Lompat ke isi

Paradoks EPR: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28470325; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
[[File:NYT_May_4,_1935.jpg|thumb|right|280px|NYT May 4, 1935]]
'''Paradoks Einstein-Podolsky-Rosen''' atau '''Paradoks EPR''' adalah sebuah [[eksperimen pikiran]] yang digagas oleh fisikawan [[Albert Einstein]], [[Boris Podolsky]], dan [[Nathan Rosen]] yang mana mereka berpendapat bahwa penjelasan realitas fisik yang diberikan oleh [[mekanika kuantum]] tidak lengkap. Di makalah tahun 1935 berjudul ''"Can Quantum-Mechanical Description of Physical Reality be Considered Complete?"'', ketiganya memperdebatkan keberadaan "elemen realitas" yang bukan bagian dari teori kuantum, dan berspekulasi bahwa hal tersebut memungkinkan untuk membangun sebuah teori baru. Resolusi dari paradoks ini pada akhirnya memiliki implikasi penting untuk [[Interpretasi atas mekanika kuantum|interpretasi mekanika kuantum]].
'''Paradoks Einstein-Podolsky-Rosen''' atau '''Paradoks EPR''' adalah sebuah [[eksperimen pikiran]] yang digagas oleh fisikawan [[Albert Einstein]], [[Boris Podolsky]], dan [[Nathan Rosen]] yang mana mereka berpendapat bahwa penjelasan realitas fisik yang diberikan oleh [[mekanika kuantum]] tidak lengkap. Di makalah tahun 1935 berjudul ''"Can Quantum-Mechanical Description of Physical Reality be Considered Complete?"'', ketiganya memperdebatkan keberadaan "elemen realitas" yang bukan bagian dari teori kuantum, dan berspekulasi bahwa hal tersebut memungkinkan untuk membangun sebuah teori baru. Resolusi dari paradoks ini pada akhirnya memiliki implikasi penting untuk [[Interpretasi atas mekanika kuantum|interpretasi mekanika kuantum]].


Eksperimen pikiran melibatkan sepasang partikel yang disiapkan dalam apa yang kemudian disebut mereka sebagai [[Keterkaitan kuantum|keadaan terjerat]]. Einstein, Podolsky, dan Rosen menunjukkan bahwa, dalam keadaan ini, jika posisi partikel pertama diukur, hasil pengukuran posisi partikel kedua dapat diprediksi. Sebaliknya, jika momentum partikel pertama diukur, maka hasil pengukuran momentum partikel kedua dapat diprediksi. Mereka berargumen bahwa tidak ada tindakan yang diambil pada partikel pertama yang dapat secara instan memengaruhi partikel lainnya, karena ini melibatkan informasi yang ditransmisikan lebih cepat daripada cahaya, yang bertentangan dengan [[teori relativitas]]. Mereka mengajukan sebuah prinsip, yang kemudian dikenal sebagai "kriteria realitas EPR", mengemukakan bahwa, "Jika, tanpa mengganggu sistem, kita dapat memprediksi dengan pasti (yaitu, dengan [[probabilitas]] sama dengan satu) nilai kuantitas fisik, maka ada unsur realitas yang sesuai dengan kuantitas itu." Oleh sebab itu, mereka menyimpulkan bahwa partikel kedua harus memiliki nilai posisi dan momentum yang pasti sebelum keduanya diukur. Namun, dalam mekanika kuantum, kedua hal yang dapat diamati ini tidak kompatibel atau tida serasi dan karena itu tidak mengaitkan nilai simultan untuk keduanya dengan sistem apa pun. Oleh karena itu, Einstein, Podolsky, dan Rosen menyimpulkan bahwa teori kuantum tidak memberikan gambaran lengkap tentang realitas.
Eksperimen pikiran melibatkan sepasang partikel yang disiapkan dalam apa yang kemudian disebut mereka sebagai [[Keterkaitan kuantum|keadaan terjerat]]. Einstein, Podolsky, dan Rosen menunjukkan bahwa, dalam keadaan ini, jika posisi partikel pertama diukur, hasil pengukuran posisi partikel kedua dapat diprediksi. Sebaliknya, jika momentum partikel pertama diukur, maka hasil pengukuran momentum partikel kedua dapat diprediksi. Mereka berargumen bahwa tidak ada tindakan yang diambil pada partikel pertama yang dapat secara instan memengaruhi partikel lainnya, karena ini melibatkan informasi yang ditransmisikan lebih cepat daripada cahaya, yang bertentangan dengan [[teori relativitas]]. Mereka mengajukan sebuah prinsip, yang kemudian dikenal sebagai "kriteria realitas EPR", mengemukakan bahwa, "Jika, tanpa mengganggu sistem, kita dapat memprediksi dengan pasti (yaitu, dengan [[probabilitas]] sama dengan satu) nilai kuantitas fisik, maka ada unsur realitas yang sesuai dengan kuantitas itu." Oleh sebab itu, mereka menyimpulkan bahwa partikel kedua harus memiliki nilai posisi dan momentum yang pasti sebelum keduanya diukur. Namun, dalam mekanika kuantum, kedua hal yang dapat diamati ini tidak kompatibel atau tida serasi dan karena itu tidak mengaitkan nilai simultan untuk keduanya dengan sistem apa pun. Oleh karena itu, Einstein, Podolsky, dan Rosen menyimpulkan bahwa teori kuantum tidak memberikan gambaran lengkap tentang realitas.<ref>A. Einstein. [https://cds.cern.ch/record/405662/files/PhysRev.47.777.pdf Can Quantum-Mechanical Description of Physical Reality be Considered Complete?]. ''Physical Review''. 15-05-1935. Vol. 47 (10). hlm. 777–780.</ref>
 
== Referensi ==
 
 
=== Buku ===
 
* Bell, John S. (1987). ''Speakable and Unspeakable in Quantum Mechanics''. Cambridge University Press. .
* Fine, Arthur (1996). ''The Shaky Game: Einstein, Realism and the Quantum Theory''. 2nd ed. Univ. of Chicago Press.
* Gribbin, John (1984). ''In Search of Schrödinger's Cat''. Black Swan.
* Leaderman, Leon; Teresi, Dick (1993). ''The God Particle: If the Universe Is the Answer, What Is the Question?'' Houghton Mifflin Company, pp.&nbsp;21, 187–189.
* Selleri, Franco (1988). ''Quantum Mechanics Versus Local Realism:  The Einstein–Podolsky–Rosen Paradox''. New York: Plenum Press. .


== Pranala luar ==
== Pranala luar ==
* Ensiklopedia Filsafat Stanford: Argumen Einstein–Podolsky–Rosen dalam Teori Kuantum; [http://plato.stanford.edu/entries/qt-epr/#1.2 1.2 Argumen dalam teks]
* Ensiklopedia Filsafat Stanford: Argumen Einstein–Podolsky–Rosen dalam Teori Kuantum; [http://plato.stanford.edu/entries/qt-epr/#1.2 1.2 Argumen dalam teks]
* ''Ensiklopedia Filsafat Internet'': "[http://www.iep.utm.edu/epr/ Argumen Einstein-Podolsky-Rosen dan Ketidaksetaraan Bell]"
* ''Ensiklopedia Filsafat Internet'': "[http://www.iep.utm.edu/epr/ Argumen Einstein-Podolsky-Rosen dan Ketidaksetaraan Bell]"
Baris 27: Baris 17:
* [http://www.drchinese.com/David/EPR.pdf Makalah asli]
* [http://www.drchinese.com/David/EPR.pdf Makalah asli]


== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


== Sumber dan atribusi ==
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Paradoks+EPR&oldid=28470325 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28470325 (2025-11-14T02:04:52Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Paradoks+EPR&oldid=28470325 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28470325 (2025-11-14T02:04:52Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 27 Agustus 2026 14.02

Berkas:NYT May 4, 1935.jpg
NYT May 4, 1935

Paradoks Einstein-Podolsky-Rosen atau Paradoks EPR adalah sebuah eksperimen pikiran yang digagas oleh fisikawan Albert Einstein, Boris Podolsky, dan Nathan Rosen yang mana mereka berpendapat bahwa penjelasan realitas fisik yang diberikan oleh mekanika kuantum tidak lengkap. Di makalah tahun 1935 berjudul "Can Quantum-Mechanical Description of Physical Reality be Considered Complete?", ketiganya memperdebatkan keberadaan "elemen realitas" yang bukan bagian dari teori kuantum, dan berspekulasi bahwa hal tersebut memungkinkan untuk membangun sebuah teori baru. Resolusi dari paradoks ini pada akhirnya memiliki implikasi penting untuk interpretasi mekanika kuantum.

Eksperimen pikiran melibatkan sepasang partikel yang disiapkan dalam apa yang kemudian disebut mereka sebagai keadaan terjerat. Einstein, Podolsky, dan Rosen menunjukkan bahwa, dalam keadaan ini, jika posisi partikel pertama diukur, hasil pengukuran posisi partikel kedua dapat diprediksi. Sebaliknya, jika momentum partikel pertama diukur, maka hasil pengukuran momentum partikel kedua dapat diprediksi. Mereka berargumen bahwa tidak ada tindakan yang diambil pada partikel pertama yang dapat secara instan memengaruhi partikel lainnya, karena ini melibatkan informasi yang ditransmisikan lebih cepat daripada cahaya, yang bertentangan dengan teori relativitas. Mereka mengajukan sebuah prinsip, yang kemudian dikenal sebagai "kriteria realitas EPR", mengemukakan bahwa, "Jika, tanpa mengganggu sistem, kita dapat memprediksi dengan pasti (yaitu, dengan probabilitas sama dengan satu) nilai kuantitas fisik, maka ada unsur realitas yang sesuai dengan kuantitas itu." Oleh sebab itu, mereka menyimpulkan bahwa partikel kedua harus memiliki nilai posisi dan momentum yang pasti sebelum keduanya diukur. Namun, dalam mekanika kuantum, kedua hal yang dapat diamati ini tidak kompatibel atau tida serasi dan karena itu tidak mengaitkan nilai simultan untuk keduanya dengan sistem apa pun. Oleh karena itu, Einstein, Podolsky, dan Rosen menyimpulkan bahwa teori kuantum tidak memberikan gambaran lengkap tentang realitas.[1]

Pranala luar

Referensi

  1. A. Einstein. Can Quantum-Mechanical Description of Physical Reality be Considered Complete?. Physical Review. 15-05-1935. Vol. 47 (10). hlm. 777–780.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28470325 (2025-11-14T02:04:52Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.