Farmasi: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28445249; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
[[File:42-aspetti_di_vita_quotidiana,_medicine,_Taccuino_Sanitatis.jpg|thumb|right|280px|42-aspetti di vita quotidiana, medicine, Taccuino Sanitatis]] | |||
'''Farmasi''' adalah ilmu yang mempelajari segala seluk-beluk mengenai [[obat]]. Ilmu farmasi adalah terapan dari (sedikitnya) tiga bidang ilmu yaitu [[kedokteran]], [[kimia]], dan [[biologi]]. Ruang lingkup ilmu farmasi tak hanya berfokus pada bidang ilmu eksakta, melainkan juga pada bidang ilmu sosial seperti [[Manajemen Farmasi]] dan [[Farmakoekonomi]]. | '''Farmasi''' adalah ilmu yang mempelajari segala seluk-beluk mengenai [[obat]]. Ilmu farmasi adalah terapan dari (sedikitnya) tiga bidang ilmu yaitu [[kedokteran]], [[kimia]], dan [[biologi]]. Ruang lingkup ilmu farmasi tak hanya berfokus pada bidang ilmu eksakta, melainkan juga pada bidang ilmu sosial seperti [[Manajemen Farmasi]] dan [[Farmakoekonomi]]. | ||
| Baris 10: | Baris 12: | ||
#* Tenaga menengah farmasi/asisten apoteker | #* Tenaga menengah farmasi/asisten apoteker | ||
[[Apoteker]] di Indonesia ditandai dengan adanya gelar apt. di depan nama yang berhak. Dalam pekerjaan kefarmasian, hanya [[apoteker]] yang dapat menjadi penanggung jawab atas segala pekerjaan kefarmasian yang dilakukan. Berbeda dengan [[dokter]] yang mengenakan jas berwarna putih tulang, baju resmi [[apoteker]] saat menjalankan praktiknya adalah jas berwarna putih gading. | [[Apoteker]] di Indonesia ditandai dengan adanya gelar apt. di depan nama yang berhak. Dalam pekerjaan kefarmasian, hanya [[apoteker]] yang dapat menjadi penanggung jawab atas segala pekerjaan kefarmasian yang dilakukan. Berbeda dengan [[dokter]] yang mengenakan jas berwarna putih tulang, baju resmi [[apoteker]] saat menjalankan praktiknya adalah jas berwarna putih gading.<ref>Management Information System-Universitas Surabaya. [http://www.ubaya.ac.id/2018/content/2014/2069/IAI-Minta-Apoteker-Berperan-Cegah-Obat-Ilegal.html IAI Minta Apoteker Berperan Cegah Obat Ilegal]. ''Universitas Surabaya (Ubaya)''.</ref> | ||
Di luar negeri (dalam bahasa Inggris) apoteker disebut sebagai "''pharmacist''", yang di-Indonesia-kan menjadi farmasis. Sebutan farmasis tergolong jarang digunakan dan tidak resmi untuk menyebut para tenaga kefarmasian, tetapi sering kali digunakan untuk merepresentasikan seluruh ahli farmasi yang dihasilkan oleh berbagai tingkatan pendidikan (SMK Farmasi, Diploma Farmasi, Sarjana Farmasi, dan Apoteker). | Di luar negeri (dalam bahasa Inggris) apoteker disebut sebagai "''pharmacist''", yang di-Indonesia-kan menjadi farmasis. Sebutan farmasis tergolong jarang digunakan dan tidak resmi untuk menyebut para tenaga kefarmasian, tetapi sering kali digunakan untuk merepresentasikan seluruh ahli farmasi yang dihasilkan oleh berbagai tingkatan pendidikan (SMK Farmasi, Diploma Farmasi, Sarjana Farmasi, dan Apoteker). | ||
| Baris 22: | Baris 24: | ||
* '''Hippocrates (450-370 SM),''' seorang [[dokter]] dari [[Yunani]] yang sangat dihargai karena secara ilmiah memperkenalkan farmasi dan kedokteran. Selain itu, Hippocrates juga membuat sistematika dalam pengobatan, menyusun uraian tentang ratusan jenis obat-obatan dan dinobatkan sebagai bapak ilmu kedokteran. | * '''Hippocrates (450-370 SM),''' seorang [[dokter]] dari [[Yunani]] yang sangat dihargai karena secara ilmiah memperkenalkan farmasi dan kedokteran. Selain itu, Hippocrates juga membuat sistematika dalam pengobatan, menyusun uraian tentang ratusan jenis obat-obatan dan dinobatkan sebagai bapak ilmu kedokteran. | ||
* '''Dioscorides (abad ke-1 M)''', seorang dokter Yunani yang memiliki keahlian dalam bidang [[botani]]. Beliau juga adalah orang pertama yang menggunakan ilmu tumbuhan sebagai ilmu farmasi terapan dan kemudian menghasilkan karya dengan sebutan ''De Materia Medika. Dioscorides'' mengembangkan ilmu farmakognosi dan menghasilkan obat obatan yang dibuat seperti [[napidium]], [[opium]], [[ergot]], [[hyosciamus]], dan [[cinnamon]]. | * '''Dioscorides (abad ke-1 M)''', seorang dokter Yunani yang memiliki keahlian dalam bidang [[botani]]. Beliau juga adalah orang pertama yang menggunakan ilmu tumbuhan sebagai ilmu farmasi terapan dan kemudian menghasilkan karya dengan sebutan ''De Materia Medika. Dioscorides'' mengembangkan ilmu farmakognosi dan menghasilkan obat obatan yang dibuat seperti [[napidium]], [[opium]], [[ergot]], [[hyosciamus]], dan [[cinnamon]]. | ||
* '''Galen (120-130 M)''', seorang dokter dan ahli farmasi bangsa Yunani yang berkewarganegaraan [[romawi]]. Galen terkenal setelah menciptakan sistem pengobatan, [[fisiologi]], dan [[patologi]] yang merumuskan kaidah-kaidah yang banyak diikuti selama 1500 tahun. Galen juga dinobatkan sebagai pengarang buku terbanyak di zamannya dan meraih penghargaan untuk 500 bukunya tentang ilmu kedokteran-farmasi serta 250 buku lainnya tentang [[filsafat]], [[hukum]], maupun [[tata]] [[bahasa]]. Hasil karyanya di bidang farmasi uraian mengenai penyediaan obat yang sekarang dikenal dengan sebutan farmasi ''galenik''. | * '''Galen (120-130 M)''', seorang dokter dan ahli farmasi bangsa Yunani yang berkewarganegaraan [[romawi]]. Galen terkenal setelah menciptakan sistem pengobatan, [[fisiologi]], dan [[patologi]] yang merumuskan kaidah-kaidah yang banyak diikuti selama 1500 tahun. Galen juga dinobatkan sebagai pengarang buku terbanyak di zamannya dan meraih penghargaan untuk 500 bukunya tentang ilmu kedokteran-farmasi serta 250 buku lainnya tentang [[filsafat]], [[hukum]], maupun [[tata]] [[bahasa]]. Hasil karyanya di bidang farmasi uraian mengenai penyediaan obat yang sekarang dikenal dengan sebutan farmasi ''galenik''.<ref>Haeria. [http://repositori.uin-alauddin.ac.id/7289/1/BUKU%20DARAS%20PIF.pdf PENGANTAR ILMU FARMASI Haeria]. ''webcache.googleusercontent.com''. 2017.</ref> | ||
== Disiplin Ilmu == | == Disiplin Ilmu == | ||
Selain itu, farmasi juga mempelajari pengembangan ilmu dan [[teknologi]] pembuatan obat dalam bentuk sediaan yang dapat digunakan untuk menyembuhkan kondisi [[pasien]]. Ruang lingkup dari praktik farmasi termasuk praktik farmasi [[tradisional]] seperti peracikan dan penyediaan sediaan obat, serta pelayanan farmasi [[modern]] yang berhubungan dengan layanan terhadap [[pasien]] (''patient care'') di antaranya layanan [[klinik]], evaluasi [[efikasi]] dan keamanan penggunaan obat, dan penyediaan informasi obat. | Selain itu, farmasi juga mempelajari pengembangan ilmu dan [[teknologi]] pembuatan obat dalam bentuk sediaan yang dapat digunakan untuk menyembuhkan kondisi [[pasien]].<ref>Rini Inggriani. [https://books.google.co.id/books?id=RRlIDwAAQBAJ&pg=PA31&dq=farmasi+adalah&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjwgOKb8PzrAhWZWX0KHbVzAW0Q6AEwAHoECAQQAg#v=onepage&q=farmasi%20adalah&f=false Kuliah Jurusan Apa? Jurusan Farmasi]. Gramedia Pustaka Utama. 2016-02-20. hlm. 30. ISBN 978-602-03-2609-2.</ref> Ruang lingkup dari praktik farmasi termasuk praktik farmasi [[tradisional]] seperti peracikan dan penyediaan sediaan obat, serta pelayanan farmasi [[modern]] yang berhubungan dengan layanan terhadap [[pasien]] (''patient care'') di antaranya layanan [[klinik]], evaluasi [[efikasi]] dan keamanan penggunaan obat, dan penyediaan informasi obat.<ref>[https://books.google.co.id/books?id=rLWvvfL8-BcC&pg=PA4&dq=farmasi+adalah&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjwgOKb8PzrAhWZWX0KHbVzAW0Q6AEwAXoECAAQAg#v=onepage&q=farmasi%20adalah&f=false Farmasetika Dasar & Hitungan Farmasi]. EGC. ISBN 978-979-448-777-8.</ref> | ||
== | |||
== Lihat juga == | == Lihat juga == | ||
| Baris 50: | Baris 49: | ||
== Pranala luar == | == Pranala luar == | ||
* | |||
* | |||
* | |||
* | |||
* [https://pafiprovinsi.org/ Website PAFI Provinsi] | * [https://pafiprovinsi.org/ Website PAFI Provinsi] | ||
== Referensi == | |||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
== | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Farmasi&oldid=28445249 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28445249 (2025-11-13T05:16:35Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 28 Agustus 2026 09.12

Farmasi adalah ilmu yang mempelajari segala seluk-beluk mengenai obat. Ilmu farmasi adalah terapan dari (sedikitnya) tiga bidang ilmu yaitu kedokteran, kimia, dan biologi. Ruang lingkup ilmu farmasi tak hanya berfokus pada bidang ilmu eksakta, melainkan juga pada bidang ilmu sosial seperti Manajemen Farmasi dan Farmakoekonomi.
Sesuai regulasi yang diatur pada Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian , pekerjaan kefarmasian merupakan pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusi atau penyaluranan obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional. Diatur pula dalam regulasi tersebut bahwa pekerjaan kefarmasian tersebut hanya berhak dilakukan oleh para tenaga kefarmasian yang terdiri dari:
- Apoteker (apt.)
- Tenaga teknis kefarmasian, yang terdiri dari:
- Sarjana farmasi (S.Farm.)
- Ahli madya farmasi (A.Md.Farm.)
- Analis farmasi
- Tenaga menengah farmasi/asisten apoteker
Apoteker di Indonesia ditandai dengan adanya gelar apt. di depan nama yang berhak. Dalam pekerjaan kefarmasian, hanya apoteker yang dapat menjadi penanggung jawab atas segala pekerjaan kefarmasian yang dilakukan. Berbeda dengan dokter yang mengenakan jas berwarna putih tulang, baju resmi apoteker saat menjalankan praktiknya adalah jas berwarna putih gading.[1]
Di luar negeri (dalam bahasa Inggris) apoteker disebut sebagai "pharmacist", yang di-Indonesia-kan menjadi farmasis. Sebutan farmasis tergolong jarang digunakan dan tidak resmi untuk menyebut para tenaga kefarmasian, tetapi sering kali digunakan untuk merepresentasikan seluruh ahli farmasi yang dihasilkan oleh berbagai tingkatan pendidikan (SMK Farmasi, Diploma Farmasi, Sarjana Farmasi, dan Apoteker).
Etimologi
"Farmasi" merupakan kata serapan dari bahasa Inggris "pharmacy". Sedangkan, kata "pharmacy" sendiri mengakar dari kata "pharmacon" yang merupakan sebutan bangsa Yunani Kuno untuk "obat". "Farmacie" (bahasa Prancis) dan "pharmakeia" (bahasa Latin) adalah bentuk-bentuk awal lainnya dari sejarah kata "farmasi".
Sejarah
Sejarah farmasi dan kedokteran sangat dipengaruhi oleh para tokoh seperti Hippocrates (450-370 SM), Dioscorides (abad ke-1 M), dan Galen (120-130 M).
- Hippocrates (450-370 SM), seorang dokter dari Yunani yang sangat dihargai karena secara ilmiah memperkenalkan farmasi dan kedokteran. Selain itu, Hippocrates juga membuat sistematika dalam pengobatan, menyusun uraian tentang ratusan jenis obat-obatan dan dinobatkan sebagai bapak ilmu kedokteran.
- Dioscorides (abad ke-1 M), seorang dokter Yunani yang memiliki keahlian dalam bidang botani. Beliau juga adalah orang pertama yang menggunakan ilmu tumbuhan sebagai ilmu farmasi terapan dan kemudian menghasilkan karya dengan sebutan De Materia Medika. Dioscorides mengembangkan ilmu farmakognosi dan menghasilkan obat obatan yang dibuat seperti napidium, opium, ergot, hyosciamus, dan cinnamon.
- Galen (120-130 M), seorang dokter dan ahli farmasi bangsa Yunani yang berkewarganegaraan romawi. Galen terkenal setelah menciptakan sistem pengobatan, fisiologi, dan patologi yang merumuskan kaidah-kaidah yang banyak diikuti selama 1500 tahun. Galen juga dinobatkan sebagai pengarang buku terbanyak di zamannya dan meraih penghargaan untuk 500 bukunya tentang ilmu kedokteran-farmasi serta 250 buku lainnya tentang filsafat, hukum, maupun tata bahasa. Hasil karyanya di bidang farmasi uraian mengenai penyediaan obat yang sekarang dikenal dengan sebutan farmasi galenik.[2]
Disiplin Ilmu
Selain itu, farmasi juga mempelajari pengembangan ilmu dan teknologi pembuatan obat dalam bentuk sediaan yang dapat digunakan untuk menyembuhkan kondisi pasien.[3] Ruang lingkup dari praktik farmasi termasuk praktik farmasi tradisional seperti peracikan dan penyediaan sediaan obat, serta pelayanan farmasi modern yang berhubungan dengan layanan terhadap pasien (patient care) di antaranya layanan klinik, evaluasi efikasi dan keamanan penggunaan obat, dan penyediaan informasi obat.[4]
Lihat juga
- Farmakologi
- Farmakoterapi
- Farmasi Klinik
- Farmasetika
- Teknologi Farmasi
- Sediaan Farmasi
- Biofarmasetika
- Farmakokinetika
- Farmasi Fisika
- Kimia Farmasi
- Farmakognosi
- Kimia Medisinal
- Sistem Manajemen Farmasi
- Farmasi Sosial
- Regulatory Affairs
- Pemasaran dan Distribusi Farmasi
- Persatuan Ahli Farmasi Indonesia
Pranala luar
Referensi
- ↑ Management Information System-Universitas Surabaya. IAI Minta Apoteker Berperan Cegah Obat Ilegal. Universitas Surabaya (Ubaya).
- ↑ Haeria. PENGANTAR ILMU FARMASI Haeria. webcache.googleusercontent.com. 2017.
- ↑ Rini Inggriani. Kuliah Jurusan Apa? Jurusan Farmasi. Gramedia Pustaka Utama. 2016-02-20. hlm. 30. ISBN 978-602-03-2609-2.
- ↑ Farmasetika Dasar & Hitungan Farmasi. EGC. ISBN 978-979-448-777-8.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28445249 (2025-11-13T05:16:35Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.