Lompat ke isi

Regulasi makroprudensial: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29437271; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 2: Baris 2:


== Sejarah ==
== Sejarah ==
Menurut dokumentasi Clement (2010), istilah “makroprudensial” pertama kali digunakan pada akhir dekade 1970-an dalam dokumen milik Komite Cooke (pendahulu [[Komite Basel|Komite Basel untuk Pengawasan Perbankan]] ) dan [[Bank Inggris|Bank of England]]. Baru pada awal tahun 2000an—setelah dua dekade [[Krisis finansial|krisis keuangan]] berulang di negara-negara industri dan negara-negara pasar berkembang —pendekatan makroprudensial terhadap kerangka regulasi dan pengawasan mulai semakin dipromosikan, khususnya oleh otoritas [[Bank for International Settlements]]. Kesepakatan yang lebih luas mengenai relevansinya telah dicapai sebagai hasil [[Krisis keuangan 2008|krisis keuangan 2007–2008]].
Menurut dokumentasi Clement (2010), istilah “makroprudensial” pertama kali digunakan pada akhir dekade 1970-an dalam dokumen milik Komite Cooke (pendahulu [[Komite Basel|Komite Basel untuk Pengawasan Perbankan]] ) dan [[Bank Inggris|Bank of England]].<ref>Piet Clement. ''The term "macroprudential": origins and evolution''. 2010.</ref> Baru pada awal tahun 2000an—setelah dua dekade [[Krisis finansial|krisis keuangan]] berulang di negara-negara industri dan negara-negara pasar berkembang<ref>Carmen M. Reinhart. [https://archive.org/details/thistimeisdiffer00rein_0 This time is different: Eight centuries of financial folly]. Princeton University Press. 2009. ISBN 9780691142166.</ref> —pendekatan makroprudensial terhadap kerangka regulasi dan pengawasan mulai semakin dipromosikan, khususnya oleh otoritas [[Bank for International Settlements]]. Kesepakatan yang lebih luas mengenai relevansinya telah dicapai sebagai hasil [[Krisis keuangan 2008|krisis keuangan 2007–2008]].


== Tujuan dan Justifikasi ==
== Tujuan dan Justifikasi ==
Tujuan utama regulasi makroprudensial adalah untuk mengurangi risiko dan biaya makroekonomi dari instabilitas keuangan. Regulasi ini dipandang sebagai bagian penting dalam upaya menjembatani kesenjangan antara kebijakan makroekonomi dan regulasi mikroprudensial tradisional di institusi keuangan.
Tujuan utama regulasi makroprudensial adalah untuk mengurangi risiko dan biaya makroekonomi dari instabilitas keuangan. Regulasi ini dipandang sebagai bagian penting dalam upaya menjembatani kesenjangan antara kebijakan makroekonomi dan regulasi mikroprudensial tradisional di institusi keuangan.
 
{| class="wikitable" style="margin-left: auto; margin-right: auto; border: none;"
|+Perbandingan perspektif makro dan mikroprudensial
| style="border: 0px; background: white;" |
! scope="col" style="width: 18em;" | Makroprudensial
! scope="col" style="width: 18em;" | Mikroprudensial
|-
! style="width: 16em; text-align: left;" | Tujuan terdekat
| Membatasi tekanan pada keseluruhan sistem keuangan
| Membatasi tekanan pada lembaga terkait
|-
! style="text-align: left;" | Tujuan akhir
| Menghindari dampak terhadap output (PDB)
| Perlindungan konsumen (investor/nasabah)
|-
! style="text-align: left;" | Karakterisasi Risiko
| Dianggap bergantung pada perilaku kolektif ("endogen")
| Dianggap independen dari perilaku agen individu ("eksogen")
|-
! style="text-align: left;" | Korelasi dan paparan umum di berbagai institusi
| Penting
| irelevan
|-
! style="text-align: left;" | Kalibrasi pengendalian kehati-hatian
| Dipandang secara sistemik; dari atas ke bawah
| Dipandang secara individual; bottom-up
|-
| colspan="3" style="border: 0px; background:white;" | ''Sumber: Borio (2003)''
|}


=== Dasar Teori ===
=== Dasar Teori ===
Secara teoretis, telah dinyatakan bahwa reformasi regulasi prudensial harus mengintegrasikan tiga paradigma yang berbeda, yakni: ''paradigma agensi'', ''paradigma eksternalitas'', dan ''paradigma perubahan suasana hati''. Peran regulasi makroprudensial secara khusus ditekankan oleh dua hal terakhir.
Secara teoretis, telah dinyatakan bahwa reformasi regulasi prudensial harus mengintegrasikan tiga paradigma yang berbeda, yakni:<ref>Augusto de la Torre. ''Regulatory Reform: Integrating Paradigms''. 2010. Vol. Regulatory Reform: Integrating Paradigms (1). hlm. 109-139. doi:10.1111/j.1468-2362.2010.01254.</ref> ''paradigma agensi'', ''paradigma eksternalitas'', dan ''paradigma perubahan suasana hati''. Peran regulasi makroprudensial secara khusus ditekankan oleh dua hal terakhir.


Paradigma agensi menyoroti pentingnya masalah prinsipal–agen. Risiko prinsipal-agen muncul akibat pemisahan kepemilikan dan kontrol atas suatu institusi, yang dapat mendorong perilaku agen yang memegang kendali, yang tidak sejalan dengan kepentingan terbaik para prinsipal (pemilik). Argumen utama dari paradigma ini adalah bahwa dalam perannya sebagai pemberi pinjaman terakhir dan penyedia asuransi simpanan, pemerintah mengubah insentif bank untuk menanggung risiko. Hal ini merupakan manifestasi dari masalah prinsipal-agen yang dikenal sebagai bahaya moral. Secara lebih konkret, ko-eksistensi asuransi simpanan dan portofolio perbankan yang tidak diatur secara memadai mendorong lembaga keuangan mengambil risiko yang berlebihan. Namun, paradigma ini berasumsi bahwa risiko muncul dari kelalaian individu, sehingga bertentangan dengan pendekatan makroprudensial yang kental dengan penekanan sistemiknya.
Paradigma agensi menyoroti pentingnya masalah prinsipal–agen. Risiko prinsipal-agen muncul akibat pemisahan kepemilikan dan kontrol atas suatu institusi, yang dapat mendorong perilaku agen yang memegang kendali, yang tidak sejalan dengan kepentingan terbaik para prinsipal (pemilik). Argumen utama dari paradigma ini adalah bahwa dalam perannya sebagai pemberi pinjaman terakhir dan penyedia asuransi simpanan, pemerintah mengubah insentif bank untuk menanggung risiko. Hal ini merupakan manifestasi dari masalah prinsipal-agen yang dikenal sebagai bahaya moral. Secara lebih konkret, ko-eksistensi asuransi simpanan dan portofolio perbankan yang tidak diatur secara memadai mendorong lembaga keuangan mengambil risiko yang berlebihan.<ref>John H Kareken. [http://www.jstor.org/stable/2352275 Deposit Insurance and Bank Regulation: A Partial-Equilibrium Exposition]. The University of Chicago Press. 1978. Vol. 51 (3). hlm. 413–438. doi:10.1086/296006.</ref> Namun, paradigma ini berasumsi bahwa risiko muncul dari kelalaian individu, sehingga bertentangan dengan pendekatan makroprudensial yang kental dengan penekanan sistemiknya.  


Pada paradigma eksternalitas, konsep kuncinya disebut eksternalitas uang. Hal ini didefinisikan sebagai eksternalitas yang muncul ketika tindakan satu agen ekonomi memengaruhi kesejahteraan agen lain melalui dampaknya pada harga. Seperti yang dikemukakan oleh Greenwald dan Stiglitz (1986), ketika terjadi distorsi dalam perekonomian, intervensi kebijakan dapat menguntungkan semua orang dalam pengertian efisiensi Pareto. Sejumlah penulis telah menunjukan bahwa ketika agen menghadapi kendala pinjaman atau berbagai jenis gesekan keuangan lainnya, eksternalitas finansial dan berbagai distorsi muncul, seperti pinjaman berlebih, pengambilan risiko berlebihan, dan tingkat utang jangka pendek yang berlebihan. Dalam lingkungan ini intervensi makroprudensial dapat meningkatkan efisiensi sosial. Sebuah studi kebijakan dari [[Dana Moneter Internasional]] menyatakan bahwa risiko eksternalitas antara lembaga keuangan terhadap perekonomian riil merupakan [[kegagalan pasar]] yang membenarkan regulasi makroprudensial.
Pada paradigma eksternalitas, konsep kuncinya disebut eksternalitas uang. Hal ini didefinisikan sebagai eksternalitas yang muncul ketika tindakan satu agen ekonomi memengaruhi kesejahteraan agen lain melalui dampaknya pada harga. Seperti yang dikemukakan oleh Greenwald dan Stiglitz (1986),<ref>Bruce Greenwald. ''Externalities in economies with imperfect information and incomplete markets''. 1986. Vol. 101 (2). hlm. 229-264. doi:10.2307/1891114.</ref> ketika terjadi distorsi dalam perekonomian,<ref>[http://www.econport.org/content/handbook/Imperfect-Information.html EconPort - Imperfect Information]. ''www.econport.org''.</ref> intervensi kebijakan dapat menguntungkan semua orang dalam pengertian efisiensi Pareto. Sejumlah penulis telah menunjukan bahwa ketika agen menghadapi kendala pinjaman atau berbagai jenis gesekan keuangan lainnya, eksternalitas finansial dan berbagai distorsi muncul, seperti pinjaman berlebih, pengambilan risiko berlebihan, dan tingkat utang jangka pendek yang berlebihan.<ref>Javier Bianchi. ''Credit Externalities: Macroeconomic Effects and Policy Implications''. 2010. Vol. 100 (2). hlm. 398–402. doi:10.1257/aer.100.2.398.</ref><ref>Anton Korinek. ''The New Economics of Prudential Capital Controls: A Research Agenda''. 2011. Vol. 59. hlm. 523–561. doi:10.1057/imfer.2011.19.</ref> Dalam lingkungan ini intervensi makroprudensial dapat meningkatkan efisiensi sosial. Sebuah studi kebijakan dari [[Dana Moneter Internasional]] menyatakan bahwa risiko eksternalitas antara lembaga keuangan terhadap perekonomian riil merupakan [[kegagalan pasar]] yang membenarkan regulasi makroprudensial.<ref>De Nicolo, G., G. Favara dan L. Ratnovski (2012). Externalities and macroprudential policy, IMF Staff Discussion Note 12/05.</ref>


Dalam paradigma perubahan suasana hati, pandangan Keynes secara kritis memengaruhi perilaku pengelola institusi keuangan, menyebabkan optimisme berlebihan pada saat-saat stabil dan penyesuaian risiko mendadak pada saat buruk. Akibatnya, sinyal harga di [[pasar keuangan]] mungkin tidak efisien dan meningkatkan kemungkinan timbulnya masalah sistemik. Oleh karena itu, pengawas makroprudensial yang berorientasi jangka panjang memiliki peran penting untuk memoderasi ketidakpastian dan tetap waspada terhadap risiko inovasi keuangan.
Dalam paradigma perubahan suasana hati, pandangan Keynes secara kritis memengaruhi perilaku pengelola institusi keuangan, menyebabkan optimisme berlebihan pada saat-saat stabil dan penyesuaian risiko mendadak pada saat buruk. Akibatnya, sinyal harga di [[pasar keuangan]] mungkin tidak efisien dan meningkatkan kemungkinan timbulnya masalah sistemik. Oleh karena itu, pengawas makroprudensial yang berorientasi jangka panjang memiliki peran penting untuk memoderasi ketidakpastian dan tetap waspada terhadap risiko inovasi keuangan.


== Referensi ==
== Referensi ==
 
<references />
 


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Regulasi+makroprudensial&oldid=29437271 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29437271 (2026-07-09T20:38:34Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Regulasi+makroprudensial&oldid=29437271 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29437271 (2026-07-09T20:38:34Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 28 Agustus 2026 09.08

Regulasi makroprudensial merupakan pendekatan regulasi keuangan yang bertujuan untuk memitigasi risiko terhadap sistem keuangan secara menyeluruh (atau "risiko sistemik"). Pasca krisis keuangan 2007–2008, terdapat kesepakatan yang berkembang di kalangan pembuat kebijakan dan ekonom mengenai perlunya mengarahkan kembali kerangka regulasi menuju perspektif makroprudensial.

Sejarah

Menurut dokumentasi Clement (2010), istilah “makroprudensial” pertama kali digunakan pada akhir dekade 1970-an dalam dokumen milik Komite Cooke (pendahulu Komite Basel untuk Pengawasan Perbankan ) dan Bank of England.[1] Baru pada awal tahun 2000an—setelah dua dekade krisis keuangan berulang di negara-negara industri dan negara-negara pasar berkembang[2] —pendekatan makroprudensial terhadap kerangka regulasi dan pengawasan mulai semakin dipromosikan, khususnya oleh otoritas Bank for International Settlements. Kesepakatan yang lebih luas mengenai relevansinya telah dicapai sebagai hasil krisis keuangan 2007–2008.

Tujuan dan Justifikasi

Tujuan utama regulasi makroprudensial adalah untuk mengurangi risiko dan biaya makroekonomi dari instabilitas keuangan. Regulasi ini dipandang sebagai bagian penting dalam upaya menjembatani kesenjangan antara kebijakan makroekonomi dan regulasi mikroprudensial tradisional di institusi keuangan.

Perbandingan perspektif makro dan mikroprudensial
Makroprudensial Mikroprudensial
Tujuan terdekat Membatasi tekanan pada keseluruhan sistem keuangan Membatasi tekanan pada lembaga terkait
Tujuan akhir Menghindari dampak terhadap output (PDB) Perlindungan konsumen (investor/nasabah)
Karakterisasi Risiko Dianggap bergantung pada perilaku kolektif ("endogen") Dianggap independen dari perilaku agen individu ("eksogen")
Korelasi dan paparan umum di berbagai institusi Penting irelevan
Kalibrasi pengendalian kehati-hatian Dipandang secara sistemik; dari atas ke bawah Dipandang secara individual; bottom-up
Sumber: Borio (2003)

Dasar Teori

Secara teoretis, telah dinyatakan bahwa reformasi regulasi prudensial harus mengintegrasikan tiga paradigma yang berbeda, yakni:[3] paradigma agensi, paradigma eksternalitas, dan paradigma perubahan suasana hati. Peran regulasi makroprudensial secara khusus ditekankan oleh dua hal terakhir.

Paradigma agensi menyoroti pentingnya masalah prinsipal–agen. Risiko prinsipal-agen muncul akibat pemisahan kepemilikan dan kontrol atas suatu institusi, yang dapat mendorong perilaku agen yang memegang kendali, yang tidak sejalan dengan kepentingan terbaik para prinsipal (pemilik). Argumen utama dari paradigma ini adalah bahwa dalam perannya sebagai pemberi pinjaman terakhir dan penyedia asuransi simpanan, pemerintah mengubah insentif bank untuk menanggung risiko. Hal ini merupakan manifestasi dari masalah prinsipal-agen yang dikenal sebagai bahaya moral. Secara lebih konkret, ko-eksistensi asuransi simpanan dan portofolio perbankan yang tidak diatur secara memadai mendorong lembaga keuangan mengambil risiko yang berlebihan.[4] Namun, paradigma ini berasumsi bahwa risiko muncul dari kelalaian individu, sehingga bertentangan dengan pendekatan makroprudensial yang kental dengan penekanan sistemiknya.

Pada paradigma eksternalitas, konsep kuncinya disebut eksternalitas uang. Hal ini didefinisikan sebagai eksternalitas yang muncul ketika tindakan satu agen ekonomi memengaruhi kesejahteraan agen lain melalui dampaknya pada harga. Seperti yang dikemukakan oleh Greenwald dan Stiglitz (1986),[5] ketika terjadi distorsi dalam perekonomian,[6] intervensi kebijakan dapat menguntungkan semua orang dalam pengertian efisiensi Pareto. Sejumlah penulis telah menunjukan bahwa ketika agen menghadapi kendala pinjaman atau berbagai jenis gesekan keuangan lainnya, eksternalitas finansial dan berbagai distorsi muncul, seperti pinjaman berlebih, pengambilan risiko berlebihan, dan tingkat utang jangka pendek yang berlebihan.[7][8] Dalam lingkungan ini intervensi makroprudensial dapat meningkatkan efisiensi sosial. Sebuah studi kebijakan dari Dana Moneter Internasional menyatakan bahwa risiko eksternalitas antara lembaga keuangan terhadap perekonomian riil merupakan kegagalan pasar yang membenarkan regulasi makroprudensial.[9]

Dalam paradigma perubahan suasana hati, pandangan Keynes secara kritis memengaruhi perilaku pengelola institusi keuangan, menyebabkan optimisme berlebihan pada saat-saat stabil dan penyesuaian risiko mendadak pada saat buruk. Akibatnya, sinyal harga di pasar keuangan mungkin tidak efisien dan meningkatkan kemungkinan timbulnya masalah sistemik. Oleh karena itu, pengawas makroprudensial yang berorientasi jangka panjang memiliki peran penting untuk memoderasi ketidakpastian dan tetap waspada terhadap risiko inovasi keuangan.

Referensi

  1. Piet Clement. The term "macroprudential": origins and evolution. 2010.
  2. Carmen M. Reinhart. This time is different: Eight centuries of financial folly. Princeton University Press. 2009. ISBN 9780691142166.
  3. Augusto de la Torre. Regulatory Reform: Integrating Paradigms. 2010. Vol. Regulatory Reform: Integrating Paradigms (1). hlm. 109-139. doi:10.1111/j.1468-2362.2010.01254.
  4. John H Kareken. Deposit Insurance and Bank Regulation: A Partial-Equilibrium Exposition. The University of Chicago Press. 1978. Vol. 51 (3). hlm. 413–438. doi:10.1086/296006.
  5. Bruce Greenwald. Externalities in economies with imperfect information and incomplete markets. 1986. Vol. 101 (2). hlm. 229-264. doi:10.2307/1891114.
  6. EconPort - Imperfect Information. www.econport.org.
  7. Javier Bianchi. Credit Externalities: Macroeconomic Effects and Policy Implications. 2010. Vol. 100 (2). hlm. 398–402. doi:10.1257/aer.100.2.398.
  8. Anton Korinek. The New Economics of Prudential Capital Controls: A Research Agenda. 2011. Vol. 59. hlm. 523–561. doi:10.1057/imfer.2011.19.
  9. De Nicolo, G., G. Favara dan L. Ratnovski (2012). Externalities and macroprudential policy, IMF Staff Discussion Note 12/05.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29437271 (2026-07-09T20:38:34Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.