Lompat ke isi

Pembakaran terkendali: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29463463; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Pembakaran''' '''terkendali,''' juga dikenal sebagai '''pembakaran pengurangan bahaya''' (''hazard reduction burning''), atau ''burn-off'', adalah pembakaran yang sengaja dilakukan untuk tujuan [[Manajemen hutan|pengelolaan hutan]], pemadaman kebakaran, [[pertanian]], [[restorasi padang rumput]], atau pengendalian emisi [[gas rumah kaca]]. [[Api]] adalah bagian alami dari [[ekologi]] hutan dan padang rumput dan kebakaran terkendali dapat menjadi alat bagi [[rimbawan]].
[[File:USFWS_Resilient_Landscapes_(17223539378).jpg|thumb|right|280px|Penerapan api di hutan pinus ponderosa di timur Washington, Amerika Serikat, untuk memulihkan kesehatan ekosistem]]
 
'''Pembakaran''' '''terkendali,''' juga dikenal sebagai '''pembakaran pengurangan bahaya''' (''hazard reduction burning''),<sup class="reference" id="wu-cite-1">[[#wu-ref-1|[1]]]</sup> atau ''burn-off'',<sup class="reference" id="wu-cite-2">[[#wu-ref-2|[2]]]</sup> adalah pembakaran yang sengaja dilakukan untuk tujuan [[Manajemen hutan|pengelolaan hutan]], pemadaman kebakaran, [[pertanian]], [[restorasi padang rumput]], atau pengendalian emisi [[gas rumah kaca]]. [[Api]] adalah bagian alami dari [[ekologi]] hutan dan padang rumput dan kebakaran terkendali dapat menjadi alat bagi [[rimbawan]].


Pengurangan bahaya kebakaran melalui pembakaran terkendali direncanakan dan dilakukan selama bulan-bulan yang lebih dingin untuk mengurangi penumpukan bahan bakar dan mengurangi kemungkinan kebakaran yang lebih serius. Pembakaran yang terkendali merangsang [[perkecambahan]] beberapa [[pohon]] hutan yang diinginkan, dan membuka lapisan mineral tanah yang dapat meningkatkan vitalitas bibit, sehingga memperbaharui hutan. Beberapa [[Kerucut konifer|kerucut pinus]], seperti [[pinus lodgepole]], [[Sequoiadendron giganteum|sequoia]], dan banyak semak kaparal bersifat [[Serotini|pyriscent]], yang berarti panas dari api membuka kerucut untuk menyebarkan benih.
Pengurangan bahaya kebakaran melalui pembakaran terkendali direncanakan dan dilakukan selama bulan-bulan yang lebih dingin untuk mengurangi penumpukan bahan bakar dan mengurangi kemungkinan kebakaran yang lebih serius. Pembakaran yang terkendali merangsang [[perkecambahan]] beberapa [[pohon]] hutan yang diinginkan, dan membuka lapisan mineral tanah yang dapat meningkatkan vitalitas bibit, sehingga memperbaharui hutan. Beberapa [[Kerucut konifer|kerucut pinus]], seperti [[pinus lodgepole]], [[Sequoiadendron giganteum|sequoia]], dan banyak semak kaparal bersifat [[Serotini|pyriscent]], yang berarti panas dari api membuka kerucut untuk menyebarkan benih.
Baris 6: Baris 8:


== Sejarah ==
== Sejarah ==
Ada dua penyebab dasar [[Kebakaran hutan dan lahan|kebakaran hutan]]. Yang pertama adalah penyebab alami, terutama melalui petir, dan yang lainnya adalah akibat aktivitas manusia. Kebakaran terkendali memiliki sejarah panjang dalam pengelolaan hutan belantara. Masyarakat pra-pertanian telah memanfaatkan kebakaran yang terkendali untuk mengatur kehidupan tanaman dan hewan. Kajian sejarah kebakaran telah mendokumentasikan kebakaran lahan liar secara berkala yang dilakukan oleh masyarakat adat di Amerika Utara dan [[Australia]]. Penduduk asli Amerika sering memanfaatkan kebakaran yang terkendali untuk mengelola lingkungan alam dengan cara yang menguntungkan manusia dan satwa liar, memulai kebakaran dengan intensitas rendah yang melepaskan nutrisi untuk tanaman, mengurangi persaingan, dan mengonsumsi bahan mudah terbakar yang berlebih, yang jika dibiarkan dapat memicu kebakaran dengan intensitas bencana.
Ada dua penyebab dasar [[Kebakaran hutan dan lahan|kebakaran hutan]]. Yang pertama adalah penyebab alami, terutama melalui petir, dan yang lainnya adalah akibat aktivitas manusia.<sup class="reference" id="wu-cite-3">[[#wu-ref-3|[3]]]</sup> Kebakaran terkendali memiliki sejarah panjang dalam pengelolaan hutan belantara. Masyarakat pra-pertanian telah memanfaatkan kebakaran yang terkendali untuk mengatur kehidupan tanaman dan hewan. Kajian sejarah kebakaran telah mendokumentasikan kebakaran lahan liar secara berkala yang dilakukan oleh masyarakat adat di Amerika Utara dan [[Australia]].<sup class="reference" id="wu-cite-4">[[#wu-ref-4|[4]]]</sup><sup class="reference" id="wu-cite-5">[[#wu-ref-5|[5]]]</sup> Penduduk asli Amerika sering memanfaatkan kebakaran yang terkendali untuk mengelola lingkungan alam dengan cara yang menguntungkan manusia dan satwa liar, memulai kebakaran dengan intensitas rendah yang melepaskan nutrisi untuk tanaman, mengurangi persaingan, dan mengonsumsi bahan mudah terbakar yang berlebih, yang jika dibiarkan dapat memicu kebakaran dengan intensitas bencana.<sup class="reference" id="wu-cite-6">[[#wu-ref-6|[6]]]</sup><sup class="reference" id="wu-cite-7">[[#wu-ref-7|[7]]]</sup><sup class="reference" id="wu-cite-8">[[#wu-ref-8|[8]]]</sup>


Kebakaran, baik yang disebabkan secara alami maupun disengaja, pernah menjadi bagian dari pemandangan alam di banyak daerah. Di AS praktik ini berakhir pada awal abad ke-20, ketika kebijakan kebakaran federal diberlakukan dengan tujuan memadamkan semua kebakaran. Sejak tahun 1995, Dinas Kehutanan AS perlahan memasukkan praktik pembakaran ke dalam kebijakan pengelolaan hutannya.
Kebakaran, baik yang disebabkan secara alami maupun disengaja, pernah menjadi bagian dari pemandangan alam di banyak daerah. Di AS praktik ini berakhir pada awal abad ke-20, ketika kebijakan kebakaran federal diberlakukan dengan tujuan memadamkan semua kebakaran.<sup class="reference" id="wu-cite-9">[[#wu-ref-9|[9]]]</sup> Sejak tahun 1995, Dinas Kehutanan AS perlahan memasukkan praktik pembakaran ke dalam kebijakan pengelolaan hutannya.<sup class="reference" id="wu-cite-10">[[#wu-ref-10|[10]]]</sup>


Pemadaman kebakaran yang terjadi secara alami telah mengubah komposisi dan ekologi habitat Amerika Utara, termasuk ekosistem yang sangat bergantung pada api seperti sabana oak dan canebrake, yang sekarang menjadi habitat yang terancam punah di ambang kepunahan. Di Amerika Serikat Bagian Timur, pohon yang tidak tahan kebakaran seperti maple merah meningkat jumlahnya, mengorbankan pohon yang toleran kebakaran seperti pohon ek.
Pemadaman kebakaran yang terjadi secara alami telah mengubah komposisi dan ekologi habitat Amerika Utara, termasuk ekosistem yang sangat bergantung pada api seperti sabana oak<sup class="reference" id="wu-cite-11">[[#wu-ref-11|[11]]]</sup><sup class="reference" id="wu-cite-12">[[#wu-ref-12|[12]]]</sup> dan canebrake,<sup class="reference" id="wu-cite-13">[[#wu-ref-13|[13]]]</sup><sup class="reference" id="wu-cite-14">[[#wu-ref-14|[14]]]</sup> yang sekarang menjadi habitat yang terancam punah di ambang kepunahan. Di Amerika Serikat Bagian Timur, pohon yang tidak tahan kebakaran seperti maple merah meningkat jumlahnya, mengorbankan pohon yang toleran kebakaran seperti pohon ek.<sup class="reference" id="wu-cite-15">[[#wu-ref-15|[15]]]</sup>


== Pemanfaatan hutan ==
== Pemanfaatan hutan ==
Pertimbangan lain adalah masalah [[Perlindungan kebakaran|pencegahan kebakaran]]. Di [[Florida]], selama musim kering tahun 1995, bencana [[Kebakaran hutan dan lahan|kebakaran hutan]] membakar banyak rumah. Setiap tahun, tambahan serasah [[daun]] dan cabang yang jatuh meningkatkan kemungkinan terjadinya kebakaran bertemperatur tinggi dan tidak terkendali.
Pertimbangan lain adalah masalah [[Perlindungan kebakaran|pencegahan kebakaran]]. Di [[Florida]], selama musim kering tahun 1995, bencana [[Kebakaran hutan dan lahan|kebakaran hutan]] membakar banyak rumah. Setiap tahun, tambahan serasah [[daun]] dan cabang yang jatuh meningkatkan kemungkinan terjadinya kebakaran bertemperatur tinggi dan tidak terkendali.<sup class="reference" id="wu-cite-16">[[#wu-ref-16|[16]]]</sup>


Pembakaran yang terkendali kadang-kadang dinyalakan menggunakan alat yang dikenal dengan nama [[Obor tetes|driptorch]], yang memungkinkan aliran bahan bakar yang menyala diarahkan ke tanah sesuai kebutuhan. Berbagai variasi driptorch bisa digunakan seperti helitorch yang dipasang di [[helikopter]], atau perangkat improvisasi lainnya seperti memasang perangkat mirip driptorch di sisi [[kendaraan]]. Perangkat [[piroteknik]] yang dikenal sebagai [[Suar|fusee]] dapat digunakan untuk menyalakan bahan bakar terdekat sementara [[pistol suar]] dapat digunakan untuk menyalakan bahan bakar yang lebih jauh.
Pembakaran yang terkendali kadang-kadang dinyalakan menggunakan alat yang dikenal dengan nama [[Obor tetes|driptorch]], yang memungkinkan aliran bahan bakar yang menyala diarahkan ke tanah sesuai kebutuhan. Berbagai variasi driptorch bisa digunakan seperti helitorch yang dipasang di [[helikopter]], atau perangkat improvisasi lainnya seperti memasang perangkat mirip driptorch di sisi [[kendaraan]]. Perangkat [[piroteknik]] yang dikenal sebagai [[Suar|fusee]] dapat digunakan untuk menyalakan bahan bakar terdekat sementara [[pistol suar]] dapat digunakan untuk menyalakan bahan bakar yang lebih jauh.


Untuk pembakaran [[tebasan]], [[Sampah|sisa]] [[Penebangan|penebangan hutan]], ada beberapa jenis pembakaran terkendali. Pembakaran menyebar adalah pembakaran tebasan yang tersebar di wilayah yang luas. Pembakaran tumpukan dilakukan dengan mengumpulkan tebasan menjadi tumpukan sebelum dibakar. Tumpukan yang terbakar ini dapat disebut sebagai [[api unggun]]. Temperatur yang tinggi dapat merusak [[tanah]], merusaknya [[Tanah hidrofobik|secara fisik]], [[Perubahan kimia|kimia]], hingga [[Sterilisasi (mikrobiologi)|mensterilkannya]]. Pembakaran yang menyebar cenderung memiliki suhu yang lebih rendah dan tidak akan merusak tanah sebanyak pembakaran tumpukan, meskipun langkah-langkah dapat diambil untuk merawat tanah setelah terbakar. Dalam pembakaran ''lop and scatter'', tebasan dibiarkan memadat dari waktu ke waktu, atau dipadatkan dengan mesin. Metode ini akan menghasilkan kebakaran dengan intensitas lebih rendah, selama tebasan tidak dipadatkan terlalu rapat.
Untuk pembakaran [[tebasan]], [[Sampah|sisa]] [[Penebangan|penebangan hutan]], ada beberapa jenis pembakaran terkendali. Pembakaran menyebar adalah pembakaran tebasan yang tersebar di wilayah yang luas. Pembakaran tumpukan dilakukan dengan mengumpulkan tebasan menjadi tumpukan sebelum dibakar. Tumpukan yang terbakar ini dapat disebut sebagai [[api unggun]]. Temperatur yang tinggi dapat merusak [[tanah]], merusaknya [[Tanah hidrofobik|secara fisik]], [[Perubahan kimia|kimia]], hingga [[Sterilisasi (mikrobiologi)|mensterilkannya]]. Pembakaran yang menyebar cenderung memiliki suhu yang lebih rendah dan tidak akan merusak tanah sebanyak pembakaran tumpukan,<sup class="reference" id="wu-cite-17">[[#wu-ref-17|[17]]]</sup> meskipun langkah-langkah dapat diambil untuk merawat tanah setelah terbakar. Dalam pembakaran ''lop and scatter'', tebasan dibiarkan memadat dari waktu ke waktu, atau dipadatkan dengan mesin. Metode ini akan menghasilkan kebakaran dengan intensitas lebih rendah, selama tebasan tidak dipadatkan terlalu rapat.<sup class="reference" id="wu-cite-18">[[#wu-ref-18|[18]]]</sup>


Pembakaran terkendali mengurangi [[bahan bakar]], dapat meningkatkan [[habitat]] [[Kehidupan liar|satwa liar]], mengontrol vegetasi yang bersaing, meningkatkan hijauan jangka pendek untuk penggembalaan, meningkatkan aksesibilitas, membantu mengendalikan [[penyakit]] pohon, dan mempertahankan spesies yang bergantung pada siklus kebakaran. Di hutan [[pinus berdaun panjang]] dewasa, pembakaran terkendali membantu menjaga habitat [[Pelatuk Berbulu Merah|burung pelatuk merah]] [[Spesies genting|yang terancam punah]] di habitat [[sandhill]] dan [[flatwoods]]. Kebakaran juga dirasakan sebagai elemen penting pemulihan [[Pituophis ruthveni|ular pinus Louisiana]] yang terancam di [[Ekosistem pinus daun panjang|hutan pinus berdaun panjang]] di Louisiana tengah dan Texas timur. Untuk meningkatkan penerapan pembakaran yang terkendali untuk tujuan konservasi, yang mungkin harus meniru kebakaran di masa lampau atau kebakaran alami, para ilmuwan menilai dampak variasi atribut kebakaran. Frekuensi kebakaran adalah atribut kebakaran yang paling banyak dibahas dalam literatur ilmiah, kemungkinan karena dianggap sebagai aspek kebakaran historis yang paling kritis. Ilmuwan lebih jarang melaporkan data tentang efek variasi atribut kebakaran lainnya (yaitu, intensitas, tingkat keparahan, tambalan, skala spasial, atau fenologi), meskipun hal ini kemungkinan juga berdampak pada tujuan konservasi.
Pembakaran terkendali mengurangi [[bahan bakar]], dapat meningkatkan [[habitat]] [[Kehidupan liar|satwa liar]],<sup class="reference" id="wu-cite-19">[[#wu-ref-19|[19]]]</sup> mengontrol vegetasi yang bersaing, meningkatkan hijauan jangka pendek untuk penggembalaan, meningkatkan aksesibilitas, membantu mengendalikan [[penyakit]] pohon, dan mempertahankan spesies yang bergantung pada siklus kebakaran.<sup class="reference" id="wu-cite-20">[[#wu-ref-20|[20]]]</sup> Di hutan [[pinus berdaun panjang]] dewasa, pembakaran terkendali membantu menjaga habitat [[Pelatuk Berbulu Merah|burung pelatuk merah]] [[Spesies genting|yang terancam punah]] di habitat [[sandhill]] dan [[flatwoods]].<sup class="reference" id="wu-cite-21">[[#wu-ref-21|[21]]]</sup> Kebakaran juga dirasakan sebagai elemen penting pemulihan [[Pituophis ruthveni|ular pinus Louisiana]] yang terancam di [[Ekosistem pinus daun panjang|hutan pinus berdaun panjang]] di Louisiana tengah dan Texas timur.<sup class="reference" id="wu-cite-22">[[#wu-ref-22|[22]]]</sup> Untuk meningkatkan penerapan pembakaran yang terkendali untuk tujuan konservasi, yang mungkin harus meniru kebakaran di masa lampau atau kebakaran alami, para ilmuwan menilai dampak variasi atribut kebakaran.<sup class="reference" id="wu-cite-23">[[#wu-ref-23|[23]]]</sup> Frekuensi kebakaran adalah atribut kebakaran yang paling banyak dibahas dalam literatur ilmiah, kemungkinan karena dianggap sebagai aspek kebakaran historis yang paling kritis.<sup class="reference" id="wu-cite-24">[[#wu-ref-24|[24]]]</sup> Ilmuwan lebih jarang melaporkan data tentang efek variasi atribut kebakaran lainnya (yaitu, intensitas, tingkat keparahan, tambalan, skala spasial, atau fenologi), meskipun hal ini kemungkinan juga berdampak pada tujuan konservasi.<sup class="reference" id="wu-cite-25">[[#wu-ref-25|[25]]]</sup>


Di alam liar, banyak pohon bergantung pada siklus kebakaran sebagai cara yang berhasil untuk menghilangkan persaingan dan untuk melepaskan benihnya. Secara khusus, [[sequoia raksasa]] bergantung pada panas kebakaran untuk bereproduksi: bunga kerucut pohon terbuka setelah terpajan panas kebakaran dan melepaskan bijinya, dan di saat yang bersamaan kebakaran telah membersihkan semua vegetasi yang bersaing. Diakibatkan oleh upaya pemadaman kebakaran selama awal dan pertengahan abad ke-20, kebakaran dengan intensitas rendah tidak lagi terjadi secara alami di banyak lokasi, dan masih tidak terjadi di beberapa wilayah saat ini. Pemadaman kebakaran juga menyebabkan penumpukan bahan yang mudah bakar di tanah dan pertumbuhan padat yang menimbulkan risiko bencana kebakaran hutan. Pada tahun 1970-an, National Park Service memulai kebakaran sistematis untuk tujuan pertumbuhan benih baru. ''[[Eucalyptus regnans]]'' juga bergantung pada siklus kebakaran tetapi dengan cara yang berbeda. Mereka membawa bijinya dalam kapsul yang dapat disimpan kapan saja sepanjang tahun. Karena bersifat mudah terbakar, selama kebakaran kapsul menjatuhkan hampir semua bijinya dan api memakan eukaliptus dewasa, tetapi sebagian besar biji bertahan hidup dengan menggunakan abu sebagai sumber nutrisi; pada tingkat pertumbuhannya, mereka dengan cepat mendominasi tanah dan hutan eukaliptus baru akan tumbuh.
Di alam liar, banyak pohon bergantung pada siklus kebakaran sebagai cara yang berhasil untuk menghilangkan persaingan dan untuk melepaskan benihnya. Secara khusus, [[sequoia raksasa]] bergantung pada panas kebakaran untuk bereproduksi: bunga kerucut pohon terbuka setelah terpajan panas kebakaran dan melepaskan bijinya, dan di saat yang bersamaan kebakaran telah membersihkan semua vegetasi yang bersaing. Diakibatkan oleh upaya pemadaman kebakaran selama awal dan pertengahan abad ke-20, kebakaran dengan intensitas rendah tidak lagi terjadi secara alami di banyak lokasi, dan masih tidak terjadi di beberapa wilayah saat ini. Pemadaman kebakaran juga menyebabkan penumpukan bahan yang mudah bakar di tanah dan pertumbuhan padat yang menimbulkan risiko bencana kebakaran hutan. Pada tahun 1970-an, National Park Service memulai kebakaran sistematis untuk tujuan pertumbuhan benih baru.<sup class="reference" id="wu-cite-26">[[#wu-ref-26|[26]]]</sup> ''[[Eucalyptus regnans]]'' juga bergantung pada siklus kebakaran tetapi dengan cara yang berbeda. Mereka membawa bijinya dalam kapsul yang dapat disimpan kapan saja sepanjang tahun. Karena bersifat mudah terbakar, selama kebakaran kapsul menjatuhkan hampir semua bijinya dan api memakan eukaliptus dewasa, tetapi sebagian besar biji bertahan hidup dengan menggunakan abu sebagai sumber nutrisi; pada tingkat pertumbuhannya, mereka dengan cepat mendominasi tanah dan hutan eukaliptus baru akan tumbuh.<sup class="reference" id="wu-cite-27">[[#wu-ref-27|[27]]]</sup>


Provinsi Ontario, Kanada menerapkan prosedur dan peraturan keselamatan untuk mengelola dan mengendalikan kebakaran lahan liar. Mereka mengikuti prosedur ini dengan ketat untuk melindungi keselamatan penduduk setempat dan memastikan bahwa api tidak menyebar ke area lain di darat, sehingga melindungi keanekaragaman hayati ekosistem hutan.
Provinsi Ontario, Kanada menerapkan prosedur dan peraturan keselamatan untuk mengelola dan mengendalikan kebakaran lahan liar. Mereka mengikuti prosedur ini dengan ketat untuk melindungi keselamatan penduduk setempat dan memastikan bahwa api tidak menyebar ke area lain di darat, sehingga melindungi keanekaragaman hayati ekosistem hutan.<sup class="reference" id="wu-cite-28">[[#wu-ref-28|[28]]]</sup>


== Penggunaannya dalam pertanian ==
== Penggunaannya dalam pertanian ==
Selain pengelolaan hutan, pembakaran terkendali juga digunakan dalam pertanian. Di negara berkembang, pembakaran terkendali sering disebut sebagai [[Peladangan|tebas dan bakar]]. Di negara-negara industri, ini dipandang sebagai salah satu komponen [[perladangan berpindah]], sebagai bagian dari persiapan lahan untuk penanaman. Sering disebut '''pembakaran lahan''', teknik ini digunakan untuk membersihkan lahan dari sisa tanaman yang ada serta membunuh gulma dan benih gulma. Pembakaran ladang lebih murah daripada kebanyakan metode lain seperti herbisida atau pengolahan tanah, tetapi karena menghasilkan asap dan polutan terkait kebakaran lainnya, penggunaannya tidak populer di daerah pertanian yang dibatasi oleh perumahan.
Selain pengelolaan hutan, pembakaran terkendali juga digunakan dalam pertanian. Di negara berkembang, pembakaran terkendali sering disebut sebagai [[Peladangan|tebas dan bakar]]. Di negara-negara industri, ini dipandang sebagai salah satu komponen [[perladangan berpindah]], sebagai bagian dari persiapan lahan untuk penanaman. Sering disebut '''pembakaran lahan''', teknik ini digunakan untuk membersihkan lahan dari sisa tanaman yang ada serta membunuh gulma dan benih gulma. Pembakaran ladang lebih murah daripada kebanyakan metode lain seperti herbisida atau pengolahan tanah, tetapi karena menghasilkan asap dan polutan terkait kebakaran lainnya, penggunaannya tidak populer di daerah pertanian yang dibatasi oleh perumahan.


Di India Utara, khususnya, Di Punjab dan Haryana, Pembakaran residu tanaman merupakan masalah utama karena menyebabkan degradasi kualitas lingkungan di negara-negara bagian ini dan tetangganya termasuk ibu kota India, New Delhi.
Di India Utara, khususnya, Di Punjab dan Haryana, Pembakaran residu tanaman merupakan masalah utama karena menyebabkan degradasi kualitas lingkungan di negara-negara bagian ini dan tetangganya termasuk ibu kota India, New Delhi.<sup class="reference" id="wu-cite-29">[[#wu-ref-29|[29]]]</sup>


Di Afrika Timur, kepadatan burung meningkat beberapa bulan setelah pembakaran terkendali terjadi.
Di Afrika Timur, kepadatan burung meningkat beberapa bulan setelah pembakaran terkendali terjadi.<sup class="reference" id="wu-cite-30">[[#wu-ref-30|[30]]]</sup>


== Kontroversi ==
== Kontroversi ==
Di [[Oregon]], pembakaran ladang telah banyak digunakan oleh petani [[Poaceae|benih rumput]] sebagai metode untuk membersihkan ladang untuk penanaman putaran berikutnya, serta merevitalisasi rumput serotinous yang membutuhkan api untuk menumbuhkan benih kembali. [[Departemen Kualitas Lingkungan Oregon]] mulai mensyaratkan izin bagi petani untuk membakar ladang mereka pada tahun 1981, tetapi persyaratan menjadi lebih ketat pada tahun 1988 menyusul tabrakan beberapa mobil di mana asap dari pembakaran ladang di dekat [[Albany, Oregon]], mengaburkan penglihatan para pengemudi di [[Interstate 5 di Oregon|Interstate 5]], yang menyebabkan tabrakan 23 mobil di mana 7 orang tewas dan 37 luka-luka. Hal ini menyebabkan lebih banyak pengawasan terhadap pembakaran ladang dan usulan untuk melarang pembakaran ladang di negara bagian secara keseluruhan.
Di [[Oregon]], pembakaran ladang telah banyak digunakan oleh petani [[Poaceae|benih rumput]] sebagai metode untuk membersihkan ladang untuk penanaman putaran berikutnya, serta merevitalisasi rumput serotinous yang membutuhkan api untuk menumbuhkan benih kembali. [[Departemen Kualitas Lingkungan Oregon]] mulai mensyaratkan izin bagi petani untuk membakar ladang mereka pada tahun 1981, tetapi persyaratan menjadi lebih ketat pada tahun 1988 menyusul tabrakan beberapa mobil di mana asap dari pembakaran ladang di dekat [[Albany, Oregon]], mengaburkan penglihatan para pengemudi di [[Interstate 5 di Oregon|Interstate 5]], yang menyebabkan tabrakan 23 mobil di mana 7 orang tewas dan 37 luka-luka.<sup class="reference" id="wu-cite-31">[[#wu-ref-31|[31]]]</sup> Hal ini menyebabkan lebih banyak pengawasan terhadap pembakaran ladang dan usulan untuk melarang pembakaran ladang di negara bagian secara keseluruhan.<sup class="reference" id="wu-cite-32">[[#wu-ref-32|[32]]]</sup>


Di Uni Eropa, membakar tunggul tanaman setelah panen digunakan oleh petani untuk alasan kesehatan tanaman di bawah beberapa batasan dalam peraturan kepatuhan silang.
Di Uni Eropa, membakar tunggul tanaman setelah panen digunakan oleh petani untuk alasan kesehatan tanaman di bawah beberapa batasan dalam peraturan kepatuhan silang.<sup class="reference" id="wu-cite-33">[[#wu-ref-33|[33]]]</sup>


Dengan luka bakar yang terkendali, ada juga risiko kebakaran yang tidak terkendali. Misalnya, [[Kebakaran Calf Canyon/Hermits Peak]], kebakaran hutan terbesar dalam sejarah [[New Mexico]], dimulai oleh dua kejadian berbeda dari pembakaran terkendali, yang keduanya dilakukan oleh [[Dinas Kehutanan Amerika Serikat|Dinas Kehutanan AS]], lepas kendali dan menyatu.
Dengan luka bakar yang terkendali, ada juga risiko kebakaran yang tidak terkendali. Misalnya, [[Kebakaran Calf Canyon/Hermits Peak]], kebakaran hutan terbesar dalam sejarah [[New Mexico]], dimulai oleh dua kejadian berbeda dari pembakaran terkendali, yang keduanya dilakukan oleh [[Dinas Kehutanan Amerika Serikat|Dinas Kehutanan AS]], lepas kendali dan menyatu.<sup class="reference" id="wu-cite-34">[[#wu-ref-34|[34]]]</sup>


== Prosedur ==
== Prosedur ==
 
Bergantung pada konteks dan tujuan pembakaran terkendali yang ditentukan, perencanaan tambahan mungkin diperlukan. Pendorong paling umum penerapan pembakaran terkendali adalah pencegahan hilangnya nyawa manusia, parameter tertentu juga dapat diubah untuk mempromosikan keanekaragaman hayati dan mengatur ulang umur tegakan hutan dengan tepat. Risiko kebakaran yang fatal juga dapat dikurangi secara proaktif dengan mengurangi bahan yang mudah terbakar sebelum mereka dapat membuat rantai bahan bakar dan memulai kebakaran tajuk yang aktif. Prediksi menunjukkan hutan yang menipis akan menyebabkan berkurangnya intensitas kebakaran dan panjang nyala api dibandingkan dengan area yang tidak tersentuh api atau area yang tahan api.<sup class="reference" id="wu-cite-35">[[#wu-ref-35|[35]]]</sup> Selain itu, perlakuan terhadap kebakaran intensitas rendah dapat diberikan di tempat-tempat di mana perlakuan mekanis seperti pembajakan dengan bajak piring tidak bisa dilakukan.<sup class="reference" id="wu-cite-36">[[#wu-ref-36|[36]]]</sup> Demi kepentingan konservasi, pemilihan area yang tidak terbakar di dalam kawasan target akan mempertahankan keanekaragaman hayati dan memberikan perlindungan bagi satwa liar. Karena itu, beberapa menyarankan pengurangan bahan yang mudah terbakar sekitar 75% sudah cukup, meskipun setiap rencana pembakaran harus memiliki targetnya sendiri yang ditetapkan oleh tujuan ekologi dan pengelolaan.<sup class="reference" id="wu-cite-37">[[#wu-ref-37|[37]]]</sup> Di beberapa daerah di mana rerumputan dan tanaman herba tumbuh subur, variasi spesies dan tutupan dapat meningkat secara drastis beberapa tahun setelah perlakuan pembakaran terkendali.<sup class="reference" id="wu-cite-38">[[#wu-ref-38|[38]]]</sup>
Bergantung pada konteks dan tujuan pembakaran terkendali yang ditentukan, perencanaan tambahan mungkin diperlukan. Pendorong paling umum penerapan pembakaran terkendali adalah pencegahan hilangnya nyawa manusia, parameter tertentu juga dapat diubah untuk mempromosikan keanekaragaman hayati dan mengatur ulang umur tegakan hutan dengan tepat. Risiko kebakaran yang fatal juga dapat dikurangi secara proaktif dengan mengurangi bahan yang mudah terbakar sebelum mereka dapat membuat rantai bahan bakar dan memulai kebakaran tajuk yang aktif. Prediksi menunjukkan hutan yang menipis akan menyebabkan berkurangnya intensitas kebakaran dan panjang nyala api dibandingkan dengan area yang tidak tersentuh api atau area yang tahan api. Selain itu, perlakuan terhadap kebakaran intensitas rendah dapat diberikan di tempat-tempat di mana perlakuan mekanis seperti pembajakan dengan bajak piring tidak bisa dilakukan. Demi kepentingan konservasi, pemilihan area yang tidak terbakar di dalam kawasan target akan mempertahankan keanekaragaman hayati dan memberikan perlindungan bagi satwa liar. Karena itu, beberapa menyarankan pengurangan bahan yang mudah terbakar sekitar 75% sudah cukup, meskipun setiap rencana pembakaran harus memiliki targetnya sendiri yang ditetapkan oleh tujuan ekologi dan pengelolaan. Di beberapa daerah di mana rerumputan dan tanaman herba tumbuh subur, variasi spesies dan tutupan dapat meningkat secara drastis beberapa tahun setelah perlakuan pembakaran terkendali.


== Pengurangan gas rumah kaca ==
== Pengurangan gas rumah kaca ==
Pembakaran terkendali di [[sabana]] Australia dapat menghasilkan pengurangan emisi gas rumah kaca secara keseluruhan. Salah satu contoh yang berhasil adalah Perjanjian Pengelolaan Kebakaran West Arnhem, yang mulai menerapkan "pengelolaan kebakaran strategis di  dari Western Arnhem Land" untuk mengimbangi sebagian emisi gas rumah kaca dari pabrik [[gas alam cair]] di [[Darwin, Wilayah Utara|Darwin]], Australia. Dengan sengaja memulai kebakaran terkendali di awal musim kemarau menghasilkan area yang terbakar dan tidak terbakar yang secara keseluruhan mengurangi risiko luasnya area kebakaran akhir musim kemarau yang lebih kuat; ini juga dikenal sebagai "pembakaran tambalan". Untuk meminimalkan [[Asap|dampak asap]], pembakaran harus dibatasi pada siang hari jika memungkinkan.
Pembakaran terkendali di [[sabana]] Australia dapat menghasilkan pengurangan emisi gas rumah kaca secara keseluruhan. Salah satu contoh yang berhasil adalah Perjanjian Pengelolaan Kebakaran West Arnhem, yang mulai menerapkan "pengelolaan kebakaran strategis di  dari Western Arnhem Land" untuk mengimbangi sebagian emisi gas rumah kaca dari pabrik [[gas alam cair]] di [[Darwin, Wilayah Utara|Darwin]], Australia. Dengan sengaja memulai kebakaran terkendali di awal musim kemarau menghasilkan area yang terbakar dan tidak terbakar yang secara keseluruhan mengurangi risiko luasnya area kebakaran akhir musim kemarau yang lebih kuat;<sup class="reference" id="wu-cite-39">[[#wu-ref-39|[39]]]</sup><sup class="reference" id="wu-cite-40">[[#wu-ref-40|[40]]]</sup> ini juga dikenal sebagai "pembakaran tambalan". Untuk meminimalkan [[Asap|dampak asap]], pembakaran harus dibatasi pada siang hari jika memungkinkan.<sup class="reference" id="wu-cite-41">[[#wu-ref-41|[41]]]</sup>


== Lihat juga ==
== Lihat juga ==
* [[Ekologi pertanian|Agroekologi]]
* [[Ekologi pertanian|Agroekologi]]
* [[Ekologi api]]
* [[Ekologi api]]
* [[Penggunaan api oleh penduduk asli Amerika dalam ekosistem]]
* [[Penggunaan api oleh penduduk asli Amerika dalam ekosistem]]
* [[Pemadaman kebakaran hutan dan lahan]]
* [[Pemadaman kebakaran hutan dan lahan]]
== Referensi ==


== Bacaan lebih lanjut ==
== Bacaan lebih lanjut ==
* Beese, W.J., Blackwell, B.A., Green, R.N. & Hawkes, B.C. (2006). "Prescribed burning impacts on some coastal British Columbia ecosystems." ''Information Report'' BC-X-403. Victoria B.C.: Natural Resources Canada, Canadian Forest Service, Pacific Forestry Centre. Retrieved from: http://hdl.handle.net/10613/2740
* Beese, W.J., Blackwell, B.A., Green, R.N. & Hawkes, B.C. (2006). "Prescribed burning impacts on some coastal British Columbia ecosystems." ''Information Report'' BC-X-403. Victoria B.C.: Natural Resources Canada, Canadian Forest Service, Pacific Forestry Centre. Retrieved from: http://hdl.handle.net/10613/2740
* Casals P, Valor T, Besalú A, Molina-Terrén D. [http://arxiudigital.ctfc.cat/docs/upload/27_523_casals_FEM_2016.pdf Understory fuel load and structure eight to nine years after prescribed burning in Mediterranean pine forests]. DOI: 10.1016/j.foreco.2015.11.050
* Casals P, Valor T, Besalú A, Molina-Terrén D. [http://arxiudigital.ctfc.cat/docs/upload/27_523_casals_FEM_2016.pdf Understory fuel load and structure eight to nine years after prescribed burning in Mediterranean pine forests]. DOI: 10.1016/j.foreco.2015.11.050
Baris 63: Baris 59:


== Pranala luar ==
== Pranala luar ==
* [https://web.archive.org/web/20060520211341/http://www.nps.gov/yell/technical/fire/prescribed.htm U.S. National Park Service Prescribed Fire Policy]
* [https://web.archive.org/web/20060520211341/http://www.nps.gov/yell/technical/fire/prescribed.htm U.S. National Park Service Prescribed Fire Policy]
* [https://web.archive.org/web/20051215162830/http://www.savannaoak.org/controlburns.html Savanna Oak Foundation article on controlled burns]
* [https://web.archive.org/web/20051215162830/http://www.savannaoak.org/controlburns.html Savanna Oak Foundation article on controlled burns]
* [https://web.archive.org/web/20060710002908/http://www.tncfire.org/ The Nature Conservancy's Global Fire Initiative]
* [https://web.archive.org/web/20060710002908/http://www.tncfire.org/ The Nature Conservancy's Global Fire Initiative]


== Referensi ==
<ol class="references wiki-unissula-manual-references">
<li id="wu-ref-1">[http://www.hillside.rfsa.org.au/fwhaz.htm What is Hazard Reduction]. ''www.hillside.rfsa.org.au''. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-1|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-2">Nicola Gage. [https://www.abc.net.au/news/2016-08-25/burn-off-rule-change-upsets-adelaide-hills-residents/7786080 Burn-off rule change upsets Adelaide Hills residents]. ''ABC News''. 25 August 2016. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-2|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-3">Rachel G. Schneider. [http://www.fs.usda.gov/Internet/FSE_DOCUMENTS/fsm9_028958.pdf Fire Management Study Unit]. Georgia Forestry Commission. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-3|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-4">R.A. Bradstock. [https://archive.org/details/sim_biological-conservation_1998-10_86_1/page/83 Spatially-explicit simulation of the effect of prescribed burning on fire regimes and plant extinctions in shrublands typical of south-eastern Australia]. ''Biological Conservation''. 1998. Vol. 86 (1). hlm. 83–95. doi:10.1016/S0006-3207(97)00170-5. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-4|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-5">Scott L. Stephens. [https://archive.org/details/sim_forest-ecology-and-management_2007-11-15_251_3/page/n82 Prehistoric fire area and emissions from California's forests, woodlands, shrublands, and grasslands]. ''Forest Ecology and Management''. 2007. Vol. 251 (3). hlm. 205–216. doi:10.1016/j.foreco.2007.06.005. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-5|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-6">[https://www.blm.gov/or/resources/recreation/tablerock/files/fire_ecol_intro.pdf Chapter Introduction: Fire Ecology]. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-6|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-7">Jane Palmer. [https://eos.org/features/fire-as-medicine-learning-from-native-american-fire-stewardship Fire as Medicine: Learning from Native American Fire Stewardship]. ''eos.org''. 29 March 2021. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-7|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-8">Michaela Sten. [https://defenders.org/blog/2020/07/fire-adapted-plants-and-animals-rely-wildfires-resilient-ecosystems Fire-Adapted: Plants and Animals Rely on Wildfires for Resilient Ecosystems]. ''defenders.org''. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-8|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-9">Scott L. Stephens. [https://archive.org/details/sim_forest-ecology-and-management_2007-11-15_251_3/page/n82 Prehistoric fire area and emissions from California's forests, woodlands, shrublands, and grasslands]. ''Forest Ecology and Management''. 2007. Vol. 251 (3). hlm. 205–216. doi:10.1016/j.foreco.2007.06.005. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-9|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-10">Scott L. Stephens. [https://archive.org/details/ecological-applications_2005-04_15_2/page/532 Federal Forest-Fire Policy in the United States]. ''Ecological Applications''. 2005. Vol. 15 (2). hlm. 532–542. doi:10.1890/04-0545. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-10|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-11">[https://oaksavannas.org Oak Savannas: characteristics, restoration and long term management]. ''oaksavannas.org''. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-11|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-12">[https://dnr.wi.gov/topic/EndangeredResources/Communities.asp?mode=group&Type=Barrens%20and%20Savannas Barrens and Savannas communities of Wisconsin]. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-12|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-13">Crystal Cockman. [https://ui.charlotte.edu/story/loss-great-canebrakes The loss of the great canebrakes]. ''ui.charlotte.edu''. UNC Charlotte Urban Institute. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-13|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-14">Cory M. Shoemaker. ''Environmental and landscape factors affecting the continued suppression of canebrakes (Arundinaria gigantea, Poaceae) within restorations of bottomland hardwood forests''. ''The Journal of the Torrey Botanical Society''. 2018. Vol. 145 (2). hlm. 156–152. doi:10.3159/TORREY-D-17-00011.1. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-14|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-15">Craig Highfield. [https://www.bayjournal.com/columns/message_from_the_alliance/foresters-conflicted-love-for-red-maple-highlights-its-various-roles/article_1da6b161-5645-591f-881a-439aa40ccc24.html Foresters' conflicted love for red maple highlights its various roles]. ''bayjournal.com''. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-15|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-16">Jay P. Sah. [http://www2.fiu.edu/~kopturs/pubs/Sahetal2006.pdf Fuel loads, fire regimes, and post-fire fuel dynamics in Florida Keys pine forests]. ''International Journal of Wildland Fire''. 2006. Vol. 15 (4). hlm. 463–478. doi:10.1071/wf05100. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-16|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-17">Julie E. Korb. [http://library.eri.nau.edu/gsdl/collect/erilibra/index/assoc/HASHe36c.dir/doc.pdf Slash Pile Burning Effects on Soil Biotic and Chemical Properties and Plant Establishment: Recommendations for Amelioration]. ''Restoration Ecology''. March 2004. Vol. 12 (1). hlm. 52–62. doi:10.1111/j.1061-2971.2004.00304.x. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-17|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-18">Julie E. Korb. [http://library.eri.nau.edu/gsdl/collect/erilibra/index/assoc/HASHe36c.dir/doc.pdf Slash Pile Burning Effects on Soil Biotic and Chemical Properties and Plant Establishment: Recommendations for Amelioration]. ''Restoration Ecology''. March 2004. Vol. 12 (1). hlm. 52–62. doi:10.1111/j.1061-2971.2004.00304.x. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-18|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-19">W. E. Palmer. [http://www.treesearch.fs.fed.us/pubs/443 Whither wildlife without fire?]. ''Transactions of the 63rd North American Wildlife and Natural Resources Conference; 1998 March 20–25; Orlando, Fl. Washington, DC: Wildlife Management Institute: 402-414''. Treesearch.fs.fed.us. 2011-06-16. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-19|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-20">[http://www.bugwood.org/pfire/reasons.html Reasons For Prescribed Fire In Forest Resource Management - A Guide for Prescribed Fire in Southern Forests]. Bugwood.org. 2003-03-24. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-20|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-21">[http://www.dnr.sc.gov/cwcs/pdf/Redcockadedwoodpecker.pdf Red-cockaded Woodpecker]. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-21|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-22">[http://www.fws.gov/southwest/clearlakees/PDF/PINESNAKE.pdf Louisiana Pine Snake: (Pituophis ruthveni)]. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-22|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-23">D.M. Bowman. ''Pyrodiversity is the coupling of biodiversity and fire regimes in food webs''. ''Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences''. 2016. Vol. 371 (1696). doi:10.1098/rstb.2015.0169. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-23|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-24">D.S. Mason. ''Spatial scale in prescribed fire regimes: an understudied aspect in conservation with examples from the southeastern United States''. ''Fire Ecology''. 2021. Vol. 17 (1). hlm. 1–14. doi:10.1186/s42408-020-00087-9. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-24|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-25">D.S. Mason. ''Spatial scale in prescribed fire regimes: an understudied aspect in conservation with examples from the southeastern United States''. ''Fire Ecology''. 2021. Vol. 17 (1). hlm. 1–14. doi:10.1186/s42408-020-00087-9. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-25|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-26">Hal K. Rothman. [https://www.google.com/books/edition/Blazing_Heritage/efnnzzMRz98C?hl=en&gbpv=1&pg=PA119&printsec=frontcover Blazing Heritage: A History of Wildland Fire in the National Parks]. Oxford University Press. 12 April 2007. hlm. 119. ISBN 978-0-19-534552-0. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-26|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-27">[https://archive.org/details/ThePrivateLifeOfPlants_581 The Private Life of Plants]. ''Internet Archive''. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-27|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-28">[https://www.ontario.ca/page/forest-fire-management Forest Fire Management]. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-28|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-29">Niveta Jain. [https://aaqr.org/articles/aaqr-13-01-oa-0031 Emission of Air Pollutants from Crop Residue Burning in India]. ''Aerosol and Air Quality Research''. 2014. Vol. 14 (1). hlm. 422–430. doi:10.4209/aaqr.2013.01.0031. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-29|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-30">NATHAN C. GREGORY. [http://dx.doi.org/10.1111/j.1523-1739.2010.01533.x Effects of Controlled Fire and Livestock Grazing on Bird Communities in East African Savannas]. ''Conservation Biology''. 2010-11-11. Vol. 24 (6). hlm. 1606–1616. doi:10.1111/j.1523-1739.2010.01533.x. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-30|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-31">[http://extension.oregonstate.edu/oap/story.php?S_No=80&storyType=oap&page=4] <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-31|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-32">Camilla Mortensen. [http://www.eugeneweekly.com/2008/07/24/coverstory.html Blowing Smoke]. Eugene Weekly. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-32|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-33">[https://www.gov.uk/guidance/guide-to-cross-compliance-in-england-2016/gaec-6-maintaining-the-level-of-organic-matter-in-soil GAEC 6: Maintaining the level of organic matter in soil - Guide to cross compliance in England: 2016 - Guidance - GOV.UK]. ''www.gov.uk''. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-33|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-34">Simon Romero. [https://www.nytimes.com/2022/06/21/us/new-mexico-wildfire-forest-service.html The Government Set a Colossal Wildfire. What Are Victims Owed?]. ''New York Times''. 21 June 2022. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-34|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-35">Inês M. Mirra. ''Fuel dynamics following fire hazard reduction treatments in blue gum ( Eucalyptus globulus ) plantations in Portugal''. ''Forest Ecology and Management''. 2017. Vol. 398. hlm. 185–195. doi:10.1016/j.foreco.2017.05.016. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-35|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-36">[http://www.scotland.gov.uk/Publications/2004/11/20194/46113 Guidance for the controlled burning of heather, grass and other moorland, in Scotland and other moorland, in Scotland]. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-36|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-37">Charles T. Bargeron. [https://www.bugwood.org/pfire/reasons.html Reasons For Prescribed Fire In Forest Resource Management - A Guide for Prescribed Fire in Southern Forests]. ''bugwood.org''. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-37|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-38">Caroline A. Havrilla. ''Understory Plant Community Responses to Fuel-Reduction Treatments and Seeding in an Upland Piñon-Juniper Woodland''. ''Rangeland Ecology & Management''. 2017. Vol. 70 (5). hlm. 609–620. doi:10.1016/j.rama.2017.04.002. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-38|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-39">Sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-39|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-40">Russell-Smith, Jeremy. ''Culture, ecology and economy of fire management in Northern Australia savannas : rekindling the Wurrk tradition / editors: Jeremy Russell-Smith, Peter Whitehead, Peter Cooke''. CSIRO Publishing. 2009. <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-40|↑]]</span></li>
<li id="wu-ref-41">Guidelines for Low Intensity Brush Fire Hazard Reduction http://www.hillside.rfsa.org.au/lowintensityhrburn.pdf Retrieved on May 8, 2016 <span class="mw-cite-backlink">[[#wu-cite-41|↑]]</span></li>
</ol>


== Sumber dan atribusi ==


== Sumber dan atribusi ==
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pembakaran+terkendali&oldid=29463463 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29463463 (2026-07-16T01:53:56Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pembakaran+terkendali&oldid=29463463 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29463463 (2026-07-16T01:53:56Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 28 Agustus 2026 08.57

Penerapan api di hutan pinus ponderosa di timur Washington, Amerika Serikat, untuk memulihkan kesehatan ekosistem

Pembakaran terkendali, juga dikenal sebagai pembakaran pengurangan bahaya (hazard reduction burning),[1] atau burn-off,[2] adalah pembakaran yang sengaja dilakukan untuk tujuan pengelolaan hutan, pemadaman kebakaran, pertanian, restorasi padang rumput, atau pengendalian emisi gas rumah kaca. Api adalah bagian alami dari ekologi hutan dan padang rumput dan kebakaran terkendali dapat menjadi alat bagi rimbawan.

Pengurangan bahaya kebakaran melalui pembakaran terkendali direncanakan dan dilakukan selama bulan-bulan yang lebih dingin untuk mengurangi penumpukan bahan bakar dan mengurangi kemungkinan kebakaran yang lebih serius. Pembakaran yang terkendali merangsang perkecambahan beberapa pohon hutan yang diinginkan, dan membuka lapisan mineral tanah yang dapat meningkatkan vitalitas bibit, sehingga memperbaharui hutan. Beberapa kerucut pinus, seperti pinus lodgepole, sequoia, dan banyak semak kaparal bersifat pyriscent, yang berarti panas dari api membuka kerucut untuk menyebarkan benih.

Di negara industri, pembakaran terkendali biasanya diawasi oleh otoritas pengendalian kebakaran untuk peraturan dan izin.

Sejarah

Ada dua penyebab dasar kebakaran hutan. Yang pertama adalah penyebab alami, terutama melalui petir, dan yang lainnya adalah akibat aktivitas manusia.[3] Kebakaran terkendali memiliki sejarah panjang dalam pengelolaan hutan belantara. Masyarakat pra-pertanian telah memanfaatkan kebakaran yang terkendali untuk mengatur kehidupan tanaman dan hewan. Kajian sejarah kebakaran telah mendokumentasikan kebakaran lahan liar secara berkala yang dilakukan oleh masyarakat adat di Amerika Utara dan Australia.[4][5] Penduduk asli Amerika sering memanfaatkan kebakaran yang terkendali untuk mengelola lingkungan alam dengan cara yang menguntungkan manusia dan satwa liar, memulai kebakaran dengan intensitas rendah yang melepaskan nutrisi untuk tanaman, mengurangi persaingan, dan mengonsumsi bahan mudah terbakar yang berlebih, yang jika dibiarkan dapat memicu kebakaran dengan intensitas bencana.[6][7][8]

Kebakaran, baik yang disebabkan secara alami maupun disengaja, pernah menjadi bagian dari pemandangan alam di banyak daerah. Di AS praktik ini berakhir pada awal abad ke-20, ketika kebijakan kebakaran federal diberlakukan dengan tujuan memadamkan semua kebakaran.[9] Sejak tahun 1995, Dinas Kehutanan AS perlahan memasukkan praktik pembakaran ke dalam kebijakan pengelolaan hutannya.[10]

Pemadaman kebakaran yang terjadi secara alami telah mengubah komposisi dan ekologi habitat Amerika Utara, termasuk ekosistem yang sangat bergantung pada api seperti sabana oak[11][12] dan canebrake,[13][14] yang sekarang menjadi habitat yang terancam punah di ambang kepunahan. Di Amerika Serikat Bagian Timur, pohon yang tidak tahan kebakaran seperti maple merah meningkat jumlahnya, mengorbankan pohon yang toleran kebakaran seperti pohon ek.[15]

Pemanfaatan hutan

Pertimbangan lain adalah masalah pencegahan kebakaran. Di Florida, selama musim kering tahun 1995, bencana kebakaran hutan membakar banyak rumah. Setiap tahun, tambahan serasah daun dan cabang yang jatuh meningkatkan kemungkinan terjadinya kebakaran bertemperatur tinggi dan tidak terkendali.[16]

Pembakaran yang terkendali kadang-kadang dinyalakan menggunakan alat yang dikenal dengan nama driptorch, yang memungkinkan aliran bahan bakar yang menyala diarahkan ke tanah sesuai kebutuhan. Berbagai variasi driptorch bisa digunakan seperti helitorch yang dipasang di helikopter, atau perangkat improvisasi lainnya seperti memasang perangkat mirip driptorch di sisi kendaraan. Perangkat piroteknik yang dikenal sebagai fusee dapat digunakan untuk menyalakan bahan bakar terdekat sementara pistol suar dapat digunakan untuk menyalakan bahan bakar yang lebih jauh.

Untuk pembakaran tebasan, sisa penebangan hutan, ada beberapa jenis pembakaran terkendali. Pembakaran menyebar adalah pembakaran tebasan yang tersebar di wilayah yang luas. Pembakaran tumpukan dilakukan dengan mengumpulkan tebasan menjadi tumpukan sebelum dibakar. Tumpukan yang terbakar ini dapat disebut sebagai api unggun. Temperatur yang tinggi dapat merusak tanah, merusaknya secara fisik, kimia, hingga mensterilkannya. Pembakaran yang menyebar cenderung memiliki suhu yang lebih rendah dan tidak akan merusak tanah sebanyak pembakaran tumpukan,[17] meskipun langkah-langkah dapat diambil untuk merawat tanah setelah terbakar. Dalam pembakaran lop and scatter, tebasan dibiarkan memadat dari waktu ke waktu, atau dipadatkan dengan mesin. Metode ini akan menghasilkan kebakaran dengan intensitas lebih rendah, selama tebasan tidak dipadatkan terlalu rapat.[18]

Pembakaran terkendali mengurangi bahan bakar, dapat meningkatkan habitat satwa liar,[19] mengontrol vegetasi yang bersaing, meningkatkan hijauan jangka pendek untuk penggembalaan, meningkatkan aksesibilitas, membantu mengendalikan penyakit pohon, dan mempertahankan spesies yang bergantung pada siklus kebakaran.[20] Di hutan pinus berdaun panjang dewasa, pembakaran terkendali membantu menjaga habitat burung pelatuk merah yang terancam punah di habitat sandhill dan flatwoods.[21] Kebakaran juga dirasakan sebagai elemen penting pemulihan ular pinus Louisiana yang terancam di hutan pinus berdaun panjang di Louisiana tengah dan Texas timur.[22] Untuk meningkatkan penerapan pembakaran yang terkendali untuk tujuan konservasi, yang mungkin harus meniru kebakaran di masa lampau atau kebakaran alami, para ilmuwan menilai dampak variasi atribut kebakaran.[23] Frekuensi kebakaran adalah atribut kebakaran yang paling banyak dibahas dalam literatur ilmiah, kemungkinan karena dianggap sebagai aspek kebakaran historis yang paling kritis.[24] Ilmuwan lebih jarang melaporkan data tentang efek variasi atribut kebakaran lainnya (yaitu, intensitas, tingkat keparahan, tambalan, skala spasial, atau fenologi), meskipun hal ini kemungkinan juga berdampak pada tujuan konservasi.[25]

Di alam liar, banyak pohon bergantung pada siklus kebakaran sebagai cara yang berhasil untuk menghilangkan persaingan dan untuk melepaskan benihnya. Secara khusus, sequoia raksasa bergantung pada panas kebakaran untuk bereproduksi: bunga kerucut pohon terbuka setelah terpajan panas kebakaran dan melepaskan bijinya, dan di saat yang bersamaan kebakaran telah membersihkan semua vegetasi yang bersaing. Diakibatkan oleh upaya pemadaman kebakaran selama awal dan pertengahan abad ke-20, kebakaran dengan intensitas rendah tidak lagi terjadi secara alami di banyak lokasi, dan masih tidak terjadi di beberapa wilayah saat ini. Pemadaman kebakaran juga menyebabkan penumpukan bahan yang mudah bakar di tanah dan pertumbuhan padat yang menimbulkan risiko bencana kebakaran hutan. Pada tahun 1970-an, National Park Service memulai kebakaran sistematis untuk tujuan pertumbuhan benih baru.[26] Eucalyptus regnans juga bergantung pada siklus kebakaran tetapi dengan cara yang berbeda. Mereka membawa bijinya dalam kapsul yang dapat disimpan kapan saja sepanjang tahun. Karena bersifat mudah terbakar, selama kebakaran kapsul menjatuhkan hampir semua bijinya dan api memakan eukaliptus dewasa, tetapi sebagian besar biji bertahan hidup dengan menggunakan abu sebagai sumber nutrisi; pada tingkat pertumbuhannya, mereka dengan cepat mendominasi tanah dan hutan eukaliptus baru akan tumbuh.[27]

Provinsi Ontario, Kanada menerapkan prosedur dan peraturan keselamatan untuk mengelola dan mengendalikan kebakaran lahan liar. Mereka mengikuti prosedur ini dengan ketat untuk melindungi keselamatan penduduk setempat dan memastikan bahwa api tidak menyebar ke area lain di darat, sehingga melindungi keanekaragaman hayati ekosistem hutan.[28]

Penggunaannya dalam pertanian

Selain pengelolaan hutan, pembakaran terkendali juga digunakan dalam pertanian. Di negara berkembang, pembakaran terkendali sering disebut sebagai tebas dan bakar. Di negara-negara industri, ini dipandang sebagai salah satu komponen perladangan berpindah, sebagai bagian dari persiapan lahan untuk penanaman. Sering disebut pembakaran lahan, teknik ini digunakan untuk membersihkan lahan dari sisa tanaman yang ada serta membunuh gulma dan benih gulma. Pembakaran ladang lebih murah daripada kebanyakan metode lain seperti herbisida atau pengolahan tanah, tetapi karena menghasilkan asap dan polutan terkait kebakaran lainnya, penggunaannya tidak populer di daerah pertanian yang dibatasi oleh perumahan.

Di India Utara, khususnya, Di Punjab dan Haryana, Pembakaran residu tanaman merupakan masalah utama karena menyebabkan degradasi kualitas lingkungan di negara-negara bagian ini dan tetangganya termasuk ibu kota India, New Delhi.[29]

Di Afrika Timur, kepadatan burung meningkat beberapa bulan setelah pembakaran terkendali terjadi.[30]

Kontroversi

Di Oregon, pembakaran ladang telah banyak digunakan oleh petani benih rumput sebagai metode untuk membersihkan ladang untuk penanaman putaran berikutnya, serta merevitalisasi rumput serotinous yang membutuhkan api untuk menumbuhkan benih kembali. Departemen Kualitas Lingkungan Oregon mulai mensyaratkan izin bagi petani untuk membakar ladang mereka pada tahun 1981, tetapi persyaratan menjadi lebih ketat pada tahun 1988 menyusul tabrakan beberapa mobil di mana asap dari pembakaran ladang di dekat Albany, Oregon, mengaburkan penglihatan para pengemudi di Interstate 5, yang menyebabkan tabrakan 23 mobil di mana 7 orang tewas dan 37 luka-luka.[31] Hal ini menyebabkan lebih banyak pengawasan terhadap pembakaran ladang dan usulan untuk melarang pembakaran ladang di negara bagian secara keseluruhan.[32]

Di Uni Eropa, membakar tunggul tanaman setelah panen digunakan oleh petani untuk alasan kesehatan tanaman di bawah beberapa batasan dalam peraturan kepatuhan silang.[33]

Dengan luka bakar yang terkendali, ada juga risiko kebakaran yang tidak terkendali. Misalnya, Kebakaran Calf Canyon/Hermits Peak, kebakaran hutan terbesar dalam sejarah New Mexico, dimulai oleh dua kejadian berbeda dari pembakaran terkendali, yang keduanya dilakukan oleh Dinas Kehutanan AS, lepas kendali dan menyatu.[34]

Prosedur

Bergantung pada konteks dan tujuan pembakaran terkendali yang ditentukan, perencanaan tambahan mungkin diperlukan. Pendorong paling umum penerapan pembakaran terkendali adalah pencegahan hilangnya nyawa manusia, parameter tertentu juga dapat diubah untuk mempromosikan keanekaragaman hayati dan mengatur ulang umur tegakan hutan dengan tepat. Risiko kebakaran yang fatal juga dapat dikurangi secara proaktif dengan mengurangi bahan yang mudah terbakar sebelum mereka dapat membuat rantai bahan bakar dan memulai kebakaran tajuk yang aktif. Prediksi menunjukkan hutan yang menipis akan menyebabkan berkurangnya intensitas kebakaran dan panjang nyala api dibandingkan dengan area yang tidak tersentuh api atau area yang tahan api.[35] Selain itu, perlakuan terhadap kebakaran intensitas rendah dapat diberikan di tempat-tempat di mana perlakuan mekanis seperti pembajakan dengan bajak piring tidak bisa dilakukan.[36] Demi kepentingan konservasi, pemilihan area yang tidak terbakar di dalam kawasan target akan mempertahankan keanekaragaman hayati dan memberikan perlindungan bagi satwa liar. Karena itu, beberapa menyarankan pengurangan bahan yang mudah terbakar sekitar 75% sudah cukup, meskipun setiap rencana pembakaran harus memiliki targetnya sendiri yang ditetapkan oleh tujuan ekologi dan pengelolaan.[37] Di beberapa daerah di mana rerumputan dan tanaman herba tumbuh subur, variasi spesies dan tutupan dapat meningkat secara drastis beberapa tahun setelah perlakuan pembakaran terkendali.[38]

Pengurangan gas rumah kaca

Pembakaran terkendali di sabana Australia dapat menghasilkan pengurangan emisi gas rumah kaca secara keseluruhan. Salah satu contoh yang berhasil adalah Perjanjian Pengelolaan Kebakaran West Arnhem, yang mulai menerapkan "pengelolaan kebakaran strategis di dari Western Arnhem Land" untuk mengimbangi sebagian emisi gas rumah kaca dari pabrik gas alam cair di Darwin, Australia. Dengan sengaja memulai kebakaran terkendali di awal musim kemarau menghasilkan area yang terbakar dan tidak terbakar yang secara keseluruhan mengurangi risiko luasnya area kebakaran akhir musim kemarau yang lebih kuat;[39][40] ini juga dikenal sebagai "pembakaran tambalan". Untuk meminimalkan dampak asap, pembakaran harus dibatasi pada siang hari jika memungkinkan.[41]

Lihat juga

Bacaan lebih lanjut

Pranala luar

Referensi

  1. What is Hazard Reduction. www.hillside.rfsa.org.au.
  2. Nicola Gage. Burn-off rule change upsets Adelaide Hills residents. ABC News. 25 August 2016.
  3. Rachel G. Schneider. Fire Management Study Unit. Georgia Forestry Commission.
  4. R.A. Bradstock. Spatially-explicit simulation of the effect of prescribed burning on fire regimes and plant extinctions in shrublands typical of south-eastern Australia. Biological Conservation. 1998. Vol. 86 (1). hlm. 83–95. doi:10.1016/S0006-3207(97)00170-5.
  5. Scott L. Stephens. Prehistoric fire area and emissions from California's forests, woodlands, shrublands, and grasslands. Forest Ecology and Management. 2007. Vol. 251 (3). hlm. 205–216. doi:10.1016/j.foreco.2007.06.005.
  6. Chapter Introduction: Fire Ecology.
  7. Jane Palmer. Fire as Medicine: Learning from Native American Fire Stewardship. eos.org. 29 March 2021.
  8. Michaela Sten. Fire-Adapted: Plants and Animals Rely on Wildfires for Resilient Ecosystems. defenders.org.
  9. Scott L. Stephens. Prehistoric fire area and emissions from California's forests, woodlands, shrublands, and grasslands. Forest Ecology and Management. 2007. Vol. 251 (3). hlm. 205–216. doi:10.1016/j.foreco.2007.06.005.
  10. Scott L. Stephens. Federal Forest-Fire Policy in the United States. Ecological Applications. 2005. Vol. 15 (2). hlm. 532–542. doi:10.1890/04-0545.
  11. Oak Savannas: characteristics, restoration and long term management. oaksavannas.org.
  12. Barrens and Savannas communities of Wisconsin.
  13. Crystal Cockman. The loss of the great canebrakes. ui.charlotte.edu. UNC Charlotte Urban Institute.
  14. Cory M. Shoemaker. Environmental and landscape factors affecting the continued suppression of canebrakes (Arundinaria gigantea, Poaceae) within restorations of bottomland hardwood forests. The Journal of the Torrey Botanical Society. 2018. Vol. 145 (2). hlm. 156–152. doi:10.3159/TORREY-D-17-00011.1.
  15. Craig Highfield. Foresters' conflicted love for red maple highlights its various roles. bayjournal.com.
  16. Jay P. Sah. Fuel loads, fire regimes, and post-fire fuel dynamics in Florida Keys pine forests. International Journal of Wildland Fire. 2006. Vol. 15 (4). hlm. 463–478. doi:10.1071/wf05100.
  17. Julie E. Korb. Slash Pile Burning Effects on Soil Biotic and Chemical Properties and Plant Establishment: Recommendations for Amelioration. Restoration Ecology. March 2004. Vol. 12 (1). hlm. 52–62. doi:10.1111/j.1061-2971.2004.00304.x.
  18. Julie E. Korb. Slash Pile Burning Effects on Soil Biotic and Chemical Properties and Plant Establishment: Recommendations for Amelioration. Restoration Ecology. March 2004. Vol. 12 (1). hlm. 52–62. doi:10.1111/j.1061-2971.2004.00304.x.
  19. W. E. Palmer. Whither wildlife without fire?. Transactions of the 63rd North American Wildlife and Natural Resources Conference; 1998 March 20–25; Orlando, Fl. Washington, DC: Wildlife Management Institute: 402-414. Treesearch.fs.fed.us. 2011-06-16.
  20. Reasons For Prescribed Fire In Forest Resource Management - A Guide for Prescribed Fire in Southern Forests. Bugwood.org. 2003-03-24.
  21. Red-cockaded Woodpecker.
  22. Louisiana Pine Snake: (Pituophis ruthveni).
  23. D.M. Bowman. Pyrodiversity is the coupling of biodiversity and fire regimes in food webs. Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences. 2016. Vol. 371 (1696). doi:10.1098/rstb.2015.0169.
  24. D.S. Mason. Spatial scale in prescribed fire regimes: an understudied aspect in conservation with examples from the southeastern United States. Fire Ecology. 2021. Vol. 17 (1). hlm. 1–14. doi:10.1186/s42408-020-00087-9.
  25. D.S. Mason. Spatial scale in prescribed fire regimes: an understudied aspect in conservation with examples from the southeastern United States. Fire Ecology. 2021. Vol. 17 (1). hlm. 1–14. doi:10.1186/s42408-020-00087-9.
  26. Hal K. Rothman. Blazing Heritage: A History of Wildland Fire in the National Parks. Oxford University Press. 12 April 2007. hlm. 119. ISBN 978-0-19-534552-0.
  27. The Private Life of Plants. Internet Archive.
  28. Forest Fire Management.
  29. Niveta Jain. Emission of Air Pollutants from Crop Residue Burning in India. Aerosol and Air Quality Research. 2014. Vol. 14 (1). hlm. 422–430. doi:10.4209/aaqr.2013.01.0031.
  30. NATHAN C. GREGORY. Effects of Controlled Fire and Livestock Grazing on Bird Communities in East African Savannas. Conservation Biology. 2010-11-11. Vol. 24 (6). hlm. 1606–1616. doi:10.1111/j.1523-1739.2010.01533.x.
  31. [1]
  32. Camilla Mortensen. Blowing Smoke. Eugene Weekly.
  33. GAEC 6: Maintaining the level of organic matter in soil - Guide to cross compliance in England: 2016 - Guidance - GOV.UK. www.gov.uk.
  34. Simon Romero. The Government Set a Colossal Wildfire. What Are Victims Owed?. New York Times. 21 June 2022.
  35. Inês M. Mirra. Fuel dynamics following fire hazard reduction treatments in blue gum ( Eucalyptus globulus ) plantations in Portugal. Forest Ecology and Management. 2017. Vol. 398. hlm. 185–195. doi:10.1016/j.foreco.2017.05.016.
  36. Guidance for the controlled burning of heather, grass and other moorland, in Scotland and other moorland, in Scotland.
  37. Charles T. Bargeron. Reasons For Prescribed Fire In Forest Resource Management - A Guide for Prescribed Fire in Southern Forests. bugwood.org.
  38. Caroline A. Havrilla. Understory Plant Community Responses to Fuel-Reduction Treatments and Seeding in an Upland Piñon-Juniper Woodland. Rangeland Ecology & Management. 2017. Vol. 70 (5). hlm. 609–620. doi:10.1016/j.rama.2017.04.002.
  39. Sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia.
  40. Russell-Smith, Jeremy. Culture, ecology and economy of fire management in Northern Australia savannas : rekindling the Wurrk tradition / editors: Jeremy Russell-Smith, Peter Whitehead, Peter Cooke. CSIRO Publishing. 2009.
  41. Guidelines for Low Intensity Brush Fire Hazard Reduction http://www.hillside.rfsa.org.au/lowintensityhrburn.pdf Retrieved on May 8, 2016

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29463463 (2026-07-16T01:53:56Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.