Paradoks Peto: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29574052; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Paradoks Peto''' adalah hasil pengamatan yang menyatakan bahwa insiden [[kanker]] di tingkat spesies tidak berkorelasi dengan jumlah [[sel]] dalam suatu organisme. Sebagai contoh, insiden kanker pada manusia jauh lebih tinggi daripada [[paus]], padahal paus punya jauh lebih banyak sel daripada manusia akibat besar tubuhnya. Hal ini bertentangan dengan asumsi bahwa paus seharusnya lebih sering terkena kanker jika kemungkinan [[karsinogenesis]] itu sama untuk semua sel organisme. Pengamatan ini pertama kali dicetuskan oleh seorang pakar epidemiologi statistik dari [[Universitas Oxford]] yang bernama [[Richard Peto]] pada tahun 1977. | '''Paradoks Peto''' adalah hasil pengamatan yang menyatakan bahwa insiden [[kanker]] di tingkat spesies tidak berkorelasi dengan jumlah [[sel]] dalam suatu organisme.<ref>R. Peto. ''Cancer and ageing in mice and men''. ''British Journal of Cancer''. October 1975. Vol. 32 (4). hlm. 411–426. doi:10.1038/bjc.1975.242.</ref> Sebagai contoh, insiden kanker pada manusia jauh lebih tinggi daripada [[paus]], padahal paus punya jauh lebih banyak sel daripada manusia akibat besar tubuhnya.<ref>John D. Nagy. [https://archive.org/details/sim_integrative-and-comparative-biology_2007-08_47_2/page/317 Why don't all whales have cancer? A novel hypothesis resolving Peto's paradox]. ''Integrative and Comparative Biology''. 2007. Vol. 47 (2). hlm. 317–328. doi:10.1093/icb/icm062.</ref> Hal ini bertentangan dengan asumsi bahwa paus seharusnya lebih sering terkena kanker jika kemungkinan [[karsinogenesis]] itu sama untuk semua sel organisme. Pengamatan ini pertama kali dicetuskan oleh seorang pakar epidemiologi statistik dari [[Universitas Oxford]] yang bernama [[Richard Peto]] pada tahun 1977.<ref>Richard Nunney. ''The real war on cancer: the evolutionary dynamics of cancer suppression''. ''Evolutionary Applications''. January 2013. Vol. 6 (1). hlm. 11–19. doi:10.1111/eva.12018.</ref> | ||
== Bukti == | == Bukti == | ||
Pada suatu spesies, tampaknya risiko kanker dan besar tubuh itu berkorelasi secara positif. Sebagai contoh, hasil penelitian selama 25 tahun terhadap 17.738 pegawai negeri laki-laki [[Britania Raya]] (yang diterbitkan tahun 1998) menunjukkan korelasi positif antara tinggi tubuh dengan insiden kanker. Namun, korelasi ini tidak berlaku di tingkat spesies. Hasil penelitian dari tahun 2015 yang mengkaji data [[nekropsi]] dari 36 spesies mamalia di [[Kebun Binatang San Diego]] (dari [[tikus zebra]] yang bermassa 51 gram hingga [[gajah]] yang bermassa 4.800 kg) tidak menemukan korelasi antara besar tubuh dengan insiden kanker. | Pada suatu spesies, tampaknya risiko kanker dan besar tubuh itu berkorelasi secara positif.<ref>Aleah Caulin. ''Peto's Paradox: Evolution's Prescription for Cancer Prevention''. ''Trends in Ecology and Evolution''. April 2011. Vol. 26 (4). hlm. 175–182. doi:10.1016/j.tree.2011.01.002.</ref> Sebagai contoh, hasil penelitian selama 25 tahun terhadap 17.738 pegawai negeri laki-laki [[Britania Raya]] (yang diterbitkan tahun 1998) menunjukkan korelasi positif antara tinggi tubuh dengan insiden kanker.<ref>George Smith. ''Height and mortality from cancer among men: prospective observational study''. ''BMJ''. 14 November 1998. Vol. 317 (7169). hlm. 1351–1352. doi:10.1136/bmj.317.7169.1351.</ref> Namun, korelasi ini tidak berlaku di tingkat spesies. Hasil penelitian dari tahun 2015 yang mengkaji data [[nekropsi]] dari 36 spesies mamalia di [[Kebun Binatang San Diego]] (dari [[tikus zebra]] yang bermassa 51 gram hingga [[gajah]] yang bermassa 4.800 kg) tidak menemukan korelasi antara besar tubuh dengan insiden kanker.<ref>Joshua Schiffman. ''Potential Mechanisms for Cancer Resistance in Elephants and Comparative Cellular Response to DNA Damage in Humans''. ''JAMA''. 8 October 2015. Vol. 314 (17). hlm. 1850–60. doi:10.1001/jama.2015.13134.</ref> | ||
== Daftar pustaka == | == Daftar pustaka == | ||
* | * | ||
== Referensi == | |||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | == Sumber dan atribusi == | ||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Paradoks+Peto&oldid=29574052 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29574052 (2026-08-14T00:39:27Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Paradoks+Peto&oldid=29574052 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29574052 (2026-08-14T00:39:27Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 25 Agustus 2026 23.09
Paradoks Peto adalah hasil pengamatan yang menyatakan bahwa insiden kanker di tingkat spesies tidak berkorelasi dengan jumlah sel dalam suatu organisme.[1] Sebagai contoh, insiden kanker pada manusia jauh lebih tinggi daripada paus, padahal paus punya jauh lebih banyak sel daripada manusia akibat besar tubuhnya.[2] Hal ini bertentangan dengan asumsi bahwa paus seharusnya lebih sering terkena kanker jika kemungkinan karsinogenesis itu sama untuk semua sel organisme. Pengamatan ini pertama kali dicetuskan oleh seorang pakar epidemiologi statistik dari Universitas Oxford yang bernama Richard Peto pada tahun 1977.[3]
Bukti
Pada suatu spesies, tampaknya risiko kanker dan besar tubuh itu berkorelasi secara positif.[4] Sebagai contoh, hasil penelitian selama 25 tahun terhadap 17.738 pegawai negeri laki-laki Britania Raya (yang diterbitkan tahun 1998) menunjukkan korelasi positif antara tinggi tubuh dengan insiden kanker.[5] Namun, korelasi ini tidak berlaku di tingkat spesies. Hasil penelitian dari tahun 2015 yang mengkaji data nekropsi dari 36 spesies mamalia di Kebun Binatang San Diego (dari tikus zebra yang bermassa 51 gram hingga gajah yang bermassa 4.800 kg) tidak menemukan korelasi antara besar tubuh dengan insiden kanker.[6]
Daftar pustaka
Referensi
- ↑ R. Peto. Cancer and ageing in mice and men. British Journal of Cancer. October 1975. Vol. 32 (4). hlm. 411–426. doi:10.1038/bjc.1975.242.
- ↑ John D. Nagy. Why don't all whales have cancer? A novel hypothesis resolving Peto's paradox. Integrative and Comparative Biology. 2007. Vol. 47 (2). hlm. 317–328. doi:10.1093/icb/icm062.
- ↑ Richard Nunney. The real war on cancer: the evolutionary dynamics of cancer suppression. Evolutionary Applications. January 2013. Vol. 6 (1). hlm. 11–19. doi:10.1111/eva.12018.
- ↑ Aleah Caulin. Peto's Paradox: Evolution's Prescription for Cancer Prevention. Trends in Ecology and Evolution. April 2011. Vol. 26 (4). hlm. 175–182. doi:10.1016/j.tree.2011.01.002.
- ↑ George Smith. Height and mortality from cancer among men: prospective observational study. BMJ. 14 November 1998. Vol. 317 (7169). hlm. 1351–1352. doi:10.1136/bmj.317.7169.1351.
- ↑ Joshua Schiffman. Potential Mechanisms for Cancer Resistance in Elephants and Comparative Cellular Response to DNA Damage in Humans. JAMA. 8 October 2015. Vol. 314 (17). hlm. 1850–60. doi:10.1001/jama.2015.13134.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29574052 (2026-08-14T00:39:27Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.