Lompat ke isi

Ekolokasi hewan: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29213275; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
[[File:Animal_echolocation.svg|thumb|right|280px|Animal echolocation]]
'''Ekolokasi''', juga disebut '''bio sonar''', adalah [[sonar]] aktif biologis yang digunakan oleh beberapa kelompok [[hewan]], baik di udara maupun di bawah air. Hewan yang melakukan ekolokasi memancarkan panggilan dan mendengarkan [[gema]] dari panggilan yang kembali dari berbagai objek di dekat mereka. Mereka menggunakan gema ini untuk menemukan dan mengidentifikasi objek. Ekolokasi digunakan untuk [[navigasi hewan|navigasi]], [[merambah]], dan [[pemangsaan|berburu mangsa]].
'''Ekolokasi''', juga disebut '''bio sonar''', adalah [[sonar]] aktif biologis yang digunakan oleh beberapa kelompok [[hewan]], baik di udara maupun di bawah air. Hewan yang melakukan ekolokasi memancarkan panggilan dan mendengarkan [[gema]] dari panggilan yang kembali dari berbagai objek di dekat mereka. Mereka menggunakan gema ini untuk menemukan dan mengidentifikasi objek. Ekolokasi digunakan untuk [[navigasi hewan|navigasi]], [[merambah]], dan [[pemangsaan|berburu mangsa]].


Baris 8: Baris 10:


==Penelitian awal==
==Penelitian awal==
Istilah ekolokasi diciptakan pada tahun 1944 oleh ahli zoologi Amerika Donald Griffin, yang bersama Robert Galambos, pertama kali menunjukkan fenomena tersebut pada [[kelelawar]]. Seperti yang dijelaskan Griffin dalam bukunya, ilmuwan Italia abad ke-18 [[Lazzaro Spallanzani]], melalui serangkaian percobaan yang rumit, menyimpulkan bahwa ketika kelelawar terbang di malam hari mereka mengandalkan indra selain penglihatan, tetapi ia tidak menemukan bahwa indra lainnya adalah pendengaran. Dokter dan naturalis Swiss Louis Jurine mengulangi percobaan Spallanzani (menggunakan spesies kelelawar yang berbeda), dan menyimpulkan bahwa ketika kelelawar berburu di malam hari, mereka mengandalkan pendengaran. Pada tahun 1908, Walter Louis Hahn mengonfirmasi temuan Spallanzani dan Jurine.
Istilah ekolokasi diciptakan pada tahun 1944 oleh ahli zoologi Amerika Donald Griffin, yang bersama Robert Galambos, pertama kali menunjukkan fenomena tersebut pada [[kelelawar]].<ref>Carol Kaesuk Yoon. [https://www.nytimes.com/2003/11/14/nyregion/donald-r-griffin-88-dies-argued-animals-can-think.html Donald R. Griffin, 88, Dies; Argued Animals Can Think]. ''The New York Times''. 14 November 2003.</ref><ref>Donald R. Griffin. ''Echolocation by Blind Men, Bats and Radar''. ''Science''. December 1944. Vol. 100 (2609). hlm. 589–590. doi:10.1126/science.100.2609.589.</ref> Seperti yang dijelaskan Griffin dalam bukunya,<ref>Donald R. Griffin. [https://archive.org/details/listeningindarka00dona Listening in the dark]. Yale University Press. 1958.</ref> ilmuwan Italia abad ke-18 [[Lazzaro Spallanzani]], melalui serangkaian percobaan yang rumit, menyimpulkan bahwa ketika kelelawar terbang di malam hari mereka mengandalkan indra selain penglihatan, tetapi ia tidak menemukan bahwa indra lainnya adalah pendengaran.<ref>Lazzaro Spallanzani. [https://books.google.com/books?id=nYucKchNzIwC&pg=PA1 Lettere sopra il sospetto di un nuovo senso nei pipistrelli]. Stamperia Reale. 1794.</ref><ref>Sven Dijkgraaf. ''Spallanzani's unpublished experiments on the sensory basis of object perception in bats''. ''Isis''. March 1960. Vol. 51 (1). hlm. 9–20. doi:10.1086/348834.</ref> Dokter dan naturalis Swiss Louis Jurine mengulangi percobaan Spallanzani (menggunakan spesies kelelawar yang berbeda), dan menyimpulkan bahwa ketika kelelawar berburu di malam hari, mereka mengandalkan pendengaran.<ref>[https://babel.hathitrust.org/cgi/pt?id=pst.000025234138;view=1up;seq=150 Extraits des expériences de Jurine sur les chauve-souris qu'on a privé de la vue]. ''Journal de physique, de chimie, d'histoire naturelle''. 1798. Vol. 46. hlm. 145–148.</ref><ref>M. De Jurine. [https://zenodo.org/record/1658068 Experiments on bats deprived of sight]. ''Philosophical Magazine''. 1798. Vol. 1 (2). hlm. 136–140. doi:10.1080/14786447808676811.</ref><ref>Sven Dijkgraaf. ''Spallanzani und die Fledermäuse''. ''Experientia''. 1949. Vol. 5 (2). hlm. 90–92. doi:10.1007/bf02153744.</ref> Pada tahun 1908, Walter Louis Hahn mengonfirmasi temuan Spallanzani dan Jurine.<ref>Walter Louis Hahn. [https://babel.hathitrust.org/cgi/pt?id=hvd.32044106183585;view=1up;seq=159 Some habits and sensory adaptations of cave-inhabiting bats]. ''Biological Bulletin''. 1908. Vol. 15 (3). hlm. 135–198; especially pp. 165–178. doi:10.2307/1536066.</ref>


Pada tahun 1912, penemu Hiram Maxim secara independen mengusulkan bahwa kelelawar menggunakan [[infrabunyi|suara di bawah jangkauan pendengaran manusia]] untuk menghindari rintangan. Pada tahun 1920, ahli fisiologi Inggris Hamilton Hartridge dengan tepat mengusulkan bahwa kelelawar menggunakan [[ultrabunyi|frekuensi di atas jangkauan pendengaran manusia]].
Pada tahun 1912, penemu Hiram Maxim secara independen mengusulkan bahwa kelelawar menggunakan [[infrabunyi|suara di bawah jangkauan pendengaran manusia]] untuk menghindari rintangan.<ref>Hiram Maxim. [https://babel.hathitrust.org/cgi/pt?id=mdp.39015012343854;view=1up;seq=152 The sixth sense of the bat. Sir Hiram Maxim's contention. The possible prevention of sea collisions]. ''Scientific American Supplement''. 7 September 1912. Vol. 74. hlm. 148–150.</ref> Pada tahun 1920, ahli fisiologi Inggris Hamilton Hartridge dengan tepat mengusulkan bahwa kelelawar menggunakan [[ultrabunyi|frekuensi di atas jangkauan pendengaran manusia]].<ref>H. Hartridge. [https://babel.hathitrust.org/cgi/pt?id=inu.30000088598481;view=1up;seq=72 The avoidance of objects by bats in their flight]. ''Journal of Physiology''. 1920. Vol. 54 (1–2). hlm. 54–57. doi:10.1113/jphysiol.1920.sp001908.</ref><ref>''Review of 'Listening in the Dark'''. ''Science''. 1958. Vol. 128 (3327). hlm. 766. doi:10.1126/science.128.3327.766.</ref>
 
Ekolokasi pada odontoceti (paus bergigi) tidak dijelaskan dengan tepat hingga dua dekade setelah karya Griffin dan Galambos, oleh Schevill dan McBride pada tahun 1956. Namun, pada tahun 1953, [[Jacques Yves Cousteau]] menyarankan dalam buku pertamanya yakni ''The Silent World'', bahwa lumba-lumba memiliki sesuatu seperti sonar, dilihat dari kemampuan navigasinya.
 
== Referensi ==


Ekolokasi pada odontoceti (paus bergigi) tidak dijelaskan dengan tepat hingga dua dekade setelah karya Griffin dan Galambos, oleh Schevill dan McBride pada tahun 1956.<ref>W. E. Schevill. ''Evidence for echolocation by cetaceans''. ''Deep-Sea Research''. 1956. Vol. 3 (2). hlm. 153–154. doi:10.1016/0146-6313(56)90096-x.</ref> Namun, pada tahun 1953, [[Jacques Yves Cousteau]] menyarankan dalam buku pertamanya yakni ''The Silent World'', bahwa lumba-lumba memiliki sesuatu seperti sonar, dilihat dari kemampuan navigasinya.<ref>Jacques Yves Cousteau. ''The Silent World''. Harper and Brothers. 1953. hlm. 206–207.</ref>


== Bacaan lanjutan ==
== Bacaan lanjutan ==
 
*  
 
*
*  Provides a variety of findings on signal strength, directionality, discrimination, biology and more.
*  Provides a variety of findings on signal strength, directionality, discrimination, biology and more.
*  Shows evidence for the sensory integration of shape information between echolocation and vision, and presents the hypothesis of the existence of the mental representation of an "echoic image".
*  Shows evidence for the sensory integration of shape information between echolocation and vision, and presents the hypothesis of the existence of the mental representation of an "echoic image".
*
*  
*
*  
*
*  
*
*  
 


== Pranala luar ==
== Pranala luar ==
Baris 33: Baris 29:
* [http://www.ibac.info/ International Bioacoustics Council] - links to many bioacoustics resources
* [http://www.ibac.info/ International Bioacoustics Council] - links to many bioacoustics resources
* [http://www.bl.uk/listentonature British Library Sound Archive: Listen to Nature]  - has bat and swiftlet sonar signals
* [http://www.bl.uk/listentonature British Library Sound Archive: Listen to Nature]  - has bat and swiftlet sonar signals
* [http://www.bio.bris.ac.uk/research/bats/index.htm Bat Ecology & Bioacoustics Lab]
* [http://www.bio.bris.ac.uk/research/bats/index.htm Bat Ecology & Bioacoustics Lab]  
* [http://www.bsos.umd.edu/psyc/batlab/ University of Maryland Bat Research Lab] - website of Cynthia Moss
* [http://www.bsos.umd.edu/psyc/batlab/ University of Maryland Bat Research Lab] - website of Cynthia Moss
* [https://neuroscience.brown.edu/simmonslab/ Batlab at Brown University]  - JA Simmons Lab website
* [https://neuroscience.brown.edu/simmonslab/ Batlab at Brown University]  - JA Simmons Lab website
* [https://ppbio.inpa.gov.br/en/Bat_Library Morcegoteca] Program for Biodiversity Research (PPBio)
* [https://ppbio.inpa.gov.br/en/Bat_Library Morcegoteca] Program for Biodiversity Research (PPBio)


== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


== Sumber dan atribusi ==
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ekolokasi+hewan&oldid=29213275 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29213275 (2026-05-11T03:54:37Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ekolokasi+hewan&oldid=29213275 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29213275 (2026-05-11T03:54:37Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 27 Agustus 2026 13.56

Animal echolocation

Ekolokasi, juga disebut bio sonar, adalah sonar aktif biologis yang digunakan oleh beberapa kelompok hewan, baik di udara maupun di bawah air. Hewan yang melakukan ekolokasi memancarkan panggilan dan mendengarkan gema dari panggilan yang kembali dari berbagai objek di dekat mereka. Mereka menggunakan gema ini untuk menemukan dan mengidentifikasi objek. Ekolokasi digunakan untuk navigasi, merambah, dan berburu mangsa.

Panggilan ekolokasi dapat berupa frekuensi termodulasi (FM, bervariasi dalam nada selama panggilan) atau frekuensi konstan (CF). FM menawarkan diskriminasi jarak yang tepat untuk melokalisasi mangsa, dengan mengorbankan jangkauan operasional yang berkurang. CF memungkinkan kecepatan dan pergerakan mangsa dideteksi melalui efek Doppler. FM mungkin paling baik untuk lingkungan yang dekat dan berantakan, sementara CF mungkin lebih baik di lingkungan terbuka atau untuk berburu sambil bertengger.

Hewan yang melakukan ekolokasi meliputi mamalia, terutama odontoceti (paus bergigi) dan beberapa spesies kelelawar, serta spesies dalam kelompok lain seperti celurut dengan menggunakan bentuk yang lebih sederhana. Beberapa spesies burung dalam dua kelompok burung penghuni gua melakukan ekolokasi, yaitu sriti dan burung minyak.

Beberapa hewan mangsa yang diburu oleh kelelawar yang melakukan ekolokasi mengambil tindakan pencegahan aktif untuk menghindari penangkapan. Tindakan ini meliputi penghindaran predator, pengalihan serangan, dan penggunaan klik ultrasonik, yang telah mengembangkan berbagai fungsi termasuk aposematisme, mimikri spesies yang dilindungi secara kimiawi, dan pengacauan ekolokasi.

Penelitian awal

Istilah ekolokasi diciptakan pada tahun 1944 oleh ahli zoologi Amerika Donald Griffin, yang bersama Robert Galambos, pertama kali menunjukkan fenomena tersebut pada kelelawar.[1][2] Seperti yang dijelaskan Griffin dalam bukunya,[3] ilmuwan Italia abad ke-18 Lazzaro Spallanzani, melalui serangkaian percobaan yang rumit, menyimpulkan bahwa ketika kelelawar terbang di malam hari mereka mengandalkan indra selain penglihatan, tetapi ia tidak menemukan bahwa indra lainnya adalah pendengaran.[4][5] Dokter dan naturalis Swiss Louis Jurine mengulangi percobaan Spallanzani (menggunakan spesies kelelawar yang berbeda), dan menyimpulkan bahwa ketika kelelawar berburu di malam hari, mereka mengandalkan pendengaran.[6][7][8] Pada tahun 1908, Walter Louis Hahn mengonfirmasi temuan Spallanzani dan Jurine.[9]

Pada tahun 1912, penemu Hiram Maxim secara independen mengusulkan bahwa kelelawar menggunakan suara di bawah jangkauan pendengaran manusia untuk menghindari rintangan.[10] Pada tahun 1920, ahli fisiologi Inggris Hamilton Hartridge dengan tepat mengusulkan bahwa kelelawar menggunakan frekuensi di atas jangkauan pendengaran manusia.[11][12]

Ekolokasi pada odontoceti (paus bergigi) tidak dijelaskan dengan tepat hingga dua dekade setelah karya Griffin dan Galambos, oleh Schevill dan McBride pada tahun 1956.[13] Namun, pada tahun 1953, Jacques Yves Cousteau menyarankan dalam buku pertamanya yakni The Silent World, bahwa lumba-lumba memiliki sesuatu seperti sonar, dilihat dari kemampuan navigasinya.[14]

Bacaan lanjutan

  • Provides a variety of findings on signal strength, directionality, discrimination, biology and more.
  • Shows evidence for the sensory integration of shape information between echolocation and vision, and presents the hypothesis of the existence of the mental representation of an "echoic image".

Pranala luar

Referensi

  1. Carol Kaesuk Yoon. Donald R. Griffin, 88, Dies; Argued Animals Can Think. The New York Times. 14 November 2003.
  2. Donald R. Griffin. Echolocation by Blind Men, Bats and Radar. Science. December 1944. Vol. 100 (2609). hlm. 589–590. doi:10.1126/science.100.2609.589.
  3. Donald R. Griffin. Listening in the dark. Yale University Press. 1958.
  4. Lazzaro Spallanzani. Lettere sopra il sospetto di un nuovo senso nei pipistrelli. Stamperia Reale. 1794.
  5. Sven Dijkgraaf. Spallanzani's unpublished experiments on the sensory basis of object perception in bats. Isis. March 1960. Vol. 51 (1). hlm. 9–20. doi:10.1086/348834.
  6. Extraits des expériences de Jurine sur les chauve-souris qu'on a privé de la vue. Journal de physique, de chimie, d'histoire naturelle. 1798. Vol. 46. hlm. 145–148.
  7. M. De Jurine. Experiments on bats deprived of sight. Philosophical Magazine. 1798. Vol. 1 (2). hlm. 136–140. doi:10.1080/14786447808676811.
  8. Sven Dijkgraaf. Spallanzani und die Fledermäuse. Experientia. 1949. Vol. 5 (2). hlm. 90–92. doi:10.1007/bf02153744.
  9. Walter Louis Hahn. Some habits and sensory adaptations of cave-inhabiting bats. Biological Bulletin. 1908. Vol. 15 (3). hlm. 135–198; especially pp. 165–178. doi:10.2307/1536066.
  10. Hiram Maxim. The sixth sense of the bat. Sir Hiram Maxim's contention. The possible prevention of sea collisions. Scientific American Supplement. 7 September 1912. Vol. 74. hlm. 148–150.
  11. H. Hartridge. The avoidance of objects by bats in their flight. Journal of Physiology. 1920. Vol. 54 (1–2). hlm. 54–57. doi:10.1113/jphysiol.1920.sp001908.
  12. Review of 'Listening in the Dark'. Science. 1958. Vol. 128 (3327). hlm. 766. doi:10.1126/science.128.3327.766.
  13. W. E. Schevill. Evidence for echolocation by cetaceans. Deep-Sea Research. 1956. Vol. 3 (2). hlm. 153–154. doi:10.1016/0146-6313(56)90096-x.
  14. Jacques Yves Cousteau. The Silent World. Harper and Brothers. 1953. hlm. 206–207.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29213275 (2026-05-11T03:54:37Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.