Lompat ke isi

Penangkapan ikan dengan sianida: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29476436; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Penangkapan ikan dengan sianida''', yang dikenal sebagai ''cyanide fishing,'' merupakan metode pengumpulan [[ikan]] hidup dengan cara menyemprotkan larutan [[natrium sianida]] ke [[habitat laut]] untuk melumpuhkan sasaran agar mudah ditangkap. Teknik ini digunakan untuk memperoleh ikan hidup yang kemudian dijual sebagai [[ikan hias]] atau ikan konsumsi. Penggunaan sianida tersebut tidak hanya memengaruhi ikan yang ditangkap, tetapi juga organisme laut lainnya dan [[ekosistem terumbu karang]] di mana praktik ini dilakukan.
'''Penangkapan ikan dengan sianida''', yang dikenal sebagai ''cyanide fishing,'' merupakan metode pengumpulan [[ikan]] hidup dengan cara menyemprotkan larutan [[natrium sianida]] ke [[habitat laut]] untuk melumpuhkan sasaran agar mudah ditangkap. Teknik ini digunakan untuk memperoleh ikan hidup yang kemudian dijual sebagai [[ikan hias]] atau ikan konsumsi. Penggunaan sianida tersebut tidak hanya memengaruhi ikan yang ditangkap, tetapi juga organisme laut lainnya dan [[ekosistem terumbu karang]] di mana praktik ini dilakukan.<ref>[https://www.scientificamerican.com/article/cyanide-fishing/ How Dangerous Is It to Use Cyanide to Catch Fish?]. ''Scientific American''.</ref><ref>[https://www.wri.org/data/destructive-fishing-widespread-southeast-asia Destructive Fishing is Widespread in Southeast Asia World Resources Institute]. ''www.wri.org''.</ref><ref>[https://www.nationalgeographic.com/animals/article/wildlife-watch-cyanide-test-marine-aquarium-fish ‘Holy Grail' Test for Illegal Cyanide-Caught Aquarium Fish May Be Fatally Flawed]. ''Animals''. 2025-11-01.</ref>


== Sejarah ==
== Sejarah ==
[[Metode penangkapan ikan]] dengan sianida pertama kali dilaporkan muncul di wilayah [[Filipina]] pada tahun 1960-an sebagai respon terhadap permintaan internasional untuk ikan hias hidup. Seiring waktu, teknik ini meluas ke negara-negara [[Asia Tenggara]] lainnya termasuk [[Indonesia]], [[Thailand]], [[Malaysia]], [[Vietnam]], serta wilayah [[Samudra Hindia]] seperti [[Maladewa]]. Sebagai contoh, laporan menyebut bahwa penggunaan sianida telah berlangsung sejak 1960-an di Filipina dan lebih dari satu juta kilogram sianida telah disemprotkan ke [[terumbu karang]] di kawasan tersebut.
[[Metode penangkapan ikan]] dengan sianida pertama kali dilaporkan muncul di wilayah [[Filipina]] pada tahun 1960-an sebagai respon terhadap permintaan internasional untuk ikan hias hidup.<ref>[https://philippinereporter.com/index.php/2011/09/09/earthtalk-cyanide-fishing/ EARTHTALK: Cyanide fishing]. ''The Philippine Reporter''.</ref> Seiring waktu, teknik ini meluas ke negara-negara [[Asia Tenggara]] lainnya termasuk [[Indonesia]], [[Thailand]], [[Malaysia]], [[Vietnam]], serta wilayah [[Samudra Hindia]] seperti [[Maladewa]]. Sebagai contoh, laporan menyebut bahwa penggunaan sianida telah berlangsung sejak 1960-an di Filipina dan lebih dari satu juta kilogram sianida telah disemprotkan ke [[terumbu karang]] di kawasan tersebut.<ref>Sunnexdesk. [https://www.sunstar.com.ph/more-articles/cyanide-fishing-lethal-weapon Cyanide fishing: Lethal weapon]. ''SunStar Publishing Inc''. 2012-09-08.</ref><ref>Charles Victor Barber and Vaughan R. Pratt. [https://www.wri.org/research/sullied-seas Sullied Seas]. 1997-01-08. ISBN 978-1-56973-220-5.</ref>


== Tujuan Penangkapan ==
== Tujuan Penangkapan ==
Metode ini awalnya digunakan untuk memenuhi pasar [[ikan hias]] laut, namun kemudian juga berkembang untuk menangkap ikan hidup besar untuk konsumsi restoran. Beberapa spesies yang sering ditangkap melalui metode sianida meliputi ikan [[kerapu]] (''grouper''), wrasse, dan [[Forel|trout]] karang (''coral trout'') yang memiliki nilai tinggi di pasar. Laporan menyebut bahwa dalam perdagangan ikan hidup di Asia Tenggara, sebagian besar ikan hidup yang diperdagangkan adalah untuk konsumsi restoran kelas atas.
Metode ini awalnya digunakan untuk memenuhi pasar [[ikan hias]] laut, namun kemudian juga berkembang untuk menangkap ikan hidup besar untuk konsumsi restoran.<ref>[https://oneocean.org/overseas/apr99/cleansing_our_seas.html OVER SEAS -- Cleansing Our Seas of a Poison Tide -- April 1999]. ''oneocean.org''.</ref> Beberapa spesies yang sering ditangkap melalui metode sianida meliputi ikan [[kerapu]] (''grouper''), wrasse, dan [[Forel|trout]] karang (''coral trout'') yang memiliki nilai tinggi di pasar.<ref>Joyce Chepkemoi in Environment. [https://www.worldatlas.com/articles/the-horrors-of-cyanide-fishing.html The Horrors Of Cyanide Fishing]. ''WorldAtlas''. 2017-04-25.</ref> Laporan menyebut bahwa dalam perdagangan ikan hidup di Asia Tenggara, sebagian besar ikan hidup yang diperdagangkan adalah untuk konsumsi restoran kelas atas.<ref>Charles Victor Barber and Vaughan R. Pratt. [https://www.wri.org/research/sullied-seas Sullied Seas]. 1997-01-08. ISBN 978-1-56973-220-5.</ref>


== Nilai Ekonomi ==
== Nilai Ekonomi ==
Menurut laporan dari ''World Resources Institute'' (WRI), sekitar 20% dari ikan hidup yang diperdagangkan di pasar Filipina pada tahun 1996 ditangkap dengan sianida. Laporan lain memperkirakan bahwa volume perdagangan ikan hidup konsumsi di Asia pada pertengahan 1990-an mencapai 20.000 hingga 25.000 ton metrik per tahun, dengan nilai ritel sekitar 1 miliar US dollar. Untuk perdagangan ikan hias, pada pertengahan 1980-an di Filipina lebih dari 80% ikan hias untuk ekspor dikumpulkan menggunakan sianida, di Indonesia pada pertengahan 1990-an diperkirakan sekitar 90% kapal yang membawa ikan hidup memiliki sianida di atas kapal.
Menurut laporan dari ''World Resources Institute'' (WRI), sekitar 20% dari ikan hidup yang diperdagangkan di pasar Filipina pada tahun 1996 ditangkap dengan sianida.<ref>[https://www.scientificamerican.com/article/cyanide-fishing/ How Dangerous Is It to Use Cyanide to Catch Fish?]. ''Scientific American''.</ref><ref>[https://www.wri.org/data/destructive-fishing-widespread-southeast-asia Destructive Fishing is Widespread in Southeast Asia World Resources Institute]. ''www.wri.org''.</ref> Laporan lain memperkirakan bahwa volume perdagangan ikan hidup konsumsi di Asia pada pertengahan 1990-an mencapai 20.000 hingga 25.000 ton metrik per tahun, dengan nilai ritel sekitar 1 miliar US dollar. Untuk perdagangan ikan hias, pada pertengahan 1980-an di Filipina lebih dari 80% ikan hias untuk ekspor dikumpulkan menggunakan sianida, di Indonesia pada pertengahan 1990-an diperkirakan sekitar 90% kapal yang membawa ikan hidup memiliki sianida di atas kapal.<ref>[https://taskforce.coralreef.noaa.gov/international/mainb.html INTERNATIONAL WORKING GROUP DRAFT REPORT]. ''taskforce.coralreef.noaa.gov''.</ref><ref>Wabnitz, C., Taylor, M., Green, E., & Razak, T. (2003). ''From Ocean to Aquarium: The Global Trade in Marine Ornamental Species''. UNEP World Conservation Monitoring Centre. Dikses secara daring dari https://wedocs.unep.org/bitstream/handle/20.500.11822/8341/-From%20Ocean%20to%20Aquarium%20_%20The%20Global%20Trade%20in%20Marine%20Ornamental%20Species-20033641.pdf</ref>


== Dampak ==
== Dampak ==
=== Lingkungan dan ekologis ===
=== Lingkungan dan ekologis ===
Penggunaan sianida dalam penangkapan ikan berdampak langsung terhadap [[Fisiologi hewan|fisiologi]] ikan yang tersentuh [[racun]], serta menyebabkan kerusakan pada karang dan organisme lain yang hidup di terumbu karang. Paparan sianida dapat mengakibatkan kematian [[Polip (cnidaria)|polip]] karang dengan mengganggu hubungan [[Simbiosis|simbiotik]] antara polip dan ''alga [[zooxanthellae]]'' yang hidup di dalam jaringan karang, yang esensial bagi kelangsungan hidup dan pertumbuhan karang.
Penggunaan sianida dalam penangkapan ikan berdampak langsung terhadap [[Fisiologi hewan|fisiologi]] ikan yang tersentuh [[racun]], serta menyebabkan kerusakan pada karang dan organisme lain yang hidup di terumbu karang. Paparan sianida dapat mengakibatkan kematian [[Polip (cnidaria)|polip]] karang dengan mengganggu hubungan [[Simbiosis|simbiotik]] antara polip dan ''alga [[zooxanthellae]]'' yang hidup di dalam jaringan karang, yang esensial bagi kelangsungan hidup dan pertumbuhan karang.<ref>[https://wwf.panda.org/wwf_news/?5563/Cyanide-an-easy-but-deadly-way-to-catch-fish Cyanide: an easy but deadly way to catch fish]. ''wwf.panda.org''.</ref>


Selain itu, laporan WRI menunjukkan bahwa wilayah-wilayah terumbu karang yang tampak masih alami atau relatif bebas dari ancaman [[sedimentasi]] dan pembangunan pesisir sering menjadi sasaran praktik penangkapan ikan menggunakan sianida. Situasi ini meningkatkan tingkat kerusakan pada ekosistem terumbu karang yang sudah berada dalam kondisi terancam di kawasan Asia Tenggara. Di wilayah tersebut, hanya sekitar 1% terumbu karang yang dikategorikan berada pada risiko rendah, sedangkan sisanya menunjukkan kerentanan tinggi terhadap tekanan lingkungan dan aktivitas manusia.
Selain itu, laporan WRI menunjukkan bahwa wilayah-wilayah terumbu karang yang tampak masih alami atau relatif bebas dari ancaman [[sedimentasi]] dan pembangunan pesisir sering menjadi sasaran praktik penangkapan ikan menggunakan sianida. Situasi ini meningkatkan tingkat kerusakan pada ekosistem terumbu karang yang sudah berada dalam kondisi terancam di kawasan Asia Tenggara. Di wilayah tersebut, hanya sekitar 1% terumbu karang yang dikategorikan berada pada risiko rendah, sedangkan sisanya menunjukkan kerentanan tinggi terhadap tekanan lingkungan dan aktivitas manusia.<ref>Lauretta Burke (WRI). [https://wri-indonesia.org/en/publications/reefs-risk-southeast-asia Reefs at Risk in Southeast Asia]. 2015-04-01. ISBN 978-1-56973-490-2.</ref>


=== Rantai Pasok ===
=== Rantai Pasok ===
Ikan yang ditangkap dengan sianida umumnya mengalami tingkat kematian lebih tinggi selama dan setelah penangkapan dibandingkan dengan metode yang lebih ramah lingkungan. Sebuah uji laboratorium menunjukkan bahwa dari ikan ekspor yang diuji, 25% ikan hias dari Filipina menunjukkan bukti paparan sianida dan 44% ikan besar kategori ikan konsumsi hidup yang ditangkap dari terumbu karang (''live reef food fish)'' menunjukkan bukti serupa. Proses penanganan pasca-tangkap dan [[stres]] yang dialami ikan induksi sianida menyebabkan masa hidup yang lebih pendek ketika dipelihara di [[akuarium]].
Ikan yang ditangkap dengan sianida umumnya mengalami tingkat kematian lebih tinggi selama dan setelah penangkapan dibandingkan dengan metode yang lebih ramah lingkungan.<ref>Hakai Magazine. [https://hakaimagazine.com/article-short/aquarium-fish-hold-the-cyanide/ Aquarium Fish, Hold the Cyanide]. ''Hakai Magazine''.</ref> Sebuah uji laboratorium menunjukkan bahwa dari ikan ekspor yang diuji, 25% ikan hias dari Filipina menunjukkan bukti paparan sianida dan 44% ikan besar kategori ikan konsumsi hidup yang ditangkap dari terumbu karang (''live reef food fish)'' menunjukkan bukti serupa.<ref>Thornhill, D. J. (2012, Desember 12). ''Ecological Impacts and Practices of the Coral Reef Wildlife Trade''. Defenders of Wildlife. Diakses secara daring dari https://www.defenders.org/sites/default/files/publications/ecological-impacts-and-practices-of-the-coral-reef-wildlife-trade.pdf</ref> Proses penanganan pasca-tangkap dan [[stres]] yang dialami ikan induksi sianida menyebabkan masa hidup yang lebih pendek ketika dipelihara di [[akuarium]].<ref>[https://www.nationalgeographic.com/animals/article/wildlife-watch-cyanide-test-marine-aquarium-fish ‘Holy Grail' Test for Illegal Cyanide-Caught Aquarium Fish May Be Fatally Flawed]. ''Animals''. 2025-11-01.</ref><ref>Wabnitz, C., Taylor, M., Green, E., & Razak, T. (2003). ''From Ocean to Aquarium: The Global Trade in Marine Ornamental Species''. UNEP World Conservation Monitoring Centre. Dikses secara daring dari https://wedocs.unep.org/bitstream/handle/20.500.11822/8341/-From%20Ocean%20to%20Aquarium%20_%20The%20Global%20Trade%20in%20Marine%20Ornamental%20Species-20033641.pdf</ref>


== Referensi ==
== Referensi ==
 
<references />
 


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Penangkapan+ikan+dengan+sianida&oldid=29476436 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29476436 (2026-07-19T15:24:38Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Penangkapan+ikan+dengan+sianida&oldid=29476436 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29476436 (2026-07-19T15:24:38Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 29 Agustus 2026 04.04

Penangkapan ikan dengan sianida, yang dikenal sebagai cyanide fishing, merupakan metode pengumpulan ikan hidup dengan cara menyemprotkan larutan natrium sianida ke habitat laut untuk melumpuhkan sasaran agar mudah ditangkap. Teknik ini digunakan untuk memperoleh ikan hidup yang kemudian dijual sebagai ikan hias atau ikan konsumsi. Penggunaan sianida tersebut tidak hanya memengaruhi ikan yang ditangkap, tetapi juga organisme laut lainnya dan ekosistem terumbu karang di mana praktik ini dilakukan.[1][2][3]

Sejarah

Metode penangkapan ikan dengan sianida pertama kali dilaporkan muncul di wilayah Filipina pada tahun 1960-an sebagai respon terhadap permintaan internasional untuk ikan hias hidup.[4] Seiring waktu, teknik ini meluas ke negara-negara Asia Tenggara lainnya termasuk Indonesia, Thailand, Malaysia, Vietnam, serta wilayah Samudra Hindia seperti Maladewa. Sebagai contoh, laporan menyebut bahwa penggunaan sianida telah berlangsung sejak 1960-an di Filipina dan lebih dari satu juta kilogram sianida telah disemprotkan ke terumbu karang di kawasan tersebut.[5][6]

Tujuan Penangkapan

Metode ini awalnya digunakan untuk memenuhi pasar ikan hias laut, namun kemudian juga berkembang untuk menangkap ikan hidup besar untuk konsumsi restoran.[7] Beberapa spesies yang sering ditangkap melalui metode sianida meliputi ikan kerapu (grouper), wrasse, dan trout karang (coral trout) yang memiliki nilai tinggi di pasar.[8] Laporan menyebut bahwa dalam perdagangan ikan hidup di Asia Tenggara, sebagian besar ikan hidup yang diperdagangkan adalah untuk konsumsi restoran kelas atas.[9]

Nilai Ekonomi

Menurut laporan dari World Resources Institute (WRI), sekitar 20% dari ikan hidup yang diperdagangkan di pasar Filipina pada tahun 1996 ditangkap dengan sianida.[10][11] Laporan lain memperkirakan bahwa volume perdagangan ikan hidup konsumsi di Asia pada pertengahan 1990-an mencapai 20.000 hingga 25.000 ton metrik per tahun, dengan nilai ritel sekitar 1 miliar US dollar. Untuk perdagangan ikan hias, pada pertengahan 1980-an di Filipina lebih dari 80% ikan hias untuk ekspor dikumpulkan menggunakan sianida, di Indonesia pada pertengahan 1990-an diperkirakan sekitar 90% kapal yang membawa ikan hidup memiliki sianida di atas kapal.[12][13]

Dampak

Lingkungan dan ekologis

Penggunaan sianida dalam penangkapan ikan berdampak langsung terhadap fisiologi ikan yang tersentuh racun, serta menyebabkan kerusakan pada karang dan organisme lain yang hidup di terumbu karang. Paparan sianida dapat mengakibatkan kematian polip karang dengan mengganggu hubungan simbiotik antara polip dan alga zooxanthellae yang hidup di dalam jaringan karang, yang esensial bagi kelangsungan hidup dan pertumbuhan karang.[14]

Selain itu, laporan WRI menunjukkan bahwa wilayah-wilayah terumbu karang yang tampak masih alami atau relatif bebas dari ancaman sedimentasi dan pembangunan pesisir sering menjadi sasaran praktik penangkapan ikan menggunakan sianida. Situasi ini meningkatkan tingkat kerusakan pada ekosistem terumbu karang yang sudah berada dalam kondisi terancam di kawasan Asia Tenggara. Di wilayah tersebut, hanya sekitar 1% terumbu karang yang dikategorikan berada pada risiko rendah, sedangkan sisanya menunjukkan kerentanan tinggi terhadap tekanan lingkungan dan aktivitas manusia.[15]

Rantai Pasok

Ikan yang ditangkap dengan sianida umumnya mengalami tingkat kematian lebih tinggi selama dan setelah penangkapan dibandingkan dengan metode yang lebih ramah lingkungan.[16] Sebuah uji laboratorium menunjukkan bahwa dari ikan ekspor yang diuji, 25% ikan hias dari Filipina menunjukkan bukti paparan sianida dan 44% ikan besar kategori ikan konsumsi hidup yang ditangkap dari terumbu karang (live reef food fish) menunjukkan bukti serupa.[17] Proses penanganan pasca-tangkap dan stres yang dialami ikan induksi sianida menyebabkan masa hidup yang lebih pendek ketika dipelihara di akuarium.[18][19]

Referensi

  1. How Dangerous Is It to Use Cyanide to Catch Fish?. Scientific American.
  2. Destructive Fishing is Widespread in Southeast Asia World Resources Institute. www.wri.org.
  3. ‘Holy Grail' Test for Illegal Cyanide-Caught Aquarium Fish May Be Fatally Flawed. Animals. 2025-11-01.
  4. EARTHTALK: Cyanide fishing. The Philippine Reporter.
  5. Sunnexdesk. Cyanide fishing: Lethal weapon. SunStar Publishing Inc. 2012-09-08.
  6. Charles Victor Barber and Vaughan R. Pratt. Sullied Seas. 1997-01-08. ISBN 978-1-56973-220-5.
  7. OVER SEAS -- Cleansing Our Seas of a Poison Tide -- April 1999. oneocean.org.
  8. Joyce Chepkemoi in Environment. The Horrors Of Cyanide Fishing. WorldAtlas. 2017-04-25.
  9. Charles Victor Barber and Vaughan R. Pratt. Sullied Seas. 1997-01-08. ISBN 978-1-56973-220-5.
  10. How Dangerous Is It to Use Cyanide to Catch Fish?. Scientific American.
  11. Destructive Fishing is Widespread in Southeast Asia World Resources Institute. www.wri.org.
  12. INTERNATIONAL WORKING GROUP DRAFT REPORT. taskforce.coralreef.noaa.gov.
  13. Wabnitz, C., Taylor, M., Green, E., & Razak, T. (2003). From Ocean to Aquarium: The Global Trade in Marine Ornamental Species. UNEP World Conservation Monitoring Centre. Dikses secara daring dari https://wedocs.unep.org/bitstream/handle/20.500.11822/8341/-From%20Ocean%20to%20Aquarium%20_%20The%20Global%20Trade%20in%20Marine%20Ornamental%20Species-20033641.pdf
  14. Cyanide: an easy but deadly way to catch fish. wwf.panda.org.
  15. Lauretta Burke (WRI). Reefs at Risk in Southeast Asia. 2015-04-01. ISBN 978-1-56973-490-2.
  16. Hakai Magazine. Aquarium Fish, Hold the Cyanide. Hakai Magazine.
  17. Thornhill, D. J. (2012, Desember 12). Ecological Impacts and Practices of the Coral Reef Wildlife Trade. Defenders of Wildlife. Diakses secara daring dari https://www.defenders.org/sites/default/files/publications/ecological-impacts-and-practices-of-the-coral-reef-wildlife-trade.pdf
  18. ‘Holy Grail' Test for Illegal Cyanide-Caught Aquarium Fish May Be Fatally Flawed. Animals. 2025-11-01.
  19. Wabnitz, C., Taylor, M., Green, E., & Razak, T. (2003). From Ocean to Aquarium: The Global Trade in Marine Ornamental Species. UNEP World Conservation Monitoring Centre. Dikses secara daring dari https://wedocs.unep.org/bitstream/handle/20.500.11822/8341/-From%20Ocean%20to%20Aquarium%20_%20The%20Global%20Trade%20in%20Marine%20Ornamental%20Species-20033641.pdf

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29476436 (2026-07-19T15:24:38Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.