Teori keadaan tetap: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29587338; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
[[File:WMAP_2012.png|thumb|right|280px|WMAP 2012]] | |||
Dalam [[kosmologi fisik|kosmologi]], '''teori keadaan tetap''' adalah model asal-usul alam semesta yang kini sudah tidak digunakan lagi. Dalam permodelan ini, materi baru terus menerus dibuat ketika alam semesta mengembang, sehingga sesuai dengan [[asas kosmologi sempurna]]. Akibatnya, walaupun alam semesta mengembang, alam semesta tidak berubah dan tidak ada awal ataupun akhir. | Dalam [[kosmologi fisik|kosmologi]], '''teori keadaan tetap''' adalah model asal-usul alam semesta yang kini sudah tidak digunakan lagi. Dalam permodelan ini, materi baru terus menerus dibuat ketika alam semesta mengembang, sehingga sesuai dengan [[asas kosmologi sempurna]]. Akibatnya, walaupun alam semesta mengembang, alam semesta tidak berubah dan tidak ada awal ataupun akhir. | ||
| Baris 4: | Baris 6: | ||
== Landasan == | == Landasan == | ||
Teori keadaan tetap dilandasi oleh pemikiran bahwa alam semesta selalu ada. Kondisi alam semesta selalu tetap sama dalam skala yang besar. Karenanya, alam semesta tidak memiliki awal dan akhir. Proses pembentukan alam semesta berlangsung secara terus-menerus tanpa dibatasi dimensi [[ruang]] dan waktu. | Teori keadaan tetap dilandasi oleh pemikiran bahwa alam semesta selalu ada. Kondisi alam semesta selalu tetap sama dalam skala yang besar.<ref>David Christian. [https://www.google.co.id/books/edition/Kisah_Asal_Usul/ZJSeDwAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&printsec=frontcover Kisah Asal-Usul]. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. 2019. hlm. 18. ISBN 978-602-06-2042-8.</ref> Karenanya, alam semesta tidak memiliki awal dan akhir. Proses pembentukan alam semesta berlangsung secara terus-menerus tanpa dibatasi dimensi [[ruang]] dan waktu.<ref>Ami, M. S., dan Damayanti, P. [https://repository.unmul.ac.id/bitstream/handle/123456789/16571/E-Book%20ILMU%20ALAMIAH%20DASAR.pdf?sequence=1 Ilmu Alamiah Dasar]. Literasi Nusantara. 2021. hlm. 23. ISBN 978-623-329-081-4.</ref> | ||
== Dukungan == | == Dukungan == | ||
Pemikiran yang dicetuskan dalam teori keadaan tetap, memperoleh dukungan dari para ahli astronomi modern pada pertengahan abad ke-20 M. Beberapa di antara pendukung teori keadaan tetap ialah Fred Hoyle, Herman Bondin dan [[Thomas Gold]]. | Pemikiran yang dicetuskan dalam teori keadaan tetap, memperoleh dukungan dari para ahli astronomi modern pada pertengahan abad ke-20 M.<ref>David Christian. [https://www.google.co.id/books/edition/Kisah_Asal_Usul/ZJSeDwAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&printsec=frontcover Kisah Asal-Usul]. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. 2019. hlm. 18. ISBN 978-602-06-2042-8.</ref> Beberapa di antara pendukung teori keadaan tetap ialah Fred Hoyle, Herman Bondin dan [[Thomas Gold]].<ref>Ami, M. S., dan Damayanti, P. [https://repository.unmul.ac.id/bitstream/handle/123456789/16571/E-Book%20ILMU%20ALAMIAH%20DASAR.pdf?sequence=1 Ilmu Alamiah Dasar]. Literasi Nusantara. 2021. hlm. 23. ISBN 978-623-329-081-4.</ref> | ||
== Kegagalan == | == Kegagalan == | ||
Teori keadaan tetap mulai tidak didukung setelah diketahui [[fakta]] bahwa alam semesta bersifat tidak tetap dan mengalami kecenderungan untuk mengembang. | Teori keadaan tetap mulai tidak didukung setelah diketahui [[fakta]] bahwa alam semesta bersifat tidak tetap dan mengalami kecenderungan untuk mengembang.<ref>Ami, M. S., dan Damayanti, P. [https://repository.unmul.ac.id/bitstream/handle/123456789/16571/E-Book%20ILMU%20ALAMIAH%20DASAR.pdf?sequence=1 Ilmu Alamiah Dasar]. Literasi Nusantara. 2021. hlm. 23. ISBN 978-623-329-081-4.</ref> | ||
== Referensi == | == Referensi == | ||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Teori+keadaan+tetap&oldid=29587338 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29587338 (2026-08-16T08:17:37Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | |||
== | |||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 26 Agustus 2026 09.13

Dalam kosmologi, teori keadaan tetap adalah model asal-usul alam semesta yang kini sudah tidak digunakan lagi. Dalam permodelan ini, materi baru terus menerus dibuat ketika alam semesta mengembang, sehingga sesuai dengan asas kosmologi sempurna. Akibatnya, walaupun alam semesta mengembang, alam semesta tidak berubah dan tidak ada awal ataupun akhir.
Walaupun populer pada awal abad ke-20, teori ini kini ditolak oleh sebagian besar kosmolog profesional dan ilmuwan lain karena bukti pengamatan menunjukkan kebenaran model ledakan dahsyat dan usia alam semesta yang terbatas. Bukti yang dianggap meruntuhkan teori ini adalah radiasi latar gelombang mikro kosmis yang diprediksi oleh model ledakan dahsyat.
Landasan
Teori keadaan tetap dilandasi oleh pemikiran bahwa alam semesta selalu ada. Kondisi alam semesta selalu tetap sama dalam skala yang besar.[1] Karenanya, alam semesta tidak memiliki awal dan akhir. Proses pembentukan alam semesta berlangsung secara terus-menerus tanpa dibatasi dimensi ruang dan waktu.[2]
Dukungan
Pemikiran yang dicetuskan dalam teori keadaan tetap, memperoleh dukungan dari para ahli astronomi modern pada pertengahan abad ke-20 M.[3] Beberapa di antara pendukung teori keadaan tetap ialah Fred Hoyle, Herman Bondin dan Thomas Gold.[4]
Kegagalan
Teori keadaan tetap mulai tidak didukung setelah diketahui fakta bahwa alam semesta bersifat tidak tetap dan mengalami kecenderungan untuk mengembang.[5]
Referensi
- ↑ David Christian. Kisah Asal-Usul. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. 2019. hlm. 18. ISBN 978-602-06-2042-8.
- ↑ Ami, M. S., dan Damayanti, P. Ilmu Alamiah Dasar. Literasi Nusantara. 2021. hlm. 23. ISBN 978-623-329-081-4.
- ↑ David Christian. Kisah Asal-Usul. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. 2019. hlm. 18. ISBN 978-602-06-2042-8.
- ↑ Ami, M. S., dan Damayanti, P. Ilmu Alamiah Dasar. Literasi Nusantara. 2021. hlm. 23. ISBN 978-623-329-081-4.
- ↑ Ami, M. S., dan Damayanti, P. Ilmu Alamiah Dasar. Literasi Nusantara. 2021. hlm. 23. ISBN 978-623-329-081-4.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29587338 (2026-08-16T08:17:37Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.