Lompat ke isi

Salju: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29541970; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Salju''' adalah bentuk padat [[air]] yang jatuh ke bumi dari atmosfer atau [[awan]] yang telah membeku menjadi kristal [[padat]] dan seperti hujan yang menutupi secara permanen atau sementara (23 persen) dari seluruh permukaan [[bumi]]. Salju terdiri atas partikel [[uap air]] yang kemudian mendingin di udara atas (lihat ''[[atmosfer]]'', ''[[biosfer]]'', ''[[iklim]]'', ''[[meteorologi]]'', ''[[cuaca]]'') jatuh ke bumi sebagai kepingan empuk, putih, dan seperti kristal lembut ''[[kepingan salju]]'', [[pakis]] seperti [[kristal es]], (kelompok dari kesemuanya).
'''Salju''' adalah bentuk padat [[air]] yang jatuh ke bumi dari atmosfer atau [[awan]] yang telah membeku menjadi kristal [[padat]] dan seperti hujan yang menutupi secara permanen atau sementara (23 persen) dari seluruh permukaan [[bumi]].<ref>Arum Sutrisni Putri. [https://www.kompas.com/skola/read/2019/12/27/120000069/salju-pengertian-karakteristik-proses-dan-manfaat Salju: Pengertian, Karakteristik, Proses, dan Manfaat]. ''Kompas.com''.</ref> Salju terdiri atas partikel [[uap air]] yang kemudian mendingin di udara atas (lihat ''[[atmosfer]]'', ''[[biosfer]]'', ''[[iklim]]'', ''[[meteorologi]]'', ''[[cuaca]]'') jatuh ke bumi sebagai kepingan empuk, putih, dan seperti kristal lembut ''[[kepingan salju]]'', [[pakis]] seperti [[kristal es]], (kelompok dari kesemuanya).


Pada [[suhu]] tertentu (disebut ''[[titik beku]]'', 0° [[Celsius]], 32° [[Fahrenheit]]), salju biasa meleleh dan hilang. Proses saat salju/es berubah secara langsung ke dalam uap air tanpa mencair terlebih dulu disebut [[menyublim]]. Proses lawannya disebut [[pengendapan]]. Saat salju membeku, sering kali menjadi pecahan kecil yang disebut "kepingan salju". Salju merupakan prasyarat buat kegiatan [[olahraga]] [[musim dingin]] seperti [[ski]] dan [[kereta luncur]]).
Pada [[suhu]] tertentu (disebut ''[[titik beku]]'', 0° [[Celsius]], 32° [[Fahrenheit]]), salju biasa meleleh dan hilang. Proses saat salju/es berubah secara langsung ke dalam uap air tanpa mencair terlebih dulu disebut [[menyublim]]. Proses lawannya disebut [[pengendapan]]. Saat salju membeku, sering kali menjadi pecahan kecil yang disebut "kepingan salju". Salju merupakan prasyarat buat kegiatan [[olahraga]] [[musim dingin]] seperti [[ski]] dan [[kereta luncur]]).
Baris 5: Baris 5:
Di dunia, salju biasa terjadi pada negeri beriklim [[subtropis]] dan [[iklim sedang|sedang]]. Namun, ada juga daerah tropis yang bersalju, yakni di [[Pegunungan Jayawijaya]] dan [[Barisan Sudirman]] di [[Papua]], [[Indonesia]]. Selain itu, ada juga salju di [[Kilimanjaro|Gunung Kilimanjaro]], [[Tanzania]], yang sekarang semakin menipis karena [[perubahan iklim]] dan [[pemanasan global]]. Salju pada dasarnya berwarna sebening kristal, tetapi karena pantulan [[Sinar matahari|cahaya matahari]] kita melihatnya seperti [[putih]].
Di dunia, salju biasa terjadi pada negeri beriklim [[subtropis]] dan [[iklim sedang|sedang]]. Namun, ada juga daerah tropis yang bersalju, yakni di [[Pegunungan Jayawijaya]] dan [[Barisan Sudirman]] di [[Papua]], [[Indonesia]]. Selain itu, ada juga salju di [[Kilimanjaro|Gunung Kilimanjaro]], [[Tanzania]], yang sekarang semakin menipis karena [[perubahan iklim]] dan [[pemanasan global]]. Salju pada dasarnya berwarna sebening kristal, tetapi karena pantulan [[Sinar matahari|cahaya matahari]] kita melihatnya seperti [[putih]].


[[Badai salju]] terbentuk dan berkembang dengan memakan sumber [[kelembapan]] [[atmosfer]] dan [[udara]] dingin. [[Kepingan salju berinti]] di sekitar partikel di atmosfer dengan menarik tetesan air yang sangat dingin, yang [[membeku]] dalam [[kristal]] berbentuk [[segi enam|heksagonal]]. Kepingan salju memiliki berbagai macam bentuk, yang paling dasar adalah trombosit, jarum, kolom, dan rime. Saat salju terakumulasi menjadi tumpukan salju, salju mungkin akan terbawa arus. Seiring waktu, akumulasi salju ber[[metamorfosis]], melalui [[penyinteran]], [[sublimasi]], dan [[pembekuan-pencairan]]. Jika iklim cukup dingin untuk terakumulasi dari tahun ke tahun, [[gletser]] dapat terbentuk. Jika tidak, salju biasanya mencair secara musiman, menyebabkan limpasan ke aliran sungai dan mengisi kembali air tanah. Daerah rawan salju utama mencakup wilayah kutub, separuh, paling utara [[Belahan Bumi Utara]], dan wilayah pegunungan di seluruh dunia dengan kelembapan yang cukup dan suhu dingin. Di [[Belahan Bumi Selatan]], salju hanya terbatas di daerah pegunungan, selain [[Antartika]].
[[Badai salju]] terbentuk dan berkembang dengan memakan sumber [[kelembapan]] [[atmosfer]] dan [[udara]] dingin. [[Kepingan salju berinti]] di sekitar partikel di atmosfer dengan menarik tetesan air yang sangat dingin, yang [[membeku]] dalam [[kristal]] berbentuk [[segi enam|heksagonal]]. Kepingan salju memiliki berbagai macam bentuk, yang paling dasar adalah trombosit, jarum, kolom, dan rime. Saat salju terakumulasi menjadi tumpukan salju, salju mungkin akan terbawa arus. Seiring waktu, akumulasi salju ber[[metamorfosis]], melalui [[penyinteran]], [[sublimasi]], dan [[pembekuan-pencairan]]. Jika iklim cukup dingin untuk terakumulasi dari tahun ke tahun, [[gletser]] dapat terbentuk. Jika tidak, salju biasanya mencair secara musiman, menyebabkan limpasan ke aliran sungai dan mengisi kembali air tanah. Daerah rawan salju utama mencakup wilayah kutub, separuh, paling utara [[Belahan Bumi Utara]], dan wilayah pegunungan di seluruh dunia dengan kelembapan yang cukup dan suhu dingin. Di [[Belahan Bumi Selatan]], salju hanya terbatas di daerah pegunungan, selain [[Antartika]].<ref>W. Gareth Rees. [https://books.google.com/books?id=780IKxPcqpYC&pg=PA2 Remote Sensing of Snow and Ice]. CRC Press. 2005. hlm. 312. ISBN 978-1-4200-2374-9.</ref>


== Etimologi ==
== Etimologi ==
Kata-kata '''salju''' diserap dari kata arab kata Arab: ثَلج‎, ''thalj'', dan dulu sering dieja sebagai ''thalji'' atau ''thalju'' yang akhirnya dalam bahasa Indonesia disempurnakan menjadi kata "salju".
Kata-kata '''salju''' diserap dari kata arab kata Arab: ثَلج‎, ''thalj'', dan dulu sering dieja sebagai ''thalji'' atau ''thalju'' yang akhirnya dalam bahasa Indonesia disempurnakan menjadi kata "salju".


Baris 16: Baris 15:


== Pencurahan ==
== Pencurahan ==
 
Salju berkembang di [[awan]] yang merupakan bagian dari sistem cuaca yang lebih besar. [[Fisika]] perkembangan kristal salju di awan dihasilkan dari serangkaian variabel kompleks yang mencakup kadar [[air]] dan suhu. Bentuk kristal yang jatuh dan jatuh yang dihasilkan dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bentuk dasar dan kombinasinya. Kadang-kadang, beberapa kepingan salju berbentuk piring, dendritik, dan bintang dapat terbentuk di bawah langit cerah dengan adanya inversi suhu yang sangat dingin.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Salju&oldid=29541970 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref>
Salju berkembang di [[awan]] yang merupakan bagian dari sistem cuaca yang lebih besar. [[Fisika]] perkembangan kristal salju di awan dihasilkan dari serangkaian variabel kompleks yang mencakup kadar [[air]] dan suhu. Bentuk kristal yang jatuh dan jatuh yang dihasilkan dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bentuk dasar dan kombinasinya. Kadang-kadang, beberapa kepingan salju berbentuk piring, dendritik, dan bintang dapat terbentuk di bawah langit cerah dengan adanya inversi suhu yang sangat dingin.


=== Pembentukan awan ===
=== Pembentukan awan ===
Baris 23: Baris 21:


=== Daerah bertekanan rendah ===
=== Daerah bertekanan rendah ===
 
[[Siklon ekstratropis|Siklon garis lintang tengah]] adalah daerah bertekanan rendah yang mampu menimbulkan apa saja, mulai dari keadaan mendung dan [[badai salju]] ringan hingga badai salju lebat.<ref>DeCaria. [http://www.atmos.millersville.edu/~adecaria/ESCI241/esci241_lesson16_cyclones.html ESCI 241 – Meteorology; Lesson 16 – Extratropical Cyclones]. Department of Earth Sciences, Millersville University. Desember 7, 2005.</ref> Selama [[musim gugur]], [[musim dingin]], dan [[musim semi]] di belahan bumi, [[atmosfer]] di atas [[benua]] bisa menjadi cukup dingin hingga kedalaman [[troposfer]] sehingga menyebabkan hujan salju. Di [[Belahan Bumi Utara]], sisi utara daerah bertekanan rendah menghasilkan salju paling banyak.<ref>Paul Tolme. [https://books.google.com/books?id=t1DaXO7wF20C&pg=PA126 Weather 101: How to track and bag the big storms]. ''Ski Magazine''. Desember 2004. Vol. 69 (4). hlm. 126.</ref> Untuk [[garis lintang]] tengah bagian selatan, sisi siklon yang menghasilkan salju paling banyak adalah sisi selatan.
 
[[Siklon ekstratropis|Siklon garis lintang tengah]] adalah daerah bertekanan rendah yang mampu menimbulkan apa saja, mulai dari keadaan mendung dan [[badai salju]] ringan hingga badai salju lebat. Selama [[musim gugur]], [[musim dingin]], dan [[musim semi]] di belahan bumi, [[atmosfer]] di atas [[benua]] bisa menjadi cukup dingin hingga kedalaman [[troposfer]] sehingga menyebabkan hujan salju. Di [[Belahan Bumi Utara]], sisi utara daerah bertekanan rendah menghasilkan salju paling banyak. Untuk [[garis lintang]] tengah bagian selatan, sisi siklon yang menghasilkan salju paling banyak adalah sisi selatan.


=== Perenggan ===
=== Perenggan ===
Perenggan dingin, bagian terdepan dari [[massa]] [[udara]] yang lebih dingin, dapat menghasilkan [[badai salju]] perengganan — garis [[konveksi|konvektif]] bagian depan yang intens (mirip dengan [[pita hujan]]), ketika suhu di permukaan mendekati [[titik beku]]. [[Konveksi]] kuat yang berkembang memiliki kelembapan yang cukup untuk menghasilkan kondisi pemadaman listrik di tempat-tempat yang dilalui garis karena angin menyebabkan hembusan salju yang deras.<ref>Meteorological Service of Canada. [http://www.ec.gc.ca/meteo-weather/default.asp?lang=En&n=46FBA88B-1#Snow Snow]. ''Winter Hazards''. Environment Canada. September 8, 2010.</ref> [[Badai salju]] jenis ini umumnya berlangsung kurang dari 30 menit di titik mana pun di sepanjang jalurnya, tetapi pergerakan garisnya dapat menempuh jarak yang jauh. Badai salju perengganan dapat terbentuk tidak jauh di depan permukaan perenggan dingin atau di belakang peranggan dingin di mana mungkin terdapat sistem tekanan rendah yang semakin dalam atau serangkaian garis palung yang berfungsi serupa dengan saluran perengganan dingin tradisional. Dalam situasi di mana badai terjadi secara pasca-perengganan, bukan hal yang aneh jika dua atau tiga pita badai linier lewat secara berurutan dan hanya berjarak 25 mil (40 kilometer), dengan masing-masing melewati titik yang sama dengan jarak kira-kira 30 menit. Jika terjadi pertumbuhan dan percampuran vertikal dalam jumlah besar, badai tersebut dapat mengembangkan awan kumulonimbus yang tertanam sehingga menghasilkan [[kilat]] dan [[guntur]] yang disebut [[salju petir]].


 
Perenggan hangat dapat menghasilkan salju selama jangka waktu tertentu karena udara yang hangat dan lembap menggantikan udara di bawah titik beku dan menciptakan [[curah hujan]] di perbatasan. Sering kali, salju berubah menjadi hujan di sektor hangat di belakang bagian perenggan.<ref>Meteorological Service of Canada. [http://www.ec.gc.ca/meteo-weather/default.asp?lang=En&n=46FBA88B-1#Snow Snow]. ''Winter Hazards''. Environment Canada. September 8, 2010.</ref>
Perenggan dingin, bagian terdepan dari [[massa]] [[udara]] yang lebih dingin, dapat menghasilkan [[badai salju]] perengganan — garis [[konveksi|konvektif]] bagian depan yang intens (mirip dengan [[pita hujan]]), ketika suhu di permukaan mendekati [[titik beku]]. [[Konveksi]] kuat yang berkembang memiliki kelembapan yang cukup untuk menghasilkan kondisi pemadaman listrik di tempat-tempat yang dilalui garis karena angin menyebabkan hembusan salju yang deras. [[Badai salju]] jenis ini umumnya berlangsung kurang dari 30 menit di titik mana pun di sepanjang jalurnya, tetapi pergerakan garisnya dapat menempuh jarak yang jauh. Badai salju perengganan dapat terbentuk tidak jauh di depan permukaan perenggan dingin atau di belakang peranggan dingin di mana mungkin terdapat sistem tekanan rendah yang semakin dalam atau serangkaian garis palung yang berfungsi serupa dengan saluran perengganan dingin tradisional. Dalam situasi di mana badai terjadi secara pasca-perengganan, bukan hal yang aneh jika dua atau tiga pita badai linier lewat secara berurutan dan hanya berjarak 25 mil (40 kilometer), dengan masing-masing melewati titik yang sama dengan jarak kira-kira 30 menit. Jika terjadi pertumbuhan dan percampuran vertikal dalam jumlah besar, badai tersebut dapat mengembangkan awan kumulonimbus yang tertanam sehingga menghasilkan [[kilat]] dan [[guntur]] yang disebut [[salju petir]].
 
Perenggan hangat dapat menghasilkan salju selama jangka waktu tertentu karena udara yang hangat dan lembap menggantikan udara di bawah titik beku dan menciptakan [[curah hujan]] di perbatasan. Sering kali, salju berubah menjadi hujan di sektor hangat di belakang bagian perenggan.


=== Efek danau dan laut ===
=== Efek danau dan laut ===
Salju efek [[danau]] dihasilkan selama kondisi [[atmosfer]] yang lebih dingin ketika massa udara dingin bergerak melintasi hamparan panjang air danau yang lebih hangat , menghangatkan lapisan bawah udara yang mengambil [[uap air]] dari danau, naik melalui udara yang lebih dingin di atasnya, membeku, dan diendapkan di [[pantai]] [[hadap angin dan lindung angin|lindung angin]](arah hembusan angin).<ref>[http://www.noaa.gov/features/02_monitoring/lakesnow.html NOAA - National Oceanic and Atmospheric Administration - Monitoring & Understanding Our Changing Planet].</ref><ref>[http://www.comet.ucar.edu/class/smfaculty/byrd/sld012.htm Fetch].</ref>


Salju efek [[danau]] dihasilkan selama kondisi [[atmosfer]] yang lebih dingin ketika massa udara dingin bergerak melintasi hamparan panjang air danau yang lebih hangat , menghangatkan lapisan bawah udara yang mengambil [[uap air]] dari danau, naik melalui udara yang lebih dingin di atasnya, membeku, dan diendapkan di [[pantai]] [[hadap angin dan lindung angin|lindung angin]](arah hembusan angin).
Efek yang sama yang terjadi di perairan asin disebut ''efek laut'' atau ''efek teluk''. Efeknya ditingkatkan ketika massa udara yang bergerak terangkat oleh pengaruh [[gaya angkat orografis]] dari ketinggian yang lebih tinggi di pantai yang melawan arah angin. Pengangkatan ini dapat menghasilkan [[curah hujan]] yang sempit tetapi sangat intens yang dapat [[pengendapan|mengendapkan]] salju dengan kecepatan beberapa inci setiap jamnya, sering kali mengakibatkan total hujan salju dalam jumlah besar.<ref>Cliff Mass. [https://archive.org/details/weatherofpacific0000mass The Weather of the Pacific Northwest]. University of Washington Press. 2008. hlm. [https://archive.org/details/weatherofpacific0000mass/page/60 60]. ISBN 978-0-295-98847-4.</ref>
 
Efek yang sama yang terjadi di perairan asin disebut ''efek laut'' atau ''efek teluk''. Efeknya ditingkatkan ketika massa udara yang bergerak terangkat oleh pengaruh [[gaya angkat orografis]] dari ketinggian yang lebih tinggi di pantai yang melawan arah angin. Pengangkatan ini dapat menghasilkan [[curah hujan]] yang sempit tetapi sangat intens yang dapat [[pengendapan|mengendapkan]] salju dengan kecepatan beberapa inci setiap jamnya, sering kali mengakibatkan total hujan salju dalam jumlah besar.


=== Efek gunung ===
=== Efek gunung ===
Hujan salju [[orografi]]s atau [[relief]] terjadi ketika udara lembap dipaksa naik ke sisi pegunungan yang berangin oleh aliran angin berskala besar. Pengangkatan udara lembap ke sisi pegunungan menghasilkan pendinginan [[laju selang waktu|adiabatik]] , dan pada akhirnya terjadi [[pengembunan]] dan [[presipitasi|pencurahan]]. [[Kelembapan]] secara bertahap dihilangkan dari udara melalui proses ini, meninggalkan [[Angin Foehn|udara yang lebih kering dan hangat]] di sisi yang turun, atau di [[hadap angin dan lindung angin|lindung angin]]. Peningkatan hujan salju yang dihasilkan, seiring dengan penurunan suhu seiring ketinggian, digabungkan untuk meningkatkan kedalaman salju dan persistensi tumpukan salju musiman di daerah rawan salju.
Hujan salju [[orografi]]s atau [[relief]] terjadi ketika udara lembap dipaksa naik ke sisi pegunungan yang berangin oleh aliran angin berskala besar. Pengangkatan udara lembap ke sisi pegunungan menghasilkan pendinginan [[laju selang waktu|adiabatik]] , dan pada akhirnya terjadi [[pengembunan]] dan [[presipitasi|pencurahan]]. [[Kelembapan]] secara bertahap dihilangkan dari udara melalui proses ini, meninggalkan [[Angin Foehn|udara yang lebih kering dan hangat]] di sisi yang turun, atau di [[hadap angin dan lindung angin|lindung angin]].<ref>Physical Geography. [http://www.physicalgeography.net/fundamentals/8e.html CHAPTER 8: Introduction to the Hydrosphere (e). Cloud Formation Processes.] Retrieved on January 1, 2009.</ref> Peningkatan hujan salju yang dihasilkan,<ref>Mark T. Stoelinga. [https://books.google.com/books?id=ihjFd5Q8oPMC&pg=PA3 Mountain Weather Research and Forecasting: Recent Progress and Current Challenges]. Springer Science & Business Media. 2012. hlm. 3. ISBN 978-94-007-4098-3.</ref> seiring dengan penurunan suhu seiring ketinggian,<ref>Mark Zachary Jacobson. ''Fundamentals of Atmospheric Modeling''. Cambridge University Press. 2005. ISBN 978-0-521-83970-9.</ref> digabungkan untuk meningkatkan kedalaman salju dan persistensi tumpukan salju musiman di daerah rawan salju.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Salju&oldid=29541970 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref><ref>Singh P. [https://books.google.com/books?id=0VW6Tv0LVWkC&pg=PA75 Snow and Glacier Hydrology]. Springer Science & Business Media. 2001. Vol. 37. hlm. 75. ISBN 978-0-7923-6767-3.</ref>


[[Gelombang pegunungan]] juga terbukti membantu meningkatkan jumlah curah hujan di arah arah angin pegunungan dengan meningkatkan daya angkat yang diperlukan untuk kondensasi dan curah hujan
[[Gelombang pegunungan]] juga terbukti membantu meningkatkan jumlah curah hujan di arah arah angin pegunungan dengan meningkatkan daya angkat yang diperlukan untuk kondensasi dan curah hujan
 
<ref>David M. Gaffin. ''An Unexpectedly Heavy and Complex Snowfall Event across the Southern Appalachian Region''. ''Weather and Forecasting''. 2003. Vol. 18 (2). hlm. 224–235. doi:10.1175/1520-0434(2003)018 2.0.CO;2.</ref>


=== Fisika awan ===
=== Fisika awan ===
[[Kepingan salju]] terdiri dari sekitar 10¹⁹ [[molekul]] [[air]] yang ditambahkan ke intinya dengan kecepatan berbeda dan pola berbeda tergantung pada perubahan [[suhu]] dan [[kelembapan]] di atmosfer saat kepingan salju jatuh ke tanah. Akibatnya, kepingan salju berbeda satu sama lain meskipun mengikuti pola yang serupa.<ref>John Roach. [http://news.nationalgeographic.com/news/2007/02/070213-snowflake.html "No Two Snowflakes the Same" Likely True, Research Reveals]. National Geographic News. February 13, 2007.</ref><ref>Jon Nelson. ''Origin of diversity in falling snow''. ''Atmospheric Chemistry and Physics''. September 26, 2008. Vol. 8 (18). hlm. 5669–5682. doi:10.5194/acp-8-5669-2008.</ref><ref>Kenneth Libbrecht. [http://www.aft.org/pubs-reports/american_educator/issues/winter04-05/Snowflake.pdf Snowflake Science]. ''American Educator''. Winter 2004–2005.</ref>


[[Kristal]] salju terbentuk ketika tetesan awan kecil yang sangat dingin (  berdiameter sekitar 10 μm ) membeku. Tetesan ini mampu tetap cair pada suhu lebih rendah dari −18&nbsp;°C (0&nbsp;°F), karena untuk membeku, beberapa molekul dalam tetesan tersebut perlu berkumpul secara kebetulan untuk membentuk susunan yang mirip dengan kisi es. Tetesan itu membeku di sekitar "inti" ini. Di awan yang lebih hangat, partikel aerosol atau "inti es" harus ada di dalam (atau bersentuhan dengan) tetesan agar dapat bertindak sebagai inti. Inti es sangat jarang dibandingkan dengan inti [[pengembunan]] [[awan]] tempat terbentuknya tetesan cairan. [[Tanah liat]], [[debu]] gurun, dan partikel biologis dapat menjadi inti [[atom]].<ref>Brent Q Christner. [https://archive.org/details/sim_science_2008-02-29_319_5867/page/1214 Ubiquity of Biological Ice Nucleators in Snowfall]. ''Science''. 2008. Vol. 319 (5867). hlm. 1214. doi:10.1126/science.1149757.</ref><ref>Glossary of Meteorology. [http://amsglossary.allenpress.com/glossary/search?p=1&query=cloud+seeding&submit=Search Cloud seeding]. American Meteorological Society. 2009.</ref> Inti buatan mencakup partikel [[perak iodida]] dan [[es kering]], dan ini digunakan untuk merangsang [[presipitasi|pencurahan]] dalam [[penyemaian awan]].


[[Kepingan salju]] terdiri dari sekitar 10¹⁹ [[molekul]] [[air]] yang ditambahkan ke intinya dengan kecepatan berbeda dan pola berbeda tergantung pada perubahan [[suhu]] dan [[kelembapan]] di atmosfer saat kepingan salju jatuh ke tanah. Akibatnya, kepingan salju berbeda satu sama lain meskipun mengikuti pola yang serupa.
Setelah tetesan membeku, ia tumbuh di lingkungan jenuh—lingkungan di mana udara menjadi jenuh dibandingkan es ketika suhu berada di bawah [[titik beku]]. Tetesan tersebut kemudian tumbuh melalui [[difusi|pembauran]] [[molekul]] air di udara ([[uap]]) ke permukaan [[kristal]] es tempat mereka dikumpulkan. Karena jumlah tetesan air jauh lebih banyak daripada kristal es, kristal tersebut mampu tumbuh hingga berukuran ratusan mikrometer atau milimeter dengan mengorbankan tetesan air melalui [[proses Wegener-Bergeron-Findeisen]]. Kristal-kristal besar ini merupakan sumber [[presipitasi|pencurahan]] yang efisien, karena mereka jatuh melalui atmosfer karena massanya, dan mungkin bertabrakan dan saling menempel dalam kelompok, atau agregat. Agregat ini adalah kepingan salju , dan biasanya merupakan jenis partikel es yang jatuh ke tanah.<ref>M. Klesius. [https://archive.org/details/sim_national-geographic_2007-01_211_1/page/n33 The Mystery of Snowflakes]. ''National Geographic''. 2007. Vol. 211 (1). hlm. 20.</ref> Meskipun esnya bening, hamburan cahaya oleh permukaan kristal dan lubang/ketidaksempurnaan berarti bahwa kristal sering kali tampak berwarna putih karena [[pemantulan baur]] seluruh [[spektrum]] cahaya oleh partikel es kecil.<ref>Jennifer E. Lawson. [https://books.google.com/books?id=4T-aXFsMhAgC&pg=PA39 Hands-on Science: Light, Physical Science (matter) – Chapter 5: The Colors of Light]. Portage & Main Press. 2001. hlm. 39. ISBN 978-1-894110-63-1.</ref>
 
[[Kristal]] salju terbentuk ketika tetesan awan kecil yang sangat dingin (  berdiameter sekitar 10 μm ) membeku. Tetesan ini mampu tetap cair pada suhu lebih rendah dari −18&nbsp;°C (0&nbsp;°F), karena untuk membeku, beberapa molekul dalam tetesan tersebut perlu berkumpul secara kebetulan untuk membentuk susunan yang mirip dengan kisi es. Tetesan itu membeku di sekitar "inti" ini. Di awan yang lebih hangat, partikel aerosol atau "inti es" harus ada di dalam (atau bersentuhan dengan) tetesan agar dapat bertindak sebagai inti. Inti es sangat jarang dibandingkan dengan inti [[pengembunan]] [[awan]] tempat terbentuknya tetesan cairan. [[Tanah liat]], [[debu]] gurun, dan partikel biologis dapat menjadi inti [[atom]]. Inti buatan mencakup partikel [[perak iodida]] dan [[es kering]], dan ini digunakan untuk merangsang [[presipitasi|pencurahan]] dalam [[penyemaian awan]].
 
Setelah tetesan membeku, ia tumbuh di lingkungan jenuh—lingkungan di mana udara menjadi jenuh dibandingkan es ketika suhu berada di bawah [[titik beku]]. Tetesan tersebut kemudian tumbuh melalui [[difusi|pembauran]] [[molekul]] air di udara ([[uap]]) ke permukaan [[kristal]] es tempat mereka dikumpulkan. Karena jumlah tetesan air jauh lebih banyak daripada kristal es, kristal tersebut mampu tumbuh hingga berukuran ratusan mikrometer atau milimeter dengan mengorbankan tetesan air melalui [[proses Wegener-Bergeron-Findeisen]]. Kristal-kristal besar ini merupakan sumber [[presipitasi|pencurahan]] yang efisien, karena mereka jatuh melalui atmosfer karena massanya, dan mungkin bertabrakan dan saling menempel dalam kelompok, atau agregat. Agregat ini adalah kepingan salju , dan biasanya merupakan jenis partikel es yang jatuh ke tanah.  Meskipun esnya bening, hamburan cahaya oleh permukaan kristal dan lubang/ketidaksempurnaan berarti bahwa kristal sering kali tampak berwarna putih karena [[pemantulan baur]] seluruh [[spektrum]] cahaya oleh partikel es kecil.


=== Klasifikasi kepingan salju ===
=== Klasifikasi kepingan salju ===
[[Mikrografi]] ribuan kepingan salju dari tahun 1885 dan seterusnya, dimulai dengan [[Wilson Alwyn Bentley]] , mengungkapkan keragaman kepingan salju dalam serangkaian pola yang dapat diklasifikasikan.<ref>Chris V. Thangham. [http://www.digitaljournal.com/article/263168 No two snowflakes are alike]. ''Digital Journal''. December 7, 2008.</ref> [[Kristal]] salju yang sangat mirip telah diamati.<ref>Randolph E. Schmid. [http://www.highbeam.com/doc/1P2-8066647.html Identical snowflakes cause flurry]. ''The Boston Globe''. June 15, 1988.</ref>


[[Ukichiro Nakaya]] mengembangkan diagram morfologi kristal, menghubungkan bentuk kristal dengan kondisi suhu dan kelembapan tempat pembentukannya, yang dirangkum dalam tabel berikut.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Salju&oldid=29541970 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref>
{| class="wikitable"
|+ Morfologi susunan kristal sebagai fungsi suhu dan kejenuhan air
|-
! colspan=2| Jangkauan suhu
! colspan=2| Jangkauan kejenuhan
! colspan=2| Jenis kepingan salju
|-
!°C
!°F
!g/m<sup>3</sup>
!oz/cu yd
! ''di bawah'' kejenuhan
! ''di atas'' kejenuhan
|-
|
|
| style="text-align:center;" | Lempeng padat
| style="text-align:center;" | Lempeng tipis Dendrit
|-
|
|
| style="text-align:center;" | Prisma padat Prisma berongga
| style="text-align:center;" | Prisma berongga Jarum
|-
|
|
| style="text-align:center;" | Lempeng tipis
Lempeng padat
| style="text-align:center;" | Lempeng sektoral
Dendrit
|-
|
|
| style="text-align:center;" | Lempeng tipis
Lempeng padat
| style="text-align:center;" | Prisma kolom
|}
Nakaya menemukan bahwa bentuk juga merupakan fungsi dari apakah [[kelembapan]] yang ada berada di atas atau di bawah kejenuhan. Bentuk di bawah garis jenuh cenderung lebih padat dan padat, sedangkan kristal yang terbentuk di udara jenuh cenderung lebih berenda, halus, dan penuh hiasan. Banyak pola pertumbuhan yang lebih kompleks juga terbentuk, yang meliputi bidang samping, roset peluru, dan tipe bidang, bergantung pada kondisi dan inti es.<ref>Matthew Bailey. [https://archive.org/details/sim_journal-of-the-atmospheric-sciences_2004-03-01_61_5/page/514 Growth rates and habits of ice crystals between −20 and −70C]. ''Journal of the Atmospheric Sciences''. 2004. Vol. 61 (5). hlm. 514–544. doi:10.1175/1520-0469(2004)061 2.0.CO;2.</ref><ref>Kenneth G. Libbrecht. [http://www.its.caltech.edu/~atomic/snowcrystals/primer/primer.htm A Snowflake Primer]. California Institute of Technology. October 23, 2006.</ref><ref>Kenneth G. Libbrecht. [https://archive.org/details/sim_american-scientist_january-february-2007_95_1/page/52 The Formation of Snow Crystals]. ''American Scientist''. Januari–Februari 2007. Vol. 95 (1). hlm. 52–59. doi:10.1511/2007.63.52.</ref> Jika kristal mulai terbentuk dalam rezim pertumbuhan kolom pada suhu sekitar −5&nbsp;°C (23&nbsp;°F) dan kemudian jatuh ke dalam rezim seperti pelat yang lebih hangat, kristal pelat atau dendritik akan bertunas di ujungnya. kolom, menghasilkan apa yang disebut "kolom tertutup".<ref>M. Klesius. [https://archive.org/details/sim_national-geographic_2007-01_211_1/page/n33 The Mystery of Snowflakes]. ''National Geographic''. 2007. Vol. 211 (1). hlm. 20.</ref>


[[Mikrografi]] ribuan kepingan salju dari tahun 1885 dan seterusnya, dimulai dengan [[Wilson Alwyn Bentley]] , mengungkapkan keragaman kepingan salju dalam serangkaian pola yang dapat diklasifikasikan. [[Kristal]] salju yang sangat mirip telah diamati.
Magono dan Lee merancang klasifikasi kristal salju yang baru terbentuk yang mencakup 80 bentuk berbeda. Mereka mendokumentasikan masing-masing dengan mikrograf.<ref>Choji Magono. ''Meteorological Classification of Natural Snow Crystals''. ''Journal of the Faculty of Science''. 1966. Vol. 3 (4). hlm. 321–335.</ref>
 
[[Ukichiro Nakaya]] mengembangkan diagram morfologi kristal, menghubungkan bentuk kristal dengan kondisi suhu dan kelembapan tempat pembentukannya, yang dirangkum dalam tabel berikut.
 
Nakaya menemukan bahwa bentuk juga merupakan fungsi dari apakah [[kelembapan]] yang ada berada di atas atau di bawah kejenuhan. Bentuk di bawah garis jenuh cenderung lebih padat dan padat, sedangkan kristal yang terbentuk di udara jenuh cenderung lebih berenda, halus, dan penuh hiasan. Banyak pola pertumbuhan yang lebih kompleks juga terbentuk, yang meliputi bidang samping, roset peluru, dan tipe bidang, bergantung pada kondisi dan inti es. Jika kristal mulai terbentuk dalam rezim pertumbuhan kolom pada suhu sekitar −5&nbsp;°C (23&nbsp;°F) dan kemudian jatuh ke dalam rezim seperti pelat yang lebih hangat, kristal pelat atau dendritik akan bertunas di ujungnya. kolom, menghasilkan apa yang disebut "kolom tertutup".
 
Magono dan Lee merancang klasifikasi kristal salju yang baru terbentuk yang mencakup 80 bentuk berbeda. Mereka mendokumentasikan masing-masing dengan mikrograf.


== Lihat pula ==
== Lihat pula ==
Baris 92: Baris 117:
* [[Supersaturasi]]
* [[Supersaturasi]]
* [[Tekanan uap]]
* [[Tekanan uap]]


== Referensi ==
== Referensi ==
 
<references />
 


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Salju&oldid=29541970 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29541970 (2026-08-08T21:23:45Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Salju&oldid=29541970 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29541970 (2026-08-08T21:23:45Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 27 Agustus 2026 22.57

Salju adalah bentuk padat air yang jatuh ke bumi dari atmosfer atau awan yang telah membeku menjadi kristal padat dan seperti hujan yang menutupi secara permanen atau sementara (23 persen) dari seluruh permukaan bumi.[1] Salju terdiri atas partikel uap air yang kemudian mendingin di udara atas (lihat atmosfer, biosfer, iklim, meteorologi, cuaca) jatuh ke bumi sebagai kepingan empuk, putih, dan seperti kristal lembut kepingan salju, pakis seperti kristal es, (kelompok dari kesemuanya).

Pada suhu tertentu (disebut titik beku, 0° Celsius, 32° Fahrenheit), salju biasa meleleh dan hilang. Proses saat salju/es berubah secara langsung ke dalam uap air tanpa mencair terlebih dulu disebut menyublim. Proses lawannya disebut pengendapan. Saat salju membeku, sering kali menjadi pecahan kecil yang disebut "kepingan salju". Salju merupakan prasyarat buat kegiatan olahraga musim dingin seperti ski dan kereta luncur).

Di dunia, salju biasa terjadi pada negeri beriklim subtropis dan sedang. Namun, ada juga daerah tropis yang bersalju, yakni di Pegunungan Jayawijaya dan Barisan Sudirman di Papua, Indonesia. Selain itu, ada juga salju di Gunung Kilimanjaro, Tanzania, yang sekarang semakin menipis karena perubahan iklim dan pemanasan global. Salju pada dasarnya berwarna sebening kristal, tetapi karena pantulan cahaya matahari kita melihatnya seperti putih.

Badai salju terbentuk dan berkembang dengan memakan sumber kelembapan atmosfer dan udara dingin. Kepingan salju berinti di sekitar partikel di atmosfer dengan menarik tetesan air yang sangat dingin, yang membeku dalam kristal berbentuk heksagonal. Kepingan salju memiliki berbagai macam bentuk, yang paling dasar adalah trombosit, jarum, kolom, dan rime. Saat salju terakumulasi menjadi tumpukan salju, salju mungkin akan terbawa arus. Seiring waktu, akumulasi salju bermetamorfosis, melalui penyinteran, sublimasi, dan pembekuan-pencairan. Jika iklim cukup dingin untuk terakumulasi dari tahun ke tahun, gletser dapat terbentuk. Jika tidak, salju biasanya mencair secara musiman, menyebabkan limpasan ke aliran sungai dan mengisi kembali air tanah. Daerah rawan salju utama mencakup wilayah kutub, separuh, paling utara Belahan Bumi Utara, dan wilayah pegunungan di seluruh dunia dengan kelembapan yang cukup dan suhu dingin. Di Belahan Bumi Selatan, salju hanya terbatas di daerah pegunungan, selain Antartika.[2]

Etimologi

Kata-kata salju diserap dari kata arab kata Arab: ثَلج‎, thalj, dan dulu sering dieja sebagai thalji atau thalju yang akhirnya dalam bahasa Indonesia disempurnakan menjadi kata "salju".

Banyak bangsa Austronesia tidak memiliki kata asli untuk salju, termasuk Indonesia, karena tidak adanya fenomena ini. Namun, ada kata asli untuk menyebut salju, yaitu rena yang mungkin berasal dari Bahasa Proto-Austronesia, yaitu *SuReNa.

Kata lek berasal dari bahasa Yali Angguruk sedangkan kata ligiken sendiri berasal dari bahasa Dani di mana mereka mendiami daerah yang dekat dengan pegunungan Jayawijaya yang memiliki fenomena salju dan gletser. Dalam bahasa Yali Angguruk, salju yang menutupi puncak gunung disebut lekma.

Pencurahan

Salju berkembang di awan yang merupakan bagian dari sistem cuaca yang lebih besar. Fisika perkembangan kristal salju di awan dihasilkan dari serangkaian variabel kompleks yang mencakup kadar air dan suhu. Bentuk kristal yang jatuh dan jatuh yang dihasilkan dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bentuk dasar dan kombinasinya. Kadang-kadang, beberapa kepingan salju berbentuk piring, dendritik, dan bintang dapat terbentuk di bawah langit cerah dengan adanya inversi suhu yang sangat dingin.[3]

Pembentukan awan

Awan salju biasanya terjadi dalam konteks sistem cuaca yang lebih besar, yang paling penting adalah wilayah bertekanan rendah, yang biasanya menggabungkan perenggan hangat dan dingin sebagai bagian dari sirkulasinya. Dua sumber salju tambahan yang produktif secara lokal adalah badai akibat danau (juga akibat laut) dan pengaruh ketinggian, terutama di pegunungan.

Daerah bertekanan rendah

Siklon garis lintang tengah adalah daerah bertekanan rendah yang mampu menimbulkan apa saja, mulai dari keadaan mendung dan badai salju ringan hingga badai salju lebat.[4] Selama musim gugur, musim dingin, dan musim semi di belahan bumi, atmosfer di atas benua bisa menjadi cukup dingin hingga kedalaman troposfer sehingga menyebabkan hujan salju. Di Belahan Bumi Utara, sisi utara daerah bertekanan rendah menghasilkan salju paling banyak.[5] Untuk garis lintang tengah bagian selatan, sisi siklon yang menghasilkan salju paling banyak adalah sisi selatan.

Perenggan

Perenggan dingin, bagian terdepan dari massa udara yang lebih dingin, dapat menghasilkan badai salju perengganan — garis konvektif bagian depan yang intens (mirip dengan pita hujan), ketika suhu di permukaan mendekati titik beku. Konveksi kuat yang berkembang memiliki kelembapan yang cukup untuk menghasilkan kondisi pemadaman listrik di tempat-tempat yang dilalui garis karena angin menyebabkan hembusan salju yang deras.[6] Badai salju jenis ini umumnya berlangsung kurang dari 30 menit di titik mana pun di sepanjang jalurnya, tetapi pergerakan garisnya dapat menempuh jarak yang jauh. Badai salju perengganan dapat terbentuk tidak jauh di depan permukaan perenggan dingin atau di belakang peranggan dingin di mana mungkin terdapat sistem tekanan rendah yang semakin dalam atau serangkaian garis palung yang berfungsi serupa dengan saluran perengganan dingin tradisional. Dalam situasi di mana badai terjadi secara pasca-perengganan, bukan hal yang aneh jika dua atau tiga pita badai linier lewat secara berurutan dan hanya berjarak 25 mil (40 kilometer), dengan masing-masing melewati titik yang sama dengan jarak kira-kira 30 menit. Jika terjadi pertumbuhan dan percampuran vertikal dalam jumlah besar, badai tersebut dapat mengembangkan awan kumulonimbus yang tertanam sehingga menghasilkan kilat dan guntur yang disebut salju petir.

Perenggan hangat dapat menghasilkan salju selama jangka waktu tertentu karena udara yang hangat dan lembap menggantikan udara di bawah titik beku dan menciptakan curah hujan di perbatasan. Sering kali, salju berubah menjadi hujan di sektor hangat di belakang bagian perenggan.[7]

Efek danau dan laut

Salju efek danau dihasilkan selama kondisi atmosfer yang lebih dingin ketika massa udara dingin bergerak melintasi hamparan panjang air danau yang lebih hangat , menghangatkan lapisan bawah udara yang mengambil uap air dari danau, naik melalui udara yang lebih dingin di atasnya, membeku, dan diendapkan di pantai lindung angin(arah hembusan angin).[8][9]

Efek yang sama yang terjadi di perairan asin disebut efek laut atau efek teluk. Efeknya ditingkatkan ketika massa udara yang bergerak terangkat oleh pengaruh gaya angkat orografis dari ketinggian yang lebih tinggi di pantai yang melawan arah angin. Pengangkatan ini dapat menghasilkan curah hujan yang sempit tetapi sangat intens yang dapat mengendapkan salju dengan kecepatan beberapa inci setiap jamnya, sering kali mengakibatkan total hujan salju dalam jumlah besar.[10]

Efek gunung

Hujan salju orografis atau relief terjadi ketika udara lembap dipaksa naik ke sisi pegunungan yang berangin oleh aliran angin berskala besar. Pengangkatan udara lembap ke sisi pegunungan menghasilkan pendinginan adiabatik , dan pada akhirnya terjadi pengembunan dan pencurahan. Kelembapan secara bertahap dihilangkan dari udara melalui proses ini, meninggalkan udara yang lebih kering dan hangat di sisi yang turun, atau di lindung angin.[11] Peningkatan hujan salju yang dihasilkan,[12] seiring dengan penurunan suhu seiring ketinggian,[13] digabungkan untuk meningkatkan kedalaman salju dan persistensi tumpukan salju musiman di daerah rawan salju.[14][15]

Gelombang pegunungan juga terbukti membantu meningkatkan jumlah curah hujan di arah arah angin pegunungan dengan meningkatkan daya angkat yang diperlukan untuk kondensasi dan curah hujan [16]

Fisika awan

Kepingan salju terdiri dari sekitar 10¹⁹ molekul air yang ditambahkan ke intinya dengan kecepatan berbeda dan pola berbeda tergantung pada perubahan suhu dan kelembapan di atmosfer saat kepingan salju jatuh ke tanah. Akibatnya, kepingan salju berbeda satu sama lain meskipun mengikuti pola yang serupa.[17][18][19]

Kristal salju terbentuk ketika tetesan awan kecil yang sangat dingin ( berdiameter sekitar 10 μm ) membeku. Tetesan ini mampu tetap cair pada suhu lebih rendah dari −18 °C (0 °F), karena untuk membeku, beberapa molekul dalam tetesan tersebut perlu berkumpul secara kebetulan untuk membentuk susunan yang mirip dengan kisi es. Tetesan itu membeku di sekitar "inti" ini. Di awan yang lebih hangat, partikel aerosol atau "inti es" harus ada di dalam (atau bersentuhan dengan) tetesan agar dapat bertindak sebagai inti. Inti es sangat jarang dibandingkan dengan inti pengembunan awan tempat terbentuknya tetesan cairan. Tanah liat, debu gurun, dan partikel biologis dapat menjadi inti atom.[20][21] Inti buatan mencakup partikel perak iodida dan es kering, dan ini digunakan untuk merangsang pencurahan dalam penyemaian awan.

Setelah tetesan membeku, ia tumbuh di lingkungan jenuh—lingkungan di mana udara menjadi jenuh dibandingkan es ketika suhu berada di bawah titik beku. Tetesan tersebut kemudian tumbuh melalui pembauran molekul air di udara (uap) ke permukaan kristal es tempat mereka dikumpulkan. Karena jumlah tetesan air jauh lebih banyak daripada kristal es, kristal tersebut mampu tumbuh hingga berukuran ratusan mikrometer atau milimeter dengan mengorbankan tetesan air melalui proses Wegener-Bergeron-Findeisen. Kristal-kristal besar ini merupakan sumber pencurahan yang efisien, karena mereka jatuh melalui atmosfer karena massanya, dan mungkin bertabrakan dan saling menempel dalam kelompok, atau agregat. Agregat ini adalah kepingan salju , dan biasanya merupakan jenis partikel es yang jatuh ke tanah.[22] Meskipun esnya bening, hamburan cahaya oleh permukaan kristal dan lubang/ketidaksempurnaan berarti bahwa kristal sering kali tampak berwarna putih karena pemantulan baur seluruh spektrum cahaya oleh partikel es kecil.[23]

Klasifikasi kepingan salju

Mikrografi ribuan kepingan salju dari tahun 1885 dan seterusnya, dimulai dengan Wilson Alwyn Bentley , mengungkapkan keragaman kepingan salju dalam serangkaian pola yang dapat diklasifikasikan.[24] Kristal salju yang sangat mirip telah diamati.[25]

Ukichiro Nakaya mengembangkan diagram morfologi kristal, menghubungkan bentuk kristal dengan kondisi suhu dan kelembapan tempat pembentukannya, yang dirangkum dalam tabel berikut.[26]

Morfologi susunan kristal sebagai fungsi suhu dan kejenuhan air
Jangkauan suhu Jangkauan kejenuhan Jenis kepingan salju
°C °F g/m3 oz/cu yd di bawah kejenuhan di atas kejenuhan
Lempeng padat Lempeng tipis Dendrit
Prisma padat Prisma berongga Prisma berongga Jarum
Lempeng tipis

Lempeng padat

Lempeng sektoral

Dendrit

Lempeng tipis

Lempeng padat

Prisma kolom

Nakaya menemukan bahwa bentuk juga merupakan fungsi dari apakah kelembapan yang ada berada di atas atau di bawah kejenuhan. Bentuk di bawah garis jenuh cenderung lebih padat dan padat, sedangkan kristal yang terbentuk di udara jenuh cenderung lebih berenda, halus, dan penuh hiasan. Banyak pola pertumbuhan yang lebih kompleks juga terbentuk, yang meliputi bidang samping, roset peluru, dan tipe bidang, bergantung pada kondisi dan inti es.[27][28][29] Jika kristal mulai terbentuk dalam rezim pertumbuhan kolom pada suhu sekitar −5 °C (23 °F) dan kemudian jatuh ke dalam rezim seperti pelat yang lebih hangat, kristal pelat atau dendritik akan bertunas di ujungnya. kolom, menghasilkan apa yang disebut "kolom tertutup".[30]

Magono dan Lee merancang klasifikasi kristal salju yang baru terbentuk yang mencakup 80 bentuk berbeda. Mereka mendokumentasikan masing-masing dengan mikrograf.[31]

Lihat pula

Referensi

  1. Arum Sutrisni Putri. Salju: Pengertian, Karakteristik, Proses, dan Manfaat. Kompas.com.
  2. W. Gareth Rees. Remote Sensing of Snow and Ice. CRC Press. 2005. hlm. 312. ISBN 978-1-4200-2374-9.
  3. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  4. DeCaria. ESCI 241 – Meteorology; Lesson 16 – Extratropical Cyclones. Department of Earth Sciences, Millersville University. Desember 7, 2005.
  5. Paul Tolme. Weather 101: How to track and bag the big storms. Ski Magazine. Desember 2004. Vol. 69 (4). hlm. 126.
  6. Meteorological Service of Canada. Snow. Winter Hazards. Environment Canada. September 8, 2010.
  7. Meteorological Service of Canada. Snow. Winter Hazards. Environment Canada. September 8, 2010.
  8. NOAA - National Oceanic and Atmospheric Administration - Monitoring & Understanding Our Changing Planet.
  9. Fetch.
  10. Cliff Mass. The Weather of the Pacific Northwest. University of Washington Press. 2008. hlm. 60. ISBN 978-0-295-98847-4.
  11. Physical Geography. CHAPTER 8: Introduction to the Hydrosphere (e). Cloud Formation Processes. Retrieved on January 1, 2009.
  12. Mark T. Stoelinga. Mountain Weather Research and Forecasting: Recent Progress and Current Challenges. Springer Science & Business Media. 2012. hlm. 3. ISBN 978-94-007-4098-3.
  13. Mark Zachary Jacobson. Fundamentals of Atmospheric Modeling. Cambridge University Press. 2005. ISBN 978-0-521-83970-9.
  14. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  15. Singh P. Snow and Glacier Hydrology. Springer Science & Business Media. 2001. Vol. 37. hlm. 75. ISBN 978-0-7923-6767-3.
  16. David M. Gaffin. An Unexpectedly Heavy and Complex Snowfall Event across the Southern Appalachian Region. Weather and Forecasting. 2003. Vol. 18 (2). hlm. 224–235. doi:10.1175/1520-0434(2003)018 2.0.CO;2.
  17. John Roach. "No Two Snowflakes the Same" Likely True, Research Reveals. National Geographic News. February 13, 2007.
  18. Jon Nelson. Origin of diversity in falling snow. Atmospheric Chemistry and Physics. September 26, 2008. Vol. 8 (18). hlm. 5669–5682. doi:10.5194/acp-8-5669-2008.
  19. Kenneth Libbrecht. Snowflake Science. American Educator. Winter 2004–2005.
  20. Brent Q Christner. Ubiquity of Biological Ice Nucleators in Snowfall. Science. 2008. Vol. 319 (5867). hlm. 1214. doi:10.1126/science.1149757.
  21. Glossary of Meteorology. Cloud seeding. American Meteorological Society. 2009.
  22. M. Klesius. The Mystery of Snowflakes. National Geographic. 2007. Vol. 211 (1). hlm. 20.
  23. Jennifer E. Lawson. Hands-on Science: Light, Physical Science (matter) – Chapter 5: The Colors of Light. Portage & Main Press. 2001. hlm. 39. ISBN 978-1-894110-63-1.
  24. Chris V. Thangham. No two snowflakes are alike. Digital Journal. December 7, 2008.
  25. Randolph E. Schmid. Identical snowflakes cause flurry. The Boston Globe. June 15, 1988.
  26. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  27. Matthew Bailey. Growth rates and habits of ice crystals between −20 and −70C. Journal of the Atmospheric Sciences. 2004. Vol. 61 (5). hlm. 514–544. doi:10.1175/1520-0469(2004)061 2.0.CO;2.
  28. Kenneth G. Libbrecht. A Snowflake Primer. California Institute of Technology. October 23, 2006.
  29. Kenneth G. Libbrecht. The Formation of Snow Crystals. American Scientist. Januari–Februari 2007. Vol. 95 (1). hlm. 52–59. doi:10.1511/2007.63.52.
  30. M. Klesius. The Mystery of Snowflakes. National Geographic. 2007. Vol. 211 (1). hlm. 20.
  31. Choji Magono. Meteorological Classification of Natural Snow Crystals. Journal of the Faculty of Science. 1966. Vol. 3 (4). hlm. 321–335.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29541970 (2026-08-08T21:23:45Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.