Lompat ke isi

Fanus: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28983967; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Fanus''' ( , ''pl.''  ), yang berarti lampu atau cahaya, secara luas dikenal dengan '''Fanus Ramadan''' atau '''Fanous Ramadan''' () dan sekarang dikenal sebagai '''Lentera Ramadan'''.
[[File:Lanterns_from_below.JPG|thumb|right|280px|Lanterns from below]]
 
'''Fanus''' ( , ''pl.''  ), yang berarti lampu atau cahaya, secara luas dikenal dengan '''Fanus Ramadan''' atau '''Fanous Ramadan''' ()<ref>[http://weekly.ahram.org.eg/2009/961/special.htm Fanous] ; 2009 article; Al-Ahram Weekly Online</ref> dan sekarang dikenal sebagai '''Lentera Ramadan'''.


== Sejarah ==
== Sejarah ==
Penggunaan tradisional fanus sebagai dekorasi terkait dengan Ramadan diyakini berasal selama [[Kekhalifahan Fatimiyah]] sebuah dinasti Islam kuno yang menguasai sebagian besar Afrika Utara dan Timur Tengah<ref>[https://www.abouther.com/node/57971/people/features/story-behind-lanterns-ubiquitous-symbol-month-ramadan The Story Behind Lanterns: Ubiquitous Symbol Of The Month Of Ramadan]. ''About Her''. 2023-04-03.</ref>terutama berpusat di [[Mesir]], di mana tradisi menyatakan bahwa Khalifah [[Al-Muizz Lideenillah]] disambut oleh orang-orang [[Bangsa Mesir|Mesir]] yang memegang lentera untuk merayakan<ref>Kamal Tabikha. [https://www.thenationalnews.com/mena/egypt/2022/04/01/the-history-of-the-fanous-cairos-traditional-ramadan-lantern/ The history of the fanous, Cairo's traditional Ramadan lantern]. ''The National''.</ref> kedatangannya di [[Kairo]] selama bulan suci [[Ramadan]]. Keindahan pemandangan itu kemudian memicu kebiasaan menyalakan lentera setiap Ramadan. Seiring waktu, tradisi ini meluas ke seluruh negeri, dan lentera menjadi komponen penting dari perayaan bulan tersebut. Tradisi ini telah tumbuh dan bertahan selama berabad-abad sebagai simbol harapan, kegembiraan, serta cahaya keimanan yang menuntun umat Islam dalam menjalani bulan suci Ramadan.<ref>[https://www.tempo.co/ramadhan/-tradisi-tradisi-unik-saat-ramadan-di-berbagai-negara-1212305 Tradisi-tradisi Unik Saat Ramadan di Berbagai Negara]. ''Tempo''. 26 Februari 2025 10.51 WIB.</ref>


Penggunaan tradisional fanus sebagai dekorasi terkait dengan Ramadan diyakini berasal selama [[Kekhalifahan Fatimiyah]] sebuah dinasti Islam kuno yang menguasai sebagian besar Afrika Utara dan Timur Tengahterutama berpusat di [[Mesir]], di mana tradisi menyatakan bahwa Khalifah [[Al-Muizz Lideenillah]] disambut oleh orang-orang [[Bangsa Mesir|Mesir]] yang memegang lentera untuk merayakan kedatangannya di [[Kairo]] selama bulan suci [[Ramadan]]. Keindahan pemandangan itu kemudian memicu kebiasaan menyalakan lentera setiap Ramadan. Seiring waktu, tradisi ini meluas ke seluruh negeri, dan lentera menjadi komponen penting dari perayaan bulan tersebut. Tradisi ini telah tumbuh dan bertahan selama berabad-abad sebagai simbol harapan, kegembiraan, serta cahaya keimanan yang menuntun umat Islam dalam menjalani bulan suci Ramadan.
Pada awalnya, demi menyediakan penerangan bagi imam saat melintasi jalanan yang gelap, para pejabat militer memerintahkan penduduk setempat untuk membawa lilin yang ditempatkan dalam bingkai kayu. Dalam perkembangannya, bingkai kayu tersebut mengalami transformasi menjadi lentera dengan ragam pola yang khas. Kini, lentera tersebut dikenal sebagai fanus yang dihadirkan di berbagai penjuru negeri, memancarkan cahaya yang menyemarakkan bulan suci Ramadan.<ref>[https://www.tempo.co/ramadhan/5-tradisi-menyambut-ramadan-di-berbagai-belahan-dunia-207899 5 Tradisi Menyambut Ramadan di Berbagai Belahan Dunia]. ''Tempo''. 17 Maret 2023 17.17 WIB.</ref>


Pada awalnya, demi menyediakan penerangan bagi imam saat melintasi jalanan yang gelap, para pejabat militer memerintahkan penduduk setempat untuk membawa lilin yang ditempatkan dalam bingkai kayu. Dalam perkembangannya, bingkai kayu tersebut mengalami transformasi menjadi lentera dengan ragam pola yang khas. Kini, lentera tersebut dikenal sebagai fanus yang dihadirkan di berbagai penjuru negeri, memancarkan cahaya yang menyemarakkan bulan suci Ramadan.
Bulan Ramadan merupakan momentum untuk memperdalam refleksi spiritual, melatih pengendalian diri, serta mempererat hubungan dengan Tuhan. Dalam konteks ini, fanus dengan sinarnya yang berpendar melalui kaca-kaca berwarna hadir sebagai simbol cahaya keimanan yang membimbing umat melewati malam-malam Ramadan dan menjalani berbagai laku ibadah dengan keteguhan hati.<ref>mediaindonesia com developer. [https://mediaindonesia.com/humaniora/757015/tradisi-unik-penuh-kebersamaan-dari-ramadan-di-mesir Tradisi Unik Penuh Kebersamaan dari Ramadan di Mesir]. ''mediaindonesia.com''.</ref>


Bulan Ramadan merupakan momentum untuk memperdalam refleksi spiritual, melatih pengendalian diri, serta mempererat hubungan dengan Tuhan. Dalam konteks ini, fanus dengan sinarnya yang berpendar melalui kaca-kaca berwarna hadir sebagai simbol cahaya keimanan yang membimbing umat melewati malam-malam Ramadan dan menjalani berbagai laku ibadah dengan keteguhan hati.
Fanus tidak hanya bermakna simbolik, tetapi juga memuat dimensi sosial dan kultural yang kuat. Kilau lentera yang menghiasi jalanan dan rumah-rumah sejak waktu berbuka hingga usai salat tarawih menghadirkan atmosfer hangat yang menumbuhkan rasa persaudaraan dan kebersamaan di tengah masyarakat. Tradisi memajang fanus pun tidak semata-mata bertujuan sebagai elemen dekoratif, melainkan turut menjadi medium yang mempererat interaksi dan solidaritas komunitas selama bulan Ramadan.<ref>mediaindonesia com developer. [https://mediaindonesia.com/humaniora/757015/tradisi-unik-penuh-kebersamaan-dari-ramadan-di-mesir Tradisi Unik Penuh Kebersamaan dari Ramadan di Mesir]. ''mediaindonesia.com''.</ref>


Fanus tidak hanya bermakna simbolik, tetapi juga memuat dimensi sosial dan kultural yang kuat. Kilau lentera yang menghiasi jalanan dan rumah-rumah sejak waktu berbuka hingga usai salat tarawih menghadirkan atmosfer hangat yang menumbuhkan rasa persaudaraan dan kebersamaan di tengah masyarakat. Tradisi memajang fanus pun tidak semata-mata bertujuan sebagai elemen dekoratif, melainkan turut menjadi medium yang mempererat interaksi dan solidaritas komunitas selama bulan Ramadan.
Pada masa sekarang, fanus kerap terintegrasi dengan beragam tradisi lokal. Selama Ramadan, anak-anak berjalan menyusuri lingkungan sambil membawa lentera, bernyanyi dengan penuh keceriaan, serta meminta hadiah dan permen sebagai bagian dari perayaan.<ref>[https://www.tempo.co/ramadhan/5-tradisi-menyambut-ramadan-di-berbagai-belahan-dunia-207899 5 Tradisi Menyambut Ramadan di Berbagai Belahan Dunia]. ''Tempo''. 17 Maret 2023 17.17 WIB.</ref>


Pada masa sekarang, fanus kerap terintegrasi dengan beragam tradisi lokal. Selama Ramadan, anak-anak berjalan menyusuri lingkungan sambil membawa lentera, bernyanyi dengan penuh keceriaan, serta meminta hadiah dan permen sebagai bagian dari perayaan.
Sejumlah perayaan paling semarak di dunia Arab dapat ditemui di Mesir. Kilau lentera Fanus yang berwarna-warni bak kaleidoskop menyinari jalanan, rumah, hingga sudut-sudut permukiman. Lentera ini umumnya dibuat dari logam dan kaca, dengan detail pengerjaan yang menarik dan bernilai [[estetika]] tinggi.<ref>[https://www.tempo.co/hiburan/uniknya-tradisi-ramadan-di-berbagai-negara-perayaan-lentera-hingga-padusan-365305 Uniknya Tradisi Ramadan di Berbagai Negara: Perayaan Lentera Hingga Padusan]. ''Tempo''. 2022-04-24.</ref>


Sejumlah perayaan paling semarak di dunia Arab dapat ditemui di Mesir. Kilau lentera Fanus yang berwarna-warni bak kaleidoskop menyinari jalanan, rumah, hingga sudut-sudut permukiman. Lentera ini umumnya dibuat dari logam dan kaca, dengan detail pengerjaan yang menarik dan bernilai [[estetika]] tinggi.
Pada malam hari, masyarakat kerap berkeliling sambil membawa lentera tersebut, diiringi lantunan lagu-lagu tradisional Ramadan yang menambah semarak suasana. [[Tradisi]] fanus kerap berpadu dengan praktik sosial lainnya, salah satunya ma’idat al-rahman, yakni penyediaan jamuan berbuka puasa terbuka yang dapat diikuti masyarakat dari berbagai latar belakang tanpa memandang status sosial. Cahaya fanus yang menerangi area jamuan tersebut menyatu dengan aktivitas berbagi ini, membangun suasana yang hangat, [[inklusif]], dan sarat nilai keberkahan selama bulan [[Ramadan]].<ref>mediaindonesia com developer. [https://mediaindonesia.com/humaniora/757015/tradisi-unik-penuh-kebersamaan-dari-ramadan-di-mesir Tradisi Unik Penuh Kebersamaan dari Ramadan di Mesir]. ''mediaindonesia.com''.</ref>


Pada malam hari, masyarakat kerap berkeliling sambil membawa lentera tersebut, diiringi lantunan lagu-lagu tradisional Ramadan yang menambah semarak suasana. [[Tradisi]] fanus kerap berpadu dengan praktik sosial lainnya, salah satunya ma’idat al-rahman, yakni penyediaan jamuan berbuka puasa terbuka yang dapat diikuti masyarakat dari berbagai latar belakang tanpa memandang status sosial. Cahaya fanus yang menerangi area jamuan tersebut menyatu dengan aktivitas berbagi ini, membangun suasana yang hangat, [[inklusif]], dan sarat nilai keberkahan selama bulan [[Ramadan]].
Lampu fanus umumnya dipasang dan digantung di sepanjang jalan. Bagi masyarakat Mesir, lentera ini [[Lambang|melambangkan]] harapan sebuah keyakinan bahwa cahaya akan senantiasa hadir untuk menerangi langkah di tengah kegelapan.<ref>[https://nu.or.id/internasional/tradisi-lampu-fanus-hiasi-malam-ramadhan-di-mesir-CyjVv Tradisi Lampu Fanus Hiasi Malam Ramadhan di Mesir]. ''NU Online''.</ref>


Lampu fanus umumnya dipasang dan digantung di sepanjang jalan. Bagi masyarakat Mesir, lentera ini [[Lambang|melambangkan]] harapan sebuah keyakinan bahwa cahaya akan senantiasa hadir untuk menerangi langkah di tengah kegelapan.
Seiring perkembangan zaman, fanus tidak lagi terbatas pada material tradisional seperti logam dan kaca. Inovasi modern menghadirkan fanus dari berbagai bahan alternatif, termasuk plastik, kain, hingga teknologi LED yang dinilai lebih aman dan ramah bagi anak-anak. Selain itu, ragam desainnya pun semakin beragam, mulai dari sentuhan estetika [[kontemporer]] hingga [[visual]] [[karakter]] populer, sehingga mampu menarik minat generasi muda tanpa meninggalkan nilai simboliknya.<ref>[https://www.egypttoday.com/Article/15/52059/The-Evolution-of-the-Ramadan-Fanous The Evolution of the Ramadan Fanous]. ''EgyptToday''. 2018-06-13.</ref> Seiring waktu, fanus pun menjelma menjadi simbol universal yang lekat dengan suasana Ramadan. Meskipun tradisi ini lebih berakar pada aspek kultural dibandingkan ajaran keagamaan secara langsung, praktik menyalakan lentera tetap memiliki keterkaitan yang kuat dengan bulan suci Ramadan yang sarat makna spiritual.<ref>[https://nu.or.id/internasional/tradisi-lampu-fanus-hiasi-malam-ramadhan-di-mesir-CyjVv Tradisi Lampu Fanus Hiasi Malam Ramadhan di Mesir]. ''NU Online''.</ref>
 
Seiring perkembangan zaman, fanus tidak lagi terbatas pada material tradisional seperti logam dan kaca. Inovasi modern menghadirkan fanus dari berbagai bahan alternatif, termasuk plastik, kain, hingga teknologi LED yang dinilai lebih aman dan ramah bagi anak-anak. Selain itu, ragam desainnya pun semakin beragam, mulai dari sentuhan estetika [[kontemporer]] hingga [[visual]] [[karakter]] populer, sehingga mampu menarik minat generasi muda tanpa meninggalkan nilai simboliknya. Seiring waktu, fanus pun menjelma menjadi simbol universal yang lekat dengan suasana Ramadan. Meskipun tradisi ini lebih berakar pada aspek kultural dibandingkan ajaran keagamaan secara langsung, praktik menyalakan lentera tetap memiliki keterkaitan yang kuat dengan bulan suci Ramadan yang sarat makna spiritual.


== Referensi ==
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Fanus&oldid=28983967 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28983967 (2026-02-22T16:41:11Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


== Sumber dan atribusi ==
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->
 
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Fanus&oldid=28983967 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28983967 (2026-02-22T16:41:11Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.

Revisi terkini sejak 26 Agustus 2026 14.22

Lanterns from below

Fanus ( , pl. ), yang berarti lampu atau cahaya, secara luas dikenal dengan Fanus Ramadan atau Fanous Ramadan ()[1] dan sekarang dikenal sebagai Lentera Ramadan.

Sejarah

Penggunaan tradisional fanus sebagai dekorasi terkait dengan Ramadan diyakini berasal selama Kekhalifahan Fatimiyah sebuah dinasti Islam kuno yang menguasai sebagian besar Afrika Utara dan Timur Tengah[2]terutama berpusat di Mesir, di mana tradisi menyatakan bahwa Khalifah Al-Muizz Lideenillah disambut oleh orang-orang Mesir yang memegang lentera untuk merayakan[3] kedatangannya di Kairo selama bulan suci Ramadan. Keindahan pemandangan itu kemudian memicu kebiasaan menyalakan lentera setiap Ramadan. Seiring waktu, tradisi ini meluas ke seluruh negeri, dan lentera menjadi komponen penting dari perayaan bulan tersebut. Tradisi ini telah tumbuh dan bertahan selama berabad-abad sebagai simbol harapan, kegembiraan, serta cahaya keimanan yang menuntun umat Islam dalam menjalani bulan suci Ramadan.[4]

Pada awalnya, demi menyediakan penerangan bagi imam saat melintasi jalanan yang gelap, para pejabat militer memerintahkan penduduk setempat untuk membawa lilin yang ditempatkan dalam bingkai kayu. Dalam perkembangannya, bingkai kayu tersebut mengalami transformasi menjadi lentera dengan ragam pola yang khas. Kini, lentera tersebut dikenal sebagai fanus yang dihadirkan di berbagai penjuru negeri, memancarkan cahaya yang menyemarakkan bulan suci Ramadan.[5]

Bulan Ramadan merupakan momentum untuk memperdalam refleksi spiritual, melatih pengendalian diri, serta mempererat hubungan dengan Tuhan. Dalam konteks ini, fanus dengan sinarnya yang berpendar melalui kaca-kaca berwarna hadir sebagai simbol cahaya keimanan yang membimbing umat melewati malam-malam Ramadan dan menjalani berbagai laku ibadah dengan keteguhan hati.[6]

Fanus tidak hanya bermakna simbolik, tetapi juga memuat dimensi sosial dan kultural yang kuat. Kilau lentera yang menghiasi jalanan dan rumah-rumah sejak waktu berbuka hingga usai salat tarawih menghadirkan atmosfer hangat yang menumbuhkan rasa persaudaraan dan kebersamaan di tengah masyarakat. Tradisi memajang fanus pun tidak semata-mata bertujuan sebagai elemen dekoratif, melainkan turut menjadi medium yang mempererat interaksi dan solidaritas komunitas selama bulan Ramadan.[7]

Pada masa sekarang, fanus kerap terintegrasi dengan beragam tradisi lokal. Selama Ramadan, anak-anak berjalan menyusuri lingkungan sambil membawa lentera, bernyanyi dengan penuh keceriaan, serta meminta hadiah dan permen sebagai bagian dari perayaan.[8]

Sejumlah perayaan paling semarak di dunia Arab dapat ditemui di Mesir. Kilau lentera Fanus yang berwarna-warni bak kaleidoskop menyinari jalanan, rumah, hingga sudut-sudut permukiman. Lentera ini umumnya dibuat dari logam dan kaca, dengan detail pengerjaan yang menarik dan bernilai estetika tinggi.[9]

Pada malam hari, masyarakat kerap berkeliling sambil membawa lentera tersebut, diiringi lantunan lagu-lagu tradisional Ramadan yang menambah semarak suasana. Tradisi fanus kerap berpadu dengan praktik sosial lainnya, salah satunya ma’idat al-rahman, yakni penyediaan jamuan berbuka puasa terbuka yang dapat diikuti masyarakat dari berbagai latar belakang tanpa memandang status sosial. Cahaya fanus yang menerangi area jamuan tersebut menyatu dengan aktivitas berbagi ini, membangun suasana yang hangat, inklusif, dan sarat nilai keberkahan selama bulan Ramadan.[10]

Lampu fanus umumnya dipasang dan digantung di sepanjang jalan. Bagi masyarakat Mesir, lentera ini melambangkan harapan sebuah keyakinan bahwa cahaya akan senantiasa hadir untuk menerangi langkah di tengah kegelapan.[11]

Seiring perkembangan zaman, fanus tidak lagi terbatas pada material tradisional seperti logam dan kaca. Inovasi modern menghadirkan fanus dari berbagai bahan alternatif, termasuk plastik, kain, hingga teknologi LED yang dinilai lebih aman dan ramah bagi anak-anak. Selain itu, ragam desainnya pun semakin beragam, mulai dari sentuhan estetika kontemporer hingga visual karakter populer, sehingga mampu menarik minat generasi muda tanpa meninggalkan nilai simboliknya.[12] Seiring waktu, fanus pun menjelma menjadi simbol universal yang lekat dengan suasana Ramadan. Meskipun tradisi ini lebih berakar pada aspek kultural dibandingkan ajaran keagamaan secara langsung, praktik menyalakan lentera tetap memiliki keterkaitan yang kuat dengan bulan suci Ramadan yang sarat makna spiritual.[13]

Referensi

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28983967 (2026-02-22T16:41:11Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.