Lompat ke isi

Sengkalan Jawa: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29234986; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Sengkalan''' merupakan sandi untuk menulis tahun atau penanda waktu dalam [[bahasa Jawa]]. Secara etimologi kata sengkalan berasal dari kata ''saka'' yang berarti "angka" dan ''kala'' yang artinya "waktu". Sengkalan juga sering disebut sebagai [[Kronogram]] Jawa. Sengkalan atau juga sering disebut  ''Candrasengkala'' ditulis dengan cara menyusun kata yang bermakna sebuah angka dan ditulis secara terbalik. Hal ini juga menggambarkan bahwa sengkalan ditulis untuk keperluan tertentu misalnya, peringatan hari penting maupun peristiwa bersejarah. Sengkalan biasanya ditemukan pada bangunan atau makam sebagai hiasan artistik.
'''Sengkalan''' merupakan sandi untuk menulis tahun atau penanda waktu dalam [[bahasa Jawa]]. Secara etimologi kata sengkalan berasal dari kata ''saka'' yang berarti "angka" dan ''kala'' yang artinya "waktu". Sengkalan juga sering disebut sebagai [[Kronogram]] Jawa.<ref>[https://kawruhbasa.com/ Kawruh Basa Berita Terkini Seputar Bahasa Jawa].</ref> Sengkalan atau juga sering disebut  ''Candrasengkala'' ditulis dengan cara menyusun kata yang bermakna sebuah angka dan ditulis secara terbalik. Hal ini juga menggambarkan bahwa sengkalan ditulis untuk keperluan tertentu misalnya, peringatan hari penting maupun peristiwa bersejarah. Sengkalan biasanya ditemukan pada bangunan atau makam sebagai hiasan artistik.<ref>Sudadi Sudadi. [https://repositori.kemdikbud.go.id/11160/1/Sengkalan-Sudadi-Final_0.pdf SENGKALAN ANGKA TAHUN DI BALIK UNGKAPAN JAWA]. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. 2018. hlm. 2-3. ISBN 978-602-437-314-6.</ref>


== Jenis ==
== Jenis ==
Ditinjau dari wujud dan gabungan kata yang dipilih, sengkalan terbagi menjadi dua jenis, yakni sengkalan ''lamba'' dan sengkalan ''memet''. Sengkalan ''lamba'' adalah sengkalan yang berbentuk kalimat atau kumpulan kata yang berisi angka tertentu misal, ''sirna ilang kertaning bumi'' (dalam [[bahasa Indonesia]] : sirna dan hilangnya kesejahteran bumi) yang menjadi pengingat peristiwa sejarah runtuhnya Kerajaan Majapahit. ''Sirna'' (musnah) melambangkan nol. Sesuatu yang telah sirna berarti hilang atau tiada, oleh karena itu digunakan untuk melambangkan  angka nol. ''Ilang'' (hilang) juga melambangkan angka nol karena barang yang hilang berarti tak ada lagi. ''Kerta'' (kesejahteraan) menggambarkan angka 4 dan bumi hanya ada satu di dunia sehingga kata bumi melambangkan angka satu. Jika disusun secara  terbalik, terbentuklah angka tahun 1400, bertepatan dengan tahun 1478 Masehi tahun runtuhnya Kerajaan [[Majapahit]].
Ditinjau dari wujud dan gabungan kata yang dipilih, sengkalan terbagi menjadi dua jenis, yakni sengkalan ''lamba'' dan sengkalan ''memet''. Sengkalan ''lamba'' adalah sengkalan yang berbentuk kalimat atau kumpulan kata yang berisi angka tertentu misal, ''sirna ilang kertaning bumi'' (dalam [[bahasa Indonesia]] : sirna dan hilangnya kesejahteran bumi) yang menjadi pengingat peristiwa sejarah runtuhnya Kerajaan Majapahit. ''Sirna'' (musnah) melambangkan nol. Sesuatu yang telah sirna berarti hilang atau tiada, oleh karena itu digunakan untuk melambangkan  angka nol. ''Ilang'' (hilang) juga melambangkan angka nol karena barang yang hilang berarti tak ada lagi. ''Kerta'' (kesejahteraan) menggambarkan angka 4 dan bumi hanya ada satu di dunia sehingga kata bumi melambangkan angka satu. Jika disusun secara  terbalik, terbentuklah angka tahun 1400, bertepatan dengan tahun 1478 Masehi tahun runtuhnya Kerajaan [[Majapahit]].<ref>Sudadi Sudadi. [https://repositori.kemdikbud.go.id/11160/1/Sengkalan-Sudadi-Final_0.pdf SENGKALAN ANGKA TAHUN DI BALIK UNGKAPAN JAWA]. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. 2018. hlm. 2-3. ISBN 978-602-437-314-6.</ref>


Sengkalan ''memet'' adalah jenis sengkalan yang dibuat dengan menggambarkan sesuatu yang memiliki makna sebuah angka. Sengkalan ''memet'' yang terkenal salah satunya adalah gambar naga pada salah satu ruang di [[Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat|Keraton Yogyakarta Hadiningrat]] yang sering disebut [[Dwi Naga Rasa Tunggal|Dwi naga rasa tunggal]]. ''Dwi'' dalam bahasa jawa berarti dua, naga yang menggambarkan angka delapan rasa angka enam dan tunggal menggambarkan angka satu. Sengkalan ini menggambarkan tahun berdirinya Kraton Yogyakarta Hadiningrat dalam tahun Jawa yakni 1682.
Sengkalan ''memet'' adalah jenis sengkalan yang dibuat dengan menggambarkan sesuatu yang memiliki makna sebuah angka. Sengkalan ''memet'' yang terkenal salah satunya adalah gambar naga pada salah satu ruang di [[Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat|Keraton Yogyakarta Hadiningrat]] yang sering disebut [[Dwi Naga Rasa Tunggal|Dwi naga rasa tunggal]]. ''Dwi'' dalam bahasa jawa berarti dua, naga yang menggambarkan angka delapan rasa angka enam dan tunggal menggambarkan angka satu. Sengkalan ini menggambarkan tahun berdirinya Kraton Yogyakarta Hadiningrat dalam tahun Jawa yakni 1682.<ref>[https://kawruhbasa.com/ Kawruh Basa Berita Terkini Seputar Bahasa Jawa].</ref>


== Watak ==
== Watak ==
Baris 10: Baris 10:


== Referensi ==
== Referensi ==
 
<references />
 


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sengkalan+Jawa&oldid=29234986 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29234986 (2026-05-16T09:37:10Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sengkalan+Jawa&oldid=29234986 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29234986 (2026-05-16T09:37:10Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 27 Agustus 2026 03.57

Sengkalan merupakan sandi untuk menulis tahun atau penanda waktu dalam bahasa Jawa. Secara etimologi kata sengkalan berasal dari kata saka yang berarti "angka" dan kala yang artinya "waktu". Sengkalan juga sering disebut sebagai Kronogram Jawa.[1] Sengkalan atau juga sering disebut Candrasengkala ditulis dengan cara menyusun kata yang bermakna sebuah angka dan ditulis secara terbalik. Hal ini juga menggambarkan bahwa sengkalan ditulis untuk keperluan tertentu misalnya, peringatan hari penting maupun peristiwa bersejarah. Sengkalan biasanya ditemukan pada bangunan atau makam sebagai hiasan artistik.[2]

Jenis

Ditinjau dari wujud dan gabungan kata yang dipilih, sengkalan terbagi menjadi dua jenis, yakni sengkalan lamba dan sengkalan memet. Sengkalan lamba adalah sengkalan yang berbentuk kalimat atau kumpulan kata yang berisi angka tertentu misal, sirna ilang kertaning bumi (dalam bahasa Indonesia : sirna dan hilangnya kesejahteran bumi) yang menjadi pengingat peristiwa sejarah runtuhnya Kerajaan Majapahit. Sirna (musnah) melambangkan nol. Sesuatu yang telah sirna berarti hilang atau tiada, oleh karena itu digunakan untuk melambangkan angka nol. Ilang (hilang) juga melambangkan angka nol karena barang yang hilang berarti tak ada lagi. Kerta (kesejahteraan) menggambarkan angka 4 dan bumi hanya ada satu di dunia sehingga kata bumi melambangkan angka satu. Jika disusun secara terbalik, terbentuklah angka tahun 1400, bertepatan dengan tahun 1478 Masehi tahun runtuhnya Kerajaan Majapahit.[3]

Sengkalan memet adalah jenis sengkalan yang dibuat dengan menggambarkan sesuatu yang memiliki makna sebuah angka. Sengkalan memet yang terkenal salah satunya adalah gambar naga pada salah satu ruang di Keraton Yogyakarta Hadiningrat yang sering disebut Dwi naga rasa tunggal. Dwi dalam bahasa jawa berarti dua, naga yang menggambarkan angka delapan rasa angka enam dan tunggal menggambarkan angka satu. Sengkalan ini menggambarkan tahun berdirinya Kraton Yogyakarta Hadiningrat dalam tahun Jawa yakni 1682.[4]

Watak

Kata atau kalimat yang disusun untuk membentuk sebuah sengkalan memiliki watak tertentu yang terbagi menjadi sepuluh watak yakni watak satu sampai sepuluh.

Referensi

  1. Kawruh Basa Berita Terkini Seputar Bahasa Jawa.
  2. Sudadi Sudadi. SENGKALAN ANGKA TAHUN DI BALIK UNGKAPAN JAWA. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. 2018. hlm. 2-3. ISBN 978-602-437-314-6.
  3. Sudadi Sudadi. SENGKALAN ANGKA TAHUN DI BALIK UNGKAPAN JAWA. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. 2018. hlm. 2-3. ISBN 978-602-437-314-6.
  4. Kawruh Basa Berita Terkini Seputar Bahasa Jawa.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29234986 (2026-05-16T09:37:10Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.