktu sekitar 4-5 jam hingga ke puncak.
Jalur populer lain adalah melalui Kaliurang, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta di sisi selatan. Jalur ini lebih terjal dan memakan waktu sekitar 6-7 jam hingga ke puncak. Jalur alternatif yang lain adalah melalui sisi barat laut, dimulai dari Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah dan melalui sisi tenggara, dari arah Deles, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Lihat pula
- Taman Nasional Gunung Merapi.
- Daftar gunung di Indonesia
- Daftar gunung berapi di Indonesia
- Hidrologi pegunungan
Dalam budaya populer
Film
- Misteri dari Gunung Merapi: Penghuni Rumah Tua — film buatan tahun 1989 yang diperankan oleh Fendy Pradana dan Ida Iasha.
- Misteri dari Gunung Merapi II: Titisan Roh Nyai Kembang — film buatan tahun 1990 yang diperankan oleh Fendy chow dan Ida Iasha.
- Misteri dari Gunung Merapi III: Perempuan Berambut Api — film buatan tahun 1990 yang diperankan oleh Chatarinawati dan Fendy Pradana.
Serial televisi
- Misteri Gunung Merapi — Tayang di Indosiar, Produksi Genta Buana Pitaloka tahun 1998-2005. Dibagi dalam tiga musim, yakni musim pertama pada 1998—1999, musim kedua pada 1999—2000, dan musim terakhir pada 2000—2005, diperankan oleh Farida Pasha dan Marcelino.
- Dendam dari Gunung Merapi — Tayang di Trans7, Produksi Genta Buana Paramita tahun 2015
- Misteri Gunung Merapi — Tayang di MNCTV, Produksi MNC Pictures dan Genta Buana Paramita tahun 2018
Novel
- Novel Misteri dari Gunung Merapi I (Hutan Larangan) - Asmadi Sjafar, Penerbit Elex Media Komputindo,2000
- Novel Misteri dari Gunung Merapi II (Harimau Siluman) - Asmadi Sjafar, Penerbit Elex Media Komputindo & Kelompok Gramedia,2000
- Novel Misteri dari Gunung Merapi III (Pengantin Lembah Hantu) - Asmadi Sjafar, Penerbit Elex Media Komputindo & Kelompok Gramedia,2000
Galeri
Foto-foto terbaru
Panorama dari lembah Merapi (by;assyaiban), 17 September 2024, Kabupaten Magelang.
Foto-foto setelah erupsi 2006
Dokumentasi Tropenmuseum
Foto-foto lain
Pranala luar
- Peta gunung merapi Peta Merapi disertai keterangan desa dan dusun serta radius zona aman; 5 km, 10 km, 15 km dan 20 km.
- Informasi gunung di situs web Direktorat Vulkanologi Indonesia
- Jaringan Informasi Lingkar Merapi (JALIN Merapi)
- Film tahun 2010 letusan
- Informasi gunung di situs Institut Smithsonian
- Informasi dan gambar
- Informasi dan gambar
Referensi
- ↑ Laman Decade Volcanoes.
- ↑ Rendra Agusta. I SAKALA DIHYANG: RELASI PRASASTI AKHIR MAJAPAHIT DAN NASKAH-NASKAH MERAPI-MERBABU. Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara. 2019-08-07. Vol. 9 (2). hlm. 49–68. doi:10.37014/jumantara.v9i2.243.
- ↑ DESCRIPTION:Indonesia Volcanoes and Volcanics . Laman USGeological Survey.
- ↑ Sejarah Merapi menurut Badan Geologi.
- ↑ Berthommier, P., 1990. Etude volcanologique du Merapi (Centre-Java): Te´phrostratigraphic et Chronologie—produits eruptifs. PhD thesis, Universite´ Blaise Pascal, 216 pp.
- ↑ DESCRIPTION:Indonesia Volcanoes and Volcanics . Laman USGeological Survey.
- ↑ Axel Bojanowski. Riesige Magmamenge. Geologen warnen vor Mega-Eruption des Merapi . Spiegel Online edisi 05 November 2010.
- ↑ Diagram pola pembentukan ruang magma hipotetik di bawah Merapi.
- ↑ Saparita, R., dkk. Menghadapi Bencana, Mengubah Masa Depan: Transformasi Sistem Penghidupan yang Tangguh. Penerbit BRIN. Oktober 2024. hlm. 31. ISBN 978-602-6303-37-0.
- ↑ Peta Interaktif. Geoportal MenLHK.
- ↑ Hukum Online. Keputusan Menteri Kehutanan No. SK.511/MENHUT-V/2011.
- ↑ Muh. Syaifullah (). Gunung Merapi Meletus Lagi, Kolom Erupsi Tiga Kilometer. Tempo.co. 2020-04-10.
- ↑ A history of Merapi.
- ↑ Luthfia Ayu Azanella. INFOGRAFIK: Riwayat Letusan Merapi Sejak 1990-an. Kompas.com. 2018-05-11.
- ↑ Iswara N. Raditya. Akhir Cerita Antara Mbah Maridjan dan Merapi. Tirto.id.
- ↑ Iswara N. Raditya. Akhir Cerita Antara Mbah Maridjan dan Merapi. Tirto.id.
- ↑ Laporan aktivitas Gn Merapi tanggal 5 November 2010 pukul 00:00 sampai dengan pukul 06:00 WIB Jumat, 05 November 2010 08:05
- ↑ Laporan situasi dari BPNB per 17 November 2010
- ↑ Magma Merapi Hampir Mencapai Puncak. Tribun Jogja (cetak). 5 Desember 2020.
- ↑ Maruti Asmaul Husna. Puncak Gunung Merapi Alami Pemekaran Sebesar 4 Meter, Magma Mendekat ke Permukaan. Tribunnews.com. 29 November 2020.
- ↑ Salinan arsip.
- ↑ [1] [2]
- ↑ Sejarah Letusan Merapi, Perbedaan Erupsi pada 2006 dan 2010. Tirto.id.
- ↑ Salinan arsip.
- ↑ Salinan arsip.
- ↑ Ismoko Widjaya. Abu Merapi di Bandung Berbahaya . vivanews.com. Jum'at, 5 November 2010, 20:45 WIB
- ↑ Rachmadin Ismail. Hujan Abu Merapi Sampai Lido Bogor. detikNews. Jumat, 05/11/2010 19:29 WIB
- ↑ Kali Code Kritis, Warga Diperintahkan Menyingkir . Tempointeraktif.com Jum'at, 05 November 2010 | 18:23 WIB
- ↑ Banjir Lahar Dingin di Code. Kompas.com. 2010-11-07.
- ↑ Fajar Pratama. BNPB: Jumlah Korban Tewas Merapi 275 Orang . detikNews. Edisi Kamis, 18/11/2010.
- ↑ Merapi Bergemuruh dan Keluarkan Asap Putih Tinggi Pagi Ini.
- ↑ Status Gunung Merapi Dinaikkan Jadi Waspada.
- ↑ Hujan Abu Vulkanik Merapi Sampai ke Kebumen dan Purworejo.
- ↑ Hujan Abu Gunung Merapi Guyur Perbatasan Kabupaten Semarang.
- ↑ Wijaya Kusuma. Merapi Kembali Meletus dengan Tinggi Kolom 6.000 Meter. Kompas.com. Kompas. 1 Juni 2018.
- ↑ Mela Arnani. Erupsi Merapi dan Sejarah Letusannya. Kompas.com. 2020-03-29.
- ↑ Muh. Syaifullah (). Gunung Merapi Meletus Lagi, Kolom Erupsi Tiga Kilometer. Tempo.co. 2020-04-10.
- ↑ Dob. Tiba-tiba, Merapi Meletus dan Lontarkan Abu Setinggi 6 KM. CNBC Indonesia. 2020-06-21.
- ↑ Status Gunung Merapi Naik Jadi Siaga! , detik.news
- ↑ Pythag Kurniati, 7 Fakta Status Gunung Merapi Naik Jadi Siaga, Kondisi, Ancaman Bahaya hingga Mitigasi Bencana , Kompas.com
- ↑ Gunung Merapi Fase Erupsi, Keluarkan Lava Pijar. CNN Indonesia. Rabu, 06 Jan 2021.
- ↑ Pribadi Wicaksono (). Gunung Merapi Masuk Fase Erupsi, BPPTKG: Erupsi Eksplosif Bisa Setiap Saat. Tempo.co. 6 Jan 2021.
- ↑ Jauh Hari Wawan S. Gunung Merapi Erupsi Pagi Ini, Muntahkan Awan Panas. detikcom. 2021-01-07.
- ↑ Riyadi Slamet. Indonesia's Merapi volcano spews hot clouds, 500 evacuate. AP NEWS. 2021-01-07.
- ↑ Retia Kartika Dewi. Awan Panas di Gunung Merapi, Simak Penjelasan BPPTKG. Kompas.com.
- ↑ Jauh Hari Wawan S. Gunung Merapi Erupsi Pagi Ini, Muntahkan Awan Panas. detikcom. 2021-01-07.
- ↑ Retia Kartika Dewi. Awan Panas di Gunung Merapi, Simak Penjelasan BPPTKG. Kompas.com.
- ↑ Metusala D. Melirik Konservasi Anggrek Vanda tricolor di Merapi . Dirilis 20 Juli 2006. Diakses 9 Agustus 2015.
- ↑ Putra Mbah Maridjan Jadi Juru Kunci Merapi. VIVA.co.id. 2011-04-03.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29481575 (2026-07-21T03:21:41Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.