Limbah bahan berbahaya dan beracun: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 27820915; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Limbah bahan berbahaya dan beracun''' ('''B3''') adalah [[Sampah|limbah]] yang harus ditangani dengan benar untuk mencegah gangguan kesehatan manusia atau kerusakan lingkungan. Limbah dapat berbahaya karena [[Toksisitas|beracun]], mudah [[Reaksi kimia|bereaksi]] dengan bahan kimia lain, [[Korosi|korosif]], dan masih banyak lagi. Pada 2022, manusia menghasilkan 300–500 juta metrik ton limbah berbahaya setiap tahunnya. Contoh umum adalah elektronik, baterai, dan cat. Aspek penting dari pengelolaan limbah B3 adalah pembuangan yang aman. Limbah B3 dapat disimpan di tempat pembuangan akhir, dibakar, atau didaur ulang menjadi sesuatu yang baru. Pengelolaan limbah B3 penting untuk mencapai [[keberlanjutan]] di seluruh dunia. Limbah B3 diatur dalam skala nasional oleh pemerintah nasional maupun dalam skala internasional oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan perjanjian internasional. | '''Limbah bahan berbahaya dan beracun''' ('''B3''') adalah [[Sampah|limbah]] yang harus ditangani dengan benar untuk mencegah gangguan kesehatan manusia atau kerusakan lingkungan. Limbah dapat berbahaya karena [[Toksisitas|beracun]], mudah [[Reaksi kimia|bereaksi]] dengan bahan kimia lain, [[Korosi|korosif]], dan masih banyak lagi.<ref>[https://www.britannica.com/technology/hazardous-waste-management Hazardous-waste management Types, Examples, Treatment, & Facts Britannica]. ''www.britannica.com''.</ref> Pada 2022, manusia menghasilkan 300–500 juta metrik ton limbah berbahaya setiap tahunnya.<ref>Johann H. Martínez. ''The world-wide waste web''. ''Nature Communications''. 2022-03-29. Vol. 13 (1). hlm. 1615. doi:10.1038/s41467-022-28810-x.</ref> Contoh umum adalah elektronik, baterai, dan cat. Aspek penting dari pengelolaan limbah B3 adalah pembuangan yang aman. Limbah B3 dapat disimpan di tempat pembuangan akhir, dibakar, atau didaur ulang menjadi sesuatu yang baru. Pengelolaan limbah B3 penting untuk mencapai [[keberlanjutan]] di seluruh dunia.<ref>Our World in Data team. [https://ourworldindata.org/sdgs/responsible-consumption-production Sustainable Development Goal 12: Ensure sustainable consumption and production patterns]. ''Our World in Data''. July 18, 2023.</ref> Limbah B3 diatur dalam skala nasional oleh pemerintah nasional maupun dalam skala internasional oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan perjanjian internasional. | ||
== Jenis == | == Jenis == | ||
=== Limbah universal === | === Limbah universal === | ||
Limbah universal adalah kategori khusus limbah berbahaya yang (di AS) umumnya memiliki ancaman yang lebih rendah dibandingkan limbah berbahaya lainnya, tersebar luas, dan diproduksi dalam jumlah yang sangat besar oleh banyak pembangkit listrik. Beberapa "limbah universal" yang paling umum adalah: [[Lampu pendar|bohlam pendar]], beberapa [[Baterai listrik|baterai]] khusus (misalnya baterai yang mengandung litium atau timbal), [[tabung sinar katode]], dan perangkat yang mengandung raksa. | Limbah universal adalah kategori khusus limbah berbahaya yang (di AS) umumnya memiliki ancaman yang lebih rendah dibandingkan limbah berbahaya lainnya, tersebar luas, dan diproduksi dalam jumlah yang sangat besar oleh banyak pembangkit listrik. Beberapa "limbah universal" yang paling umum adalah: [[Lampu pendar|bohlam pendar]], beberapa [[Baterai listrik|baterai]] khusus (misalnya baterai yang mengandung litium atau timbal), [[tabung sinar katode]], dan perangkat yang mengandung raksa. | ||
| Baris 10: | Baris 8: | ||
=== Limbah B3 rumah tangga === | === Limbah B3 rumah tangga === | ||
Limbah B3 rumah tangga adalah limbah yang dihasilkan dari rumah tangga. Jenis limbah ini hanya berlaku untuk limbah yang berasal dari penggunaan material yang berlabel dan dijual untuk "penggunaan rumah tangga". Limbah B3 yang dihasilkan oleh perusahaan atau di lingkungan industri bukan limbah B3 rumah tangga. | Limbah B3 rumah tangga adalah limbah yang dihasilkan dari rumah tangga. Jenis limbah ini hanya berlaku untuk limbah yang berasal dari penggunaan material yang berlabel dan dijual untuk "penggunaan rumah tangga". Limbah B3 yang dihasilkan oleh perusahaan atau di lingkungan industri bukan limbah B3 rumah tangga. | ||
| Baris 27: | Baris 24: | ||
* [[Asbestos|Asbes]] | * [[Asbestos|Asbes]] | ||
* Baterai mobil | * Baterai mobil | ||
* [[Limbah radioaktif]] (beberapa [[Pendeteksi kebakaran|detektor asap]] rumah diklasifikasikan sebagai limbah radioaktif karena mengandung [[isotop]] radioaktif [[amerisium]] dalam jumlah sangat kecil, misalnya [[amerisium-241]]). | * [[Limbah radioaktif]] (beberapa [[Pendeteksi kebakaran|detektor asap]] rumah diklasifikasikan sebagai limbah radioaktif karena mengandung [[isotop]] radioaktif [[amerisium]] dalam jumlah sangat kecil, misalnya [[amerisium-241]]).<ref>[http://www.mcmua.com/HazardousWaste/FAQ_Smoke_Detectors.htm Hazardous Waste Management - Smoke Detectors]. ''Morris County Municipal Utilities Authority''.</ref> | ||
== Pembuangan == | == Pembuangan == | ||
Secara historis, berbagai limbah B3 dibuang di [[Tempat pembuangan akhir|tempat pembuangan akhir (TPA)]] biasa. Limbah B3 seringkali harus distabilkan dan dipadatkan agar dapat masuk ke TPA, dan harus menjalani berbagai pengolahan untuk menstabilkan dan membuangnya. Sebagian besar bahan yang mudah terbakar dapat didaur ulang menjadi bahan bakar industri. Beberapa bahan dengan kandungan berbahaya dapat didaur ulang, seperti baterai timbal-asam. Banyak TPA memerlukan tindakan pencegahan terhadap pencemaran air tanah. Misalnya, penghalang harus dipasang di sepanjang fondasi TPA untuk menahan zat berbahaya yang mungkin tersisa dalam limbah yang dibuang. | Secara historis, berbagai limbah B3 dibuang di [[Tempat pembuangan akhir|tempat pembuangan akhir (TPA)]] biasa. Limbah B3 seringkali harus distabilkan dan dipadatkan agar dapat masuk ke TPA, dan harus menjalani berbagai pengolahan untuk menstabilkan dan membuangnya. Sebagian besar bahan yang mudah terbakar dapat didaur ulang menjadi bahan bakar industri. Beberapa bahan dengan kandungan berbahaya dapat didaur ulang, seperti baterai timbal-asam. Banyak TPA memerlukan tindakan pencegahan terhadap pencemaran air tanah. Misalnya, penghalang harus dipasang di sepanjang fondasi TPA untuk menahan zat berbahaya yang mungkin tersisa dalam limbah yang dibuang.<ref>Rachana Malviya. ''Factors affecting hazardous waste solidification/Stabilization: A review''. ''Journal of Hazardous Materials''. 2006. Vol. 137 (1). hlm. 267–276. doi:10.1016/j.jhazmat.2006.01.065.</ref> | ||
=== Daur ulang === | === Daur ulang === | ||
Beberapa limbah B3 dapat didaur ulang menjadi produk baru. Contohnya [[Baterai asam timbal|baterai timbal-asam]] atau [[Papan sirkuit cetak|papan sirkuit elektronik]]. Ketika [[logam berat]] dalam wujud abu melalui pengolahan yang tepat, logam tersebut dapat mengikat polutan lain dan mengubahnya menjadi padatan yang lebih mudah dibuang, atau dapat digunakan sebagai pengisi trotoar. Pengolahan tersebut mengurangi tingkat ancaman B3, seperti abu layang dan [[abu padat]], sekaligus mendaur ulang produk yang aman. | Beberapa limbah B3 dapat didaur ulang menjadi produk baru.<ref>Carol Carysforth. [https://books.google.com/books?id=VitdgXrB7JcC&pg=PA131 GCSE Applied Business for Edexcel: Double Award]. Heinemann. 2002. ISBN 9780435447205.</ref> Contohnya [[Baterai asam timbal|baterai timbal-asam]] atau [[Papan sirkuit cetak|papan sirkuit elektronik]]. Ketika [[logam berat]] dalam wujud abu melalui pengolahan yang tepat, logam tersebut dapat mengikat polutan lain dan mengubahnya menjadi padatan yang lebih mudah dibuang, atau dapat digunakan sebagai pengisi trotoar. Pengolahan tersebut mengurangi tingkat ancaman B3, seperti abu layang dan [[abu padat]],<ref>Xin-yue Zhao. [https://doi.org/10.1007/s11356-022-19649-2 Chemical stabilization of heavy metals in municipal solid waste incineration fly ash: a review]. ''Environmental Science and Pollution Research''. 2022-06-01. Vol. 29 (27). hlm. 40384–40402. doi:10.1007/s11356-022-19649-2.</ref> sekaligus mendaur ulang produk yang aman. | ||
=== Pembakaran === | === Pembakaran === | ||
Insinerator membakar limbah berbahaya pada suhu tinggi (), sehingga mengurangi jumlahnya secara signifikan dengan menguraikannya menjadi [[Abu (disambiguasi)|abu]] dan gas. Insinerasi dapat digunakan untuk berbagai jenis limbah berbahaya, termasuk [[Pencemaran tanah|tanah]], [[Blader|lumpur]], cairan, dan gas yang terkontaminasi. Insinerator dapat dibangun langsung di lokasi pembuangan limbah B3, atau lebih umum, limbah dapat diangkut dari lokasi pembuangan ke fasilitas insinerasi permanen. | Insinerator membakar limbah berbahaya pada suhu tinggi (), sehingga mengurangi jumlahnya secara signifikan dengan menguraikannya menjadi [[Abu (disambiguasi)|abu]] dan gas.<ref>[https://www.epa.gov/sites/default/files/2015-04/documents/a_citizens_guide_to_incineration.pdf A Citizen's Guide to Incineration]. ''United States Environmental Protection Agency''. September 2012.</ref> Insinerasi dapat digunakan untuk berbagai jenis limbah berbahaya, termasuk [[Pencemaran tanah|tanah]], [[Blader|lumpur]], cairan, dan gas yang terkontaminasi. Insinerator dapat dibangun langsung di lokasi pembuangan limbah B3, atau lebih umum, limbah dapat diangkut dari lokasi pembuangan ke fasilitas insinerasi permanen.<ref>[https://www.epa.gov/sites/default/files/2015-04/documents/a_citizens_guide_to_incineration.pdf A Citizen's Guide to Incineration]. ''United States Environmental Protection Agency''. September 2012.</ref> | ||
Abu dan gas yang tersisa dari insinerasi juga dapat berbahaya. Logam tidak hancur, dan dapat tetap berada di tungku atau [[Perubahan wujud zat|berubah menjadi gas]] dan bergabung dengan emisi gas. Abu harus disimpan di tempat pembuangan limbah B3, meskipun membutuhkan ruang lebih sedikit daripada limbah aslinya. Insinerasi melepaskan gas-gas seperti [[karbon dioksida]], nitrogen oksida, amonia, dan senyawa organik yang mudah menguap. Reaksi di tungku juga dapat membentuk gas [[asam klorida]] dan [[belerang dioksida]]. Untuk menghindari pelepasan gas berbahaya dan limbah padat [[Aerosol|yang tersuspensi]] dalam gas-gas tersebut, insinerator modern dirancang dengan sistem untuk menangkap emisi ini. | Abu dan gas yang tersisa dari insinerasi juga dapat berbahaya. Logam tidak hancur, dan dapat tetap berada di tungku atau [[Perubahan wujud zat|berubah menjadi gas]] dan bergabung dengan emisi gas. Abu harus disimpan di tempat pembuangan limbah B3, meskipun membutuhkan ruang lebih sedikit daripada limbah aslinya.<ref>[https://www.epa.gov/sites/default/files/2015-04/documents/a_citizens_guide_to_incineration.pdf A Citizen's Guide to Incineration]. ''United States Environmental Protection Agency''. September 2012.</ref> Insinerasi melepaskan gas-gas seperti [[karbon dioksida]], nitrogen oksida, amonia, dan senyawa organik yang mudah menguap.<ref>[https://www.ipcc-nggip.iges.or.jp/public/gp/bgp/5_3_Waste_Incineration.pdf Emission From Waste Incineration]. ''The Intergovernmental Panel on Climate Change''. March 5, 2014.</ref> Reaksi di tungku juga dapat membentuk gas [[asam klorida]] dan [[belerang dioksida]]. Untuk menghindari pelepasan gas berbahaya dan limbah padat [[Aerosol|yang tersuspensi]] dalam gas-gas tersebut, insinerator modern dirancang dengan sistem untuk menangkap emisi ini.<ref>National Research Council (US) Committee on Health Effects of Waste Incineration. [https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK233627/ Incineration Processes and Environmental Releases]. ''Waste Incineration & Public Health''. National Academies Press (US). 2000.</ref> | ||
=== Tempat pembuangan akhir === | === Tempat pembuangan akhir === | ||
Limbah B3 dapat ditampung di tempat pembuangan akhir (TPA) limbah B3 atau fasilitas pembuangan permanen. 40 CFR 260.10 berbunyi: "Dalam konteks limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, Tempat Pembuangan Akhir didefinisikan sebagai fasilitas pembuangan atau bagian dari fasilitas tempat limbah Bahan Berbahaya dan Beracun ditempatkan atau di darat dan bukan merupakan tumpukan, fasilitas pengolahan lahan, penampungan permukaan, sumur injeksi bawah tanah, formasi kubah garam, formasi lapisan garam, tambang bawah tanah, gua, atau unit manajemen tindakan korektif." | Limbah B3 dapat ditampung di tempat pembuangan akhir (TPA) limbah B3 atau fasilitas pembuangan permanen. 40 CFR 260.10 berbunyi: "Dalam konteks limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, Tempat Pembuangan Akhir didefinisikan sebagai fasilitas pembuangan atau bagian dari fasilitas tempat limbah Bahan Berbahaya dan Beracun ditempatkan atau di darat dan bukan merupakan tumpukan, fasilitas pengolahan lahan, penampungan permukaan, sumur injeksi bawah tanah, formasi kubah garam, formasi lapisan garam, tambang bawah tanah, gua, atau unit manajemen tindakan korektif."<ref>[http://www.fedcenter.gov/assistance/facilitytour/landfills/hazwaste/ Hazardous Waste Landfills].</ref><ref>[https://www.epa.gov/hw/land-disposal-restrictions-hazardous-waste Land Disposal Restrictions for Hazardous Waste]</ref> | ||
=== Pirolisis === | === Pirolisis === | ||
Beberapa jenis limbah B3 dapat dihilangkan menggunakan [[pirolisis]] pada suhu tinggi, tidak harus melalui busur listrik, tetapi tanpa oksigen untuk menghindari pembakaran. Namun, ketika busur listrik digunakan untuk menghasilkan panas ultra yang dibutuhkan (suhu di atas 3.000 derajat Celsius), semua material (limbah) yang dimasukkan ke dalam proses akan meleleh menjadi terak cair dan teknologi ini disebut plasma, bukan pirolisis. Teknologi plasma menghasilkan material inert dan ketika didinginkan, memadat menjadi material seperti batu. Metode pengolahan ini sangat mahal, tetapi mungkin lebih baik daripada insinerasi suhu tinggi dalam beberapa keadaan, seperti dalam penghancuran jenis limbah organik pekat, termasuk bifenil terpoliklorinasi, pestisida, dan [[polutan organik persisten]] lainnya. | Beberapa jenis limbah B3 dapat dihilangkan menggunakan [[pirolisis]] pada suhu tinggi, tidak harus melalui busur listrik, tetapi tanpa oksigen untuk menghindari pembakaran. Namun, ketika busur listrik digunakan untuk menghasilkan panas ultra yang dibutuhkan (suhu di atas 3.000 derajat Celsius), semua material (limbah) yang dimasukkan ke dalam proses akan meleleh menjadi terak cair dan teknologi ini disebut plasma, bukan pirolisis. Teknologi plasma menghasilkan material inert dan ketika didinginkan, memadat menjadi material seperti batu. Metode pengolahan ini sangat mahal, tetapi mungkin lebih baik daripada insinerasi suhu tinggi dalam beberapa keadaan, seperti dalam penghancuran jenis limbah organik pekat, termasuk bifenil terpoliklorinasi, pestisida, dan [[polutan organik persisten]] lainnya.<ref>[http://www.environment.gov.au/settlements/publications/chemicals/scheduled-waste/swtt/plasma.html Scheduled Wastes - Plasma Arc Systems].</ref><ref>[http://chm.pops.int/Portals/0/docs/Waste_Stockpiles/ESM%20of%20pesticide%20POPs%20part%203.pdf Microsoft PowerPoint - ESM of pesticide POPs part 3].</ref> | ||
== Di masyarakat == | == Di masyarakat == | ||
=== Pengelolaan dan dampak kesehatan === | === Pengelolaan dan dampak kesehatan === | ||
Pengelolaan dan pembuangan limbah berbahaya memiliki risiko besar jika tidak dilakukan dengan benar. Jika dibuang secara tidak benar, gas berbahaya dapat lepas ke udara yang mengakibatkan morbiditas dan mortalitas yang lebih tinggi. Gas ini dapat berupa hidrogen klorida, karbon monoksida, nitrogen oksida, belerang dioksida, dan beberapa mungkin juga mencakup logam berat. Dengan prospek bahan gas yang dilepaskan ke atmosfer, beberapa organisasi (RCRA, TSCA, HSWA, CERCLA) mengembangkan skala identifikasi kategori bahan dan limbah berbahaya agar memudahkan mengidentifikasi dan mengurangi potensi kebocoran. Bahan Daftar-F diidentifikasi sebagai limbah praktik industri non-spesifik; Daftar-K adalah limbah yang dihasilkan dari proses industri tertentu: pestisida, minyak bumi, industri peledak; serta daftar P dan U adalah limbah yang dihasilkan untuk penggunaan komersial dan pestisida yang stabil di rak. Kesalahan pengelolaan limbah B3 dapat menyebabkan konsekuensi kesehatan langsung yang merugikan melalui pencemaran udara, air, dan tanah. Dalam sebuah studi di Austria, orang-orang yang tinggal di dekat kawasan industri "lebih sering menganggur, memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah, dan dua kali lebih mungkin menjadi imigran." Hal ini menciptakan masalah yang jauh lebih besar bagi mereka yang sangat bergantung pada lahan pertanian dan air sungai untuk minum; termasuk penduduk asli Amerika. Meskipun masyarakat kelas bawah dan/atau minoritas sosial berisiko lebih tinggi terpapar racun, penduduk asli Amerika berisiko berlipat ganda karena fakta-fakta di atas. Pembuangan limbah B3 yang tidak tepat telah mengakibatkan banyak komplikasi kesehatan ekstrem di antara suku-suku tertentu. Warga Suku Mohawk di Akwesasne telah mengalami peningkatan kadar PCB (bifenil terpoliklorinasi) dalam aliran darah mereka yang menyebabkan tingkat kanker yang lebih tinggi. | Pengelolaan dan pembuangan limbah berbahaya memiliki risiko besar jika tidak dilakukan dengan benar. Jika dibuang secara tidak benar, gas berbahaya dapat lepas ke udara yang mengakibatkan morbiditas dan mortalitas yang lebih tinggi.<ref>[https://www.eurekaselect.com/185269/volume/1 Hazardous Waste Management and Health Risks]. BENTHAM SCIENCE PUBLISHERS. 2020-08-23. doi:10.2174/97898114547451200101. ISBN 978-981-14-5474-5.</ref> Gas ini dapat berupa hidrogen klorida, karbon monoksida, nitrogen oksida, belerang dioksida, dan beberapa mungkin juga mencakup logam berat.<ref>[https://www.eurekaselect.com/185269/volume/1 Hazardous Waste Management and Health Risks]. BENTHAM SCIENCE PUBLISHERS. 2020-08-23. doi:10.2174/97898114547451200101. ISBN 978-981-14-5474-5.</ref> Dengan prospek bahan gas yang dilepaskan ke atmosfer, beberapa organisasi (RCRA, TSCA, HSWA, CERCLA) mengembangkan skala identifikasi kategori bahan dan limbah berbahaya agar memudahkan mengidentifikasi dan mengurangi potensi kebocoran. Bahan Daftar-F diidentifikasi sebagai limbah praktik industri non-spesifik; Daftar-K adalah limbah yang dihasilkan dari proses industri tertentu: pestisida, minyak bumi, industri peledak; serta daftar P dan U adalah limbah yang dihasilkan untuk penggunaan komersial dan pestisida yang stabil di rak.<ref>[https://www.eurekaselect.com/185269/volume/1 Hazardous Waste Management and Health Risks]. BENTHAM SCIENCE PUBLISHERS. 2020-08-23. doi:10.2174/97898114547451200101. ISBN 978-981-14-5474-5.</ref> Kesalahan pengelolaan limbah B3 dapat menyebabkan konsekuensi kesehatan langsung yang merugikan melalui pencemaran udara, air, dan tanah.<ref>[https://www.eurekaselect.com/185269/volume/1 Hazardous Waste Management and Health Risks]. BENTHAM SCIENCE PUBLISHERS. 2020-08-23. doi:10.2174/97898114547451200101. ISBN 978-981-14-5474-5.</ref> Dalam sebuah studi di Austria, orang-orang yang tinggal di dekat kawasan industri "lebih sering menganggur, memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah, dan dua kali lebih mungkin menjadi imigran."<ref>Helene Glatter-Götz. ''Environmental inequality in Austria: do inhabitants' socioeconomic characteristics differ depending on their proximity to industrial polluters?''. ''Environmental Research Letters''. 2019-07-01. Vol. 14 (7). hlm. 074007. doi:10.1088/1748-9326/ab1611.</ref> Hal ini menciptakan masalah yang jauh lebih besar bagi mereka yang sangat bergantung pada lahan pertanian dan air sungai untuk minum; termasuk penduduk asli Amerika. Meskipun masyarakat kelas bawah dan/atau minoritas sosial berisiko lebih tinggi terpapar racun, penduduk asli Amerika berisiko berlipat ganda karena fakta-fakta di atas. Pembuangan limbah B3 yang tidak tepat telah mengakibatkan banyak komplikasi kesehatan ekstrem di antara suku-suku tertentu. Warga Suku Mohawk di Akwesasne telah mengalami peningkatan kadar PCB (bifenil terpoliklorinasi) dalam aliran darah mereka yang menyebabkan tingkat kanker yang lebih tinggi.<ref>Daniel Brook. [https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1536-7150.1998.tb03260.x Environmental Genocide:: Native Americans and Toxic Waste]. ''The American Journal of Economics and Sociology''. July 3, 2006. Vol. 57 (1). hlm. 105–113. doi:10.1111/j.1536-7150.1998.tb03260.x.</ref> | ||
=== Tujuan global === | === Tujuan global === | ||
PBB memiliki mandat terhadap B3 dan limbah B3 dengan rekomendasi kepada negara-negara untuk menangani limbah B3. Sebanyak 199 negara menandatangani [[Konvensi Basel]] 1992, yang berupaya menghentikan aliran limbah B3 dari negara-negara maju ke negara-negara berkembang dengan peraturan lingkungan yang kurang ketat. | PBB memiliki mandat terhadap B3 dan limbah B3 dengan rekomendasi kepada negara-negara untuk menangani limbah B3.<ref>[https://www.ohchr.org/en/special-procedures/sr-toxics-and-human-rights Special rapporteur on toxics and human rights]. ''United Nations Human Rights Special Procedures''.</ref> Sebanyak 199 negara menandatangani [[Konvensi Basel]] 1992, yang berupaya menghentikan aliran limbah B3 dari negara-negara maju ke negara-negara berkembang dengan peraturan lingkungan yang kurang ketat.<ref>[https://www.unep.org/news-and-stories/press-release/governments-agree-landmark-decisions-protect-people-and-planet Governments agree landmark decisions to protect people and planet from hazardous chemicals and waste, including plastic waste]. ''United Nations Environment Programme''. May 12, 2019.</ref> | ||
[[Masyarakat internasional|Komunitas internasional]] telah menetapkan pengelolaan limbah berbahaya dan bahan kimia yang bertanggung jawab sebagai bagian penting dari [[pembangunan berkelanjutan]] dengan memasukkannya ke dalam [[Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 12|Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ke-12.]] Tujuan nomor 12.4 adalah untuk "mencapai pengelolaan bahan kimia dan semua limbah yang ramah lingkungan sepanjang siklus hidupnya". Salah satu indikator untuk target ini adalah: "limbah B3 yang dihasilkan per kapita; dan proporsi limbah B3 yang diolah, berdasarkan jenis pengolahan". | [[Masyarakat internasional|Komunitas internasional]] telah menetapkan pengelolaan limbah berbahaya dan bahan kimia yang bertanggung jawab sebagai bagian penting dari [[pembangunan berkelanjutan]] dengan memasukkannya ke dalam [[Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 12|Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ke-12.]]<ref>[https://ggim.un.org/documents/a_res_71_313.pdf Resolution adopted by the General Assembly on 6 July 2017]. ''United Nations Statistics Division - UN-GGIM''. July 10, 2017.</ref> Tujuan nomor 12.4 adalah untuk "mencapai pengelolaan bahan kimia dan semua limbah yang ramah lingkungan sepanjang siklus hidupnya". Salah satu indikator untuk target ini adalah: "limbah B3 yang dihasilkan per kapita; dan proporsi limbah B3 yang diolah, berdasarkan jenis pengolahan".<ref>Our World in Data team. [https://ourworldindata.org/sdgs/responsible-consumption-production Sustainable Development Goal 12: Ensure sustainable consumption and production patterns]. ''Our World in Data''. July 18, 2023.</ref> | ||
== Sejarah dasar hukum == | == Sejarah dasar hukum == | ||
=== Amerika Serikat === | === Amerika Serikat === | ||
==== Undang-Undang Konservasi dan Pemulihan Sumber Daya Alam (RCRA) ==== | ==== Undang-Undang Konservasi dan Pemulihan Sumber Daya Alam (RCRA) ==== | ||
Limbah B3 adalah limbah dengan sifat yang membuatnya berbahaya atau berpotensi membahayakan kesehatan manusia atau lingkungan. Limbah B3 dapat berupa cairan, padatan, gas tertampung, atau lumpur. Limbah B3 dapat berupa produk sampingan dari proses manufaktur atau produk komersial yang dibuang begitu saja, seperti cairan pembersih atau pestisida. Dalam istilah regulasi, limbah B3 RCRA adalah limbah yang termasuk dalam salah satu dari empat daftar limbah B3 (Daftar F, Daftar K, Daftar P, atau Daftar U), atau menunjukkan setidaknya satu dari empat karakteristik berikut; mudah terbakar, korosif, reaktivitas, atau toksisitas. Di AS, limbah B3 diatur berdasarkan Undang-Undang Konservasi dan Pemulihan Sumber Daya Alam (RCRA), Bagian C. | Limbah B3 adalah limbah dengan sifat yang membuatnya berbahaya atau berpotensi membahayakan kesehatan manusia atau lingkungan. Limbah B3 dapat berupa cairan, padatan, gas tertampung, atau lumpur. Limbah B3 dapat berupa produk sampingan dari proses manufaktur atau produk komersial yang dibuang begitu saja, seperti cairan pembersih atau pestisida. Dalam istilah regulasi, limbah B3 RCRA adalah limbah yang termasuk dalam salah satu dari empat daftar limbah B3 (Daftar F, Daftar K, Daftar P, atau Daftar U), atau menunjukkan setidaknya satu dari empat karakteristik berikut; mudah terbakar, korosif, reaktivitas, atau toksisitas. Di AS, limbah B3 diatur berdasarkan Undang-Undang Konservasi dan Pemulihan Sumber Daya Alam (RCRA), Bagian C.<ref>Horinko, Marianne, Cathryn Courtin. [http://www.epaalumni.org/hcp/rcra.pdf “Waste Management: A Half Century of Progress.”] EPA Alumni Association. March 2016.</ref> | ||
Menurut pengertian tersebut, EPA menetapkan bahwa beberapa limbah tertentu berbahaya. Limbah-limbah ini dimasukkan ke dalam daftar yang diterbitkan oleh badan tersebut. Daftar ini dibagi menjadi tiga kategori: Daftar F (limbah sumber non-spesifik) yang termaktub dalam 40 CFR 261.31, Daftar K (limbah sumber spesifik) yang termaktub dalam 40 CFR 261.32, dan Daftar P serta Daftar U (produk kimia komersial yang dibuang) yang termaktub dalam 40 CFR 261.33. | Menurut pengertian tersebut, EPA menetapkan bahwa beberapa limbah tertentu berbahaya. Limbah-limbah ini dimasukkan ke dalam daftar yang diterbitkan oleh badan tersebut. Daftar ini dibagi menjadi tiga kategori: Daftar F (limbah sumber non-spesifik) yang termaktub dalam 40 CFR 261.31, Daftar K (limbah sumber spesifik) yang termaktub dalam 40 CFR 261.32, dan Daftar P serta Daftar U (produk kimia komersial yang dibuang) yang termaktub dalam 40 CFR 261.33. | ||
| Baris 71: | Baris 65: | ||
=== India === | === India === | ||
==== Undang-Undang Lingkungan Hidup dan Peraturan Limbah Berbahaya ==== | ==== Undang-Undang Lingkungan Hidup dan Peraturan Limbah Berbahaya ==== | ||
Pada tahun 1984, kebocoran gas metil isosianat, dikenal sebagai [[Tragedi Bhopal]], meningkatkan kesadaran lingkungan di India. Sebagai tanggapan, pemerintah India mengeluarkan Undang-Undang Lingkungan Hidup pada tahun 1986, diikuti oleh Peraturan tentang Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun pada tahun 1989. Dengan aturan ini, perusahaan hanya diizinkan tiap-tiap negara bagian untuk menghasilkan limbah berbahaya jika mereka dapat membuangnya dengan aman. Namun, pemerintah negara bagian tidak membuat peraturan yang lebih efektif. Ada sekitar satu dasawarsa penundaan antara saat tempat pembuangan limbah B3 diajukan dan dibangun. Selama waktu ini, perusahaan membuang limbah B3 di berbagai lokasi pembuangan limbah B3 "sementara", seperti di sepanjang jalan dan di lubang gorong-gorong, tanpa rencana segera untuk memindahkannya ke fasilitas yang tepat. | Pada tahun 1984, kebocoran gas metil isosianat, dikenal sebagai [[Tragedi Bhopal]], meningkatkan kesadaran lingkungan di India.<ref>Edward Broughton. ''The Bhopal disaster and its aftermath: a review''. ''Environmental Health''. 2005-05-10. Vol. 4 (1). doi:10.1186/1476-069X-4-6.</ref> Sebagai tanggapan, pemerintah India mengeluarkan Undang-Undang Lingkungan Hidup pada tahun 1986, diikuti oleh Peraturan tentang Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun pada tahun 1989.<ref>Dinesh C. Sharma. ''By Order of the Court: Environmental Cleanup in India''. ''Environmental Health Perspectives''. June 2005. Vol. 113 (6). hlm. A394–A397. doi:10.1289/ehp.113-a394.</ref> Dengan aturan ini, perusahaan hanya diizinkan tiap-tiap negara bagian untuk menghasilkan limbah berbahaya jika mereka dapat membuangnya dengan aman.<ref>[https://ppcb.punjab.gov.in/sites/default/files/documents/Hazardous%20Waste%20(Management%20%26%20Handling)%20Rules%2C%201989.pdf The Hazardous Wastes Rules, 1989]. ''Government of Punjab''. Ministry of Environment and Forests. July 28, 1989.</ref> Namun, pemerintah negara bagian tidak membuat peraturan yang lebih efektif. Ada sekitar satu dasawarsa penundaan antara saat tempat pembuangan limbah B3 diajukan dan dibangun. Selama waktu ini, perusahaan membuang limbah B3 di berbagai lokasi pembuangan limbah B3 "sementara", seperti di sepanjang jalan dan di lubang gorong-gorong, tanpa rencana segera untuk memindahkannya ke fasilitas yang tepat.<ref>Dinesh C. Sharma. ''By Order of the Court: Environmental Cleanup in India''. ''Environmental Health Perspectives''. June 2005. Vol. 113 (6). hlm. A394–A397. doi:10.1289/ehp.113-a394.</ref> | ||
==== Putusan Mahkamah Agung ==== | ==== Putusan Mahkamah Agung ==== | ||
Akhirnya, Mahkamah Agung turun tangan untuk mencegah kerusakan limbah B3 untuk melindungi [[hak untuk hidup]]. Sebuah petisi 1995 oleh Yayasan Penelitian Sains, Teknologi, dan Kebijakan Sumber Daya Alam mendorong Mahkamah Agung untuk membentuk Komite Tinggi (HPC) Limbah Berbahaya, karena data dari badan pemerintah yang sudah ada sebelumnya tidak dapat digunakan. Komite ini menemukan studi yang menghubungkan polusi dan penanganan limbah yang tidak tepat dengan jumlah kromium heksavalen, timbal, dan logam berat lainnya yang lebih tinggi. Industri dan regulator secara efektif mengabaikan studi ini. Selain itu, negara juga tidak bertindak sesuai dengan [[Konvensi Basel]], sebuah perjanjian internasional tentang pengangkutan limbah B3. Mahkamah Agung mengubah Peraturan tentang Limbah Berbahaya dan Beracun serta membentuk Komite Pemantauan Mahkamah Agung untuk menindaklanjuti keputusannya. Dengan komite ini, Mahkamah Agung telah mampu memaksa penutupan perusahaan yang terbukti mencemari lingkungan dengan limbah B3. | Akhirnya, Mahkamah Agung turun tangan untuk mencegah kerusakan limbah B3 untuk melindungi [[hak untuk hidup]]. Sebuah petisi 1995 oleh Yayasan Penelitian Sains, Teknologi, dan Kebijakan Sumber Daya Alam<ref>[https://www.britannica.com/biography/Vandana-Shiva Vandana Shiva Indian Environmentalist, Activist & Scientist Britannica]. ''www.britannica.com''.</ref> mendorong Mahkamah Agung untuk membentuk Komite Tinggi (HPC) Limbah Berbahaya, karena data dari badan pemerintah yang sudah ada sebelumnya tidak dapat digunakan.<ref>Dinesh C. Sharma. ''By Order of the Court: Environmental Cleanup in India''. ''Environmental Health Perspectives''. June 2005. Vol. 113 (6). hlm. A394–A397. doi:10.1289/ehp.113-a394.</ref> Komite ini menemukan studi yang menghubungkan polusi dan penanganan limbah yang tidak tepat dengan jumlah kromium heksavalen, timbal, dan logam berat lainnya yang lebih tinggi. Industri dan regulator secara efektif mengabaikan studi ini.<ref>Dinesh C. Sharma. ''By Order of the Court: Environmental Cleanup in India''. ''Environmental Health Perspectives''. June 2005. Vol. 113 (6). hlm. A394–A397. doi:10.1289/ehp.113-a394.</ref> Selain itu, negara juga tidak bertindak sesuai dengan [[Konvensi Basel]], sebuah perjanjian internasional tentang pengangkutan limbah B3. Mahkamah Agung mengubah Peraturan tentang Limbah Berbahaya dan Beracun serta membentuk Komite Pemantauan Mahkamah Agung untuk menindaklanjuti keputusannya. Dengan komite ini, Mahkamah Agung telah mampu memaksa penutupan perusahaan yang terbukti mencemari lingkungan dengan limbah B3. | ||
== Contoh menurut negara == | == Contoh menurut negara == | ||
=== Amerika Serikat === | === Amerika Serikat === | ||
Di Amerika Serikat, pengelolaan, penyimpanan, dan pembuangan limbah B3 diatur dalam Undang-Undang tentang Konservasi dan Pemulihan Sumber Daya Alam (''Resource Conservation and Recovery Act''/RCRA). Limbah B3 didefinisikan dalam RCRA menurut 40 CFR 261 dan dibagi menjadi dua kategori utama: karakteristik dan terdaftar.<ref>40 CFR 261</ref> | |||
Di Amerika Serikat, pengelolaan, penyimpanan, dan pembuangan limbah B3 diatur dalam Undang-Undang tentang Konservasi dan Pemulihan Sumber Daya Alam (''Resource Conservation and Recovery Act''/RCRA). Limbah B3 didefinisikan dalam RCRA menurut 40 CFR 261 dan dibagi menjadi dua kategori utama: karakteristik dan terdaftar. | |||
Persyaratan RCRA berlaku untuk semua perusahaan yang menghasilkan, menyimpan, dan membuang limbah B3 di Amerika Serikat. Banyak jenis kegiatan bisnis menghasilkan limbah berbahaya. Binatu, bengkel [[mobil]], rumah sakit, [[Hama|pembasmi hama]], dan tempat [[Cuci film|cuci cetak film foto]] semuanya dapat menghasilkan limbah B3. Beberapa penghasil limbah B3 adalah perusahaan besar seperti [[Pemanufakturan|produsen]] bahan kimia, perusahaan [[Penyepuhan|pelapisan listrik]], dan [[kilang minyak]]. | Persyaratan RCRA berlaku untuk semua perusahaan yang menghasilkan, menyimpan, dan membuang limbah B3 di Amerika Serikat. Banyak jenis kegiatan bisnis menghasilkan limbah berbahaya. Binatu, bengkel [[mobil]], rumah sakit, [[Hama|pembasmi hama]], dan tempat [[Cuci film|cuci cetak film foto]] semuanya dapat menghasilkan limbah B3. Beberapa penghasil limbah B3 adalah perusahaan besar seperti [[Pemanufakturan|produsen]] bahan kimia, perusahaan [[Penyepuhan|pelapisan listrik]], dan [[kilang minyak]]. | ||
| Baris 94: | Baris 85: | ||
== Lihat pula == | == Lihat pula == | ||
* [[Bahaya lingkungan]] | * [[Bahaya lingkungan]] | ||
* [[Daftar jenis limbah]] | * [[Daftar jenis limbah]] | ||
| Baris 107: | Baris 97: | ||
* [[Rasisme lingkungan]] | * [[Rasisme lingkungan]] | ||
* [[Remediasi lingkungan]] | * [[Remediasi lingkungan]] | ||
== Pranala luar == | == Pranala luar == | ||
* [https://www.atsdr.cdc.gov/ Agency for Toxic Substances and Disease Registry] | * [https://www.atsdr.cdc.gov/ Agency for Toxic Substances and Disease Registry] | ||
* [https://www.epa.gov/hw The EPA's hazardous waste page] | * [https://www.epa.gov/hw The EPA's hazardous waste page] | ||
| Baris 119: | Baris 104: | ||
* [http://www.epaalumni.org/hcp/rcra.pdf Waste Management: A Half Century of Progress], a report by the EPA Alumni Association | * [http://www.epaalumni.org/hcp/rcra.pdf Waste Management: A Half Century of Progress], a report by the EPA Alumni Association | ||
== Referensi == | |||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | == Sumber dan atribusi == | ||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Limbah+bahan+berbahaya+dan+beracun&oldid=27820915 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 27820915 (2025-09-14T01:23:42Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Limbah+bahan+berbahaya+dan+beracun&oldid=27820915 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 27820915 (2025-09-14T01:23:42Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 27 Agustus 2026 22.57
Limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) adalah limbah yang harus ditangani dengan benar untuk mencegah gangguan kesehatan manusia atau kerusakan lingkungan. Limbah dapat berbahaya karena beracun, mudah bereaksi dengan bahan kimia lain, korosif, dan masih banyak lagi.[1] Pada 2022, manusia menghasilkan 300–500 juta metrik ton limbah berbahaya setiap tahunnya.[2] Contoh umum adalah elektronik, baterai, dan cat. Aspek penting dari pengelolaan limbah B3 adalah pembuangan yang aman. Limbah B3 dapat disimpan di tempat pembuangan akhir, dibakar, atau didaur ulang menjadi sesuatu yang baru. Pengelolaan limbah B3 penting untuk mencapai keberlanjutan di seluruh dunia.[3] Limbah B3 diatur dalam skala nasional oleh pemerintah nasional maupun dalam skala internasional oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan perjanjian internasional.
Jenis
Limbah universal
Limbah universal adalah kategori khusus limbah berbahaya yang (di AS) umumnya memiliki ancaman yang lebih rendah dibandingkan limbah berbahaya lainnya, tersebar luas, dan diproduksi dalam jumlah yang sangat besar oleh banyak pembangkit listrik. Beberapa "limbah universal" yang paling umum adalah: bohlam pendar, beberapa baterai khusus (misalnya baterai yang mengandung litium atau timbal), tabung sinar katode, dan perangkat yang mengandung raksa.
Limbah universal tunduk pada persyaratan peraturan yang agak kurang ketat. Penghasil limbah universal dalam jumlah kecil dapat diklasifikasikan sebagai "penghasil limbah kecil dengan pengecualian bersyarat" (CESQG) yang membebaskan mereka dari beberapa persyaratan peraturan terkait penanganan dan penyimpanan limbah berbahaya. Limbah universal tetap harus dibuang dengan benar.
Limbah B3 rumah tangga
Limbah B3 rumah tangga adalah limbah yang dihasilkan dari rumah tangga. Jenis limbah ini hanya berlaku untuk limbah yang berasal dari penggunaan material yang berlabel dan dijual untuk "penggunaan rumah tangga". Limbah B3 yang dihasilkan oleh perusahaan atau di lingkungan industri bukan limbah B3 rumah tangga.
Berikut ini kategori-kategori yang sering diterapkan pada limbah B3 rumah tangga. Perlu dicatat bahwa banyak kategori ini saling tumpang tindih dan banyak limbah B3 rumah tangga dapat dikategorikan secara berbeda:
- Cat dan pelarut
- Limbah otomotif (oli motor bekas, antibeku, dll.)
- Pestisida (insektisida, herbisida, fungisida, dll.)
- Limbah yang mengandung raksa (termometer, sakelar, lampu neon, dll.)
- Elektronik (komputer, televisi, telepon seluler)
- Tabung aerosol/propana
- Bahan kaustik/pembersih
- Peralatan yang mengandung refrigeran
- Beberapa baterai khusus (misalnya baterai lithium, nikel kadmium, atau baterai sel kancing)
- Amunisi
- Asbes
- Baterai mobil
- Limbah radioaktif (beberapa detektor asap rumah diklasifikasikan sebagai limbah radioaktif karena mengandung isotop radioaktif amerisium dalam jumlah sangat kecil, misalnya amerisium-241).[4]
Pembuangan
Secara historis, berbagai limbah B3 dibuang di tempat pembuangan akhir (TPA) biasa. Limbah B3 seringkali harus distabilkan dan dipadatkan agar dapat masuk ke TPA, dan harus menjalani berbagai pengolahan untuk menstabilkan dan membuangnya. Sebagian besar bahan yang mudah terbakar dapat didaur ulang menjadi bahan bakar industri. Beberapa bahan dengan kandungan berbahaya dapat didaur ulang, seperti baterai timbal-asam. Banyak TPA memerlukan tindakan pencegahan terhadap pencemaran air tanah. Misalnya, penghalang harus dipasang di sepanjang fondasi TPA untuk menahan zat berbahaya yang mungkin tersisa dalam limbah yang dibuang.[5]
Daur ulang
Beberapa limbah B3 dapat didaur ulang menjadi produk baru.[6] Contohnya baterai timbal-asam atau papan sirkuit elektronik. Ketika logam berat dalam wujud abu melalui pengolahan yang tepat, logam tersebut dapat mengikat polutan lain dan mengubahnya menjadi padatan yang lebih mudah dibuang, atau dapat digunakan sebagai pengisi trotoar. Pengolahan tersebut mengurangi tingkat ancaman B3, seperti abu layang dan abu padat,[7] sekaligus mendaur ulang produk yang aman.
Pembakaran
Insinerator membakar limbah berbahaya pada suhu tinggi (), sehingga mengurangi jumlahnya secara signifikan dengan menguraikannya menjadi abu dan gas.[8] Insinerasi dapat digunakan untuk berbagai jenis limbah berbahaya, termasuk tanah, lumpur, cairan, dan gas yang terkontaminasi. Insinerator dapat dibangun langsung di lokasi pembuangan limbah B3, atau lebih umum, limbah dapat diangkut dari lokasi pembuangan ke fasilitas insinerasi permanen.[9]
Abu dan gas yang tersisa dari insinerasi juga dapat berbahaya. Logam tidak hancur, dan dapat tetap berada di tungku atau berubah menjadi gas dan bergabung dengan emisi gas. Abu harus disimpan di tempat pembuangan limbah B3, meskipun membutuhkan ruang lebih sedikit daripada limbah aslinya.[10] Insinerasi melepaskan gas-gas seperti karbon dioksida, nitrogen oksida, amonia, dan senyawa organik yang mudah menguap.[11] Reaksi di tungku juga dapat membentuk gas asam klorida dan belerang dioksida. Untuk menghindari pelepasan gas berbahaya dan limbah padat yang tersuspensi dalam gas-gas tersebut, insinerator modern dirancang dengan sistem untuk menangkap emisi ini.[12]
Tempat pembuangan akhir
Limbah B3 dapat ditampung di tempat pembuangan akhir (TPA) limbah B3 atau fasilitas pembuangan permanen. 40 CFR 260.10 berbunyi: "Dalam konteks limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, Tempat Pembuangan Akhir didefinisikan sebagai fasilitas pembuangan atau bagian dari fasilitas tempat limbah Bahan Berbahaya dan Beracun ditempatkan atau di darat dan bukan merupakan tumpukan, fasilitas pengolahan lahan, penampungan permukaan, sumur injeksi bawah tanah, formasi kubah garam, formasi lapisan garam, tambang bawah tanah, gua, atau unit manajemen tindakan korektif."[13][14]
Pirolisis
Beberapa jenis limbah B3 dapat dihilangkan menggunakan pirolisis pada suhu tinggi, tidak harus melalui busur listrik, tetapi tanpa oksigen untuk menghindari pembakaran. Namun, ketika busur listrik digunakan untuk menghasilkan panas ultra yang dibutuhkan (suhu di atas 3.000 derajat Celsius), semua material (limbah) yang dimasukkan ke dalam proses akan meleleh menjadi terak cair dan teknologi ini disebut plasma, bukan pirolisis. Teknologi plasma menghasilkan material inert dan ketika didinginkan, memadat menjadi material seperti batu. Metode pengolahan ini sangat mahal, tetapi mungkin lebih baik daripada insinerasi suhu tinggi dalam beberapa keadaan, seperti dalam penghancuran jenis limbah organik pekat, termasuk bifenil terpoliklorinasi, pestisida, dan polutan organik persisten lainnya.[15][16]
Di masyarakat
Pengelolaan dan dampak kesehatan
Pengelolaan dan pembuangan limbah berbahaya memiliki risiko besar jika tidak dilakukan dengan benar. Jika dibuang secara tidak benar, gas berbahaya dapat lepas ke udara yang mengakibatkan morbiditas dan mortalitas yang lebih tinggi.[17] Gas ini dapat berupa hidrogen klorida, karbon monoksida, nitrogen oksida, belerang dioksida, dan beberapa mungkin juga mencakup logam berat.[18] Dengan prospek bahan gas yang dilepaskan ke atmosfer, beberapa organisasi (RCRA, TSCA, HSWA, CERCLA) mengembangkan skala identifikasi kategori bahan dan limbah berbahaya agar memudahkan mengidentifikasi dan mengurangi potensi kebocoran. Bahan Daftar-F diidentifikasi sebagai limbah praktik industri non-spesifik; Daftar-K adalah limbah yang dihasilkan dari proses industri tertentu: pestisida, minyak bumi, industri peledak; serta daftar P dan U adalah limbah yang dihasilkan untuk penggunaan komersial dan pestisida yang stabil di rak.[19] Kesalahan pengelolaan limbah B3 dapat menyebabkan konsekuensi kesehatan langsung yang merugikan melalui pencemaran udara, air, dan tanah.[20] Dalam sebuah studi di Austria, orang-orang yang tinggal di dekat kawasan industri "lebih sering menganggur, memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah, dan dua kali lebih mungkin menjadi imigran."[21] Hal ini menciptakan masalah yang jauh lebih besar bagi mereka yang sangat bergantung pada lahan pertanian dan air sungai untuk minum; termasuk penduduk asli Amerika. Meskipun masyarakat kelas bawah dan/atau minoritas sosial berisiko lebih tinggi terpapar racun, penduduk asli Amerika berisiko berlipat ganda karena fakta-fakta di atas. Pembuangan limbah B3 yang tidak tepat telah mengakibatkan banyak komplikasi kesehatan ekstrem di antara suku-suku tertentu. Warga Suku Mohawk di Akwesasne telah mengalami peningkatan kadar PCB (bifenil terpoliklorinasi) dalam aliran darah mereka yang menyebabkan tingkat kanker yang lebih tinggi.[22]
Tujuan global
PBB memiliki mandat terhadap B3 dan limbah B3 dengan rekomendasi kepada negara-negara untuk menangani limbah B3.[23] Sebanyak 199 negara menandatangani Konvensi Basel 1992, yang berupaya menghentikan aliran limbah B3 dari negara-negara maju ke negara-negara berkembang dengan peraturan lingkungan yang kurang ketat.[24]
Komunitas internasional telah menetapkan pengelolaan limbah berbahaya dan bahan kimia yang bertanggung jawab sebagai bagian penting dari pembangunan berkelanjutan dengan memasukkannya ke dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ke-12.[25] Tujuan nomor 12.4 adalah untuk "mencapai pengelolaan bahan kimia dan semua limbah yang ramah lingkungan sepanjang siklus hidupnya". Salah satu indikator untuk target ini adalah: "limbah B3 yang dihasilkan per kapita; dan proporsi limbah B3 yang diolah, berdasarkan jenis pengolahan".[26]
Sejarah dasar hukum
Amerika Serikat
Undang-Undang Konservasi dan Pemulihan Sumber Daya Alam (RCRA)
Limbah B3 adalah limbah dengan sifat yang membuatnya berbahaya atau berpotensi membahayakan kesehatan manusia atau lingkungan. Limbah B3 dapat berupa cairan, padatan, gas tertampung, atau lumpur. Limbah B3 dapat berupa produk sampingan dari proses manufaktur atau produk komersial yang dibuang begitu saja, seperti cairan pembersih atau pestisida. Dalam istilah regulasi, limbah B3 RCRA adalah limbah yang termasuk dalam salah satu dari empat daftar limbah B3 (Daftar F, Daftar K, Daftar P, atau Daftar U), atau menunjukkan setidaknya satu dari empat karakteristik berikut; mudah terbakar, korosif, reaktivitas, atau toksisitas. Di AS, limbah B3 diatur berdasarkan Undang-Undang Konservasi dan Pemulihan Sumber Daya Alam (RCRA), Bagian C.[27]
Menurut pengertian tersebut, EPA menetapkan bahwa beberapa limbah tertentu berbahaya. Limbah-limbah ini dimasukkan ke dalam daftar yang diterbitkan oleh badan tersebut. Daftar ini dibagi menjadi tiga kategori: Daftar F (limbah sumber non-spesifik) yang termaktub dalam 40 CFR 261.31, Daftar K (limbah sumber spesifik) yang termaktub dalam 40 CFR 261.32, dan Daftar P serta Daftar U (produk kimia komersial yang dibuang) yang termaktub dalam 40 CFR 261.33.
Sistem pencatatan RCRA membantu melacak daur limbah berbahaya dan mengurangi jumlah limbah berbahaya yang dibuang secara ilegal.
Undang-Undang Tanggapan, Kompensasi, dan Tanggung Jawab Lingkungan yang Komprehensif
Undang-Undang Tanggapan, Kompensasi, dan Kewajiban Lingkungan Komprehensif (CERCLA) disahkan pada 1980. Tujuan utama CERCLA adalah menciptakan "Superfund" dan menyediakan dana pembersihan dan remediasi lokasi pembuangan limbah B3 yang telah ditutup dan terbengkalai. CERCLA menangani pelepasan B3 di masa lampau, tetapi tidak secara khusus mengelola limbah B3.
India
Undang-Undang Lingkungan Hidup dan Peraturan Limbah Berbahaya
Pada tahun 1984, kebocoran gas metil isosianat, dikenal sebagai Tragedi Bhopal, meningkatkan kesadaran lingkungan di India.[28] Sebagai tanggapan, pemerintah India mengeluarkan Undang-Undang Lingkungan Hidup pada tahun 1986, diikuti oleh Peraturan tentang Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun pada tahun 1989.[29] Dengan aturan ini, perusahaan hanya diizinkan tiap-tiap negara bagian untuk menghasilkan limbah berbahaya jika mereka dapat membuangnya dengan aman.[30] Namun, pemerintah negara bagian tidak membuat peraturan yang lebih efektif. Ada sekitar satu dasawarsa penundaan antara saat tempat pembuangan limbah B3 diajukan dan dibangun. Selama waktu ini, perusahaan membuang limbah B3 di berbagai lokasi pembuangan limbah B3 "sementara", seperti di sepanjang jalan dan di lubang gorong-gorong, tanpa rencana segera untuk memindahkannya ke fasilitas yang tepat.[31]
Putusan Mahkamah Agung
Akhirnya, Mahkamah Agung turun tangan untuk mencegah kerusakan limbah B3 untuk melindungi hak untuk hidup. Sebuah petisi 1995 oleh Yayasan Penelitian Sains, Teknologi, dan Kebijakan Sumber Daya Alam[32] mendorong Mahkamah Agung untuk membentuk Komite Tinggi (HPC) Limbah Berbahaya, karena data dari badan pemerintah yang sudah ada sebelumnya tidak dapat digunakan.[33] Komite ini menemukan studi yang menghubungkan polusi dan penanganan limbah yang tidak tepat dengan jumlah kromium heksavalen, timbal, dan logam berat lainnya yang lebih tinggi. Industri dan regulator secara efektif mengabaikan studi ini.[34] Selain itu, negara juga tidak bertindak sesuai dengan Konvensi Basel, sebuah perjanjian internasional tentang pengangkutan limbah B3. Mahkamah Agung mengubah Peraturan tentang Limbah Berbahaya dan Beracun serta membentuk Komite Pemantauan Mahkamah Agung untuk menindaklanjuti keputusannya. Dengan komite ini, Mahkamah Agung telah mampu memaksa penutupan perusahaan yang terbukti mencemari lingkungan dengan limbah B3.
Contoh menurut negara
Amerika Serikat
Di Amerika Serikat, pengelolaan, penyimpanan, dan pembuangan limbah B3 diatur dalam Undang-Undang tentang Konservasi dan Pemulihan Sumber Daya Alam (Resource Conservation and Recovery Act/RCRA). Limbah B3 didefinisikan dalam RCRA menurut 40 CFR 261 dan dibagi menjadi dua kategori utama: karakteristik dan terdaftar.[35]
Persyaratan RCRA berlaku untuk semua perusahaan yang menghasilkan, menyimpan, dan membuang limbah B3 di Amerika Serikat. Banyak jenis kegiatan bisnis menghasilkan limbah berbahaya. Binatu, bengkel mobil, rumah sakit, pembasmi hama, dan tempat cuci cetak film foto semuanya dapat menghasilkan limbah B3. Beberapa penghasil limbah B3 adalah perusahaan besar seperti produsen bahan kimia, perusahaan pelapisan listrik, dan kilang minyak.
Fasilitas AS yang menangani, menyimpan, atau membuang limbah B3 harus mendapatkan izin menurut RCRA. Penghasil dan pengangkut limbah B3 harus memenuhi persyaratan khusus untuk penanganan, pengelolaan, dan pelacakan limbah. Melalui RCRA, Kongres mengarahkan Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) untuk membuat peraturan guna mengelola limbah B3. Berdasarkan mandat ini, EPA telah mengembangkan persyaratan ketat untuk semua aspek pengelolaan limbah B3, termasuk menangani, menyimpan, dan membuang limbah B3. Selain persyaratan federal ini, negara bagian dapat mengembangkan persyaratan ketat lagi yang cakupannya lebih luas daripada peraturan federal. Lebih lanjut, RCRA memungkinkan setiap negara bagian untuk mengembangkan program regulasi yang setidaknya sama ketatnya dengan RCRA, dan setelah ditinjau oleh EPA, negara bagian dapat mengambil alih tanggung jawab untuk menerapkan persyaratan berdasarkan RCRA. Sebagian besar negara bagian memanfaatkan wewenang ini, menerapkan program limbah berbahaya mereka sendiri yang setidaknya sama ketatnya dan, dalam beberapa kasus, lebih ketat daripada program federal.
Pemerintah AS menyediakan beberapa alat untuk memetakan limbah berbahaya ke lokasi tertentu. Alat-alat ini juga memungkinkan pengguna untuk melihat informasi tambahan.
- TOXMAP adalah layanan Sistem Informasi Geografis (SIG) dari Divisi Layanan Informasi Khusus Perpustakaan Kedokteran Nasional Amerika Serikat (NLM) yang menggunakan peta Amerika Serikat untuk membantu pengguna menjelajahi data secara visual dari Inventaris Pelepasan Zat Beracun (<i>Toxics Release Inventory</i>) dan Program Penelitian Dasar <i>Superfund</i> milik Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA). Pemerintah Federal AS mendanai sumber daya ini. Informasi kesehatan kimia dan lingkungan TOXMAP diambil dari Jaringan Data Toksikologi (TOXNET) NLM, PubMed, dan sumber tepercaya lainnya.
- Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) "Where You Live" memungkinkan setiap pengguna untuk memilih wilayah dari peta untuk menemukan informasi tentang lokasi <i>Superfund</i> di wilayah tersebut.
Lihat pula
- Bahaya lingkungan
- Daftar jenis limbah
- Daftar perusahaan pengolahan limbah
- Daftar teknologi pengolahan limbah padat
- Daur ulang
- Intrusi uap
- Konvensi Bamako
- Limbah beracun
- Limbah campuran (radioaktif/berbahaya)
- Pencemaran
- Rasisme lingkungan
- Remediasi lingkungan
Pranala luar
- Agency for Toxic Substances and Disease Registry
- The EPA's hazardous waste page
- The U.S. EPA's Hazardous Waste Cleanup Information System
- Waste Management: A Half Century of Progress, a report by the EPA Alumni Association
Referensi
- ↑ Hazardous-waste management Types, Examples, Treatment, & Facts Britannica. www.britannica.com.
- ↑ Johann H. Martínez. The world-wide waste web. Nature Communications. 2022-03-29. Vol. 13 (1). hlm. 1615. doi:10.1038/s41467-022-28810-x.
- ↑ Our World in Data team. Sustainable Development Goal 12: Ensure sustainable consumption and production patterns. Our World in Data. July 18, 2023.
- ↑ Hazardous Waste Management - Smoke Detectors. Morris County Municipal Utilities Authority.
- ↑ Rachana Malviya. Factors affecting hazardous waste solidification/Stabilization: A review. Journal of Hazardous Materials. 2006. Vol. 137 (1). hlm. 267–276. doi:10.1016/j.jhazmat.2006.01.065.
- ↑ Carol Carysforth. GCSE Applied Business for Edexcel: Double Award. Heinemann. 2002. ISBN 9780435447205.
- ↑ Xin-yue Zhao. Chemical stabilization of heavy metals in municipal solid waste incineration fly ash: a review. Environmental Science and Pollution Research. 2022-06-01. Vol. 29 (27). hlm. 40384–40402. doi:10.1007/s11356-022-19649-2.
- ↑ A Citizen's Guide to Incineration. United States Environmental Protection Agency. September 2012.
- ↑ A Citizen's Guide to Incineration. United States Environmental Protection Agency. September 2012.
- ↑ A Citizen's Guide to Incineration. United States Environmental Protection Agency. September 2012.
- ↑ Emission From Waste Incineration. The Intergovernmental Panel on Climate Change. March 5, 2014.
- ↑ National Research Council (US) Committee on Health Effects of Waste Incineration. Incineration Processes and Environmental Releases. Waste Incineration & Public Health. National Academies Press (US). 2000.
- ↑ Hazardous Waste Landfills.
- ↑ Land Disposal Restrictions for Hazardous Waste
- ↑ Scheduled Wastes - Plasma Arc Systems.
- ↑ Microsoft PowerPoint - ESM of pesticide POPs part 3.
- ↑ Hazardous Waste Management and Health Risks. BENTHAM SCIENCE PUBLISHERS. 2020-08-23. doi:10.2174/97898114547451200101. ISBN 978-981-14-5474-5.
- ↑ Hazardous Waste Management and Health Risks. BENTHAM SCIENCE PUBLISHERS. 2020-08-23. doi:10.2174/97898114547451200101. ISBN 978-981-14-5474-5.
- ↑ Hazardous Waste Management and Health Risks. BENTHAM SCIENCE PUBLISHERS. 2020-08-23. doi:10.2174/97898114547451200101. ISBN 978-981-14-5474-5.
- ↑ Hazardous Waste Management and Health Risks. BENTHAM SCIENCE PUBLISHERS. 2020-08-23. doi:10.2174/97898114547451200101. ISBN 978-981-14-5474-5.
- ↑ Helene Glatter-Götz. Environmental inequality in Austria: do inhabitants' socioeconomic characteristics differ depending on their proximity to industrial polluters?. Environmental Research Letters. 2019-07-01. Vol. 14 (7). hlm. 074007. doi:10.1088/1748-9326/ab1611.
- ↑ Daniel Brook. Environmental Genocide:: Native Americans and Toxic Waste. The American Journal of Economics and Sociology. July 3, 2006. Vol. 57 (1). hlm. 105–113. doi:10.1111/j.1536-7150.1998.tb03260.x.
- ↑ Special rapporteur on toxics and human rights. United Nations Human Rights Special Procedures.
- ↑ Governments agree landmark decisions to protect people and planet from hazardous chemicals and waste, including plastic waste. United Nations Environment Programme. May 12, 2019.
- ↑ Resolution adopted by the General Assembly on 6 July 2017. United Nations Statistics Division - UN-GGIM. July 10, 2017.
- ↑ Our World in Data team. Sustainable Development Goal 12: Ensure sustainable consumption and production patterns. Our World in Data. July 18, 2023.
- ↑ Horinko, Marianne, Cathryn Courtin. “Waste Management: A Half Century of Progress.” EPA Alumni Association. March 2016.
- ↑ Edward Broughton. The Bhopal disaster and its aftermath: a review. Environmental Health. 2005-05-10. Vol. 4 (1). doi:10.1186/1476-069X-4-6.
- ↑ Dinesh C. Sharma. By Order of the Court: Environmental Cleanup in India. Environmental Health Perspectives. June 2005. Vol. 113 (6). hlm. A394–A397. doi:10.1289/ehp.113-a394.
- ↑ The Hazardous Wastes Rules, 1989. Government of Punjab. Ministry of Environment and Forests. July 28, 1989.
- ↑ Dinesh C. Sharma. By Order of the Court: Environmental Cleanup in India. Environmental Health Perspectives. June 2005. Vol. 113 (6). hlm. A394–A397. doi:10.1289/ehp.113-a394.
- ↑ Vandana Shiva Indian Environmentalist, Activist & Scientist Britannica. www.britannica.com.
- ↑ Dinesh C. Sharma. By Order of the Court: Environmental Cleanup in India. Environmental Health Perspectives. June 2005. Vol. 113 (6). hlm. A394–A397. doi:10.1289/ehp.113-a394.
- ↑ Dinesh C. Sharma. By Order of the Court: Environmental Cleanup in India. Environmental Health Perspectives. June 2005. Vol. 113 (6). hlm. A394–A397. doi:10.1289/ehp.113-a394.
- ↑ 40 CFR 261
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 27820915 (2025-09-14T01:23:42Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.