Besi(III): Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 27509243; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 7: | Baris 7: | ||
Besi hampir selalu dijumpai pada keadaan oksidasi 0 (seperti pada logam besi), +2, atau +3. Besi(III) biasanya merupakan bentuk yang paling stabil di udara, seperti yang diilustrasikan oleh [[karat]] yang menyebar, bahan yang mengandung besi(III) yang tak larut. | Besi hampir selalu dijumpai pada keadaan oksidasi 0 (seperti pada logam besi), +2, atau +3. Besi(III) biasanya merupakan bentuk yang paling stabil di udara, seperti yang diilustrasikan oleh [[karat]] yang menyebar, bahan yang mengandung besi(III) yang tak larut. | ||
==Besi(III) dan kehidupan== | ==Besi(III) dan kehidupan== | ||
Semua bentuk kehidupan yang diketahui membutuhkan zat besi. Banyak [[protein]] pada makhluk hidup mengandung ion besi(III) yang terikat; mereka adalah subkelas penting dari [[metaloprotein]]. Contohnya ialah [[hemoglobin]], [[feredoksin]], dan [[sitokrom]]. | Semua bentuk kehidupan yang diketahui membutuhkan zat besi.<ref>[https://www.ox.ac.uk/news/2021-12-07-iron-integral-development-life-earth-and-possibility-life-other-planets Iron integral to the development of life on Earth – and the possibility of life on other planets]. Universitas Oxford. 7 Desember 2021.</ref> Banyak [[protein]] pada makhluk hidup mengandung ion besi(III) yang terikat; mereka adalah subkelas penting dari [[metaloprotein]]. Contohnya ialah [[hemoglobin]], [[feredoksin]], dan [[sitokrom]]. | ||
Hampir semua organisme hidup, dari bakteri hingga manusia, menyimpan besi sebagai kristal [[Besi(III) oksida-hidroksida|besi(III) oksida hidroksida]] mikroskopis (berdiameter 3 hingga 8 nm), di dalam selubung protein [[feritin]], yang dapat diperoleh kembali sesuai kebutuhan. | Hampir semua organisme hidup, dari bakteri hingga manusia, menyimpan besi sebagai kristal [[Besi(III) oksida-hidroksida|besi(III) oksida hidroksida]] mikroskopis (berdiameter 3 hingga 8 nm), di dalam selubung protein [[feritin]], yang dapat diperoleh kembali sesuai kebutuhan.<ref>Berg, Jeremy Mark. [https://archive.org/details/ost-chemistry-bioinch Principles of bioinorganic chemistry]. University Science Books. 1994. ISBN 0-935702-73-3.</ref> | ||
Zat besi yang tidak mencukupi dalam makanan manusia menyebabkan [[anemia]]. Hewan dan manusia dapat memperoleh zat besi yang diperlukan dari makanan yang mengandungnya dalam bentuk yang dapat diasimilasi, seperti daging. Organisme lain harus mendapatkan zat besi dari lingkungan. Namun, besi cenderung membentuk besi(III) oksida/hidroksida yang sangat tak larut dalam lingkungan aerobik ([[Oksigen|teroksigenasi]]), terutama pada [[Kalsareo#Tanah berkapur|tanah berkapur]]. [[Bakteri]] dan [[Poaceae|rerumputan]] dapat tumbuh subur di lingkungan seperti itu dengan mengeluarkan senyawa yang disebut [[siderofor]] yang membentuk kompleks larut dengan besi(III), yang dapat diserap kembali ke dalam sel. (Tanaman lain justru mendorong pertumbuhan bakteri tertentu di sekitar akarnya yang [[Redoks|mereduksi]] besi(III) menjadi besi(II) yang lebih mudah larut.) | Zat besi yang tidak mencukupi dalam makanan manusia menyebabkan [[anemia]]. Hewan dan manusia dapat memperoleh zat besi yang diperlukan dari makanan yang mengandungnya dalam bentuk yang dapat diasimilasi, seperti daging. Organisme lain harus mendapatkan zat besi dari lingkungan. Namun, besi cenderung membentuk besi(III) oksida/hidroksida yang sangat tak larut dalam lingkungan aerobik ([[Oksigen|teroksigenasi]]), terutama pada [[Kalsareo#Tanah berkapur|tanah berkapur]]. [[Bakteri]] dan [[Poaceae|rerumputan]] dapat tumbuh subur di lingkungan seperti itu dengan mengeluarkan senyawa yang disebut [[siderofor]] yang membentuk kompleks larut dengan besi(III), yang dapat diserap kembali ke dalam sel. (Tanaman lain justru mendorong pertumbuhan bakteri tertentu di sekitar akarnya yang [[Redoks|mereduksi]] besi(III) menjadi besi(II) yang lebih mudah larut.)<ref>H. Marschner dan V. Römheld (1994): "Strategies of plants for acquisition of iron". ''Plant and Soil'', volume 165, terbitan 2, halaman 261–274.</ref> | ||
Pembentukan senyawa besi(III) yang tak larut juga bertanggung jawab atas rendahnya kadar besi dalam air laut, yang sering kali menjadi faktor pembatas pertumbuhan tumbuhan mikroskopis ([[fitoplankton]]) yang menjadi dasar jaring makanan laut.<ref>''A mesoscale phytoplankton bloom in the polar Southern Ocean stimulated by iron fertilization''. ''Nature''. Oktober 2000. Vol. 407 (6805). hlm. 695–702. doi:10.1038/35037500.</ref> | |||
Ketidaklarutan senyawa besi(III) dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki [[eutrofikasi]] (pertumbuhan [[alga]] yang berlebihan) di danau yang terkontaminasi akibat kelebihan [[fosfat]] terlarut dari limpasan peternakan. Besi(III) bergabung dengan fosfat untuk membentuk [[besi(III) fosfat]] yang tak larut, sehingga mengurangi [[bioavailabilitas]] [[fosforus]] — unsur penting lainnya yang mungkin juga menjadi nutrisi pembatas. | Ketidaklarutan senyawa besi(III) dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki [[eutrofikasi]] (pertumbuhan [[alga]] yang berlebihan) di danau yang terkontaminasi akibat kelebihan [[fosfat]] terlarut dari limpasan peternakan. Besi(III) bergabung dengan fosfat untuk membentuk [[besi(III) fosfat]] yang tak larut, sehingga mengurangi [[bioavailabilitas]] [[fosforus]] — unsur penting lainnya yang mungkin juga menjadi nutrisi pembatas. | ||
==Kimia besi(III)== | ==Kimia besi(III)== | ||
Beberapa garam besi(III), seperti [[Besi(III) klorida|klorida]] , [[Besi(III) sulfat|sulfat]] , dan [[Besi(III) nitrat|nitrat]] dapat larut dalam air. Namun, senyawa lain seperti like [[Besi(III) oksida|oksida]] (hematit) dan [[Besi(III) oksida-hidroksida]] sangatlah tak larut, setidaknya pada [[pH]] netral, karena struktur [[polimer]]nya. Oleh karena itu, garam besi(III) yang larut tersebut cenderung [[hidrolisis|terhidrolisis]] ketika dilarutkan dalam air murni, menghasilkan [[besi(III) hidroksida]] yang segera berubah menjadi polimer oksida-hidroksida melalui proses yang disebut [[olasi]] dan [[Reaksi pengendapan|mengendap]] keluar dari larutan. Reaksi tersebut membebaskan ion [[hidrogen]] ke dalam larutan, menurunkan pH, hingga tercapai [[Kesetimbangan kimia|kesetimbangan]]. | Beberapa garam besi(III), seperti [[Besi(III) klorida|klorida]] , [[Besi(III) sulfat|sulfat]] , dan [[Besi(III) nitrat|nitrat]] dapat larut dalam air. Namun, senyawa lain seperti like [[Besi(III) oksida|oksida]] (hematit) dan [[Besi(III) oksida-hidroksida]] sangatlah tak larut, setidaknya pada [[pH]] netral, karena struktur [[polimer]]nya. Oleh karena itu, garam besi(III) yang larut tersebut cenderung [[hidrolisis|terhidrolisis]] ketika dilarutkan dalam air murni, menghasilkan [[besi(III) hidroksida]] yang segera berubah menjadi polimer oksida-hidroksida melalui proses yang disebut [[olasi]] dan [[Reaksi pengendapan|mengendap]] keluar dari larutan. Reaksi tersebut membebaskan ion [[hidrogen]] ke dalam larutan, menurunkan pH, hingga tercapai [[Kesetimbangan kimia|kesetimbangan]].<ref>Earnshaw, A. ''Chemistry of the elements''. Butterworth-Heinemann. 1997. ISBN 0-7506-3365-4.</ref> | ||
: | : | ||
Akibatnya, larutan pekat garam besi(III) cukup asam. Reduksi yang mudah dari besi(III) menjadi besi(II) memungkinkan garam besi(III) berfungsi juga sebagai [[oksidator]]. Larutan besi(III) klorida digunakan untuk mengetsa lembaran plastik berlapis [[tembaga]] dalam produksi [[papan sirkuit cetak]]. | Akibatnya, larutan pekat garam besi(III) cukup asam. Reduksi yang mudah dari besi(III) menjadi besi(II) memungkinkan garam besi(III) berfungsi juga sebagai [[oksidator]]. Larutan besi(III) klorida digunakan untuk mengetsa lembaran plastik berlapis [[tembaga]] dalam produksi [[papan sirkuit cetak]]. | ||
Perilaku garam besi(III) ini berbeda dengan garam kation yang hidroksidanya lebih mudah larut, seperti [[natrium klorida]] (garam dapur), yang larut dalam air tanpa hidrolisis yang nyata dan tanpa menurunkan pH. | Perilaku garam besi(III) ini berbeda dengan garam kation yang hidroksidanya lebih mudah larut, seperti [[natrium klorida]] (garam dapur), yang larut dalam air tanpa hidrolisis yang nyata dan tanpa menurunkan pH.<ref>Earnshaw, A. ''Chemistry of the elements''. Butterworth-Heinemann. 1997. ISBN 0-7506-3365-4.</ref> | ||
[[Karat]] adalah campuran besi(III) oksida dan oksida-hidroksida yang biasanya terbentuk ketika logam besi terkena udara [[kelembapan|lembap]]. Berbeda dengan lapisan oksida yang [[Pasivasi (kimia)|memasivasi]] yang dibentuk oleh logam lain, seperti [[kromium]] dan [[aluminium]], karat mengelupas karena lebih besar daripada logam yang membentuknya. Oleh karena itu, benda besi yang tidak terlindungi lama kelamaan akan berubah menjadi karat seluruhnya. | [[Karat]] adalah campuran besi(III) oksida dan oksida-hidroksida yang biasanya terbentuk ketika logam besi terkena udara [[kelembapan|lembap]]. Berbeda dengan lapisan oksida yang [[Pasivasi (kimia)|memasivasi]] yang dibentuk oleh logam lain, seperti [[kromium]] dan [[aluminium]], karat mengelupas karena lebih besar daripada logam yang membentuknya. Oleh karena itu, benda besi yang tidak terlindungi lama kelamaan akan berubah menjadi karat seluruhnya. | ||
| Baris 34: | Baris 33: | ||
Kemagnetan senyawa feri ditentukan terutama oleh lima elektron d, dan ligan yang terhubung pada orbital tersebut. | Kemagnetan senyawa feri ditentukan terutama oleh lima elektron d, dan ligan yang terhubung pada orbital tersebut. | ||
==Analisis== | ==Analisis== | ||
Dalam [[analisis anorganik kualitatif]], keberadaan ion feri dapat dideteksi dengan pembentukan kompleks [[tiosianat]]nya. Penambahan garam tiosianat ke dalam larutan menghasilkan kompleks 1:1 yang sangat merah. Reaksi ini sering dipakai pada eksperimen sekolah klasik untuk mendemonstrasikan [[prinsip Le Chatelier]]: | Dalam [[analisis anorganik kualitatif]], keberadaan ion feri dapat dideteksi dengan pembentukan kompleks [[tiosianat]]nya. Penambahan garam tiosianat ke dalam larutan menghasilkan kompleks 1:1 yang sangat merah.<ref>Seymour A. Lewin. ''The nature of iron(III) thiocyanate in solution''. ''Journal of Chemical Education''. 1953. Vol. 30 (9). hlm. 445. doi:10.1021/ed030p445.</ref><ref>H. E. Bent. ''The Structure of Ferric Thiocyanate and its Dissociation in Aqueous Solution''. ''Journal of the American Chemical Society''. 1941. Vol. 63 (2). hlm. 568–572. doi:10.1021/ja01847a059.</ref> Reaksi ini sering dipakai pada eksperimen sekolah klasik untuk mendemonstrasikan [[prinsip Le Chatelier]]: | ||
: | : | ||
==Lihat pula== | ==Lihat pula== | ||
| Baris 41: | Baris 40: | ||
* [[Besi(III) fluorida|Ferifluorida]] – Senyawa kimia ([[Besi(III) fluorida]]) | * [[Besi(III) fluorida|Ferifluorida]] – Senyawa kimia ([[Besi(III) fluorida]]) | ||
* [[Fero]] – Senyawa logam yang mengandung besi | * [[Fero]] – Senyawa logam yang mengandung besi | ||
== Referensi == | |||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | == Sumber dan atribusi == | ||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Besi%28III%29&oldid=27509243 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 27509243 (2025-07-07T14:29:02Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Besi%28III%29&oldid=27509243 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 27509243 (2025-07-07T14:29:02Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 28 Agustus 2026 03.59
Dalam kimia, besi(III) mengacu pada unsur besi dalam keadaan oksidasi +3. Dalam senyawa ionik (garam), atom seperti itu dapat muncul sebagai kation (ion positif) terpisah yang dilambangkan dengan Fe3+.
Kata sifat feri atau awalan feri- sering digunakan untuk menentukan senyawa tertentu — seperti dalam "feriklorida" untuk besi(III) klorida, . Kata sifat "fero" digunakan untuk garam besi(II), yang mengandung kation Fe2+. Kata feri berasal dari kata Latin ferrum yang berarti besi.
Pusat besi(III) juga dapat muncul sebagai kompleks koordinasi, seperti dalam anion ferioksalat, , di mana tiga ion oksalat bidentat mengelilingi pusat logam; atau, dalam senyawa organologam, seperti kation ferosenium , di mana dua anion siklopentadienil terikat pada pusat FeIII.
Besi hampir selalu dijumpai pada keadaan oksidasi 0 (seperti pada logam besi), +2, atau +3. Besi(III) biasanya merupakan bentuk yang paling stabil di udara, seperti yang diilustrasikan oleh karat yang menyebar, bahan yang mengandung besi(III) yang tak larut.
Besi(III) dan kehidupan
Semua bentuk kehidupan yang diketahui membutuhkan zat besi.[1] Banyak protein pada makhluk hidup mengandung ion besi(III) yang terikat; mereka adalah subkelas penting dari metaloprotein. Contohnya ialah hemoglobin, feredoksin, dan sitokrom.
Hampir semua organisme hidup, dari bakteri hingga manusia, menyimpan besi sebagai kristal besi(III) oksida hidroksida mikroskopis (berdiameter 3 hingga 8 nm), di dalam selubung protein feritin, yang dapat diperoleh kembali sesuai kebutuhan.[2]
Zat besi yang tidak mencukupi dalam makanan manusia menyebabkan anemia. Hewan dan manusia dapat memperoleh zat besi yang diperlukan dari makanan yang mengandungnya dalam bentuk yang dapat diasimilasi, seperti daging. Organisme lain harus mendapatkan zat besi dari lingkungan. Namun, besi cenderung membentuk besi(III) oksida/hidroksida yang sangat tak larut dalam lingkungan aerobik (teroksigenasi), terutama pada tanah berkapur. Bakteri dan rerumputan dapat tumbuh subur di lingkungan seperti itu dengan mengeluarkan senyawa yang disebut siderofor yang membentuk kompleks larut dengan besi(III), yang dapat diserap kembali ke dalam sel. (Tanaman lain justru mendorong pertumbuhan bakteri tertentu di sekitar akarnya yang mereduksi besi(III) menjadi besi(II) yang lebih mudah larut.)[3]
Pembentukan senyawa besi(III) yang tak larut juga bertanggung jawab atas rendahnya kadar besi dalam air laut, yang sering kali menjadi faktor pembatas pertumbuhan tumbuhan mikroskopis (fitoplankton) yang menjadi dasar jaring makanan laut.[4]
Ketidaklarutan senyawa besi(III) dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki eutrofikasi (pertumbuhan alga yang berlebihan) di danau yang terkontaminasi akibat kelebihan fosfat terlarut dari limpasan peternakan. Besi(III) bergabung dengan fosfat untuk membentuk besi(III) fosfat yang tak larut, sehingga mengurangi bioavailabilitas fosforus — unsur penting lainnya yang mungkin juga menjadi nutrisi pembatas.
Kimia besi(III)
Beberapa garam besi(III), seperti klorida , sulfat , dan nitrat dapat larut dalam air. Namun, senyawa lain seperti like oksida (hematit) dan Besi(III) oksida-hidroksida sangatlah tak larut, setidaknya pada pH netral, karena struktur polimernya. Oleh karena itu, garam besi(III) yang larut tersebut cenderung terhidrolisis ketika dilarutkan dalam air murni, menghasilkan besi(III) hidroksida yang segera berubah menjadi polimer oksida-hidroksida melalui proses yang disebut olasi dan mengendap keluar dari larutan. Reaksi tersebut membebaskan ion hidrogen ke dalam larutan, menurunkan pH, hingga tercapai kesetimbangan.[5]
Akibatnya, larutan pekat garam besi(III) cukup asam. Reduksi yang mudah dari besi(III) menjadi besi(II) memungkinkan garam besi(III) berfungsi juga sebagai oksidator. Larutan besi(III) klorida digunakan untuk mengetsa lembaran plastik berlapis tembaga dalam produksi papan sirkuit cetak.
Perilaku garam besi(III) ini berbeda dengan garam kation yang hidroksidanya lebih mudah larut, seperti natrium klorida (garam dapur), yang larut dalam air tanpa hidrolisis yang nyata dan tanpa menurunkan pH.[6]
Karat adalah campuran besi(III) oksida dan oksida-hidroksida yang biasanya terbentuk ketika logam besi terkena udara lembap. Berbeda dengan lapisan oksida yang memasivasi yang dibentuk oleh logam lain, seperti kromium dan aluminium, karat mengelupas karena lebih besar daripada logam yang membentuknya. Oleh karena itu, benda besi yang tidak terlindungi lama kelamaan akan berubah menjadi karat seluruhnya.
Kompleks
Besi(III) adalah pusat d5, artinya logam tersebut memiliki lima elektron "valensi" di kulit orbital 3d. Orbital d yang terisi sebagian atau tidak terisi ini dapat menerima berbagai macam ligan untuk membentuk kompleks koordinasi. Jumlah dan jenis ligan dijelaskan oleh teori medan ligan. Biasanya ion feri dikelilingi oleh enam ligan yang tersusun dalam oktahedron; tetapi terkadang tiga dan terkadang hingga tujuh ligan yang teramati.
Berbagai senyawa pengelatan menyebabkan besi oksida-hidroksida (seperti karat) larut bahkan pada pH netral, dengan membentuk kompleks larut dengan ion besi(III) yang lebih stabil daripadanya. Ligan ini termasuk EDTA, yang sering digunakan untuk melarutkan endapan besi atau ditambahkan ke dalam pupuk agar besi dalam tanah tersedia bagi tanaman. Sitrat juga melarutkan ion besi pada pH netral, meskipun kompleksnya kurang stabil dibandingkan EDTA.
Kemagnetan
Kemagnetan senyawa feri ditentukan terutama oleh lima elektron d, dan ligan yang terhubung pada orbital tersebut.
Analisis
Dalam analisis anorganik kualitatif, keberadaan ion feri dapat dideteksi dengan pembentukan kompleks tiosianatnya. Penambahan garam tiosianat ke dalam larutan menghasilkan kompleks 1:1 yang sangat merah.[7][8] Reaksi ini sering dipakai pada eksperimen sekolah klasik untuk mendemonstrasikan prinsip Le Chatelier:
Lihat pula
- Feriklorida – Senyawa anorganik (Besi(III) klorida)
- Ferioksida – Senyawa kimia (Besi(III) oksida)
- Ferifluorida – Senyawa kimia (Besi(III) fluorida)
- Fero – Senyawa logam yang mengandung besi
Referensi
- ↑ Iron integral to the development of life on Earth – and the possibility of life on other planets. Universitas Oxford. 7 Desember 2021.
- ↑ Berg, Jeremy Mark. Principles of bioinorganic chemistry. University Science Books. 1994. ISBN 0-935702-73-3.
- ↑ H. Marschner dan V. Römheld (1994): "Strategies of plants for acquisition of iron". Plant and Soil, volume 165, terbitan 2, halaman 261–274.
- ↑ A mesoscale phytoplankton bloom in the polar Southern Ocean stimulated by iron fertilization. Nature. Oktober 2000. Vol. 407 (6805). hlm. 695–702. doi:10.1038/35037500.
- ↑ Earnshaw, A. Chemistry of the elements. Butterworth-Heinemann. 1997. ISBN 0-7506-3365-4.
- ↑ Earnshaw, A. Chemistry of the elements. Butterworth-Heinemann. 1997. ISBN 0-7506-3365-4.
- ↑ Seymour A. Lewin. The nature of iron(III) thiocyanate in solution. Journal of Chemical Education. 1953. Vol. 30 (9). hlm. 445. doi:10.1021/ed030p445.
- ↑ H. E. Bent. The Structure of Ferric Thiocyanate and its Dissociation in Aqueous Solution. Journal of the American Chemical Society. 1941. Vol. 63 (2). hlm. 568–572. doi:10.1021/ja01847a059.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 27509243 (2025-07-07T14:29:02Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.