Lompat ke isi

Titrasi potensiometri: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28460868; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
Dalam [[Kimia analisis|kimia analitik]], '''titrasi potensiometri''' adalah teknik yang mirip dengan [[titrasi]] langsung pada [[redoks|reaksi redoks]]. Ini adalah cara yang berguna untuk mengarakterisasi suatu [[asam]]. Tidak ada [[indikator redoks|indikator]] yang digunakan; sebaliknya, [[potensial listrik]] diukur pada [[analit]], biasanya larutan [[elektrolit]]. Untuk melakukan hal ini, dua [[elektrode|elektroda]] digunakan, yaitu elektrode indikator (elektrode kaca dan elektrode indikator ion logam) dan [[Elektrode pembanding|elektroda pembanding]] (referensi). Elektrode pembanding yang umumnya digunakan adalah elektrode hidrogen, elektrode kalomel, dan [[Elektrode perak klorida|elektroda perak klorida]]. Elektrode indikator membentuk [[setengah-sel|setengah sel]] elektrokimia dengan [[ion|ion-ion]] yang tertarik pada larutan uji. Elektrode pembanding membentuk setengah sel lainnya.
Dalam [[Kimia analisis|kimia analitik]], '''titrasi potensiometri''' adalah teknik yang mirip dengan [[titrasi]] langsung pada [[redoks|reaksi redoks]]. Ini adalah cara yang berguna untuk mengarakterisasi suatu [[asam]]. Tidak ada [[indikator redoks|indikator]] yang digunakan; sebaliknya, [[potensial listrik]] diukur pada [[analit]], biasanya larutan [[elektrolit]]. Untuk melakukan hal ini, dua [[elektrode|elektroda]] digunakan, yaitu elektrode indikator (elektrode kaca dan elektrode indikator ion logam) dan [[Elektrode pembanding|elektroda pembanding]] (referensi). Elektrode pembanding yang umumnya digunakan adalah elektrode hidrogen, elektrode kalomel, dan [[Elektrode perak klorida|elektroda perak klorida]]. Elektrode indikator membentuk [[setengah-sel|setengah sel]] elektrokimia dengan [[ion|ion-ion]] yang tertarik pada larutan uji. Elektrode pembanding membentuk setengah sel lainnya.


Potensial listrik keseluruhan dihitung sebagai
Potensial listrik keseluruhan dihitung sebagai  
:<math>E_{\rm cell} = E_{\rm ind} - E_{\rm ref} + E_{\rm sol}.</math>
:<math>E_{\rm cell} = E_{\rm ind} - E_{\rm ref} + E_{\rm sol}.</math>
  adalah [[Penurunan tegangan listrik|penurunan potensial]] larutan uji antara dua elektrode.  dicatat pada interval tertentu seiring dengan penambahan titran. Grafik potensial terhadap volume yang ditambahkan dapat digambarkan dan titik akhir reaksi berada di tengah-tengah antara lonjakan tegangan.
  adalah [[Penurunan tegangan listrik|penurunan potensial]] larutan uji antara dua elektrode.  dicatat pada interval tertentu seiring dengan penambahan titran. Grafik potensial terhadap volume yang ditambahkan dapat digambarkan dan titik akhir reaksi berada di tengah-tengah antara lonjakan tegangan.
Baris 10: Baris 10:
Ketika konsentrasi  berubah,  pun ikut berubah. Jadi, titrasi potensiometri melibatkan pengukuran  dengan penambahan titran. Jenis titrasi potensiometri meliputi [[Asidi–alkalimetri|titrasi asam–basa]] (alkalinitas total dan asiditas total), [[titrasi redoks]] (HI/HY dan serat), [[titrasi presipitasi|titrasi pengendapan]] (halida), dan [[titrasi kompleksometri]] (EDTA bebas dan Antical #5).
Ketika konsentrasi  berubah,  pun ikut berubah. Jadi, titrasi potensiometri melibatkan pengukuran  dengan penambahan titran. Jenis titrasi potensiometri meliputi [[Asidi–alkalimetri|titrasi asam–basa]] (alkalinitas total dan asiditas total), [[titrasi redoks]] (HI/HY dan serat), [[titrasi presipitasi|titrasi pengendapan]] (halida), dan [[titrasi kompleksometri]] (EDTA bebas dan Antical #5).
==Sejarah==
==Sejarah==
Titrasi potensiometri pertama kali dilakukan pada tahun 1893 oleh [[Robert Behrend]] di Institut Ostwald di [[Leipzig]]. Dia menitrasi larutan merkuro (raksa(I), ) dengan [[kalium klorida]], [[kalium bromida]], dan [[kalium iodida]]. Dia menggunakan elektrode raksa bersama dengan elektrode pembanding raksa/[[Raksa(I) nitrat|merkuro nitrat]]. Dia menemukan bahwa dalam sel yang terdiri dari merkuro nitrat dan raksa/merkuro nitrat, tegangan awalnya adalah 0. Jika kalium klorida ditambahkan ke merkuro nitrat di satu sisi, [[raksa(I) klorida]] diendapkan. Hal ini menurunkan [[Tekanan osmotik|tekanan osmosis]] ion raksa(I) di samping dan menimbulkan beda potensial. Beda potensial ini meningkat perlahan seiring dengan penambahan kalium klorida, tetapi kemudian meningkat lebih cepat. Dia menemukan perbedaan potensial terbesar dicapai setelah merkuro nitrat diendapkan. Ini digunakan untuk membedakan titik akhir titrasi.
Titrasi potensiometri pertama kali dilakukan pada tahun 1893 oleh [[Robert Behrend]] di Institut Ostwald di [[Leipzig]]. Dia menitrasi larutan merkuro (raksa(I), ) dengan [[kalium klorida]], [[kalium bromida]], dan [[kalium iodida]]. Dia menggunakan elektrode raksa bersama dengan elektrode pembanding raksa/[[Raksa(I) nitrat|merkuro nitrat]]. Dia menemukan bahwa dalam sel yang terdiri dari merkuro nitrat dan raksa/merkuro nitrat, tegangan awalnya adalah 0. Jika kalium klorida ditambahkan ke merkuro nitrat di satu sisi, [[raksa(I) klorida]] diendapkan. Hal ini menurunkan [[Tekanan osmotik|tekanan osmosis]] ion raksa(I) di samping dan menimbulkan beda potensial. Beda potensial ini meningkat perlahan seiring dengan penambahan kalium klorida, tetapi kemudian meningkat lebih cepat. Dia menemukan perbedaan potensial terbesar dicapai setelah merkuro nitrat diendapkan. Ini digunakan untuk membedakan titik akhir titrasi.<ref>Szabadváry, Ferenc. History of Analytical Chemistry: International Series of Monographs in Analytical Chemistry. Elsevier, 2013.</ref>


Wilhelm Böttger kemudian mengembangkan alat titrasi potensiometri saat bekerja di Institut Ostwald. Dia menggunakan titrasi potensiometri untuk mengamati perbedaan titrasi antara asam kuat dan lemah, serta perilaku asam polibasa. Dia memperkenalkan gagasan penggunaan titrasi potensiometri untuk asam dan basa yang tidak dapat dititrasi bersama dengan indikator kolorimetri.
Wilhelm Böttger kemudian mengembangkan alat titrasi potensiometri saat bekerja di Institut Ostwald.<ref>Burns, D. Thorburn, dkk. Important Figures of Analytical Chemistry from Germany in Brief Biographies: From the Middle Ages to the Twentieth Century. Springer, 2014.</ref> Dia menggunakan titrasi potensiometri untuk mengamati perbedaan titrasi antara asam kuat dan lemah, serta perilaku asam polibasa. Dia memperkenalkan gagasan penggunaan titrasi potensiometri untuk asam dan basa yang tidak dapat dititrasi bersama dengan indikator kolorimetri.<ref>Szabadváry, Ferenc. History of Analytical Chemistry: International Series of Monographs in Analytical Chemistry. Elsevier, 2013.</ref>


Titrasi potensiometri pertama kali digunakan untuk titrasi redoks oleh Crotogino. Dia menitrasi ion halida dengan [[kalium permanganat]] menggunakan elektrode platina mengilap dan [[Elektrode kalomel jenuh|elektroda kalomel]]. Dia mengatakan bahwa jika zat pengoksidasi ditambahkan ke dalam larutan pereduksi maka kesetimbangan antara zat pereduksi dan produk reaksi akan bergeser ke arah produk reaksi. Hal ini akan mengubah potensial dengan sangat lambat hingga jumlah zat pereduksi menjadi sangat kecil. Perubahan potensial yang besar akan terjadi ketika penambahan sedikit larutan titrasi dilakukan, karena jumlah akhir zat pereduksi dihilangkan dan potensial hanya berhubungan dengan zat pengoksidasi. Peningkatan beda potensial yang besar ini menandakan titik akhir reaksi.
Titrasi potensiometri pertama kali digunakan untuk titrasi redoks oleh Crotogino. Dia menitrasi ion halida dengan [[kalium permanganat]] menggunakan elektrode platina mengilap dan [[Elektrode kalomel jenuh|elektroda kalomel]]. Dia mengatakan bahwa jika zat pengoksidasi ditambahkan ke dalam larutan pereduksi maka kesetimbangan antara zat pereduksi dan produk reaksi akan bergeser ke arah produk reaksi. Hal ini akan mengubah potensial dengan sangat lambat hingga jumlah zat pereduksi menjadi sangat kecil. Perubahan potensial yang besar akan terjadi ketika penambahan sedikit larutan titrasi dilakukan, karena jumlah akhir zat pereduksi dihilangkan dan potensial hanya berhubungan dengan zat pengoksidasi. Peningkatan beda potensial yang besar ini menandakan titik akhir reaksi.<ref>Szabadváry, Ferenc. History of Analytical Chemistry: International Series of Monographs in Analytical Chemistry. Elsevier, 2013.</ref>
==Lihat pula==
==Lihat pula==
* [[Kronoamperometri]]
* [[Kronoamperometri]]
* [[Metode elektroanalitik]]
* [[Metode elektroanalitik]]
==Referensi==


== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titrasi+potensiometri&oldid=28460868 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28460868 (2025-11-13T11:31:14Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titrasi+potensiometri&oldid=28460868 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28460868 (2025-11-13T11:31:14Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 29 Agustus 2026 04.07

Dalam kimia analitik, titrasi potensiometri adalah teknik yang mirip dengan titrasi langsung pada reaksi redoks. Ini adalah cara yang berguna untuk mengarakterisasi suatu asam. Tidak ada indikator yang digunakan; sebaliknya, potensial listrik diukur pada analit, biasanya larutan elektrolit. Untuk melakukan hal ini, dua elektroda digunakan, yaitu elektrode indikator (elektrode kaca dan elektrode indikator ion logam) dan elektroda pembanding (referensi). Elektrode pembanding yang umumnya digunakan adalah elektrode hidrogen, elektrode kalomel, dan elektroda perak klorida. Elektrode indikator membentuk setengah sel elektrokimia dengan ion-ion yang tertarik pada larutan uji. Elektrode pembanding membentuk setengah sel lainnya.

Potensial listrik keseluruhan dihitung sebagai

Ecell=EindEref+Esol.
adalah penurunan potensial larutan uji antara dua elektrode.  dicatat pada interval tertentu seiring dengan penambahan titran. Grafik potensial terhadap volume yang ditambahkan dapat digambarkan dan titik akhir reaksi berada di tengah-tengah antara lonjakan tegangan.
bergantung pada konsentrasi ion yang tertarik dengan elektrode indikator yang bersentuhan. Misalnya, reaksi elektrode mungkin
Mn++n eAM

Ketika konsentrasi berubah, pun ikut berubah. Jadi, titrasi potensiometri melibatkan pengukuran dengan penambahan titran. Jenis titrasi potensiometri meliputi titrasi asam–basa (alkalinitas total dan asiditas total), titrasi redoks (HI/HY dan serat), titrasi pengendapan (halida), dan titrasi kompleksometri (EDTA bebas dan Antical #5).

Sejarah

Titrasi potensiometri pertama kali dilakukan pada tahun 1893 oleh Robert Behrend di Institut Ostwald di Leipzig. Dia menitrasi larutan merkuro (raksa(I), ) dengan kalium klorida, kalium bromida, dan kalium iodida. Dia menggunakan elektrode raksa bersama dengan elektrode pembanding raksa/merkuro nitrat. Dia menemukan bahwa dalam sel yang terdiri dari merkuro nitrat dan raksa/merkuro nitrat, tegangan awalnya adalah 0. Jika kalium klorida ditambahkan ke merkuro nitrat di satu sisi, raksa(I) klorida diendapkan. Hal ini menurunkan tekanan osmosis ion raksa(I) di samping dan menimbulkan beda potensial. Beda potensial ini meningkat perlahan seiring dengan penambahan kalium klorida, tetapi kemudian meningkat lebih cepat. Dia menemukan perbedaan potensial terbesar dicapai setelah merkuro nitrat diendapkan. Ini digunakan untuk membedakan titik akhir titrasi.[1]

Wilhelm Böttger kemudian mengembangkan alat titrasi potensiometri saat bekerja di Institut Ostwald.[2] Dia menggunakan titrasi potensiometri untuk mengamati perbedaan titrasi antara asam kuat dan lemah, serta perilaku asam polibasa. Dia memperkenalkan gagasan penggunaan titrasi potensiometri untuk asam dan basa yang tidak dapat dititrasi bersama dengan indikator kolorimetri.[3]

Titrasi potensiometri pertama kali digunakan untuk titrasi redoks oleh Crotogino. Dia menitrasi ion halida dengan kalium permanganat menggunakan elektrode platina mengilap dan elektroda kalomel. Dia mengatakan bahwa jika zat pengoksidasi ditambahkan ke dalam larutan pereduksi maka kesetimbangan antara zat pereduksi dan produk reaksi akan bergeser ke arah produk reaksi. Hal ini akan mengubah potensial dengan sangat lambat hingga jumlah zat pereduksi menjadi sangat kecil. Perubahan potensial yang besar akan terjadi ketika penambahan sedikit larutan titrasi dilakukan, karena jumlah akhir zat pereduksi dihilangkan dan potensial hanya berhubungan dengan zat pengoksidasi. Peningkatan beda potensial yang besar ini menandakan titik akhir reaksi.[4]

Lihat pula

Referensi

  1. Szabadváry, Ferenc. History of Analytical Chemistry: International Series of Monographs in Analytical Chemistry. Elsevier, 2013.
  2. Burns, D. Thorburn, dkk. Important Figures of Analytical Chemistry from Germany in Brief Biographies: From the Middle Ages to the Twentieth Century. Springer, 2014.
  3. Szabadváry, Ferenc. History of Analytical Chemistry: International Series of Monographs in Analytical Chemistry. Elsevier, 2013.
  4. Szabadváry, Ferenc. History of Analytical Chemistry: International Series of Monographs in Analytical Chemistry. Elsevier, 2013.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28460868 (2025-11-13T11:31:14Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.