Lompat ke isi

Lahar: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29611186; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Lahar''' atau '''lahar dingin''' () adalah aliran material vulkanik yang biasanya berupa campuran [[batu]], pasir, dan [[kerikil]] akibat adanya aliran air yang terjadi di lereng [[gunung berapi]]. Di [[Indonesia]] khususnya, aktivitas aliran lahar ini akan meningkat seiring meningkatnya intensitas curah hujan.
[[File:Galunggung_lahar.jpg|thumb|right|280px|Galunggung lahar]]


Aliran lahar sangat berbahaya terutama bagi penduduk yang tinggal di lereng gunung ataupun bagi para penambang pasir yang sering berada di daerah aliran lahar. Lahar dapat mengalir dengan kecepatan beberapa puluh meter per detik menempuh jarak sampai beberapa kilometer membawa energi yang cukup besar. Untuk itu biasanya lahar dibuatkan saluran khusus, yang di dalam ilmu [[geoteknik]] dikenal sebagai "[[sabo|sabō]]".
'''Lahar''' atau '''lahar dingin''' () adalah aliran material vulkanik yang biasanya berupa campuran [[batu]], pasir, dan [[kerikil]] akibat adanya aliran air yang terjadi di lereng [[gunung berapi]].<ref>[https://volcanoes.usgs.gov/vsc/glossary/lahar.html Lahar].</ref> Di [[Indonesia]] khususnya, aktivitas aliran lahar ini akan meningkat seiring meningkatnya intensitas curah hujan.
 
Aliran lahar sangat berbahaya terutama bagi penduduk yang tinggal di lereng gunung ataupun bagi para penambang pasir yang sering berada di daerah aliran lahar. Lahar dapat mengalir dengan kecepatan beberapa puluh meter per detik menempuh jarak sampai beberapa kilometer membawa energi yang cukup besar. Untuk itu biasanya lahar dibuatkan saluran khusus, yang di dalam ilmu [[geoteknik]] dikenal sebagai "[[sabo|sabō]]".<ref>[https://www.pu.go.id/berita/view/3380/sabo-teknologi-untuk-atasi-banjir-lahar-gunung-berapi SABO, TEKNOLOGI UNTUK ATASI BANJIR LAHAR GUNUNG BERAPI]. ''www.pu.go.id''.</ref>


Beberapa gunung di Indonesia yang mempunyai aktivitas aliran lahar ini misalnya [[Gunung Galunggung]] di [[Jawa Barat]] dan [[Gunung Merapi]] di [[Jawa Tengah]]/[[Yogyakarta]].
Beberapa gunung di Indonesia yang mempunyai aktivitas aliran lahar ini misalnya [[Gunung Galunggung]] di [[Jawa Barat]] dan [[Gunung Merapi]] di [[Jawa Tengah]]/[[Yogyakarta]].


==Etimologi==
==Etimologi==
Istilah "lahar" diserap dari [[bahasa Jawa]]: "''wlahar''" (). Diperkenalkan oleh [[Berend George Escher]] sebagai istilah geologis pada 1922. Kata lahar ini kemudian dipakai dalam Bahasa Inggris.
Istilah "lahar" diserap dari [[bahasa Jawa]]: "''wlahar''" ().<ref>James W. Vallance. ''Encyclopedia of Volcanoes''. Academic Press. 2015. hlm. 649–664. doi:10.1016/B978-0-12-385938-9.00037-7. ISBN 978-0-12-385938-9.</ref> Diperkenalkan oleh [[Berend George Escher]] sebagai istilah geologis pada 1922.<ref>Vincent E. Neall. [https://books.google.com/books?id=UHRU_6nUSR4C&pg=PA597 Encyclopedia of Geomorphology]. Psychology Press. 2004. Vol. 2. hlm. 597–599. ISBN 9780415327381.</ref> Kata lahar ini kemudian dipakai dalam Bahasa Inggris.


== Deskripsi ==
== Deskripsi ==
Istilah "lahar" digunakan untuk menggambarkan campuran air dan puing-puing vulkanik yang mengalir bersama. Istilah ini tidak secara khusus menunjukkan ketebalan atau jumlah sedimen tertentu. Lahar dapat bervariasi dari aliran sungai normal dengan sedimen rendah (kurang dari 30%) hingga aliran yang sangat pekat (30 hingga 60% [[sedimen]]) atau aliran puing-puing (lebih dari 60% sedimen). Konsistensi dan perilakunya dapat berubah selama suatu kejadian karena perbedaan sedimen dan ketersediaan [[air]]. Lahar dingin disebut "primer" atau "sin-erupsi" jika terjadi bersamaan dengan aktivitas gunung berapi, dan "sekunder" atau "pascaletusan" jika terjadi setelahnya, sering kali disebabkan oleh curah hujan selama periode tenang atau fase tidak aktif.
Istilah "lahar" digunakan untuk menggambarkan campuran air dan puing-puing vulkanik yang mengalir bersama. Istilah ini tidak secara khusus menunjukkan ketebalan atau jumlah sedimen tertentu.<ref>James W. Vallance. [https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/B9780123859389000377 Chapter 37 - Lahars and Their Deposits]. Academic Press. 2015-01-01. hlm. 649–664. ISBN 978-0-12-385938-9.</ref> Lahar dapat bervariasi dari aliran sungai normal dengan sedimen rendah (kurang dari 30%) hingga aliran yang sangat pekat (30 hingga 60% [[sedimen]]) atau aliran puing-puing (lebih dari 60% sedimen). Konsistensi dan perilakunya dapat berubah selama suatu kejadian karena perbedaan sedimen dan ketersediaan [[air]]. Lahar dingin disebut "primer" atau "sin-erupsi" jika terjadi bersamaan dengan aktivitas gunung berapi, dan "sekunder" atau "pascaletusan" jika terjadi setelahnya, sering kali disebabkan oleh curah hujan selama periode tenang atau fase tidak aktif.<ref>Thomas C Pierson. [https://appliedvolc.biomedcentral.com/articles/10.1186/s13617-014-0016-4 Reducing risk from lahar hazards: concepts, case studies, and roles for scientists]. ''Journal of Applied Volcanology''. 2014-12. Vol. 3 (1). doi:10.1186/s13617-014-0016-4.</ref><ref>Kyoko S. Kataoka. [https://earth-planets-space.springeropen.com/articles/10.1186/s40623-018-0873-x Lahar characteristics as a function of triggering mechanism at a seasonally snow-clad volcano: contrasting lahars following the 2014 phreatic eruption of Ontake Volcano, Japan]. ''Earth, Planets and Space''. 2018-12. Vol. 70 (1). doi:10.1186/s40623-018-0873-x.</ref>


Terlepas dari konsistensi yang berbeda-beda, ukuran lahar juga sangat berbeda. Sebagai contoh, Lahar Osceola, yang dipicu oleh Gunung Rainier sekitar 5.600 tahun yang lalu di tempat yang sekarang menjadi negara bagian Washington, membentuk dinding lumpur besar sedalam 140 meter di ngarai White River, yang meliputi area seluas 330 kilometer persegi dan volume 2,3 kilometer kubik. Lahar dingin yang mengalir dari puing-puing memiliki kekuatan untuk memusnahkan hampir semua bangunan yang dilaluinya, sedangkan lahar dingin yang mengalir sangat pekat dapat mengukir jalurnya sendiri, melemahkan bangunan dengan melemahkan fondasinya. Bahkan gubuk-gubuk yang rapuh pun dapat tetap berdiri setelah aliran seperti itu, tetapi dapat terkubur dalam lumpur yang mengeras hingga hampir seperti beton. Semakin lama lahar mengalir, viskositasnya akan berkurang, dan hujan akan semakin mengencerkannya, menciptakan campuran cairan yang mirip dengan pasir apung yang dapat terus bergerak selama berminggu-minggu, sehingga mempersulit upaya pencarian dan [[penyelamatan]].
Terlepas dari konsistensi yang berbeda-beda, ukuran lahar juga sangat berbeda. Sebagai contoh, Lahar Osceola, yang dipicu oleh Gunung Rainier sekitar 5.600 tahun yang lalu di tempat yang sekarang menjadi negara bagian Washington, membentuk dinding lumpur besar sedalam 140 meter di ngarai White River, yang meliputi area seluas 330 kilometer persegi dan volume 2,3 kilometer kubik.<ref>''Professional Paper''. 1971. doi:10.3133/pp677.</ref> Lahar dingin yang mengalir dari puing-puing memiliki kekuatan untuk memusnahkan hampir semua bangunan yang dilaluinya, sedangkan lahar dingin yang mengalir sangat pekat dapat mengukir jalurnya sendiri, melemahkan bangunan dengan melemahkan fondasinya. Bahkan gubuk-gubuk yang rapuh pun dapat tetap berdiri setelah aliran seperti itu, tetapi dapat terkubur dalam lumpur yang mengeras hingga hampir seperti beton. Semakin lama lahar mengalir, viskositasnya akan berkurang, dan hujan akan semakin mengencerkannya, menciptakan campuran cairan yang mirip dengan pasir apung yang dapat terus bergerak selama berminggu-minggu, sehingga mempersulit upaya pencarian dan [[penyelamatan]].<ref>Thomas C Pierson. [https://appliedvolc.biomedcentral.com/articles/10.1186/s13617-014-0016-4 Reducing risk from lahar hazards: concepts, case studies, and roles for scientists]. ''Journal of Applied Volcanology''. 2014-12. Vol. 3 (1). doi:10.1186/s13617-014-0016-4.</ref>


Lahar dingin dapat bergerak dengan kecepatan yang berbeda-beda. Lahar yang lebih kecil, yang lebarnya hanya beberapa meter dan dangkal, dapat bergerak dengan kecepatan beberapa meter per detik. Namun, lahar yang lebih besar, dengan lebar ratusan meter dan kedalaman puluhan meter, dapat bergerak dengan kecepatan puluhan meter per detik, melebihi kecepatan 22&nbsp;mph, sehingga mustahil bagi seseorang untuk menyelamatkan diri dengan berjalan kaki. Di medan yang curam, kecepatan lahar dapat melebihi 120&nbsp;mph (200 kilometer per jam). Dengan kekuatannya yang luar biasa, lahar dingin dapat menimbulkan malapetaka yang dahsyat di sepanjang jalur yang berpotensi membentang lebih dari 300 kilometer (190 mil).
Lahar dingin dapat bergerak dengan kecepatan yang berbeda-beda. Lahar yang lebih kecil, yang lebarnya hanya beberapa meter dan dangkal, dapat bergerak dengan kecepatan beberapa meter per detik. Namun, lahar yang lebih besar, dengan lebar ratusan meter dan kedalaman puluhan meter, dapat bergerak dengan kecepatan puluhan meter per detik, melebihi kecepatan 22&nbsp;mph, sehingga mustahil bagi seseorang untuk menyelamatkan diri dengan berjalan kaki. Di medan yang curam, kecepatan lahar dapat melebihi 120&nbsp;mph (200 kilometer per jam). Dengan kekuatannya yang luar biasa, lahar dingin dapat menimbulkan malapetaka yang dahsyat di sepanjang jalur yang berpotensi membentang lebih dari 300 kilometer (190 mil).<ref>''Open-File Report''. 1987. doi:10.3133/ofr87297.</ref>


== Lihat pula ==
== Lihat pula ==
Baris 19: Baris 21:


== Referensi ==
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Lahar&oldid=29611186 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29611186 (2026-08-21T14:52:27Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


== Sumber dan atribusi ==
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->
 
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Lahar&oldid=29611186 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29611186 (2026-08-21T14:52:27Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.

Revisi terkini sejak 27 Agustus 2026 23.05

Galunggung lahar

Lahar atau lahar dingin () adalah aliran material vulkanik yang biasanya berupa campuran batu, pasir, dan kerikil akibat adanya aliran air yang terjadi di lereng gunung berapi.[1] Di Indonesia khususnya, aktivitas aliran lahar ini akan meningkat seiring meningkatnya intensitas curah hujan.

Aliran lahar sangat berbahaya terutama bagi penduduk yang tinggal di lereng gunung ataupun bagi para penambang pasir yang sering berada di daerah aliran lahar. Lahar dapat mengalir dengan kecepatan beberapa puluh meter per detik menempuh jarak sampai beberapa kilometer membawa energi yang cukup besar. Untuk itu biasanya lahar dibuatkan saluran khusus, yang di dalam ilmu geoteknik dikenal sebagai "sabō".[2]

Beberapa gunung di Indonesia yang mempunyai aktivitas aliran lahar ini misalnya Gunung Galunggung di Jawa Barat dan Gunung Merapi di Jawa Tengah/Yogyakarta.

Etimologi

Istilah "lahar" diserap dari bahasa Jawa: "wlahar" ().[3] Diperkenalkan oleh Berend George Escher sebagai istilah geologis pada 1922.[4] Kata lahar ini kemudian dipakai dalam Bahasa Inggris.

Deskripsi

Istilah "lahar" digunakan untuk menggambarkan campuran air dan puing-puing vulkanik yang mengalir bersama. Istilah ini tidak secara khusus menunjukkan ketebalan atau jumlah sedimen tertentu.[5] Lahar dapat bervariasi dari aliran sungai normal dengan sedimen rendah (kurang dari 30%) hingga aliran yang sangat pekat (30 hingga 60% sedimen) atau aliran puing-puing (lebih dari 60% sedimen). Konsistensi dan perilakunya dapat berubah selama suatu kejadian karena perbedaan sedimen dan ketersediaan air. Lahar dingin disebut "primer" atau "sin-erupsi" jika terjadi bersamaan dengan aktivitas gunung berapi, dan "sekunder" atau "pascaletusan" jika terjadi setelahnya, sering kali disebabkan oleh curah hujan selama periode tenang atau fase tidak aktif.[6][7]

Terlepas dari konsistensi yang berbeda-beda, ukuran lahar juga sangat berbeda. Sebagai contoh, Lahar Osceola, yang dipicu oleh Gunung Rainier sekitar 5.600 tahun yang lalu di tempat yang sekarang menjadi negara bagian Washington, membentuk dinding lumpur besar sedalam 140 meter di ngarai White River, yang meliputi area seluas 330 kilometer persegi dan volume 2,3 kilometer kubik.[8] Lahar dingin yang mengalir dari puing-puing memiliki kekuatan untuk memusnahkan hampir semua bangunan yang dilaluinya, sedangkan lahar dingin yang mengalir sangat pekat dapat mengukir jalurnya sendiri, melemahkan bangunan dengan melemahkan fondasinya. Bahkan gubuk-gubuk yang rapuh pun dapat tetap berdiri setelah aliran seperti itu, tetapi dapat terkubur dalam lumpur yang mengeras hingga hampir seperti beton. Semakin lama lahar mengalir, viskositasnya akan berkurang, dan hujan akan semakin mengencerkannya, menciptakan campuran cairan yang mirip dengan pasir apung yang dapat terus bergerak selama berminggu-minggu, sehingga mempersulit upaya pencarian dan penyelamatan.[9]

Lahar dingin dapat bergerak dengan kecepatan yang berbeda-beda. Lahar yang lebih kecil, yang lebarnya hanya beberapa meter dan dangkal, dapat bergerak dengan kecepatan beberapa meter per detik. Namun, lahar yang lebih besar, dengan lebar ratusan meter dan kedalaman puluhan meter, dapat bergerak dengan kecepatan puluhan meter per detik, melebihi kecepatan 22 mph, sehingga mustahil bagi seseorang untuk menyelamatkan diri dengan berjalan kaki. Di medan yang curam, kecepatan lahar dapat melebihi 120 mph (200 kilometer per jam). Dengan kekuatannya yang luar biasa, lahar dingin dapat menimbulkan malapetaka yang dahsyat di sepanjang jalur yang berpotensi membentang lebih dari 300 kilometer (190 mil).[10]

Lihat pula

Referensi

  1. Lahar.
  2. SABO, TEKNOLOGI UNTUK ATASI BANJIR LAHAR GUNUNG BERAPI. www.pu.go.id.
  3. James W. Vallance. Encyclopedia of Volcanoes. Academic Press. 2015. hlm. 649–664. doi:10.1016/B978-0-12-385938-9.00037-7. ISBN 978-0-12-385938-9.
  4. Vincent E. Neall. Encyclopedia of Geomorphology. Psychology Press. 2004. Vol. 2. hlm. 597–599. ISBN 9780415327381.
  5. James W. Vallance. Chapter 37 - Lahars and Their Deposits. Academic Press. 2015-01-01. hlm. 649–664. ISBN 978-0-12-385938-9.
  6. Thomas C Pierson. Reducing risk from lahar hazards: concepts, case studies, and roles for scientists. Journal of Applied Volcanology. 2014-12. Vol. 3 (1). doi:10.1186/s13617-014-0016-4.
  7. Kyoko S. Kataoka. Lahar characteristics as a function of triggering mechanism at a seasonally snow-clad volcano: contrasting lahars following the 2014 phreatic eruption of Ontake Volcano, Japan. Earth, Planets and Space. 2018-12. Vol. 70 (1). doi:10.1186/s40623-018-0873-x.
  8. Professional Paper. 1971. doi:10.3133/pp677.
  9. Thomas C Pierson. Reducing risk from lahar hazards: concepts, case studies, and roles for scientists. Journal of Applied Volcanology. 2014-12. Vol. 3 (1). doi:10.1186/s13617-014-0016-4.
  10. Open-File Report. 1987. doi:10.3133/ofr87297.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29611186 (2026-08-21T14:52:27Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.