Kumarin: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28590587; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
[[File:Coumarin_acsv.svg|thumb|right|280px|Coumarin acsv]] | |||
[[Skopoletin]] adalah kumarin beracun yang tersebar luas pada tumbuhan dan sering dijumpai dalam kulit [[biji]]. Skopoletin merupakan salah satu senyawa yang diduga menghambat [[perkecambahan]] biji tertentu, menyebabkan [[dormansi]] sampai senyawa tersebut tercuci (misalnya, oleh hujan yang cukup lebat sehingga kelembapannya cukup bagi pertumbuhan kecambah). Jadi peranannya adalah sebagai penghambat alami perkecambahan biji. | '''Kumarin''' merupakan senyawa [[metabolit sekunder]] berupa [[minyak atsiri|minyak asiri]] yang terbentuk terutama dari turunan [[glukosa]] non-asiri saat [[penuaan]] atau pelukaan.<ref>Salisbury FB, Ross CW. 1995. ''Fisiologi Tumbuhan, Jilid 2''. penerjemah: Lukman DR, Sumaryono. Bandung:Penerbit ITB. Hal:147-148. ISBN 979-8591-27-5</ref> | ||
Hal ini penting terutama ada tumbuhan [[alfalfa]] dan [[semanggi]] manis di mana kumarin menyebabkan timbulnya aroma yang khas sesaat setelah kedua tumbuhan itu dibabat.<ref>Salisbury FB, Ross CW. 1995. ''Fisiologi Tumbuhan, Jilid 2''. penerjemah: Lukman DR, Sumaryono. Bandung:Penerbit ITB. Hal:147-148. ISBN 979-8591-27-5</ref> Para peneliti telah mengembangkan galur semanggi tertentu yang mengandung sedikit kumarin dan galur lainnya yang mengandung kumarin dalam bentuk terikat.<ref>Salisbury FB, Ross CW. 1995. ''Fisiologi Tumbuhan, Jilid 2''. penerjemah: Lukman DR, Sumaryono. Bandung:Penerbit ITB. Hal:147-148. ISBN 979-8591-27-5</ref> Semua galur itu secara ekonomi sangat penting karena kumarin-bebas dapat berubah menjadi produk yang be[[racun]], [[dikumarol]], jika semanggi rusak selama penyimpanan.<ref>Salisbury FB, Ross CW. 1995. ''Fisiologi Tumbuhan, Jilid 2''. penerjemah: Lukman DR, Sumaryono. Bandung:Penerbit ITB. Hal:147-148. ISBN 979-8591-27-5</ref> Dikumarol adalah senyawa [[antipenggumpalan]] yang menyebabkan penyakit semanggi manis (penyakit perdarahan) pada hewan [[ruminansia]] (pemamah biak seperti sapi) yang memakan tumbuhan yang mengandung dikumarol.<ref>Salisbury FB, Ross CW. 1995. ''Fisiologi Tumbuhan, Jilid 2''. penerjemah: Lukman DR, Sumaryono. Bandung:Penerbit ITB. Hal:147-148. ISBN 979-8591-27-5</ref> | |||
[[Skopoletin]] adalah kumarin beracun yang tersebar luas pada tumbuhan dan sering dijumpai dalam kulit [[biji]].<ref>Salisbury FB, Ross CW. 1995. ''Fisiologi Tumbuhan, Jilid 2''. penerjemah: Lukman DR, Sumaryono. Bandung:Penerbit ITB. Hal:147-148. ISBN 979-8591-27-5</ref> Skopoletin merupakan salah satu senyawa yang diduga menghambat [[perkecambahan]] biji tertentu, menyebabkan [[dormansi]] sampai senyawa tersebut tercuci (misalnya, oleh hujan yang cukup lebat sehingga kelembapannya cukup bagi pertumbuhan kecambah).<ref>Salisbury FB, Ross CW. 1995. ''Fisiologi Tumbuhan, Jilid 2''. penerjemah: Lukman DR, Sumaryono. Bandung:Penerbit ITB. Hal:147-148. ISBN 979-8591-27-5</ref> Jadi peranannya adalah sebagai penghambat alami perkecambahan biji.<ref>Salisbury FB, Ross CW. 1995. ''Fisiologi Tumbuhan, Jilid 2''. penerjemah: Lukman DR, Sumaryono. Bandung:Penerbit ITB. Hal:147-148. ISBN 979-8591-27-5</ref> | |||
== Aktivitas Biologis == | == Aktivitas Biologis == | ||
Salah satu jenis kumarin yaitu [[preosen]] yang diisolasi pada tahun 1976 dari tumbuhan ''[[Ageratum houstanianum]]'' menyebabkan [[metamorfosis]] dini pada beberapa [[spesies]] [[serangga]] dengan turunnya tingkat [[hormon pemudaan]] serangga sehingga menyebabkan pembentukkan serangga dewasa yang [[mandul]]. Penurunan tingkat [[hormon]] juga menurunkan produksi [[feromon]] oleh serangga jantan sehingga daya tarik seksual terhadap serangga betina berkurang. Dengan kemampuan seperti itu, preosen memiliki potensi sebagai [[insektisida]] yang berpengaruh hanya terhadap spesies sasaran. | Salah satu jenis kumarin yaitu [[preosen]] yang diisolasi pada tahun 1976 dari tumbuhan ''[[Ageratum houstanianum]]'' menyebabkan [[metamorfosis]] dini pada beberapa [[spesies]] [[serangga]] dengan turunnya tingkat [[hormon pemudaan]] serangga sehingga menyebabkan pembentukkan serangga dewasa yang [[mandul]].<ref>Chang F, Hsu CL. 1981. Preocene II affects sex attractancy in medfly. ''Bioscince'' 31:676-677.</ref> Penurunan tingkat [[hormon]] juga menurunkan produksi [[feromon]] oleh serangga jantan sehingga daya tarik seksual terhadap serangga betina berkurang.<ref>Chang F, Hsu CL. 1981. Preocene II affects sex attractancy in medfly. ''Bioscince'' 31:676-677.</ref> Dengan kemampuan seperti itu, preosen memiliki potensi sebagai [[insektisida]] yang berpengaruh hanya terhadap spesies sasaran.<ref>Chang F, Hsu CL. 1981. Preocene II affects sex attractancy in medfly. ''Bioscince'' 31:676-677.</ref> | ||
== Lihat pula == | == Lihat pula == | ||
| Baris 13: | Baris 15: | ||
== Referensi == | == Referensi == | ||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kumarin&oldid=28590587 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28590587 (2025-11-21T16:13:00Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | |||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 29 Agustus 2026 09.07
Kumarin merupakan senyawa metabolit sekunder berupa minyak asiri yang terbentuk terutama dari turunan glukosa non-asiri saat penuaan atau pelukaan.[1] Hal ini penting terutama ada tumbuhan alfalfa dan semanggi manis di mana kumarin menyebabkan timbulnya aroma yang khas sesaat setelah kedua tumbuhan itu dibabat.[2] Para peneliti telah mengembangkan galur semanggi tertentu yang mengandung sedikit kumarin dan galur lainnya yang mengandung kumarin dalam bentuk terikat.[3] Semua galur itu secara ekonomi sangat penting karena kumarin-bebas dapat berubah menjadi produk yang beracun, dikumarol, jika semanggi rusak selama penyimpanan.[4] Dikumarol adalah senyawa antipenggumpalan yang menyebabkan penyakit semanggi manis (penyakit perdarahan) pada hewan ruminansia (pemamah biak seperti sapi) yang memakan tumbuhan yang mengandung dikumarol.[5]
Skopoletin adalah kumarin beracun yang tersebar luas pada tumbuhan dan sering dijumpai dalam kulit biji.[6] Skopoletin merupakan salah satu senyawa yang diduga menghambat perkecambahan biji tertentu, menyebabkan dormansi sampai senyawa tersebut tercuci (misalnya, oleh hujan yang cukup lebat sehingga kelembapannya cukup bagi pertumbuhan kecambah).[7] Jadi peranannya adalah sebagai penghambat alami perkecambahan biji.[8]
Aktivitas Biologis
Salah satu jenis kumarin yaitu preosen yang diisolasi pada tahun 1976 dari tumbuhan Ageratum houstanianum menyebabkan metamorfosis dini pada beberapa spesies serangga dengan turunnya tingkat hormon pemudaan serangga sehingga menyebabkan pembentukkan serangga dewasa yang mandul.[9] Penurunan tingkat hormon juga menurunkan produksi feromon oleh serangga jantan sehingga daya tarik seksual terhadap serangga betina berkurang.[10] Dengan kemampuan seperti itu, preosen memiliki potensi sebagai insektisida yang berpengaruh hanya terhadap spesies sasaran.[11]
Lihat pula
Referensi
- ↑ Salisbury FB, Ross CW. 1995. Fisiologi Tumbuhan, Jilid 2. penerjemah: Lukman DR, Sumaryono. Bandung:Penerbit ITB. Hal:147-148. ISBN 979-8591-27-5
- ↑ Salisbury FB, Ross CW. 1995. Fisiologi Tumbuhan, Jilid 2. penerjemah: Lukman DR, Sumaryono. Bandung:Penerbit ITB. Hal:147-148. ISBN 979-8591-27-5
- ↑ Salisbury FB, Ross CW. 1995. Fisiologi Tumbuhan, Jilid 2. penerjemah: Lukman DR, Sumaryono. Bandung:Penerbit ITB. Hal:147-148. ISBN 979-8591-27-5
- ↑ Salisbury FB, Ross CW. 1995. Fisiologi Tumbuhan, Jilid 2. penerjemah: Lukman DR, Sumaryono. Bandung:Penerbit ITB. Hal:147-148. ISBN 979-8591-27-5
- ↑ Salisbury FB, Ross CW. 1995. Fisiologi Tumbuhan, Jilid 2. penerjemah: Lukman DR, Sumaryono. Bandung:Penerbit ITB. Hal:147-148. ISBN 979-8591-27-5
- ↑ Salisbury FB, Ross CW. 1995. Fisiologi Tumbuhan, Jilid 2. penerjemah: Lukman DR, Sumaryono. Bandung:Penerbit ITB. Hal:147-148. ISBN 979-8591-27-5
- ↑ Salisbury FB, Ross CW. 1995. Fisiologi Tumbuhan, Jilid 2. penerjemah: Lukman DR, Sumaryono. Bandung:Penerbit ITB. Hal:147-148. ISBN 979-8591-27-5
- ↑ Salisbury FB, Ross CW. 1995. Fisiologi Tumbuhan, Jilid 2. penerjemah: Lukman DR, Sumaryono. Bandung:Penerbit ITB. Hal:147-148. ISBN 979-8591-27-5
- ↑ Chang F, Hsu CL. 1981. Preocene II affects sex attractancy in medfly. Bioscince 31:676-677.
- ↑ Chang F, Hsu CL. 1981. Preocene II affects sex attractancy in medfly. Bioscince 31:676-677.
- ↑ Chang F, Hsu CL. 1981. Preocene II affects sex attractancy in medfly. Bioscince 31:676-677.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28590587 (2025-11-21T16:13:00Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.