Lompat ke isi

Singularitas hukum: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 27749806; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Singularitas hukum''' adalah sebuah titik waktu hipotetis di [[masa depan]] di mana [[hukum]] akan jauh lebih lengkap, dengan para pembuat undang-undang manusia dan pelaku hukum lainnya didukung oleh kemajuan teknologi yang pesat dan [[kecerdasan buatan]] (AI), yang mengarah pada pengurangan ketidakpastian hukum yang signifikan.
'''Singularitas hukum''' adalah sebuah titik waktu hipotetis di [[masa depan]] di mana [[hukum]] akan jauh lebih lengkap,<ref>Abdi Aidid. ''The Legal Singularity: How artificial intelligence can make law radically better''. University of Toronto Press. 2023. ISBN 978-1-4875-2941-3.</ref> dengan para pembuat undang-undang manusia dan pelaku hukum lainnya didukung oleh kemajuan teknologi yang pesat dan [[kecerdasan buatan]] (AI), yang mengarah pada pengurangan ketidakpastian hukum yang signifikan.<ref>Benjamin Alarie. ''The Path of the Law: Toward Legal Singularity''. ''University of Toronto Law Journal''. 2016. Vol. 66 (4). hlm. 443–455. doi:10.3138/UTLJ.4008.</ref>


Singularitas hukum didasarkan pada gagasan bahwa seiring dengan semakin majunya sistem AI, sistem tersebut akan mampu memproses dan menganalisis data hukum dan yurisprudensi dalam jumlah besar dengan lebih cepat dan akurat daripada manusia. Hal ini berpotensi mengarah pada situasi di mana sistem kecerdasan buatan menjadi pengambil keputusan hukum utama, dan manusia akan terdegradasi ke peran pengawasan, jika memang diperlukan.
Singularitas hukum didasarkan pada gagasan bahwa seiring dengan semakin majunya sistem AI, sistem tersebut akan mampu memproses dan menganalisis data hukum dan yurisprudensi dalam jumlah besar dengan lebih cepat dan akurat daripada manusia.<ref>Benjamin Alarie. ''The Path of the Law: Toward Legal Singularity''. ''University of Toronto Law Journal''. 2016. Vol. 66 (4). hlm. 443–455. doi:10.3138/UTLJ.4008.</ref> Hal ini berpotensi mengarah pada situasi di mana sistem kecerdasan buatan menjadi pengambil keputusan hukum utama, dan manusia akan terdegradasi ke peran pengawasan, jika memang diperlukan.<ref>Robert Weber. ''Will the "Legal Singularity" Hollow Out Law's Normative Core?''. ''Michigan Technology Law Review''. 2021. Vol. 27 (1). hlm. 97. doi:10.36645/mtlr.27.1.will.</ref><ref>Benjamin Alarie. ''Regulation by Machine''. 2016.</ref>


Ada banyak perdebatan mengenai apakah singularitas hukum dimungkinkan atau diinginkan di antara para akademisi hukum, ahli etika, dan peneliti kecerdasan buatan. Meskipun beberapa pihak melihatnya sebagai cara potensial untuk meningkatkan efisiensi hukum dan mengurangi bias, beberapa ahli mengkhawatirkan potensi sistem kecerdasan buatan menghasilkan keputusan yang melanggar [[hak asasi manusia]] atau melanggengkan ketidaksetaraan yang ada.
Ada banyak perdebatan mengenai apakah singularitas hukum dimungkinkan atau diinginkan di antara para akademisi hukum, ahli etika, dan peneliti kecerdasan buatan.<ref>Robert Weber. ''Will the "Legal Singularity" Hollow Out Law's Normative Core?''. ''Michigan Technology Law Review''. 2021. Vol. 27 (1). hlm. 97. doi:10.36645/mtlr.27.1.will.</ref><ref>Christopher Markou. ''Is Law Computable? From Rule of Law to Legal Singularity''. 2020.</ref><ref>Jennifer Cobbe. ''Is Law Computable? Critical Perspectives on Law and Artificial Intelligence'''. Hart Publishing. 2020.</ref><ref>Frank A. Pasquale. [https://www.gwlr.org/wp-content/uploads/2019/01/87-Geo.-Wash.-L.-Rev.-1.pdf A Rule of Persons, Not Machines: The Limits of Legal Automation]. ''The George Washington Law Review''. 2019. Vol. 87 (1). hlm. 1–55.</ref> Meskipun beberapa pihak melihatnya sebagai cara potensial untuk meningkatkan efisiensi hukum dan mengurangi bias,<ref>Abdi Aidid. ''The Legal Singularity: How artificial intelligence can make law radically better''. University of Toronto Press. 2023. ISBN 978-1-4875-2941-3.</ref> beberapa ahli mengkhawatirkan potensi sistem kecerdasan buatan menghasilkan keputusan yang melanggar [[hak asasi manusia]] atau melanggengkan ketidaksetaraan yang ada.<ref>Mireille Hildebrandt. [https://biblio.vub.ac.be/vubirfiles/82589568/SSRN_id2983045.pdf Law as computation in the era of artificial legal intelligence: Speaking law to the power of statistics]. ''University of Toronto Law Journal''. 2018-01-01. Vol. 68 (Suppl 1). hlm. 12–35. doi:10.3138/utlj.2017-0044.</ref>


== Referensi ==
== Referensi ==
 
<references />
 


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Singularitas+hukum&oldid=27749806 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 27749806 (2025-08-28T01:01:06Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Singularitas+hukum&oldid=27749806 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 27749806 (2025-08-28T01:01:06Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 23 Agustus 2026 10.30

Singularitas hukum adalah sebuah titik waktu hipotetis di masa depan di mana hukum akan jauh lebih lengkap,[1] dengan para pembuat undang-undang manusia dan pelaku hukum lainnya didukung oleh kemajuan teknologi yang pesat dan kecerdasan buatan (AI), yang mengarah pada pengurangan ketidakpastian hukum yang signifikan.[2]

Singularitas hukum didasarkan pada gagasan bahwa seiring dengan semakin majunya sistem AI, sistem tersebut akan mampu memproses dan menganalisis data hukum dan yurisprudensi dalam jumlah besar dengan lebih cepat dan akurat daripada manusia.[3] Hal ini berpotensi mengarah pada situasi di mana sistem kecerdasan buatan menjadi pengambil keputusan hukum utama, dan manusia akan terdegradasi ke peran pengawasan, jika memang diperlukan.[4][5]

Ada banyak perdebatan mengenai apakah singularitas hukum dimungkinkan atau diinginkan di antara para akademisi hukum, ahli etika, dan peneliti kecerdasan buatan.[6][7][8][9] Meskipun beberapa pihak melihatnya sebagai cara potensial untuk meningkatkan efisiensi hukum dan mengurangi bias,[10] beberapa ahli mengkhawatirkan potensi sistem kecerdasan buatan menghasilkan keputusan yang melanggar hak asasi manusia atau melanggengkan ketidaksetaraan yang ada.[11]

Referensi

  1. Abdi Aidid. The Legal Singularity: How artificial intelligence can make law radically better. University of Toronto Press. 2023. ISBN 978-1-4875-2941-3.
  2. Benjamin Alarie. The Path of the Law: Toward Legal Singularity. University of Toronto Law Journal. 2016. Vol. 66 (4). hlm. 443–455. doi:10.3138/UTLJ.4008.
  3. Benjamin Alarie. The Path of the Law: Toward Legal Singularity. University of Toronto Law Journal. 2016. Vol. 66 (4). hlm. 443–455. doi:10.3138/UTLJ.4008.
  4. Robert Weber. Will the "Legal Singularity" Hollow Out Law's Normative Core?. Michigan Technology Law Review. 2021. Vol. 27 (1). hlm. 97. doi:10.36645/mtlr.27.1.will.
  5. Benjamin Alarie. Regulation by Machine. 2016.
  6. Robert Weber. Will the "Legal Singularity" Hollow Out Law's Normative Core?. Michigan Technology Law Review. 2021. Vol. 27 (1). hlm. 97. doi:10.36645/mtlr.27.1.will.
  7. Christopher Markou. Is Law Computable? From Rule of Law to Legal Singularity. 2020.
  8. Jennifer Cobbe. Is Law Computable? Critical Perspectives on Law and Artificial Intelligence'. Hart Publishing. 2020.
  9. Frank A. Pasquale. A Rule of Persons, Not Machines: The Limits of Legal Automation. The George Washington Law Review. 2019. Vol. 87 (1). hlm. 1–55.
  10. Abdi Aidid. The Legal Singularity: How artificial intelligence can make law radically better. University of Toronto Press. 2023. ISBN 978-1-4875-2941-3.
  11. Mireille Hildebrandt. Law as computation in the era of artificial legal intelligence: Speaking law to the power of statistics. University of Toronto Law Journal. 2018-01-01. Vol. 68 (Suppl 1). hlm. 12–35. doi:10.3138/utlj.2017-0044.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 27749806 (2025-08-28T01:01:06Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.