Interaksi sosial asosiatif: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 27932709; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Interaksi sosial asosiatif''' merupakan salah satu bentuk proses [[interaksi sosial]]. Proses interaksi sosial asosiatif akan membawa seseorang menuju proses [[hubungan sosial]] yang positif di lingkungan [[masyarakat]]. Hubungan positif yang dimaksudkan yaitu bersifat mempersatukan dan menghasilkan keteraturan dan [[dinamika sosial]]. Kemudian yang dinamakan proses asosiatif yaitu proses yang di dalamnya terdapat [[realitas sosial]] anggotanya dalam keadaan harmoni sehingga mengarah pada pola kerja sama yang baik. Oleh karena itu, interaksi sosial asosiatif ini mengarah pada proses keharmonisan dalam suatu hubungan, dengan bentuk kerjasama, upaya untuk penyelesaian konflik, dan upaya mengurangi perbedaan. | '''Interaksi sosial asosiatif''' merupakan salah satu bentuk proses [[interaksi sosial]]. Proses interaksi sosial asosiatif akan membawa seseorang menuju proses [[hubungan sosial]] yang positif di lingkungan [[masyarakat]]. Hubungan positif yang dimaksudkan yaitu bersifat mempersatukan dan menghasilkan keteraturan dan [[dinamika sosial]]. Kemudian yang dinamakan proses asosiatif yaitu proses yang di dalamnya terdapat [[realitas sosial]] anggotanya dalam keadaan harmoni sehingga mengarah pada pola kerja sama yang baik. Oleh karena itu, interaksi sosial asosiatif ini mengarah pada proses keharmonisan dalam suatu hubungan, dengan bentuk kerjasama, upaya untuk penyelesaian konflik, dan upaya mengurangi perbedaan.<ref>Soerjono Soekanto. [https://www.worldcat.org/oclc/950520043 Sosiologi : suatu pengantar]. Rajawali Pers. 2010. hlm. 64-71. ISBN 979-421-009-9.</ref> | ||
== Tahapan proses-proses asosiatif == | == Tahapan proses-proses asosiatif == | ||
Interaksi sosial asosiatif merupakan [[interaksi sosial]] yang bersifat mendekatkan. Interaksi untuk mendekatkan ini dapat dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yaitu sebagai berikut. | Interaksi sosial asosiatif merupakan [[interaksi sosial]] yang bersifat mendekatkan.<ref>Soerjono Soekanto. [https://www.worldcat.org/oclc/950520043 Sosiologi : suatu pengantar]. Rajawali Pers. 2010. hlm. 64-71. ISBN 979-421-009-9.</ref> Interaksi untuk mendekatkan ini dapat dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yaitu sebagai berikut. | ||
# Memulai | # Memulai | ||
# Menjajaki | # Menjajaki | ||
# Meningkatkan | # Meningkatkan | ||
# Menyatupadukan | # Menyatupadukan | ||
# Memperlihatkan | # Memperlihatkan | ||
| Baris 13: | Baris 13: | ||
Interaksi sosial asosiatif terbagi atas empat bentuk, yaitu: | Interaksi sosial asosiatif terbagi atas empat bentuk, yaitu: | ||
# [[Kerja sama]], merupakan suatu usaha yang dilakukan antar [[individu]] dalam suatu kelompok atau usaha dalam suatu kelompok dengan kelompok lainnya, untuk mencapai tujuan bersama. Kerja sama dapat terbentuk atau dicapai ketika masyarakat menyadari bahwa mereka sama-sama memiliki kepentingan sehingga sepakat untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan. Kerja sama memiliki bentuk yang dikategorikan menjadi beberapa jenis, yaitu kerukunan ([[Gotong royong|gotong-royong]]), [[tawar menawar]] (pelaksanaan perjanjian pertukaran barang/jasa), [[Ko-opsi|koopsi]] (penerimaan unsur baru kepemimpinan), [[koalisi]] (kombinasi dua kelompok yang memiliki tujuan), [[perusahaan patungan]] (kerja sama dalam proyek-proyek pengusahaan). | # [[Kerja sama]], merupakan suatu usaha yang dilakukan antar [[individu]] dalam suatu kelompok atau usaha dalam suatu kelompok dengan kelompok lainnya, untuk mencapai tujuan bersama.<ref>Dirk Veplun. [https://www.worldcat.org/oclc/934937924 Dinamika interaksi sosial dan integrasi budaya : antara komunitas migran dan lokal di Distrik Wanggar, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua]. BPNB PAPUA. 2013. hlm. 20. ISBN 978-602-1228-07-4.</ref> Kerja sama dapat terbentuk atau dicapai ketika masyarakat menyadari bahwa mereka sama-sama memiliki kepentingan sehingga sepakat untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan.<ref>Haryanto Dany. ''Pengantar Sosiologi Dasar''. Prestasi Pustaka Raya. 2011. hlm. 67. ISBN 978-602-8963-24-4.</ref> Kerja sama memiliki bentuk yang dikategorikan menjadi beberapa jenis, yaitu kerukunan ([[Gotong royong|gotong-royong]]), [[tawar menawar]] (pelaksanaan perjanjian pertukaran barang/jasa), [[Ko-opsi|koopsi]] (penerimaan unsur baru kepemimpinan), [[koalisi]] (kombinasi dua kelompok yang memiliki tujuan), [[perusahaan patungan]] (kerja sama dalam proyek-proyek pengusahaan).<ref>Abdulsyani. [https://www.worldcat.org/oclc/958842448 Sosiologi : skematika, teori dan terapan]. Bumi Aksara. 2007. hlm. 156. ISBN 979-526-179-7.</ref> | ||
# [[Akomodasi (psikologi)|Akomodasi]] , merupakan suatu keadaan di mana terdapat interaksi antar individu atau kelompok yang menyelaraskan peran [[nilai sosial]] dan [[norma sosial]] yang berlaku dalam ringkup masyarakat. Bentuk akomodasi ini juga digunakan untuk mengurangi, mencegah, mengatasi ketegangan dan kekacauan dalam suatu kelompok masyarakat. Proses akomodasi sendiri dapat dibedakan menjadi beberapa bentuk, yaitu [[paksaan]], [[kompromi]], [[mediasi]], [[ajudikasi]] (peradilan), jalan buntu, [[toleransi]], dan [[Penyelesaian konflik|konsiliasi]] ([[perdamaian]]). | # [[Akomodasi (psikologi)|Akomodasi]] , merupakan suatu keadaan di mana terdapat interaksi antar individu atau kelompok yang menyelaraskan peran [[nilai sosial]] dan [[norma sosial]] yang berlaku dalam ringkup masyarakat.<ref>Dirk Veplun. [https://www.worldcat.org/oclc/934937924 Dinamika interaksi sosial dan integrasi budaya : antara komunitas migran dan lokal di Distrik Wanggar, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua]. BPNB PAPUA. 2013. hlm. 20. ISBN 978-602-1228-07-4.</ref> Bentuk akomodasi ini juga digunakan untuk mengurangi, mencegah, mengatasi ketegangan dan kekacauan dalam suatu kelompok masyarakat. Proses akomodasi sendiri dapat dibedakan menjadi beberapa bentuk, yaitu [[paksaan]], [[kompromi]], [[mediasi]], [[ajudikasi]] (peradilan), jalan buntu, [[toleransi]], dan [[Penyelesaian konflik|konsiliasi]] ([[perdamaian]]).<ref>Soerjono Soekanto. [https://www.worldcat.org/oclc/950520043 Sosiologi : suatu pengantar]. Rajawali Pers. 2010. hlm. 64-71. ISBN 979-421-009-9.</ref> | ||
# [[Asimilasi (sosial)|Asimilasi]], merupakan suatu proses integrasi kelompok sosial yang digunakan untuk mengidentifikasi dirinya dengan kepentingan serta tujuan dalam kelompok. Asimilasi muncul akibat latar belakang [[Budaya|kebudayaan]] berbeda pada individu dalam suatu [[Kelompok sosial|kelompok masyarakat]] sehingga seiring berjalannya waktu kebudayaan aslinya akan berubah membentuk kebudayaan baru sebagai budaya campuran. Kemudian, proses asimilasi ditandai dengan usaha mengurangi beberapa perbedaan yang ada, menyamakan [[sikap]], [[Budi|mental]], dan tindakan demi terwujudnya tujuan bersama. | # [[Asimilasi (sosial)|Asimilasi]], merupakan suatu proses integrasi kelompok sosial yang digunakan untuk mengidentifikasi dirinya dengan kepentingan serta tujuan dalam kelompok.<ref>Dirk Veplun. [https://www.worldcat.org/oclc/934937924 Dinamika interaksi sosial dan integrasi budaya : antara komunitas migran dan lokal di Distrik Wanggar, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua]. BPNB PAPUA. 2013. hlm. 20. ISBN 978-602-1228-07-4.</ref> Asimilasi muncul akibat latar belakang [[Budaya|kebudayaan]] berbeda pada individu dalam suatu [[Kelompok sosial|kelompok masyarakat]] sehingga seiring berjalannya waktu kebudayaan aslinya akan berubah membentuk kebudayaan baru sebagai budaya campuran. Kemudian, proses asimilasi ditandai dengan usaha mengurangi beberapa perbedaan yang ada, menyamakan [[sikap]], [[Budi|mental]], dan tindakan demi terwujudnya tujuan bersama.<ref>Elly M. Setiadi. [https://www.worldcat.org/oclc/785374023 Pengantar sosiologi : pemahaman fakta dan gejala permasalahan sosial: teori, aplikasi dan pemecahannya]. Kencana. 2011. hlm. 81. ISBN 978-602-8730-28-0.</ref> | ||
# [[Akulturasi]], merupakan suatu [[proses]] sosial yang muncul dalam kelompok [[masyarakat]] dengan unsur-unsur kebudayaan asing sehingga dengan berjalannya waktu unsur kebudayaan asing tersebut dapat diterima dalam kebudayaan masing-masing individu, tanpa menyebabkan hilangnya ciri khas dari kebudayaan individu atau kelompok masyarakat itu sendiri. | # [[Akulturasi]], merupakan suatu [[proses]] sosial yang muncul dalam kelompok [[masyarakat]] dengan unsur-unsur kebudayaan asing sehingga dengan berjalannya waktu unsur kebudayaan asing tersebut dapat diterima dalam kebudayaan masing-masing individu, tanpa menyebabkan hilangnya ciri khas dari kebudayaan individu atau kelompok masyarakat itu sendiri.<ref>Jabal Tarik Ibrahim. [https://bni.perpusnas.go.id/detailcatalog.aspx?id=173592 Sosiologi Pedesaan]. UMM Press. 2019. hlm. 22. ISBN 978-979-796-144-2.</ref> | ||
== Referensi == | == Referensi == | ||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | == Sumber dan atribusi == | ||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Interaksi+sosial+asosiatif&oldid=27932709 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 27932709 (2025-10-07T05:05:28Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Interaksi+sosial+asosiatif&oldid=27932709 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 27932709 (2025-10-07T05:05:28Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 26 Agustus 2026 04.05
Interaksi sosial asosiatif merupakan salah satu bentuk proses interaksi sosial. Proses interaksi sosial asosiatif akan membawa seseorang menuju proses hubungan sosial yang positif di lingkungan masyarakat. Hubungan positif yang dimaksudkan yaitu bersifat mempersatukan dan menghasilkan keteraturan dan dinamika sosial. Kemudian yang dinamakan proses asosiatif yaitu proses yang di dalamnya terdapat realitas sosial anggotanya dalam keadaan harmoni sehingga mengarah pada pola kerja sama yang baik. Oleh karena itu, interaksi sosial asosiatif ini mengarah pada proses keharmonisan dalam suatu hubungan, dengan bentuk kerjasama, upaya untuk penyelesaian konflik, dan upaya mengurangi perbedaan.[1]
Tahapan proses-proses asosiatif
Interaksi sosial asosiatif merupakan interaksi sosial yang bersifat mendekatkan.[2] Interaksi untuk mendekatkan ini dapat dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yaitu sebagai berikut.
- Memulai
- Menjajaki
- Meningkatkan
- Menyatupadukan
- Memperlihatkan
Bentuk-bentuk
Interaksi sosial asosiatif terbagi atas empat bentuk, yaitu:
- Kerja sama, merupakan suatu usaha yang dilakukan antar individu dalam suatu kelompok atau usaha dalam suatu kelompok dengan kelompok lainnya, untuk mencapai tujuan bersama.[3] Kerja sama dapat terbentuk atau dicapai ketika masyarakat menyadari bahwa mereka sama-sama memiliki kepentingan sehingga sepakat untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan.[4] Kerja sama memiliki bentuk yang dikategorikan menjadi beberapa jenis, yaitu kerukunan (gotong-royong), tawar menawar (pelaksanaan perjanjian pertukaran barang/jasa), koopsi (penerimaan unsur baru kepemimpinan), koalisi (kombinasi dua kelompok yang memiliki tujuan), perusahaan patungan (kerja sama dalam proyek-proyek pengusahaan).[5]
- Akomodasi , merupakan suatu keadaan di mana terdapat interaksi antar individu atau kelompok yang menyelaraskan peran nilai sosial dan norma sosial yang berlaku dalam ringkup masyarakat.[6] Bentuk akomodasi ini juga digunakan untuk mengurangi, mencegah, mengatasi ketegangan dan kekacauan dalam suatu kelompok masyarakat. Proses akomodasi sendiri dapat dibedakan menjadi beberapa bentuk, yaitu paksaan, kompromi, mediasi, ajudikasi (peradilan), jalan buntu, toleransi, dan konsiliasi (perdamaian).[7]
- Asimilasi, merupakan suatu proses integrasi kelompok sosial yang digunakan untuk mengidentifikasi dirinya dengan kepentingan serta tujuan dalam kelompok.[8] Asimilasi muncul akibat latar belakang kebudayaan berbeda pada individu dalam suatu kelompok masyarakat sehingga seiring berjalannya waktu kebudayaan aslinya akan berubah membentuk kebudayaan baru sebagai budaya campuran. Kemudian, proses asimilasi ditandai dengan usaha mengurangi beberapa perbedaan yang ada, menyamakan sikap, mental, dan tindakan demi terwujudnya tujuan bersama.[9]
- Akulturasi, merupakan suatu proses sosial yang muncul dalam kelompok masyarakat dengan unsur-unsur kebudayaan asing sehingga dengan berjalannya waktu unsur kebudayaan asing tersebut dapat diterima dalam kebudayaan masing-masing individu, tanpa menyebabkan hilangnya ciri khas dari kebudayaan individu atau kelompok masyarakat itu sendiri.[10]
Referensi
- ↑ Soerjono Soekanto. Sosiologi : suatu pengantar. Rajawali Pers. 2010. hlm. 64-71. ISBN 979-421-009-9.
- ↑ Soerjono Soekanto. Sosiologi : suatu pengantar. Rajawali Pers. 2010. hlm. 64-71. ISBN 979-421-009-9.
- ↑ Dirk Veplun. Dinamika interaksi sosial dan integrasi budaya : antara komunitas migran dan lokal di Distrik Wanggar, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua. BPNB PAPUA. 2013. hlm. 20. ISBN 978-602-1228-07-4.
- ↑ Haryanto Dany. Pengantar Sosiologi Dasar. Prestasi Pustaka Raya. 2011. hlm. 67. ISBN 978-602-8963-24-4.
- ↑ Abdulsyani. Sosiologi : skematika, teori dan terapan. Bumi Aksara. 2007. hlm. 156. ISBN 979-526-179-7.
- ↑ Dirk Veplun. Dinamika interaksi sosial dan integrasi budaya : antara komunitas migran dan lokal di Distrik Wanggar, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua. BPNB PAPUA. 2013. hlm. 20. ISBN 978-602-1228-07-4.
- ↑ Soerjono Soekanto. Sosiologi : suatu pengantar. Rajawali Pers. 2010. hlm. 64-71. ISBN 979-421-009-9.
- ↑ Dirk Veplun. Dinamika interaksi sosial dan integrasi budaya : antara komunitas migran dan lokal di Distrik Wanggar, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua. BPNB PAPUA. 2013. hlm. 20. ISBN 978-602-1228-07-4.
- ↑ Elly M. Setiadi. Pengantar sosiologi : pemahaman fakta dan gejala permasalahan sosial: teori, aplikasi dan pemecahannya. Kencana. 2011. hlm. 81. ISBN 978-602-8730-28-0.
- ↑ Jabal Tarik Ibrahim. Sosiologi Pedesaan. UMM Press. 2019. hlm. 22. ISBN 978-979-796-144-2.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 27932709 (2025-10-07T05:05:28Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.