Lompat ke isi

Diskontinuitas (rekayasa geoteknik): Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28666892; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Diskontinuitas''' (sering disebut ''joint'')  dalam rekayasa geoteknik merupakan bidang atau permukaan yang menandai perubahan karakteristik fisik atau kimia pada massa tanah atau batuan. Diskontinuitas dapat berupa bidang ''bedding'', [[sekis]], [[Foliasi (geologi)|foliasi]], ''joint'', [[Belahan (geologi)|belahan]], [[Kekar (geologi)|kekar]], retak, atau bidang [[Patahan (geologi)|patahan]]. Diskontinuitas membuat massa tanah atau batuan menjadi anisotropik, yaitu sifat mekaniknya berbeda tergantung arah.
'''Diskontinuitas''' (sering disebut ''joint'')  dalam rekayasa geoteknik merupakan bidang atau permukaan yang menandai perubahan karakteristik fisik atau kimia pada massa tanah atau batuan. Diskontinuitas dapat berupa bidang ''bedding'', [[sekis]], [[Foliasi (geologi)|foliasi]], ''joint'', [[Belahan (geologi)|belahan]], [[Kekar (geologi)|kekar]], retak, atau bidang [[Patahan (geologi)|patahan]]. Diskontinuitas membuat massa tanah atau batuan menjadi anisotropik, yaitu sifat mekaniknya berbeda tergantung arah.<ref>[https://en.wikipedia.org/wiki/Special:BookSources/978-975-93675-4-1 The complete ISRM suggested methods for rock characterization, testing and monitoring: 1974-2006]. Commission on Testing Methods, International Society for Rock Mechanics. 2007. ISBN 978-975-93675-4-1.</ref><ref>David George Price. [https://en.wikipedia.org/wiki/Special:BookSources/978-3-540-29249-4 Engineering geology: principles and practice]. Springer. 2009. ISBN 978-3-540-29249-4.</ref><ref>[https://doi.org/10.1016/0148-9062(91)90830-f Geomechanics classification system for the rating of rock mass in mine design]. ''International Journal of Rock Mechanics and Mining Sciences & Geomechanics Abstracts''. 1991-07. Vol. 28 (4). hlm. A228. doi:10.1016/0148-9062(91)90830-f.</ref>


Selama evolusi geologi, banyak diskontinuitas terbentuk di dalam massa batuan. Karakteristik struktural massa batuan, termasuk orientasi, jarak antar diskontinuitas, dan sifat mekanik bidang diskontinuitas, memiliki peran penting dalam perilaku deformasi dan kerusakan batuan. Pemahaman terhadap karakteristik perkembangan dan pola distribusi diskontinuitas diperlukan untuk mengevaluasi distribusi tegangan internal serta stabilitas massa batuan dalam berbagai kondisi geoteknik.
Selama evolusi geologi, banyak diskontinuitas terbentuk di dalam massa batuan. Karakteristik struktural massa batuan, termasuk orientasi, jarak antar diskontinuitas, dan sifat mekanik bidang diskontinuitas, memiliki peran penting dalam perilaku deformasi dan kerusakan batuan. Pemahaman terhadap karakteristik perkembangan dan pola distribusi diskontinuitas diperlukan untuk mengevaluasi distribusi tegangan internal serta stabilitas massa batuan dalam berbagai kondisi geoteknik.<ref>Changle Pu. [https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1674775524003743 Characterization and clustering of rock discontinuity sets: A review]. ''Journal of Rock Mechanics and Geotechnical Engineering''. 2025-02-01. Vol. 17 (2). hlm. 1240–1262. doi:10.1016/j.jrmge.2024.03.041.</ref>


== Klasifikasi ==
== Klasifikasi ==
Diskontinuitas mekanik adalah bidang kelemahan fisik di mana kekuatan tarik tegak lurus bidang atau kekuatan geser sepanjang bidang lebih rendah dibanding material tanah atau batuan sekitarnya. Sebaliknya, diskontinuitas integral memiliki kekuatan yang sebanding dengan material sekitarnya. Namun, diskontinuitas integral dapat berubah menjadi mekanik akibat proses fisik atau kimia, seperti pelapukan, yang mengubah karakteristik mekaniknya.
Diskontinuitas mekanik adalah bidang kelemahan fisik di mana kekuatan tarik tegak lurus bidang atau kekuatan geser sepanjang bidang lebih rendah dibanding material tanah atau batuan sekitarnya. Sebaliknya, diskontinuitas integral memiliki kekuatan yang sebanding dengan material sekitarnya. Namun, diskontinuitas integral dapat berubah menjadi mekanik akibat proses fisik atau kimia, seperti pelapukan, yang mengubah karakteristik mekaniknya.<ref>Frederick Tating. [https://doi.org/10.1007/s10064-014-0625-5 Weathering effects on discontinuity properties in sandstone in a tropical environment: case study at Kota Kinabalu, Sabah Malaysia]. ''Bulletin of Engineering Geology and the Environment''. 2015-05-01. Vol. 74 (2). hlm. 427–441. doi:10.1007/s10064-014-0625-5.</ref>


Set dinkontinuitas ''(set discontinuity)'' atau keluarga diskontinuitas ''(family discontinuity)'' adalah serangkaian diskontinuitas yang memiliki karakteristik mekanik, orientasi, dan jarak antar diskontinuitas yang secara luas seragam, terbentuk dari proses geologi berulang. Misalnya, bidang ''bedding'' terbentuk akibat siklus [[sedimentasi]] yang berulang, dan pelipatan batuan dapat menghasilkan ''joint'' dengan jarak reguler untuk mengakomodasi ekspansi atau penyusutan batuan.Diskontinuitas dengan asal yang sama biasanya memiliki kekuatan geser, kekasaran, pengisian (infill), dan orientasi yang serupa. Diskontinuitas tunggal dapat berupa fitur yang berdiri sendiri, seperti patahan atau sendi terisolasi, dan kadang diperlakukan sebagai tunggal meski secara teknis bagian dari set, terutama jika jaraknya relatif jauh dibanding ukuran aplikasi rekayasa.
Set dinkontinuitas ''(set discontinuity)'' atau keluarga diskontinuitas ''(family discontinuity)'' adalah serangkaian diskontinuitas yang memiliki karakteristik mekanik, orientasi, dan jarak antar diskontinuitas yang secara luas seragam, terbentuk dari proses geologi berulang. Misalnya, bidang ''bedding'' terbentuk akibat siklus [[sedimentasi]] yang berulang, dan pelipatan batuan dapat menghasilkan ''joint'' dengan jarak reguler untuk mengakomodasi ekspansi atau penyusutan batuan.Diskontinuitas dengan asal yang sama biasanya memiliki kekuatan geser, kekasaran, pengisian (infill), dan orientasi yang serupa.<ref>N. Barton. [https://doi.org/10.1007/BF01261801 The shear strength of rock joints in theory and practice]. ''Rock mechanics''. 1977-12-01. Vol. 10 (1). hlm. 1–54. doi:10.1007/BF01261801.</ref><ref>[https://en.wikipedia.org/wiki/Special:BookSources/978-90-5410-576-3 Proceedings / Eighth International Congress on Rock Mechanics: Tokyo, Japan, 1995 = Berichte / Achter Internationaler Kongress über Felsmechanik. 3: Opening ceremony [u.a.]]. Balkema. 1997. ISBN 978-90-5410-576-3.</ref> Diskontinuitas tunggal dapat berupa fitur yang berdiri sendiri, seperti patahan atau sendi terisolasi, dan kadang diperlakukan sebagai tunggal meski secara teknis bagian dari set, terutama jika jaraknya relatif jauh dibanding ukuran aplikasi rekayasa.<ref>H. Tiruneh. [https://www.semanticscholar.org/paper/Discontinuity-Mapping-Using-Ground-Based-LiDAR%3A-an-Tiruneh-Stetler/6803d37fce90a915d55d3b5a60c957ef07dae957 Discontinuity Mapping Using Ground-Based LiDAR: Case Study from an Open Pit Mine]. 2013.</ref>


== Karakterisasi ==
== Karakterisasi ==
Untuk menggambarkan dan menganalisis diskontinuitas, standar internasional seperti ISO 14689-1:2003 dan pedoman ISRM digunakan. Parameter yang digunakan meliputi orientasi bidang, jarak antar diskontinuitas, kekasaran bidang, material pengisi, persistensi, dan kekuatan geser. Karakterisasi ini penting untuk memahami perilaku mekanik massa batuan, misalnya dalam stabilitas lereng, desain fondasi, atau [[terowongan]], karena diskontinuitas memengaruhi distribusi tegangan dan deformasi pada batuan atau tanah.
Untuk menggambarkan dan menganalisis diskontinuitas, standar internasional seperti ISO 14689-1:2003 dan pedoman ISRM digunakan.<ref>R. Hack. [https://doi.org/10.1007/s10064-002-0155-4 A new approach to rock slope stability – a probability classification (SSPC)]. ''Bulletin of Engineering Geology and the Environment''. 2003-05-01. Vol. 62 (2). hlm. 167–184. doi:10.1007/s10064-002-0155-4.</ref> Parameter yang digunakan meliputi orientasi bidang, jarak antar diskontinuitas, kekasaran bidang, material pengisi, persistensi, dan kekuatan geser. Karakterisasi ini penting untuk memahami perilaku mekanik massa batuan, misalnya dalam stabilitas lereng, desain fondasi, atau [[terowongan]], karena diskontinuitas memengaruhi distribusi tegangan dan deformasi pada batuan atau tanah.<ref>[https://en.wikipedia.org/wiki/Special:BookSources/978-975-93675-4-1 The complete ISRM suggested methods for rock characterization, testing and monitoring: 1974-2006]. Commission on Testing Methods, International Society for Rock Mechanics. 2007. ISBN 978-975-93675-4-1.</ref><ref>F.G. Bell. [https://doi.org/10.1016/b978-0-7506-0489-5.50013-5 Description and classification of rocks and rock masses]. Elsevier. 1992. hlm. 229–255. ISBN 978-0-7506-0489-5.</ref>


== Referensi ==
== Referensi ==
 
<references />
 


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Diskontinuitas+%28rekayasa+geoteknik%29&oldid=28666892 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28666892 (2025-12-06T01:21:55Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Diskontinuitas+%28rekayasa+geoteknik%29&oldid=28666892 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28666892 (2025-12-06T01:21:55Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 27 Agustus 2026 09.01

Diskontinuitas (sering disebut joint) dalam rekayasa geoteknik merupakan bidang atau permukaan yang menandai perubahan karakteristik fisik atau kimia pada massa tanah atau batuan. Diskontinuitas dapat berupa bidang bedding, sekis, foliasi, joint, belahan, kekar, retak, atau bidang patahan. Diskontinuitas membuat massa tanah atau batuan menjadi anisotropik, yaitu sifat mekaniknya berbeda tergantung arah.[1][2][3]

Selama evolusi geologi, banyak diskontinuitas terbentuk di dalam massa batuan. Karakteristik struktural massa batuan, termasuk orientasi, jarak antar diskontinuitas, dan sifat mekanik bidang diskontinuitas, memiliki peran penting dalam perilaku deformasi dan kerusakan batuan. Pemahaman terhadap karakteristik perkembangan dan pola distribusi diskontinuitas diperlukan untuk mengevaluasi distribusi tegangan internal serta stabilitas massa batuan dalam berbagai kondisi geoteknik.[4]

Klasifikasi

Diskontinuitas mekanik adalah bidang kelemahan fisik di mana kekuatan tarik tegak lurus bidang atau kekuatan geser sepanjang bidang lebih rendah dibanding material tanah atau batuan sekitarnya. Sebaliknya, diskontinuitas integral memiliki kekuatan yang sebanding dengan material sekitarnya. Namun, diskontinuitas integral dapat berubah menjadi mekanik akibat proses fisik atau kimia, seperti pelapukan, yang mengubah karakteristik mekaniknya.[5]

Set dinkontinuitas (set discontinuity) atau keluarga diskontinuitas (family discontinuity) adalah serangkaian diskontinuitas yang memiliki karakteristik mekanik, orientasi, dan jarak antar diskontinuitas yang secara luas seragam, terbentuk dari proses geologi berulang. Misalnya, bidang bedding terbentuk akibat siklus sedimentasi yang berulang, dan pelipatan batuan dapat menghasilkan joint dengan jarak reguler untuk mengakomodasi ekspansi atau penyusutan batuan.Diskontinuitas dengan asal yang sama biasanya memiliki kekuatan geser, kekasaran, pengisian (infill), dan orientasi yang serupa.[6][7] Diskontinuitas tunggal dapat berupa fitur yang berdiri sendiri, seperti patahan atau sendi terisolasi, dan kadang diperlakukan sebagai tunggal meski secara teknis bagian dari set, terutama jika jaraknya relatif jauh dibanding ukuran aplikasi rekayasa.[8]

Karakterisasi

Untuk menggambarkan dan menganalisis diskontinuitas, standar internasional seperti ISO 14689-1:2003 dan pedoman ISRM digunakan.[9] Parameter yang digunakan meliputi orientasi bidang, jarak antar diskontinuitas, kekasaran bidang, material pengisi, persistensi, dan kekuatan geser. Karakterisasi ini penting untuk memahami perilaku mekanik massa batuan, misalnya dalam stabilitas lereng, desain fondasi, atau terowongan, karena diskontinuitas memengaruhi distribusi tegangan dan deformasi pada batuan atau tanah.[10][11]

Referensi

  1. The complete ISRM suggested methods for rock characterization, testing and monitoring: 1974-2006. Commission on Testing Methods, International Society for Rock Mechanics. 2007. ISBN 978-975-93675-4-1.
  2. David George Price. Engineering geology: principles and practice. Springer. 2009. ISBN 978-3-540-29249-4.
  3. Geomechanics classification system for the rating of rock mass in mine design. International Journal of Rock Mechanics and Mining Sciences & Geomechanics Abstracts. 1991-07. Vol. 28 (4). hlm. A228. doi:10.1016/0148-9062(91)90830-f.
  4. Changle Pu. Characterization and clustering of rock discontinuity sets: A review. Journal of Rock Mechanics and Geotechnical Engineering. 2025-02-01. Vol. 17 (2). hlm. 1240–1262. doi:10.1016/j.jrmge.2024.03.041.
  5. Frederick Tating. Weathering effects on discontinuity properties in sandstone in a tropical environment: case study at Kota Kinabalu, Sabah Malaysia. Bulletin of Engineering Geology and the Environment. 2015-05-01. Vol. 74 (2). hlm. 427–441. doi:10.1007/s10064-014-0625-5.
  6. N. Barton. The shear strength of rock joints in theory and practice. Rock mechanics. 1977-12-01. Vol. 10 (1). hlm. 1–54. doi:10.1007/BF01261801.
  7. Proceedings / Eighth International Congress on Rock Mechanics: Tokyo, Japan, 1995 = Berichte / Achter Internationaler Kongress über Felsmechanik. 3: Opening ceremony [u.a.]. Balkema. 1997. ISBN 978-90-5410-576-3.
  8. H. Tiruneh. Discontinuity Mapping Using Ground-Based LiDAR: Case Study from an Open Pit Mine. 2013.
  9. R. Hack. A new approach to rock slope stability – a probability classification (SSPC). Bulletin of Engineering Geology and the Environment. 2003-05-01. Vol. 62 (2). hlm. 167–184. doi:10.1007/s10064-002-0155-4.
  10. The complete ISRM suggested methods for rock characterization, testing and monitoring: 1974-2006. Commission on Testing Methods, International Society for Rock Mechanics. 2007. ISBN 978-975-93675-4-1.
  11. F.G. Bell. Description and classification of rocks and rock masses. Elsevier. 1992. hlm. 229–255. ISBN 978-0-7506-0489-5.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28666892 (2025-12-06T01:21:55Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.