Lompat ke isi

Empati buatan: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28491238; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Empati buatan''' atau '''empati komputasional''' adalah pengembangan sistem [[kecerdasan buatan]] (AI) seperti robot pendamping atau agen virtual yang mampu mendeteksi dan merespons [[emosi]] manusia secara [[Empati|empatik]]. Menurut para [[ilmuwan]], meskipun sering dianggap menakutkan dan mengancam oleh banyak orang, teknologi ini juga dapat memiliki banyak manfaat positif, khususnya dalam profesi yang secara tradisional terlibat dalam memainkan peran emosional seperti sektor pelayanan kesehatan. Dari perspektif pemberi perawatan misalnya, melakukan kerja emosional di atas dan di luar persyaratan kerja berbayar sering mengakibatkan stres kronis atau kelelahan, dan mengakibatkan berkembangnya perasaan tidak peka terhadap pasien. Beberapa orang juga berpendapat bahwa hubungan peran emosional antara pasien dan robot sebenarnya dapat memiliki hasil yang lebih positif terutama untuk mengurangi kecemasan pasien, yang bisa dinyatakan dalam ungkapan: "jika saya hanya dirawat robot, mungkin penyakit yang saya derita tidaklah serius." Para ahli memperdebatkan kemungkinan hasil dari teknologi tersebut menggunakan dua perspektif yang berbeda. Entah empati buatan bisa membantu sosialisasi pemberi perawatan, atau berfungsi sebagai pemberi dukungan emosional.
'''Empati buatan''' atau '''empati komputasional''' adalah pengembangan sistem [[kecerdasan buatan]] (AI) seperti robot pendamping atau agen virtual yang mampu mendeteksi dan merespons [[emosi]] manusia secara [[Empati|empatik]].<ref name=":Yalcin">Yalçın, Ö.N., DiPaola, S. Modeling empathy: building a link between affective and cognitive processes. Artificial Intelligence Review 53, 2983–3006 (2020). .</ref> Menurut para [[ilmuwan]], meskipun sering dianggap menakutkan dan mengancam oleh banyak orang,<ref>Jan-Philipp Stein. ''Venturing into the uncanny valley of mind—The influence of mind attribution on the acceptance of human-like characters in a virtual reality setting''. ''Cognition''. 2017. Vol. 160. hlm. 43–50. doi:10.1016/j.cognition.2016.12.010.</ref> teknologi ini juga dapat memiliki banyak manfaat positif, khususnya dalam profesi yang secara tradisional terlibat dalam memainkan peran emosional seperti sektor pelayanan kesehatan.<ref name="Baumgaertner">Bert Baumgaertner. [http://doc.gold.ac.uk/aisb50/AISB50-S19/AISB50-S19-Baumgaertner-paper.pdf Do Emotions Matter in the Ethics of Human-Robot Interaction?]. ''Artificial Empathy and Companion Robots''. European Community’s Seventh Framework Programme (FP7/2007-2013) under grant agreement No. 288146 (“HOBBIT”); and the Austrian Science Foundation (FWF) under grant agreement T623-N23 (“V4HRC”). 26 February 2014.</ref> Dari perspektif pemberi perawatan misalnya, melakukan kerja emosional di atas dan di luar persyaratan kerja berbayar sering mengakibatkan stres kronis atau kelelahan, dan mengakibatkan berkembangnya perasaan tidak peka terhadap pasien. Beberapa orang juga berpendapat bahwa hubungan peran emosional antara pasien dan robot sebenarnya dapat memiliki hasil yang lebih positif terutama untuk mengurangi kecemasan pasien, yang bisa dinyatakan dalam ungkapan: "jika saya hanya dirawat robot, mungkin penyakit yang saya derita tidaklah serius." Para ahli memperdebatkan kemungkinan hasil dari teknologi tersebut menggunakan dua perspektif yang berbeda. Entah empati buatan bisa membantu sosialisasi pemberi perawatan, atau berfungsi sebagai pemberi dukungan emosional.<ref name="Baumgaertner" /><ref name="Asada">Minoru Asada. [http://www.macs.hw.ac.uk/~kl360/HRI2014W/submission/S7.pdf Affective Developmental Robotics]. ''How Can We Design the Development of Artificial Empathy?''. Dept. of Adaptive Machine Systems, Graduate School of Engineering, Osaka University. 14 February 2014.</ref>


Definisi yang lebih luas dari empati buatan adalah "kemampuan model non-manusia untuk memprediksi keadaan internal seseorang (misalnya, kognitif, afektif, fisik) berdasarkan sinyal yang ia pancarkan (misalnya, [[ekspresi wajah]], suara, gerakan) atau untuk memprediksi suatu reaksi seseorang (termasuk, namun tidak terbatas pada keadaan internal) ketika dia dihadapkan pada serangkaian rangsangan tertentu (misalnya, ekspresi wajah, suara, gerakan, grafik, musik, dll.)".
Definisi yang lebih luas dari empati buatan adalah "kemampuan model non-manusia untuk memprediksi keadaan internal seseorang (misalnya, kognitif, afektif, fisik) berdasarkan sinyal yang ia pancarkan (misalnya, [[ekspresi wajah]], suara, gerakan) atau untuk memprediksi suatu reaksi seseorang (termasuk, namun tidak terbatas pada keadaan internal) ketika dia dihadapkan pada serangkaian rangsangan tertentu (misalnya, ekspresi wajah, suara, gerakan, grafik, musik, dll.)".<ref name=":0">Xiao, L., Kim, H. J., & Ding, M. (2013). "An introduction to audio and visual research and applications in marketing". ''Review of Marketing Research'', ''10'', p. 244. .</ref>


Lebih lanjut, empati buatan adalah kemampuan yang dimiliki agen buatan (seperti AI atau robot) untuk mendeteksi, mengenali, merasakan, dan merespons keadaan emosi manusia secara mirip dengan empati manusia, dengan mendasarkan pada teori psikologi dan neurobiologi yang mengintegrasikan komponen kognitif dan afektif dalam proses pengenalan serta interaksi emosional. Dalam praktiknya, kemampuan ini  diimplementasikan seperti agen percakapan, robot sosial, dan aplikasi berbasis lingkungan virtual (''metaverse'') dengan tujuan untuk menciptakan interaksi yang lebih manusiawi dan responsif terhadap kondisi emosional pengguna.
Lebih lanjut, empati buatan adalah kemampuan yang dimiliki agen buatan (seperti AI atau robot) untuk mendeteksi, mengenali, merasakan, dan merespons keadaan emosi manusia secara mirip dengan empati manusia, dengan mendasarkan pada teori psikologi dan neurobiologi yang mengintegrasikan komponen kognitif dan afektif dalam proses pengenalan serta interaksi emosional. Dalam praktiknya, kemampuan ini  diimplementasikan seperti agen percakapan, robot sosial, dan aplikasi berbasis lingkungan virtual (''metaverse'') dengan tujuan untuk menciptakan interaksi yang lebih manusiawi dan responsif terhadap kondisi emosional pengguna.<ref name=":3" /><ref>Ӧzge Nilay Y. [https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2212683X18300719 A computational model of empathy for interactive agents]. ''Biologically Inspired Cognitive Architectures''. 2018. Vol. 26. hlm. 20-25. doi:10.1016/j.bica.2018.07.010.</ref><ref>Hana Boukricha. [https://ieeexplore.ieee.org/document/6681438 A Computational Model of Emphaty: Empirical Evaluation]. ''Proceedings of the 2013 Humaine Association Conference on Affective Computing and Intelligent Interaction''. 2013. hlm. 1. doi:10.1109/ACII.2013.7.</ref>


== Perbedaan dengan empati pada umumnya ==
== Perbedaan dengan empati pada umumnya ==
Empati manusia terdiri atas tiga struktur utama, yaitu penularan emosi (''emotional contagion''), kepedulian empatik (''empathic concern''), dan pengambilan perspektif (''perspective-taking''). Penularan emosi merupakan proses otomatis dalam merasakan emosi orang lain, kepedulian empatik adalah kemampuan memahami emosi orang lain dan menunjukkan perhatian, sedangkan pengambilan perspektif merupakan kemampuan kognitif untuk memahami sudut pandang orang lain.
Empati manusia terdiri atas tiga struktur utama, yaitu penularan emosi (''emotional contagion''), kepedulian empatik (''empathic concern''), dan pengambilan perspektif (''perspective-taking''). Penularan emosi merupakan proses otomatis dalam merasakan emosi orang lain, kepedulian empatik adalah kemampuan memahami emosi orang lain dan menunjukkan perhatian, sedangkan pengambilan perspektif merupakan kemampuan kognitif untuk memahami sudut pandang orang lain.


Pada empati buatan, urutan tersebut disusun terbalik: dimulai dari pengambilan perspektif, dilanjutkan dengan kepedulian empatik, dan terakhir penularan emosi. Empati manusia berakar pada pengalaman emosional nyata, sedangkan AI hanya menampilkan fitur semu yang menyerupai empati tanpa dasar pengalaman emosional.
Pada empati buatan, urutan tersebut disusun terbalik: dimulai dari pengambilan perspektif, dilanjutkan dengan kepedulian empatik, dan terakhir penularan emosi.<ref name=":1">Yuping Liu-Thompkins. [https://doi.org/10.1007/s11747-022-00892-5 Artificial empathy in marketing interactions: Bridging the human-AI gap in affective and social customer experience]. ''Journal of the Academy of Marketing Science''. 2022-11-01. Vol. 50 (6). hlm. 1198–1218. doi:10.1007/s11747-022-00892-5.</ref> Empati manusia berakar pada pengalaman emosional nyata, sedangkan AI hanya menampilkan fitur semu yang menyerupai empati tanpa dasar pengalaman emosional.<ref name=":1" />


== Perkembangan ==
== Perkembangan ==
Perkembangan empati buatan dimulai pada tahun 1960-an melalui program [[:en:ELIZA|ELIZA]] yang dikembangkan [[:en:Joseph_Weizenbaum|Joseph Weizenbaum]] di [[Institut Teknologi Massachusetts|MIT]]. Program ini menggunakan metode pencocokan pola dan substitusi sederhana untuk meniru percakapan sehingga menimbulkan kesan seolah-olah memahami perasaan pengguna.
Perkembangan empati buatan dimulai pada tahun 1960-an melalui program [[:en:ELIZA|ELIZA]] yang dikembangkan [[:en:Joseph_Weizenbaum|Joseph Weizenbaum]] di [[Institut Teknologi Massachusetts|MIT]]. Program ini menggunakan metode pencocokan pola dan substitusi sederhana untuk meniru percakapan sehingga menimbulkan kesan seolah-olah memahami perasaan pengguna.<ref>Simone Natale. [https://doi.org/10.1177/1354856517715164 Imagining the thinking machine: Technological myths and the rise of artificial intelligence]. ''Convergence''. 2020-02-01. Vol. 26 (1). hlm. 3–18. doi:10.1177/1354856517715164.</ref>


Pada 2015, Asada memperkenalkan pendekatan robotika pengembangan (''developmental robotics'') untuk meniru perkembangan empati manusia dalam sistem robotik. Pendekatan ini memandang empati sebagai proses dinamis hasil interaksi. Pada masa berikutnya, berbagai aplikasi AI dikembangkan untuk menghasilkan percakapan yang lebih empatik dan konstektual.
Pada 2015, Asada memperkenalkan pendekatan robotika pengembangan (''developmental robotics'') untuk meniru perkembangan empati manusia dalam sistem robotik. Pendekatan ini memandang empati sebagai proses dinamis hasil interaksi.<ref name="Asada" /> Pada masa berikutnya, berbagai aplikasi AI dikembangkan untuk menghasilkan percakapan yang lebih empatik dan konstektual.


== Mekanisme ==
== Mekanisme ==
Empati buatan bekerja melalui beberapa tahapan utama. Pertama, sistem menerima input berupa teks, suara, ekspresi wajah, atau sinyal fisiologis, yang kemudian dianalisis menggunakan [[Pengolahan bahasa alami|pemrosesan bahasa alami]] atau pengenalan wajah. Kedua, emosi yang teridentifikasi diproses dalam konteks percakapan. Ketiga, sistem menghasilkan respons empatik seperti validasi atau dukungan emosional berdasarkan pola data. Keempat, respons disesuaikan dengan reaksi pengguna untuk mempertahankan kesan interaksi alami.
Empati buatan bekerja melalui beberapa tahapan utama. Pertama, sistem menerima input berupa teks, suara, ekspresi wajah, atau sinyal fisiologis, yang kemudian dianalisis menggunakan [[Pengolahan bahasa alami|pemrosesan bahasa alami]] atau pengenalan wajah. Kedua, emosi yang teridentifikasi diproses dalam konteks percakapan. Ketiga, sistem menghasilkan respons empatik seperti validasi atau dukungan emosional berdasarkan pola data. Keempat, respons disesuaikan dengan reaksi pengguna untuk mempertahankan kesan interaksi alami.<ref>Li Zhou. [https://direct.mit.edu/coli/article/46/1/53-93/93380 The Design and Implementation of XiaoIce, an Empathetic Social Chatbot]. ''Computational Linguistics''. 2020-03. Vol. 46 (1). hlm. 53–93. doi:10.1162/coli_a_00368.</ref>


== Ciri-ciri ==
== Ciri-ciri ==
 
*Mampu mengenali emosi manusia. AI bisa mengenali emosi manusia lewat kata, suara, atau ekspresi wajah. Misalnya seseorang mengetik menggunakan huruf kapital dan menggunakan beberapa [[tanda seru]]. AI dapat mengetahui emosi tersebut adalah sebuah kemarahan. Kemampuan ini adalah dasar supaya AI tahu bagaimana merespon dengan tepat.<ref name=":3">Sharjeel Tahir. [http://arxiv.org/abs/2310.00010 Artificial Empathy Classification: A Survey of Deep Learning Techniques, Datasets, and Evaluation Scales]. 2023-09-04. doi:10.48550/arXiv.2310.00010.</ref>
*Mampu mengenali emosi manusia. AI bisa mengenali emosi manusia lewat kata, suara, atau ekspresi wajah. Misalnya seseorang mengetik menggunakan huruf kapital dan menggunakan beberapa [[tanda seru]]. AI dapat mengetahui emosi tersebut adalah sebuah kemarahan. Kemampuan ini adalah dasar supaya AI tahu bagaimana merespon dengan tepat.
*Memberikan respons empatik. Setelah mengenali emosi, AI akan menentukan cara terbaik untuk merespons. Jika pengguna sedang sedih, AI akan menggunakan bahasa yang lembut dan menenangkan, bukan nada datar atau lucu. Tujuannya agar pengguna merasa dihargai dan dipahami, meskipun yang mendengarkan hanyalah sistem digital.<ref name=":3" />
*Memberikan respons empatik. Setelah mengenali emosi, AI akan menentukan cara terbaik untuk merespons. Jika pengguna sedang sedih, AI akan menggunakan bahasa yang lembut dan menenangkan, bukan nada datar atau lucu. Tujuannya agar pengguna merasa dihargai dan dipahami, meskipun yang mendengarkan hanyalah sistem digital.
*Tidak benar-benar merasakan emosi. AI dapat berbicara seolah memiliki empati, tetapi sebenarnya tidak memiliki kesadaran atau perasaan seperti manusia. Semua respons yang terdengar lembut dan penuh perhatian hanyalah hasil pemrosesan data dan algoritma. AI hanya meniru empati, bukan benar-benar mengalaminya.<ref>Alessia Dorigoni. [https://www.frontiersin.org/journals/psychology/articles/10.3389/fpsyg.2025.1568911/full The illusion of empathy: evaluating AI-generated outputs in moments that matter]. ''Frontiers in Psychology''. 2025-07-09. Vol. 16. doi:10.3389/fpsyg.2025.1568911.</ref>
*Tidak benar-benar merasakan emosi. AI dapat berbicara seolah memiliki empati, tetapi sebenarnya tidak memiliki kesadaran atau perasaan seperti manusia. Semua respons yang terdengar lembut dan penuh perhatian hanyalah hasil pemrosesan data dan algoritma. AI hanya meniru empati, bukan benar-benar mengalaminya.
*Bergantung pada data dan algoritma. AI belajar dari ribuan contoh teks, suara, dan gambar wajah untuk mengenali pola emosi manusia. Ketika pengguna berbicara, AI akan menganalisis data yang masuk, mencocokkannya dengan pola yang pernah dipelajari, lalu memilih respons paling cocok berdasarkan algoritma.<ref name=":3" />
*Bergantung pada data dan algoritma. AI belajar dari ribuan contoh teks, suara, dan gambar wajah untuk mengenali pola emosi manusia. Ketika pengguna berbicara, AI akan menganalisis data yang masuk, mencocokkannya dengan pola yang pernah dipelajari, lalu memilih respons paling cocok berdasarkan algoritma.
*Konsistensi dan netral dalam merespon. AI bersifat konsisten dan netral. Konsisten berarti AI menjaga nada emosional yang stabil sesuai dengan konteks percakapan. Misalnya, jika pengguna sedih, AI tetap menggunakan nada dukungan atau menenangkan di sepanjang percakapan, bukan tiba-tiba bercanda atau berkata dingin. Netral berarti AI tidak ikut terbawa emosi pengguna dan tidak berpihak, berbeda dengan manusia yang bisa terpengaruh oleh perasaan.<ref>Zhongliang Cui. [https://www.mdpi.com/2409-9287/7/6/135 A Study on Two Conditions for the Realization of Artificial Empathy and Its Cognitive Foundation]. ''Philosophies''. 2022-11-29. Vol. 7 (6). hlm. 135. doi:10.3390/philosophies7060135.</ref>
*Konsistensi dan netral dalam merespon. AI bersifat konsisten dan netral. Konsisten berarti AI menjaga nada emosional yang stabil sesuai dengan konteks percakapan. Misalnya, jika pengguna sedih, AI tetap menggunakan nada dukungan atau menenangkan di sepanjang percakapan, bukan tiba-tiba bercanda atau berkata dingin. Netral berarti AI tidak ikut terbawa emosi pengguna dan tidak berpihak, berbeda dengan manusia yang bisa terpengaruh oleh perasaan.


== Dampak ==
== Dampak ==
Empati buatan memiliki dampak positif, seperti memberi kenyamanan emosional dengan merespons perasaan pengguna secara menenangkan, meningkatkan rasa percaya melalui interaksi yang lebih alami, serta mendukung kesehatan mental dan sosial lewat [[bot obrolan]] (''chatbot'') konseling (CRECA) maupun robot sosial (ARI).
Empati buatan memiliki dampak positif, seperti memberi kenyamanan emosional dengan merespons perasaan pengguna secara menenangkan, meningkatkan rasa percaya melalui interaksi yang lebih alami, serta mendukung kesehatan mental dan sosial lewat [[bot obrolan]] (''chatbot'') konseling (CRECA) maupun robot sosial (ARI).<ref>Simone Natale. [https://doi.org/10.1177/1354856517715164 Imagining the thinking machine: Technological myths and the rise of artificial intelligence]. ''Convergence: The International Journal of Research into New Media Technologies''. 2017-06-20. Vol. 26 (1). hlm. 3–18. doi:10.1177/1354856517715164.</ref>


Namun, dampak negatifnya juga perlu diperhatikan. [[Ilusi]] empati muncul karena robot hanya mengikuti pola respons, bukan benar-benar memahami perasaan. Ketergantungan berlebihan pada kecerdasan buatan bisa menurunkan kualitas hubungan dengan manusia, sementara respon yang salah atau manipulatif berpotensi memperburuk kondisi mental dan mengurangi rasa percaya diri.
Namun, dampak negatifnya juga perlu diperhatikan. [[Ilusi]] empati muncul karena robot hanya mengikuti pola respons, bukan benar-benar memahami perasaan. Ketergantungan berlebihan pada kecerdasan buatan bisa menurunkan kualitas hubungan dengan manusia, sementara respon yang salah atau manipulatif berpotensi memperburuk kondisi mental dan mengurangi rasa percaya diri.<ref>Roshini Salil. [https://www.frontiersin.org/journals/psychiatry/articles/10.3389/fpsyt.2024.1522915/full Digitalized therapy and the unresolved gap between artificial and human empathy]. ''Frontiers in Psychiatry''. 2025-01-07. Vol. 15. doi:10.3389/fpsyt.2024.1522915.</ref>


== Penerapan dan tantangan ==
== Penerapan dan tantangan ==
Empati buatan kini diterapkan di berbagai bidang, mulai dari bidang kesehatan mental melalui bot obrolan (''[[:en:Chatbot|chatbot]]'') seperti [[:en:Xiaoice|XiaoIce]], [[:en:Replika|Replika]], dan Woebot, hingga konseling digital, periklanan berbasis analisis emosi, dan rekrutmen. Namun, keterbatasannya tetap ada karena kecerdasan buatan tidak memiliki pengalaman subjektif maupun sensitivitas budaya. Risikonya meliputi ilusi empati yang menipu pengguna, potensi manipulasi emosional, serta isu privasi data.
Empati buatan kini diterapkan di berbagai bidang, mulai dari bidang kesehatan mental melalui bot obrolan (''[[:en:Chatbot|chatbot]]'') seperti [[:en:Xiaoice|XiaoIce]], [[:en:Replika|Replika]], dan Woebot, hingga konseling digital, periklanan berbasis analisis emosi, dan rekrutmen.<ref name=":4">Qing Zhao. [https://www.frontiersin.org/journals/psychiatry/articles/10.3389/fpsyt.2025.1686354/full Editorial: Neurological mechanisms of empathy for distress]. ''Frontiers in Psychiatry''. 2025-09-10. Vol. 16. doi:10.3389/fpsyt.2025.1686354.</ref> Namun, keterbatasannya tetap ada karena kecerdasan buatan tidak memiliki pengalaman subjektif maupun sensitivitas budaya. Risikonya meliputi ilusi empati yang menipu pengguna, potensi manipulasi emosional, serta isu privasi data.<ref>Roshini Salil. [https://www.frontiersin.org/journals/psychiatry/articles/10.3389/fpsyt.2024.1522915/full Digitalized therapy and the unresolved gap between artificial and human empathy]. ''Frontiers in Psychiatry''. 2025-01-07. Vol. 15. doi:10.3389/fpsyt.2024.1522915.</ref>


== Prospek ==
== Prospek ==
Empati buatan diperkirakan memainkan peran penting dalam bidang kesehatan, pendidikan, layanan pelanggan, dan pendampingan sosial. Bot obrolan terapi mental, guru virtual adaptif, dan robot pendamping lansia adalah beberapa contoh potensial penerapannya. Namun, karena empati buatan hanya berupa simulasi, pengembangannya perlu disertai regulasi etika agar teknologi ini menjadi alat pendukung dan bukan pengganti empati manusia yang sesungguhnya.
Empati buatan diperkirakan memainkan peran penting dalam bidang kesehatan, pendidikan, layanan pelanggan, dan pendampingan sosial. Bot obrolan terapi mental, guru virtual adaptif, dan robot pendamping lansia adalah beberapa contoh potensial penerapannya.<ref name=":4" /> Namun, karena empati buatan hanya berupa simulasi, pengembangannya perlu disertai regulasi etika agar teknologi ini menjadi alat pendukung dan bukan pengganti empati manusia yang sesungguhnya.


== Faktor ==
== Faktor ==
 
* Kolaborasi manusia dengan AI dalam interaksi empatik. Dalam percakapan yang menuntut empati, seperti konseling sebaya atau dukungan emosional, kolaborasi antara manusia dan kecerdasan buatan (AI) dapat meningkatkan kepekaan komunikasi. Sistem ''AI-in-the-loop'' mampu memberikan saran kalimat alternatif secara waktu nyata untuk membantu relawan berbicara dengan lebih empatik, bukan menggantikan peran manusia dalam merasakan empati.<ref name=":2">Ashish Sharma. [http://arxiv.org/abs/2203.15144 Human-AI Collaboration Enables More Empathic Conversations in Text-based Peer-to-Peer Mental Health Support]. 2022-03-28. doi:10.48550/arXiv.2203.15144.</ref>
* Kolaborasi manusia dengan AI dalam interaksi empatik. Dalam percakapan yang menuntut empati, seperti konseling sebaya atau dukungan emosional, kolaborasi antara manusia dan kecerdasan buatan (AI) dapat meningkatkan kepekaan komunikasi. Sistem ''AI-in-the-loop'' mampu memberikan saran kalimat alternatif secara waktu nyata untuk membantu relawan berbicara dengan lebih empatik, bukan menggantikan peran manusia dalam merasakan empati.
* Ekspektasi sosial dan etika terhadap kehangatan AI. Pengguna sering memiliki harapan emosional dalam interaksi dengan teknologi. Asisten virtual yang menunjukkan nada dan gaya bicara penuh perhatian dinilai lebih menyenangkan dibanding yang datar atau kaku, sehingga memunculkan pertanyaan etis mengenai sejauh mana AI dapat meniru empati manusia tanpa menyesatkan pengguna.<ref>Jocelyn Shen. [https://mental.jmir.org/2024/1/e62679 Empathy Toward Artificial Intelligence Versus Human Experiences and the Role of Transparency in Mental Health and Social Support Chatbot Design: Comparative Study]. ''JMIR Mental Health''. 2024-09-25. Vol. 11 (1). hlm. e62679. doi:10.2196/62679.</ref>
* Ekspektasi sosial dan etika terhadap kehangatan AI. Pengguna sering memiliki harapan emosional dalam interaksi dengan teknologi. Asisten virtual yang menunjukkan nada dan gaya bicara penuh perhatian dinilai lebih menyenangkan dibanding yang datar atau kaku, sehingga memunculkan pertanyaan etis mengenai sejauh mana AI dapat meniru empati manusia tanpa menyesatkan pengguna.
* Sensitivitas konteks dan penyesuaian dinamis. Empati bersifat kontekstual dan harus menyesuaikan dengan situasi serta kondisi emosional pengguna. AI yang empatik perlu mampu mengenali konteks, seperti perbedaan antara pengguna yang sedang lelah, bercanda, atau berduka, agar responsnya tepat dan tidak keliru.<ref>Jina Suh. [http://arxiv.org/abs/2509.16437 SENSE-7: Taxonomy and Dataset for Measuring User Perceptions of Empathy in Sustained Human-AI Conversations]. 2025-09-19. doi:10.48550/arXiv.2509.16437.</ref>
* Sensitivitas konteks dan penyesuaian dinamis. Empati bersifat kontekstual dan harus menyesuaikan dengan situasi serta kondisi emosional pengguna. AI yang empatik perlu mampu mengenali konteks, seperti perbedaan antara pengguna yang sedang lelah, bercanda, atau berduka, agar responsnya tepat dan tidak keliru.
* Aplikasi pada bidang kritis. Dalam bidang seperti kesehatan mental dan konseling, AI dapat mendorong keterbukaan pengguna (''self-disclosure''). Individu cenderung lebih mudah berbagi pengalaman pribadi kepada sistem AI yang dirancang untuk mendengarkan tanpa penilaian.<ref name=":2" />
* Aplikasi pada bidang kritis. Dalam bidang seperti kesehatan mental dan konseling, AI dapat mendorong keterbukaan pengguna (''self-disclosure''). Individu cenderung lebih mudah berbagi pengalaman pribadi kepada sistem AI yang dirancang untuk mendengarkan tanpa penilaian.


== Studi kasus ==
== Studi kasus ==
Kasus yang terjadi menyoroti tragedi bunuh diri seorang remaja berusia 16 tahun di [[Amerika Serikat]] pada April 2025, yang diduga kuat dipengaruhi oleh interaksinya dengan [[ChatGPT]]. Keluarga korban mengajukan gugatan di Pengadilan Tinggi California, menuding ChatGPT memberikan bantuan teknis terkait metode bunuh diri dan bahkan membantu korban menulis surat perpisahan kepada keluarganya. Selama berbulan-bulan, remaja tersebut berdiskusi intensif dengan ChatGPT, dengan percakapan yang mencapai ratusan pesan per hari, termasuk permintaan tentang cara mengakhiri hidup.
Kasus yang terjadi menyoroti tragedi bunuh diri seorang remaja berusia 16 tahun di [[Amerika Serikat]] pada April 2025, yang diduga kuat dipengaruhi oleh interaksinya dengan [[ChatGPT]]. Keluarga korban mengajukan gugatan di Pengadilan Tinggi California, menuding ChatGPT memberikan bantuan teknis terkait metode bunuh diri dan bahkan membantu korban menulis surat perpisahan kepada keluarganya. Selama berbulan-bulan, remaja tersebut berdiskusi intensif dengan ChatGPT, dengan percakapan yang mencapai ratusan pesan per hari, termasuk permintaan tentang cara mengakhiri hidup.


Gugatan menyatakan bahwa [[OpenAI]] terlalu cepat meluncurkan versi terbaru model GPT-4o yang ternyata memiliki kelemahan signifikan dalam menangani isu emosional dan percakapan panjang, sehingga respons chatbot terhadap topik sensitif cenderung kurang tepat. Menanggapi hal ini, OpenAI mengakui kelemahan dalam sistem keamanan mereka dan berencana memperketat perlindungan serta menambah fitur kontrol orang tua dan mekanisme intervensi pengguna yang menunjukkan tanda-tanda distress emosional. Kasus ini menimbulkan dampak besar bagi tanggung jawab pengembang AI dalam menangani interaksi pengguna, khususnya anak dan remaja yang rentan terhadap masalah kesehatan mental, dan mendorong perubahan untuk memperbaiki keamanan dan etika penggunaan teknologi AI tersebut.
Gugatan menyatakan bahwa [[OpenAI]] terlalu cepat meluncurkan versi terbaru model GPT-4o yang ternyata memiliki kelemahan signifikan dalam menangani isu emosional dan percakapan panjang, sehingga respons chatbot terhadap topik sensitif cenderung kurang tepat. Menanggapi hal ini, OpenAI mengakui kelemahan dalam sistem keamanan mereka dan berencana memperketat perlindungan serta menambah fitur kontrol orang tua dan mekanisme intervensi pengguna yang menunjukkan tanda-tanda distress emosional. Kasus ini menimbulkan dampak besar bagi tanggung jawab pengembang AI dalam menangani interaksi pengguna, khususnya anak dan remaja yang rentan terhadap masalah kesehatan mental, dan mendorong perubahan untuk memperbaiki keamanan dan etika penggunaan teknologi AI tersebut.<ref>Kashmir Hill. [https://www.nytimes.com/2025/08/26/technology/chatgpt-openai-suicide.html A Teen Was Suicidal. ChatGPT Was the Friend He Confided In]. 2025-08-26.</ref>


== Referensi ==
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Artikel ini diadaptasi dalam mode teks dari
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Empati+buatan&oldid=28491238 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28491238 (2025-11-14T16:54:01Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Empati_buatan&oldid=28491238 Wikipedia bahasa Indonesia],
 
revisi 28491238 (2025-11-14T16:54:01Z).
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->
Gambar, media, infobox, templat navigasi, dan kategori sumber
tidak diimpor ke Wiki Unissula.
Atribusi dan lisensi mengikuti ketentuan Creative Commons
Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA) pada sumber Wikipedia.

Revisi terkini sejak 23 Agustus 2026 03.05

Empati buatan atau empati komputasional adalah pengembangan sistem kecerdasan buatan (AI) seperti robot pendamping atau agen virtual yang mampu mendeteksi dan merespons emosi manusia secara empatik.[1] Menurut para ilmuwan, meskipun sering dianggap menakutkan dan mengancam oleh banyak orang,[2] teknologi ini juga dapat memiliki banyak manfaat positif, khususnya dalam profesi yang secara tradisional terlibat dalam memainkan peran emosional seperti sektor pelayanan kesehatan.[3] Dari perspektif pemberi perawatan misalnya, melakukan kerja emosional di atas dan di luar persyaratan kerja berbayar sering mengakibatkan stres kronis atau kelelahan, dan mengakibatkan berkembangnya perasaan tidak peka terhadap pasien. Beberapa orang juga berpendapat bahwa hubungan peran emosional antara pasien dan robot sebenarnya dapat memiliki hasil yang lebih positif terutama untuk mengurangi kecemasan pasien, yang bisa dinyatakan dalam ungkapan: "jika saya hanya dirawat robot, mungkin penyakit yang saya derita tidaklah serius." Para ahli memperdebatkan kemungkinan hasil dari teknologi tersebut menggunakan dua perspektif yang berbeda. Entah empati buatan bisa membantu sosialisasi pemberi perawatan, atau berfungsi sebagai pemberi dukungan emosional.[3][4]

Definisi yang lebih luas dari empati buatan adalah "kemampuan model non-manusia untuk memprediksi keadaan internal seseorang (misalnya, kognitif, afektif, fisik) berdasarkan sinyal yang ia pancarkan (misalnya, ekspresi wajah, suara, gerakan) atau untuk memprediksi suatu reaksi seseorang (termasuk, namun tidak terbatas pada keadaan internal) ketika dia dihadapkan pada serangkaian rangsangan tertentu (misalnya, ekspresi wajah, suara, gerakan, grafik, musik, dll.)".[5]

Lebih lanjut, empati buatan adalah kemampuan yang dimiliki agen buatan (seperti AI atau robot) untuk mendeteksi, mengenali, merasakan, dan merespons keadaan emosi manusia secara mirip dengan empati manusia, dengan mendasarkan pada teori psikologi dan neurobiologi yang mengintegrasikan komponen kognitif dan afektif dalam proses pengenalan serta interaksi emosional. Dalam praktiknya, kemampuan ini diimplementasikan seperti agen percakapan, robot sosial, dan aplikasi berbasis lingkungan virtual (metaverse) dengan tujuan untuk menciptakan interaksi yang lebih manusiawi dan responsif terhadap kondisi emosional pengguna.[6][7][8]

Perbedaan dengan empati pada umumnya

Empati manusia terdiri atas tiga struktur utama, yaitu penularan emosi (emotional contagion), kepedulian empatik (empathic concern), dan pengambilan perspektif (perspective-taking). Penularan emosi merupakan proses otomatis dalam merasakan emosi orang lain, kepedulian empatik adalah kemampuan memahami emosi orang lain dan menunjukkan perhatian, sedangkan pengambilan perspektif merupakan kemampuan kognitif untuk memahami sudut pandang orang lain.

Pada empati buatan, urutan tersebut disusun terbalik: dimulai dari pengambilan perspektif, dilanjutkan dengan kepedulian empatik, dan terakhir penularan emosi.[9] Empati manusia berakar pada pengalaman emosional nyata, sedangkan AI hanya menampilkan fitur semu yang menyerupai empati tanpa dasar pengalaman emosional.[9]

Perkembangan

Perkembangan empati buatan dimulai pada tahun 1960-an melalui program ELIZA yang dikembangkan Joseph Weizenbaum di MIT. Program ini menggunakan metode pencocokan pola dan substitusi sederhana untuk meniru percakapan sehingga menimbulkan kesan seolah-olah memahami perasaan pengguna.[10]

Pada 2015, Asada memperkenalkan pendekatan robotika pengembangan (developmental robotics) untuk meniru perkembangan empati manusia dalam sistem robotik. Pendekatan ini memandang empati sebagai proses dinamis hasil interaksi.[4] Pada masa berikutnya, berbagai aplikasi AI dikembangkan untuk menghasilkan percakapan yang lebih empatik dan konstektual.

Mekanisme

Empati buatan bekerja melalui beberapa tahapan utama. Pertama, sistem menerima input berupa teks, suara, ekspresi wajah, atau sinyal fisiologis, yang kemudian dianalisis menggunakan pemrosesan bahasa alami atau pengenalan wajah. Kedua, emosi yang teridentifikasi diproses dalam konteks percakapan. Ketiga, sistem menghasilkan respons empatik seperti validasi atau dukungan emosional berdasarkan pola data. Keempat, respons disesuaikan dengan reaksi pengguna untuk mempertahankan kesan interaksi alami.[11]

Ciri-ciri

  • Mampu mengenali emosi manusia. AI bisa mengenali emosi manusia lewat kata, suara, atau ekspresi wajah. Misalnya seseorang mengetik menggunakan huruf kapital dan menggunakan beberapa tanda seru. AI dapat mengetahui emosi tersebut adalah sebuah kemarahan. Kemampuan ini adalah dasar supaya AI tahu bagaimana merespon dengan tepat.[6]
  • Memberikan respons empatik. Setelah mengenali emosi, AI akan menentukan cara terbaik untuk merespons. Jika pengguna sedang sedih, AI akan menggunakan bahasa yang lembut dan menenangkan, bukan nada datar atau lucu. Tujuannya agar pengguna merasa dihargai dan dipahami, meskipun yang mendengarkan hanyalah sistem digital.[6]
  • Tidak benar-benar merasakan emosi. AI dapat berbicara seolah memiliki empati, tetapi sebenarnya tidak memiliki kesadaran atau perasaan seperti manusia. Semua respons yang terdengar lembut dan penuh perhatian hanyalah hasil pemrosesan data dan algoritma. AI hanya meniru empati, bukan benar-benar mengalaminya.[12]
  • Bergantung pada data dan algoritma. AI belajar dari ribuan contoh teks, suara, dan gambar wajah untuk mengenali pola emosi manusia. Ketika pengguna berbicara, AI akan menganalisis data yang masuk, mencocokkannya dengan pola yang pernah dipelajari, lalu memilih respons paling cocok berdasarkan algoritma.[6]
  • Konsistensi dan netral dalam merespon. AI bersifat konsisten dan netral. Konsisten berarti AI menjaga nada emosional yang stabil sesuai dengan konteks percakapan. Misalnya, jika pengguna sedih, AI tetap menggunakan nada dukungan atau menenangkan di sepanjang percakapan, bukan tiba-tiba bercanda atau berkata dingin. Netral berarti AI tidak ikut terbawa emosi pengguna dan tidak berpihak, berbeda dengan manusia yang bisa terpengaruh oleh perasaan.[13]

Dampak

Empati buatan memiliki dampak positif, seperti memberi kenyamanan emosional dengan merespons perasaan pengguna secara menenangkan, meningkatkan rasa percaya melalui interaksi yang lebih alami, serta mendukung kesehatan mental dan sosial lewat bot obrolan (chatbot) konseling (CRECA) maupun robot sosial (ARI).[14]

Namun, dampak negatifnya juga perlu diperhatikan. Ilusi empati muncul karena robot hanya mengikuti pola respons, bukan benar-benar memahami perasaan. Ketergantungan berlebihan pada kecerdasan buatan bisa menurunkan kualitas hubungan dengan manusia, sementara respon yang salah atau manipulatif berpotensi memperburuk kondisi mental dan mengurangi rasa percaya diri.[15]

Penerapan dan tantangan

Empati buatan kini diterapkan di berbagai bidang, mulai dari bidang kesehatan mental melalui bot obrolan (chatbot) seperti XiaoIce, Replika, dan Woebot, hingga konseling digital, periklanan berbasis analisis emosi, dan rekrutmen.[16] Namun, keterbatasannya tetap ada karena kecerdasan buatan tidak memiliki pengalaman subjektif maupun sensitivitas budaya. Risikonya meliputi ilusi empati yang menipu pengguna, potensi manipulasi emosional, serta isu privasi data.[17]

Prospek

Empati buatan diperkirakan memainkan peran penting dalam bidang kesehatan, pendidikan, layanan pelanggan, dan pendampingan sosial. Bot obrolan terapi mental, guru virtual adaptif, dan robot pendamping lansia adalah beberapa contoh potensial penerapannya.[16] Namun, karena empati buatan hanya berupa simulasi, pengembangannya perlu disertai regulasi etika agar teknologi ini menjadi alat pendukung dan bukan pengganti empati manusia yang sesungguhnya.

Faktor

  • Kolaborasi manusia dengan AI dalam interaksi empatik. Dalam percakapan yang menuntut empati, seperti konseling sebaya atau dukungan emosional, kolaborasi antara manusia dan kecerdasan buatan (AI) dapat meningkatkan kepekaan komunikasi. Sistem AI-in-the-loop mampu memberikan saran kalimat alternatif secara waktu nyata untuk membantu relawan berbicara dengan lebih empatik, bukan menggantikan peran manusia dalam merasakan empati.[18]
  • Ekspektasi sosial dan etika terhadap kehangatan AI. Pengguna sering memiliki harapan emosional dalam interaksi dengan teknologi. Asisten virtual yang menunjukkan nada dan gaya bicara penuh perhatian dinilai lebih menyenangkan dibanding yang datar atau kaku, sehingga memunculkan pertanyaan etis mengenai sejauh mana AI dapat meniru empati manusia tanpa menyesatkan pengguna.[19]
  • Sensitivitas konteks dan penyesuaian dinamis. Empati bersifat kontekstual dan harus menyesuaikan dengan situasi serta kondisi emosional pengguna. AI yang empatik perlu mampu mengenali konteks, seperti perbedaan antara pengguna yang sedang lelah, bercanda, atau berduka, agar responsnya tepat dan tidak keliru.[20]
  • Aplikasi pada bidang kritis. Dalam bidang seperti kesehatan mental dan konseling, AI dapat mendorong keterbukaan pengguna (self-disclosure). Individu cenderung lebih mudah berbagi pengalaman pribadi kepada sistem AI yang dirancang untuk mendengarkan tanpa penilaian.[18]

Studi kasus

Kasus yang terjadi menyoroti tragedi bunuh diri seorang remaja berusia 16 tahun di Amerika Serikat pada April 2025, yang diduga kuat dipengaruhi oleh interaksinya dengan ChatGPT. Keluarga korban mengajukan gugatan di Pengadilan Tinggi California, menuding ChatGPT memberikan bantuan teknis terkait metode bunuh diri dan bahkan membantu korban menulis surat perpisahan kepada keluarganya. Selama berbulan-bulan, remaja tersebut berdiskusi intensif dengan ChatGPT, dengan percakapan yang mencapai ratusan pesan per hari, termasuk permintaan tentang cara mengakhiri hidup.

Gugatan menyatakan bahwa OpenAI terlalu cepat meluncurkan versi terbaru model GPT-4o yang ternyata memiliki kelemahan signifikan dalam menangani isu emosional dan percakapan panjang, sehingga respons chatbot terhadap topik sensitif cenderung kurang tepat. Menanggapi hal ini, OpenAI mengakui kelemahan dalam sistem keamanan mereka dan berencana memperketat perlindungan serta menambah fitur kontrol orang tua dan mekanisme intervensi pengguna yang menunjukkan tanda-tanda distress emosional. Kasus ini menimbulkan dampak besar bagi tanggung jawab pengembang AI dalam menangani interaksi pengguna, khususnya anak dan remaja yang rentan terhadap masalah kesehatan mental, dan mendorong perubahan untuk memperbaiki keamanan dan etika penggunaan teknologi AI tersebut.[21]

Referensi

  1. Yalçın, Ö.N., DiPaola, S. Modeling empathy: building a link between affective and cognitive processes. Artificial Intelligence Review 53, 2983–3006 (2020). .
  2. Jan-Philipp Stein. Venturing into the uncanny valley of mind—The influence of mind attribution on the acceptance of human-like characters in a virtual reality setting. Cognition. 2017. Vol. 160. hlm. 43–50. doi:10.1016/j.cognition.2016.12.010.
  3. 3,0 3,1 Bert Baumgaertner. Do Emotions Matter in the Ethics of Human-Robot Interaction?. Artificial Empathy and Companion Robots. European Community’s Seventh Framework Programme (FP7/2007-2013) under grant agreement No. 288146 (“HOBBIT”); and the Austrian Science Foundation (FWF) under grant agreement T623-N23 (“V4HRC”). 26 February 2014.
  4. 4,0 4,1 Minoru Asada. Affective Developmental Robotics. How Can We Design the Development of Artificial Empathy?. Dept. of Adaptive Machine Systems, Graduate School of Engineering, Osaka University. 14 February 2014.
  5. Xiao, L., Kim, H. J., & Ding, M. (2013). "An introduction to audio and visual research and applications in marketing". Review of Marketing Research, 10, p. 244. .
  6. 6,0 6,1 6,2 6,3 Sharjeel Tahir. Artificial Empathy Classification: A Survey of Deep Learning Techniques, Datasets, and Evaluation Scales. 2023-09-04. doi:10.48550/arXiv.2310.00010.
  7. Ӧzge Nilay Y. A computational model of empathy for interactive agents. Biologically Inspired Cognitive Architectures. 2018. Vol. 26. hlm. 20-25. doi:10.1016/j.bica.2018.07.010.
  8. Hana Boukricha. A Computational Model of Emphaty: Empirical Evaluation. Proceedings of the 2013 Humaine Association Conference on Affective Computing and Intelligent Interaction. 2013. hlm. 1. doi:10.1109/ACII.2013.7.
  9. 9,0 9,1 Yuping Liu-Thompkins. Artificial empathy in marketing interactions: Bridging the human-AI gap in affective and social customer experience. Journal of the Academy of Marketing Science. 2022-11-01. Vol. 50 (6). hlm. 1198–1218. doi:10.1007/s11747-022-00892-5.
  10. Simone Natale. Imagining the thinking machine: Technological myths and the rise of artificial intelligence. Convergence. 2020-02-01. Vol. 26 (1). hlm. 3–18. doi:10.1177/1354856517715164.
  11. Li Zhou. The Design and Implementation of XiaoIce, an Empathetic Social Chatbot. Computational Linguistics. 2020-03. Vol. 46 (1). hlm. 53–93. doi:10.1162/coli_a_00368.
  12. Alessia Dorigoni. The illusion of empathy: evaluating AI-generated outputs in moments that matter. Frontiers in Psychology. 2025-07-09. Vol. 16. doi:10.3389/fpsyg.2025.1568911.
  13. Zhongliang Cui. A Study on Two Conditions for the Realization of Artificial Empathy and Its Cognitive Foundation. Philosophies. 2022-11-29. Vol. 7 (6). hlm. 135. doi:10.3390/philosophies7060135.
  14. Simone Natale. Imagining the thinking machine: Technological myths and the rise of artificial intelligence. Convergence: The International Journal of Research into New Media Technologies. 2017-06-20. Vol. 26 (1). hlm. 3–18. doi:10.1177/1354856517715164.
  15. Roshini Salil. Digitalized therapy and the unresolved gap between artificial and human empathy. Frontiers in Psychiatry. 2025-01-07. Vol. 15. doi:10.3389/fpsyt.2024.1522915.
  16. 16,0 16,1 Qing Zhao. Editorial: Neurological mechanisms of empathy for distress. Frontiers in Psychiatry. 2025-09-10. Vol. 16. doi:10.3389/fpsyt.2025.1686354.
  17. Roshini Salil. Digitalized therapy and the unresolved gap between artificial and human empathy. Frontiers in Psychiatry. 2025-01-07. Vol. 15. doi:10.3389/fpsyt.2024.1522915.
  18. 18,0 18,1 Ashish Sharma. Human-AI Collaboration Enables More Empathic Conversations in Text-based Peer-to-Peer Mental Health Support. 2022-03-28. doi:10.48550/arXiv.2203.15144.
  19. Jocelyn Shen. Empathy Toward Artificial Intelligence Versus Human Experiences and the Role of Transparency in Mental Health and Social Support Chatbot Design: Comparative Study. JMIR Mental Health. 2024-09-25. Vol. 11 (1). hlm. e62679. doi:10.2196/62679.
  20. Jina Suh. SENSE-7: Taxonomy and Dataset for Measuring User Perceptions of Empathy in Sustained Human-AI Conversations. 2025-09-19. doi:10.48550/arXiv.2509.16437.
  21. Kashmir Hill. A Teen Was Suicidal. ChatGPT Was the Friend He Confided In. 2025-08-26.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28491238 (2025-11-14T16:54:01Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.