Usap nasofaring: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28548073; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Usap nasofaring''' (atau '''kultur nasofaring)''' merupakan sebuah metode untuk mengumpulkan [[Sampel (pengobatan)|sampel]] [[uji klinis]] dari hasil [[sekresi]] hidung atau [[mukus]] yang berlokasi di belakang hidung dan [[Tenggorok|tenggorokan]]. Selanjutnya, sampel dianalisis untuk mengetahui keberadaan organisme atau tanda klinis lainnya sebagai bukti keberadaan penyakit. Metode diagnosis ini biasanya digunakan dalam kasus dicurigai untuk kasus penyakit [[batuk rejan]], [[difteri]], [[influenza]] dan beragam jenis penyakit yang disebabkan oleh [[Famili (biologi)|famili]] [[virus]] [[koronavirus]], seperti [[sindrom pernapasan akut berat]] (SARS), [[sindrom pernapasan Timur Tengah]] (MERS), dan [[penyakit koronavirus 2019]] (COVID-19). | [[File:Diagnosis-image1.jpg|thumb|right|280px|Diagnosis-image1]] | ||
'''Usap nasofaring''' (atau '''kultur nasofaring)''' merupakan sebuah metode untuk mengumpulkan [[Sampel (pengobatan)|sampel]] [[uji klinis]] dari hasil [[sekresi]] hidung atau [[mukus]] yang berlokasi di belakang hidung dan [[Tenggorok|tenggorokan]].<ref>[https://medlineplus.gov/ency/article/003747.htm Nasopharyngeal culture: MedlinePlus Medical Encyclopedia]. ''medlineplus.gov''.</ref><ref>Debra Stang. [https://www.healthline.com/health/nasopharyngeal-culture Nasopharyngeal Culture: Purpose, Procedure, and Treatment]. ''Healthline''. 6 Juni 2012.</ref> Selanjutnya, sampel dianalisis untuk mengetahui keberadaan organisme atau tanda klinis lainnya sebagai bukti keberadaan penyakit. Metode diagnosis ini biasanya digunakan dalam kasus dicurigai untuk kasus penyakit [[batuk rejan]], [[difteri]], [[influenza]] dan beragam jenis penyakit yang disebabkan oleh [[Famili (biologi)|famili]] [[virus]] [[koronavirus]], seperti [[sindrom pernapasan akut berat]] (SARS), [[sindrom pernapasan Timur Tengah]] (MERS), dan [[penyakit koronavirus 2019]] (COVID-19).<ref>Alan Junkins. [https://books.google.co.id/books?id=YP8hBAAAQBAJ&pg=PT97&redir_esc=y#v=onepage&q&f=false Medical Laboratory Technology Vol 2, 2/E]. Tata McGraw-Hill Education. 2010. Vol. 2. hlm. 515. ISBN 978-0-07-007663-1.</ref><ref>[https://www.cdc.gov/pertussis/clinical/diagnostic-testing/specimen-collection.html Specimen Collection]. ''www.cdc.gov''.</ref><ref>Stephanie A. Irving. [http://www.clinmedres.org/content/10/4/215 Comparison of Nasal and Nasopharyngeal Swabs for Influenza Detection in Adults]. ''Clinical Medicine & Research''. 2012. Vol. 10 (4). hlm. 215–218. doi:10.3121/cmr.2012.1084.</ref><ref>[https://www.cdc.gov/flu/pdf/freeresources/healthcare/flu-specimen-collection-guide.pdf Influenza Specimen Collection]. Centers for Disease Control and Prevention.</ref><ref>Richard A Mcpherson. [https://www.worldcat.org/oclc/1030283847 Henry's clinical diagnosis and management by laboratory methods]. Elsevier. 2016. hlm. 1083. ISBN 978-81-312-4677-1.</ref><ref>World Health Organization. [https://apps.who.int/iris/handle/10665/331501 Laboratory testing for coronavirus disease (COVID-19) in suspected human cases: Interim guidance]. ''WHO/COVID-19/laboratory/2020.5''. Organisasi Kesehatan Dunia. 19 Maret 2020.</ref> | |||
== Prosedur == | == Prosedur == | ||
Proses pengambilan sampel dilakukan dengan memasukkan sebuah alat usap yang terdiri dari tangkai dengan ujung yang berfungsi untuk pengambilan sampel ke dalam [[lubang hidung]] dan secara perlahan dimasukkan hingga mencapai [[Faring|nasofaring]]. Nasofaring merupakan bagian dari faring yang menyelimuti bagian langit-langit mulut. Alat usap yang digunakan kemudian diputar untuk beberapa saat agar bisa mengambil mukus, lalu dikeluarkan untuk diletakkan kedalam media transpor yang [[Sterilisasi (mikrobiologi)|steril]] yang berfungsi sebagai penyimpanan sementara untuk analisis selanjutnya. Penyimpanan tidak boleh dilakukan pada media yang dingin bila uji ini dilakukan untuk penyakit [[meningitis]]. Agen penyebab penyakit meningitis, seperti ''[[Neisseria meningitidis]]'' dan ''[[Haemophilus influenzae]]'' sangat rentan untuk terbunuh dan mati pada suhu dingin. | Proses pengambilan sampel dilakukan dengan memasukkan sebuah alat usap yang terdiri dari tangkai dengan ujung yang berfungsi untuk pengambilan sampel ke dalam [[lubang hidung]] dan secara perlahan dimasukkan hingga mencapai [[Faring|nasofaring]]. Nasofaring merupakan bagian dari faring yang menyelimuti bagian langit-langit mulut.<ref>Francisco M. Marty. [https://www.nejm.org/doi/10.1056/NEJMvcm2010260 How to Obtain a Nasopharyngeal Swab Specimen]. ''New England Journal of Medicine''. 2020. doi:10.1056/nejmvcm2010260.</ref> Alat usap yang digunakan kemudian diputar untuk beberapa saat agar bisa mengambil mukus, lalu dikeluarkan untuk diletakkan kedalam media transpor yang [[Sterilisasi (mikrobiologi)|steril]] yang berfungsi sebagai penyimpanan sementara untuk analisis selanjutnya.<ref>Stephanie A. Irving. [http://www.clinmedres.org/content/10/4/215 Comparison of Nasal and Nasopharyngeal Swabs for Influenza Detection in Adults]. ''Clinical Medicine & Research''. 2012. Vol. 10 (4). hlm. 215–218. doi:10.3121/cmr.2012.1084.</ref><ref>[https://www.cdc.gov/flu/pdf/freeresources/healthcare/flu-specimen-collection-guide.pdf Influenza Specimen Collection]. Centers for Disease Control and Prevention.</ref> Penyimpanan tidak boleh dilakukan pada media yang dingin bila uji ini dilakukan untuk penyakit [[meningitis]]. Agen penyebab penyakit meningitis, seperti ''[[Neisseria meningitidis]]'' dan ''[[Haemophilus influenzae]]'' sangat rentan untuk terbunuh dan mati pada suhu dingin.<ref>Alan Junkins. [https://books.google.co.id/books?id=YP8hBAAAQBAJ&pg=PT97&redir_esc=y#v=onepage&q&f=false Medical Laboratory Technology Vol 2, 2/E]. Tata McGraw-Hill Education. 2010. Vol. 2. hlm. 515. ISBN 978-0-07-007663-1.</ref> | ||
== Bahan baku alat usap == | == Bahan baku alat usap == | ||
Alat usap yang digunakan memiliki prinsip yang sama dengan [[kapas pentul]]. Bahan baku yang digunakan biasanya merupakan sebuah tangkai pendek yang terbuat dari tongkat kecil berbahan plastik dengan ujung yang berasal dari bahan yang memiliki sifat [[Adsorpsi|menyerap]], seperti [[kapas]], [[poliester]] dan [[nilon]] yang telah mengalami proses ''[[flocking]]''. (Beberapa tangkai alat usap dibuat dari [[nikrom]] atau kawat [[baja nirkarat]]). Bahan alat usap yang digunakan tergantung dari penerapan diagnosis yang juga beragam tergantung jenis uji yang dilakukan. Beberapa penelitian menunjukkan alat usap yang menggunakan bahan alat usap hasil proses ''flocking'' mengumpulkan jumlah sampel yang lebih banyak dibandingkan alat usap serat. | Alat usap yang digunakan memiliki prinsip yang sama dengan [[kapas pentul]]. Bahan baku yang digunakan biasanya merupakan sebuah tangkai pendek yang terbuat dari tongkat kecil berbahan plastik dengan ujung yang berasal dari bahan yang memiliki sifat [[Adsorpsi|menyerap]], seperti [[kapas]], [[poliester]] dan [[nilon]] yang telah mengalami proses ''[[flocking]]''. (Beberapa tangkai alat usap dibuat dari [[nikrom]] atau kawat [[baja nirkarat]]).<ref>Alan Junkins. [https://books.google.co.id/books?id=YP8hBAAAQBAJ&pg=PT97&redir_esc=y#v=onepage&q&f=false Medical Laboratory Technology Vol 2, 2/E]. Tata McGraw-Hill Education. 2010. Vol. 2. hlm. 515. ISBN 978-0-07-007663-1.</ref><ref>Jenna F. Gritzfeld. [https://doi.org/10.1186/1756-0500-4-122 Comparison between nasopharyngeal swab and nasal wash, using culture and PCR, in the detection of potential respiratory pathogens]. ''BMC Research Notes''. 2011. Vol. 4 (1). hlm. 122. doi:10.1186/1756-0500-4-122.</ref> Bahan alat usap yang digunakan tergantung dari penerapan diagnosis yang juga beragam tergantung jenis uji yang dilakukan. Beberapa penelitian menunjukkan alat usap yang menggunakan bahan alat usap hasil proses ''flocking'' mengumpulkan jumlah sampel yang lebih banyak dibandingkan alat usap serat.<ref>Richard A Mcpherson. [https://www.worldcat.org/oclc/1030283847 Henry's clinical diagnosis and management by laboratory methods]. Elsevier. 2016. hlm. 1083. ISBN 978-81-312-4677-1.</ref><ref>Christina Costa. [https://books.google.co.id/books?id=aZp_AwAAQBAJ&pg=PA166&redir_esc=y#v=onepage&q&f=false Human Respiratory Viral Infections]. CRC Press. 2014. hlm. 166. ISBN 978-1-4665-8320-7.</ref> | ||
== Metode berhubungan == | == Metode berhubungan == | ||
Metode yang sedikit berbeda, tetapi berhubungan dengan metode ini ialah [[aspirasi nasofaring]]. Dibandingkan menggunakan alat usap fisik untuk mengambil sampel dari nasofaring, metode ini menggunakan [[kateter]] yang ditempelkan [[alat suntik]]. Sama dengan metode uji usap, kateter dimasukkan kedalam lubang hidung dan secara perlahan dimasukkan sampai nasofaring yang akan menghasilkan satu hingga tiga milimeter [[larutan garam fisiologi]] yang diikuti dengan aspirasi larutan tersebut bersamaan dengan sel dan mukus kembali ke alat suntik . Metode aspirasi sering digunakan ketika pasien merupakan seorang lansia dan bayi. Metode ini juga digunakan ketika terindikasi efektif untuk jenis uji pada penyakit yang dilakukan uji. | Metode yang sedikit berbeda, tetapi berhubungan dengan metode ini ialah [[aspirasi nasofaring]]. Dibandingkan menggunakan alat usap fisik untuk mengambil sampel dari nasofaring, metode ini menggunakan [[kateter]] yang ditempelkan [[alat suntik]]. Sama dengan metode uji usap, kateter dimasukkan kedalam lubang hidung dan secara perlahan dimasukkan sampai nasofaring yang akan menghasilkan satu hingga tiga milimeter [[larutan garam fisiologi]] yang diikuti dengan aspirasi larutan tersebut bersamaan dengan sel dan mukus kembali ke alat suntik .<ref>Richard A Mcpherson. [https://www.worldcat.org/oclc/1030283847 Henry's clinical diagnosis and management by laboratory methods]. Elsevier. 2016. hlm. 1083. ISBN 978-81-312-4677-1.</ref> Metode aspirasi sering digunakan ketika pasien merupakan seorang lansia dan bayi. Metode ini juga digunakan ketika terindikasi efektif untuk jenis uji pada penyakit yang dilakukan uji.<ref>[https://www.cdc.gov/flu/pdf/freeresources/healthcare/flu-specimen-collection-guide.pdf Influenza Specimen Collection]. Centers for Disease Control and Prevention.</ref><ref>Marta C. Nunes. [https://doi.org/10.1093/cid/ciw521 Comparing the Yield of Nasopharyngeal Swabs, Nasal Aspirates, and Induced Sputum for Detection of Bordetella pertussis in Hospitalized Infants]. ''Clinical Infectious Diseases''. 2016. Vol. 63 (suppl_4). hlm. S181–S186. doi:10.1093/cid/ciw521.</ref> | ||
== Komplikasi yang timbul setelah uji == | == Komplikasi yang timbul setelah uji == | ||
Meskipun, mayoritas uji biasa dilakukan oleh tenaga semi profesional, kemungkinan terjadinya kejadian yang tidak diharapkan tidak menunjukkan kasus yang jarang. Ada beberapa kejadian yang tidak diharapkan terjadi, seperti kasus tertinggalnya alat uji usap di hidung karena pasien yang mengalami uji tidak koperatif dengan sering mengoyangkan kepalanya | Meskipun, mayoritas uji biasa dilakukan oleh tenaga semi profesional, kemungkinan terjadinya kejadian yang tidak diharapkan tidak menunjukkan kasus yang jarang.<ref>Bandik Föh. [http://erj.ersjournals.com/lookup/doi/10.1183/13993003.04004-2020 Complications of nasal and pharyngeal swabs – a relevant challenge of the COVID-19 pandemic?]. ''European Respiratory Journal''. 2020-12-10. hlm. 2004004. doi:10.1183/13993003.04004-2020.</ref> Ada beberapa kejadian yang tidak diharapkan terjadi, seperti kasus tertinggalnya alat uji usap di hidung karena pasien yang mengalami uji tidak koperatif dengan sering mengoyangkan kepalanya <ref>Z. Mughal. [https://www.cambridge.org/core/journals/journal-of-laryngology-and-otology/article/test-test-test-a-complication-of-testing-for-coronavirus-disease-2019-with-nasal-swabs/065684F1383FD65D60FE6CBE3A23D544 Test, test, test – a complication of testing for coronavirus disease 2019 with nasal swabs]. ''The Journal of Laryngology & Otology''. 2020/07. Vol. 134 (7). hlm. 646–649. doi:10.1017/S0022215120001425.</ref> serta kebocoran [[zalir serebrospinal]] setelah melakukan uji usap COVID-19.<ref>Christopher Blake Sullivan. [https://doi.org/10.1001/jamaoto.2020.3579 Cerebrospinal Fluid Leak After Nasal Swab Testing for Coronavirus Disease 2019]. ''JAMA Otolaryngology–Head & Neck Surgery''. 2020-12-01. Vol. 146 (12). hlm. 1179. doi:10.1001/jamaoto.2020.3579.</ref> Ada sebuah kasus komplikasi berupa munculnya bisul pada bagian faring. Kondisi ini muncul karena uji usap berulang yang dilakukan oleh pasien tiap minggu.<ref>Mathilde Lapeyre. [https://doi.org/10.1007/s00134-021-06358-6 Pharyngeal abscess: a rare complication of repeated nasopharyngeal swabs]. ''Intensive Care Medicine''. 2021-02-06. doi:10.1007/s00134-021-06358-6.</ref> | ||
== Diagram == | == Diagram == | ||
== Referensi == | == Referensi == | ||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Usap+nasofaring&oldid=28548073 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28548073 (2025-11-19T10:54:04Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | |||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 28 Agustus 2026 08.58

Usap nasofaring (atau kultur nasofaring) merupakan sebuah metode untuk mengumpulkan sampel uji klinis dari hasil sekresi hidung atau mukus yang berlokasi di belakang hidung dan tenggorokan.[1][2] Selanjutnya, sampel dianalisis untuk mengetahui keberadaan organisme atau tanda klinis lainnya sebagai bukti keberadaan penyakit. Metode diagnosis ini biasanya digunakan dalam kasus dicurigai untuk kasus penyakit batuk rejan, difteri, influenza dan beragam jenis penyakit yang disebabkan oleh famili virus koronavirus, seperti sindrom pernapasan akut berat (SARS), sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS), dan penyakit koronavirus 2019 (COVID-19).[3][4][5][6][7][8]
Prosedur
Proses pengambilan sampel dilakukan dengan memasukkan sebuah alat usap yang terdiri dari tangkai dengan ujung yang berfungsi untuk pengambilan sampel ke dalam lubang hidung dan secara perlahan dimasukkan hingga mencapai nasofaring. Nasofaring merupakan bagian dari faring yang menyelimuti bagian langit-langit mulut.[9] Alat usap yang digunakan kemudian diputar untuk beberapa saat agar bisa mengambil mukus, lalu dikeluarkan untuk diletakkan kedalam media transpor yang steril yang berfungsi sebagai penyimpanan sementara untuk analisis selanjutnya.[10][11] Penyimpanan tidak boleh dilakukan pada media yang dingin bila uji ini dilakukan untuk penyakit meningitis. Agen penyebab penyakit meningitis, seperti Neisseria meningitidis dan Haemophilus influenzae sangat rentan untuk terbunuh dan mati pada suhu dingin.[12]
Bahan baku alat usap
Alat usap yang digunakan memiliki prinsip yang sama dengan kapas pentul. Bahan baku yang digunakan biasanya merupakan sebuah tangkai pendek yang terbuat dari tongkat kecil berbahan plastik dengan ujung yang berasal dari bahan yang memiliki sifat menyerap, seperti kapas, poliester dan nilon yang telah mengalami proses flocking. (Beberapa tangkai alat usap dibuat dari nikrom atau kawat baja nirkarat).[13][14] Bahan alat usap yang digunakan tergantung dari penerapan diagnosis yang juga beragam tergantung jenis uji yang dilakukan. Beberapa penelitian menunjukkan alat usap yang menggunakan bahan alat usap hasil proses flocking mengumpulkan jumlah sampel yang lebih banyak dibandingkan alat usap serat.[15][16]
Metode berhubungan
Metode yang sedikit berbeda, tetapi berhubungan dengan metode ini ialah aspirasi nasofaring. Dibandingkan menggunakan alat usap fisik untuk mengambil sampel dari nasofaring, metode ini menggunakan kateter yang ditempelkan alat suntik. Sama dengan metode uji usap, kateter dimasukkan kedalam lubang hidung dan secara perlahan dimasukkan sampai nasofaring yang akan menghasilkan satu hingga tiga milimeter larutan garam fisiologi yang diikuti dengan aspirasi larutan tersebut bersamaan dengan sel dan mukus kembali ke alat suntik .[17] Metode aspirasi sering digunakan ketika pasien merupakan seorang lansia dan bayi. Metode ini juga digunakan ketika terindikasi efektif untuk jenis uji pada penyakit yang dilakukan uji.[18][19]
Komplikasi yang timbul setelah uji
Meskipun, mayoritas uji biasa dilakukan oleh tenaga semi profesional, kemungkinan terjadinya kejadian yang tidak diharapkan tidak menunjukkan kasus yang jarang.[20] Ada beberapa kejadian yang tidak diharapkan terjadi, seperti kasus tertinggalnya alat uji usap di hidung karena pasien yang mengalami uji tidak koperatif dengan sering mengoyangkan kepalanya [21] serta kebocoran zalir serebrospinal setelah melakukan uji usap COVID-19.[22] Ada sebuah kasus komplikasi berupa munculnya bisul pada bagian faring. Kondisi ini muncul karena uji usap berulang yang dilakukan oleh pasien tiap minggu.[23]
Diagram
Referensi
- ↑ Nasopharyngeal culture: MedlinePlus Medical Encyclopedia. medlineplus.gov.
- ↑ Debra Stang. Nasopharyngeal Culture: Purpose, Procedure, and Treatment. Healthline. 6 Juni 2012.
- ↑ Alan Junkins. Medical Laboratory Technology Vol 2, 2/E. Tata McGraw-Hill Education. 2010. Vol. 2. hlm. 515. ISBN 978-0-07-007663-1.
- ↑ Specimen Collection. www.cdc.gov.
- ↑ Stephanie A. Irving. Comparison of Nasal and Nasopharyngeal Swabs for Influenza Detection in Adults. Clinical Medicine & Research. 2012. Vol. 10 (4). hlm. 215–218. doi:10.3121/cmr.2012.1084.
- ↑ Influenza Specimen Collection. Centers for Disease Control and Prevention.
- ↑ Richard A Mcpherson. Henry's clinical diagnosis and management by laboratory methods. Elsevier. 2016. hlm. 1083. ISBN 978-81-312-4677-1.
- ↑ World Health Organization. Laboratory testing for coronavirus disease (COVID-19) in suspected human cases: Interim guidance. WHO/COVID-19/laboratory/2020.5. Organisasi Kesehatan Dunia. 19 Maret 2020.
- ↑ Francisco M. Marty. How to Obtain a Nasopharyngeal Swab Specimen. New England Journal of Medicine. 2020. doi:10.1056/nejmvcm2010260.
- ↑ Stephanie A. Irving. Comparison of Nasal and Nasopharyngeal Swabs for Influenza Detection in Adults. Clinical Medicine & Research. 2012. Vol. 10 (4). hlm. 215–218. doi:10.3121/cmr.2012.1084.
- ↑ Influenza Specimen Collection. Centers for Disease Control and Prevention.
- ↑ Alan Junkins. Medical Laboratory Technology Vol 2, 2/E. Tata McGraw-Hill Education. 2010. Vol. 2. hlm. 515. ISBN 978-0-07-007663-1.
- ↑ Alan Junkins. Medical Laboratory Technology Vol 2, 2/E. Tata McGraw-Hill Education. 2010. Vol. 2. hlm. 515. ISBN 978-0-07-007663-1.
- ↑ Jenna F. Gritzfeld. Comparison between nasopharyngeal swab and nasal wash, using culture and PCR, in the detection of potential respiratory pathogens. BMC Research Notes. 2011. Vol. 4 (1). hlm. 122. doi:10.1186/1756-0500-4-122.
- ↑ Richard A Mcpherson. Henry's clinical diagnosis and management by laboratory methods. Elsevier. 2016. hlm. 1083. ISBN 978-81-312-4677-1.
- ↑ Christina Costa. Human Respiratory Viral Infections. CRC Press. 2014. hlm. 166. ISBN 978-1-4665-8320-7.
- ↑ Richard A Mcpherson. Henry's clinical diagnosis and management by laboratory methods. Elsevier. 2016. hlm. 1083. ISBN 978-81-312-4677-1.
- ↑ Influenza Specimen Collection. Centers for Disease Control and Prevention.
- ↑ Marta C. Nunes. Comparing the Yield of Nasopharyngeal Swabs, Nasal Aspirates, and Induced Sputum for Detection of Bordetella pertussis in Hospitalized Infants. Clinical Infectious Diseases. 2016. Vol. 63 (suppl_4). hlm. S181–S186. doi:10.1093/cid/ciw521.
- ↑ Bandik Föh. Complications of nasal and pharyngeal swabs – a relevant challenge of the COVID-19 pandemic?. European Respiratory Journal. 2020-12-10. hlm. 2004004. doi:10.1183/13993003.04004-2020.
- ↑ Z. Mughal. Test, test, test – a complication of testing for coronavirus disease 2019 with nasal swabs. The Journal of Laryngology & Otology. 2020/07. Vol. 134 (7). hlm. 646–649. doi:10.1017/S0022215120001425.
- ↑ Christopher Blake Sullivan. Cerebrospinal Fluid Leak After Nasal Swab Testing for Coronavirus Disease 2019. JAMA Otolaryngology–Head & Neck Surgery. 2020-12-01. Vol. 146 (12). hlm. 1179. doi:10.1001/jamaoto.2020.3579.
- ↑ Mathilde Lapeyre. Pharyngeal abscess: a rare complication of repeated nasopharyngeal swabs. Intensive Care Medicine. 2021-02-06. doi:10.1007/s00134-021-06358-6.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28548073 (2025-11-19T10:54:04Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.